LOVE DEATHLINE
(cerpen)
Kantor
‘Deus Mortis’ selalu sibuk setiap hari, para dewa kematian berlalu lalang
keluar masuk ruang kepala dewa kematian untuk melaporkan tugas mereka dan siap
untuk menerima tugas selanjutnya. Dio Demise, dewa kematian yang paling muda
diantara para dewa lainnya selain itu ia juga dikenal sebagai dewa kematian
yang paling hebat. Ia selalu menyelesaikan tugasnya untuk menjemput nyawa
setiap ‘klien’ nya dengan tepat waktu. Hari ini ia telah menjemput nyawa 12
jiwa dan semuanya ia lakukan dengan sempurna
“Hari
ini pukul 22:45 di Jalan Western jemputlah nyawa Keluarga Vrouwen. Pastikan
mereka sekeluarga harus mati” ujar Diego, kepala dewa kematian.
“Jarang
sekali ada keluarga yang di jemput nyawanya bersamaan. Apakah mereka punya sesuatu
yang spesial?” tanya Dio
Diego
menaikkan kedua bahunya bersamaan “Entahlah, aku hanya memberikan tugas sesuai
jadwal kematian yang sudah di tetapkan. Lakukan saja tugasmu seperti biasa agar
kau bisa cepat menjadi kepala dewa kematian juga”
“Baik
pak, saya pergi sekarang” pamit Dio. Kemudian ia membentangkan sayap hitamnya
dan terbang menuju tempat kematian hari ini
“Ingat!
Pastikan mereka sekeluarga harus mati”
“Serahkan
saja padaku”
…
Jl. Western, 27 November 2013, Pukul
22:40
“Ayah,
besok kita pergi ke pantai yaa?” tanya Fachri dengan antusias sambil
mengguncang-guncang bahu ayahnya dari belakang
“Fachri,
jangan begitu. Ayahmu sedang menyetir. Jangan ganggu konsentrasinya. Lagipula
kamu kan alergi sama udara pantai. Jadi buat apa kita kesana?” ujar Lyra
“Tapi
bu, teman-temanku di sekolah semuanya pernah berlibur ke pantai. Mereka
memperlihatkan foto keluarga mereka saat sedang bermain pasir pantai. Aku juga
ingin seperti itu bu. Aku ingin kita berfoto di pantai bersama” rengek Fachri
sambil terus menggelayuti ayahnya dari jok belakang mobil
Vita
berdecak kesal melihat kelakuan adiknya yang super manja “Dek, kamu tidur deh
mending. Berisik tau!” omel Vita. Kemudian ia menarik badan Fachri “Sini tidur
sama kakak”
“Gak!
Aku ga mau tidur sampe ayah bilang kalo besok kita ke pantai” rengek Fachri
sambil terus memeluk ayahnya
“Dek,
jangan gitu dong, ayah kecekek nih jadi susah nyetirnya” ujar David sambil
berusaha melepaskan lengan Fachri dari lehernya
“Tuh
kan! Jangan bandel kenapa sih. Sini tidur cepetan” Vita menarik badan Fachri
sementara itu Fachri tetap terus memeluk erat ayahnya. Seisi mobil itu menjadi
kacau dan….....
BRAK!!
Mobil keluarga itu menabrak sebuah truck dari arah yang berlawanan tepat pada
pukul 22:45. Mobil keluarga itu menghantam sebuah truck dengan keras kemudian
terjungkir balik dan akhirnya menabrak pembatas jalan
Dio
menyaksikan tragedi itu dari atas langit. “Perfect” ujarnya sambil tersenyum
puas. Kemudian ia menghampiri mobil itu dan menjemput para arwah keluarga
Vrouwen dan membawa mereka masuk ke terowongan akherat
“Tuan
David Vrouwen, nyonya Lyra Vrouwen, Fachri Vrouwen dan terakhir Vita Vrouwen.
Silahkan kalian masuk ke dalam terowongan ini” satu persatu arwah Keluarga
Vrouwen memasuki terowongan hitam di depan mereka, namun ternyata hanya ada
tiga arwah, itu berarti ada satu arwah yang belum lepas dari tubuhnya. Arwah
itu adalah arwah Vita Vrouwen
Dio
menghampiri tubuh Vita Vrouwen yang sudah tergeletak di jalan dan berlumuran
darah itu “Aneh, kenapa arwahnya tidak keluar dari tubuhnya padahal keadaannya
sudah sangat mengenaskan seperti ini”
Di
tengah kesadarannya yang semakin menipis, perlahan Vita membuka matanya dan
melihat sesosok makhluk seperti manusia namun memiliki sayap hitam pekat sedang
berdiri di hadapannya. Bersamaan dengan itu samar-samar terdengar bunyi sirine
ambulans dan langkah kaki para petugas ambulans yang menghampirinya. kemudian
sosok misterius itu menghilang dari pandangannya tepat saat seorang petugas
datang dan menggotongnya menuju ambulans. Saat itu pula kesadaran Vita
menghilang dan ia pun pingsan.
Dio
menyaksikan mobil ambulans yang membawa keluarga Vrouwen itu dari atas langit.
