“Kei,
baper banget sih lo ah” omel Virsha saat melihat Kezia menangis ketika menonton
dvd drama cinta di rumahnya.
“Bukan
baper Vir, tapi ini tuh emang so sweet parah. Mana ada sih cowo zaman sekarang
yang cintanya setulus itu? Yang selalu punya cara ngebuat cewenya jatuh cinta
berkali-kali sama dia, yang kadar cintanya selalu 100% dari awal sampai akhir”
ujar Kezia sambil menghapus air matanya.
“Ah
alibi aja lo, lo mah nonton doraemon juga nangis” cibir Virsha “Btw, lo tau kak
Marcel kan Kei?” tanya Virsha.
“Emm…”
gumam Kezia sambil menyeruput es jeruknya “Yang anak basket itu ya?” tanyanya
yang kemudian dijawab dengan anggukkan dari Virsha. “Oh yang itu mah tau lah
gue orang dia tenar banget kan di sekolah. Emangnya kenapa Vir?” tanya Kezia.
“Waktu
itu dia minta nomor hape lo terus….”
“Jangan
dikasih!” potong Kezia.
“Yeee
makanya denger dulu. Woles aja ga gue kasih kok. Gue suruh aja dia minta
sendiri ke elo heheheh”
“Ahh
kamfreto dah lo Vir”
“Emang
kenapa sih? Kan lumayan kalo lo jadian sama Kak Marcel, gapapa biar lo nya ga
cinta juga hahaha. Yang penting gue bisa ikutan tenar sebagai sahabatnya pacar
orang paling tenar di sekolah beuhh ajib ga tuh?”
Kezia
mendengus kesal “Enakkan di elo nyong. Mana enak sih terikat hubungan sama
orang yang ga kita cinta?”
“Tapi
kalo sama orang yang dicinta mah biar dikata status hubungannya ga jelas juga
tetep aja dijalanin ya?” sindir Virsha sementara itu Kezia hanya tersipu malu.
“Ya
kalo itu beda cerita lah Vir”
“Ampe
kapan lo mau digantungin gitu sama Kak Andrew? Jemuran aja kalo digantung
lama-lama bisa ilang, gimana perasaan?”
“Gue
ga ngerasa gue digantungin kok. Dari awal deket juga Kak Andrew emang ga
nunjukin tanda-tanda mau pacaran sama gue, dia kayak cuma nganggap gue sebagai
adik. Gue nya aja yang terlanjur jatuh cinta sama dia”
“Gue
heran deh sama lo. Bisa-bisanya gitu ya mata lo cuma ngeliat si kulkas itu? Lo
tuh emang tahan dingin apa gimana gangerti deh gue” ujar Virsha sambil
menggelengkan kepala.
“Gue
sendiri juga ga ngerti. Entahlah seperti apa arti kehadiran gue di mata dia,
tapi yang pasti kehadirannya selalu punya makna di hati gue” Kezia menghela
nafasnya “Tapi kadang gue ngerasa kak Andrew emang sengaja menutup jalan menuju
hatinya, mengunci rapat pintu hatinya. Dia selalu bilang kalo gue dan dia itu
berbeda. Gue gangerti Vir, bukankah Tuhan menciptakan perbedaan untuk saling
melengkapi?”
…
Hari
ini SMA Dothes mengadakan graduation party untuk para murid kelas XII yang
telah dinyatakan lulus Ujian Nasional 100%. Para siswa/i kelas X dan XI pun
ikut serta memeriahkan acara ini.
“Hallo
Kezia” sapa Marcel pada Kezia “Hallo juga Virsha” sapanya juga pada Virsha.
“Hai
kak” jawab Kezia dan Virsha berbarengan.
“Congrats
for your graduation ya kak” ujar Virsha.
“Thanks
yaa” jawab Marcel, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Kezia “Emm… Kezia,
ini buat kamu. Selamat ulang tahun yaa. Maaf telat ngasihnya, harusnya aku
kasih ini kemarin” ujarnya sambil menyerahkan sekotak coklat dan sebuket bunga
pada Kezia.
Kezia
terkejut melihatnya “Duh ga usah repot-repot kali kak” ujar Kezia.
“Sama
sekali ga repot kok kalo buat kamu. Diterima ya Kei”
Kezia
sebenarnya enggan untuk menerimanya tapi ia merasa tak enak kalau harus menolak
niat baik seseorang apalagi Marcel memberikannya di hadapan banyak orang.
Akhirnya ia pun menerima pemberian Marcel “Makasih ya kak”
Sementara
itu dari seberang sana, sedari tadi Andrew memperhatikan Kezia dan Marcel. Ia
hanya mematung menyaksikan kejadian itu.
“Hei
Ndrew ngeliatin apa sih?” sapa Ghea membuyarkan lamunannya.
“Eh
Ghe, engga kok ga ngeliatin apa-apa” kilah Andrew.
“Hooh
gitu. By the way setelah ini lo mau lanjut kemana Ndrew?”
“Gue
mau nyoba join kerja sama sepupu gue mungkin. Karena kalo untuk langsung kuliah
gue belum punya cukup biaya” tutur Andrew.
“Kalo
lo mau sih gue bisa-bisa aja rekomend lo buat masuk di universitas yang sama
kayak gue. Tenang aja lo gaperlu mikirin biayanya” ujar Ghea.
“Gaperlu
Ghe, makasih buat niat baik lo itu. Tapi gue mau kerja keras sendiri. Gue mau
menghasilkan uang atas keringat gue sendiri supaya gue bisa banggain ortu gue
dan juga bisa bahagiain orang yang gue sayang suatu hari nanti”
“Seandainya
aja orang itu masih gue ya Ndrew” ujar Ghea lirih.
Andrew
tertawa kecil “Udahlah Ghe gaperlu bahas masa lalu. Gue tetep sayang lo kok,
sebagai teman” ujarnya sambil mengusap puncak kepala Ghea lembut.
Kali
ini ganti Kezia yang memandangi Andrew yang tengah mengobrol bersama Ghea dari
kejauhan. “Kei, itu kak Ghea mantannya kak Andrew kan ya?” tanya Virsha.
Kezia
mengangguk perlahan. Ia kemudian mengambil ponselnya dan mengirim satu pesan
singkat pada Andrew. “Vir, gue pergi bentar yaa” pamitnya. Kemudian ia pergi
meninggalkan Virsha.
Di
seberang sana, ponsel Andrew berdering pertanda pesan masuk. Ia pun membaca isi
pesan itu.
‘Aku tunggu di kantin belakang gedung C
sekarang - Kezia’
Setelah
membaca itu, Andrew langsung pamit pada Ghea dan menuju tempat Kezia
menunggunya.
…
“Ada
perlu apa Kei?” tanya Andrew pada Kezia yang sedang duduk di salah satu meja
kantin.
Kezia
menyerahkan sebuah bingkisan pada Andrew “Buat kamu” ujarnya datar.
“Apa
ini?” tanyanya. Kemudian Andrew membuka bingkisan itu, ternyata Kezia
memberikannya jas berwarna hitam beserta kemeja putih dan celana panjang hitam.
“Ini untuk apa Kei?” tanya Andrew heran.
“Ya
untuk dipake lah. Besok ada acara pengalungan medali gitu kan?” ujar Kezia.
Andrew
menggeleng-gelengkan kepalanya “Gak Kei, kamu ga perlu ngasih aku ini” ia
kemudian mengembalikan bingkisan itu pada Kezia.
“Emang
kenapa sih kalo aku ngasih kamu ini? Kenapa sih kamu ga pernah mau nerima
pemberian aku?” ujar Kezia parau.
“Karena
aku ga akan bisa membalas pemberian kamu itu Kei. Sadarlah Kei, kita ini
berbeda. Kamu lebih cocok sama Marcel, kamu pasti akan …”
“Stop!”
potong Kezia. Ia menggigit bibir bawahnya yang gemetar “Kapan sih aku pernah
minta balasan?” tanya Kezia “Bahkan mencintaimu pun ku lakukan dengan tulus
tanpa menuntut balasan” ujarnya sambil meneteskan air mata. Kezia memejamkan
matanya, menahan perih yang menggores hatinya “Bisa ga sih sekali ajaa kamu
coba lihat ke belakang. Lihat aku yang selalu mengikuti setiap langkahmu. Bisa
ga sih sekali aja kamu lupain tentang ‘perbedaan’ yang selalu kamu permasalahin
itu? Aku ga ngerti ‘perbedaan’ apa yang kamu maksud. Yang aku tau cuma aku sayang
kamu” tutur Kezia. “Tapi kayaknya kamu gapernah sadar ya kalo aku tulus sayang
sama kamu, atau mungkin kamu emang sengaja pura-pura ga sadar?”
Andrew
mengusap lembut pipi Kezia yang telah basah oleh air mata ”Jangan merendahkan
dirimu seperti ini Kei. Kamu pantas untuk bahagia”
Kezia
menepis tangan Andrew, kemudian ia menatap Andre dengan tajam “Apa aku sama
sekali tak berarti buat kamu?” tanyanya lirih.
Deg!
Lidah Andrew seketika menjadi kelu, bibirnya terkunci rapat. Sementara itu
Kezia terus menunggu. Berharap akan ada sepatah dua patah kata yang akan keluar
dari mulut Andrew. Semenit, dua menit berlalu bersama keheningan yang
menyelimuti mereka.
“Oke
cukup!” ujar Kezia mengakhiri keheningan di antara mereka. Ia menghapus air
matanya yang baru saja meluncur lagi dari matanya “Semuanya cukup sampai
disini. Mungkin kamu benar. Kita memang berbeda. Perasaan kita yang berbeda.
Aku selalu cinta tapi kamu tidak” ujarnya. Kemudian ia pun pergi meninggalkan
Andrew tanpa menoleh sedikitpun kepadanya.
Andrew
memandangi punggung Kezia yang kian menjauh dari pandangannya “Kamu berarti
Kei. Saking berartinya kehadiran kamu dalam hidupku, aku sampai tak sanggup
mengatakannya” ujar Andrew dalam hatinya. Namun ia hanya bisa memandangi
kepergian Kezia tanpa mampu menahannya.
…
5 tahun
kemudian…
Andrew memperhatikan dengan teliti setiap
lembar-demi lembar berkas dokumen yang menumpuk di atas mejanya. Sesekali
tangannya memijit tengkuk lehernya yang mulai menegang.
“Bro, dilanjut besok aja lah. Muka lo udah kaga enak
diliat gitu juga” tegur salah seorang rekan kerjanya.
“Tanggung Har, tinggal ngecek ini aja kok” ujar
Andrew tanpa menoleh sedikitpun ke arah Harry –rekan kerjanya–. “Yak finish!”
Andrew meletakkan kembali dokumen yang sedang dibacanya tadi di atas meja.
Harry kemudian menghampiri Andrew dan duduk di
bangku yang tersedia di depan meja kerja Andrew “Kerja mulu lo, pantesan
jomblo” ledek Harry.
“Iyadah yang punya pacar mah emang bedaa” cibir
Harry sambil merapikan berkas-berkas dokumen yang berserakan di mejanya.
“Apaan nih Ndrew?” tanya Harry saat melihat sebuah
brosur yang terselip di antara tumpukan berkas.
“Ohh itu brosur undangan reuni SMA gue” jawab Andrew.
“Lo alumni SMA Dothes juga? Sama dong kayak cewe
gue. Tapi dia angkatan di bawah lo sih kayaknya” tutur Harry.
“Ohiya? Nanti kenalin ke gue yaa? Gue mau lihat muka
cewe bernasib malang yang menjadi pacar lo itu” ledek Andrew.
“Ah sialan lo Ndrew” ujar Harry sambil meninju kecil
bahu Andrew “By the way about high school, lo punya kisah cinta gitu ga pas
zaman SMA?” tanya Harry.
Andrew terdiam sejenak saat mendengar pertanyaan
Harry. Pikirannya menerawang jauh pada lima tahun lalu saat ada seorang wanita
yang datang mengetuk pintu hatinya dan mengubah hidupnya. Andrew tersenyum
“Ada, tapi sayangnya ga berakhir indah”
“Kok gitu Ndrew? Lo ditolak ya?”
Andrew tertawa kecil “Engga kok. Sebenarnya kita
punya perasaan yang sama. Tapi gue yang dulu terlalu naif. Gue membabat habis
semua perasaan cinta yang tumbuh itu hanya karena sebuah perbedaan”
“Beda agama?” selidik Harry
Andrew menggelengkan kepalanya “Bukan. Perbedaan
status sosial. Bodoh kan gue?”
Mendengar itu Harry hanya bisa ternganga.
“Gue yang dulu emang benar-benar bodoh. Gue minder
karena gadis yang gue suka adalah anak orang kaya. Terlebih lagi dia juga
primadona sekolah. Orang-orang yang suka sama dia adalah orang-orang tajir
semua. Sedangkan gue? Gue ga ada apa-apanya. Gue ga bisa ngasih dia apa-apa.
Tapi dia selalu baik sama gue, dia ga peduli apa kata orang. Bahkan dia ga
peduli pada sikap dingin gue. Sampai akhirnya mungkin dia lelah. Dia mencapai
puncak akhir batas pertahanannya” ujar Andrew lirih.
“Terus sekarang cewek itu gimana kabarnya?” tanya
Harry
Andrew mengangkat kedua bahunya bersamaan “Entahlah.
Tapi gue selalu berharap semoga suatu hari nanti gue bisa bertemu lagi sama
dia. Meski hanya sekedar untuk mengungkapkan perasaan gue ke dia. Ah udahlah,
ga bakat gue mellow gini. Lo ga jemput cewe lo? Biasanya jam segini udah ngalor
ngidul lo”
Harry menepuk keningnya “Ohiya, gara-gara dengerin curhat
lo nih jadi lupa deh gue” Harry kemudian beranjak pergi namun tiba-tiba ia
duduk kembali.
“Kenapa lagiiiii?” tanya Andrew.
Harry tersenyum lebar “Ehehe, jadi gini lo kan sohib
gue banget nih yaa. Mau doong bantuin gue?” ujar Harry sambil menaik turunkan
kedua alisnya.
Andrew mengernyitkan dahinya “Bantu apa?” tanyanya. Harry
kemudian membisikkan sesuatu di telinga Andrew. Andrew mendengarkan dengan
seksama apa yang dikatakan oleh Harry sambil sesekali mengangguk-anggukan
kepalanya “Okelah gampang” ujar Andrew
“Thanks sob” ujar Harry sambil menepuk-nepuk bahu
Andrew “Okedeh gue balik dulu yaa” Harry kemudian berlalu meninggalkan ruang
kerjanya
…
Kezia masih sibuk memperhatikan layar laptopnya,
jari jemarinya dengan lihai menekan satu persatu button keyword laptopnya
sambil sesekali menyeruput es jeruk yang ada di sampingnya.
“Huaaa Kei, mulai sekarang ga ada yang nemenin gue
nongkrong di kantin lagi deh. Lulusnya nanti aja sih Kei” rengek Virsha.
Kezia tertawa kecil mendengar ucapan Virsha “Duuh lo
gimana sih Vir, masa temen mau sukses lo halang-halangin”
“Bukan gituuuuuu. Cuma yaa gue ngerasa bakal
kehilangan lo ajaa”
Kezia menghentikan aktivitas mengetiknya, kemudian
ia merangkul Virsha, sahabatnya yang selalu setia menemaninya sejak SMP ini
sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri “Lo ga akan pernah kehilangan gue
kok. Lo juga cepet kelarin tuh kuliah lo. Jangan main muluuu” ujar Kezia sambil
mencubit kecil pipi Virsha. Mereka berdua pun berpelukan.
“Duuhh
mau juga dong di peluk” Ledek Harry yang tiba-tiba berada di belakang mereka.
Kezia
dan Virsha melepaskan pelukan mereka “Gengges ajaa deehh” cibir Kezia.
Harry
mengambil tempat duduk di sebelah Kezia, kemudian ia mencubit lembut pipi Kezia
“Duuuh galak banget sih kesayangannya aku, jadi gemez deh” godanya.
Kezia
menepis tangan Harry dari pipinya “Apasih alay dasar” ujarnya ketus, sementara
itu Harry malah tertawa.
“Kalian
tuh yaa, pacaran udah hampir tiga tahun tapi kelakuannya masih begitu aja” ujar
Virsha.
“Justru
itu Vir yang ngebuat hubungan kita jadi awet. Apalagi mulut pedesnya Kezia.
Makin cinta deh gue kalo dimaki-maki sama dia mah hahaha” ujar Harry sambil
mengedipkan sebelah matanya seraya menggoda Kezia. Sedangkan Kezia hanya
meresponnya dengan mencibir.
“Ehiya Vir, minggu depan sekolah kita kan
ngadain reuni akbar. Lo dateng ga?” tanya Kezia.
“Dateng
kok. Lo juga dateng kan?”
Kezia
menganggukkan kepalanya, kemudian ia menatap Harry “Kamu jadi nemenin aku ke
acara reuni itu kan?” tanyanya.
Harry
mengusap-usap lembut puncak kepala Kezia kemudian mengecupnya “All my time is
yours honey” ujarnya lembut.
Kezia
tersenyum mendengarnya. Jauh di balik sikapnya yang terkadang terlihat cuek
pada Harry, di dalam hatinya ia selalu bersyukur karena memiliki Harry di
hidupnya. Harry yang selalu setia menemaninya, yang selalu sabar menghadapi
sikap labilnya, yang selalu mencintainya tanpa pamrih, yang terpenting adalah
Harry selalu bisa memaknai setiap hadirnya. Membuat Kezia merasa berarti.
Tapii………
“Kenapa
mandangin aku? Aku tambah ganteng ya?” ujar Harry sambil menaikkan kerah
kemejanya. Dan lagi-lagi Kezia hanya bisa mencibir.
…Tapi,
Harry tetaplah Harry dengan segala kenarsisannya, gumam Kezia dalam hati.
…
Sebuah
sedan hitam yang baru saja meluncur memasuki gerbang pintu SMA Dothes –yang
sudah ramai oleh hiruk pikuk orang-orang di sekitarnya itu– mampu menarik
perhatian dari orang-orang yang tengah berkumpul di lapangan. Seorang lelaki
berpostur tinggi tegap dan berparas tampan kemudian turun dari sedan tersebut
bersama seorang wanita berparas jelita, bertubuh layaknya seorang model dengan
senyum manis andalannya yang mampu menghipnotis seluruh orang yang melihatnya.
“Astaga,
Kezia dari dulu sampe sekarang masih cantik aja yaa. Mana pacarnya juga ganteng
banget lagi. Pasangan sempurna banget itu maah” ujar salah seorang yang hadir
disana.
Dorr!
Seketika terdengar bunyi tembakan yang cukup keras dan bersamaan dengan itu
lampu di SMA Dothes pun padam. Seluruh tamu undangan yang hadir sontak panik
dan berlarian kesana kemari tak tentu arah dalam kegelapan.
“Kei,
kamu temuin Virsha gih sana. Aku mau ngecek ada apa ini” ujar Harry sambil
beranjak pergi.
Namun
Kezia segera menahannya “Apa-apaan sih? Kamu mau kemana? Kamu kan bukan alumni
sini, kamu mana tau seluk-beluknya sekolah ini. Kalau kamu kenapa-kenapa
gimana?” Kezia memburu Harry dengan berbagai pertanyaan.
“Aku
ga akan kenapa-kenapa kok. Percaya sama aku” Harry kemudian mengecup dahi Kezia
lembut namun Kezia tetap menggenggam erat lengan Harry. “Kei, percaya sama aku”
bujuk Harry. Dengan terpaksa akhirnya Kezia melepaskan tangannya dan membiarkan
Harry pergi. Sementara itu dengan bantuan cahaya handphone Kezia kemudian berjalan
perlahan menuju ke depan aula untuk menemui Virsha.
Dari
kejauhan Virsha yang melihat Kezia berjalan mendekat ke arahnya segera
melambaikan tangannya memberi isyarat akan keberadaannya kepada Kezia yang
langsung ditangkap oleh Kezia dengan mempercepat langkahnya menuju tempat
Virsha berdiri.
“Ini
ada apa sih Vir? Masa iyaa ada teroris?” tanya Kezia dengan nafas
terengah-engah.
“Aduuh
gue juga ga ngerti Kei. Udahlah kita cari aman aja diem disini jangan
kemana-mana” ujar Virsha “Lah kak Harry mana Kei? Lo kesini sendiri?” tanya
Virsha saat menyadari ketidakberadaan Harry.
“Harry
ada kok. Tadi dia pergi buat nyari tau apa yang terjadi. Duuh Vir, tapi gue ga
tenang nih. Gue takut Harry kenapa-kenapa” desis Kezia sambil meremas-remas
tangannya dengan gelisah.
Dorr!
Dorr! Dorr! Terdengar bunyi tembakan itu lagi bersama dengan jeritan keras dari
salah seorang wanita. Kemudian orang-orang berbondong-bondong berlari menuju
arah suara itu.
“Ada
apa sih?” tanya Virsha pada seorang lelaki yang sedang lewat.
“Gak
tau tuh, ada kerusuhan gitu dari belakang sekolah, terus katanya ada yang cowok
yang ketembak” ujar lelaki itu kemudian ia berlalu pergi.
Kezia
seketika lemas mendengarnya “Ya Tuhan Ry, cepet balik kesini doong”
Tak
beberapa lama kemudian akhirnya lampu kembali menyala. Dari sudut lapangan
terdengar orang yang berteriak “Woy! Ada yang kenal orang ini ga? Dia kena
tembak nih”
Kezia
segera menarik lengan Virsha “Vir kita liat kesana yuk” ujarnya. Virsha pun
mengangguk menyetujui ajakan Kezia.
Namun,
sesampainya di sana mereka tak dapat melihat dengan jelas sang korban tembakan
karena orang tersebut dikerubungi banyak orang.
“Ya
ampun ini siapa sih? Bukan anak sini deh kayaknya. Mukanya asing” ujar salah
seorang di antara kerumunan itu.
Deg!
Seketika jantung Kezia seperti mendapat hantaman keras saat mendengar itu.
Tangannya gemetar, pikirannya berkecamuk, dalam hatinya ia memanjatkan do’a
agar orang yang dimaksud tersebut bukanlah orang yang dicintainya.
“Loh,
dia bukannya yang tadi dateng kesini sama Kezia yaa? Coba cari Kezia deh” ujar
salah seorang wanita.
Kezia
seketika ambruk mendengarnya. Lututnya lemas sampai tak mampu lagi menopang
tubuhnya. Satu per satu orang yang berada di sekeliling korban tembakan itu
mundur secara perlahan. Kini Kezia dapat melihatnya dengan jelas. Sosok yang
terbaring lemas dengan baju penuh darah itu adalah orang yang namanya selalu ia
panjatkan dalam setiap do’anya. Dia adalah Harry. Kekasihnya.
Perlahan
Kezia merangkak mendekat menuju tempat Harry berbaring. Dengan gemetar ia
menggenggam tangan Harry yang mulai mendingin. Diusapkannya punggung tangan
Harry dengan harapan agar tangan Harry yang selalu memberinya kehangatan itu
dapat kembali menghangat.
“Ry….bangun…ini
ga lucu…aku mohon….jangan pergi” ujar Kezia sambil menangis tersedu-sedu. Ia
kemudian mengguncangkan bahu Harry berharap Harry bangun dan kemudian
memeluknya, namun usahanya sia-sia. Harry tak memberikan respon sedikitpun.
Kezia
benar-benar ambruk. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimilikinya ia memeluk
Harry dengan segenap jiwanya. Ingin rasanya ia menjerit, memaki keadaan yang
telah membuatnya berada di situasi ini. Namun ia tak mampu, ia hanya bisa
mengeluarkan emosinya lewat bulir-bulir air mata.
Namun
tiba-tiba Kezia menyadari ada pergerakan kecil dari tangan Harry yang berada
dalam genggamannya. “Ry….?” panggil Kezia. Perlahan Harry membuka matanya dan
tersenyum kecil pada Kezia “Kamu kenapa nangis?” ujarnya sambil menghapus air
mata di pipi Kezia.
Kezia
menghela nafas panjang, bersyukur Harry masih bisa membuka matanya “Kamu fikir
siapa lagi yang bisa bikin aku nangis selain kamu?” ujarnya.
Namun
tiba-tiba Harry menggeram kesakitan, sontak Kezia kembali panik “Kamu kenapa
Ry? Siapa saja tolong telepon ambulance” ujar Kezia panik.
Harry
menggenggam erat tangan Kezia “Gaperlu Kei, aku cuma mau tau satu hal. Apa kamu
benar-benar mencintaiku? Aku ragu karena kamu gak pernah sekalipun mengatakan
kamu mencintaiku. Aku ga mau kalau hubungan kita selama ini hanya sekedar
status palsu”
Air
mata Kezia mengalir lagi “Bodoh!” makinya “Apa cinta harus selalu diucapkan
dengan lisan? Apa kata sayang harus selalu terdengar oleh semua orang? Aku
mencintaimu seperti sebuah hembusan angin. Memang tak terlihat, tapi kamu pasti
bisa merasakannya kan?” Kezia mengelus lembut pipi Harry “Ry… Aku ga mungkin
bertahan selama ini kalau aku ga cinta sama kamu” ujarnya.
Harry
tersenyum puas mendengar jawaban Kezia. Ia kemudian menjetikkan jarinya,
bersamaan dengan itu Virsha datang mendekat ke arah mereka sambil membawakan
sebuah kue dan menyanyikan lagu ‘Happy birthday to you’ bersama-sama dengan
semua orang yang ada disana.
Kezia
tertegun melihatnya, ia kemudian memalingkan pandangannya kembali pada Harry.
Harry tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya “Mana mau aku ninggalin kamu
secepat ini. Aku masih mau terus sama-sama kamu di setiap ulang tahun kamu lah,
enak ajaa ntar kamu selingkuh sama yang lain” godanya.
Sedetik
kemudian Kezia akhirnya tersadar bahwa Harry dan Virsha bahkan semua orang
disana sedang mengerjainya. Kezia segera menghapus air matanya dan kemudian
bangkit “Mati aja deh lo!” makinya pada Harry. Namun Harry malah tertawa puas
mendengarnya.
Harry
kemudian bangkit dan melepas jasnya yang berlumuran darah palsu itu. Lalu ia
menarik Kezia dalam dekapannya “Lepasin ga? Ngeselin tau ga lo? Benci gue
benciiiii banget sama lo” omel Kezia sambil memukuli dada bidang Harry.
“Udah
marah-marahnya?” tanya Harry yang semakin membuat Kezia emosi. Kezia hendak
mengeluarkan makian lagi namun Harry dengan cepat langsung membungkamnya dengan
sebuah kecupan lembut yang mendarat tepat di bibir Kezia. Emosi Kezia semuanya
seketika meluluh berganti dengan perasaan hangat dan tenang. “Aku bahagia
akhirnya aku tau kalau kamu mencintaiku” bisik Harry.
“Ehem-ehem,
maaf tolong jangan lupa disini ada banyak manusia, bukan cuma kalian berdua
doang dan tangan gue juga udah mulai pegel nih” tegur Virsha sambil melirik kue
yang dibawanya.
Pipi
Kezia seketika merona, menyadari bahwa mereka ditonton banyak orang disini.
Sementara itu Harry masih dengan santai merangkul Kezia “Terima kasih buat
semuanya yang udah berpartisipasi mendukung rencana saya untuk memberikan
surprise pada kekasih saya ini” ujar Harry sambil menatap Kezia dan Kezia pun
balik menatapnya sambil tersenyum “Dan terima kasih sebesar-besarnya pada sahabat
saya yang sudah memberikan ide hebat ini dan juga membantu mewujudkannya.
Terima kasih kepada Andrew. Come here Ndrew, join with us”
Senyum
Kezia seketika menghilang saat mendengar nama itu disebut. Terlebih saat orang
itu kini benar-benar berdiri di hadapannya. Wajahnya masih sama seperti lima
tahun lalu, hanya postur tubuhnya saja yang bertambah tinggi.
“Kei,
kenalin ini Andrew. Rekan kerjaku sekaligus sahabatku. Aku kaget loh waktu tau
dia ternyata alumni sekolah kamu juga, kakak kelas kamu lebih tepatnya” ujar
Harry.
Tanpa
semua orang sadari, ada perang besar yang kini sedang terjadi dalam hati Kezia.
Pintu masa lalu yang telah tertutup rapat kini tiba-tiba terbuka dan seluruh
kenangan yang telah lama terkunci itu pun kini menyerangnya.
Andrew
mengulurkan tangannya “Selamat ulang tahun Kezia” ujarnya.
Kezia
masih tetap mematung sampai saat Harry menyenggol lengannya dan memberi isyarat
untuk menyambut uluran tangan Andrew. Kezia pun akhirnya menyambut uluran
tangan itu “Makasih” ujarnya singkat kemudian dengan cepat menarik kembali
tangannya.
Virsha,
satu-satunya orang yang mengetahui serangkaian cerita masa lalu Kezia pun
segera mengambil tindakan untuk mengalihkan situasi ini saat dilihatnya Kezia
sudah benar-benar salah tingkah. Virsha kemudian menyalip Andrew dan kini ia
berdiri tepat di hadapan Kezia “Okee kalau gitu Kezia tiup lilin dulu yaa.
Jangan lupa berdo’a. semoga selalu diberi kesehatan dan kekuatan. Terus juga
semoga LANGGENG terus sama kak Harry sampai cuma maut yang bisa memisahkan”
Virsha sengaja menekankan kata-kata ‘langgeng’. Berharap Kezia mengerti dan
sadar bahwa kini di sampingnya sudah ada orang yang akan membawanya menghadapi
masa depan dan berharap agar Kezia tidak kembali larut dalam masa lalunya.
Kezia
paham betul kode yang diberikan Virsha. Ia memejamkan matanya, memanjatkan
syukur atas apa yang telah diterimanya selama ini dan tak lupa juga berdo’a
kepada Yang Maha Esa agar selalu menetapkan hatinya hanya kepada Harry.
Kemudian ia membuka kembali matanya dan meniup lilin itu satu persatu hingga
semuanya padam.
“Happy
birthday to you. I will always be yours, and you will always be mine” ujar
Harry sambil mengecup punggung tangan Kezia.
…
“Ndrew
makasih banyak loh yaa udah ngebantuin acara surprise buat pacar gue” ujar
Harry.
“Iyaa,
sama-sama” jawab Andrew.
“Terus
gimana dengan gadis lo itu? Lo udah ketemu dia terus ungkapin perasaan lo?”
tanya Harry.
Tenggorokan
Andrew seketika tercekat mendengar pertanyaan Harry. Ia bahkan sampai
memuntahkan kembali minuman yang sedang diteguknya. Bagaimana mungkin ia tega
memberitahu Harry bahwa gadis yang dicintainya adalah kekasih sahabatnya
sendiri. Bagaimana ia bisa memberitahu Harry bahwa mereka mencintai orang yang
sama. Andrew menarik nafasnya dalam-dalam “Ketemu sih udah, tapi gue rasa gue
ga perlu ngungkapin perasaan gue. Toh dia juga udah bahagia sekarang” ujar
Andrew lirih.
Harry
mengernyitkan dahinya “Maksud lo gimana?”
“Udah
ada orang lain yang jauh lebih mencintai dia daripada gue. Yang jauh lebih bisa
membahagiakan dia dibanding gue” Andrew kemudian meletakkan gelas minumnya di
atas meja “Gue cari udara seger dulu yaa” ujarnya sambil mengeluarkan sebungkus
rokok dari saku celananya
“Eh
bentar Ndrew” sergah Harry saat melihat ada sebuah kotak yang terjatuh dengan
keadaan terbuka dari saku celana Andrew saat ia mengambil rokok. Harry kemudian
mengambilnya dan memungut kalung yang juga terjatuh dari dalam kotak itu “Kean”
gumamnya saat membaca tulisan yang tertera dalam badul kalung itu
Dengan
cepat Andrew segera mengambil kalung dan kotak itu dari tangan Harry, kemudian
ia berlalu pergi tanpa sepatah kata pun
“Kean”
Harry mengulang kembali kata yang tertulis di bandul kalung itu. Detik itu juga
ia menyadari ada sesuatu yang tidak diketahuinya, ada sesuatu yang
disembunyikan darinya.
…
“Kamu
udahan ngobrolnya?” tanya Kezia saat Harry menghampirinya.
“Emm…
Kei gue ke tempat teman-teman yang lain dulu yaa” pamit Virsha meninggalkan
Harry dan Kezia berdua.
Harry
menganggukan kepalanya, kemudian menatap Kezia lekat-lekat “Apa ada suatu
hubungan antara kamu sama Andrew?”
Kezia
menahan nafasnya saat kalimat itu terlontar dari mulut Harry, ia kemudian
mengalihkan pandangannya pada sebuah kursi kosong di sudut aula “Mungkin lebih
baik kita ngobrolnya sambil duduk aja kali ya?” ia kemudian berjalan ke arah
kursi itu diikuti Harry dibelakangnya.
“Okey,
sekarang coba kamu jelasin dulu sama aku” ujar Kezia saat mereka sudah duduk di
bangku itu.
“Bukan aku yang harus ngejelasin, tapi kamu
Kei” ujar Harry “Surprise buat kamu tadi itu Andrew yang rencanain. Awalnya
surprise itu udah dia rencanain buat wanita yang udah lama dia sayang. Tapi
mirisnya wanita itu udah punya kekasih. Jadi rencana surprise itu dia kasih ke
aku untuk ngerayain ulang tahun kamu” tutur Harry. Kemudian ia menatap mata Kezia
“Terus tadi ga sengaja Andrew ngejatuhin sebuah kotak dari saku celananya dan
pas aku ambil ternyata kotak itu berisi sebuah kalung berbandul hati dan ada
kata ‘Kean’ terukir di situ. Kata yang sama juga tertulis di sebuah kotak yang
ada di atas meja belajar kamu. Apa itu adalah sesuatu special bagi kalian? Apa
sebenarnya hubungan kalian berdua?”
Sesaat
jantung Kezia berhenti berdetak. ‘Kean’ sebuah kata yang dalam sekejap mampu membawanya
pada kenangan manis masa lalu, tempat dimana hatinya tertinggal. ‘Kean’ sebuah
singkatan dari nama (Ke)zia dan (An)drew.
“Kei,
apa hubungan kamu sama Andrew bener-bener cuma sebatas kakak kelas dan adik
kelas?” tanya Harry lagi. ‘ayoo Kei bilang kalo kamu sama Andrew emang cuma
sebatas itu’ gumam Harry dalam hati.
Kezia
menatap mata Harry, terlihat jelas dalam sorot matanya bahwa Harry sebenarnya
sudah tahu ada hubungan special antara Kezia dan Andrew. Namun Harry tetap
menginginkan Kezia menyangkalnya sekalipun penyangkalan itu adalah kebohongan.
Kezia menarik nafasnya dalam-dalam “Dari segi status, aku sama Andrew memang
cuma sebatas itu kok” ujar Kezia.
“Hanya
dari segi status?” tanya Harry.
“Memangnya
kamu mau tahu dari segi apa lagi?” Kezia justru malah balik bertanya pertanyaan
yang sukses membuat Harry bungkam seribu bahasa. “Kamu percaya kan sama aku?”
tanya Kezia. Harry terdiam sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. “Kalau
gitu, boleh aku ngobrol sama Andrew sebentar?” tanya Kezia hati-hati. Harry
menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya bersamaan dengan sebuah
anggukan.
…
Mata
Kezia menyusuri satu per satu orang yang hadir di acara reuni akbar itu, sampai
akhirnya matanya dapat menangkap sosok yang sedang dicarinya. Dengan perlahan
Kezia menghampirinya dan berdiri di hadapannya “Boleh bicara sebentar?” tanya
Kezia. Yang kemudian dijawab dengan sebuah anggukan, kemudian mereka berjalan
beriringan menuju suatu tempat yang mana tempat tersebut menjadi saksi bisu
perpisahan mereka 5 tahun lalu.
“Apa
kabar Kei?” tanya Andrew memulai pembicaraan.
Kezia
tersenyum tipis “Baik. Lebih baik dari lima tahun lalu” ujar Kezia.
Dada
Andrew seketika terasa tertusuk saat mendengar ucapan Kezia. Namun ia tak ingin
Kezia melihat kepedihan hatinya “Selamat yaa, aku ga nyangka kamu ternyata
pacar sahabatku” ujar Andrew
“Apa
kamu bahagia?” tanya Kezia
Andrew
terdiam. Hening kini menyelimuti mereka, sama seperti lima tahun lalu, Andrew
masih saja tak mampu menjawab pertanyaan Kezia
Kezia
menarik nafasnya dalam-dalam, menahan agar air matanya tak keluar. “Lima tahun
berlalu tapi kamu masih tetap tak berubah? Pertanyaanku sangat sederhana tapi
kamu masih saja tak bisa menjawabnya. Sesekali coba biarkan hatimu bersuara”
ujar Kezia sambil berlalu pergi meninggalkan Andrew yang masih saja mematung
Menyadari
kepergian Kezia, Andrew segera menahannya. Ia tak ingin semuanya berlalu begitu
saja tanpa kejelasan seperti lima tahun lalu. Andrew meraih kedua tangan Kezia
dan menggenggamnya, kemudian ia berlutut di hadapan Kezia. “Aku sayang kamu
Kei. Dulu, sekarang dan sampai kapanpun juga” ujarnya
Air
mata Kezia seketika berlinang saat mendengarnya. Seandainya saja jalan yang ia
tinggalkan lima tahun lalu masih sama, mungkin ia dapat kembali ke jalan itu.
Tapi kenyataannya berbeda, semuanya mengalami perubahan. Ia tak bisa kembali ke
sana, yang ia bisa lakukan hanyalah melangkah maju ke depan.
Kezia
menghapus air matanya, kemudian ia membantu Andrew untuk berdiri. “Jangan
merendahkan dirimu seperti ini. Kamu juga pantas bahagia” Kezia mengulang
kata-kata yang Andrew katakan kepadanya lima tahun lalu “Seperti aku yang kini
sudah menemukan kebahagiaanku, kamu juga akan menemukan kebahagiaanmu. Tuhan
menghadirkan cinta diantara kita bukan karena kebetulan semata, semua pasti ada
alasannya. Satu hal yang perlu kamu ingat, ketika suatu hari nanti kamu jatuh
cinta lagi maka katakanlah cintamu itu, tunjukkan jangan kau pendam. Kami
sebagai kaum wanita hanya bisa menanti kepastian. Tugasmulah sebagai pria yang
memberikan penjelasan” Kezia mengusap lembut bahu Andrew “Sampai bertemu lagi
di lain hari saat kita sudah sama-sama menggenggam kebahagiaan kita”
Keputusan
Kezia sudah final, ia tak ingin menyakiti siapapun disini. Setidaknya ia sudah
cukup senang mengetahui perasaan Andrew yang sebenarnya. Ia pun kemudian pergi
berlalu meninggalkan masa lalunya dan menyongsong masa depannya.
Andrew
akhirnya kini bisa menyaksikan kepergian Kezia dengan sebuah senyuman, hatinya
kini lega karena perasaan yang selama ini dipendamnya sudah bisa ia ungkapkan.
Seperti halnya Kezia yang sudah menemukan kebahagiaannya, ia pun pasti juga
akan menemukan kebahagiaannya. Ia mengambil sebuah kotak –yang berisi kalung untuk
Kezia– dari sakunya dan melemparkannya jauh-jauh “Goodbye my past. And welcome
my future”
…
Thanks
for reading^^
Follow
me on twitter and ask.fm @atyampela