Selasa, 09 September 2014

LOVE DEATHLINE (cerpen)

LOVE DEATHLINE (cerpen)

Kantor ‘Deus Mortis’ selalu sibuk setiap hari, para dewa kematian berlalu lalang keluar masuk ruang kepala dewa kematian untuk melaporkan tugas mereka dan siap untuk menerima tugas selanjutnya. Dio Demise, dewa kematian yang paling muda diantara para dewa lainnya selain itu ia juga dikenal sebagai dewa kematian yang paling hebat. Ia selalu menyelesaikan tugasnya untuk menjemput nyawa setiap ‘klien’ nya dengan tepat waktu. Hari ini ia telah menjemput nyawa 12 jiwa dan semuanya ia lakukan dengan sempurna
“Hari ini pukul 22:45 di Jalan Western jemputlah nyawa Keluarga Vrouwen. Pastikan mereka sekeluarga harus mati” ujar Diego, kepala dewa kematian.
“Jarang sekali ada keluarga yang di jemput nyawanya bersamaan. Apakah mereka punya sesuatu yang spesial?” tanya Dio
Diego menaikkan kedua bahunya bersamaan “Entahlah, aku hanya memberikan tugas sesuai jadwal kematian yang sudah di tetapkan. Lakukan saja tugasmu seperti biasa agar kau bisa cepat menjadi kepala dewa kematian juga”
“Baik pak, saya pergi sekarang” pamit Dio. Kemudian ia membentangkan sayap hitamnya dan terbang menuju tempat kematian hari ini
“Ingat! Pastikan mereka sekeluarga harus mati”
“Serahkan saja padaku”

Jl. Western, 27 November 2013, Pukul 22:40

“Ayah, besok kita pergi ke pantai yaa?” tanya Fachri dengan antusias sambil mengguncang-guncang bahu ayahnya dari belakang
“Fachri, jangan begitu. Ayahmu sedang menyetir. Jangan ganggu konsentrasinya. Lagipula kamu kan alergi sama udara pantai. Jadi buat apa kita kesana?” ujar Lyra
“Tapi bu, teman-temanku di sekolah semuanya pernah berlibur ke pantai. Mereka memperlihatkan foto keluarga mereka saat sedang bermain pasir pantai. Aku juga ingin seperti itu bu. Aku ingin kita berfoto di pantai bersama” rengek Fachri sambil terus menggelayuti ayahnya dari jok belakang mobil
Vita berdecak kesal melihat kelakuan adiknya yang super manja “Dek, kamu tidur deh mending. Berisik tau!” omel Vita. Kemudian ia menarik badan Fachri “Sini tidur sama kakak”
“Gak! Aku ga mau tidur sampe ayah bilang kalo besok kita ke pantai” rengek Fachri sambil terus memeluk ayahnya
“Dek, jangan gitu dong, ayah kecekek nih jadi susah nyetirnya” ujar David sambil berusaha melepaskan lengan Fachri dari lehernya
“Tuh kan! Jangan bandel kenapa sih. Sini tidur cepetan” Vita menarik badan Fachri sementara itu Fachri tetap terus memeluk erat ayahnya. Seisi mobil itu menjadi kacau dan….....
BRAK!! Mobil keluarga itu menabrak sebuah truck dari arah yang berlawanan tepat pada pukul 22:45. Mobil keluarga itu menghantam sebuah truck dengan keras kemudian terjungkir balik dan akhirnya menabrak pembatas jalan
Dio menyaksikan tragedi itu dari atas langit. “Perfect” ujarnya sambil tersenyum puas. Kemudian ia menghampiri mobil itu dan menjemput para arwah keluarga Vrouwen dan membawa mereka masuk ke terowongan akherat
“Tuan David Vrouwen, nyonya Lyra Vrouwen, Fachri Vrouwen dan terakhir Vita Vrouwen. Silahkan kalian masuk ke dalam terowongan ini” satu persatu arwah Keluarga Vrouwen memasuki terowongan hitam di depan mereka, namun ternyata hanya ada tiga arwah, itu berarti ada satu arwah yang belum lepas dari tubuhnya. Arwah itu adalah arwah Vita Vrouwen
Dio menghampiri tubuh Vita Vrouwen yang sudah tergeletak di jalan dan berlumuran darah itu “Aneh, kenapa arwahnya tidak keluar dari tubuhnya padahal keadaannya sudah sangat mengenaskan seperti ini”
Di tengah kesadarannya yang semakin menipis, perlahan Vita membuka matanya dan melihat sesosok makhluk seperti manusia namun memiliki sayap hitam pekat sedang berdiri di hadapannya. Bersamaan dengan itu samar-samar terdengar bunyi sirine ambulans dan langkah kaki para petugas ambulans yang menghampirinya. kemudian sosok misterius itu menghilang dari pandangannya tepat saat seorang petugas datang dan menggotongnya menuju ambulans. Saat itu pula kesadaran Vita menghilang dan ia pun pingsan.
Dio menyaksikan mobil ambulans yang membawa keluarga Vrouwen itu dari atas langit. Tangannya gemetar “Tatapan gadis itu….” gumamnya dalam hati. Tangannya mencengkram dadanya yang berdegup kencang tak karuan. “Bagaimana bisa gadis itu melihatku?” pikirannya kacau. Dio pun terbang kembali menuju kantor ‘Deus Mortis’

