Minggu, 28 Desember 2014

Time Zone (cerpen)

 



“Kei, baper banget sih lo ah” omel Virsha saat melihat Kezia menangis ketika menonton dvd drama cinta di rumahnya.
“Bukan baper Vir, tapi ini tuh emang so sweet parah. Mana ada sih cowo zaman sekarang yang cintanya setulus itu? Yang selalu punya cara ngebuat cewenya jatuh cinta berkali-kali sama dia, yang kadar cintanya selalu 100% dari awal sampai akhir” ujar Kezia sambil menghapus air matanya.
“Ah alibi aja lo, lo mah nonton doraemon juga nangis” cibir Virsha “Btw, lo tau kak Marcel kan Kei?” tanya Virsha.
“Emm…” gumam Kezia sambil menyeruput es jeruknya “Yang anak basket itu ya?” tanyanya yang kemudian dijawab dengan anggukkan dari Virsha. “Oh yang itu mah tau lah gue orang dia tenar banget kan di sekolah. Emangnya kenapa Vir?” tanya Kezia.
“Waktu itu dia minta nomor hape lo terus….”
“Jangan dikasih!” potong Kezia.
“Yeee makanya denger dulu. Woles aja ga gue kasih kok. Gue suruh aja dia minta sendiri ke elo heheheh”
“Ahh kamfreto dah lo Vir”
“Emang kenapa sih? Kan lumayan kalo lo jadian sama Kak Marcel, gapapa biar lo nya ga cinta juga hahaha. Yang penting gue bisa ikutan tenar sebagai sahabatnya pacar orang paling tenar di sekolah beuhh ajib ga tuh?”
Kezia mendengus kesal “Enakkan di elo nyong. Mana enak sih terikat hubungan sama orang yang ga kita cinta?”
“Tapi kalo sama orang yang dicinta mah biar dikata status hubungannya ga jelas juga tetep aja dijalanin ya?” sindir Virsha sementara itu Kezia hanya tersipu malu.
“Ya kalo itu beda cerita lah Vir”
“Ampe kapan lo mau digantungin gitu sama Kak Andrew? Jemuran aja kalo digantung lama-lama bisa ilang, gimana perasaan?”
“Gue ga ngerasa gue digantungin kok. Dari awal deket juga Kak Andrew emang ga nunjukin tanda-tanda mau pacaran sama gue, dia kayak cuma nganggap gue sebagai adik. Gue nya aja yang terlanjur jatuh cinta sama dia”
“Gue heran deh sama lo. Bisa-bisanya gitu ya mata lo cuma ngeliat si kulkas itu? Lo tuh emang tahan dingin apa gimana gangerti deh gue” ujar Virsha sambil menggelengkan kepala.
“Gue sendiri juga ga ngerti. Entahlah seperti apa arti kehadiran gue di mata dia, tapi yang pasti kehadirannya selalu punya makna di hati gue” Kezia menghela nafasnya “Tapi kadang gue ngerasa kak Andrew emang sengaja menutup jalan menuju hatinya, mengunci rapat pintu hatinya. Dia selalu bilang kalo gue dan dia itu berbeda. Gue gangerti Vir, bukankah Tuhan menciptakan perbedaan untuk saling melengkapi?”
Hari ini SMA Dothes mengadakan graduation party untuk para murid kelas XII yang telah dinyatakan lulus Ujian Nasional 100%. Para siswa/i kelas X dan XI pun ikut serta memeriahkan acara ini.
“Hallo Kezia” sapa Marcel pada Kezia “Hallo juga Virsha” sapanya juga pada Virsha.
“Hai kak” jawab Kezia dan Virsha berbarengan.
“Congrats for your graduation ya kak” ujar Virsha.
“Thanks yaa” jawab Marcel, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Kezia “Emm… Kezia, ini buat kamu. Selamat ulang tahun yaa. Maaf telat ngasihnya, harusnya aku kasih ini kemarin” ujarnya sambil menyerahkan sekotak coklat dan sebuket bunga pada Kezia.
Kezia terkejut melihatnya “Duh ga usah repot-repot kali kak” ujar Kezia.
“Sama sekali ga repot kok kalo buat kamu. Diterima ya Kei”
Kezia sebenarnya enggan untuk menerimanya tapi ia merasa tak enak kalau harus menolak niat baik seseorang apalagi Marcel memberikannya di hadapan banyak orang. Akhirnya ia pun menerima pemberian Marcel “Makasih ya kak”
Sementara itu dari seberang sana, sedari tadi Andrew memperhatikan Kezia dan Marcel. Ia hanya mematung menyaksikan kejadian itu.
“Hei Ndrew ngeliatin apa sih?” sapa Ghea membuyarkan lamunannya.
“Eh Ghe, engga kok ga ngeliatin apa-apa” kilah Andrew.
“Hooh gitu. By the way setelah ini lo mau lanjut kemana Ndrew?”
“Gue mau nyoba join kerja sama sepupu gue mungkin. Karena kalo untuk langsung kuliah gue belum punya cukup biaya” tutur Andrew.
“Kalo lo mau sih gue bisa-bisa aja rekomend lo buat masuk di universitas yang sama kayak gue. Tenang aja lo gaperlu mikirin biayanya” ujar Ghea.
“Gaperlu Ghe, makasih buat niat baik lo itu. Tapi gue mau kerja keras sendiri. Gue mau menghasilkan uang atas keringat gue sendiri supaya gue bisa banggain ortu gue dan juga bisa bahagiain orang yang gue sayang suatu hari nanti”
“Seandainya aja orang itu masih gue ya Ndrew” ujar Ghea lirih.
Andrew tertawa kecil “Udahlah Ghe gaperlu bahas masa lalu. Gue tetep sayang lo kok, sebagai teman” ujarnya sambil mengusap puncak kepala Ghea lembut.
Kali ini ganti Kezia yang memandangi Andrew yang tengah mengobrol bersama Ghea dari kejauhan. “Kei, itu kak Ghea mantannya kak Andrew kan ya?” tanya Virsha.
Kezia mengangguk perlahan. Ia kemudian mengambil ponselnya dan mengirim satu pesan singkat pada Andrew. “Vir, gue pergi bentar yaa” pamitnya. Kemudian ia pergi meninggalkan Virsha.
Di seberang sana, ponsel Andrew berdering pertanda pesan masuk. Ia pun membaca isi pesan itu.
‘Aku tunggu di kantin belakang gedung C sekarang - Kezia’
Setelah membaca itu, Andrew langsung pamit pada Ghea dan menuju tempat Kezia menunggunya.
“Ada perlu apa Kei?” tanya Andrew pada Kezia yang sedang duduk di salah satu meja kantin.
Kezia menyerahkan sebuah bingkisan pada Andrew “Buat kamu” ujarnya datar.
“Apa ini?” tanyanya. Kemudian Andrew membuka bingkisan itu, ternyata Kezia memberikannya jas berwarna hitam beserta kemeja putih dan celana panjang hitam. “Ini untuk apa Kei?” tanya Andrew heran.
“Ya untuk dipake lah. Besok ada acara pengalungan medali gitu kan?” ujar Kezia.
Andrew menggeleng-gelengkan kepalanya “Gak Kei, kamu ga perlu ngasih aku ini” ia kemudian mengembalikan bingkisan itu pada Kezia.
“Emang kenapa sih kalo aku ngasih kamu ini? Kenapa sih kamu ga pernah mau nerima pemberian aku?” ujar Kezia parau.
“Karena aku ga akan bisa membalas pemberian kamu itu Kei. Sadarlah Kei, kita ini berbeda. Kamu lebih cocok sama Marcel, kamu pasti akan …”
“Stop!” potong Kezia. Ia menggigit bibir bawahnya yang gemetar “Kapan sih aku pernah minta balasan?” tanya Kezia “Bahkan mencintaimu pun ku lakukan dengan tulus tanpa menuntut balasan” ujarnya sambil meneteskan air mata. Kezia memejamkan matanya, menahan perih yang menggores hatinya “Bisa ga sih sekali ajaa kamu coba lihat ke belakang. Lihat aku yang selalu mengikuti setiap langkahmu. Bisa ga sih sekali aja kamu lupain tentang ‘perbedaan’ yang selalu kamu permasalahin itu? Aku ga ngerti ‘perbedaan’ apa yang kamu maksud. Yang aku tau cuma aku sayang kamu” tutur Kezia. “Tapi kayaknya kamu gapernah sadar ya kalo aku tulus sayang sama kamu, atau mungkin kamu emang sengaja pura-pura ga sadar?”
Andrew mengusap lembut pipi Kezia yang telah basah oleh air mata ”Jangan merendahkan dirimu seperti ini Kei. Kamu pantas untuk bahagia”
Kezia menepis tangan Andrew, kemudian ia menatap Andre dengan tajam “Apa aku sama sekali tak berarti buat kamu?” tanyanya lirih.
Deg! Lidah Andrew seketika menjadi kelu, bibirnya terkunci rapat. Sementara itu Kezia terus menunggu. Berharap akan ada sepatah dua patah kata yang akan keluar dari mulut Andrew. Semenit, dua menit berlalu bersama keheningan yang menyelimuti mereka.
“Oke cukup!” ujar Kezia mengakhiri keheningan di antara mereka. Ia menghapus air matanya yang baru saja meluncur lagi dari matanya “Semuanya cukup sampai disini. Mungkin kamu benar. Kita memang berbeda. Perasaan kita yang berbeda. Aku selalu cinta tapi kamu tidak” ujarnya. Kemudian ia pun pergi meninggalkan Andrew tanpa menoleh sedikitpun kepadanya.
Andrew memandangi punggung Kezia yang kian menjauh dari pandangannya “Kamu berarti Kei. Saking berartinya kehadiran kamu dalam hidupku, aku sampai tak sanggup mengatakannya” ujar Andrew dalam hatinya. Namun ia hanya bisa memandangi kepergian Kezia tanpa mampu menahannya.

5 tahun kemudian…
Andrew memperhatikan dengan teliti setiap lembar-demi lembar berkas dokumen yang menumpuk di atas mejanya. Sesekali tangannya memijit tengkuk lehernya yang mulai menegang.
