Minggu, 29 Juni 2014

(SIAPA) PENDAMPING LANGIT

(SIAPA) PENDAMPING LANGIT

“Bu, aku berangkat sekolah dulu yaa” pamit Langit pada ibunya
“Ya nak, hati-hati yaa” ujar sang ibu dari dalam dapur
Langit bergegas mengambil tasnya dan meninggalkan rumah. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, menghirup aroma embun yang khas dan menenangkan. ‘Semangat’ batinnya. Hari ini adalah hari pertama ia masuk SMU. Nasib baik SMU yang dipilihnya tidak mengadakan MOS. Karena Langit sendiri tidak suka dengan MOS dan semacamnya, baginya hal itu malah membuat mental anak Indonesia menjadi mental ‘sok memerintah’ dan ‘sok berkuasa’ serta menanamkan sifat ‘senioritas’ yang terus berkembang turun menurun.
Langit segera menghampiri supirnya yang sedang menikmati secangkir kopi hitam di pos satpam “Mang Ujang ayo berangkat” ujarnya
“Siap non” Mang ujang kemudian segera menuju mobil dan membukakan pintu mobil untuk Langit. Kemudian mereka pun melaju pergi menuju SMU Cahaya
Sepanjang perjalanan Langit terus tersenyum dan memandang ke arah luar. “Non kelihatannya hari ini semangat sekali” ujar Mang Ujang
Langit tertawa kecil “Iya dong Mang kita harus semangat setiap hari. Mang ujang juga semangat!”
Tak beberapa lama akhirnya mereka sudah sampai di SMU Cahaya. “Makasih yaa mang, aku masuk dulu yaa. Nanti aku telepon jam berapa mamang jemput aku” ujar Langit yang diiringi dengan anggukan dari Mang Ujang. Langit pun segera berlari menuju lapangan.
“X IPA 3, X IPA 3 mana yaa?” ujar Langit dalam hati. Matanya terus menerawang satu persatu tulisan yang ada di papan yang dipegang para seniornya. BRUG! Tanpa sadar Langit menabrak seseorang. Tubuh mungilnya jatuh terduduk
“Sorry sorry, lo ga apa-apa kan?” tanya orang yang menabrak Langit sambil membantu langit berdiri
Langit merapikan seragamnya “Iya ga apa-apa kok” ujarnya. Langit kemudian menatap orang itu ‘Wah cowok manis’ gumamnya dalam hati
“Kenalin, nama gue Awan. Gue murid baru disini” ujarnya sambil mengulurkan tangannya
Langit menyambut uluran tangan itu “Nama gue Langit. Gue juga murid baru disini”
Awan membelalakkan matanya “Serius nama lo Langit?” tanyanya. Langit mengangguk. “Wah jangan-jangan kita jodoh. Awan kan adanya cuma di langit hahaha”. Langit pun seketika menjadi tersipu malu. Baru kali ini ada cowok yang berkata langsung seperti itu padanya.
“Ehiya, lo kelas berapa?” tanya Awan
“Kelas X IPA 3” jawab Langit
Lagi-lagi Awan membelalakkan matanya “Serius? Gue juga di kelas itu. Ah gilee kita emang jodoh nih kayaknya. Yuk barengan sama gue” Awan pun menggandeng tangan Langit dan membawanya pada barisan kelas X IPA 3
“Nah, lo baris disini dan gue baris disamping lo” ujar Awan
Langit mengangguk. Kemudian ia melirik ke bawah. “Kenapa?” tanya Awan, ia pun ikut melirik ke bawah dan….. “Ups sorry” ujarnya. Awan segera melepaskan genggaman tangannya setelah disadarinya tangannya masih menggenggam erat tangan Langit.
Langit mulai gelisah, rupanya pengarahan hari ini jauh lebih lama dari perkiraannya. Air keringat sudah bercucuran dari wajah dan tubuhnya. Matahari tepat sekali menyorot dirinya dari sisi kanannya. Langit menggigit bibirnya dan terus menunduk. Namun tiba-tiba ia merasakan sejuk. Seperti ada yang menghalau sinar matahari agar tak langsung mengenainya. Langit mengangkat kepalanya perlahan. Menengok pada sosok yang sedang menghalau sinar matahari itu untuknya. “Awan!” jeritnya dalam hati. Awan menyunggingkan senyum manisnya. “Tenang aja, mataharinya udah ketutupan sama ‘awan’ kok” ujarnya. Langit masih terus menatap Awan. Sosok awan yang diterpa cahaya matahari itu membuatnya menjadi semakin berkilau di mata Langit. Tubuh tinggi Awan yang melindungi tubuh Langit yang mungil. Detik itu juga Langit memutuskan untuk terus bersama Awan apapun keadaannya
“Astaga jadi udah hampir tiga tahun dong elo mendem perasaan sama Awan?” tanya Vania setelah mendengarkan dengan seksama cerita Langit saat pertama kali bertemu awan
Langit mengangguk dan menghela nafas “Ga kerasa ya?”
“Kenapa lo gamau coba buat nyatain perasaan lo itu?” tanya Vania
Langit menggelengkan kepalanya “Awan udah ada yang punya Van, dan bagi gue asalkan bisa terus bersamanya dan terus melihat senyumnya itu udah cukup kok”
“Sekalipun lo harus berurai air mata?” tanya Vania “Kalian itu cocok loh. Jujur aja dulu tuh gue kira kalian pacaran tau. Nama kalian aja udah saring melengkapi gitu, Langit dan Awan. Hobi kalian sama, makanan kesukaan sama, hal yang lo suka juga Awan suka dan hal yang Awan ga suka lo pun ga suka. Pokoknya banyak kesamaan dan kecocokkan kalian deh” ujar Vania
Langit menghela nafasnya “Banyak kesamaan dan kecocokkan ga menjamin kalau kita bisa bersatu. Cinta bukan hanya sekedar ‘kita punya banyak kesamaan lalu kita bisa bersama’ ga semudah itu. Karena pada akhirnya tetap hati juga lah yang memainkan perannya. Ada pasangan yang selalu bertengkar dan bertolak belakang jauh namun ternyata mereka bisa saling mengisi dalam cinta. Mungkin karena gue dan Awan terlalu banyak kesamaan hingga akhirnya kita cuma bisa jalan beriringan bukan berdampingan”
Vania menatap Langit “Jadi mau sampai kapan cinta yang bertepuk sebelah tangan ini lo pertahanin?”
Langit tersenyum “Sampai nanti saatnya ada orang lain yang mampu menyambut cinta ini. Yang membuat gue ga bertepuk sebelah tangan tapi dengan yakin membuat gue menggenggam erat tangannya”
Vania menggelengkan kepalanya. “Ada ya orang yang tulus banget kayak lo gini? Entah tulus entah bego deh”
“Langit ayo pulang” ujar Awan sambil merapikan tasnya
“Udah kelar futsalnya?” tanya Langit
“Udah, yuk balik” Awan menggandeng tangan Langit “Duluan ya Van” pamitnya pada Vania. Vania mengangguk dan melambaikan tangannya “Hati-hati” ujarnya
Ujian semester ganjil akhirnya selesai. Para murid SMU Cahaya saat ini sedang menikmati waktu kosong mereka di kelas sebelum nantinya akan bertempur melewati Ujian Nasional. Langit mencari Awan kemana-mana, kantin, perpustakaan, lab biologi, lab kimia namun ia masih belum melihat batang hidung Awan sekalipun. Sejak pagi ia belum melihat Awan namun berdasarkan papan absensi, Awan hadir pada hari ini. Langit mencari ke taman belakang sekolah and finally ia menemukan Awan sedang duduk termenung di salah satu bangku disana. Ia segera menghampirinya
“Lo kenapa sendirian aja disini? Gabung aja yuk di kelas” ujar Langit
Awan menatap langit sejenak, kemudian ia memeluknya. Deg! Seketika itu pula seluruh syaraf dalam tubuh Langit seakan berhenti. Ia menahan nafasnya. Mengatur degup jantungnya agar Awan tidak menyadari betapa tak beraturannya detak jantungnya saat ini