“Bagaimana tugasmu?” tegur Diego saat Dio melapor ke ruangannya
Dio terdiam sejenak “Apa benar keluarga itu harus mati di waktu yang sama?” tanyanya
Diego mengernyitkan dahinya “Kau ini bicara apa? Tentu saja mereka harus mati di waktu yang sama seperti yang tertulis di jadwal hari ini” Diego memperlihatkan sebuah dokumen yang berisi data keluarga Vrouwen dan tanggal kematian mereka “Ada apa denganmu? Apa tugasmu gagal?” tanya Diego curiga
“Ituu… mengenai itu…” ujar Dio terbata-bata
“Katakan dengan jelas Dio Demise!” bentak Diego
“Maafkan saya pak, tapi hanya tiga arwah Keluarga Vrouwen yang berhasil saya jemput. Satu arwah lagi masih menyatu dengan tubuhnya. Arwah itu milik Vita Vrouwen” ujarnya
“APA?!” tanya Diego tak percaya “Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Kau tahu kan siklus reinkarnasi akan berantakan apabila ada satu arwah yang tidak pulang”
“Maafkan saya Pak. Saya akan mencoba memperbaikinya”
“Pergilah, aku harus adakan rapat dengan dewan kepala lainnya untuk membahas masalahmu ini. untuk sementara waktu kau tidak akan mendapat tugas berikutnya sampai masalah ini selesai. Jika sudah ada jalan keluar, akan ku beritahu”
Dio pun bangkit dan membungkuk memberi hormat sebelum pergi. Saat dia akan terbang kembali tiba-tiba ia teringat satu hal “Pak, ada yang ingin saya tanyakan. Apakah orang yang masih hidup dapat melihat kita?”
“Tentu saja tidak. Hanya arwah yang sudah terlepas dari tubuhnya yang dapat melihat kita. Jika arwah tersebut masih ada dalam tubuhnya maka ia tak akan dapat melihat wujud kita” ujar Diego. “Apa ada masalah lagi?” tanyanya
Dio menggelengkan kepalanya dengan cepat “Tidak pak” jawabnya. Kemudian ia pun terbang menjauh meninggalkan kantor ‘Deus Mortis’

Rumah Sakit Pelita, 30 November 2013, pukul 07:30

Vita membuka matanya dengan perlahan, aroma obat-obatan langsung menyambutnya. Di hadapannya sudah ada seorang dokter dan juga seorang suster.
“Selamat pagi Vita. Akhirnya anda siuman juga. Perkenalkan, saya dokter Martin” sapa sang dokter
Vita mengusap-usap kepalanya mencoba mengingat kejadian apa yang menimpanya sampai ia harus masuk rumah sakit. “Ayah!” jeritnya saat ia berhasil mengingat tragedi naas yang menimpanya dan keluarganya. Ia kemudian mencoba bangkit dari tempat tidurnya namun dokter Martin menahannya
“Tenangkan dirimu, kondisi tubuhmu masih sangat lemah” ujar Dokter Martin
“Dokter, dimana keluargaku?”
Dokter Martin mengambil nafas dalam-dalam “Keluargamu tewas di tempat kejadian. Hanya dirimu lah yang terselamatkan dari trageedi maut itu. Kebetulan aku mengenal baik ayahmu, Jasad keluargamu sudah dimakamkan di pemakaman umum ‘Heavest’ kemarin siang”
“Tidak mungkin!” jerit Vita sambil menangis meraung-raung.
Dokter Martin kemudian memeluknya dan mengusap lembut kepala Vita “Kuatkan hatimu. Kau harus bersyukur Tuhan masih menyelamatkanmu”
Vita terus menangis meraung-raung dalam pelukan Dokter Martin. Setelah hampir setengah jam ia mengamuk, tenaganya semakin melemah. “Terima kasih dokter, tolong tinggalkan aku sendiri” ujarnya dengan terisak
“Baiklah” dokter Martin pun melepaskan pelukannya “Jangan sungkan untuk memanggilku jika kau butuh sesuatu. Kau sudah seperti anakku sendiri” ujar Dokter Martin. Vita mengangguk, kemudian Dokter Martin dan suster pun meninggalkan Vita sendirian
Vita mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Tatapannya hampa, memori dalam otaknya membawa dirinya pada kejadian malam mengenaskan itu. Perlahan air matanya meluncur membasahi pipinya. Kini ia hanya seorang diri. Seluruh keluarganya telah meninggalkannya. Vita memejamkan matanya, menahan perih atas luka yang baru saja diterimanya “Oh Tuhan, kenapa tak Kau ambil juga nyawaku?” ujarnya lirih
Mendengar itu sontak Dio langsung mendekat ke arah Vita. Sudah sejak kemarin ia terus berada di ruangan tempat Vita dirawat. Dio menatap gadis itu. Kulit wajahnya putih bersih seperti layaknya kulit bayi. Rambutnya yang berwarna hitam panjang menjuntai sedikit berantakan. Perpaduan sempurna yang membuat gadis itu tampak cantik. Deg..deg…deg tiba-tiba degup jantung Dio berdetak tidak karuan saat memandangi sosok gadis itu. Ia kemudian memalingkan wajahnya “Tenanglah” ujarnya sambil mencoba menenangkan degup jantungnya.
Dio kembali menatap Vita yang masih menangis sambil menatap ke arah jendela. Entah kenapa Dio merasa sangat bersalah atas keadaan Vita saat ini. “Maafkan aku, seandainya saja aku berhasil menjemput nyawamu juga. Mungkin kau tidak perlu merasakan kepedihan seperti ini” ujar Dio. Perlahan Dio mengangkat tangannya, ia hendak mengusap kepala Vita.
Namun tiba-tiba Vita menoleh ke arahnya, membuat Dio seketika mematung. Tatapan mata mereka kini beradu. Dio dengan jelas dapat melihat mata gadis itu yang hanya berjarak beberapa centi darinya. Bola mata yang berwarna coklat terang dengan bulu mata yang lentik serta sorot matanya yang lembut itu membuat jantung Dio semakin berdegup kencang. Perlahan Vita memejamkan matanya dan merebahkan tubuhnya kembali ke kasur. Dio menghela nafas lega sambil mengusap-usap dadanya “Syukurlah, ku fikir ia bisa melihatku lagi” ujarnya. Di saat bersamaan terdengar Diego memanggilnya, Dio pun kemudian pergi menemui Diego dan meninggalkan Vita