“Bro, dilanjut besok aja lah. Muka lo udah kaga enak diliat gitu juga” tegur salah seorang rekan kerjanya.
“Tanggung Har, tinggal ngecek ini aja kok” ujar Andrew tanpa menoleh sedikitpun ke arah Harry –rekan kerjanya–. “Yak finish!” Andrew meletakkan kembali dokumen yang sedang dibacanya tadi di atas meja.
Harry kemudian menghampiri Andrew dan duduk di bangku yang tersedia di depan meja kerja Andrew “Kerja mulu lo, pantesan jomblo” ledek Harry.
“Iyadah yang punya pacar mah emang bedaa” cibir Harry sambil merapikan berkas-berkas dokumen yang berserakan di mejanya.
“Apaan nih Ndrew?” tanya Harry saat melihat sebuah brosur yang terselip di antara tumpukan berkas.
“Ohh itu brosur undangan reuni SMA gue” jawab Andrew.
“Lo alumni SMA Dothes juga? Sama dong kayak cewe gue. Tapi dia angkatan di bawah lo sih kayaknya” tutur Harry.
“Ohiya? Nanti kenalin ke gue yaa? Gue mau lihat muka cewe bernasib malang yang menjadi pacar lo itu” ledek Andrew.
“Ah sialan lo Ndrew” ujar Harry sambil meninju kecil bahu Andrew “By the way about high school, lo punya kisah cinta gitu ga pas zaman SMA?” tanya Harry.
Andrew terdiam sejenak saat mendengar pertanyaan Harry. Pikirannya menerawang jauh pada lima tahun lalu saat ada seorang wanita yang datang mengetuk pintu hatinya dan mengubah hidupnya. Andrew tersenyum “Ada, tapi sayangnya ga berakhir indah”
“Kok gitu Ndrew? Lo ditolak ya?”
Andrew tertawa kecil “Engga kok. Sebenarnya kita punya perasaan yang sama. Tapi gue yang dulu terlalu naif. Gue membabat habis semua perasaan cinta yang tumbuh itu hanya karena sebuah perbedaan”
“Beda agama?” selidik Harry
Andrew menggelengkan kepalanya “Bukan. Perbedaan status sosial. Bodoh kan gue?”
Mendengar itu Harry hanya bisa ternganga.
“Gue yang dulu emang benar-benar bodoh. Gue minder karena gadis yang gue suka adalah anak orang kaya. Terlebih lagi dia juga primadona sekolah. Orang-orang yang suka sama dia adalah orang-orang tajir semua. Sedangkan gue? Gue ga ada apa-apanya. Gue ga bisa ngasih dia apa-apa. Tapi dia selalu baik sama gue, dia ga peduli apa kata orang. Bahkan dia ga peduli pada sikap dingin gue. Sampai akhirnya mungkin dia lelah. Dia mencapai puncak akhir batas pertahanannya” ujar Andrew lirih.
“Terus sekarang cewek itu gimana kabarnya?” tanya Harry
Andrew mengangkat kedua bahunya bersamaan “Entahlah. Tapi gue selalu berharap semoga suatu hari nanti gue bisa bertemu lagi sama dia. Meski hanya sekedar untuk mengungkapkan perasaan gue ke dia. Ah udahlah, ga bakat gue mellow gini. Lo ga jemput cewe lo? Biasanya jam segini udah ngalor ngidul lo”
Harry menepuk keningnya “Ohiya, gara-gara dengerin curhat lo nih jadi lupa deh gue” Harry kemudian beranjak pergi namun tiba-tiba ia duduk kembali.
“Kenapa lagiiiii?” tanya Andrew.
Harry tersenyum lebar “Ehehe, jadi gini lo kan sohib gue banget nih yaa. Mau doong bantuin gue?” ujar Harry sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Andrew mengernyitkan dahinya “Bantu apa?” tanyanya. Harry kemudian membisikkan sesuatu di telinga Andrew. Andrew mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Harry sambil sesekali mengangguk-anggukan kepalanya “Okelah gampang” ujar Andrew
“Thanks sob” ujar Harry sambil menepuk-nepuk bahu Andrew “Okedeh gue balik dulu yaa” Harry kemudian berlalu meninggalkan ruang kerjanya
Kezia masih sibuk memperhatikan layar laptopnya, jari jemarinya dengan lihai menekan satu persatu button keyword laptopnya sambil sesekali menyeruput es jeruk yang ada di sampingnya.
“Huaaa Kei, mulai sekarang ga ada yang nemenin gue nongkrong di kantin lagi deh. Lulusnya nanti aja sih Kei” rengek Virsha.
Kezia tertawa kecil mendengar ucapan Virsha “Duuh lo gimana sih Vir, masa temen mau sukses lo halang-halangin”
“Bukan gituuuuuu. Cuma yaa gue ngerasa bakal kehilangan lo ajaa”
Kezia menghentikan aktivitas mengetiknya, kemudian ia merangkul Virsha, sahabatnya yang selalu setia menemaninya sejak SMP ini sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri “Lo ga akan pernah kehilangan gue kok. Lo juga cepet kelarin tuh kuliah lo. Jangan main muluuu” ujar Kezia sambil mencubit kecil pipi Virsha. Mereka berdua pun berpelukan.
“Duuhh mau juga dong di peluk” Ledek Harry yang tiba-tiba berada di belakang mereka.
Kezia dan Virsha melepaskan pelukan mereka “Gengges ajaa deehh” cibir Kezia.
Harry mengambil tempat duduk di sebelah Kezia, kemudian ia mencubit lembut pipi Kezia “Duuuh galak banget sih kesayangannya aku, jadi gemez deh” godanya.
Kezia menepis tangan Harry dari pipinya “Apasih alay dasar” ujarnya ketus, sementara itu Harry malah tertawa.
“Kalian tuh yaa, pacaran udah hampir tiga tahun tapi kelakuannya masih begitu aja” ujar Virsha.
“Justru itu Vir yang ngebuat hubungan kita jadi awet. Apalagi mulut pedesnya Kezia. Makin cinta deh gue kalo dimaki-maki sama dia mah hahaha” ujar Harry sambil mengedipkan sebelah matanya seraya menggoda Kezia. Sedangkan Kezia hanya meresponnya dengan mencibir.
 “Ehiya Vir, minggu depan sekolah kita kan ngadain reuni akbar. Lo dateng ga?” tanya Kezia.
“Dateng kok. Lo juga dateng kan?”
Kezia menganggukkan kepalanya, kemudian ia menatap Harry “Kamu jadi nemenin aku ke acara reuni itu kan?” tanyanya.
Harry mengusap-usap lembut puncak kepala Kezia kemudian mengecupnya “All my time is yours honey” ujarnya lembut.
Kezia tersenyum mendengarnya. Jauh di balik sikapnya yang terkadang terlihat cuek pada Harry, di dalam hatinya ia selalu bersyukur karena memiliki Harry di hidupnya. Harry yang selalu setia menemaninya, yang selalu sabar menghadapi sikap labilnya, yang selalu mencintainya tanpa pamrih, yang terpenting adalah Harry selalu bisa memaknai setiap hadirnya. Membuat Kezia merasa berarti. Tapii………
“Kenapa mandangin aku? Aku tambah ganteng ya?” ujar Harry sambil menaikkan kerah kemejanya. Dan lagi-lagi Kezia hanya bisa mencibir.
…Tapi, Harry tetaplah Harry dengan segala kenarsisannya, gumam Kezia dalam hati.
Sebuah sedan hitam yang baru saja meluncur memasuki gerbang pintu SMA Dothes –yang sudah ramai oleh hiruk pikuk orang-orang di sekitarnya itu– mampu menarik perhatian dari orang-orang yang tengah berkumpul di lapangan. Seorang lelaki berpostur tinggi tegap dan berparas tampan kemudian turun dari sedan tersebut bersama seorang wanita berparas jelita, bertubuh layaknya seorang model dengan senyum manis andalannya yang mampu menghipnotis seluruh orang yang melihatnya.
“Astaga, Kezia dari dulu sampe sekarang masih cantik aja yaa. Mana pacarnya juga ganteng banget lagi. Pasangan sempurna banget itu maah” ujar salah seorang yang hadir disana.
Dorr! Seketika terdengar bunyi tembakan yang cukup keras dan bersamaan dengan itu lampu di SMA Dothes pun padam. Seluruh tamu undangan yang hadir sontak panik dan berlarian kesana kemari tak tentu arah dalam kegelapan.
“Kei, kamu temuin Virsha gih sana. Aku mau ngecek ada apa ini” ujar Harry sambil beranjak pergi.
Namun Kezia segera menahannya “Apa-apaan sih? Kamu mau kemana? Kamu kan bukan alumni sini, kamu mana tau seluk-beluknya sekolah ini. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?” Kezia memburu Harry dengan berbagai pertanyaan.
“Aku ga akan kenapa-kenapa kok. Percaya sama aku” Harry kemudian mengecup dahi Kezia lembut namun Kezia tetap menggenggam erat lengan Harry. “Kei, percaya sama aku” bujuk Harry. Dengan terpaksa akhirnya Kezia melepaskan tangannya dan membiarkan Harry pergi. Sementara itu dengan bantuan cahaya handphone Kezia kemudian berjalan perlahan menuju ke depan aula untuk menemui Virsha.
Dari kejauhan Virsha yang melihat Kezia berjalan mendekat ke arahnya segera melambaikan tangannya memberi isyarat akan keberadaannya kepada Kezia yang langsung ditangkap oleh Kezia dengan mempercepat langkahnya menuju tempat Virsha berdiri.
“Ini ada apa sih Vir? Masa iyaa ada teroris?” tanya Kezia dengan nafas terengah-engah.
“Aduuh gue juga ga ngerti Kei. Udahlah kita cari aman aja diem disini jangan kemana-mana” ujar Virsha “Lah kak Harry mana Kei? Lo kesini sendiri?” tanya Virsha saat menyadari ketidakberadaan Harry.