“Cherein mutusin gue” ujar Awan
Langit melemaskan tubuhnya. Perasaan tegang tadi kini berganti dengan perasaan yang seperti biasa ia rasakan tiap kali ia mendengar nama itu. Perasaan sakit yang menusuk, namun ia sudah biasa merasakan itu. Hingga akhirnya ia menjadi kebal dan mati rasa. Cherein, ya dia adalah kekasih Awan. Langit melepaskan pelukan Awan secara perlahan “Emang kalian ada masalah apa?” tanya Langit
Awan menggelengkan kepalanya. “Gue juga ga ngerti masalahnya apa. Tiba-tiba dia bilang kita udah ga sejalan lagi dan dia minta putus”
Langit mengusap lembut punggung Awan “Coba lo omongin baik-baik dulu sama Cherein. Mungkin dia lagi ada masalah jadi emosinya ga stabil” ujar langit
“Kalo emang dia ada masalah kan dia bisa cerita sama gue. Gue kan pacarnya. Kita juga kan pacaran udah lama. Masih aja ga percaya sama gue” ujar Awan setengah emosi
Langit menarik nafasnya dalam-dalam. ‘Gue tau lo pacaran udah lama dan selama itu juga hati gue teriris’ gumamnya dalam hati. Tapi memang dasar sifat wanita, Langit hanya bisa memendamnya dalam-dalam. Membiarkan rasa itu terus menyakiti dirinya. “Awan, mungkin hubungan kalian ini lagi diuji. Lo jangan kebawa emosi. Lo omongin baik-baik dulu sama Cherein. Kalo emang nanti hasilnya kalian harus tetep pisah ya seenggaknya kan kalian bisa pisah baik-baik”
Awan menatap Langit “Lo tau ga? Kadang gue berharap Cherein itu punya sifat kayak lo. Dewasa, pengertian dan selalu berterus terang tiap kali ada masalah. Kadang gue berfikir ‘kenapa gue ga pacaran sama lo aja ya?’ tapi seketika itu juga cinta gue ke Cherein menjawabnya. Bagaimanapun Cherein menyakiti gue, gue akan selalu jatuh cinta lagi sama dia”
Langit tertegun. Dari berbagai macam sayatan yang ia terima setiap kali Awan bercerita tentang Cherein. Inilah sayatan yang paling dalam dan paling perih. Tangan Langit bergetar hebat. Mati-matian ia menahan tangisnya “Setiap orang punya sifat beda-beda. Gue duluan ya. Lo jangan lama-lama disini. Cepet balik ke kelas yaa” tanpa menoleh lagi Langit segera beranjak meninggalkan Awan.
Langit mengurung dirinya di dalam toilet. “Kalo emang gue lebih baik dari dia kenapa lo masih tetap bertahan dengannya?” jeritnya dalam hati. Tangisnya semakin pecah “Ternyata kita sama. Rela menyakiti diri sendiri demi orang yang kita cinta”. Langit mengambil ponselnya. Mengamati sosoknya dan Awan yang sedang tersenyum dalam layar itu. Perlahan ia menekan tombol delete dan yap foto itu pun dihapus oleh Langit. “Satu hal yang pasti, persahabatan kita akan terus berjalan. Lo gapernah menyakiti gue, gue sendiri yang membuat diri gue tersakiti. Nyatanya cinta ini memang tak ditakdirkan untuk bersambut olehmu. Nyatanya aku memang hanya cinta sendiri, hanya bertepuk sebelah tangan” Langit menghapus air matanya. Kemudian ia keluar dari dalam toilet. Langkah kakinya menuju ke lapangan. Ia mendongakkan kepalanya menatap ‘langit’ diatas. Saat itu ‘langit’ tampak cerah tanpa ada ‘awan’ yang menghalangi. ‘Langit’ memancarkan warna biru terangnya. Perlahan Langit menyunggingkan senyumnya. “Sekarang ga ada alasan tertutup bayang ‘awan’ lagi karena ‘langit’ diatas pun udah cerah”
Sejak saat itu Langit menyibukkan dirinya dengan membedah soal Ujian Nasonal. Ia terus belajar dan berjuang demi kelulusannya. Hingga akhirnya kini hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari pengumuman kelulusan. Langit terkejut saat namanya dipanggil dari atas panggung untuk menerima penghargaan sebagai ‘Siswi Peraih Nilai Tertinggi dalam Ujian Nasional’. Nilai yang diperoleh Langit nyaris sempurna. Kerja kerasnya selama ini terbayar sudah. Dari atas panggung ia bisa melihat Awan tersenyum ke arahnya. Tanpa ragu Langit pun membalas senyuman itu. Saat ini akhirnya ia tak lagi merasakan sesak saat melihat Awan
“Selamat ya. Lo emang hebat” ujar Awan setelah Langit selesai menerima penghargaan.
“Thanks. Lo juga hebat kok” jawab Langit
“Lo mau lanjut kuliah dimana?” tanya Awan
“Gue dapat beasiswa 100% di salah satu Universitas di Bandung. Gue rasa gue akan ambil peluang itu deh” ujar Langit
Awan menghela nafasnya kemudian merangkul Langit “Jadi lo mau ninggalin gue nih?”
Langit tersenyum. Kemudian ia menunjuk ke atas “Gue ga akan pernah ninggalin lo kok. Kalo lo kangen sama gue, lo cukup lihat ke atas. Maka saat itu juga gue sedang melihat lo”. Awan kemudian mendengakkan kepalanya menatap ‘langit’ biru di atasnya, sementara itu langit menatap awan ‘Sampai jumpa lagi….jika Tuhan mengizinkan’ ujar Langit dalam hati
“Lo yang semangat ya disana. Nanti gue bakal main deh kesana buat nyemangatin lo kalau lo lagi galau” ujar Awan. Langit mengangguk dan tersenyum kecil “Lo sendiri lanjut kuliah dimana?” tanya Langit
“Gue kuliah di Jakarta aja kok. Kayaknya sih mau satu kampus sama Cherein” jawab Awan
“Cherein?” tanya Langit. Anehnya saat ini ia sudah tidak merasakan sakit lagi ketika mendengar nama itu “Jadi kalian udah baikan?”
Awan mengangguk “Udah cukup lama. Gue mau cerita sama lo tapi lo nya sibuk terus” Awan mencubit pipi Langit
Langit meringis “Duh maaf deh yaa. Langgeng ya kalian” ujarnya
Handphone Awan berdering tanda panggilan masuk “Dari Cherein, gue angkat bentar ya” ujarnya. Langit mengangguk. Awan pun kemudian meninggalkan Langit
Sesaat setelah Awan pergi, Vania menghampiri Langit. “Jadi udah move on nih?” godanya
“Aduhh lo itu ya Van, belom kok. Gue masih cinta sama Awan” jawab Langit
“Kok sekarang senyam-senyum sih liat Awan pergi sambil nelepon? Itu pasti telepon dari pacarnya kan?”
“Hmm.. iya itu telepon dari pacarnya. Yaahh… pada akhirnya ‘awan’ akan tetap berjalan mengikuti arah ‘angin’ kan? ‘Awan’ akan tetap mengikuti kemana pun ‘angin’ berhembus. Sebagai ‘langit’ gue emang cuma bisa memperhatikan mereka aja. ‘Awan’ yang tadinya menutupi ‘langit’ kini udah beranjak bersama hembusan ‘angin’. Ya, gue cuma bisa memperhatikan mereka dari kejauhan aja. Cinta yang cuma sepihak ini memang sudah saatnya tutup cerita” tutur Langit
Vania merangkul Langit “Lo tenang aja ya, di ‘langit’ ga cuma ada ‘awan’ kok. Ada matahari, pelangi. Dan apalagi saat ‘langit’ gelap, kita bisa melihat bintang yang bercahaya kerlap-kerlip atau bulan yang senantiasa menemani ‘langit’ saat gelap. Lo pasti akan menemukan salah satu diantara itu. Yang bisa menjadi pendamping setia lo”
Langit tersenyum lega, kemudian ia menatap langit biru yang ada di atasnya “Iya Van lo bener. Akan ada saatnya langit punya pendamping”