Tangannya gemetar “Tatapan gadis itu….” gumamnya dalam hati. Tangannya
mencengkram dadanya yang berdegup kencang tak karuan. “Bagaimana bisa gadis itu
melihatku?” pikirannya kacau. Dio pun terbang kembali menuju kantor ‘Deus
Mortis’
…
“Bagaimana
tugasmu?” tegur Diego saat Dio melapor ke ruangannya
Dio
terdiam sejenak “Apa benar keluarga itu harus mati di waktu yang sama?”
tanyanya
Diego
mengernyitkan dahinya “Kau ini bicara apa? Tentu saja mereka harus mati di
waktu yang sama seperti yang tertulis di jadwal hari ini” Diego memperlihatkan
sebuah dokumen yang berisi data keluarga Vrouwen dan tanggal kematian mereka
“Ada apa denganmu? Apa tugasmu gagal?” tanya Diego curiga
“Ituu…
mengenai itu…” ujar Dio terbata-bata
“Katakan
dengan jelas Dio Demise!” bentak Diego
“Maafkan
saya pak, tapi hanya tiga arwah Keluarga Vrouwen yang berhasil saya jemput.
Satu arwah lagi masih menyatu dengan tubuhnya. Arwah itu milik Vita Vrouwen”
ujarnya
“APA?!”
tanya Diego tak percaya “Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Kau tahu kan
siklus reinkarnasi akan berantakan apabila ada satu arwah yang tidak pulang”
“Maafkan
saya Pak. Saya akan mencoba memperbaikinya”
“Pergilah,
aku harus adakan rapat dengan dewan kepala lainnya untuk membahas masalahmu
ini. untuk sementara waktu kau tidak akan mendapat tugas berikutnya sampai
masalah ini selesai. Jika sudah ada jalan keluar, akan ku beritahu”
Dio
pun bangkit dan membungkuk memberi hormat sebelum pergi. Saat dia akan terbang
kembali tiba-tiba ia teringat satu hal “Pak, ada yang ingin saya tanyakan.
Apakah orang yang masih hidup dapat melihat kita?”
“Tentu
saja tidak. Hanya arwah yang sudah terlepas dari tubuhnya yang dapat melihat
kita. Jika arwah tersebut masih ada dalam tubuhnya maka ia tak akan dapat
melihat wujud kita” ujar Diego. “Apa ada masalah lagi?” tanyanya
Dio
menggelengkan kepalanya dengan cepat “Tidak pak” jawabnya. Kemudian ia pun terbang
menjauh meninggalkan kantor ‘Deus Mortis’
…
Rumah Sakit Pelita, 30 November 2013, pukul
07:30
Vita
membuka matanya dengan perlahan, aroma obat-obatan langsung menyambutnya. Di
hadapannya sudah ada seorang dokter dan juga seorang suster.
“Selamat
pagi Vita. Akhirnya anda siuman juga. Perkenalkan, saya dokter Martin” sapa
sang dokter
Vita
mengusap-usap kepalanya mencoba mengingat kejadian apa yang menimpanya sampai
ia harus masuk rumah sakit. “Ayah!” jeritnya saat ia berhasil mengingat tragedi
naas yang menimpanya dan keluarganya. Ia kemudian mencoba bangkit dari tempat
tidurnya namun dokter Martin menahannya
“Tenangkan
dirimu, kondisi tubuhmu masih sangat lemah” ujar Dokter Martin
“Dokter,
dimana keluargaku?”
Dokter
Martin mengambil nafas dalam-dalam “Keluargamu tewas di tempat kejadian. Hanya
dirimu lah yang terselamatkan dari trageedi maut itu. Kebetulan aku mengenal
baik ayahmu, Jasad keluargamu sudah dimakamkan di pemakaman umum ‘Heavest’
kemarin siang”
“Tidak
mungkin!” jerit Vita sambil menangis meraung-raung.
Dokter
Martin kemudian memeluknya dan mengusap lembut kepala Vita “Kuatkan hatimu. Kau
harus bersyukur Tuhan masih menyelamatkanmu”
Vita
terus menangis meraung-raung dalam pelukan Dokter Martin. Setelah hampir
setengah jam ia mengamuk, tenaganya semakin melemah. “Terima kasih dokter,
tolong tinggalkan aku sendiri” ujarnya dengan terisak
“Baiklah”
dokter Martin pun melepaskan pelukannya “Jangan sungkan untuk memanggilku jika
kau butuh sesuatu. Kau sudah seperti anakku sendiri” ujar Dokter Martin. Vita
mengangguk, kemudian Dokter Martin dan suster pun meninggalkan Vita sendirian
Vita
mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Tatapannya hampa, memori dalam
otaknya membawa dirinya pada kejadian malam mengenaskan itu. Perlahan air
matanya meluncur membasahi pipinya. Kini ia hanya seorang diri. Seluruh
keluarganya telah meninggalkannya. Vita memejamkan matanya, menahan perih atas
luka yang baru saja diterimanya “Oh Tuhan, kenapa tak Kau ambil juga nyawaku?”
ujarnya lirih
Mendengar
itu sontak Dio langsung mendekat ke arah Vita. Sudah sejak kemarin ia terus
berada di ruangan tempat Vita dirawat. Dio menatap gadis itu. Kulit wajahnya
putih bersih seperti layaknya kulit bayi. Rambutnya yang berwarna hitam panjang
menjuntai sedikit berantakan. Perpaduan sempurna yang membuat gadis itu tampak
cantik. Deg..deg…deg tiba-tiba degup jantung Dio berdetak tidak karuan saat
memandangi sosok gadis itu. Ia kemudian memalingkan wajahnya “Tenanglah”
ujarnya sambil mencoba menenangkan degup jantungnya.