“Harry ada kok. Tadi dia pergi buat nyari tau apa yang terjadi. Duuh Vir, tapi gue ga tenang nih. Gue takut Harry kenapa-kenapa” desis Kezia sambil meremas-remas tangannya dengan gelisah.
Dorr! Dorr! Dorr! Terdengar bunyi tembakan itu lagi bersama dengan jeritan keras dari salah seorang wanita. Kemudian orang-orang berbondong-bondong berlari menuju arah suara itu.
“Ada apa sih?” tanya Virsha pada seorang lelaki yang sedang lewat.
“Gak tau tuh, ada kerusuhan gitu dari belakang sekolah, terus katanya ada yang cowok yang ketembak” ujar lelaki itu kemudian ia berlalu pergi.
Kezia seketika lemas mendengarnya “Ya Tuhan Ry, cepet balik kesini doong”
Tak beberapa lama kemudian akhirnya lampu kembali menyala. Dari sudut lapangan terdengar orang yang berteriak “Woy! Ada yang kenal orang ini ga? Dia kena tembak nih”
Kezia segera menarik lengan Virsha “Vir kita liat kesana yuk” ujarnya. Virsha pun mengangguk menyetujui ajakan Kezia.
Namun, sesampainya di sana mereka tak dapat melihat dengan jelas sang korban tembakan karena orang tersebut dikerubungi banyak orang.
“Ya ampun ini siapa sih? Bukan anak sini deh kayaknya. Mukanya asing” ujar salah seorang di antara kerumunan itu.
Deg! Seketika jantung Kezia seperti mendapat hantaman keras saat mendengar itu. Tangannya gemetar, pikirannya berkecamuk, dalam hatinya ia memanjatkan do’a agar orang yang dimaksud tersebut bukanlah orang yang dicintainya.
“Loh, dia bukannya yang tadi dateng kesini sama Kezia yaa? Coba cari Kezia deh” ujar salah seorang wanita.
Kezia seketika ambruk mendengarnya. Lututnya lemas sampai tak mampu lagi menopang tubuhnya. Satu per satu orang yang berada di sekeliling korban tembakan itu mundur secara perlahan. Kini Kezia dapat melihatnya dengan jelas. Sosok yang terbaring lemas dengan baju penuh darah itu adalah orang yang namanya selalu ia panjatkan dalam setiap do’anya. Dia adalah Harry. Kekasihnya.
Perlahan Kezia merangkak mendekat menuju tempat Harry berbaring. Dengan gemetar ia menggenggam tangan Harry yang mulai mendingin. Diusapkannya punggung tangan Harry dengan harapan agar tangan Harry yang selalu memberinya kehangatan itu dapat kembali menghangat.
“Ry….bangun…ini ga lucu…aku mohon….jangan pergi” ujar Kezia sambil menangis tersedu-sedu. Ia kemudian mengguncangkan bahu Harry berharap Harry bangun dan kemudian memeluknya, namun usahanya sia-sia. Harry tak memberikan respon sedikitpun.
Kezia benar-benar ambruk. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimilikinya ia memeluk Harry dengan segenap jiwanya. Ingin rasanya ia menjerit, memaki keadaan yang telah membuatnya berada di situasi ini. Namun ia tak mampu, ia hanya bisa mengeluarkan emosinya lewat bulir-bulir air mata.
Namun tiba-tiba Kezia menyadari ada pergerakan kecil dari tangan Harry yang berada dalam genggamannya. “Ry….?” panggil Kezia. Perlahan Harry membuka matanya dan tersenyum kecil pada Kezia “Kamu kenapa nangis?” ujarnya sambil menghapus air mata di pipi Kezia.
Kezia menghela nafas panjang, bersyukur Harry masih bisa membuka matanya “Kamu fikir siapa lagi yang bisa bikin aku nangis selain kamu?” ujarnya.
Namun tiba-tiba Harry menggeram kesakitan, sontak Kezia kembali panik “Kamu kenapa Ry? Siapa saja tolong telepon ambulance” ujar Kezia panik.
Harry menggenggam erat tangan Kezia “Gaperlu Kei, aku cuma mau tau satu hal. Apa kamu benar-benar mencintaiku? Aku ragu karena kamu gak pernah sekalipun mengatakan kamu mencintaiku. Aku ga mau kalau hubungan kita selama ini hanya sekedar status palsu”
Air mata Kezia mengalir lagi “Bodoh!” makinya “Apa cinta harus selalu diucapkan dengan lisan? Apa kata sayang harus selalu terdengar oleh semua orang? Aku mencintaimu seperti sebuah hembusan angin. Memang tak terlihat, tapi kamu pasti bisa merasakannya kan?” Kezia mengelus lembut pipi Harry “Ry… Aku ga mungkin bertahan selama ini kalau aku ga cinta sama kamu” ujarnya.
Harry tersenyum puas mendengar jawaban Kezia. Ia kemudian menjetikkan jarinya, bersamaan dengan itu Virsha datang mendekat ke arah mereka sambil membawakan sebuah kue dan menyanyikan lagu ‘Happy birthday to you’ bersama-sama dengan semua orang yang ada disana.
Kezia tertegun melihatnya, ia kemudian memalingkan pandangannya kembali pada Harry. Harry tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya “Mana mau aku ninggalin kamu secepat ini. Aku masih mau terus sama-sama kamu di setiap ulang tahun kamu lah, enak ajaa ntar kamu selingkuh sama yang lain” godanya.
Sedetik kemudian Kezia akhirnya tersadar bahwa Harry dan Virsha bahkan semua orang disana sedang mengerjainya. Kezia segera menghapus air matanya dan kemudian bangkit “Mati aja deh lo!” makinya pada Harry. Namun Harry malah tertawa puas mendengarnya.
Harry kemudian bangkit dan melepas jasnya yang berlumuran darah palsu itu. Lalu ia menarik Kezia dalam dekapannya “Lepasin ga? Ngeselin tau ga lo? Benci gue benciiiii banget sama lo” omel Kezia sambil memukuli dada bidang Harry.
“Udah marah-marahnya?” tanya Harry yang semakin membuat Kezia emosi. Kezia hendak mengeluarkan makian lagi namun Harry dengan cepat langsung membungkamnya dengan sebuah kecupan lembut yang mendarat tepat di bibir Kezia. Emosi Kezia semuanya seketika meluluh berganti dengan perasaan hangat dan tenang. “Aku bahagia akhirnya aku tau kalau kamu mencintaiku” bisik Harry.
“Ehem-ehem, maaf tolong jangan lupa disini ada banyak manusia, bukan cuma kalian berdua doang dan tangan gue juga udah mulai pegel nih” tegur Virsha sambil melirik kue yang dibawanya.
Pipi Kezia seketika merona, menyadari bahwa mereka ditonton banyak orang disini. Sementara itu Harry masih dengan santai merangkul Kezia “Terima kasih buat semuanya yang udah berpartisipasi mendukung rencana saya untuk memberikan surprise pada kekasih saya ini” ujar Harry sambil menatap Kezia dan Kezia pun balik menatapnya sambil tersenyum “Dan terima kasih sebesar-besarnya pada sahabat saya yang sudah memberikan ide hebat ini dan juga membantu mewujudkannya. Terima kasih kepada Andrew. Come here Ndrew, join with us”
Senyum Kezia seketika menghilang saat mendengar nama itu disebut. Terlebih saat orang itu kini benar-benar berdiri di hadapannya. Wajahnya masih sama seperti lima tahun lalu, hanya postur tubuhnya saja yang bertambah tinggi.
“Kei, kenalin ini Andrew. Rekan kerjaku sekaligus sahabatku. Aku kaget loh waktu tau dia ternyata alumni sekolah kamu juga, kakak kelas kamu lebih tepatnya” ujar Harry.
Tanpa semua orang sadari, ada perang besar yang kini sedang terjadi dalam hati Kezia. Pintu masa lalu yang telah tertutup rapat kini tiba-tiba terbuka dan seluruh kenangan yang telah lama terkunci itu pun kini menyerangnya.
Andrew mengulurkan tangannya “Selamat ulang tahun Kezia” ujarnya.
Kezia masih tetap mematung sampai saat Harry menyenggol lengannya dan memberi isyarat untuk menyambut uluran tangan Andrew. Kezia pun akhirnya menyambut uluran tangan itu “Makasih” ujarnya singkat kemudian dengan cepat menarik kembali tangannya.
Virsha, satu-satunya orang yang mengetahui serangkaian cerita masa lalu Kezia pun segera mengambil tindakan untuk mengalihkan situasi ini saat dilihatnya Kezia sudah benar-benar salah tingkah. Virsha kemudian menyalip Andrew dan kini ia berdiri tepat di hadapan Kezia “Okee kalau gitu Kezia tiup lilin dulu yaa. Jangan lupa berdo’a. semoga selalu diberi kesehatan dan kekuatan. Terus juga semoga LANGGENG terus sama kak Harry sampai cuma maut yang bisa memisahkan” Virsha sengaja menekankan kata-kata ‘langgeng’. Berharap Kezia mengerti dan sadar bahwa kini di sampingnya sudah ada orang yang akan membawanya menghadapi masa depan dan berharap agar Kezia tidak kembali larut dalam masa lalunya.
Kezia paham betul kode yang diberikan Virsha. Ia memejamkan matanya, memanjatkan syukur atas apa yang telah diterimanya selama ini dan tak lupa juga berdo’a kepada Yang Maha Esa agar selalu menetapkan hatinya hanya kepada Harry. Kemudian ia membuka kembali matanya dan meniup lilin itu satu persatu hingga semuanya padam.
“Happy birthday to you. I will always be yours, and you will always be mine” ujar Harry sambil mengecup punggung tangan Kezia.
“Ndrew makasih banyak loh yaa udah ngebantuin acara surprise buat pacar gue” ujar Harry.
“Iyaa, sama-sama” jawab Andrew.
“Terus gimana dengan gadis lo itu? Lo udah ketemu dia terus ungkapin perasaan lo?” tanya Harry.
Tenggorokan Andrew seketika tercekat mendengar pertanyaan Harry. Ia bahkan sampai memuntahkan kembali minuman yang sedang diteguknya. Bagaimana mungkin ia tega memberitahu Harry bahwa gadis yang dicintainya adalah kekasih sahabatnya sendiri. Bagaimana ia bisa memberitahu Harry bahwa mereka mencintai orang yang sama. Andrew menarik nafasnya dalam-dalam “Ketemu sih udah, tapi gue rasa gue ga perlu ngungkapin perasaan gue. Toh dia juga udah bahagia sekarang” ujar Andrew lirih.
Harry mengernyitkan dahinya “Maksud lo gimana?”
“Udah ada orang lain yang jauh lebih mencintai dia daripada gue. Yang jauh lebih bisa membahagiakan dia dibanding gue” Andrew kemudian meletakkan gelas minumnya di atas meja “Gue cari udara seger dulu yaa” ujarnya sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya
“Eh bentar Ndrew” sergah Harry saat melihat ada sebuah kotak yang terjatuh dengan keadaan terbuka dari saku celana Andrew saat ia mengambil rokok. Harry kemudian mengambilnya dan memungut kalung yang juga terjatuh dari dalam kotak itu “Kean” gumamnya saat membaca tulisan yang tertera dalam badul kalung itu
Dengan cepat Andrew segera mengambil kalung dan kotak itu dari tangan Harry, kemudian ia berlalu pergi tanpa sepatah kata pun
“Kean” Harry mengulang kembali kata yang tertulis di bandul kalung itu. Detik itu juga ia menyadari ada sesuatu yang tidak diketahuinya, ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
“Kamu udahan ngobrolnya?” tanya Kezia saat Harry menghampirinya.
“Emm… Kei gue ke tempat teman-teman yang lain dulu yaa” pamit Virsha meninggalkan Harry dan Kezia berdua.
Harry menganggukan kepalanya, kemudian menatap Kezia lekat-lekat “Apa ada suatu hubungan antara kamu sama Andrew?”
Kezia menahan nafasnya saat kalimat itu terlontar dari mulut Harry, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada sebuah kursi kosong di sudut aula “Mungkin lebih baik kita ngobrolnya sambil duduk aja kali ya?” ia kemudian berjalan ke arah kursi itu diikuti Harry dibelakangnya.
“Okey, sekarang coba kamu jelasin dulu sama aku” ujar Kezia saat mereka sudah duduk di bangku itu.
 “Bukan aku yang harus ngejelasin, tapi kamu Kei” ujar Harry “Surprise buat kamu tadi itu Andrew yang rencanain. Awalnya surprise itu udah dia rencanain buat wanita yang udah lama dia sayang. Tapi mirisnya wanita itu udah punya kekasih. Jadi rencana surprise itu dia kasih ke aku untuk ngerayain ulang tahun kamu” tutur Harry. Kemudian ia menatap mata Kezia “Terus tadi ga sengaja Andrew ngejatuhin sebuah kotak dari saku celananya dan pas aku ambil ternyata kotak itu berisi sebuah kalung berbandul hati dan ada kata ‘Kean’ terukir di situ. Kata yang sama juga tertulis di sebuah kotak yang ada di atas meja belajar kamu. Apa itu adalah sesuatu special bagi kalian? Apa sebenarnya hubungan kalian berdua?”
Sesaat jantung Kezia berhenti berdetak. ‘Kean’ sebuah kata yang dalam sekejap mampu membawanya pada kenangan manis masa lalu, tempat dimana hatinya tertinggal. ‘Kean’ sebuah singkatan dari nama (Ke)zia dan (An)drew.
“Kei, apa hubungan kamu sama Andrew bener-bener cuma sebatas kakak kelas dan adik kelas?” tanya Harry lagi. ‘ayoo Kei bilang kalo kamu sama Andrew emang cuma sebatas itu’ gumam Harry dalam hati.
Kezia menatap mata Harry, terlihat jelas dalam sorot matanya bahwa Harry sebenarnya sudah tahu ada hubungan special antara Kezia dan Andrew. Namun Harry tetap menginginkan Kezia menyangkalnya sekalipun penyangkalan itu adalah kebohongan. Kezia menarik nafasnya dalam-dalam “Dari segi status, aku sama Andrew memang cuma sebatas itu kok” ujar Kezia.
“Hanya dari segi status?” tanya Harry.
“Memangnya kamu mau tahu dari segi apa lagi?” Kezia justru malah balik bertanya pertanyaan yang sukses membuat Harry bungkam seribu bahasa. “Kamu percaya kan sama aku?” tanya Kezia. Harry terdiam sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. “Kalau gitu, boleh aku ngobrol sama Andrew sebentar?” tanya Kezia hati-hati. Harry menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya bersamaan dengan sebuah anggukan.
Mata Kezia menyusuri satu per satu orang yang hadir di acara reuni akbar itu, sampai akhirnya matanya dapat menangkap sosok yang sedang dicarinya. Dengan perlahan Kezia menghampirinya dan berdiri di hadapannya “Boleh bicara sebentar?” tanya Kezia. Yang kemudian dijawab dengan sebuah anggukan, kemudian mereka berjalan beriringan menuju suatu tempat yang mana tempat tersebut menjadi saksi bisu perpisahan mereka 5 tahun lalu.
“Apa kabar Kei?” tanya Andrew memulai pembicaraan.
Kezia tersenyum tipis “Baik. Lebih baik dari lima tahun lalu” ujar Kezia.
Dada Andrew seketika terasa tertusuk saat mendengar ucapan Kezia. Namun ia tak ingin Kezia melihat kepedihan hatinya “Selamat yaa, aku ga nyangka kamu ternyata pacar sahabatku” ujar Andrew
“Apa kamu bahagia?” tanya Kezia
Andrew terdiam. Hening kini menyelimuti mereka, sama seperti lima tahun lalu, Andrew masih saja tak mampu menjawab pertanyaan Kezia
Kezia menarik nafasnya dalam-dalam, menahan agar air matanya tak keluar. “Lima tahun berlalu tapi kamu masih tetap tak berubah? Pertanyaanku sangat sederhana tapi kamu masih saja tak bisa menjawabnya. Sesekali coba biarkan hatimu bersuara” ujar Kezia sambil berlalu pergi meninggalkan Andrew yang masih saja mematung
Menyadari kepergian Kezia, Andrew segera menahannya. Ia tak ingin semuanya berlalu begitu saja tanpa kejelasan seperti lima tahun lalu. Andrew meraih kedua tangan Kezia dan menggenggamnya, kemudian ia berlutut di hadapan Kezia. “Aku sayang kamu Kei. Dulu, sekarang dan sampai kapanpun juga” ujarnya
Air mata Kezia seketika berlinang saat mendengarnya. Seandainya saja jalan yang ia tinggalkan lima tahun lalu masih sama, mungkin ia dapat kembali ke jalan itu. Tapi kenyataannya berbeda, semuanya mengalami perubahan. Ia tak bisa kembali ke sana, yang ia bisa lakukan hanyalah melangkah maju ke depan.
Kezia menghapus air matanya, kemudian ia membantu Andrew untuk berdiri. “Jangan merendahkan dirimu seperti ini. Kamu juga pantas bahagia” Kezia mengulang kata-kata yang Andrew katakan kepadanya lima tahun lalu “Seperti aku yang kini sudah menemukan kebahagiaanku, kamu juga akan menemukan kebahagiaanmu. Tuhan menghadirkan cinta diantara kita bukan karena kebetulan semata, semua pasti ada alasannya. Satu hal yang perlu kamu ingat, ketika suatu hari nanti kamu jatuh cinta lagi maka katakanlah cintamu itu, tunjukkan jangan kau pendam. Kami sebagai kaum wanita hanya bisa menanti kepastian. Tugasmulah sebagai pria yang memberikan penjelasan” Kezia mengusap lembut bahu Andrew “Sampai bertemu lagi di lain hari saat kita sudah sama-sama menggenggam kebahagiaan kita”
Keputusan Kezia sudah final, ia tak ingin menyakiti siapapun disini. Setidaknya ia sudah cukup senang mengetahui perasaan Andrew yang sebenarnya. Ia pun kemudian pergi berlalu meninggalkan masa lalunya dan menyongsong masa depannya.
Andrew akhirnya kini bisa menyaksikan kepergian Kezia dengan sebuah senyuman, hatinya kini lega karena perasaan yang selama ini dipendamnya sudah bisa ia ungkapkan. Seperti halnya Kezia yang sudah menemukan kebahagiaannya, ia pun pasti juga akan menemukan kebahagiaannya. Ia mengambil sebuah kotak –yang berisi kalung untuk Kezia– dari sakunya dan melemparkannya jauh-jauh “Goodbye my past. And welcome my future”
Thanks for reading^^
Follow me on twitter and ask.fm @atyampela


LDR (Lepas Dan Relakan) (cerpen)






Ku teringat dalam lamunan rasa sentuhan jemari tanganmu
Ku teringat walau telah pudar suara tawamu sungguh ku rindu
Tanpamu langit tak berbintang, tanpamu hampa yang ku rasa
Seandainya jarak tiada berarti akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya sang waktu dapat mengerti takkan ada rindu yang terus menggangu
Kau akan kembali bersamaku
Ku teringat walau telah pudar suara tawamu sungguh ku rindu
Tanpamu langit tak berbintang, tanpamu hampa yang ku rasa
Seandainya jarak tiada berarti akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya sang waktu dapat mengerti takkan ada rindu yang terus menggangu
Kau akan kembali bersamaku
Terbit dan tenggelamnya mentari membawamu lebih dekat
Denganmu langitku berbintang
Denganmu sempurna ku rasa
Seandainya jarak tiada berarti akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya sang waktu dapat mengerti takkan ada rindu yang terus menggangu
Kau akan kembali bersamaku (Raisa – LDR)

Chika duduk bersantai di kursi kerjanya sambil memandangi layar handphonenya, sesekali ia tersenyum dan juga merengut. Sementara itu telinganya ia manjakan dengan mendengarkan lagu dari ipodnya
“Woi kerja kaliiii!!” tegur Dimas mengagetkannya
Chika segera melepas headsetnya dan mendengus kesal “Udah kelar boss!” jawabnya ketus
Dimas menyeringai “Yaudah kalo gitu sekarang temenin gue makan siang diluar yuk” ujarnya. Tanpa menunggu persetujuan dari Chika, Dimas segera menggandengnya pergi
Chika hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi kelakuan Dimas yang super bossy dan terkadang egois. Mau bagaimana lagi, Dimas adalah bossnya yang juga merupakan teman sejak kecilnya. Hal itulah yang membuat Chika sudah sangat kebal dengan segala tingkah laku Dimas yang super menyebalkan, oleh sebab itu pula Chika menjadi satu-satunya wanita yang paling dekat dan tahan menghadapi Dimas (selain mamanya Dimas tentunya)
“Si kampret itu belum ada kabarnya juga?” tanya Dimas di sela-sela perjalanan mereka
Chika sontak membelalakkan matanya “Heh! Edvan tuh lebih tua dari lo yaa. Yang sopan manggilnya. Dan yang paling penting dia itu pacar gueeee” tegas Chika
“Yayaya what ever deh yaa, gimana? Belum ada kabar?” tanya Dimas lagi
“Waktu pagi skype-an kok” jawab Chika
“Pagi kapan? Pagi bulan lalu?” ledek Dimas
Chika melotot sejenak lalu kemudian berdecak kesal, “bawel ah” ujarnya
Dimas mengacak-acak rambut Chika “Udahlah putusin aja, lagian hubungan kalian tuh udah kayak celana Peppy tau ga?”
“Maksudnya?” tanya Chika tak mengerti
“Ngegantung!” jawab Dimas
Chika mendengus kesal “Ah elo mah gitu sih, bukan sohib gue lo” cibir Chika. Sementara itu Dimas malah tertawa terbahak-bahak
“Aku pulang” ujar Chika setibanya di rumahnya. Ia segera menghampiri ibunya dan mengecup punggung tangan dan juga pipi ibunya
“Kamu lembur? Kok pulangnya malem?” tanya sang ibu
“Engga kok bu, tapi tadi nemenin Dimas ketemu klien dulu” ujar Chika “Yaudah yaa bu aku langsung ke kamar aja” pamitnya pada ibunya
Chika langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dering ponselnya berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Tangannya dengan cepat merogoh tasnya mencari ponselnya. Ia segera mengecek ponselnya saat berhasil menemukannya, namun raut wajahnya seketika berubah menjadi muram saat melihat nama yang tertera di layar adalah nama Dimas bukan Edvan. Dengan malas-malasan akhirnya ia pun mengangkat telepon itu
“Kenapa lagi sih Dim? Kasih gue waktu istirahat kek” omel Chika
“Ampun yaa ini orang bukannya kasih salam dulu kek” sahut Dimas dari ujung telepon
“Gaperlu salam segala kalo sama lo mah. Udah cepetan ngomong ada perlu apa gue ngantuk bangeeet”
“Gapapa kok, cuma mau mastiin lo selamat sampe di dalem istana lo aja”
Chika menggeleng-gelengkan kepalanya “Ehh buset yaa Dim, gue sahabat lo apa anak perempuan lo? Over protektif banget lo, jelas-jelas yang nganterin gue pulang juga lo. Ampe depan pintu malah lo nganterinnya”
Dimas tertawa kecil di ujung telepon sana “Yaaa kali aja gitu pas lo udah di dalem rumah lo kepeleset atau kejedot kan gue ga tau” candanya
“Kurang kerjaan lo. Makanya punya pacar”
“Yang mau gue pacarin udah punya pacar, mau gimana lagi? Udahlah istirahat sana. Bye” Dimas pun mengakhiri pembicaraan mereka di telepon. Lagi-lagi Chika hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi kelakuan Dimas yang super duper aneh.
Pagi ini Chika nampak kurang bersemangat. Selain karena hari ini ia harus lembur untuk menyusun jadwal harian Dimas, juga karena semalam ia kurang tidur. Chika memelototi layar handphonenya semalam suntuk demi harapan agar sang kekasih, Edvan, memberi kabar kepadanya. Sudah hampir tiga tahun ia tak bertemu dengan kekasihnya itu sejak Edvan memilih melanjutkan pendidikan S2 nya di Inggris. Biasanya Edvan memberi kabar lewat skype atau e-mail secara rutin setiap minggunya. Namun sudah sebulan terakhir ini Edvan sama sekali tak memberinya kabar, bahkan e-mail yang Chika kirim pun sampai saat ini tak kunjung mendapat balasan.
Chika akui ada banyak sekali pikiran negatif yang memenuhi otaknya. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan kekasihnya disana. Ia takut ada suatu hal yang buruk terjadi sehingga Edvan tak dapat memberinya kabar, ataukah mungkin Edvan memang benar-benar sedang sibuk sampai tak mampu memberinya kabar. Chika hanya bisa menghela nafas, panjang dan berat “Padahal biasanya sesibuk apapun kamu, kamu ga pernah lupa untuk ngucapin selamat ulang tahun ke aku” gumamnya dalam hati.
Ya, hari ini adalah hari ulang tahunnya, namun tak ada sesuatu yang spesial yang terjadi hari ini. Biasanya Edvan akan menghubunginya lewat skype dan mereka merayakan ulang tahun Chika bersama meski terpisah jarak yang begitu jauh. Namun sepertinya tidak untuk hari ini, jangankan untuk merayakan, ucapan saja tak ia dapatkan dari kekasihnya itu. Chika hanya bisa berdo’a yang terbaik untuk kekasihnya itu. Karena hanya do’a lah satu-satunya hal yang mampu menembus jarak.
Ponsel Chika tiba-tiba berdering membuyarkan lamunannya, dengan antusias ia langsung mengambilnya, namun raut wajahnya berubah masam saat melihat nama yang tertera di layar handphonenya lagi-lagi nama Dimas, bukan Edvan
“Ada perlu apa boss?” sapanya
“Ke ruangan gue sekarang” jawab Dimas singkat dan langsung menutup teleponnya
Chika segera menuruti perintah Dimas, ia lalu bangkit dari meja kerjanya menuju ruangan Dimas
“Ada masalah apa?” tanya Chika setibanya di ruangan Dimas
Dimas menyerahkan selembar amplop putih pada Chika “Kemasin barang-barang lo” perintahnya
Chika sontak membelalakkan matanya “Lo mecat gue? Emang kesalahan fatal apa yang udah gue bikin? Gue telat nyerahin schedule harian lo? Lah kan baru hari mau dibikinnya. Apa karena gu…..” belum kelar Chika bicara, Dimas segera membungkam mulut Chika dengan telapak tangannya
“Lo liat dulu itu isinya apa baru ngoceh” ujar Dimas, kemudian ia menurunkan tangannya dari mulut Chika
Chika kemudian membuka amplop itu dan ia justru malah lebih terkejut dari sebelumnya. Amplop itu berisi sebuah tiket pesawat penerbangan ke Inggris. “Ini…”
“Ikut gue ketemuan sama klien di sana. Lumayan kan sekalian refreshing” ujar Dimas “Anggap aja hadiah ulang tahun” lanjutnya
Chika tak kuasa menahan rasa harunya. Inilah yang membuat Chika tahan mengahadapi sikap menyebalkan Dimas. Karena Chika tau Dimas adalah orang yang baik, Dimas selalu punya cara untuk membuat Chika kembali ceria saat ia sedang bersedih. Seolah seperti dapat membaca apa yang ada di pikiran Chika, Dimas selalu tahu bagaimana cara untuk menghiburnya.
Chika langsung memeluk Dimas “Thanks Dim. Lo emang bener-bener sahabat terbaik yang gue punya” ujarnya. “Yaudah gue beresin berkas-berkas yang harus dibawa dulu yaa” Chika pun kemudian meninggalkan ruang kerja Dimas dengan penuh kegembiraan. Galau yang tadi menghantuinya kini sudah pergi, karena besok ia akan terbang melintasi jarak yang selama ini menghadang untuk menemui orang yang dicintainya.
Sementara itu Dimas hanya bisa tersenyum getir, bukan karena ia tak suka melihat Chika bahagia. Tapi karena ia tak bisa berdamai dengan hatinya sendiri. Ingin sekali rasanya ia benar-benar bisa bersahabat dengan Chika, namun bagaimana bisa ia melakukannya. Mendengar disebut sebagai ‘sahabat terbaik’ oleh Chika saja hatinya langsung meradang. Ya, Dimas memang tak pernah bisa sepenuhnya melihat Chika sebagai sahabatnya. Terkadang ia ingin sekali Chika hanya melihat ke arahnya, namun Dimas tau itu akan sangat sulit baginya karena Chika sudah memiliki orang yang dicintai
Chika pulang lebih awal karena harus mengemasi barang-barangnya. “Ibuuuu…” panggil Chika dengan penuh sukacita
Sang Ibu pun menghampirinya “Loh kok kamu udah pulang nak?” tanyanya
Chika langsung memeluk ibunya dan menunjukkan tiket yang diberikan Dimas kepada ibunya “Besok aku bakal ke Inggris Bu. Yaa ada urusan kerjaan sih. Tapi pas nanti aku free aku mau ke Adore University buat nemuin Edvan” ujarnya sumringah
“Waah syukur deh kalo gitu. Akhirnya kamu bisa ketemu sama Edvan lagi. Itu tiketnya dari kantor? Semua karyawannya juga bakal kesana?” tanya sang Ibu
“Engga Bu, cuma aku sama Dimas yang pergi kesana. Ini tiketnya juga dari Dimas. Sekalian hadiah ulang tahun katanya hehehe”
Ibunya tertawa kecil “Kamu masih hapal rumus pitagoras ga?” tanyanya
Chika melongo sejenak “Buat apa bu?” tanyanya heran
“Buat mecahin persoalan cinta segitiga” jawab sang Ibu sambil berlalu meninggalkan Chika yang masih melongo tak mengerti dengan maksud ucapannya
Chika menggeleng-gelengkan kepalanya “Apasih si Ibu mah ga jelas banget” gumamnya kemudian berlalu ke kamarnya
Chika segera mengemasi barang-barang yang akan dibawanya dan memasukkannya ke dalam koper. Kemudian ia mengambil handphonenya hendak mengirimkan e-mail kepada Edvan untuk memberitahukan keberangkatannya ke Inggris besok, namun tiba-tiba ia menaruh kembali handphonenya “Ga perlu aku kabarin deh, biar surprise gitu” gumamnya
“Udah Siap?” tanya Dimas saat Chika turun dari tangga
Chika sontak terkejut mendapati Dimas tengah duduk di ruang taunya bersama dengan ibunya “Kok lo udah ada disini aja sih?” tanya Chika
“Pertanyaan itu butuhnya jawaban, bukan pertanyaan balik” ujar Dimas
Chika mencibir “Iyaa udah siap pak bossss”
Dimas tersenyum puas, kemudian mengalihkan pandangannya pada Ibunya Chika “Bu, Chika aku pinjem dulu yaa. Tenang aja pasti aku jagain kok” ujarnya, kemudian ia mengecup punggung tangan Ibunya Chika
“Ibu titip Chika yaa nak Dimas, kalo dia macem-macem kamu omelin aja” jawab sang Ibu sambil mengelus lembut kepala Dimas
Setelah mendapat izin, Dimas kemudian mengambil koper yang dibawa Chika dan membawakannya ke dalam taxi yang sudah dipesannya
“Bu, aku pergi dulu yaa. Ibu jaga diri baik-baik yaa di rumah. Nanti aku bawain oleh-oleh” pamit Chika pada ibunya sambil mengecup pipi sang Ibu
“Kamu juga baik-baik yaa disana, harus nurut sama Dimas” ujar sang Ibu
“Ibuuuu jangan gitu, nanti Dimas makin besar kepala” desis Chika. Sementara itu Dimas sedang tersenyum-senyum di luar pintu mendengar percakapan Chika dan ibunya
Setelah berpamitan Chika dan Dimas pun langsung melaju menuju bandara
“Denger kan tadi apa kata Ibu?” goda Dimas di sela-sela perjalanan mereka
“Yang mana yaa? Ga denger tuh” jawab Chika cuek
“Nurut yaa sama gue. Ini perjalanan bisnis bukan tamasya apalagi acara tali kasih” ledek Dimas lagi
“IYAA BAWEEEL” jawab Chika jutek sementara itu Dimas tertawa terbahak-bahak

Dimas rupanya tak main-main dengan ucapannya. Sejak pertama kali menjejakkan kaki di Inggris hari-hari Chika benar-benar dipenuhi perjalanan bisnis. Setiap hari pergi pagi pulang malam untuk bertemu dengan beberapa klien. “Apanya yang refreshing” gerutunya dalam hati.
Ini adalah hari terakhir mereka berada di Inggris, bahkan sampai hari ini pun Chika masih harus menemani Dimas makan siang dengan beberapa klien di meeting room hotel mereka
“Okay, our time is up. Thanks for this great lunch” ujar Dimas mengakhiri meetingnya hari ini
Chika menarik nafas lega, akhirnya tugasnya selesai dan itu artinya hari ini ia bisa pergi jalan-jalan menikmati suasana kota Inggris bersama dengan orang yang sudah dinantikannya
“Udah selesai kan? Udah gaada rapat lagi kan? Udah free kan?” Chika memborong Dimas dengan pertanyaan sesaat setelah para klien meninggalkan ruang meeting
“Hmmm” ujar Dimas “Seneng?” tanyanya sambil berlalu keluar tanpa menunggu jawaban dari Chika
Chika menyunggingkan senyumnya “Ya jelas seneng lah” ujarnya. Kemudian ia merapikan berkas-berkas dokumen yang ada di atas meja dan segera menuju kamarnya
Chika mempersiapkan dirinya dengan sangat sempurna. Ia mengenakan sebuah dress selutut berwarna baby pink dengan blazer warna putih tak lupa pula sedikit polesan riasan semakin mempercantik dirinya yang memang pada dasarnya sudah cantik itu. Chika tersenyum puas melihat pantulan dirinya di cermin. Setidaknya ia ingin membuat kekasihnya itu terpana melihat dirinya setelah tiga tahun terpisah
Chika kemudian mengambil tasnya dan meninggalkan kamarnya namun betapa terkejutnya ia saat mendapati Dimas sudah berdiri di depan pintu kamarnya
“Ngapain lagi? Katanya tadi udah meeting terakhir” ujar Chika
“Lo mau keluar dengan pakaian seperti ini?” tanya Dimas
“Ya, ada yang salah?”
Dimas berdecak “Tunggu gue di bawah, jangan pergi duluan sebelum gue dateng” lanjutnya “Jangan coba-coba pergi duluan. Ngerti?” ancamnya sambil berlalu dari hadapan Chika dan masuk ke dalam kamarnya
Chika mengernyitkan dahinya, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya “Ini orang makin lama makin mengkhawatirkan kondisi psikologisnya” gumamnya
Chika sudah dua puluh menit lebih menunggu Dimas di lobby namun Dimas belum juga menampakkan batang hidungnya “Itu anak sengaja banget yaa” geramnya. Baru saja ia hendak menyusul Dimas ke kamarnya namun Dimas sudah terlebih dahulu berdiri di hadapannya
Chika tertegun sesaat melihat penampilan Dimas. Ini pertama kalinya ia melihat Dimas mengenakan baju santai –ia hanya mengenakan kaos, jaket dan celana jins– karena sudah lama sekali sejak Dimas manjadi direktur utama di perusahaan Ayahnya, Dimas tidak pernah lagi terlihat memakai baju santai. Setelan baju formilnya tak pernah lepas darinya karena tuntutan pekerjaan yang harus membuatnya menemui klien penting di waktu yang tak terduga
“Iyaa gue tau gue emang ganteng tapi gue takut aja mata lo iritasi kalo kelamaan ga kedip gitu” tegur Dimas membuyarkan lamunan Chika
Chika berdesis pelan “GR!” gerutunya. Kemudian ia pergi melewati Dimas menuju pintu keluar. Sementara itu Dimas tersenyum sambil mengikuti Chika dari belakang
“Jaga bicara lo, jangan ngomong kalo ga ditanya, jangan pasang tampang songong walaupun tampang lo emang udah songong dari sananya. Pokoknya jangan ngomong yang engga-engga di depan Edvan nanti. Jangan yaa pokoknya jangaaaan” pesan Chika pada Dimas setibanya mereka di depan gerbang Adore University. Sementara itu Dimas justru tampak tak menghiraukan ocehan Chika “Dim, ngerti ga gue bilang apa?” tanya Chika
Dimas melirik Chika “Engga ngerti dan ga peduli” ujarnya singkat “Mending lo mulai cari si Edvan gih sana. Ntar waktu bebas lo keburu abis loh”
Chika menarik nafasnya dalam-dalam “Inget yaa jangan macem-macem!” tegasnya. Ia pun kemudian pergi memasuki Adore University. Chika langsung mengarahkan langkah kakinya menuju taman Adore University karena mengingat Edvan selalu bilang kalau ia suka sekali mengerjakan tugas di taman itu. Chika mengedarkan pandangannya pada oarang-orang yang ada di taman itu namun ia belum juga menemukan sosok yang dicarinya
“Ga ada disitu kali, cari tempat lain coba. Lagian bukannya bilang aja sih kalo lo ada di Inggris terus ketemuan deh biar ga repot gitu nyarinya” tutur Dimas
Chika membalikkan badannya ke hadapan Dimas “Tadi apa gue bilang? Jangan ngomong kalo ga ditanya. Dasar bawel” omel Chika. Kemudian ia kembali mencari sosok Edvan diantara orang-orang di taman itu “Lucky!” ujarnya saat berhasil menemukan sosok Edvan, ia segera berlari menuju tempat Edvan berada namun langkahnya tiba-tiba terhenti, hal itu membuat Dimas menjadi ikut berhenti juga
“Heh, ngapain berenti dadakan sih ah” tegur Dimas. Namun Chika tak bergeming, matanya lurus menatap sesuatu
Dimas menoleh dan terkejut mendapati apa yang tengah dilihat Chika, kedua tangannya mengepal dengan keras. Kemudian ia dengan cepat berlari ke arah Edvan yang sedang bermesraan dengan perempuan lain dan meninjunya dengan keras
“DIMASSS!!!” jerit Chika, kemudian ia segera berlari menghampiri Dimas
Edvan yang tiba-tiba dipukul seperti itu jelas tidak terima “What are you doing?! Hah?!” tanya Edvan emosi sambil hendak melayangkan satu tinjuan ke arah Dimas, namun tangannya terhenti di udara sesaat setelah Chika berdiri tepat dihadapannya, diantara ia dan Dimas
Edvan sangat terkejut melihat orang ang berdiri di depannya itu adalah Chika “Chika?” tanyanya tak percaya. Ia kemudian menurunkan tangannya “Kok kamu kesini ga ngabarin aku, kan aku bisa jemput kamu di bandara” ujarnya gugup
“Edvan, who is she? You know her?” tanya wanita yang tadi sedang bermesraan dengan Edvan
Edvan terlihat sangat gugup “Em.. yeah.. She is…..” Edvan menggantung kalimatnya “My Friend from Indonesia” ujar Edvan akhirnya
Air mata Chika menetes bersamaan dengan kata-kata Edvan itu. Sia-sia sudah penantiannya, percuma saja perjuangannya selama ini.
Dimas yang geram mendengar ucapan Edvan itu hendak melayangkan pukulan lagi tepat di wajah Edvan namun dengan sigap Chika menahannya. Dengan air mata yang berlinang itu Chika menggelengkan kepalanya, meminta Dimas untuk menurunkan tangannya. Dimas pun menuruti keinginan Chika kemudian pergi meninggalkan Chika sendiri
Edvan pun meminta wanita yang bersamanya itu untuk meninggalkan ia dan Chika berdua. Kini hanya tinggal mereka berdua, “Aku bisa jelasin ini…”
“Masihkah nyata hadirku di matamu sedang cintamu tak lagi untukku?” potong Chika “Apa kamu tau seperti apa rasanya menunggu? Apa kamu tau seperti apa rasanya merindu? Apa kamu tau seperti apa rasanya menjadi aku?” tanya Chika lirih
“Iniii….”
“Jika jujur saja menyakitkan bagaimana bisa kebohongan menjadi begitu menyenangkan buatmu?” tanya Chika lagi, air matanya menetes tak henti. Sakit, perih, pilu, marah, lelah, kecewa, semuanya menjadi satu di hatinya “Kamu tau bagaimana tersiksanya aku karena mengkhawatirkanmu? Di dalam otakku selalu penuh dengan beragam pertanyaan. Apa kuliahmu lancar? Apa kamu sakit? Apa kamu sedang ada masalah? Apa tugasmu begitu banyak sampai kamu tak bisa menghubungiku?” Chika menarik nafasnya dalam-dalam “Kini setidaknya satu dari pertanyaanku terjawab. Kamu bukannya tak bisa menghubungiku, tapi kamu memang tak ingin” ujarnya dengan derai air mata
Edvan hendak memeluk Chika namun dengan cepat Chika menepis lengannya. “Maafkan aku, tapi aku tak ingin dipeluk oleh lengan yang telah memeluk wanita lain” tegasnya
“Chika, aku benar-benar minta maaf. Kamu terlalu baik untukku” ujar Edvan
Chika tersenyum getir “Lalu apa aku harus menjadi seorang wanita jahat agar tidak diperlakukan seperti ini?” tanyanya. Edvan pun terdiam tak mampu harus memberikan jawaban apa atas pertanyaan Chika “Menurutmu, aku ini terlalu baik atau terlalu bodoh?” tanya Chika lagi dan Edvan tetap terdiam
Chika menghapus air matanya “Sudahlah, setidaknya aku sudah tau kamu baik-baik saja disini. Aku harus pergi, lagipula wanita itu juga pasti sedang menunggumu. Aku harap kamu berbahagia. Aku harap dia benar-benar mencintaimu hingga kamu tak perlu merasakan apa yang ku rasakan. Aku pamit…… dari hidupmu” kemudian Chika pun benar-benar pergi meninggalkan Edvan tanpa menoleh sedikitpun kearahnya
Chika menghampiri Dimas yang sedari tadi menunggunya di depan gerbang “Heyy” tegurnya
Dimas pun langsung berbalik badan dan menarik Chika dalam dekapannya. Chika terkejut Dimas melakukan hal itu, baru saja Chika hendak meminta Dimas melepaskannya namun Dimas sudah terlebih dahulu berkata “Jangan meminta gue untuk ngelepasin lo, karena gue ga akan ngelakuin hal itu. Dan jangan coba-coba untuk melepaskan diri, karena itu hanya akan sia-sia”
Air mata Chika pun kembali menetes “Apa selalu seperti ini? Apa hubungan yang terpisah jarak akan selalu berakhir seperti ini?” ujar Chika dalam isak tangisnya. Dimas tetap terdiam, ia membiarkan Chika menangis merang-raung dalam dekapannya. Sudah terlalu lama Chika berjuang sendiri, setidaknya sekarang Chika harus beristirahat.
Telah lama aku bertahan demi cinta wujudkan sebuah harapan
Namun ku rasa cukup ku menunggu semua rasa t’lah hilang
Sekarang aku tersadar cinta yang kutunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu bila kamu tak cinta lagi                    
Namun ku rasa cukup ku menunggu semua rasa t’lah hilang
Sekarang aku tersadar cinta yang kutunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu bila kamu tak cinta lagi                    
Dahulu kau lah segalanya
Dahulu hanya dirimu yang ada di hatiku
Namun sekarang aku mengerti
Tak perlu ku menunggu sebuah cinta yang semu
Sekarang aku tersadar cinta yang kutunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu bila kamu tak cinta lagi (Raisa – Apalah Arti Menunggu)

Chika akhirnya pulang kembali ke Indonesia, mimpi-mimpi indah yang telah dipersiapkannya kini telah sirna. Jarak memang begitu hebat, dengan sadisnya ia mampu mengubah dan menghapus jejak seseorang
“Kita makan dulu yaa? Baru nanti lo gue anter pulang” Ujar Dimas sambil menggandeng tangan Chika.
Namun Chika menahannya “Gue bisa pulang sendiri” ujarnya “Makasih Dim. Makasih untuk tidak membiarkan gue bertemu dia lebih awal. Gue pulang dulu” pamitnya. Chika pun melepaskan genggaman tangan Dimas dan pergi berlalu meninggalkannya
Dimas memandangi punggung Chika yang kian menjauh “Kenapa sih lo ga pernah mau bergantung sama gue?” gumamnya dalam hati. Dimas kemudian menyusul Chika dan menghentikan langkah Chika. “Kalo emang mau pulang gue anter. gue udah janji sama ibu lo buat jagain lo” Dimas kemudian menggandeng tangan Chika
“Tapi Dim…”
“Lo yakin mau debat sama gue? Udah tau kan hasilnya pasti sia-sia?” tanya Dimas. Kemudian ia memasang senyum super manisnya “Ayoo putri kecilku, kamu harus menuruti ayahmu ini yaa” godanya. Kemudian ia pun membawa Chika pergi meninggalkan bandara.
Di sepanjang perjalanan pulang hening menyelimuti mereka. Chika hanya duduk termenung memandang keluar jendela, sedangkan Dimas ingin sekali mengajak Chika bicara namun sepertinya saat ini Chika lebih ingin berteman dengan sepi
Chika mengunci pintu kamarnya kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Air matanya perlahan menetes lagi saat mengingat kejadian di Inggris saat itu. Dadanya terasa sesak dan sakit saat mengingatnya, namun Chika juga tak bisa melupakan kenangan pahit itu. Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. “Nak, boleh ibu masuk?” tanya ibu Chika dari luar
Chika mengatur deru nafasnya agar tak terdengar seperti orang yang sedang menangis “Chika lagi capek banget bu, Chika mau istirahat” ujarnya dari dalam kamar
Sang ibu pun mengalah dan memilih membiarkan Chika menyendiri dahulu untuk sementara waktu ini.
Setelah dirasakannya sang ibu sudah tak ada lagi di depan kamarnya, Chika kemudian bangun dari tempat tidurnya dan mengambil sebuah album foto dari laci meja di dekat tempat tidurnya. Ia juga mengambil sebuah kotak dari dalam lemari pakaiannya. Chika kemudian berjalan menuju halaman belakang rumahnya. Ia mengeluarkan satu persatu foto dari album itu, foto yang menjadi bukti nyata bahwa pernah ada banyak kenangan indah yang terjadi diantara ia dan Edvan. Setelah semua foto itu ia keluarkan sampai tak tersisa satupun, Chika kemudian membuangnya ke tempat sampah, lalu ia mengambil korek api dan membakarnya.
Chika juga melemparkan kotak yang dibawanya tadi ke dalam kobaran api itu, kotak yang berisi segala macam benda pemberian Edvan kepadanya. Chika ingin memusnahkan semua hal yang dapat memunculkan kembali kenangan tentang keberadaan Edvan dalam hatinya.
Namun, mau seperti apapun caranya, mau sekeras apapun usahanya, kenangan yang pernah ada takkan pernah bisa hilang. Tempat tinggal terbaik kenangan adalah pada hati manusia sendiri, dan kita tak bisa hidup tanpa hati, itu sebabnya kenangan akan selalu menemani kita seumur hidup.
“Orang bodoh macam apa yang bolos kerja dan malah duduk melamun meratapi nasib cintanya disini” tegur Dimas tanpa basa-basi pada Chika yang sedang duduk melamun di salah satu sudut bangku taman
Chika terkejut mendapati kehadiran Dimas di hadapannya “Kok bisa tau gue ada disini?” tanyanya, namun sedetik kemudian ia mendesis pelan “Aishh pasti kerjaan ibu” gumamnya
Dimas duduk di samping Chika “Lo udah bolos kerja seminggu loh Chii” ujar Dimas “Haruskah lo menangisi seseorang yang bahkan ga menghargai air mata lo itu?” tanyanya
Chika menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit “Lo ga tau rasanya Dim. Lo gatau gimana rasanya mencintai seseorang sampai-sampai lo kehilangan diri lo sendiri. Lo ga tau gimana rasanya menunggu seseorang yang lo cinta dalam ketidakpastian. Lo ga…..”
“Dan lo juga ga tau gimana rasanya cinta sendiri!” potong Dimas. Ia menatap tepat di bola mata Chika “Lo ga tau gimana rasanya mencintai seseorang yang mencintai orang lain. Lo ga tau gimana sulitnya bertahan untuk ga melewati batas kesabaran. Bisa-bisanya lo bilang gue ga tau gimana rasanya menunggu seseorang? Sedangkan selama ini lo selalu mengabaikan perasaan gue” ujar Dimas.
Chika tertegun mendengar perkataan Dimas “Lo ke…na…pa?” tanyanya terbata-bata
Dimas menarik nafasnya dalam-dalam “Gue manusia loh, bukan setan. Apa semua yang gue lakuin untuk lo selama ini sama sekali tak terlihat dimata lo?” tanya Dimas. Namun Chika tak memberikan jawaban dari pertanyaannya, Chika masih tetap terdiam. “Gue sayang banget Chii sama lo. Bukan sayang sebagai seorang sahabat tapi ‘sayang yang sesungguhnya’. Mungkin benar apa kata orang bahwa tak ada pria dan wanita yang bisa benar-benar murni hanya bersahabat, pasti salah satu diantaranya menyimpan rasa” ujar Dimas
Chika benar-benar dibuat terkejut dengan pernyataan Dimas. Ia sama sekali tak menyangka kalau Dimas memandangnya dengan sudut pandang lain. Chika menghabiskan hampir setengah dari hidupnya bersama-sama dengan Dimas, bagaimana mungkin ia bisa tak menyadari perasaan Dimas “Lo laki-laki yang baik. Suatu hari nanti lo pasti bakal menemukan gadis yang baik juga” ujarnya lirih
Dimas berdecak “Gimana kalo gue ga mau sama gadis yang baik? Gimana kalo gue cuma mau sama gadis yang gue sayang?” tanya Dimas
Chika tersentak. Ia menggigit bibir bawahnya tak tau lagi harus memberikan jawaban apa. Ia sungguh tak ingin melukai Dimas karena ia tau betul bagaimana rasanya dilukai. Namun sepertinya ia lupa satu hal bahwa cinta dan luka akan selalu berjalan beriringan, jika kau sudah bertemu dengan cinta, maka kau juga pasti akan bertemu dengan luka. Namun tak ada yang tau mana yang akan bertahan lebih lama. Akankah cinta, ataukah luka.
Chika bangkit dari tempat duduknya “Gue pulang duluan, lo juga sebaiknya pulang. Sampai ketemu besok di kantor” ujarnya dengan cepat kemudian ia membalikkan badannya hendak berlalu dari hadapan Dimas
 “Bukan salah cinta, bukan juga salah waktu, apalagi salah Tuhan. Bukan karena kesalahan siapapun semuanya terjadi,. Kita bisa merubah nasib tapi tak bisa mengubah takdir. Sampai suatu saat nanti lo bertemu orang yang ditakdirkan buat lo, gue mohon jangan sia-siain air mata lo untuk orang yang salah. Simpan air mata lo sampai saat nanti lo bakal menangis bahagia karena telah dipertemukan dengan orang yang tepat” ujar Dimas lirih “Gue pergi dulu” lanjutnya, air matanya menetes namun dengan cepat ia menghapusnya. Kemudian ia bangkit dan meninggalkan tempat itu
Chika menoleh dan memandangi punggung Dimas yang kian menjauh dari hadapannya, perlahan air matanya menetes dan terus menetes sampai membuatnya menangis hingga terisak. Chika mencengkram dadanya. Sakit sekali rasanya, bahkan jauh lebih sakit daripada saat ia melihat Edvan sedang bersama wanita lain
“Pagi Chika, oiya kamu udah ditunggu di ruang direktur” sapa Rina –rekan kerjanya– saat Chika baru saja tiba di meja kerjanya
Chika meletakkan tasnya “Pak Dimas udah dateng pagi-pagi gini?” tanyanya
“Bukan Pak Dimas, Chi. Tapi Pak Derry” jawab Rani
Chika sontak terkejut mendengarnya, kemudian dengan cepat ia pergi ke ruang Direktur. Chika mengetuk pintu ruang tersebut kemudian masuk ke dalamnya “Om cari saya?” tanyanya pada Derry –ayah Dimas–
Derry tersenyum “Masuklah Nak” perintahnya
Chika pun masuk dan kemudian duduk di hadapan Derry “Ada perlu apa yaa Om?” tanyanya pada Derry
“Gini, Om mau tanya apa akhir-akhir ini di kantor sedang ada masalah? Atau ada suatu peristiwa buruk yang tak bisa dikendalikan?” tanya Derry
Chika menggelengkan kepalanya dengan cepat “Everything’s okay kok Om. Memang kenapa Om? Ahiya kenapa Dimas tak datang bersama Om?” tanyanya saat menyadari Dimas tak ada di ruangan itu
“Itu dia masalahnya” ujar Derry “Dimas minta dipindahkan untuk mengawasi kantor cabang di Amerika. Biasanya biarpun Om yang menawarkannya ia sama sekali tak berminat. Tapi sekarang justru dia yang memintanya. Maka dari itu Om berfikir ada masalah apa yang terjadi di kantor sampai membuatnya ingin pergi jauh begitu” tutur Derry
Chika seketika seperti terhantam hatinya saat mendengar hal itu. Air matanya seperti ingin meluncur keluar namun ia menahannya “Kapan Dimas berangkat Om?” tanya Chika dengan mata yang berkaca-kaca
“Hari ini, sekitar pukul 09:00 pagi” jawab Derry
“Saya permisi keluar kantor sebentar Om” pinta Chika, kemudian tanpa menunggu jawaban dari Derry ia segera pergi meninggalkan ruang Direktur dan hendak menyusul Dimas ke bandara.
“Sudah kuduga pasti ada masalah hati yang terjadi diantara mereka” gumam Derry sambil tersenyum kecil
Chika segera menghentikan taksi yang lewat di depan kantornya “Ke Bandara Pak” ujarnya pada sang supir. Chika melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 08:30. Ia kemudian mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Dimas namun sia-sia karena Dimas menonaktifkan handphonenya
Chika meremas jemari tangannya yang gemetar karena gelisah. Dalam hatinya ia terus memanjatkan do’a “Ya Tuhan, jangan membuatku merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya” gumamnya dalam hati. “Tolong lebih cepet yaa Pak” seru Chika pada sang supir.
Setelah setengah jam lebih Chika menempuh perjalanan akhirnya Chika tiba juga di bandara, setelah membayar ongkos taksinya dengan cepat ia berlari meliuk-liuk menyalip beberapa orang. Chika kembali melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 09:10 dan saat ia melihat papan jadwal penerbangan, pesawat yang menuju ke Amerika baru saja berangkat ukul 09:05
Chika terduduk lemas, air matanya mengalir tak tertahankan. Rasa sesak memenuhi seluruh ruang hatinya. Ia kemudian teringat dengan ucapan Dimas saat terakhir bertemu “Gue pergi dulu” pamit Dimas pada waktu itu. Namun Chika tak menyangka bahwa itu berarti Dimas akan pergi jauh meninggalkannya. Bagaimanapun juga semua ini terasa seperti mimpi buruk bagi Chika. Bagaimana bisa orang yang dulu selalu bersama-sama kini mulai berjalan di jalannya masing-masing? Bagaimana bisa kebersamaan yang awalnya menyatukan kini berubah menjadi gerbang pengantar perpisahan?

Tak ku mengerti mengapa begini
Waktu dulu ku tak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dariku, pergi tinggalkanku
Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari kata hatiku saja
Tapi mengapa cinta datang terlambat
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dariku, pergi tinggalkanku
Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari kata hatiku saja
Tapi mengapa kini cinta datang terlambat (Maudy Ayunda – Cinta Datang Terlambat)

Dua tahun kemudian…
Chika sedang menikmati jam istirahat makan siangnya dengan memanjakan lidahnya dengan bekal yang dibawakan ibunya sambil mendengarkan lagu dari ponselnya. Sesekali ia menghentikan aktifitas makannya untuk mencatat beberapa koreksi dari dokumen yang harus dikerjakannya
“Makan aja dulu, nanti kerja lagi” tegur seseorang padanya
“”Iya baik……” kalimat Chika tertahan. Detak jantungnya seketika berdegup lebih kencang “Suara ini…” gumamnya dalam hati. Ia kemudian menoleh ke asal suara itu dan Chika pun tercengang mendapati sosok Dimas sedang berdiri di samping meja kerjanya sambil tersenyum lebar
“Jadi dua tahun gue tinggal terus ekspresi muka lo menyambut kepulangan gue cuma mangap-mangap kayak ikan doang gitu?” goda Dimas
Chika memalingkan wajahnya, kemudian tersenyum bahagia namun ia tak ingin Dimas melihat senyumnya itu karena pasti Dimas akan jadi sangat besar kepala. “Bagus deh kalo udah pulang, disini banyak kerjaan” jawab Chika cuek
Dimas mencibir “Sok-sok jutek padahal ngejar sampe ke bandara. Pake nangis-nangis segala lagi” ledek Dimas
Chika membelalakkan matanya “Lo tau gue ngejar lo, tapi lo tetep pergi?!” tanya Chika tak percaya
Dimas mengangguk “Gue pergi karena gue emang harus pergi. Tapi sekarang…” Dimas menggantung kalimatnya. Kemudian ia berlutut di hadapan Chika dan menggenggam kedua tangan Chika “Tapi sekarang gue pulang karena gue tau ada seseorang yang menunggu. Dan gue ga mau membuat orang yang menangis karena gue ini menunggu lebih lama lagi” Dimas kemudian mengecup punggung tangan Chika “I Love You” ujarnya
Pipi Chika seketika merona. Ia kemudian memeluk Dimas “Jangan pergi lagi” ujarnya. Dimas pun kemudian mengangguk menyetujui permintaan Chika
“Lo tau ga betapa bahagia nya gue melihat lo menangisi kepergian gue?” tanya Dimas
“Lo kok malah suka liat gue nangis sih?” hardik Chika
Dimas tersenyum dan mempererat pelukannya “Gimana gue ga suka? Itu berarti gue mempunyai tempat penting di hati lo. Tapi tenang aja, lo ga akan menangis lagi, kalaupun menangis, gue akan pastiin itu adalah air mata kebahagiaan. Mulai detik ini, satu-satunya yang dapat membuat gue pergi meninggalkan lo hanyalah kematian” ujar Dimas sambil mengecup lembut puncak kepala Chika
Pernah kulihat lukisan cantik
Tujuh bidadari dari langit
Namun saat kulihat dirimu
Cantikmu mengalahkan semua
Pernah kubaca puisi raja
Syairnya indah getarkan rasa
Namun saat namamu disebut
Ku tergetar jiwa penuh rasa
Tuhan yang berikan rasa cinta, rasa kasih sayang
Buat apalah susah cari kesana kesini
Sudah di depan mata, kamulah takdirku
Tuhan ciptakan aku, Tuhan ciptakan kamu
Kita berdua diizinkan bersama dan bersatu selamanya
Seperti embun mengerti pagi
Seperti ombak paham samudra
Kita yang beda t’lah disatukan
Dengan kekuatan cinta kasih
Jadilah kisah ini abadi, kamulah takdirku
Buat apalah susah cari kesana kesini
Sudah di depan mata, kamulah takdirku
Tuhan ciptakan aku, Tuhan ciptakan kamu
Kita berdua diizinkan bersama dan bersatu selamanya
(Raffi Ahmad ft Nagita Slavina – Kamulah Takdirku)

Thanks for reading^^

Follow me on twitter and ask.fm @atyampela