selesai

Rabu, 25 Juni 2014

Love Between Us part 10

Nia masih terus menatap kursi tempat Andika duduk yang masih kosong sampai jam istirahat ini. Hatinya mulai bertanya-tanya dimana keberadaan Andika saat ini.
”Ya, mau lo pelototin ampe mampus juga yang punya bangku ga bakal dateng hari ini” ujar Adnan membuyarkan lamunannya
”Lo tau Nan sekarang Dika ada dimana?” tanya Nia
Adnan hanya mengangkat kedua bahunya bersamaan ”Semua orang dimana-mana gitu yaa, kalo udah ilang baru deh dicariin setengah mati giliran masih keliatan mah didiemin aja ampe lumutan”
Nia menunduk ”Udah dong Nan, gue tau gue salah” ujarnya lirih
Adnan menepuk bahu Nia ”Gue ga nyalahin lo kok Ya, jangan mikir kalo diri lo ini salah terus. Andika juga salah kok. Bahkan gue, Kevin, dan yang lain juga salah. Tapi kita ga perlu cari siapa yang salah dan siapa yang benar. Cukup sama-sama belajar dari kesalahan kita aja okey?”
Nia mengangkat wajahnya perlahan kemudian tersenyum tipis ke arah Adnan ”Iya Nan lo bener. Yang penting sekarang gue harus usaha perbaikin kesalahan gue”
”Heyyy kalian ngerumpi apaan sih?” tanya Kevin yang baru saja masuk kelas ”Ehiya nih Ya gue bawain roti sama jus buat lo. Di makan yaa, awas kalo engga” Kevin menyodorkan sebungkus roti dan segelas jus di hadapan Nia
”Buat gue mana Vin?” tanya Adnan
”Dishhh kalo buat lo mah ga cukup sebungkus, gue mesti bawain mbak-mbak yang jual rotinye juga. Repot ah males gue” ledek Kevin
”Yee dasar saus tar-tar, rajungan, ketombe tuan crab” sahut Adnan
”Nan, kalo mau lo makan aja tuh semua. Gue ga nafsu” ujar Nia
”GAK!” bentak Kevin ”Apa-apaan sih Ya, lo itu belum makan dari kemaren. Kalo sakit nanti gimana? Jangan bego deh Ya, galau sampe gamau makan tuh bukan lo banget tau ga”
”Tau Ya, gue cuma becanda kok tadi. Lo makan ya sekarang. Lo tuh udah pucet tau” ujar Adnan
”Bukan gitu, tapi emang gue ga laper kok. Atau ga lo kasih ke Adis aja deh bang”
”Gimana mau gue kasih  ke Adis sih. Itu aja Adis yang beliin, katanya ’titip buat Nia takut dia masih belom makan juga’ gitu. Ya, please dong jaga kondisi tubuh lo”
”Yaudah iyaaa gue makaaaannnn. Makasih yaa” Nia melahap roti itu ”Oiya bang, tau ga Dika ada dimana? Dia bolos atau emang lagi sakit?” tanyanya kemudian
”Gue gak tau, dia gak ngabarin gue. Tadinya gue pingin nanya sama nyokapnya tapi takutnya ntar die bilang ama nyokapnya sekolah tapi terus malah ngelayap” jawab Kevin
”Gue takut ada apa-apa sama dia deh” ujar Nia dengan raut wajah cemas
”Udah ah gausah negthink. Sekarang lo makan aja deh tuh rotinya sama minum jusnya. Gue sama Adnan nongkrong di depan dulu ya” Kevin dan Adnan pun berlalu meninggalkan Nia
...

Nia menuruni satu persatu anak tangga dengan langkah tak bersemangat. Hal ini pun membuat para sahabatnya menjadi prihatin melihat keadaan Nia
”Ya, udah dong jangan murung terus” ujar Okta
”Iyaa Ya. Kita sedih tau liat lo kayak gini” timpal Rani
”Udah Ya stop galau. Your live must go on. Eh nanti malem pada dateng ya ke Cafe Violet. Gue sama Kevin mau ngasih kalian pajak jadian nih. Terutama elo Ya. Elo harus dateng, gue ga mau temenan sama lo lagi kalo lo malah ngegalau di rumah daripada have fun sama kita-kita” ujar Adis
Nia tersenyum ”Gue pasti dateng kok. Segalau-galaunya gue ga mungkin melewatkan makanan gratis”
”Nah gitu dong ini baru namanya Nia” ujar Mala
”Dandan yang cantik ya, Ya. Pake dress” ujar Kevin yang tiba-tiba saja berdiri di belakang mereka bersama Adnan
”Dihh ngapain amat. Ntar lo salah gandeng lagi bang” ledek Nia
”Engga bakal lah. Mau lo lebih cantik dari Adis juga tetep aja yang berkilau di mata gue cuma Adis. Tjakeup banget ga tuh gue?” Adis pun tersipu malu mendengar gombalan Kevin ”Yuk Dis kita pulang” Kevin pun membawa Adis pergi
”Duluan ya gaess. Jangan lupa nanti malem jam 8 di Cafe Violet” ujar Adis
”Emm.. La, mau pulang bareng gue ga? Tapi sebelumnya kita pergi ke tempat yang gue ceritain sama lo waktu itu” ujar Adnan
”Wah boleh si Nan. Tapi....... nanti Nia pulang sama siapa dong” ujar Mala
”Aduh lebay banget deh lo La. Gue bisa balik sendiri kok gapapa. Lo pergi aja sama si Adnan. Siapa tau aja Adnan bisa jadi obat buat luka hati lo ehem ehem” goda Nia. Seketika pipi Mala pun menjadi merona
”Beneran nih Ya lo gapapa balik sendiri? Atau ga gue anterin lo balik dulu deh baru gue pergi sama Mala”
”Ga perlu Nan. Repot tau bolak balik. Udah gue balik sendiri aja. Hati hati ya kalian. Gue duluan” ujar Nia sambil melambaikan tangan kemudian berlalu pergi

”Nia!” panggil seseorang ketika Nia sudah hampir keluar gerbang sekolah.
Nia menghentikan langkahnya, menoleh ke asal suara tersebut. ”Rio?” ujarnya gemetar
”Lo pulang sendiri? Gue anter ya?” ujar Rio
”Engga usah Yo. Gue mau ke rumah temen gue dulu kok. Duluan yaa” baru saja Nia hendak pergi, namun Rio menahannya
”Ya, kenapa sih? Kata lo kita temen?”
”Yaemang kita temen kok. Tapi gue lagi mau jalan sendiri aja Yo, please lo ngerti yaa” ujar Nia dengan nada memohon
”Ya, gue ngerasa kehilangan lo tau ga. Kehilangan Mala juga”
Nia menarik nafasnya dalam-dalam. ”Yo.. lo ga perlu merasa kehilangan gue atau Mala karena dari awal pun lo ga pernah bener-bener memiliki kita kok. Lo itu kehilangan diri lo sendiri Yo. Sejak mantan lo mutusin lo, lo udah kehilangan diri lo sendiri tapi lo ga pernah merasakan itu. Akhirnya lo malah kelayapan di hati orang lain. Stop Yo, coba temuin diri lo sendiri dulu. Miliki diri lo sendiri dulu. Baru lo bisa menemukan siapa orang yang bener-bener memiliki cinta lo. Balik ke mantan lo Yo. Gue yakin kalian masih sama-sama sayang tapi gengsi menghadang kalian. Udah yaa gue pamit....” Nia pun pergi meninggalkan Rio yang masih ternganga mendengar ucapannya ”Gue ga mau dilema terlalu jauh Yo” gumamnya lirih

...

Adnan membawa Mala ke suatu tempat terpencil di pinggiran kota Jakarta. Tempat yang jarang dijamah oleh orang-orang kota
Mala melihat ke sekelilingnya. Sepi, hanya ada beberapa gubuk tua dan beberapa rumah kardus. Namun tempat ini tidak kumuh ataupun kotor bahkan cenderung bersih dan asri ”Nan ini dimana?” tanya Mala heran
”Dimana ya? Gue juga gatau hahaha. Udah ikutin gue ajadeh. Yuk?” Adnan menggandeng Mala menuju ke salah satu gubuk yang paling besar diantara gubuk-gubuk lainnya
”Tunggu deh Nan, katanya lo mau ajak gue ke tempat dimana banyak anak kecil yang bisa jadi inspirasi buat gue. Gue fikir lo mau bawa gue ke TK atau SD gitu loh Nan” ujar Mala
”Sstttt udah lo diem duluuuu” Adnan kemudian membuka tirai yang terbuat dari kain seadanya yang berfungsi sebagai pengganti pintu di gubuk itu ”Assalamualaikum semuanya” sapa Adnan pada para penghuni gubuk itu
Mala tercengang melihat para sosok yang ada di dalam gubuk itu. Para malaikat kecil duduk rapi dengan ceria disana. Menjawab salam Adnan dengan penuh kegembiraan ”Waalaikumsalam kakak polisi” jawab mereka kompak
Mala melirik ke arah Adnan ”Kakak polisi?”
”Iyaa mereka manggil gue gitu soalnya katanya gue itu kuat dan tegas kayak polisi haha ada-ada aja emang mereka. Ohiya mereka juga punya panggilan khusus juga buat Dika, Kevin sama Nia. Dika dipanggil ’kakak superhero’, Kevin dipanggil ’kakak dokter’ dan Nia dipanggil ’kakak peri’ lucu ya?” jelas Adnan
Mala mengangguk-angguk mendengar penjelasan Adnan kemudian kembali menatap para malaikat kecil itu ”Mereka semua lucu-lucu deh Nan” ujar Mala
”Iyaa La” jawab Adnan. ”Nah adek-adek sekarang kita kedatangan kakak baru namanya kakak Mala. Kakak Mala juga akan berbagi ilmu sama kita disini. Kalian harus akrab ya sama kak Mala” ujar Adnan pada para malaikat kecil itu
”Siap kakak polisi” jawab mereka kompak
”Nah La, sekarang lo ambil bagian diantara mereka. Lo bantu gue untuk berbagi ilmu sama mereka disini. Hari ini gue mau ngajarin mereka berhitung” ujar Adnan
Mala mengangguk, kemudian ia mengambil posisi duduk di tengah-tengah para malaikat kecil itu. Sementara Adnan menulis angka dari satu sampai dengan sepuluh di papan tulis kecil yang tersedia disana. Mala dan Adnan dengan penuh kesabaran dan dengan keceriaaan mengajarkan para anak-anak itu berhitung. Bagi Mala jelas ini adalah pengalaman berharga yang takkan terlupakan
”Nah adek-adek sampai sini dulu ya kita belajarnya. Kita lanjutin minggu depan yaa” ujar Adnan setelah dua jam penuh mereka mengajari para anak-anak itu berhitung
”Terima kasih kakak polisi” ujar mereka pada Adnan ”Dan terima kasih juga kakak bakpau” kali ini mereka menoleh pada Mala
”Bakpau?” tanya mala bingung
”Iya kak, soalnya pipi kakak tembem kayak bakpau.. tapi kakak juga manis kayak bakpau isi cokelat” ujar salah satu dari mereka
Mala terharu mendengar ucapan anak itu ”Aduh kalian semua imut banget siihhh” kemudian ia memeluk anak-anak itu
”Nahh sekarang kalian boleh pulang. Ayo kita berdoa dulu sebelum pulang” ujar Adnan. Kemudian mereka semua dengan khusyu berdoa. Setelah selesai, mereka berpamitan dan mengecup tangan Adnan dan Mala kemudian dengan tertib keluar dari gubuk.
Setelah semua anak-anak sudah pulang, Adnan kemudian meraih tasnya dan mengeluarkan sebotol minuman dan menyerahkannya pada Mala ”Nih La buat ngilangin dahaga”
Mala mengambil botol itu ”Makasih ya Nan” kemudian ia membuka dan meminumnya ”Lo, Dika, Kevin dan Nia udah dari kapan jadi sukarelawan buat ngajar mereka?” tanya Mala
”Emm udah dari kita kelas satu semester dua. Ga sengaja kita nemuin tempat ini. Dan karena kita lihat anak-anak disini ga ada satupun yang sekolah jadinya kita yaa semacam tergerak gitu deh buat berbagi ilmu sama mereka disini”
”Waahh gue salut sama kalian” ujar Mala sambil bertepuk tangan
”Biasa aja kok La. Justru anak-anak itu yang hebat. Mereka yang menginspirasi gue dan yang lain buat terus semangat ngejalanin hidup ini. Mereka ga seberuntung kita yang bisa nyicipin bangku sekolah. Tapi semangat belajar mereka luar biasa lebih besar dari kita. Keterbatasan justru malah membuat mereka semakin menghargai setiap hembusan nafas mereka. Menghargai setiap kali mereka masih bisa melihat matahari terbit” Adnan menatap ke arah luar sejenak ”Orang tua mereka juga hebat La. Banting tulang dari pagi sampai sore untuk mencari sesuap nasi yang bisa mereka berikan pada anak-anak mereka. Sesulit apapun hidup mereka, mereka ga pernah mengeluh sama keadaan. Mereka ga pernah menganggap Tuhan ga adil sama mereka. Gubuk ini gue bangun bersama sama mereka. Selain buat tempat anak-anak belajar, gubuk ini juga dijadikan tempat buat beribadah. Kadang gue, Dika, Kevin dan Nia nyempetin diri buat solat jama’ah bareng mereka”
”Kalian selalu bareng-bareng kalo ngajar disini?”
”Waktu kita masih kelas satu sih iya. Biasanya seminggu dua kali atau seminggu tiga kali kita kesini bareng. Tapi semenjak kelas dua dan kita juga kan banyak keperluan masing-masing yaa cuma yang sempet aja kesini seminggu sekali atau seminggu dua kali” Adnan kemudian menatap Mala ”Lo tau ga kenapa gue ngajak lo kesini?” tanyanya
Mala mengangguk ”Supaya gue rajin belajar kayak mereka kan?”
Adnan tertawa kecil ”Hahaha iya sih itu salah satunya. Tapi intinya adalah gue mau lo belajar untuk mengahadapi segala kesedihan dengan keceriaan seperti mereka. Lo mungkin kehilangan cinta lo tapi bukan berarti lo kehilangan kebahagiaan dalam hidup lo kan?”
Deg! Kata- kata itu tepat sampai di hati Mala, meresap ke dalamnya, memberi getaran hebat yang menyadarkan Mala
”Lo masih bisa dapat kebahagiaan dari mana-mana La. Sama seperti halnya mereka. Mereka kehilangan kesempatan mencicipi bangku sekolah, kehilangan mendapat kesenangan dan main-main sepuasnya layak anak-anak jakarta lainnya. Tapi apa itu lantas membuat mereka patah semangat? Enggak La. Mereka masih tetap bisa tersenyum. Masih bisa memanjat syukur pada Ilahi. Intinya kalau emang Tuhan ga memberikan sesuatu yang kita inginkan hari ini, percayalah kalau Dia sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik yang pantas kita dapatkan kelak tanpa perlu kita minta”
Mala menatap Adnan kagum. Entah sejak kapan ia merasa nyaman berada di dekat Adnan. Adnan mengajarkannya berbagai hal. Memberi pengalaman yang hebat. Membuatnya membuka matanya untuk menatap kenyataan. Memberikan pelajaran kedewasaan padanya ”Thanks Nan” ujar Mala

...

Cafe Violet terlihat sangat sepi. Tak ada satupun pengunjung yang terlihat seperti biasanya. Nia menjadi bingung melihatnya ”Kok tumben yaa sepi gini. Apa jangan-jangan tutup? Ah gue telepon si Adis aja deh” baru saja Nia hendak mengambil ponselnya. Salah seorang pelayan keluar dari dalam cafe dan menghampirinya
”Maaf, apakah nona adalah saudari Nia?” tanya pelayan itu
”Saya Nia mas, bukan saudarinya. Kakak saya ada sih di rumah” jawab Nia
”Iya maksud saya gitu” jawab sang pelayan sambil tertawa kecil ”Mari silahkan masuk ke dalam”
Nia mengikuti sang pelayan menuju ke dalam cafe ”Mas, kok tumben cafenya sepi?” tanyanya
”Yaah namanya juga usaha nona, ada pasang surutnya. Silahkan nona duduk disini” sang pelayan mempersilahkan Nia duduk pada suatu meja yang sepertinya sudah disiapkan khusus ”Nona mau pesan sesuatu terlebih dahulu?”
”Emm gausah mas, saya pesennya nanti aja. Mau nunggu temen-temen saya dulu. Makasih ya mas”
”Baik kalau begitu saya tinggal dahulu, permisi” sang pelayan meninggalkan Nia sendiri di meja itu
Nia mengamati sekitar ’gue curiga nih pasti si Kevin udah booking ini cafe deh’ gumamnya. Nia menggelengkan kepalanya ’Ini anak gayanye sok sweet amat sih’
Tiga puluh menit, satu jam, bahkan kini hampir dua jam berlalu namun tak kunjung ada tanda-tanda kehadiran dari para sahabatnya. Ditambah lagi suasana cafe yang sunyi membuat waktu menunggu terasa semakin lama. Puluhan kali Nia menelepon para sahabatnya namun tak satupun yang menjawab. Nia berdecak ”Pada ngeselin banget sih” ujarnya geram. Nia bangkit dari kursinya dan hendak pergi meninggalkan cafe itu namun tiba-tiba........... Lampu dari tempat Nia berdiri secara berurutan menyala. Di ujung sana, tepat di bawah terang lampu tampak seorang pria berdiri membawa gitar dan menyanyikan sebuah lagu

The best thing about tonight’s that we’re not fighting
Could it be that we have been this way before
I know you dont think that i am trying
I know you are wearingthin down to the core
But hold your breathe

Pria itu berjalan menghampiri Nia yang masih mematung tak percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya malam ini.

Because tonight will be the night that i will fall for you
Over again
Don’t make me change my mind
Or i won’t live to see another day
I swear it’s true
Because a girl like you is impossible to find
You’re impossible to find

Pria itu perlahan meraih tangan Nia dan menggenggamnya

This is not what I intended
I always swore to you I'd never fall apart
You always thought that I was stronger
I may have failed but I have loved you from the start
Oh, But hold your breathe
Because tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don't make me change my mind
Or I won't live to see another day I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
It's impossible
So breathe in so deep
Breathe me in
I'm yours to keep
And hold on to your words
Cause talk is cheap
And remember me tonight
When you’re asleep

Dan terakhir pria itu bertekuk lutut di hadapan Nia sambil mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya dan membuka kotak itu di hadapan Nia. Nia semakin shock setelah dilihatnya isi kotak itu adalah sebuah kalung

Because tonight will be the night that i will fall for you
Over again
Don’t make me change my mind
Or i won’t live to see another day
I swear it’s true
Because a girl like you is impossible to find
You’re impossible to find

Pria itu menatap Nia lekat-lekat. Mengunci Nia dalam bola matanya ”Nia, gue suka sama lo. Bahkan sejak saat kita pertama bertemu. Awalnya gue kira itu cuma rasa suka biasa. Tapi semakin lama perasaan itu semakin terasa dalam dan memenuhi seluruh tempat dalam hati gue. Pertahanan gue hancur Ya, gue ga bisa lagi menyimpan rasa ini. Gue sayang sama lo” ujarnya. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam ”Nia, bersedia kah lo  menjadi tulang rusuk gue? Menjadi pelengkap dalam hidup gue?” akhirnya kata-kata itu terucap dari mulutnya
Nia masih tetap mematung, otak dan hatinya mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa ini nyata. Andika saat ini tengah bertekuk lutut di hadapannya dan memintanya menjadi kekasihnya. Nia kemudian melepaskan genggaman tangan Andika, dan menundukkan wajahnya. Andika sontak kaget, seketika tubuhnya gemetar dan melemas. ’Mungkinkah ketakutan terbesar gue akan terjadi? Bahwa Nia hanya menganggap gue sahabat?’ batinnya
”Dika.... maaf.... gue....” ujar Nia terbata-bata. Andika pun sudah pasrah dengan jawaban apapun yang keluar dari mulut Nia. Toh apapun itu, ia telah berjanji pada dirinya sendiri akan tetap mencintai Nia dan menjaga Nia
Nia mengangkat kepalanya, menatap Andika dengan tatapan lirih ”Gue gabisa Dik” ujarnya
Andika terdiam sesaat, kemudian ia bangkit dan tersenyum, ya tersenyum pahit. ”Gapapa kok Ya” ujarnya bohong. Padahal hatinya jelas hancur. Ia mengusap puncak kepala Nia sesaat sebelum ia membalikkan badannya dan hendak pergi, namun tiba-tiba...
Nia memeluk Andika dari belakang ”Maafin gue Dik, tapi gue emang bener-bener gabisa.....” Nia menggantung kalimatnya, membuat hati Dika menjadi semakin perih ”Gue gabisa kehilangan lo lagi. Gue juga sayang sama lo” ujar Nia akhirnya
DEG! Jantung Andika seketika berhenti namun sedetik kemudian menjadi berpacu dengan cepat. Ia segera membalikkan tubuhnya dan menarik Nia ke dalam dekapannya. Memeluk Nia dengan erat sampai tak tersisa ruang hampa di antara mereka
Para sahabatnya kemudian muncul sambil membawakan sebuah kue. Andika melepaskan pelukannnya, menatap Nia dan mengecup puncak kepala Nia ”Makasih Ya” ujarnya
”HOREEEEE” seru para sahabat mereka kompak
Andika kemudian memasangkan kalung itu di leher Nia, sebuah kalung berbandul hati berwarna putih itu terlihat cocok sekali untuk Nia
”Nah sekarang kita tiup lilin dulu rame-rame. Simbolis untuk perayaan atas ulang tahun Dika, hari jadian Nia dan Dika, dan atas utuhnya kembali persahabatan kita semua” ujar Adis. ”Satu..... dua... tiga!” fyuuuh lilin pun ditiup, kemudian seluruh lampu cafe dinyalakan, home band melantunkan lagu ’ingatlah hari ini’ – project pop semakin memperlengkap keindahan hari ini

...
To be Continue

Follow me on twitter @atyampela


Minggu, 15 Juni 2014

Love Between Us part 9

Rasa canggung tercipta diantara Mala dan Nia. Mereka seperti dua orang yang belum pernah berkenalan. Tak ada satu pun diantara mereka yang memulai pembicaraan terlebih dahulu
”Udah hampir sejam kita di ruang karaoke ini dan kalian masih matung aja gini?” ujar Okta yang gemas melihat kesenjangan diantara Mala dan Nia
”Tau nih. Ayo dong kalian ngomong. Dikasih mulut sama Allah tuh dipake dong” timpal Rani yang tak kalah gemasnya
”Cape gue liat kalian dari tadi begini doang” ucap Ziah
”Yaudah deh kita ga mau tau lagi soal kalian. Cabut aja yuk?” ujar Adis, kemudian ia mengambil tasnya dan beranjak bangun
”Tunggu” seru Nia dan Mala bersamaan, kemudian mereka berdua saling berpandangan satu sama lain. ”Maafin gue” ujar mereka berbarengan lagi. Adis, Okta, Rani dan Ziah senyum-senyum sendiri melihat kelakuan dua sahabat ini.
”Kok kita kayak orang bego yaa” ucap Nia sambil tertawa
”Iya, Ya” Mala pun ikut tertawa
”La, boleh ga gue peluk lo?” tanya Nia. Mala pun mengangguk. Nia bangkit dari kursinya dan mememeluk erat Mala. Air matanya seketika tumpah tak terbendung lagi. Begitu pun dengan Mala
”Maafin gue La, maafin gue” ujar Nia terbata-bata di sela-sela isak tangisnya. Mala mengangguk perlahan. Tangis mereka berdua semakin pecah. Melihat mereka berdua seperti ini Adis, Okta, Rani dan juga Ziah pun tak kuasa menahan haru dan ikut memeluk mereka. Seketika suasana menjadi hangat...
Setelah dirasa cukup, secara perlahan mereka melepaskan pelukan mereka. Senyum mereka mengembang bersamaan. Beban di hati mereka terasa meringan
”La...” Nia menggenggam tangan Mala ”Gue akan memperbaiki semuanya. Mungkin ga sesempurna sebelumnya tapi gue akan berusaha untuk mencobanya. Gue akan membuat lo dan Rio....” Mala menempelkan telunjuknya di bibir Nia sebelum Nia selesai meneruskan kata-katanya
”Ssttt... jangan diterusin lagi Ya. Kita harus bersihin virus yang udah membuat kita sakit seperti ini. Jadi lebih baik kita buang virus itu ya?” ujar Mala
Nia terdiam sejenak, tapi kemudian ia mengangguk ”Oke setuju. Sekarang kita udah ’baikan’ ya la” ujarnya. Ia mengacungkan jari kelingkingnya dan kemudian disambut oleh Mala
”Yap kita udah ’baikan’. Baikan dalam hubungan dan baikan dalam arti sembuh dari virus itu hahaha” ujar Mala
”Yeayyy kalo gitu sekarang ga ada yang galau lagi dong” ucap Okta
”Yap!! Kalem aja, happy terooss” sahut yang lain kompak. Tapi tiba-tiba Nia teringat sesuatu ”Gue masih galau deh” ujarnya lirih
”Soal Dika?” tanya Adis. Nia pun hanya menjawabnya dengan tersenyum pahit
...

Sekolah sudah sepi sejak setengah jam yang lalu, namun Andika masih duduk termenung di bawah pohon taman belakang sekolah. Matanya menatap pada sebuah kursi di seberang pohon itu, tempat favorit Nia dan dirinya untuk bersantai bersama. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat bayangannya dan Nia yang sedang bercanda ria disana namun seketika senyumnya hilang ketika mengingat kejadian dimana ia melihat Nia dan Rio jalan bersama ’Apa kebersamaan kita selama ini sama sekali ga ada artinya buat lo Ya? Apa pengorbanan gue sama sekali tak terlihat di mata lo? Apa gue harus menghilang terlebih dahulu untuk membuat lo merasa membutuhkan gue?’ batinnya. Andika mencengkram saku kemejanya ”Sakitnya tuh disini” gumamnya lirih
”Lo mau sampe kapan sih jadi penunggu nih pohon?”
Andika menoleh, dilihatnya Kevin dan Adnan sudah duduk disampingnya ”Gue ga pengen diganggu” ujarnya
”Siapa juga yang mau gangguin lo? Lo ga cape apa sembunyi mulu begini? Kayak banci tau ga lo? Yang kerjaannya ngumpet dari Satpol PP” ujar Adnan
Andika menatap Adnan dengan tajam ”Lo ga tau apa-apa jadi mendingan lo diem!” bentak Andika
”Gue tau Dik! Itu sebabnya gue bisa bilang gitu sama lo. Sekarang mendingan lo keluar dari persembunyian lo sebelum Nia lelah dan akhirnya berhenti buat mencari lo!”
”Apa? Nia lelah mencari gue? HAHAHA” Andika tertawa keras namun jelas sekali tawanya penuh kehampaan. Ia menarik kerah baju Adnan ”Lo denger ya, Nia bahkan ga pernah mencoba untuk mencari gue!”
Adnan menepis tangan Andika ”Lo yang bersembunyi terlalu sempurna hingga akhirnya Nia sama sekali ga bisa mencium jejak lo!” ujarnya yang semakin membuat Andika semakin menatapnya tajam
”Lo ga pernah main petak umpet ya Dik? Anak kecil aja kalo main petak umpet pasti nyarinya tempat yang deket dari si penjaga dan mereka bakal selalu berusaha curi-curi kesempatan buat keluar dari tempat persembunyiannya dan berusaha buat menang dari si penjaga. Mereka ga akan tuh nyari tempat ngumpet yang jauh terus diem aja di situ sampe di temuin. Yang kayak gitu justru yang bakal kalah karena dia ga berusaha buat curi-curi kesempatan buat menang dan karena dia bersembunyi terlalu jauh. Ya kalo dia bakal ditemuin. Kalo kaga? Dia bakal tetep sembunyi gitu? Bego namanya. Dan lo sama tuh begonya kayak gitu” tutur Adnan.
Andika menggigit bibirnya, tangannya mengepal dengan kuat. Ia menahan diri sekuat tenaga agar dirinya tak lepas kendali membuat mulut sahabatnya itu menjadi tidak bisa bicara lagi
”Pukul gue Dik, silahkan. Ga perlu lo tahan kayak gitu. Adu jotos mah biasa kok buat gue” ucap Adnan yang akhirnya berhasil membuat Andika hilang kendali dan bersiap melayangkan satu pukulan ke wajah Adnan namun dengan sigap Kevin menahannya
”Gausah lo tahan Vin. Biarin aja dia pukul gue. Toh itu berarti membuktikan omongan gue ini 100% tepat! Andika ini ga lebih dari seorang pengecut yang cuma bisa sembunyi” ujar Adnan
”GUE BUKAN PENGECUT!” bentak Andika
”STOP! Kalian apa-apaan sih?! Childish tau ga?!” ucap Kevin ”Dik, maaf ya tapi gue setuju sama apa yang Adnan bilang. Mending sekarang lo tunjukin deh perasaan lo ke Nia sebelum terlambat. Kalo cinta, gausah gengsi”
Andika tertawa sinis ”Lo berdua mending bikin acara TV gitu gih. Mending lo ceramah di TV aja daripada di depan gue” ujarnya kemudian berlalu meninggalkan Kevin dan Adnan
”Gila ye, batu banget tuh anak. Pengen gue hajar rasanya” ujar Adnan geram
”Akal sehatnya udah ketutup sama emosi Nan” sahut Kevin

...

Mala dan Adis menunggu Kevin dan Adnan di kantin sekolah. Tak beberapa lama yang ditunggu pun datang
”Gimana? Andika otaknya udah normal belom?” tanya Adis
Kevin dan Andika menarik nafas bersamaan ”Makin sakit malah” ujar Kevin
”Kok bisa? Emang kamu ngomongnya gimana Vin sama Dika? Kamu udah bujuk-bujuk dia kan?” tanya Adis lagi
”Kamu nanya sama Adnan aja deh ya, aku mau beli minum dulu” ujar Kevin yang kemudian meninggalkan mereka bertiga. Adis kemudian beralih menatap Adnan dengan tatapan mata mengintrogasi memita penjelasan
”Aduh paling males deh gue ngejelasin apa-apa ke cewe” gumam Adnan
”Adnan!” bentak Adis
”Ya, ya, ya... Dis, maaf ya gue sama Kevin ini lelaki tulen jadi kalo ngebujuk-bujuk sih jelas gue ga bisa. Tapi..... gue udah nasehatin dia kok, Dika nya aja yang batu” tutur Adnan
”Pasti pake gulet deh. Yakan?” tanya Adis
”Engga sih ye sotau banget liat aja kita sehat wal afiat gini. Tapi hampir sih emang hahahha”
”Ahh dasar cowo! La, gimana nih?” Adis beralih bertanya pada Mala. Namun Mala tak memberikan respon apapun. Ia justru fokus memperhatikan hal lain.
”La?” tanya Adis sekali lagi, namun Mala tetap tak bergeming justru setetes air mata malah meluncur membasahi pipinya. Adis pun menoleh dan melihat penyebab Mala menangis. Ada Rio di seberang sana.
”Dis, Nan, gue pulang dulu deh ya, udah sore. Nanti lo kabarin gue aja ya Dis” pamit Mala. Tanpa menunggu jawaban dari Adis dan Adnan ia pun pergi meninggalkan mereka.
”Nan, anterin mala pulang Nan tolong cepetaaaaan” Adis menepuk-nepuk bahu Adnan
”Harus emang Dis?”
”Harus!” tegas Adis
”Tapi gue laper mau makan dulu ah” kilah Adnan
”ADNAN!” jerit Adis
Adnan langsung menutup kupingnya dan bangkit dari tempat duduknya ”Iya, iya, dasar semua cewe emang ribet” omelnya kemudian pergi menyusul Mala

...

”Adnan sama Mala mana Dis?” tanya Kevin yang baru saja selesai membeli minuman. ”Ehiya aku beliin kamu bakso nih, kamu makan ya Dis” Kevin kemudian meletakkan semangkuk bakso di hadapan Adis
”Aku suruh Adnan nganter Mala balik. Kok kamu ga nanya dulu sih aku udah makan apa belom, main langsung beliin aja?”
”Ohh gitu. Udah terlalu mainstream Dis cowo yang bisanya cuma nanya ’udah makan belom?’ aku kan anti mainstream hahaha. Lagian kalo kamu udah kenyang kan bisa aku yang makan”
Adis mencubit lengan Kevin ”Bawa terbangnya pelan-pelan kek Vin, jantung aku bisa copot nih lama-lama” ujarnya sambil tersenyum malu-malu
Kevin pun ikut tersenyum mendengarnya, ia kemudian mengusap kepala Adis dengan lembut ”Kamu tenang aja ya, aku bukan histeria kok yang ngebawa kamu naik pelan-pelan sampe tinggi banget terus akhirnya ngejatohin tiba-tiba. Percaya deh sama aku. Udah ahh makan tuh cepet nanti keburu dingin”
Kevin, adalah orang yang dipilih Adis untuk ia berikan kepercayaan menjaga hatinya, mengunci setiap cinta yang ada di dalamnya hanya untuk Kevin seorang
”Ehiya Dis, kamu lagi smsan sama Nia ga?” tanya Kevin kemudian
”Aku sms dia tadi tapi belom di bales sama dia. Mungkin tidur kali ya?”
”Tadi pas jam istirahat si Nia makan sama kamu ga?”
Adis menggelengkan kepalanya ”Aku ajak dia ke kantin tapi dia malah ke perpus. Kayaknya dia belom makan deh selama di sekolah”
”Aku takut dia ngedown deh. Nanti kalo kamu udah selesai makan kita langsung pulang ya? Abis itu aku mau ke rumah Nia biar nanti ga kemaleman. Boleh kan?”
”Oke, boleh” ujar Adis, kemudian ia mempercepat makannya
”Ga usah cepet-cepet gitu juga makannya”
”Lah kan biar kamu ga kesorean banget ke rumah Nia nya. Nanti kalo pulangnya kemaleman ntar kamu kecapekan kan besok sekolah”
Kevin menatap lekat-lekat wajah Adis ”Kamu cemburu ga sama Nia?” tanyanya hati-hati
Adis menatap Kevin dengan tatapan bingung, kemudian ia tertawa kecil ”Kamu mau aku jawab jujur apa bohong?” tanyanya
”Coba kalo kamu jawab bohong”
”Oke, bohongnya adalah aku gak cemburu” jawab Adis
Kevin mendadak menegang mendengar jawaban Adis ”Jadi..... sejujurnya kamu itu cem...bu....ru?”
Adis tersenyum ”Jujurnya sih.......” ia menggantung kalimatnya, menikmati raut wajah cemas di wajah Kevin yang justru membuatnya semakin manis. Ia kemudian mencubit hidung Kevin ”Aku tetep ga cemburu kok. Dan aku tau kamu bukan tipe cowok brengsek. Aku pun bakal bilang langsung kalo ada yang ga aku suka dari kamu. Udah terlalu mainstream cewe yang cemburuan. Aku kan belajar anti mainstream dari kamu hahaha” ujarnya
”Dis, kamu tuh bener-bener harus masuk rekor MURI karena kamu itu satu-satunya cewe yang udah mengambil seluruh hatiku tanpa sisa”

...

Air mata Mala sudah bercucuran, ia tak menghiraukan Adnan yang terus memanggil namanya di belakang
”Ck!” Adnan berdecak, kemudian ia mempercepat langkahnya dan menghadang Mala ”Gue anterin lo pulang”
Mala menunduk menyembunyikan wajahnya yang telah basah oleh air mata ”Gue bisa pulang sendiri kok” ujarnya lirih
Adnan membalikkan tubuhnya membelakangi Mala ”Nih punggung gue terserah deh mau lo pukul kek, cakar kek, tendang kek, apain aja terserah tapi kalo udah puas gue minta lo nurut buat gue anter pulang”
Mala mengangkat kepalanya perlahan, menatap punggung Adnan di hadapannya. Ia kemudian memukuli punggung itu ”Kenapa sih lo ga hilang aja dari muka bumi ini? Kenapa rasa ini masih tertinggal? Kenapa? Kenapaaaaa?” ujarnya sambil terisak dan terus memukul punggung Adnan
Setelah dirasanya Mala sudah tak lagi memukulnya, Adnan kembali menoleh ke arah Mala ”Udah puas?” tanyanya. Mala pun mengangguk. Adnan mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan menyodorkannya pada Mala ”Nih, elap tuh ingus lo” ujarnya. Mala buru-buru mengambil sapu tangan yang disodorkan Adnan. Melipat sapu tangan itu membentuk segitiga dan mengunakannya sebagai masker untuk menutup hidungnya
”Kayak maling deh lo La” ledek Adnan
”Semaling-malingnya gue tetep aja gue ga bisa ngambil hati doi” gumam Mala
Adnan merangkul bahu Mala ”Udah deh La, kalo sama gue mah jangan ngomongin doi-doian oke? Sekali-kali gak peka sama keadaan boleh lah asal ga kelewatan kaya si Nia aja”
”Hahaha iya bener juga lo Nan. Ngapain juga gue galauin orang yang ga galauin gue?”
”Yoayy!! Untuk itu kita have fun ajalah sekarang”

...



Andika memasuki rumahnya dengan langkah gontai ”Assalamualaikum, aku pulang” ujarnya lemas
”Waalaikum salam. Kok akhir-akhir ini kamu pulang telat ga ngabarin dulu kayak biasanya sih Dik?” tanya Mamahnya
Andika mencium tangan mamahnya ”Emangnya selama ini aku kalo pulang telat pernah ngabarin mamah?” Andika justru malah bertanya balik
”Iyaa nak, kamu tuh biasanya sms mamah buat ngabarin mamah alasan kamu pulang telat”
Andika masih tetap bingung dengan ucapan mamahnya ”Aku ga pernah ngerasa sms mamah deh kalo pulang telat”
”Masa iya kamu ga inget sih. Nih kamu baca aja sendiri sms kamu di hape mamah” sang mamah pun memberikan handphonenya pada Andika.
Andika membaca dengan seksama pesan demi pesan yang ada di handphone mamahnya. Pesan yang dikirim dari handphonenya sendiri, padahal ia tak pernah merasa sekalipun kalau ia pernah mengirim sms tersebut. ’Nia’ ucapnya dalam hati. Ia hafal betul ketikan Nia. Jadi inilah alasan Nia selalu meminjam handphonenya, yaitu untuk memberi kabar kepada mamahnya. ”Ini pasti kerjaan Nia” gumamnya
”Ah iya mamah hampir lupa, kamu ikut mamah ke dapur yaa” sang mamah menggandeng Andika ke dapur dan menyuruhnya untuk duduk di meja makan sebentar
”Kok ada kue mah?” tanya Andika heran
”Hari ini kan hari spesial” ujar mamahnya sambil senyum-senyum
”Hari spesial apa sih mah?” Andika semakin bingung
”Happy Birthday sayang” ujar sang mamah sambil mengecup kening anaknya
Andika masih tetap bingung, namun sedetik kemudian ia paham ”Ya ampun Mah, aku sendiri aja lupa” ujar Andika
”Hari ini mamah udah masak spesial buat makan malem kita. Ohiya kalo bisa nanti ajak Nia ikut makan malem yaa”
”Nia?” tanya Andika
”Iya, Nia. Kue ini kan dari dia loh. Yang mamah beli sih masih ada tuh di kulkas buat nanti malem. Yang ini khusus buat kamu. Tadi dia sendiri yang nganterin kesini, niatnya mau dia langsung yang ngasih kamu surprise eh kamunya ga pulang-pulang, yaudah deh akhirnya Nia yang pulang ke rumahnya. Oiya dia juga nitipin sesuatu lagi buat kamu. Bentar ya mamah ambilin dulu” sang mamah mengambil sebuah kotak yang ada di kolong meja ”Nih buat kamu dari Nia juga”
Air muka Andika seketika berubah menegang. Gemetar ia mengambil kotak itu ”Da...ri Ni...a mah?” tanyanya terbata-bata
Sang mamah mengangguk mantap ”Ehiya kuenya mau kamu makan sekarang ga? Ini Nia yang bikin sendiri loh. Mamah salut deh sama Nia. Kalo kamu pacaran sama dia gaperlu minta persetujuan mamah lagi deh. Mamah seratus persen setuju. Duh mamah jadi ngebayangin kalo Nia itu jadi bagian dari keluarga kita bisa tiap hari masak bareng sama dia deh. Secara kan mamah cuma punya dua anak laki-laki yang super mageran......” celoteh mamahnya panjang lebar
Sementara itu Andika masih menatap kaku sebuah kotak yang ada di tangannya itu. ”Mah aku ke kamar dulu” ucapnya kemudian berlalu meninggalkan mamahnya
”Loh Dik mamah kan lagi ngayal nih. Hey kue nya gimana nih? Mamah ga tanggung ya kalo dimakan sama Ardi”
Hening, sepi, sendiri....
Andika menatap kotak yang ada di tangannya itu, kemudian ia membukanya perlahan. Sebuah birthday card berwarna biru muda terselip di sisi kotak. Andika mengambilnya dan betapa terharunya ia ketika ia membukanya. Sebuah birthday card tiga dimensi yang Nia buatkan khusus untuknya. Ia mampu merasakan kehangatan tangan Nia saat menyentuhnya. Kemudian pandangan matanya beralih pada sebuah buku kecil berwarna kuning dan bersampul bunga yang tersambung pada birthday card itu yang jelas sudah pasti Nia juga yang membuatnya sendiri. Ternyata di dalam situ tertuang kata demi kata yang tak mampu Nia sampaikan langsung pada Andika


Happy Birthday
Selamat bertambah usia yaa Dik semoga lo makin dewasa
Semoga lo senantiasa dalam lindungan Allah SWT
Semoga lo senantiasa berada di jalan yang baik dan benar
Dik...
Maafin gue yaa..
Maafin gue yang udah nyakitin lo ini
Lo itu bagai matahari. Yang selalu menyinari hidup gue
Lo itu bagai pelangi. Yang selalu memberikan kebahagiaan setelah kesedihan
Lo itu bagai bintang. Yang memancarkan cahaya ketika gue sedang ’gelap’
Lo itu bagai atmosfer. Yang selalu melindungi gue
Lo itu bagai hujan. Yang selalu menyamarkan air mata gue
Lo itu bagai langit. Yang selalu menjadi tempat untuk gue melampiaskan segala kegelisahan
Lo itu adalah dunia gue, tempat dimana gue hidup.
Tanpa lo gue kehilangan segalanya
Maafkan kebodohan gue yang ga menyadari betapa pentingnya lo selama ini
Kalo ini menjadi kado terakhir dari gue, gue harap lo simpan ini baik-baik ya
Karena ini cuma lo seorang yang punya, gaakan ada orang lain yang memiliki sama persis seperti ini
















birthday card 























Tangan Andika bergetar hebat. Jantungnya berdetak semakin cepat. Sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Belum selesai ia tercengang dengan isi surat itu, ada lagi yang membuatnya darahnya semakin berdesir. Bingkisan itu terbungkus rapi sampai Andika membukanya. Sebuah kaos berwarna putih yang bergambarkan wajah Andika yang sedang tersenyum. Di bawahnya terdapat tanda tangan Nia sebagai tanda bahwa Nia lah yang membuatnya.
Ya, semuanya memang hanya Andika seorang yang memiliknya. Semua itu takkan ditemukan di pasar atau mall karena Nia lah yang membuat langsung dengan tangannya sendiri.
Andika menyentuh dadanya. Rasanya semakin sesak disana, semakin sakit, semakin perih. Ia teringat ucapan Adnan. Sembunyi hanya untuk orang-orang yang tak berani menatap kenyataan. Sekalipun Nia bukanlah orang yang ditakdirkan untuknya, seharusnya ia tak menyia-nyiakan kebersamaan mereka ini

...

”Ya, ini kue bikinan lo? Sumpah ini enak banget ga bohong gue” ujar Kevin sambil terus melahap sepiring kue yang Nia hidangkan untuknya
”Biasa aja sih bang makannya, kayak orang ga makan setaun tau ga lo?”
”Tapi ini beneran enak Ya, udah cocok lo jadi calon istri. Mau jadi istri kedua gue ga Ya? Hahaha” goda Kevin
Nia menjitak kepala Kevin ”Udah dapet Adis masih aja nyuri-nyuri kesempatan lo ye”
Kevin tertawa terkekeh-kekeh ”Yakali aja gitu. Kan mayan istri pertama gue orangnya sabar dan pengertian banget nah istri kedua gue orangnya multitalented. Bahagia ga tuh hidup gue hahahaha”
Nia menarik nafasnya dalam-dalam ”Hari ini kan ulang tahunnya Dika, bang. Dulu kita rayain bareng-bareng. Makan bareng, ketawa-ketawa, nyeplokin dia, terus malemnya makan malem plus selametan dirumah Dika” ujarnya sambil tersenyum, senyum yang penuh kehampaan
Kevin menepuk bahu Nia perlahan ”Iya gue tau. Lo adalah satu-satunya cewe yang paling mengerti Dika. Jangan kecewa atas perubahan Dika ya, Ya. Anggap aja ini cuma drama dimana lo dan Dika harus berperan sebagai musuh”
”Kalo ini drama, gue bakal minta naratornya buat langsung bacain endingnya aja deh. Biar gue sama Dika ga musuhan lama-lama”
Kevin mengacak-acak rambut Nia ”Apa asiknya kalo langsung ending? Berarti lo ga tau jalan ceritanya dong? Dimana-mana butuh proses Ya. Yang sekarang bisa kita lakuin cuma ngejalanin apa yang udah tertuliskan di naskah. Kita ikutin alur ceritanya sampe akhirnya nanti cerita ini tamat. Gaperlu takut, setiap cerita pasti mempunyai akhir kok. Ada yang happy-ending ada yang gantung-ending ada juga sad-ending. Tergantung kita jalaninnya gimana” tutur Kevin ”Udah ngapa jangan sedih mulu. Ga ngehargain gue banget lo. Lo bayangin dong gue ga ngapelin Adis cuma buat menghibur lo”
Nia tertawa ”Siapa juga yang minta lo dateng? Insting makanan lo aja tuh yang kuat. Tau aja kalo gue lagi masak enak. Ehiya btw tapi lo udah bilang sama Adis kan kalo lo ke rumah gue?”
”Hahaha. Udah bilang kok, tenang aja. Adis bukan tipe cewe yang cemburuan. Apalagi kan lo ini sahabat gue, sahabatnya dia juga”
Nia menggelengkan kepalanya ”Bang Kevin... denger nih ya jangan bisanya ceramahin gue aja. Iya gue tau gue ini sahabatnya Adis dan sahabat lo juga. Tapi bukan berarti cemburu ga bisa hadir menembus kita kan?”
Kevin terdiam sejenak ”Tapi prinsip gue, gue ga mau persahabatan gue berubah karena gue udah punya pacar Ya”
”Iya, iya yaudah deh jangan dibahas lagi”
...