Dio
kembali menatap Vita yang masih menangis sambil menatap ke arah jendela. Entah
kenapa Dio merasa sangat bersalah atas keadaan Vita saat ini. “Maafkan aku,
seandainya saja aku berhasil menjemput nyawamu juga. Mungkin kau tidak perlu
merasakan kepedihan seperti ini” ujar Dio. Perlahan Dio mengangkat tangannya,
ia hendak mengusap kepala Vita.
Namun
tiba-tiba Vita menoleh ke arahnya, membuat Dio seketika mematung. Tatapan mata
mereka kini beradu. Dio dengan jelas dapat melihat mata gadis itu yang hanya
berjarak beberapa centi darinya. Bola mata yang berwarna coklat terang dengan
bulu mata yang lentik serta sorot matanya yang lembut itu membuat jantung Dio
semakin berdegup kencang. Perlahan Vita memejamkan matanya dan merebahkan
tubuhnya kembali ke kasur. Dio menghela nafas lega sambil mengusap-usap dadanya
“Syukurlah, ku fikir ia bisa melihatku lagi” ujarnya. Di saat bersamaan
terdengar Diego memanggilnya, Dio pun kemudian pergi menemui Diego dan
meninggalkan Vita
…
“Dio,
duduklah di kursi itu” sambut Diego saat Dio masuk ke ruangannya
Dio
menurut. Ia berjalan ke arah kursi yang ditunjuk Diego dan duduk di kursi itu.
Di sekelilingnya sudah ada banyak para dewan kepala. Sepertinya ia akan diadili
di sini
“Dio
Demise, seorang dewa kematian yang baru bertugas selama satu tahun. Kau
memiliki banyak prestasi dan seharusnya di akhir tahun ini kau akan diangkat
menjadi salah satu dewan kepala di Kantor ‘Deus Mortis’ ini. Namun pada tanggal
27 November 2013 kemarin kau telah gagal menjalankan tugasmu” ujar Deamor.
Dewan kepala yang paling tinggi kedudukannya di Kantor ‘Deus Mortis’
“Untuk
itu, berdasarkan keputusan bersama maka kau akan dijatuhi hukuman, dan
hukumanmu adalah … ” Deamor menggantung kalimatnya. Membuat Dio semakin was-was
akan hukuman yang diterimanya. Dio memjamkan kedua matanya, mencoba pasrah
terhadap hukuman yang akan diterimanya “Kau akan diubah menjadi manusia biasa
dan kau harus merenggut nyawa Vita Vrouwen dengan tanganmu sendiri”
Mata
Dio seketika terbelalak “APA?” tanyanya tak percaya. Kemudian ia menggelengkan
kepalanya “Bagaimana bisa aku menjadi seorang pembunuh?”
“Kau
tidak akan menjadi pembunuh Dio. Seperti halnya menjalankan tugasmu untuk
menjemput nyawa, maka kau juga akan melakukan hal itu. Hanya saja kali ini kau
akan menjalankannya dengan wujud sebagai manusia” jelas Diego
“Kau
akan kami beri waktu satu bulan. Di tanggal yang sama pada bulan Desember, kau
sudah harus bisa mengambil nyawa Vita Vrouwen. Tenang saja, saat kau berhasil
melakukan tugasmu, keberadaanmu akan dihapuskan dari bumi dan kematian Vita
Vrouwen akan dianggap sebagai kecelakaan” timpal Deamor. Kemudian Deamor
mengalungkan sebuah kalung berbandul anak panah berwarna merah di leher Dio
“Kau sudah harus mengambil nyawa Vita Vrouwen sebelum kalung ini berubah warna
menjadi putih tepat pada tanggal 1 Januari 2014”
Dio
memegang bandul kalung itu “Tapi pak…”
“Sampai
bertemu lagi Dio” kemudion Deamor menjentikkan jarinya dan seketika
sekelilingnya menjadi gelap gulita
…
“Dio,
ayo bangun” samar samar terdengar suara itu di telinga Dio. Perlahan Dio
membuka matanya dan terkejutlah ia mendapati seorang dokter tengah duduk di
hadapannya
“Saat
ini Vita masih shock berat, ia butuh istirahat disini untuk beberapa hari. Kau
tidak perlu memikirkan soal administrasi. David adalah teman baikku. Biarkan
aku yang akan menanggung semua biaya perawatan Vita” ujar dokter itu
Dio
tercengang, ia sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan oleh dokter itu.
“Dokter
Martin, anda di tunggu pasien di kamar 806” ujar seorang suster pada dokter
yang ada di hadapan Dio
Dokter
Martin mengangguk, kemudian ia kembali menatap Dio. Ia menepuk-nepuk bahu Dio
dengan lembut “Dio, saat ini hanya kaulah satu-satunya kerabat yang Vita punya.
Tolong jaga dia dengan sepenuh hatimu meskipun ia bukan adik kandungmu.
Sekarang masuklah dan temani ia” ujar dokter Martin. Kemudian ia berlalu
meninggalkan Dio yang masih mematung dengan sejuta tanda tanya besar dalam
hatinya
Kriitttt…
terdengar suara pintu yang dibuka perlahan. Vita menoleh pada asal suara itu
kemudian tersenyum “Kakak kenapa baru datang?” tanyanya
Dio
terdiam sejenak saat melihat Vita kini sedang menatapnya sambil tersenyum.
Kemudian tanpa sengaja Dio melihat pantulan dirinya di cermin. Ia merasa aneh
karena selama ini biasanya ia tak memiliki pantulan bayangan di cermin. Sosoknya
sebagai dewa kematian yang memiliki sayap berwarna hitam pekat pun kini berubah
menjadi sosok manusia biasa berpakaian kemeja lengan panjang dan jeans yang
biasa dikenakan para manusia pada umumnya. Pandangannya kemudian tertuju pada
sebuah kalung berbandul panah berwarna merah yang Deamor berikan kepadanya.
Barulah saat itu Dio sadar bahwa sekarang ia sedang menjalani masa hukumannya
“Kak?”
suara Vita memecah lamunannya
Kemudian
Dio mendekat ke arah Vita “Maaf ya” ujarnya
Lagi-lagi
Vita tersenyum, senyum yang entah kenapa selalu berhasil membuat degup jantung
Dio berdetak tak karuan. “Gapapa kok kak” ujar Vita “Emm… kak, aku mau pulang
ke rumah aja. Aku ga suka bau infusan dan obat-obatan disini. Please kak kita
pulang aja yaa” pinta Vita dengan wajah memohon yang membuat Dio tak kuasa
untuk menuruti keinginannya. Saat Dio mengangguk kemudian Vita langsung memeluk
tubuh Dio “Makasih ya kak” ujarnya bersemangat
Sekujur
tubuh Dio terasa kaku saat Vita memeluknya. Rasanya baru tadi ia ingin mengusap
kepala gadis ini namun gagal, tapi sekarang justru gadis ini lah yang tengah
memeluknya. Perlahan Dio mulai membalas pelukan Vita. Ada perasaan hangat yang
merasuk di hatinya. ‘Apakah ini yang manusia rasakan saat ada seseorang yang
memeluknya seperti ini?’ batin Dio.
Vita
melepaskan pelukannya “Kita pulang siang ini ya kak, tapi sebelum ke rumah kita
ke makam ayah dan ibu dulu yaa”
Dio
mengangguk “Baiklah, aku akan menemui dokter Martin dulu. Kamu bersiaplah”
ujarnya.
…
Pemakaman umum ‘Heavest’, 30 November
2013, pukul 14:40
Vita
berdiri diantara ketiga pusara tempat keluarganya dikuburkan. Di sini, di dalam
tanah ini, ada ketiga jasad manusia yang sangat dicintai olehnya. Vita tak
kuasa menahan tangisnya. Ia kemudian duduk bersimpuh di hadapan nisan ayahnya.
Tangannya perlahan menyusuri nama ayahnya yang terukir di sana. “A-yah …
ma-a-fin .. Vita” ujarnya dengan terbata-bata dan berurai air mata.
Dio
yang berdiri tak jauh di belakang Vita pun tak kuasa untuk menahan haru.
“Seperti inikah perasaan orang yang ditinggal mati oleh orang yang disayang?”
tanyanya dalam hati. Kemudian ia menghampiri Vita dan mengusap bahu Vita dengan
lembut serta membantunya berdiri. “Kamu harus kuat. Terkadang, kita harus
mengalami berkali-kali kehilangan hanya agar kita mampu berdiri dengan kaki
kita sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Ga ada yang benar-benar putih
ataupun hitam di dunia ini, yang ada hanyalah kelabu”
…
Kediaman Vrouwen, 30 November 2013,
pukul 20:00
Vita
merebahkan tubuhnya di atas sofa setibanya di rumah. Ia memijit-mijit keningnya
untuk mengurangi rasa lelahnya
“Kepala
kamu kenapa? Sakit?” tanya Dio khawatir
“Gak
apa-apa kok kak, cuma capek aja. Aku ke kamar duluan yaa” pamit Vita, kemudian
ia pun berlalu menuju kamarnya di lantai dua meninggalkan Dio di ruang tamu
Dio
memperhatikan sekeliling ruang tamu, ada banyak kenangan keluarga ini yang
tersimpan rapi dalam bentuk pigura-pigura kecil yang terletak di dalam lemari
kaca ataupun di dinding. Matanya kemudian tertuju pada salah satu pigura yang
ada di sudut lemari kaca. Ia kemudian membuka lemari tersebut dan mengambil
pigura itu. Di dalamnya tampak potret seorang gadis kecil dan seorang laki-laki
yang lebih tua beberapa tahun dari gadis itu sedang meniup gelembung bersama.
Dio mengernyitkan dahinya “Kalo Vita itu adalah anak sulung, lalu siapa
laki-laki dalam foto ini?” tanyanya dalam hati
“Dio”
Terdengar
suara bisikan yang memanggil namanya, Dio memasukkan kembali foto itu ke dalam
lemari kaca, kemudian membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
“Dio Demise, waktu mu di mulai dari saat
ini dan akan berakhir pada tanggal 1 januari 2014, pukul 00:00. Ingatlah kau harus
sungguh-sungguh menjalani hukuman mu ini” ujar suara ghaib itu yang tidak
lain adalah suara Diego
Dio
menganggukkan kepalanya “Baik, pak” jawabnya
“Dan ingat satu lagi, jangan jatuh cinta
dengan gadis itu”
Dio
tersentak mendengar pesan terakhir dari Diego, namun ia berusaha untuk tetap
tenang dan berkomitmen. Lagipula ia dan Vita berbeda alam, sekalipun ada cinta
yang tumbuh, sepertinya cinta tak akan mampu hidup di dua alam
…
Hari
silih berganti, sudah memasuki satu minggu masa hukumannya namun Dio belum juga
bisa menyelesaikan tugasnya untuk mengambil nyawa Vita dengan tangannya
sendiri. Dio duduk merenung di depan teras rumah memikirkan bagaimana caranya
ia bisa mengambil nyawa Vita dengan tangannya. Sekalipun jejak keberadaannya
akan dihapuskan dari dunia saat ia berhasil menjalankan tugasnya tapi tetap
saja di dalam hatinya sedikitpun tak ada hasrat untuk melakukan itu
“Kak
Dioooo” suara lembut Vita membuyarkan lamunan Dio
“Kamu
kenapa hobi banget ngagetin sih?” ujar Dio pada Vita yang kini sudah duduk
manis di sampingnya
Vita
hanya tertawa kecil mendengar Dio yang menggerutu “Ya salah kakak sendiri
kenapa hobinya ngelamun” ujarnya. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari kantung
celananya “Kak, sini deh tangannya”
Dio
mengernyitkan dahinya, kemudian ia mengulurkan tangannya menuruti perintah
Vita. Kemudian dengan cepat Vita memasangkan sebuah gelang berinisial DV “Ini
buat kakak” ujar Vita
Dio
membolak-balik tangannya “Asli ga nih?” godanya
“Wah
songong nih anak. Asli lah kak. Hand made tuuh” ujar Vita sambil mencibir
“Hahaha
iya iya bercanda, makasih yaa” ujar Dio sambil mengelus lembut kepala Vita
Vita
menatap Dio sambil tersenyum. Deg! Seketika jantung Dio berdegup dengan kencang
tak beraturan “Kamu ga usah cengengesan mulu kek” ujar Dio salting
“Ya
ampun kak, senyum kan ibadah. Btw, kakak tau ga masa ada anak kucing yang
ditinggal induknya tuh kak di depan sana” ujar Vita sambil menunjuk ke arah
depan
“Terus
kenapa?” tanya Dio
“Ya
aku mah apa atuh kak, lihat anak kucing ditinggal induknya aja sedih apalagi
kalo sampe aku yang ditinggalin kakak” ujar Vita malu-malu kemudian masuk ke
dalam rumah meninggalkan Dio yang masih tercengang
Saat
Vita sudah hilang dari pandangannya, Dio menggeleng-gelengkan kepalanya sambil
tertawa kecil “Ya Tuhaaan” ujarnya dengan tersipu-sipu
…
Kediaman Vrouwen, 10 Desember 2013,
pukul 07:00
“Kak,
aku berangkat dulu yaa” pamit Vita pada Dio
Dio
mengangguk kemudian melambaikan tangannya lalu ia melanjutkan kembali
sarapannya. Saat hendak mengambil selai untuk rotinya, Dio melihat sebuah buku
tergeletak di atas meja “Astaga, Vita pasti lupa bawa bukunya” dengan cepat ia
mengambil buku itu dan menyusul Vita
Vita
masih duduk termenung di halte sambil mendengarkan musik dari ponselnya, ia
menunggu bus yang akan mengantarkannya ke sekolah. Dari kejauhan samar-samar ia
melihat Dio sedang berlari sekuat tenaga mendekat ke arahnya. Vita segera
melepas headsetnya kemudian berdiri “Kak Dio ngapain?” tanyanya
Dio
berhenti di seberang jalan, dengan nafas yang masih terengah-engah ia pun
menunjukkan sebuah buku bersampul cokelat pada Vita. Melihat itu Vita langsung
teringat sesuatu dan sontak menepuk dahinya “Ya ampun buku PR ku” ujarnya.
“Kakak tunggu disitu aja biar aku yang nyebrang”
Kemudian
Vita berjalan menghampiri Dio, tanpa ia sadari dari sebelah kiri nya ada sepeda
motor yang tengah melaju dengan cepat kian mendekat ke arahnya. Melihat itu,
Dio langsung menarik tangan Vita dan mereka berdua pun terjatuh ke sisi jalan
“Ya
Tuhan, kakak ga apa-apa kan?” tanya Vita khawatir
Dio
menggenggam erat kepalanya. Ada sekelebat bayangan-bayangan yang muncul di
otaknya dan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa dalam kepalanya “Argghh!!” Dio
menggeram kesakitan
“Kakak
kenapa?” tanya Vita lagi. Melihat Dio yang kesakitan, ia pun menjadi semakin
panik
Perlahan
rasa sakit itu akhirnya berangsur-angsur hilang. Kemudian Dio menghapus air
mata Vita yang menangis panik karena melihatnya kesakitan. “Kakak udah ga
apa-apa kok. Sekarang kamu berangkat ke sekolah yaa. Tuh busnya udah datang”
ujarnya. Kemudian ia pun bangkit dan membawa Vita menuju bus sekolahnya
“Nih
buku kamu, jangan ketinggalan lagi yaa” ujar Dio sambil menyerahkan buku yang
dibawanya pada Vita
Vita
mengambil buku itu dari tangan Dio, kemudian ia menatap Dio “Tapi kak.. kakak
beneran ga apa-apa?” tanya Vita penuh keraguan tapi Dio dengan mantap
menganggukkan kepalanya meyakinkan Vita bahwa ia baik-baik saja. Melihat itu
akhirnya Vita pun menyerah kemudian ia masuk ke dalam bus dan melaju menuju
sekolahnya
Setelah
bus yang membawa Vita hilang dari pandangannya, Dio pun kembali ke rumah.