“Dio, duduklah di kursi itu” sambut Diego saat Dio masuk ke ruangannya
Dio menurut. Ia berjalan ke arah kursi yang ditunjuk Diego dan duduk di kursi itu. Di sekelilingnya sudah ada banyak para dewan kepala. Sepertinya ia akan diadili di sini
“Dio Demise, seorang dewa kematian yang baru bertugas selama satu tahun. Kau memiliki banyak prestasi dan seharusnya di akhir tahun ini kau akan diangkat menjadi salah satu dewan kepala di Kantor ‘Deus Mortis’ ini. Namun pada tanggal 27 November 2013 kemarin kau telah gagal menjalankan tugasmu” ujar Deamor. Dewan kepala yang paling tinggi kedudukannya di Kantor ‘Deus Mortis’
“Untuk itu, berdasarkan keputusan bersama maka kau akan dijatuhi hukuman, dan hukumanmu adalah … ” Deamor menggantung kalimatnya. Membuat Dio semakin was-was akan hukuman yang diterimanya. Dio memjamkan kedua matanya, mencoba pasrah terhadap hukuman yang akan diterimanya “Kau akan diubah menjadi manusia biasa dan kau harus merenggut nyawa Vita Vrouwen dengan tanganmu sendiri”
Mata Dio seketika terbelalak “APA?” tanyanya tak percaya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya “Bagaimana bisa aku menjadi seorang pembunuh?”
“Kau tidak akan menjadi pembunuh Dio. Seperti halnya menjalankan tugasmu untuk menjemput nyawa, maka kau juga akan melakukan hal itu. Hanya saja kali ini kau akan menjalankannya dengan wujud sebagai manusia” jelas Diego
“Kau akan kami beri waktu satu bulan. Di tanggal yang sama pada bulan Desember, kau sudah harus bisa mengambil nyawa Vita Vrouwen. Tenang saja, saat kau berhasil melakukan tugasmu, keberadaanmu akan dihapuskan dari bumi dan kematian Vita Vrouwen akan dianggap sebagai kecelakaan” timpal Deamor. Kemudian Deamor mengalungkan sebuah kalung berbandul anak panah berwarna merah di leher Dio “Kau sudah harus mengambil nyawa Vita Vrouwen sebelum kalung ini berubah warna menjadi putih tepat pada tanggal 1 Januari 2014”
Dio memegang bandul kalung itu “Tapi pak…”
“Sampai bertemu lagi Dio” kemudion Deamor menjentikkan jarinya dan seketika sekelilingnya menjadi gelap gulita

“Dio, ayo bangun” samar samar terdengar suara itu di telinga Dio. Perlahan Dio membuka matanya dan terkejutlah ia mendapati seorang dokter tengah duduk di hadapannya
“Saat ini Vita masih shock berat, ia butuh istirahat disini untuk beberapa hari. Kau tidak perlu memikirkan soal administrasi. David adalah teman baikku. Biarkan aku yang akan menanggung semua biaya perawatan Vita” ujar dokter itu
Dio tercengang, ia sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan oleh dokter itu.
“Dokter Martin, anda di tunggu pasien di kamar 806” ujar seorang suster pada dokter yang ada di hadapan Dio
Dokter Martin mengangguk, kemudian ia kembali menatap Dio. Ia menepuk-nepuk bahu Dio dengan lembut “Dio, saat ini hanya kaulah satu-satunya kerabat yang Vita punya. Tolong jaga dia dengan sepenuh hatimu meskipun ia bukan adik kandungmu. Sekarang masuklah dan temani ia” ujar dokter Martin. Kemudian ia berlalu meninggalkan Dio yang masih mematung dengan sejuta tanda tanya besar dalam hatinya
Kriitttt… terdengar suara pintu yang dibuka perlahan. Vita menoleh pada asal suara itu kemudian tersenyum “Kakak kenapa baru datang?” tanyanya
Dio terdiam sejenak saat melihat Vita kini sedang menatapnya sambil tersenyum. Kemudian tanpa sengaja Dio melihat pantulan dirinya di cermin. Ia merasa aneh karena selama ini biasanya ia tak memiliki pantulan bayangan di cermin. Sosoknya sebagai dewa kematian yang memiliki sayap berwarna hitam pekat pun kini berubah menjadi sosok manusia biasa berpakaian kemeja lengan panjang dan jeans yang biasa dikenakan para manusia pada umumnya. Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah kalung berbandul panah berwarna merah yang Deamor berikan kepadanya. Barulah saat itu Dio sadar bahwa sekarang ia sedang menjalani masa hukumannya
“Kak?” suara Vita memecah lamunannya
Kemudian Dio mendekat ke arah Vita “Maaf ya” ujarnya
Lagi-lagi Vita tersenyum, senyum yang entah kenapa selalu berhasil membuat degup jantung Dio berdetak tak karuan. “Gapapa kok kak” ujar Vita “Emm… kak, aku mau pulang ke rumah aja. Aku ga suka bau infusan dan obat-obatan disini. Please kak kita pulang aja yaa” pinta Vita dengan wajah memohon yang membuat Dio tak kuasa untuk menuruti keinginannya. Saat Dio mengangguk kemudian Vita langsung memeluk tubuh Dio “Makasih ya kak” ujarnya bersemangat
Sekujur tubuh Dio terasa kaku saat Vita memeluknya. Rasanya baru tadi ia ingin mengusap kepala gadis ini namun gagal, tapi sekarang justru gadis ini lah yang tengah memeluknya. Perlahan Dio mulai membalas pelukan Vita. Ada perasaan hangat yang merasuk di hatinya. ‘Apakah ini yang manusia rasakan saat ada seseorang yang memeluknya seperti ini?’ batin Dio.
Vita melepaskan pelukannya “Kita pulang siang ini ya kak, tapi sebelum ke rumah kita ke makam ayah dan ibu dulu yaa”
Dio mengangguk “Baiklah, aku akan menemui dokter Martin dulu. Kamu bersiaplah” ujarnya.

Pemakaman umum ‘Heavest’, 30 November 2013, pukul 14:40

Vita berdiri diantara ketiga pusara tempat keluarganya dikuburkan. Di sini, di dalam tanah ini, ada ketiga jasad manusia yang sangat dicintai olehnya. Vita tak kuasa menahan tangisnya. Ia kemudian duduk bersimpuh di hadapan nisan ayahnya. Tangannya perlahan menyusuri nama ayahnya yang terukir di sana. “A-yah … ma-a-fin .. Vita” ujarnya dengan terbata-bata dan berurai air mata.
Dio yang berdiri tak jauh di belakang Vita pun tak kuasa untuk menahan haru. “Seperti inikah perasaan orang yang ditinggal mati oleh orang yang disayang?” tanyanya dalam hati. Kemudian ia menghampiri Vita dan mengusap bahu Vita dengan lembut serta membantunya berdiri. “Kamu harus kuat. Terkadang, kita harus mengalami berkali-kali kehilangan hanya agar kita mampu berdiri dengan kaki kita sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Ga ada yang benar-benar putih ataupun hitam di dunia ini, yang ada hanyalah kelabu”

Kediaman Vrouwen, 30 November 2013, pukul 20:00

Vita merebahkan tubuhnya di atas sofa setibanya di rumah. Ia memijit-mijit keningnya untuk mengurangi rasa lelahnya
“Kepala kamu kenapa? Sakit?” tanya Dio khawatir
“Gak apa-apa kok kak, cuma capek aja. Aku ke kamar duluan yaa” pamit Vita, kemudian ia pun berlalu menuju kamarnya di lantai dua meninggalkan Dio di ruang tamu
Dio memperhatikan sekeliling ruang tamu, ada banyak kenangan keluarga ini yang tersimpan rapi dalam bentuk pigura-pigura kecil yang terletak di dalam lemari kaca ataupun di dinding. Matanya kemudian tertuju pada salah satu pigura yang ada di sudut lemari kaca. Ia kemudian membuka lemari tersebut dan mengambil pigura itu. Di dalamnya tampak potret seorang gadis kecil dan seorang laki-laki yang lebih tua beberapa tahun dari gadis itu sedang meniup gelembung bersama. Dio mengernyitkan dahinya “Kalo Vita itu adalah anak sulung, lalu siapa laki-laki dalam foto ini?” tanyanya dalam hati
“Dio”
Terdengar suara bisikan yang memanggil namanya, Dio memasukkan kembali foto itu ke dalam lemari kaca, kemudian membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
“Dio Demise, waktu mu di mulai dari saat ini dan akan berakhir pada tanggal 1 januari 2014, pukul 00:00. Ingatlah kau harus sungguh-sungguh menjalani hukuman mu ini” ujar suara ghaib itu yang tidak lain adalah suara Diego
Dio menganggukkan kepalanya “Baik, pak” jawabnya
“Dan ingat satu lagi, jangan jatuh cinta dengan gadis itu”
Dio tersentak mendengar pesan terakhir dari Diego, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan berkomitmen. Lagipula ia dan Vita berbeda alam, sekalipun ada cinta yang tumbuh, sepertinya cinta tak akan mampu hidup di dua alam

Hari silih berganti, sudah memasuki satu minggu masa hukumannya namun Dio belum juga bisa menyelesaikan tugasnya untuk mengambil nyawa Vita dengan tangannya sendiri. Dio duduk merenung di depan teras rumah memikirkan bagaimana caranya ia bisa mengambil nyawa Vita dengan tangannya. Sekalipun jejak keberadaannya akan dihapuskan dari dunia saat ia berhasil menjalankan tugasnya tapi tetap saja di dalam hatinya sedikitpun tak ada hasrat untuk melakukan itu
“Kak Dioooo” suara lembut Vita membuyarkan lamunan Dio
“Kamu kenapa hobi banget ngagetin sih?” ujar Dio pada Vita yang kini sudah duduk manis di sampingnya
Vita hanya tertawa kecil mendengar Dio yang menggerutu “Ya salah kakak sendiri kenapa hobinya ngelamun” ujarnya. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya “Kak, sini deh tangannya”
Dio mengernyitkan dahinya, kemudian ia mengulurkan tangannya menuruti perintah Vita. Kemudian dengan cepat Vita memasangkan sebuah gelang berinisial DV “Ini buat kakak” ujar Vita
Dio membolak-balik tangannya “Asli ga nih?” godanya
“Wah songong nih anak. Asli lah kak. Hand made tuuh” ujar Vita sambil mencibir
“Hahaha iya iya bercanda, makasih yaa” ujar Dio sambil mengelus lembut kepala Vita
Vita menatap Dio sambil tersenyum. Deg! Seketika jantung Dio berdegup dengan kencang tak beraturan “Kamu ga usah cengengesan mulu kek” ujar Dio salting
“Ya ampun kak, senyum kan ibadah. Btw, kakak tau ga masa ada anak kucing yang ditinggal induknya tuh kak di depan sana” ujar Vita sambil menunjuk ke arah depan
“Terus kenapa?” tanya Dio
“Ya aku mah apa atuh kak, lihat anak kucing ditinggal induknya aja sedih apalagi kalo sampe aku yang ditinggalin kakak” ujar Vita malu-malu kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan Dio yang masih tercengang
Saat Vita sudah hilang dari pandangannya, Dio menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil “Ya Tuhaaan” ujarnya dengan tersipu-sipu

Kediaman Vrouwen, 10 Desember 2013, pukul 07:00

“Kak, aku berangkat dulu yaa” pamit Vita pada Dio
Dio mengangguk kemudian melambaikan tangannya lalu ia melanjutkan kembali sarapannya. Saat hendak mengambil selai untuk rotinya, Dio melihat sebuah buku tergeletak di atas meja “Astaga, Vita pasti lupa bawa bukunya” dengan cepat ia mengambil buku itu dan menyusul Vita
Vita masih duduk termenung di halte sambil mendengarkan musik dari ponselnya, ia menunggu bus yang akan mengantarkannya ke sekolah. Dari kejauhan samar-samar ia melihat Dio sedang berlari sekuat tenaga mendekat ke arahnya. Vita segera melepas headsetnya kemudian berdiri “Kak Dio ngapain?” tanyanya
Dio berhenti di seberang jalan, dengan nafas yang masih terengah-engah ia pun menunjukkan sebuah buku bersampul cokelat pada Vita. Melihat itu Vita langsung teringat sesuatu dan sontak menepuk dahinya “Ya ampun buku PR ku” ujarnya. “Kakak tunggu disitu aja biar aku yang nyebrang”
Kemudian Vita berjalan menghampiri Dio, tanpa ia sadari dari sebelah kiri nya ada sepeda motor yang tengah melaju dengan cepat kian mendekat ke arahnya. Melihat itu, Dio langsung menarik tangan Vita dan mereka berdua pun terjatuh ke sisi jalan
“Ya Tuhan, kakak ga apa-apa kan?” tanya Vita khawatir
Dio menggenggam erat kepalanya. Ada sekelebat bayangan-bayangan yang muncul di otaknya dan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa dalam kepalanya “Argghh!!” Dio menggeram kesakitan
“Kakak kenapa?” tanya Vita lagi. Melihat Dio yang kesakitan, ia pun menjadi semakin panik
Perlahan rasa sakit itu akhirnya berangsur-angsur hilang. Kemudian Dio menghapus air mata Vita yang menangis panik karena melihatnya kesakitan. “Kakak udah ga apa-apa kok. Sekarang kamu berangkat ke sekolah yaa. Tuh busnya udah datang” ujarnya. Kemudian ia pun bangkit dan membawa Vita menuju bus sekolahnya
“Nih buku kamu, jangan ketinggalan lagi yaa” ujar Dio sambil menyerahkan buku yang dibawanya pada Vita
Vita mengambil buku itu dari tangan Dio, kemudian ia menatap Dio “Tapi kak.. kakak beneran ga apa-apa?” tanya Vita penuh keraguan tapi Dio dengan mantap menganggukkan kepalanya meyakinkan Vita bahwa ia baik-baik saja. Melihat itu akhirnya Vita pun menyerah kemudian ia masuk ke dalam bus dan melaju menuju sekolahnya
Setelah bus yang membawa Vita hilang dari pandangannya, Dio pun kembali ke rumah. Perlahan tangannya menyentuh dadanya “Aneh, kenapa rasanya hal seperti ini pernah ku alami?” tanyanya dalam hati namun sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya “Tidak! Tidak mungkin” sangkalnya. Matanya kemudian tertuju pada bandul kalungnya yang sudah mulai memutih. Dio berdecak kesal “Kenapa waktu cepat sekali berlalu” ujarnya

Kediaman Vrouwen, 17 Desember 2013, pukul 21:00

Dio menggosok-gosokkan kedua tangannya ke dekat perapian. Akhir-akhir ini cuaca semakin mendingin. Mungkin karena sebentar lagi memasuki akhir tahun. Ah, berbicara soal akhir tahun Dio jadi teringat tugasnya yang sama sekali tak sempat ia lakukan atau lebih tepatnya tak sanggup ia lakukan. Entah harus dinamai apa rasa ini, karena ia sendiri pun takut untuk menyebutnya ‘cinta’. Tapi yang pasti rasa itu mampu membuatnya mengabaikan tugas yang harus diselesaikannya
“Dio” bisikan itu terdengar memanggilnya. Dio pun segera membungkukkan badannya tanda hormat “Ya pak” jawabnya
“Kau melalaikan tugasmu Dio”
Dio menarik nafasnya dalam-dalam “Pak, apa yang akan terjadi jika aku tidak menjalankan tugasku?” tanyanya
“Maka kehancuran dirimu ada di depan matamu”
Dio tersentak mendengarnya. Ia memejamkan matanya dan seketika terbayang wajah Vita sedang tersenyum padanya. “Baiklah pak……hancurkanlah aku. Karena aku tak akan sanggup melakukan tugasku. Tapi….” Dio menggantung kalimatnya “Biarkan aku ada di sisinya sampai batas waktu yang telah ditentukan”
“Kau jatuh cinta pada gadis itu?”
Dio akhirnya menganggukkan kepalanya “Lebih dari itu, aku bahkan ingin selalu bersamanya. Aku tak ingin membuatnya menitikkan air mata lagi. Aku sangat sangat mencintainya” ujar Dio disertai dengan isak tangis
“Kak?” suara Vita menghentikan tangisnya. Dio buru-buru menghapus air matanya “Kakak nangis? Kenapa? Cerita lah kak sama aku” ujar Vita
Dio menggelengkan kepalanya “Ga ada apa-apa kok. Kamu kok belum tidur? Udah tidur sana” ujar Dio
“Hmm.. aku mau nganterin ini. nih buat kakak” Vita memberikan sebuah sweater berbahan wol pada Dio “Sekarang kan lagi musim dingin, lumayan buat ngehangatin kakak”
Dio terenyuh, ia tersentuh pada kebaikan hati gadis ini. dio langsung mengenakan sweater itu “Makasih yaa” ujarnya
Vita mengangguk kemudian tersenyum, kemudian ia meraih kedua tangan Dio dan menggenggamnya “Kak, tau ga gimana hancurnya aku waktu orang yang aku sayang pergi ninggalin aku? Ada rasa sepi luar biasa yang mengisi kekosongan disini kak” Vita menunjuk hatinya “Tapi saat Tuhan mengirim kamu datang, saat itu juga hatiku yang rapuh mulai memiliki harapan untuk bangkit. Kalau aku bisa berbahagia bersamamu meski hanya sesaat, kenapa aku harus tenggelam dalam pahitnya kesepian? Aku gamau kamu terjebak dalam gelapnya kesepian. Kapanpun kamu merasa sepi, ingatlah Tuhan selalu bersamamu” ujarnya. Kemudian Vita pun kembali menuju kamarnya
Dio menatap punggung Vita sampai akhirnya hilang dibalik pintu. Ada sesuastu yang ganjil dalam kalimat Vita, ucapannya terdengar seperti Vita telah mengetahui bahwa suatu hari nanti Dio akan meninggalkannya. Tangan kanan Dio perlahan menyusuri bandul kalungnya. Dilihatnya warna bandul panah itu sudah ½ lebih memutih. Itu artinya waktunya bersama Vita juga tak akan lama lagi.

Kediaman Vrouwen 26 Desember 2013, pukul 17:00

Aroma lembut yang tercium dari tanah yang basah karena hujan sore ini berhasil membuat Vita melambungkan imajinasinya jauh ke masa lalu. Masa dimana ia masih memiliki keluarga yang utuh dan juga memiliki seorang ksatria pelindung yang selalu menjaganya setiap waktu. Vita kemudian mengambil crown flower yang tergantung di atas meja belajarnya. “Makasih” ujarnya lirih. Kemudian ia memeluk crown flower itu, memeluknya dengan erat seakan benda mati itu adalah seseorang yang sangat ia rindu.  Tok..tok..tok terdengar suara ketukan pintu dari luar. Vita menghentikan khayalannya, kemudian membukakan pintu kamarnya. “Kenapa kak?” tanyanya
“Aku boleh masuk?” tanya Dio
Vita mengangguk, kemudian mempersilahkan Dio masuk dan duduk di kursi belajarnya “Ada apa kak?” tanyanya
Dio merogoh saku celananya, kemudian memberikan sebuah kotak yang ia ambil dari saku celananya pada Vita “Ini buat kamu” ujarnya
Vita mengernyitkan dahinya “Itu apa kak?”
Dio tersenyum “Buka aja sendiri” jawabnya
Vita pun mengambil kotak itu dan membukanya. Di dalamnya ternyata terdapat sebuah cincin dengan ukiran namanya pada cincin tersebut. Vita tercengang, “I…ini…” ujarnya terbata-bata
Dio mengambil cincin itu, kemudian memasangkannya di jari manis Vita “Ini balasan untuk gelang dan sweater yang kamu kasih ke kakak”
Vita tak tahu harus berkata apa lagi, ia langsung memeluk Dio dengan erat dan Dio pun membalas pelukan hangat Vita dan mereka berdua larut dalam suasana romance itu
“Kak, malam tahun baru nanti kita pergi berdua ya?” ujar Vita
“Dengan senang hati tuan putri”

Golden Park, 31 Desember 2013, pukul 23:30

Dio dan Vita hari ini telah seharian penuh menghabiskan waktu bersama, tertawa bersama, bersenang-senang bersama, berbagi banyak cerita bersama. Hari ini menjadi hari yang paling indah sekaligus hari yang paling menyakitkan untuk Dio, karena hari ini adalah hari terakhirnya bersama Vita
“Kak rame banget yaa disini” ujar Vita
Dio menganggukkan kepalanya “Yaah namanya juga malam tahun baru. Mereka semua juga mau lihat kembang api disini”
“Inget ga kak? 7 tahun yang lalu kita juga pernah kesini loh sama Ayah dan Ibu, tapi siang sih bukan malem kesininya. Kita main tiup gelembung kak” celoteh Vita panjang lebar. Sementara Dio hanya ternganga mendengarnya. Ingatannya kemudian menerawang jauh ke sebuah pigura yang berisi foto seorang gadis kecil dan seorang laki-laki yang pernah dilihatnya di dalam lemari kaca di rumah Vrouwen
“Inget ga kak yeeee orang nanya juga” tegur Vita. Namun Dio masih tetap membungkam mulutnya. Perlahan sekelebat-sekelebat bayangan bermunculan di dalam otaknya, seperti hendak memberikan sebuah kode tentang suatu hal yang abstrak
“Kalo sama ini inget ga kak?” Vita mengeluarkan crown flower dari dalam tasnya dan memberikannya pada Dio
Dio tercengang melihat crown flower itu. Satu per satu kepingan masa lalu yang terpecah itu pun perlahan mulai tersusun, menampakkan sebuah kenangan tentang kisah yang telah terjadi di masa lampau. Membawa serpihan luka yang telah lama tersimpan. Dengan gemetar Dio menggenggam crown flower itu di tangannya. Tenggorokannya tercekat “Ini . . . . .  . “

Golden Park, 31 Desember 2006, pukul 15:45

Matahari sepertinya sedang bersahabat hari ini, burung-burung pun bernyanyi dengan riangnya, ditambah lagi semilir angin yang berhembus perlahan semakin memperlengkap hari yang indah ini. Di bawah salah satu pohon tampak seorang gadis kecil dan seorang anak laki-laki tengah bersenda gurau dengan riangnya
“Ayo dong kamu juga tiup gelembungnya” ujar anak laki-laki itu dengan semangat
“Iya kak” jawab si gadis kecil
Orang tua mereka pun nampaknya tak ingin melewatkan moment kebersamaan anak-anaknya ini. Mereka pun mengabadikan moment tersebut dengan kamera. “Sayang, kita pulang yuk, sudah mau sore nih” ujar sang ibu
“Iyaa Bu” sahut si gadis kecil, kemudian ia menggandeng tangan anak laki-laki di sebelahnya “Ayoo kita pulang kak” ujarnya
Anak laki-laki itu melepaskan genggaman si gadis kecil “Kamu duluan dek, kakak mau ambil sesuatu dulu” ujarnya. Kemudian ia berlalu dengan cepat meninggalkan si gadis kecil
“Aku tunggu di mobil ya kak!” jawab si gadis kecil sambil berteriak. Kemudian ia pun pergi menuju mobilnya bersama kedua orang tuanya
Anak lelaki itu menuju ke salah satu pepohonan rindang yang tak jauh dari tempatnya bermain tadi. Ia kemudian mengambil sesuatu dari balik pohon itu. Sesuatu itu adalah sebuah mahkota yang terbuat dari bunga yang ia buat untuk si gadis kecil. Ia tersenyum puas “Pasti Vita bakal suka sama crown flower bikinan aku” ujarnya. Ia kemudian berlari menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan. “Vitaaa” teriaknya dengan semangat.
Vita menoleh ke arah anak lelaki itu ”Kakak kok lama sih? Aku kesitu yaa?”
“Jangan!” cegah anak lelaki itu “Biar kakak yang kesana kan kita juga mau pulang” ujarnya. Vita pun mengangguk, kemudian dengan semangat yang menggebu anak lelaki itu pun menyebrangi jalan menuju tempat Vita berdiri. Dari ujung jalan, tanpa mereka semua sadari ada sebuah truck yang melaju dengan kecepatan tinggi yang akan melintas dan brak!!! Truk itu menghantam si anak lelaki yang tengah menyebrangi jalan dengan cepat, crown flower yang ada di tangan anak lelaki itu terpental dan jatuh di hadapan Vita
Vita yang menyaksikan tragedi mengenaskan itu di depan matanya langsung menangis sejadi-jadinya “KAK DIOOOOOOOOO!!!!!” jeritnya dengan berurai air mata. Ia kemudian langsung berlari dan memeluk Dio yang berlumuran darah
Di tengah kondisinya yang penuh luka dan kesadarannya yang semakin melemah, Dio berdoa di dalam hatinya “Ya Tuhan, jika kehadiranku dalam hidup Vita hanya sampai saat ini, aku ikhlas. Tapi ku mohon, jaga lah ia sampai suatu hari nanti ia mengetahui kebenaran bahwa aku bukan saudara kandungnya. Jagalah ia dari hal-hal buruk yang mungkin akan menimpanya karena aku … sangat mencintainya” perlahan tangan Dio mengusap lembut pipi Vita sambil tersenyum, “Kakak mungkin ga bisa ngucapin tepat pada waktunya besok. Jadi, selamat ulang tahun Vita. Tuhan akan selalu bersamamu” ujar Dio, bersamaan dengan itu Dio pun menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan Vita

Golden Park, 31 Desember 2013, pukul 23:45

Dio menitikkan air matanya mengingat kejadian naas yang menimpanya itu. Dengan gemetar tangannya menyentuh pipi Vita yang lembut dan kini tengah basah oleh air mata itu “Ke..napa bi..sa be..gi..ni?” tanyanya terbata-bata
Vita menggenggam tangan Dio “Aku meminta pada Tuhan untuk membuatmu bisa menemaniku di hari-hari terakhirku. Meski hanya dalam khayal semu kita berdua. Meski hanya dalam dimensi yang tak nyata” ujar Vita sambil terisak “Aku sudah tau jauh sebelum kamu tau kalau kita bukan saudara kandung. Aku sudah jatuh cinta padamu jauh sebelum kamu menyadari perasaanmu padaku. Tugasmu kini telah selesai Dio. Aku bisa pergi dengan tenang sekarang”
Dio menggelengkan kepalanya, kemudian ia memeluk Vita dengan erat “Jangan Vita. Aku akan melakukan apapun agar kamu bisa terus hidup bahagia Vita. Aku takkan sanggup melihatmu pergi”
“Takkan ada satupun orang yang sanggup melihat orang yang dicintainya pergi meninggalkannya. Tapi, satu hal yang perlu kamu tahu. Seperti halnya bumi yang tidak pernah meninggalkan matahari, seperti itu pula kenangan manis kita takkan pernah meninggalkan hati. Kenangan manis kita akan terus mengorbit dalam hati dan pikiran kita” Vita melepaskan pelukan Dio “Tuhan sudah terlalu baik pada kita Dio, Ia telah memenuhi permintaanmu dan juga permintaanku. Aku sudah mengetahui perasaanmu dan kamu juga sudah menemani hari terakhirku. Bukankah sepatutnya kita bersyukur?”
Dio menangis sejadi-jadinya, tangan Vita perlahan menghapus air mata yang mengalir di pipi Dio “Bahagia ga selalu tentang kebersamaan. Mengikhlaskan kepergian seseorang pun juga bisa membuat hati bahagia” ujar Vita, kemudian Vita mengecup lembut kening Dio “Selamat ulang tahun untuk kita” ujarnya. Dan bersamaan dengan itu sosok Vita pun menghilang, bertepatan juga saat waktu menunjukkan pukul 00:00 tanggal 1 Desember 2014

Rumah Sakit Pelita, 1 Desember 2014, pukul 00:00

Layar sudah menunjukkan garis lurus menandakan sosok yang terbaring lemah di atas tempat tidur itu sudah tak lagi bernyawa, dokter Martin pun akhirnya menyerah dan melepaskan segala peralatan yang menempel di tubuh Vita. Sudah satu bulan Vita koma. Ia ingat betul percakapannya terakhir dengan Vita, saat Vita sempat tersadar dan kemudian Vita memintanya untuk meninggalkan dirinya sendiri. Saat itu pula Vita kritis dan koma
“Pada akhirnya jika Tuhan sudah berkehendak, takkan ada satupun yang mampu menghalanginya” ujar Dokter Martin. Kemudian ia pun menutup wajah Vita dengan kain dan membawa jasadnya keluar ruang UGD
Dio tersenyum pada sosok transparan Vita, kemudian ia mengulurkan tangannya “Saatnya pulang” ujar Dio. Kemudian mereka berdua memasuki lorong gelap dan akhirnya hilang tanpa bekas


THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar