(SIAPA) PENDAMPING LANGIT
“Bu,
aku berangkat sekolah dulu yaa” pamit Langit pada ibunya
“Ya
nak, hati-hati yaa” ujar sang ibu dari dalam dapur
Langit
bergegas mengambil tasnya dan meninggalkan rumah. Ia menarik nafasnya
dalam-dalam, menghirup aroma embun yang khas dan menenangkan. ‘Semangat’
batinnya. Hari ini adalah hari pertama ia masuk SMU. Nasib baik SMU yang
dipilihnya tidak mengadakan MOS. Karena Langit sendiri tidak suka dengan MOS
dan semacamnya, baginya hal itu malah membuat mental anak Indonesia menjadi
mental ‘sok memerintah’ dan ‘sok berkuasa’ serta menanamkan sifat ‘senioritas’
yang terus berkembang turun menurun.
Langit
segera menghampiri supirnya yang sedang menikmati secangkir kopi hitam di pos
satpam “Mang Ujang ayo berangkat” ujarnya
“Siap
non” Mang ujang kemudian segera menuju mobil dan membukakan pintu mobil untuk
Langit. Kemudian mereka pun melaju pergi menuju SMU Cahaya
Sepanjang
perjalanan Langit terus tersenyum dan memandang ke arah luar. “Non kelihatannya
hari ini semangat sekali” ujar Mang Ujang
Langit
tertawa kecil “Iya dong Mang kita harus semangat setiap hari. Mang ujang juga
semangat!”
Tak
beberapa lama akhirnya mereka sudah sampai di SMU Cahaya. “Makasih yaa mang,
aku masuk dulu yaa. Nanti aku telepon jam berapa mamang jemput aku” ujar Langit
yang diiringi dengan anggukan dari Mang Ujang. Langit pun segera berlari menuju
lapangan.
“X
IPA 3, X IPA 3 mana yaa?” ujar Langit dalam hati. Matanya terus menerawang satu
persatu tulisan yang ada di papan yang dipegang para seniornya. BRUG! Tanpa
sadar Langit menabrak seseorang. Tubuh mungilnya jatuh terduduk
“Sorry
sorry, lo ga apa-apa kan?” tanya orang yang menabrak Langit sambil membantu
langit berdiri
Langit
merapikan seragamnya “Iya ga apa-apa kok” ujarnya. Langit kemudian menatap
orang itu ‘Wah cowok manis’ gumamnya dalam hati
“Kenalin,
nama gue Awan. Gue murid baru disini” ujarnya sambil mengulurkan tangannya
Langit
menyambut uluran tangan itu “Nama gue Langit. Gue juga murid baru disini”
Awan
membelalakkan matanya “Serius nama lo Langit?” tanyanya. Langit mengangguk.
“Wah jangan-jangan kita jodoh. Awan kan adanya cuma di langit hahaha”. Langit
pun seketika menjadi tersipu malu. Baru kali ini ada cowok yang berkata
langsung seperti itu padanya.
“Ehiya,
lo kelas berapa?” tanya Awan
“Kelas
X IPA 3” jawab Langit
Lagi-lagi
Awan membelalakkan matanya “Serius? Gue juga di kelas itu. Ah gilee kita emang
jodoh nih kayaknya. Yuk barengan sama gue” Awan pun menggandeng tangan Langit
dan membawanya pada barisan kelas X IPA 3
“Nah,
lo baris disini dan gue baris disamping lo” ujar Awan
Langit
mengangguk. Kemudian ia melirik ke bawah. “Kenapa?” tanya Awan, ia pun ikut
melirik ke bawah dan….. “Ups sorry” ujarnya. Awan segera melepaskan genggaman
tangannya setelah disadarinya tangannya masih menggenggam erat tangan Langit.
Langit
mulai gelisah, rupanya pengarahan hari ini jauh lebih lama dari perkiraannya.
Air keringat sudah bercucuran dari wajah dan tubuhnya. Matahari tepat sekali
menyorot dirinya dari sisi kanannya. Langit menggigit bibirnya dan terus
menunduk. Namun tiba-tiba ia merasakan sejuk. Seperti ada yang menghalau sinar
matahari agar tak langsung mengenainya. Langit mengangkat kepalanya perlahan.
Menengok pada sosok yang sedang menghalau sinar matahari itu untuknya. “Awan!”
jeritnya dalam hati. Awan menyunggingkan senyum manisnya. “Tenang aja,
mataharinya udah ketutupan sama ‘awan’ kok” ujarnya. Langit masih terus menatap
Awan. Sosok awan yang diterpa cahaya matahari itu membuatnya menjadi semakin
berkilau di mata Langit. Tubuh tinggi Awan yang melindungi tubuh Langit yang
mungil. Detik itu juga Langit memutuskan untuk terus bersama Awan apapun
keadaannya
…
“Astaga
jadi udah hampir tiga tahun dong elo mendem perasaan sama Awan?” tanya Vania
setelah mendengarkan dengan seksama cerita Langit saat pertama kali bertemu
awan
Langit
mengangguk dan menghela nafas “Ga kerasa ya?”
“Kenapa
lo gamau coba buat nyatain perasaan lo itu?” tanya Vania
Langit
menggelengkan kepalanya “Awan udah ada yang punya Van, dan bagi gue asalkan
bisa terus bersamanya dan terus melihat senyumnya itu udah cukup kok”
“Sekalipun
lo harus berurai air mata?” tanya Vania “Kalian itu cocok loh. Jujur aja dulu
tuh gue kira kalian pacaran tau. Nama kalian aja udah saring melengkapi gitu,
Langit dan Awan. Hobi kalian sama, makanan kesukaan sama, hal yang lo suka juga
Awan suka dan hal yang Awan ga suka lo pun ga suka. Pokoknya banyak kesamaan
dan kecocokkan kalian deh” ujar Vania
Langit
menghela nafasnya “Banyak kesamaan dan kecocokkan ga menjamin kalau kita bisa
bersatu. Cinta bukan hanya sekedar ‘kita punya banyak kesamaan lalu kita bisa
bersama’ ga semudah itu. Karena pada akhirnya tetap hati juga lah yang
memainkan perannya. Ada pasangan yang selalu bertengkar dan bertolak belakang
jauh namun ternyata mereka bisa saling mengisi dalam cinta. Mungkin karena gue
dan Awan terlalu banyak kesamaan hingga akhirnya kita cuma bisa jalan
beriringan bukan berdampingan”
Vania
menatap Langit “Jadi mau sampai kapan cinta yang bertepuk sebelah tangan ini lo
pertahanin?”
Langit
tersenyum “Sampai nanti saatnya ada orang lain yang mampu menyambut cinta ini.
Yang membuat gue ga bertepuk sebelah tangan tapi dengan yakin membuat gue
menggenggam erat tangannya”
Vania
menggelengkan kepalanya. “Ada ya orang yang tulus banget kayak lo gini? Entah
tulus entah bego deh”
“Langit
ayo pulang” ujar Awan sambil merapikan tasnya
“Udah
kelar futsalnya?” tanya Langit
“Udah,
yuk balik” Awan menggandeng tangan Langit “Duluan ya Van” pamitnya pada Vania.
Vania mengangguk dan melambaikan tangannya “Hati-hati” ujarnya
…
Ujian
semester ganjil akhirnya selesai. Para murid SMU Cahaya saat ini sedang
menikmati waktu kosong mereka di kelas sebelum nantinya akan bertempur melewati
Ujian Nasional. Langit mencari Awan kemana-mana, kantin, perpustakaan, lab
biologi, lab kimia namun ia masih belum melihat batang hidung Awan sekalipun.
Sejak pagi ia belum melihat Awan namun berdasarkan papan absensi, Awan hadir
pada hari ini. Langit mencari ke taman belakang sekolah and finally ia menemukan
Awan sedang duduk termenung di salah satu bangku disana. Ia segera
menghampirinya
“Lo
kenapa sendirian aja disini? Gabung aja yuk di kelas” ujar Langit
Awan
menatap langit sejenak, kemudian ia memeluknya. Deg! Seketika itu pula seluruh
syaraf dalam tubuh Langit seakan berhenti. Ia menahan nafasnya. Mengatur degup
jantungnya agar Awan tidak menyadari betapa tak beraturannya detak jantungnya
saat ini
“Cherein
mutusin gue” ujar Awan
Langit
melemaskan tubuhnya. Perasaan tegang tadi kini berganti dengan perasaan yang
seperti biasa ia rasakan tiap kali ia mendengar nama itu. Perasaan sakit yang
menusuk, namun ia sudah biasa merasakan itu. Hingga akhirnya ia menjadi kebal
dan mati rasa. Cherein, ya dia adalah kekasih Awan. Langit melepaskan pelukan
Awan secara perlahan “Emang kalian ada masalah apa?” tanya Langit
Awan
menggelengkan kepalanya. “Gue juga ga ngerti masalahnya apa. Tiba-tiba dia
bilang kita udah ga sejalan lagi dan dia minta putus”
Langit
mengusap lembut punggung Awan “Coba lo omongin baik-baik dulu sama Cherein.
Mungkin dia lagi ada masalah jadi emosinya ga stabil” ujar langit
“Kalo
emang dia ada masalah kan dia bisa cerita sama gue. Gue kan pacarnya. Kita juga
kan pacaran udah lama. Masih aja ga percaya sama gue” ujar Awan setengah emosi
Langit
menarik nafasnya dalam-dalam. ‘Gue tau lo pacaran udah lama dan selama itu juga
hati gue teriris’ gumamnya dalam hati. Tapi memang dasar sifat wanita, Langit
hanya bisa memendamnya dalam-dalam. Membiarkan rasa itu terus menyakiti
dirinya. “Awan, mungkin hubungan kalian ini lagi diuji. Lo jangan kebawa emosi.
Lo omongin baik-baik dulu sama Cherein. Kalo emang nanti hasilnya kalian harus
tetep pisah ya seenggaknya kan kalian bisa pisah baik-baik”
Awan
menatap Langit “Lo tau ga? Kadang gue berharap Cherein itu punya sifat kayak
lo. Dewasa, pengertian dan selalu berterus terang tiap kali ada masalah. Kadang
gue berfikir ‘kenapa gue ga pacaran sama lo aja ya?’ tapi seketika itu juga
cinta gue ke Cherein menjawabnya. Bagaimanapun Cherein menyakiti gue, gue akan
selalu jatuh cinta lagi sama dia”
Langit
tertegun. Dari berbagai macam sayatan yang ia terima setiap kali Awan bercerita
tentang Cherein. Inilah sayatan yang paling dalam dan paling perih. Tangan
Langit bergetar hebat. Mati-matian ia menahan tangisnya “Setiap orang punya
sifat beda-beda. Gue duluan ya. Lo jangan lama-lama disini. Cepet balik ke
kelas yaa” tanpa menoleh lagi Langit segera beranjak meninggalkan Awan.
Langit
mengurung dirinya di dalam toilet. “Kalo emang gue lebih baik dari dia kenapa
lo masih tetap bertahan dengannya?” jeritnya dalam hati. Tangisnya semakin
pecah “Ternyata kita sama. Rela menyakiti diri sendiri demi orang yang kita
cinta”. Langit mengambil ponselnya. Mengamati sosoknya dan Awan yang sedang
tersenyum dalam layar itu. Perlahan ia menekan tombol delete dan yap foto itu
pun dihapus oleh Langit. “Satu hal yang pasti, persahabatan kita akan terus
berjalan. Lo gapernah menyakiti gue, gue sendiri yang membuat diri gue
tersakiti. Nyatanya cinta ini memang tak ditakdirkan untuk bersambut olehmu.
Nyatanya aku memang hanya cinta sendiri, hanya bertepuk sebelah tangan” Langit
menghapus air matanya. Kemudian ia keluar dari dalam toilet. Langkah kakinya
menuju ke lapangan. Ia mendongakkan kepalanya menatap ‘langit’ diatas. Saat itu
‘langit’ tampak cerah tanpa ada ‘awan’ yang menghalangi. ‘Langit’ memancarkan
warna biru terangnya. Perlahan Langit menyunggingkan senyumnya. “Sekarang ga
ada alasan tertutup bayang ‘awan’ lagi karena ‘langit’ diatas pun udah cerah”
…
Sejak
saat itu Langit menyibukkan dirinya dengan membedah soal Ujian Nasonal. Ia
terus belajar dan berjuang demi kelulusannya. Hingga akhirnya kini hari yang
ditunggu-tunggu pun tiba. Hari pengumuman kelulusan. Langit terkejut saat
namanya dipanggil dari atas panggung untuk menerima penghargaan sebagai ‘Siswi
Peraih Nilai Tertinggi dalam Ujian Nasional’. Nilai yang diperoleh Langit
nyaris sempurna. Kerja kerasnya selama ini terbayar sudah. Dari atas panggung
ia bisa melihat Awan tersenyum ke arahnya. Tanpa ragu Langit pun membalas
senyuman itu. Saat ini akhirnya ia tak lagi merasakan sesak saat melihat Awan
“Selamat
ya. Lo emang hebat” ujar Awan setelah Langit selesai menerima penghargaan.
“Thanks.
Lo juga hebat kok” jawab Langit
“Lo
mau lanjut kuliah dimana?” tanya Awan
“Gue
dapat beasiswa 100% di salah satu Universitas di Bandung. Gue rasa gue akan
ambil peluang itu deh” ujar Langit
Awan
menghela nafasnya kemudian merangkul Langit “Jadi lo mau ninggalin gue nih?”
Langit
tersenyum. Kemudian ia menunjuk ke atas “Gue ga akan pernah ninggalin lo kok.
Kalo lo kangen sama gue, lo cukup lihat ke atas. Maka saat itu juga gue sedang
melihat lo”. Awan kemudian mendengakkan kepalanya menatap ‘langit’ biru di
atasnya, sementara itu langit menatap awan ‘Sampai jumpa lagi….jika Tuhan
mengizinkan’ ujar Langit dalam hati
“Lo
yang semangat ya disana. Nanti gue bakal main deh kesana buat nyemangatin lo
kalau lo lagi galau” ujar Awan. Langit mengangguk dan tersenyum kecil “Lo
sendiri lanjut kuliah dimana?” tanya Langit
“Gue
kuliah di Jakarta aja kok. Kayaknya sih mau satu kampus sama Cherein” jawab
Awan
“Cherein?”
tanya Langit. Anehnya saat ini ia sudah tidak merasakan sakit lagi ketika
mendengar nama itu “Jadi kalian udah baikan?”
Awan
mengangguk “Udah cukup lama. Gue mau cerita sama lo tapi lo nya sibuk terus”
Awan mencubit pipi Langit
Langit
meringis “Duh maaf deh yaa. Langgeng ya kalian” ujarnya
Handphone
Awan berdering tanda panggilan masuk “Dari Cherein, gue angkat bentar ya”
ujarnya. Langit mengangguk. Awan pun kemudian meninggalkan Langit
Sesaat
setelah Awan pergi, Vania menghampiri Langit. “Jadi udah move on nih?” godanya
“Aduhh
lo itu ya Van, belom kok. Gue masih cinta sama Awan” jawab Langit
“Kok
sekarang senyam-senyum sih liat Awan pergi sambil nelepon? Itu pasti telepon
dari pacarnya kan?”
“Hmm..
iya itu telepon dari pacarnya. Yaahh… pada akhirnya ‘awan’ akan tetap berjalan
mengikuti arah ‘angin’ kan? ‘Awan’ akan tetap mengikuti kemana pun ‘angin’
berhembus. Sebagai ‘langit’ gue emang cuma bisa memperhatikan mereka aja.
‘Awan’ yang tadinya menutupi ‘langit’ kini udah beranjak bersama hembusan
‘angin’. Ya, gue cuma bisa memperhatikan mereka dari kejauhan aja. Cinta yang
cuma sepihak ini memang sudah saatnya tutup cerita” tutur Langit
Vania
merangkul Langit “Lo tenang aja ya, di ‘langit’ ga cuma ada ‘awan’ kok. Ada
matahari, pelangi. Dan apalagi saat ‘langit’ gelap, kita bisa melihat bintang
yang bercahaya kerlap-kerlip atau bulan yang senantiasa menemani ‘langit’ saat
gelap. Lo pasti akan menemukan salah satu diantara itu. Yang bisa menjadi
pendamping setia lo”
Langit
tersenyum lega, kemudian ia menatap langit biru yang ada di atasnya “Iya Van lo
bener. Akan ada saatnya langit punya pendamping”
selesai