Perlahan tangannya menyentuh dadanya “Aneh, kenapa rasanya hal seperti ini
pernah ku alami?” tanyanya dalam hati namun sedetik kemudian ia menggelengkan
kepalanya “Tidak! Tidak mungkin” sangkalnya. Matanya kemudian tertuju pada
bandul kalungnya yang sudah mulai memutih. Dio berdecak kesal “Kenapa waktu
cepat sekali berlalu” ujarnya
…
Kediaman Vrouwen, 17 Desember 2013,
pukul 21:00
Dio
menggosok-gosokkan kedua tangannya ke dekat perapian. Akhir-akhir ini cuaca
semakin mendingin. Mungkin karena sebentar lagi memasuki akhir tahun. Ah,
berbicara soal akhir tahun Dio jadi teringat tugasnya yang sama sekali tak
sempat ia lakukan atau lebih tepatnya tak sanggup ia lakukan. Entah harus
dinamai apa rasa ini, karena ia sendiri pun takut untuk menyebutnya ‘cinta’.
Tapi yang pasti rasa itu mampu membuatnya mengabaikan tugas yang harus
diselesaikannya
“Dio” bisikan itu terdengar
memanggilnya. Dio pun segera membungkukkan badannya tanda hormat “Ya pak”
jawabnya
“Kau melalaikan tugasmu Dio”
Dio
menarik nafasnya dalam-dalam “Pak, apa yang akan terjadi jika aku tidak
menjalankan tugasku?” tanyanya
“Maka kehancuran dirimu ada di depan
matamu”
Dio
tersentak mendengarnya. Ia memejamkan matanya dan seketika terbayang wajah Vita
sedang tersenyum padanya. “Baiklah pak……hancurkanlah aku. Karena aku tak akan
sanggup melakukan tugasku. Tapi….” Dio menggantung kalimatnya “Biarkan aku ada
di sisinya sampai batas waktu yang telah ditentukan”
“Kau jatuh cinta pada gadis itu?”
Dio
akhirnya menganggukkan kepalanya “Lebih dari itu, aku bahkan ingin selalu
bersamanya. Aku tak ingin membuatnya menitikkan air mata lagi. Aku sangat sangat
mencintainya” ujar Dio disertai dengan isak tangis
“Kak?”
suara Vita menghentikan tangisnya. Dio buru-buru menghapus air matanya “Kakak
nangis? Kenapa? Cerita lah kak sama aku” ujar Vita
Dio
menggelengkan kepalanya “Ga ada apa-apa kok. Kamu kok belum tidur? Udah tidur
sana” ujar Dio
“Hmm..
aku mau nganterin ini. nih buat kakak” Vita memberikan sebuah sweater berbahan
wol pada Dio “Sekarang kan lagi musim dingin, lumayan buat ngehangatin kakak”
Dio
terenyuh, ia tersentuh pada kebaikan hati gadis ini. dio langsung mengenakan
sweater itu “Makasih yaa” ujarnya
Vita
mengangguk kemudian tersenyum, kemudian ia meraih kedua tangan Dio dan
menggenggamnya “Kak, tau ga gimana hancurnya aku waktu orang yang aku sayang
pergi ninggalin aku? Ada rasa sepi luar biasa yang mengisi kekosongan disini
kak” Vita menunjuk hatinya “Tapi saat Tuhan mengirim kamu datang, saat itu juga
hatiku yang rapuh mulai memiliki harapan untuk bangkit. Kalau aku bisa
berbahagia bersamamu meski hanya sesaat, kenapa aku harus tenggelam dalam
pahitnya kesepian? Aku gamau kamu terjebak dalam gelapnya kesepian. Kapanpun kamu
merasa sepi, ingatlah Tuhan selalu bersamamu” ujarnya. Kemudian Vita pun
kembali menuju kamarnya
Dio
menatap punggung Vita sampai akhirnya hilang dibalik pintu. Ada sesuastu yang
ganjil dalam kalimat Vita, ucapannya terdengar seperti Vita telah mengetahui
bahwa suatu hari nanti Dio akan meninggalkannya. Tangan kanan Dio perlahan
menyusuri bandul kalungnya. Dilihatnya warna bandul panah itu sudah ½ lebih
memutih. Itu artinya waktunya bersama Vita juga tak akan lama lagi.
…
Kediaman Vrouwen 26 Desember 2013, pukul
17:00
Aroma
lembut yang tercium dari tanah yang basah karena hujan sore ini berhasil
membuat Vita melambungkan imajinasinya jauh ke masa lalu. Masa dimana ia masih
memiliki keluarga yang utuh dan juga memiliki seorang ksatria pelindung yang
selalu menjaganya setiap waktu. Vita kemudian mengambil crown flower yang tergantung di atas meja belajarnya. “Makasih”
ujarnya lirih. Kemudian ia memeluk crown
flower itu, memeluknya dengan erat seakan benda mati itu adalah seseorang
yang sangat ia rindu. Tok..tok..tok
terdengar suara ketukan pintu dari luar. Vita menghentikan khayalannya,
kemudian membukakan pintu kamarnya. “Kenapa kak?” tanyanya
“Aku
boleh masuk?” tanya Dio
Vita
mengangguk, kemudian mempersilahkan Dio masuk dan duduk di kursi belajarnya
“Ada apa kak?” tanyanya
Dio
merogoh saku celananya, kemudian memberikan sebuah kotak yang ia ambil dari
saku celananya pada Vita “Ini buat kamu” ujarnya
Vita
mengernyitkan dahinya “Itu apa kak?”
Dio
tersenyum “Buka aja sendiri” jawabnya
Vita
pun mengambil kotak itu dan membukanya. Di dalamnya ternyata terdapat sebuah
cincin dengan ukiran namanya pada cincin tersebut. Vita tercengang, “I…ini…”
ujarnya terbata-bata
Dio
mengambil cincin itu, kemudian memasangkannya di jari manis Vita “Ini balasan
untuk gelang dan sweater yang kamu kasih ke kakak”
Vita
tak tahu harus berkata apa lagi, ia langsung memeluk Dio dengan erat dan Dio
pun membalas pelukan hangat Vita dan mereka berdua larut dalam suasana romance
itu
“Kak,
malam tahun baru nanti kita pergi berdua ya?” ujar Vita
“Dengan
senang hati tuan putri”
…
Golden Park, 31 Desember 2013, pukul
23:30
Dio
dan Vita hari ini telah seharian penuh menghabiskan waktu bersama, tertawa bersama,
bersenang-senang bersama, berbagi banyak cerita bersama. Hari ini menjadi hari
yang paling indah sekaligus hari yang paling menyakitkan untuk Dio, karena hari
ini adalah hari terakhirnya bersama Vita
“Kak
rame banget yaa disini” ujar Vita
Dio
menganggukkan kepalanya “Yaah namanya juga malam tahun baru. Mereka semua juga
mau lihat kembang api disini”
“Inget
ga kak? 7 tahun yang lalu kita juga pernah kesini loh sama Ayah dan Ibu, tapi
siang sih bukan malem kesininya. Kita main tiup gelembung kak” celoteh Vita
panjang lebar. Sementara Dio hanya ternganga mendengarnya. Ingatannya kemudian
menerawang jauh ke sebuah pigura yang berisi foto seorang gadis kecil dan
seorang laki-laki yang pernah dilihatnya di dalam lemari kaca di rumah Vrouwen
“Inget
ga kak yeeee orang nanya juga” tegur Vita. Namun Dio masih tetap membungkam
mulutnya. Perlahan sekelebat-sekelebat bayangan bermunculan di dalam otaknya,
seperti hendak memberikan sebuah kode tentang suatu hal yang abstrak
“Kalo
sama ini inget ga kak?” Vita mengeluarkan crown
flower dari dalam tasnya dan memberikannya pada Dio
Dio
tercengang melihat crown flower itu. Satu
per satu kepingan masa lalu yang terpecah itu pun perlahan mulai tersusun,
menampakkan sebuah kenangan tentang kisah yang telah terjadi di masa lampau.
Membawa serpihan luka yang telah lama tersimpan. Dengan gemetar Dio menggenggam
crown flower itu di tangannya.
Tenggorokannya tercekat “Ini . . . . . .
“
Golden Park, 31 Desember 2006, pukul
15:45
Matahari
sepertinya sedang bersahabat hari ini, burung-burung pun bernyanyi dengan
riangnya, ditambah lagi semilir angin yang berhembus perlahan semakin
memperlengkap hari yang indah ini. Di bawah salah satu pohon tampak seorang gadis
kecil dan seorang anak laki-laki tengah bersenda gurau dengan riangnya
“Ayo
dong kamu juga tiup gelembungnya” ujar anak laki-laki itu dengan semangat
“Iya
kak” jawab si gadis kecil
Orang
tua mereka pun nampaknya tak ingin melewatkan moment kebersamaan anak-anaknya
ini. Mereka pun mengabadikan moment tersebut dengan kamera. “Sayang, kita
pulang yuk, sudah mau sore nih” ujar sang ibu
“Iyaa
Bu” sahut si gadis kecil, kemudian ia menggandeng tangan anak laki-laki di
sebelahnya “Ayoo kita pulang kak” ujarnya
Anak
laki-laki itu melepaskan genggaman si gadis kecil “Kamu duluan dek, kakak mau
ambil sesuatu dulu” ujarnya. Kemudian ia berlalu dengan cepat meninggalkan si
gadis kecil
“Aku
tunggu di mobil ya kak!” jawab si gadis kecil sambil berteriak. Kemudian ia pun
pergi menuju mobilnya bersama kedua orang tuanya
Anak
lelaki itu menuju ke salah satu pepohonan rindang yang tak jauh dari tempatnya
bermain tadi. Ia kemudian mengambil sesuatu dari balik pohon itu. Sesuatu itu
adalah sebuah mahkota yang terbuat dari bunga yang ia buat untuk si gadis
kecil. Ia tersenyum puas “Pasti Vita bakal suka sama crown flower bikinan aku” ujarnya. Ia kemudian berlari menuju
mobilnya yang terparkir di seberang jalan. “Vitaaa” teriaknya dengan semangat.
Vita
menoleh ke arah anak lelaki itu ”Kakak kok lama sih? Aku kesitu yaa?”
“Jangan!”
cegah anak lelaki itu “Biar kakak yang kesana kan kita juga mau pulang”
ujarnya. Vita pun mengangguk, kemudian dengan semangat yang menggebu anak
lelaki itu pun menyebrangi jalan menuju tempat Vita berdiri. Dari ujung jalan,
tanpa mereka semua sadari ada sebuah truck yang melaju dengan kecepatan tinggi
yang akan melintas dan brak!!! Truk itu menghantam si anak lelaki yang tengah
menyebrangi jalan dengan cepat, crown
flower yang ada di tangan anak lelaki itu terpental dan jatuh di hadapan
Vita
Vita
yang menyaksikan tragedi mengenaskan itu di depan matanya langsung menangis
sejadi-jadinya “KAK DIOOOOOOOOO!!!!!” jeritnya dengan berurai air mata. Ia
kemudian langsung berlari dan memeluk Dio yang berlumuran darah
Di
tengah kondisinya yang penuh luka dan kesadarannya yang semakin melemah, Dio
berdoa di dalam hatinya “Ya Tuhan, jika kehadiranku dalam hidup Vita hanya
sampai saat ini, aku ikhlas. Tapi ku mohon, jaga lah ia sampai suatu hari nanti
ia mengetahui kebenaran bahwa aku bukan saudara kandungnya. Jagalah ia dari
hal-hal buruk yang mungkin akan menimpanya karena aku … sangat mencintainya” perlahan
tangan Dio mengusap lembut pipi Vita sambil tersenyum, “Kakak mungkin ga bisa
ngucapin tepat pada waktunya besok. Jadi, selamat ulang tahun Vita. Tuhan akan
selalu bersamamu” ujar Dio, bersamaan dengan itu Dio pun menghembuskan nafas
terakhirnya di pelukan Vita
Golden Park, 31 Desember 2013, pukul
23:45
Dio
menitikkan air matanya mengingat kejadian naas yang menimpanya itu. Dengan
gemetar tangannya menyentuh pipi Vita yang lembut dan kini tengah basah oleh
air mata itu “Ke..napa bi..sa be..gi..ni?” tanyanya terbata-bata
Vita
menggenggam tangan Dio “Aku meminta pada Tuhan untuk membuatmu bisa menemaniku
di hari-hari terakhirku. Meski hanya dalam khayal semu kita berdua. Meski hanya
dalam dimensi yang tak nyata” ujar Vita sambil terisak “Aku sudah tau jauh
sebelum kamu tau kalau kita bukan saudara kandung. Aku sudah jatuh cinta padamu
jauh sebelum kamu menyadari perasaanmu padaku. Tugasmu kini telah selesai Dio.
Aku bisa pergi dengan tenang sekarang”
Dio
menggelengkan kepalanya, kemudian ia memeluk Vita dengan erat “Jangan Vita. Aku
akan melakukan apapun agar kamu bisa terus hidup bahagia Vita. Aku takkan
sanggup melihatmu pergi”
“Takkan
ada satupun orang yang sanggup melihat orang yang dicintainya pergi
meninggalkannya. Tapi, satu hal yang perlu kamu tahu. Seperti halnya bumi yang
tidak pernah meninggalkan matahari, seperti itu pula kenangan manis kita takkan
pernah meninggalkan hati. Kenangan manis kita akan terus mengorbit dalam hati
dan pikiran kita” Vita melepaskan pelukan Dio “Tuhan sudah terlalu baik pada
kita Dio, Ia telah memenuhi permintaanmu dan juga permintaanku. Aku sudah
mengetahui perasaanmu dan kamu juga sudah menemani hari terakhirku. Bukankah
sepatutnya kita bersyukur?”
Dio
menangis sejadi-jadinya, tangan Vita perlahan menghapus air mata yang mengalir
di pipi Dio “Bahagia ga selalu tentang kebersamaan. Mengikhlaskan kepergian
seseorang pun juga bisa membuat hati bahagia” ujar Vita, kemudian Vita mengecup
lembut kening Dio “Selamat ulang tahun untuk kita” ujarnya. Dan bersamaan
dengan itu sosok Vita pun menghilang, bertepatan juga saat waktu menunjukkan
pukul 00:00 tanggal 1 Desember 2014
…
Rumah Sakit Pelita, 1 Desember 2014,
pukul 00:00
Layar
sudah menunjukkan garis lurus menandakan sosok yang terbaring lemah di atas
tempat tidur itu sudah tak lagi bernyawa, dokter Martin pun akhirnya menyerah
dan melepaskan segala peralatan yang menempel di tubuh Vita. Sudah satu bulan
Vita koma. Ia ingat betul percakapannya terakhir dengan Vita, saat Vita sempat
tersadar dan kemudian Vita memintanya untuk meninggalkan dirinya sendiri. Saat
itu pula Vita kritis dan koma
“Pada
akhirnya jika Tuhan sudah berkehendak, takkan ada satupun yang mampu
menghalanginya” ujar Dokter Martin. Kemudian ia pun menutup wajah Vita dengan
kain dan membawa jasadnya keluar ruang UGD
Dio
tersenyum pada sosok transparan Vita, kemudian ia mengulurkan tangannya
“Saatnya pulang” ujar Dio. Kemudian mereka berdua memasuki lorong gelap dan
akhirnya hilang tanpa bekas
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar