Selasa, 12 Mei 2015

Cinta Lama Bersemi di Dufan (cerpen) #DiskonDufan #LombaBlog #Blogger #Bloggerid #Love #Lomba #Ancol

Drrtt...drttt handphoneku yang tiba-tiba bergetar memecah konsentrasiku yang sedang mencatat rumus-rumus statistik di papan tulis.

Dengan gerakan perlahan ku lihat siapa yang mengirimiku pesan pagi-pagi begini

Besok libur kan? Temenin ke dufan yuk? Lagi ada promo bikers loh. Mau kan? Udah mau aja ya, lagian aku ga terima penolakan. Besok aku jemput jam 10. See you:)

Aku mengernyitkan dahiku. 'Apa-apaan anak ini? Ini ajakan atau ancaman? Kenapa aku tidak diberikan pilihan sama sekali?', desisku dalam hati. Dengan malas aku kembali berkutat dengan catatanku. Arghh rasanya karena sms dari pria menyebalkan tadi sekarang aku jadi kehilangan mood untuk menulis.

Ku tutup buku catatanku, kemudian ku arahkan kaki ku melangkah mendekati wanita paruh baya yang masih asik menorehkan tinta spidol membentuk sederetan rumus di papan tulis itu. "Bu Dian, saya izin ke toilet yaa" ujarku padanya. Setelah mendapat anggukan persetujuan darinya dengan cepat aku melesat menuju toilet untuk mencuci mukaku. Setidaknya aku butuh sesuatu yang segar untuk otakku yang tiba-tiba buntu karena baru saja mendapat pesan dari seseorang yang menyebalkan itu.

***
"Sudah siap?" tanyanya ketika melihatku turun dari tangga rumahku.

Aku terjengit mendapati suara lelaki itu di telingaku "Kamu supir taksi ya? Cepet amat datengnya" cibirku padanya.

Ia hanya tertawa kecil menanggapi ejekanku "Cinta Sarastika, kemarin ku bilang akan menjemputmu jam 10 kan? Lihat bahkan sekarang sudah jam 10 lewat 8 menit" ujarnya sambil melihat jam tangan digital yang melingkar di pergelangan tangannya.

Aku memutar bola mataku malas "Waelaah telat 8 menit doang" desisku pelan

"Biasakan menghargai waktu" ucapnya tegas. 'Ups dia mendengarnya ternyata', batinku

"Iyaa. Maaf ya mas Aryo Aprilio. Jadi pergi ga nih? Apa masih mau ngomel?" tanyaku padanya. Malas saja rasanya jika harus meributkan hal sepele seperti ini.

"Aku hanya mengingatkan bukan ngomel" koreksinya "Ayo kita pergi sekarang" lanjutnya kemudian berjalan mendahuluiku menuju teras rumah.

Aku pun mengikutinya dari belakang, setelah berpamitan dengan orangtuaku kami pun segera melaju menuju tempat tujuan kami. Dunia Fantasi Ancol.

Sepanjang perjalanan tidak ada komunikasi di antara kami. Kami berdua sibuk dengan pemikiran kami masing-masing.

Aku sebenarnya tidak membenci pria ini, hanya saja agak kurang nyaman berada di dekatnya mengingat statusnya kini adalah mantan kekasihku. Meski kami berpisah dengan baik-baik tetap saja sejujurnya aku merasa tak sebaik itu, karena jika memang baik-baik saja tentu tidak akan terjadi perpisahan kan?

Lelaki yang terpaut usia tiga tahun lebih tua dariku ini memiliki ambisi dan visi misi yang besar dalam hidupnya. Ia pun sangat disiplin dalam segala sesuatunya. Membuatku yang masih memiliki sifat kekanakkan ini terkadang sulit mengimbanginya. Meskipun tak bisa ku pungkiri sebenarnya itu adalah hal yang bagus namun tetap saja aku merasa tidak nyaman. Yaa kalian mengerti kan seperti apa wanita?

Puncaknya saat ia meminta izin dariku untuk melanjutkan S2nya di luar kota, padahal saat itu ia baru saja menyelesaikan S1nya. Ku fikir ia akan meliburkan diri terlebih dahulu dengan bersenang-senang denganku. Namun ternyata aku salah, ia sudah mendaftar terlebih dahulu sebelum meminta izin dariku. Membuatku mau tak mau harus menyetujuinya. Namun aku mengajukan satu persyaratan, aku mengizinkannya pergi namun dengan syarat hubungan kami berakhir sampai disini. Aku memintanya untuk kembali berteman saja dan mengakhiri masa pacaran ini.

Dengan alasan 'tak bisa setia jika berhubungan LDR' aku meminta putus darinya. Ku akui aku bohong saat itu, karena bahkan sampai saat ia kembali kesini pun aku masih tetap dengan status single ku. Alasan utamaku sebenarnya adalah karena aku merasa tidak diprioritaskan olehnya. Ia selalu menanyakan pendapatku setelah ia memutuskannya sendiri, bukan sebelumnya. Membuatku merasa sepertinya pendapatku tidak berpengaruh untuknya.
Dengan berat hati ia mengabulkan permintaan putus itu. Namun ia juga mengajukan satu syarat, yaitu jika saat ia kembali nanti dan aku masih belum ada yang punya maka ia memintaku untuk memberikannya kesempatan kedua dan memulai hubungan ini lagi dari awal. Saat itu aku hanya mengatakan 'lihat saja nanti' dan beginilah akhirnya, hubungan kami menjadi menggantung tanpa adanya status.

"Sudah sampai" ujarnya membuyarkan lamunanku.

Aku tersentak saat mendapati wajahnya berada tepat di depan wajahku, pandangan matanya menelusuk masuk seolah sedang mencari sesuatu di dalam mataku. Membuat rasa panas menjalar di kedua pipiku "mikirin apa kamu?" Tanyanya.

Aku memalingkan wajahku, mengatur degup jantungku yang berdetak tak karuan. Kalau seperti ini sih rasanya tanpa perlu naik wahana histeria sekalipun jantungku pasti sudah copot karena tatapan mata elangnya itu. "Kepo amat" jawabku asal.

Ia memundurkan wajahnya, membuatku akhirnya merasa lega. "Yaudah kalo gamau ngasih tau yaa gapapa" ujarnya. Kemudian ia mengulurkan tangannya di hadapanku.

Aku menatap uluran tangannya itu sambil menaikkan sebelah alisku "Apa?" tanyaku bingung

"Kok apa sih? Ya #gandengtangan lah" jawabnya santai tapi sukses memunculkan rasa yang tidak santai dalam hatiku. Meski bukan kali pertama jalan bersama saat ia kembali dengan gelar magisternya, namun ini pertama kalinya ia meminta bergandengan tangan setelah kami putus.

"Jalan sendiri-sendiri aja" jawabku kikuk

Ia mendesah pelan "Disini rame, nanti kalo kamu jalannya ketinggalan terus nyasar gimana? Aku sih ogah ah nyari-nyari kamu, mending tinggal pulang aja" ujarnya datar

Aku melongo sejenak mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya 'Ehh ucet kejam amat padahal yang ngajak kesini kan dia', gerutuku dalam hati. Mau tak mau akhirnya aku pun menyambut uluran tangan itu. Dan benar saja, saat kulit kami saling bersentuhan jantungku mendadak berdisko. 'Ahh bodoh sekali, memangnya aku anak SMA yang baru puber? Masa gandengan tangan begini saja membuatku gemetar? ', rutukku dalam hati.

Ia tersenyum puas, kemudian #sambilmenggandengerattanganku ia membawaku menyusuri tempat ini.

***
Kami memaiki wahana yang memacu adrenalin terlebih dahulu seperti halilintar, histeria, tornado, ontang-anting, kora-kora dan lain sebagainya. Permainan yang membuat jantungku serasa tertinggal beberapa kali. Terlebih lagi genggamantangan yang terus melekat ini. Membuatku serasa sedang olahraga jantung. Aku tak menyangka aku yang tadinya malas pergi menjadi sangat menikmatinya. Ini benar-benar #liburanserudidufan

Kulirik sekilas lelaki yang lebih tinggi dariku ini. Senyum manisnya pun juga tak hilang dari raut wajah tampannya. "Apa liat-liat? Iya aku tau aku tampan" ujarnya yang langsung mendapat cibiran dariku

"Huh narsis" jawabku

"Kita makan dulu yuk? Aku gamau cacing-cacing di perutmu itu mendemo" ajaknya.

Aku mengangguk menyetujui ajakannya. Kuakui perutku ini lapar lagi meskipun tadi pagi aku sudah menghabiskan dua piring nasi goreng. Mungkin energiku habis karena mengantri dan berteriak-teriak histeris tadi.

"Mau makan apa?" Tanyanya sambil melihat-lihat daftar menu.

"Apa aja terserah kamu" jawabku

Ia melirikku sekilas "Kok terserah aku? Yang makan kan kamu kenapa ngikutin aku? Nanti kalo ga sesuai selera gimana?" Tanyanya

"Aku omnivora kok, apa aja aku makan" jawabku. "Lagian gimana sih masa calon imam gamau diikutin" lanjutku kemudian

Kulihat tubuhnya menegang sesaat kemudian seringai nakal tercetak di bibirnya. 'Ah yaampun aku pasti telah salah ucap', gerutuku dalam hati.

"Oohh jadi calon makmumnya udah sadar diri nih? Jadi kapan kata 'calon'nya mau dihilangin supaya lebih sah gitu?" ujarnya menggodaku sambil menaikturunkan alisnya seraya menggodaku.

"Apaansih ngarep banget" cibirku

"Ya emang" jawabnya tegas yang langsung membuatku tersentak. "Kalo aku ga ngarep mana mungkin aku masih mengejarmu sampai sekarang ini?" Tuturnya sambil menatapku tepat di manik mata.

Aku memalingkan wajahku untuk menghindari tatapan tajamnya itu "Jadi kita makan apa nih? Duh kayaknya ketua perhimpunan cacing di perutku udah mulai orasi deh" ujarku mengalihkan topik pembicaraan.

Ia tersenyum simpul sambil mengelus puncak kepalaku. Seolah mengerti bahwa aku sedang tak ingin membicarakan hal itu. Selang beberapa waktu kemudian kami sudah asik menyantap makanan kami sambil berbincang-bincang ringan

Selepas mengisi perut, kami melanjutkan lagi perjalanan kami untuk menaiki wahana lainnya yang belum kami coba. Kali ini kami memilih wahana yang lebih santai. Bukan apa-apa, rasanya sayang sekali jika makanan yang baru masuk perut ini harus keluar lagi jika menaiki wahana yang menjungkir balikkan tubuh itu.

Wajah Aryo terlihat masam saat aku mengajaknya ke wahana rumah boneka dan wahana feminim lainnya. Yaa aku mengerti bagaimana rasanya masuk ke wahana seperti itu dengan tampang maskulinnya pasti sangat tidak mengenakkan. Namun yang membuatku terharu adalah ia tetap mengikuti kemauanku, bahkan disaat aku ingin membatalkan antrian karena tidak enak padanya ia justru mencegahku. "Aku ngajak kamu kesini karena mau buat kamu seneng. Asal kamu seneng aku ga masalah kok. Biasakan untuk mengatakan apa saja yang ada dalam pikiranmu padaku tanpa ragu" ujarnya. Ingin sekali ku cubit pipinya saat mengatakan itu. Gemas!

Kini kami sedang menaiki wahana bianglala raksasa. Aku bisa melihatnya sedang tersenyum padaku melalui sudut mataku. Sejak tadi aku memang menghindari tatapan matanya itu, bukan apa-apa karena bila bertatapan terlalu lama dengannya akan berdampak tidak baik untuk jantungku yang berdisko tak karuan.

"Ternyata memang tepat yaa mengajakmu kesini. Cocok dengan sikapmu yang kekanakkan" godanya

Aku mendengus "Aku bukan kekanakkan, kamu saja ysng terlalu tua" balasku mengejeknya

Ia tertawa sambil mengacak rambutku "Kamu senang?" Tanyanya kemudian

Aku mengangguk "it's #neverendingfun for me today. Thankyou" jawabku jujur

Aryo mengangguk sambil tersenyum "Anything for you" jawabnya. Kemudian tak ada obrolan lagi di antara kami. Hanya terdengar suara degup jantung kami yang saling bertautan
Setelah kami turun dari wahana itu, Aryo meminta izin padaku untuk pergi ke toilet sebentar, aku pun memilih menunggunya di salah satu bangku yang tersedia. Ku lirik jam tanganku dengan cemas, sudah lewat setengah jam tapi Aryo belum kembali

Aku mulai gelisah, 'Apa terjadi sesuatu padanya?', batinku.

Namun dari kejauhan ku lihat seorang pria yang sebagian tubuhnya tertutup boneka mendekat ke arahku. Ia kemudian berlutut di hadapanku. Aku terbelalak saat melihat lelaki di balik boneka itu ternyata Aryo. Seingatku, Ia bukanlah tipikal orang yang mau repot-repot seperti ini.

"Cinta Sarastika" panggilnya lembut sambil menggenggam tanganku. Ulahnya itu membuat pengunjung lainnya memandang ke arah kami, menonton aksi sok romantisnya ini. Aku mendesah pelan dalam hati. Menahan rasa grogi sekaligus rasa senang. Perilakunya seolah-olah hanya ada kami berdua disini, seolah #inidufankami dan orang-orang lain hanya sekadar lewat.

"Will you marry me? Will you spend your time together with me untill the end of my life?"

Aku menjerit senang dalam hati. Orang-orang yang melihat kami pun ikut histeris. "Terima... terima... terima!" Seru mereka

Aku menatap matanya sejenak. Ku lihat sorot keseriusan di matanya itu. Aku pun akhirnya mengangguk setuju menerima lamarannya. Begitu melihatku mengangguk, Aryo langsung menarikku dalam dekapannya, tepuk tangan riuh dari para pengunjung pun seketika terdengar saat Aryo memelukku. Aku mempererat pelukanku, membenamkan wajahku dalam dada bidangnya. Aku tak menyangka jika cinta lamaku akan bersemi lagi di Dufan ini.

***

Dan akhirnya kami menghabiskan malam liburan kami ini di atas wahana komidi putar. Bisa ku lihat ia memandangiku sambil tersenyum manis

"Apasih senyum-senyum mulu awas tuh gigi kering" gerutuku padanya.

Ia tertawa kecil sambil mencubit pipiku "Sensian banget sih bocil" ledeknya.

Aku mendengus "Bocil sih dilamar" ujarku.

"Abis cinta sih" jawabnya. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. 'Aryo sejak kapan sih jadi terang-terangan gini', geramku dalam hati.

Ia menarik daguku lembut hingga pandangan kami bertemu "Mungkin suatu hari nanti di hubungan kita akan terjadi sesuatu yang menaikturunkan emosi kita berdua seperti wahana-wahana histeria, halilintar dan lain-lain. Saat itu ku harap kita berdua bisa saling memahami emosi masing-masing. Jangan ragu untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatimu padaku" tuturnya.

"Aku ingin kita lebih sering duduk santai berdua mengakui perasaan yang terpendam dalam diri seperti saat di bianglala tadi. Dan terakhir, kita saling mengoreksi diri seperti saat ini. Perbedaan karakter diantara kita jangan lagi kamu permasalahkan. Aku akan mencoba untuk bersabar menghadapi sikap kekanakanmu, dan ku harap kamu juga bisa bersabar bila terkadang aku menjadi terlalu ambisius. Love me like you do and i'll love you just the way you are" diakhirinya ucapannya itu dengan kecupan di keningku.

Bulir air bening meluncur dari kedua bola mataku. Sekarang aku merasa bersalah karena dulu meninggalkan lelaki yang padahal begitu mencintaiku ini hanya demi egoku. Kini aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu berada disisinya apapun keadaannya.

Terima kasih untuk liburan yang sangat berarti ini. Dufan akan menjadi saksi kembalinya cinta kami hari ini.


The End


Minggu, 03 Mei 2015

To Standing Without You (cerbung) part 5

Nethali duduk di dalam bus sambil mendengarkan musik dari ponselnya. Dari balik jendela di sebelahnya ia dapat melihat dengan jelas hiruk pikuk jalan raya pagi hari ini. ia merutuk dalam hatinya, mengutuk kegiatan ekstrakurikuler yang padahal ia pilih sendiri atas keinginannya. ”Padahal harusnya gue santai-santai di rumah nih” rutuknya dalam hati
Brukk! Tiba-tiba terdengar suara tumpukkan kertas terjatuh, asal suara itu ternyata dari orang yang baru saja hendak duduk di sebelahnya. Nethali dengan segera membantu orang tersebut mengumpulkan lembaran kertasnya yang berserakan di bawah. ”Nih kertasnya, hati-ha......” kalimatnya menggantung, Nethali langsung mencibirkan bibirnya begitu melihat wajah si pemilik kertas-kertas itu. Ia meletakkan kertas yang dipungutnya di kursi, kemudian ia berbalik kembali menghadap jendela ”Kalo tau die mah ga bakal gue tolongin dah” omelnya dalam hati. Meski baru satu kali pertemuan dan bahkan pertemuan itu pun tidak memberikan kesan yang baik, Nethali hafal betul rupa wajah orang tersebut. Ya, orang itu adalah lelaki menyebalkan yang tak sengaja bertemu dengannya di bus satu tahun yang lalu
Orang tersebut kemudian duduk di sebelah Nethali ”Makasih ya Mbak” ujarnya
”Mbak? Kapan gue nikah sama Mas lo?” jawab Nethali ketus tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya
”Siapa yang ngomong sama lo? Orang gue ngomong sama mbak-mbak yang duduk di depan gue” ujarnya
Nethali menggigit bibir bawahnya geram ”Tuh kan sebul mulu gue kalo ketemu ini cowok” desisnya
Lelaki itu tertawa kecil ”Kalau di pikir-pikir dulu kayaknya pernah ada kejadian kayak gini juga deh ya, makanya jangan terlalu kepedean non”
Nethali menoleh ke arah cowok itu ”Heh! Lo nya aja yang kalo ngomong ga jelas” ujarnya
”Kayaknya tadi gue ngomongnya jelas banget deh ’Makasih ya mbak’ lah situ ngerasa mbak-mbak?”
Nethali mendengus kesal, ia akhirnya memilih bungkam daripada harus adu argumen sama lelaki bermulut pedas ini. toh sebentar lagi ia juga akan tiba di sekolahnya dan makhluk di sebelahnya ini pun akan lenyap dari pandangannya
Namun sepertinya ia salah mengira, laki-laki itu ternyata ikut turun di tempat yang sama dengannya. Bahkan ia pun juga mengikuti Nethali sampai ke gerbang sekolah
”Ngapain sih ngikutin gue?” tanya Nethali
Sang lelaki yang ditanya justru malah celingukan ke kanan dan ke kiri layaknya mencari sesuatu ”Mana yang ngikutin lo? Mana ga ada tuh?”
Nethali berdecak ”Ya elo lah yang ngikutin gue, siapa lagi!”
”Woii sob, petan masuk” seru seseorang dari belakang Nethali yang langsung disambut dengan anggukan kepala dari lelaki yang sedang berdiri di hadapan Nethali
Nethali menoleh ke belakang, kemudian menoleh lagi ke arah lelaki yang tadi dituduhnya itu lalu ia menggigit bibir bawahnya ”Ahshit gue salah lagi, dia ternyata mau ketemu temennya bukan ngikutin gue” desisnya dalam hati
Lelaki itu berjalan melalui Nethali, namun ia sempat berhenti sejenak ”Maaf ya kalau merasa ’diikuti’” ujarnya setengah tersenyum meledek kemudian berlalu pergi
Nethali mencibir sambil memukul-mukul kepalanya sendiri ”Bodoh, bodoh” rutuknya. Ia pun kemudian berlalu menuju ruang kelas ekstrakurikulernya
Sesampainya di kelas, Nethali langsung menghempaskan tubuhnya di atas bangku ”Net, kenapa lu?” tanya Rizka –teman di sebelahnya–
”Bete!” jawab Nethali singkat. ”Ini senior belum pada dateng? Katanya mau ngomongin soal acara penggalangan dana?” tanya Nethali
”Udah dateng kok, itu lagi ngobrol sama tamu yang mau ikut ngebantuin acara ini, mahasiswa loh Net, ganteng pulaa” seru Rizka antusias
Tak lama yang dibicarakan pun datang ”Maaf yaa nunggunya lama” sapa senior mereka. ”Okee gini kita langsung to the point aja yaa, sekolah kita kan mau ngadain acara penggalangan dana untuk membantu sekolah lainnya yang membutuhkan. Dan dari setiap organisasi atau kegiatan ekstrakurikuler di sekolah kita ini diminta untuk turut serta dalam membantu merealisasikan kegiatan itu. Nah, berhubung kita adalah sekelompok orang yang mencintai seni yang tergabung dalam ekskul Lovartistic jadi gue berfikiran untuk menggalang dana melalui karya” tutur sang senior ”Okee untuk lebih jelasnya gue ngundang temen gue yang kebetulan anak design. Nah dia yang bakal jelasin ke kalian konsepnya tuh seperti apa. Ndri, come in” seru senior itu ke luar pintu memanggil temannya
Alangkah terkejutnya Nethali saat melihat seorang teman yang dipanggil seniornya itu ternyata adalah orang yang sama yang sudah membuat paginya menjadi menjengkelkan ini ”Dia lagi?” seru Nethali dalam hati
Setelah menundukkan kepalanya sejenak seraya memberi salam, laki-laki itu pun mengambil alih pembicaraan di depan ”Well, hello guys” sapanya ”Nama gue Andri, kalian boleh panggil gue kak Andri atau Andri aja juga boleh bebas terserah. Gue dari jurusan design di Universitas Widura” ujarnya memperkenalkan diri. Dan yak, wajah Andri yang tampan pun dengan seketika mampu menghipnotis kelas untuk fokus kepadanya, terutama para gadis-gadis di ruangan itu (kecuali Nethali). Ia memilih melihat ke arah lapangan dari balik jendela kelasnya, daripada melihat ke arah Andri
”Langsung aja nih yaa, kebetulan senior kalian yaitu Fachri minta bantuan ke gue buat nyari ide untuk acara amal sekolah kalian kan? Nah kalo menurut gue sih, ide yang terbaik itu ada pada diri kalian semua” Andri kemudian menyuruh Fachri membagikan kertas yang tadi dibawanya kepada seluruh siswa/i yang ada di ruangan itu ”Sekarang kalian tuangin imajinasi kalian di kertas itu. Apa aja bebas. Mau gambar grafitti, mau gambar gelang/kalung juga boleh tapi plus kalian jelasin materialnya apa aja, atau mau lukis muka gue juga boleh” ujar Andri sambil mengerlingkan sebelah matanya yang sukses membuat para gadis meleleh (kecuali Nethali (lagi)). ”Gue kasih waktu 30 menit, dimulai dari... sekarang!”
Saat aba-aba diberikan para siswa/i itu pun langsung berkutat serius dengan kertas dan alat tulis mereka masing-masing. Kali ini Nethali juga ikut serius berkutat dengan pencil dan kertasnya. Terlepas dari siapa yang sedang berbicara di depan kelas sekarang, ini adalah acara sekolahnya dan sebagai warga sekolah ini ia berhak untuk memberikan suaranya



Hari kepergian Natasha......
Semuanya telah berkumpul di bandara. Andre, Rendi, Nethali, dan Ibu Natasha serta Ibunda Andre sedang mengantar kepergian Natasha ke Amerika
”Kamu jaga diri ya nak, belajar yang baik. Hati-hati sama pergaulan disana, jangan lupa makan yang teratur. Kalo bisa cepet pulang ya” kecupan hangat mendarat di dahi Natasha dari bibir ibu tercintanya
”Iyaa bu. Ibu juga jaga diri ya disini, kalo Nethali manja atau nakal marahin aja bu” ujar Natasha sambil memeluk ibunya beberapa saat, kini ganti Natasha mendekati Nethali ”Jaga ibu ya Net. Belajar mandiri kamu udah dewasa” pesannya
”Kakak tenang aja pokoknya kakak belajar yang pinter deh. Jangan lupa nanti bawa oleh-oleh hehe” goda Nethali disambut jitakan kecil dari sang kaka yang kemudian berganti jadi peluk haru ”Aku pasti kangen banget sama kakak” bulir air mata perlahan meluncur dari pipi Nethali kemudian ia melepaskan pelukannya
Kemudian Natasha berjalan menghampiri Ibunda Andre ”Ma, aku pamit sebentar ya. Aku minta do’anya ya Ma” Natasha mencium tangan Ibunda Andre yang disambut pelukan hangat
”Mama disini akan selalu do’ain kamu kok sayang. Karena bagi Mama, kamu udah seperti anak Mama sendiri. Jaga diri kamu yaa Nat”
Natasha tersenyum singkat, kemudian mengalihkan pandangannya. Kali ini matanya tertuju pada Andre. Natasha berjalan mendekati Andre
”Aku pergi dulu ya Ndre” Natasha mengecup punggung tangan Andre, Andre membalas mengusap lembut puncak kepala Natasha
”Jaga diri ya Nat. Jangan nakal. Kamu tau aku selalu sayang kamu” dan satu kecupan manis mendarat di dahi Natasha
Natasha tak mampu berkata-kata lagi. Ia hanya mengangguk dan tersenyum sambil memeluk erat tubuh tinggi tegap kekasihnya itu, ingin sekali rasanya ia terus berada di dalam dekap hangat tubuh Andre, namun apa daya ia pun juga ingin meraih masa depan yang gemilang. Perlahan ia melelpaskan diri dari pelukannya kemudian berlalu meninggalkan mereka semua menuju pesawatnya


Nethali dan Andri saling melempar tatapan sinis satu sama lain. Siapa sangka ia akan bertemu lagi dengan lelaki bermulut pedas ini, terlebih lagi ternyata lelaki ini adalah adik kandung dari kekasih kakaknya. Ya. Setelah mengantar kepergian Natasha di bandara tadi, ibunya mengajak Andre, Mamanya, dan Rendi untuk mampir ke rumah dan makan siang bersama. Namun ternyata Andre dan Rendi memiliki urusan lain sehingga Andre akhirnya menelepon adiknya untuk menggantikan dirinya menemani mamanya. Dan siapa sangka adik Andre itu ternyata lelaki ini. ”Bisa yaa gitu kakak-adek kepribadiannya beda jauh” cibir Nethali dalam hati
”Apa lo liat-liat?” tegur Andri
Nethali membelalakkan bola matanya kemudian memutarnya dengan cepat ”Ke-PD-an ewwhh” desisnya
”Lo beneran adiknya Natasha nih? Ga ketuker lo waktu di rumah sakit?” ledek Andri namun dengan tampang serius
”Heh!” bentak Nethali ”Gue masih sopan sama lo karena mandang nyokap lo yaa disini. Lo sendiri yakin tuh adik kandungnya Kak Andre? Kelakuannya aja beda jauh. Bagai langit sama bumi tau ga lo” hardik Nethali dengan nada setengah berbisik karena takut terdengar oleh ibunya dan juga Mamanya Andre di dalam
”Uuuuu tatuutt” ledek Andri lagi ”Udah deh anak kucing mah mengeong imut aja, gausah sok mengaum kayak singa. Yang manis dong nanti gue elus deh sini pusss siniiii” goda Andri lagi
Nethali yang emosinya sudah meletup-letup itu pun akhirnya memilih pergi daripada harus bersitegang dengan lelaki ini. ah tidak, bukan lelaki tapi lebih tepatnya ibu tiri! Ya benar ibu tiri, tegas Nethali dalam hati. ”Bu aku ke supermarket bentar yaa, mau ngadem bu PANASSS!!!” pamit Nethali kemudian berlalu pergi meninggalkan Andri yang sedang menahan tawanya karena telah berhasil menggoda Nethali
Andri menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil, kemudian ia menyusul kepergian Nethali ”Aku keluar jalan-jalan bentar Ma” pamitnya. Kemudian ia mengikuti arah Nethali pergi dan membututinya dalam jarak yang tidak diketahui Nethali sehingga Andri dapat mendengar makian serta melihat dengan jelas tingkah konyol Nethali sepanjang jalan karena kesal padanya itu
Namun tiba-tiba langkah kaki Andri terhenti saat langkah kaki Nethali juga terhenti karena ia dicegat oleh segerombolan cewek ”Ngapain lo pada ngalangin jalan?” tegur Nethali pada gerombolan cewek yang mengepungnya itu
Salah satu cewek yang sepertinya pimpinan mereka itu pun selangkah maju mendekat pada Nethali ”Heh cewek lenjeh, lo ga usah sok cantik deh ya! Ga usah kegatelan sama Rico!” bentak cewek itu
Nethali tersentak sejenak. Andri memperhatikan dari tempatnya berdiri yang tak jauh dari tempat Nethali berdiri ”Wah si singa kicep nih kayaknya” batinnya. Namun sedetik kemudian ternyata dugaan Andri salah. Nethali justru malah tertawa terbahak-bahak
”Apa-apa? Cewek lenjeh? Gue?” tanya Nethali sambil menunjuk wajahnya sendiri, kemudian ia tersenyum sinis ”Setau gue sih yaa cewek lenjeh itu cewek yang manja, kemana-mana minta ditemenin. Sampe mau ngomong sama orang lain aja mesti ada yang nemenin juga, yaa kayaak.....” Nethali menggantung kalimatnya kemudian berdehem sejenak lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga si cewek itu ”Kayak lo gitu deh” bisiknya di telinga cewek itu yang sontak langsung membuatnya geram
Andri yang tidak bisa mendengar apa yang dibisikkan Nethali pada cewek itu pun hanya bisa menatap bingung namun ia yakin dengan pasti bahwa kata yang dibisikkan itu pasti sangat jelek karena terlihat sekali raut wajah si cewek itu yang semakin meradang setelah Nethali berbisik padanya
Cewek itu sontak langsung mendorong tubuh Nethali ”Berani banget lo ya! Dasar cewek kegatelan! Gue sebagai mantannya Rico ga terima yaa kalo lo deket-deket sama dia!” hardiknya. Ia kemudian hendak melayangkan tamparan ke wajah Nethali namun tangannya tertahan di udara
”Eloo” desis Nethali tak percaya saat melihat Andri yang tengah menahan tangan gadis yang akan menamparnya itu
”Siapa lo?! Gausah ikut campur yaa” maki gadis itu sambil menarik tangannya dari cengkraman Andri
”Kalian kan cewek-cewek cantik nih yaa, kok kelakuannya kayak preman pasar gitu sih? Sayang loh nanti cantiknya jadi ga keliatan” ujar Andri
”Heh! Lo fikir lo siapa? Gue ga ada urusan ya ama lo!”
Andri tersenyum, kemudian seketika tatapan matanya berubah tajam dan raut wajahnya pun berubah menjadi menyeramkan bak seorang monster yang siap menghancurkan apapun yang ada di hadapannya ”Emang kita ga ada urusan, tapi bakal jadi ada kalo lo berani nyentuh cewe ini lagi” ujarnya sambil merangkul Nethali. ”Kalo kalian gamau ngerasain neraka lebih cepat mending lo semua pergi dari sini, sekarang!” bentak Andri yang seketika langsung membuat para gadis itu lari kocar-kacir ketakutan
Setelah gerombolan gadis itu pergi Nethali langsung menggidikkan bahunya untuk melepaskan rangkulan Andri ”Gue ga minta bantuan lo tuh, jadi jangan harap gue bakal bilang terima kasih yaa” ujarnya sinis sambil berlalu pergi meninggalkan Andri
Andri menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli ”Gila nih cewe pala batu banget” gumamnya dalam hati ”Woyy! Kalo gamau bilang makasih seenggaknya traktir gue beli minuman kek gitu woyy!!” teriak Andri sambil menyusul langkah Nethali yang sudah kian menjauh

Beberapa bulan kemudian...
Andre memperhatikan dengan serius layar laptopnya, tugas kuliah yang kian membludak akhir-akhir ini sungguh sangat menguras energinya. Tiba-tiba ia merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya, dengan segera Andre mengambil obat-obatan yang dia taruh di dalam laci meja belajarnya kemudian meminumnya. ia kemudian menarik nafasnya bersamaan dengan rasa sakitnya yang berangsur-angsur mereda. Andre memperhatikan sebotol pil yang ada di genggamannya itu ”Sampai kapan?” tanyanya lirih pada benda mati itu. Ia kemudian memasukkan kembali botol itu ke dalam laci
Dering ponsel berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Andre segera mengangkatnya ”Ya, kenapa Ren?” sapanya pada Rendi di ujung telepon. Andre memejamkan matanya sambil sesekali berdehem ”Yaudah gue ke sana sekarang” ujarnya setelah selesai mendengarkan pembicaraan Rendi. Ia segera mematikan laptopnya kemudian meraih jaket dan kunci motornya lalu keluar dari kamarnya menuju tempat Rendi menunggunya
Sesampainya disana Rendi langsung menyambut kedatangan Andre. ”Sorry ya sob, padahal lo kan bagian tugas editing” ujar Rendi. Ya, mereka memang sedang ada tugas membuat film pendek, Andre mendapat bagian editing. Namun karena hari ini salah seorang yang bertugas sebagai kameramen dan juga sang sutradara tak bisa hadir, Andre akhirnya diminta untuk menggantikan tugas kameramen itu
”Santai aja lah, lagian ini juga kan proyek kita bareng-bareng” jawab Andre sambil menepuk-nepuk bahu Rendi kemudian ia berlalu menuju tempat shooting dan memulai pengambilan gambar
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sang matahari kini sudah hendak beristirahat sejenak setelah sekian lama ia bersinar hari ini. ”Yak, kita selesai hari ini. makasih untuk kerja kerasnya hari ini. see you tomorrow” ujar Gita – asisten produser –
Setelah saling memberi salam dan ucapan terima kasih, mereka semua pun mulai merapikan peralatan shooting dan satu persatu berpamitan pulang. Rendi datang menghampiri Andre yang sedang duduk beristirahat sambil membawakan sebotol minuman dan juga makanan ringan. Ia hendak mengagetkan Andre yang sedang memejamkan matanya menikmati langit senja namun ia mengurungkan niatnya saat dilihatnya ada yang berbeda dari wajah Andre. Ya, Andre tak terlihat seperti biasanya. Wajahnya terlihat sangat pucat
”Ndre lo sakit?” tegur Rendi
Mendengar suara Rendi, Andre buru-buru bangun ”Engga kok, palingan juga cuma kecapekan” kilahnya ”Yaudah gue balik duluan yaa” ujarnya sambil mengenakan jaketnya ”Ehiya, jangan laporan yang macem-macem ke Natasha” lanjutnya sambil kemudian berlalu pergi
Atas kesepakatan yang telah mereka buat bersama sebelum Natasha pergi, Natasha dan Andre kini sama sekali tak saling bertukar kabar secara langsung. Namun Natasha sesekali mengirim e-mail pada Rendi untuk menanyakan kabar Andre. Dan atas opersetujuan Andre pun akhirnya Rendi menjadi perantara kabar diantara Andre dan Natasha.
Rendi tak percaya sepenuhnya pada ucapan Andre. Jika memang hanya kelelahan, sepertinya tidak mungkin jika sampai sepucat itu. Apalagi ia tahu betul kalau daridulu Andre sangat menjaga ketahanan tubuhnya. Ia merasa ada yang sedang Andre sembunyikan darinya


to be continue ...

To Standing Without You (cerbung) part 4

Satu tahun kemudian
”Nat, tugas kelompok dari Bu Yuning lo yang bikin presentasinya yaa, nanti gue sama Riana yang cari materinya” ujar Virnie pada Natasha. Mereka kini sudah memasuki dunia baru, dunia perkuliahan yang selama ini mereka mimpi-mimpikan semasa duduk di bangku sekolah dulu, yaah meskipun pada kenyataannya memang tak seindah yang terlihat di ftv.
Natasha menganggukkan kepalanya ”Terus ada tugas lagi ga Vir? Ohiya dosen sosiologi kita ga minta make up class ya?”
”Belum ada kabar, nanti gue tanyain deh” ujar Virnie. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pintu ”Dijemput pangeran lo noh” ujar Virnie sambil menunjuk pada Andre yang tengah berdiri sambil tersenyum di depan pintu
Natasha hanya tersenyum ”Gue duluan ya” pamitnya pada Virnie dan Riana, kemudian dia berlalu menghampiri Andre
”Mereka romantis banget ya Vir? Envy deh gue” ujar Riana
”Iya emang mereka sosweet banget. Serasi lagi. Mudah-mudahan aja langgeng terus tuh orang berdua”

Kantin sudah ramai, hampir seluruh tempat sudah dipenuhi. Tapi ada satu meja yang kosong. ’meja khusus Andre’ sejak dulu ia masih berstatus sendiri hingga akhirnya sekarang dia bisa makan disana bersama gadis yang sangat dicintainya.
”Kamu mau makan apa?” tanya Andre
”Bakso aja deh Ndre”
”Panggilan kepada Natasha Chantika dari fakultas ilmu psikologi harap datang ke ruang departemen akademik segera” suara pengumuman itu terdengar dari speaker kampus
Baru saja Andre hendak bangun untuk memesan makanan tapi ia terduduk kembali ”Kamu dipanggil Nat? Kamu ga mungkin bikin masalah kan?” tanya Andre heran
”Aku gak mungkin macem-macem lah Ndre. Yaudah aku coba ke sana dulu ya bentar. Daah” Natasha berlalu meninggalkan Andre
Tiga puluh menit kemudian Natasha kembali. Terlihat Andre sedang mengaduk-aduk es jeruknya. ”Kamu ga makan?” tanya Natasha
”Engga, kan nunggu kamu. Ada apa kamu dipanggil?”
”Emm soal itu diomongin nanti aja ya. Lagian juga sebentar lagi aku ada kelas, ga enak kalo nanti kepotong”
Andre terlihat kecewa ”Bikin penasaran aja deh” ujarnya
”Nanti pasti aku kasih tau kok”

Akhirnya kelas kuliah Natasha untuk hari ini selesai. Andre sudah menunggu Natasha di parkiran motor. Dari kejauhan tampak Natasha berlari menuju tempat Andre, ”Udah lama ya nunggunya?” Natasha mengatur nafasnya yang terengah-engah
”Lumayan”
”Maaf ya tadi ada sedikit debat tugas gitu”
”Iya gapapa. Yaudah langsung jalan aja yuk?”
”Bentar ya aku.....”
”Aku udah telepon ibu tadi” potong Andre. Dia sudah hapal betul dengan sifat Natasha yang sangat penurut pada ibunya ini
Natasha tersenyum kecil. Dia bahagia karena kekasihnya ini dekat dengan ibunya. Bahkan ibunya sangat merestui hubungan mereka, begitu juga ibunda Andre ”Yaudah kalo gitu langsung jalan aja” mereka berdua pun berlalu meninggalkan Universitas Wiyadarta
Tak beberapa lama mereka tiba di sebuah taman tempat dulu Andre menembak Natasha. Natasha duduk di bangku yang sama seperti satu tahun lalu menunggu Andre yang sedang membeli minuman.
”Nih” andre memberikan sekaleng minuman dingin pada Natasha ”Jadi tadi ada apa?”
Natasha membuka minuman kaleng itu dan meminumnya seteguk, kemudian ia menarik nafas singkat ”Tadi dewan kepala akademik bilang aku dapet rekomendasi buat ke Amerika. Dan ada beberapa anak dari fakultas lain juga sih yang dapet”
Andre terkejut sekaligus juga terlihat bangga ”Serius kamu? Wah hebat? Berapa lama? Seminggu nyampe ga?”
”Lebih dari seminggu Ndre, kira-kira sampai kuliah aku selesai”
Kali ini Andre benar-benar terkejut ”Berarti kurang lebih tiga tahun?” ia berusaha meyakinkan bahwa apa yang dia dengar itu salah tapi tentu saja itu adalah sebuah kenyataan. Dia bingung. Tiga tahun itu sungguh waktu yang sangat lama baginya
”Tapi aku harus minta ijin ke ibu dulu kok. Dan ke kamu juga pastinya. Kalo kalian berdua ngijinin, aku berangkat tapi kalo engga ya aku bakal nolak”
”Kalo seandainya ibu ngijinin tapi aku engga gimana?”
”Aku akan minta petunjuk lebih dari Allah, mana yang terbaik buat aku, dan kita”
Andre tersenyum dan mengusap lembut kepala Natasha. ”Apapun yang terbaik buat kamu, aku pasti dukung karena aku cinta kamu. Sekalipun kita harus pisah kalo memang kita terikat jodoh kamu pasti bakal pulang ke aku lagi”
”Jadi kamu ngijinin?”
Andre menganggguk. ”Aku percaya sama kamu. Dan aku harap kamu ga sia-siain kepercayaan aku ya. Walau nanti kita dipisahin jarak jauh tapi cinta kita akan tetap membuat kita merasa dekat”
”Makasih Ndre” Natasha memeluk erat Andre ”Gak akan ada satu orang cowo pun yang lebih baik dari kamu deh pokoknya”
”Bisa aja kamu. Eh ikut aku ke situ yuk?” Andre menunjuk sebuah pohon yang berada tak jauh dari belakang tempat duduk mereka
”Mau ngapain?” tanya Natasha heran
”Udah ikut ajaa” Andre menggandeng Natasha menuju pohon itu kemudian ia menunjuk pada sebuah ukiran di pohon itu
Natasha mencoba membaca ukiran itu. I love you until i can’t say it again ”Ya Ampun Ndre!” Natasha meneteskan air matanya
“Kok nangis sih? Aku salah ya?” Andre menjadi panik saat Natasha menangis
Natasha menghapus air matanya kemudian mengembangkan senyumnya “Ga kok ini air mata bahagia. Manis banget sih kamu”
”Wait... masih ada satu lagi. Sekarang kamu bantu aku gali tanah di bawah pohon ini yaa” Andre memberikan kepingan batu pipih kepada Natasha kemudian mereka menggali tanah itu bersama sampai terlihat sebuah kotak kecil.
”Ini apa Ndre?” Natasha mengambil kotak itu dan membersihkannya dari tanah-tanah yang menempel
”Anggap aja ini time capsul yaa. Kita tulis harapan atau keinginan kita dalam jangka waktu tertentu. Nanti di waktu yang udah ditentukan kita buka kotak ini bareng-bareng” Andre mengambil dua gulungan kertas dan menyerahkan salah satunya pada Natasha. ”Nah sekarang kamu tulis apapun keinginan kamu di sini. Kita anggap aja jangka waktunya tiga tahun kedepan ya”
”Aku nulisnya di bangku tempat kita duduk tadi ya? Ga boleh saling tau kan?” tanya Natasha
”Iya, terserah kamu. Kalo gitu aku nulisnya disini aja” jawab Andre
Natasha berlalu kembali ke tempat duduknya dan mulai menuliskan kata demi kata pada kertasnya. Andre melihatnya dari kejauhan dan tersenyum tipis. Dia pun ikut menuliskan harapannya di tiga tahun kedepan.
Saat sedang asyik menulis tiba-tiba kepala Andre mendadak sakit.. sangat sakit! Penanya terlepas dari tangannya. Dia mencengkram kepalanya kuat-kuat sambil terus beristighfar, ”Ya Allah jangan sekarang. Setidaknya jangan di depan Natasha” sekuat tenaga Andre menahan rasa sakitnya. Dilihatnya Natasha masih asyik menulis di kertasnya. Berangsur-angsur rasa sakitnya mulai menghilang, tubuhnya melemas setelah tenaga nya terkuras untuk menahan rasa sakitnya. Diliriknya kembali Natasha yang sedari tadi masih asyik dengan kertas dan khayalannya. Andre menarik nafas lega.
”Nih udah” Natasha menyerahkan kertasnya pada Andre
”Aku juga udah, sekarang kita kubur lagi yaa. Tiga tahun lagi setelah kepulangan kamu, di tanggal yang sama kita ketemu lagi yaa di tempat ini untuk ngebuka kembali kotak yang kita kubur ini”
”Iyaa”
Mereka kemudian menguburkan kotak itu bersama. Andre menarik nafas lega sambil menatap pohon itu ”Aku sayang kamu Nat, banget!”
”Aku tau itu” Natasha memandangi wajah Andre, ada yang aneh di wajahnya. Natasha tiba-tiba menjadi cemas ”Ndre, kamu sakit? Kamu pucet deh”
Andre buru buru menyangkalnya ”Enggak kok mungkin aku cuma capek aja kali ya soalnya kan udah semester enam, dua semester lagi udah harus skripsi dan sidang dll lah. Ohiya Nat aku punya usul, kamu tolong dengerin baik-baik yaa.. Mungkin lebih baik kita sama-sama fokus belajar yaa sampai nanti saatnya kita bertemu lagi, kita tunjukin prestasi kita”
”Maksud kamu kita ga usah berhubungan selama aku di luar negeri?”
”Iya Nat? Gimana?” Andre berharap-harap cemas di hatinya berharap Natasha menyetujui usulnya
Natasha terlihat ragu ”Haruskah Ndre?”
”Ini cuma saran aku aja kok Nat. Demi kebaikan kita masing-masing”
”Sebenernya aku agak keberatan kalau harus losecomunication, tapi aku juga mau yang terbaik buat kamu. Kalo emang itu adalah salah satu jalan yang terbaik, aku nurut aja”
Andre langsung memeluk Natasha ”Makasih yaa. Aku sayang kamu dan ga akan ada satu orang pun yang bakal gantiin kamu. Aku yakin ini yang terbaik buat kita bukan cuma buat aku”
”Apapun itu, aku percaya sepenuhnya sama kamu” meskipun ragu akhirnya Natasha menyetujuinya


”Kak, ada kak Andre niiiihhh” teriak Nethali dari bawah tangga
Natasha buru-buru keluar dari kamarnya dan menuruni satu persatu anak tangga untuk menemui Andre
”Katanya kamu kesininya agak siangan?” tanya Natasha langsung pada Andre yang sedang duduk di ruang tamu tanpa membiarkan Andre memberi salam dulu padanya
Andre tersenyum ”Sengaja, biar aku bisa liat muka bantal kamu” godanya
”Makanya kalo udah bangun tuh langsung mandi kak” tegur Nethali dengan nada sok menasehati pada Natasha. Ia kemudian meletakkan segelas minuman yang dibawanya di hadapan Andre ”Silahkan diminum kak” ujarnya lembut
Natasha mencibir ”Tuh liat aja, bawain minumnya cuma satu. Buat gue mana? Kalo sama Andre aja langsung deh berubah jadi adik manis gitu. pencitraan huuuu” sindirnya. Sementara itu Andre yang sudah biasa menyaksikan kakak beradik ini adu mulut pun hanya bisa tersenyum, karena ia tahu betul Natasha dan Nethali sangat saling menyayangi sesering apapun mereka bertengkar. Sama halnya seperti ia dan Andri
”Hoo ya jelas laaaahh. Kakak mau minum? Noh di depan ember bekas aku nyiram tanaman kayaknya masih ada airnya deh, abisin gih” ledeknya
”Wahh songong parah nih anak minta distop uang jajannya” ancam Natasha
Nethali buru-buru memeluk Natasha ”Ahh kakak mah kan aku cuma bercanda” ujarnya manja. Ya, sejak Natasha lulus SMA ia mulai bekerja sampingan sebagai guru les untuk mengisi waktu luangnya sehingga ia mendapatkan tambahan uang untuk dirinya sendiri serta untuk Nethali, tujuannya untuk membantu meringankan beban ibunya. Uang yang diperolehnya ia gunakan untuk keperluan sekolah dan uang saku Nethali. Sampai sekarang pun ia masih tetap melakukannya di sela-sela waktu kuliahnya namun sepertinya kini ia harus break melakukannya karena rencana kepergiannya ke luar negeri itu.
”Ah yaampun aku udah telat” seru Nethali. Ia kemudian mengambil tasnya yang ia letakkan di sofa dan menadahkan tangannya di hadapan Natasha ”Minta uang jajan doong hehehe”
”Mau kemana? Ini kan hari sabtu. Kakak yang kuliah aja libur masa kamu yang sekolah kaga libur?” ujar Natasha
”Aku kan ekskul kaaaaak”
”Pandai lah engkau” Natasha kemudian mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan dan juga selembar uang lima ribuan dari dalam kantong celananya kemudian memberikannya pada Nethali ”Jangan boros” pesannya
Nethali mengangguk kemudian mengecup pipi kakaknya, tak lupa ia pun juga berpamitan pada Andre ”Aku pergi dulu yaa” pamitnya
”Ehh Net tunggu” sergah Andre, ia kemudian menghampiri Nethali yang sudah berdiri di ambang pintu. Ia mengeluarkan dompetnya kemudian mengambil selembar lima puluh ribuan dari dalamnya dan memberikannya pada Nethali ”Nih jatah buat kamu. Inget jangan boros yaa” ujarnya sambil mengusap lembut kepala Nethali
Mata Nethali berbinar saat menerima uang dari Andre ”Makasih kak!” ujarnya semangat kemudian kembali melanjutkan perjalanannya
”Jangan terlalu manjain Nethali ah, nanti dia kebiasaan” omel Natasha
Andre tersenyum kemudian kembali menghampiri Natasha ”Emang kenapa kalo aku manjain Nethali? Toh nantinya dia juga bakal jadi adik ipar aku kok”
Natasha tak mampu menyembunyikan senyumnya, ia memang lemah jika Andre sudah menjurus membicarakan hal seperti itu. Namun bukan berarti ia tak menyukainya, ia justru selalu berdoa berharap suatu hari nanti hal tersebut bukan hanya sekedar khayalan, tapi kenyataan.
”Kamu udah ngobrol sama ibu dan Nethali soal beasiswa ke luar negeri itu? Tanya Andre
Natasha mengangguk ”Kata ibu terserah aku aja baiknya gimana. Yaudah aku mandi dulu ya bentar” ujarnya sambil berlalu kembali ke kamarnya


to be continue ...

To Standing Without You (cerbung) part 3

”Kak, Bu, aku berangkat yaa” ucap Nethali sambil menyalami tangan Ibu dan kakaknya
”Kamu ga bareng Natasha, Net?” tanya Ibunya
”Engga Bu, hari ini aku piket terus kebetulan juga ada tugas yang harus dikumpulin pagi-pagi. Lagian kak Natasha mah paling juga nanti ada yang ngejemput Bu”
”Uhukk...uhuk..uhuk..” tiba-tiba Natasha tersedak mendengar ucapan Nethali ”Apaan sih anak kecil sok tau banget. Sono jalan deh ah”
”Emang dari tadi juga mau jalan. Assalamualaikum. Salam yaa kak buat kak Andre. hahahaha” ujar Nethali berlalu sambil terkekeh-kekeh
”Wa’alaikumsalam” Natasha melanjutkan melahap rotinya
”Nat, Andre siapa? Kok gak dikenalin ke ibu?”
”Uhuk...uhuk..uhuk..” Natasha tersedak sekali lagi ”Aduh ibu, gak usah dengerin Nethali deh bu” Natasha mendadak jadi salah tingkah dan pipinya sedikit merona.
”Kalo emang bukan siapa-siapa kok kamu malu-malu gitu sih? Cerita aja sama Ibu deh jangan disembunyiin gitu”
”Apasih bu, aku biasa aja kok. Udah ah aku juga mau berangkat. Assalamualaikum” ujar Natasha sambil mengecup pipi Ibunya
”Wa’alaikumsalam. Kapan-kapan ajak Andre kerumah yaa nak” sahut sang Ibu. Natasha hanya tersipu dari kejauhan dan perlahan menghilang dari pandangan sang Ibu
”Mas, anak-anak kita sekarang sudah beranjak dewasa. Seandainya saja kamu masih berada di sini dan melihat pertumbuhan mereka” perlahan tetesan bulir air mata meluncur membasahi pipi Ibu Natasha. ”Semoga aku bisa selalu mendampingi mereka sampai tiba saatnya mereka untuk memiliki kehidupan sendiri ya mas”

Halte bus masih terlihat lengang dari para penumpang yang menunggu bus. Maklum, hari masih pagi. Orang-orang yang bekerja sepertinya masih bersantai di rumah masing-masing. Namun ada sosok yang menarik perhatian Natasha di halte bus itu. Sesosok pria yang sedang celingak-celinguk seperti mencari sesuatu hingga akhirnya pandangan mereka saling bertemu dan mereka berdua pun saling melempar senyuman. Natasha mempercepat langkahnya untuk menghampiri pria tersebut.
”Halo Nat” sapanya
”Hai kak. Kok kak Andre ada di sini?”
”Aku nunggu kamu, sengaja mau nganterin kamu sekolah. Abis mau ngejemput ke rumah tapi kan aku gak tau rumah kamu”
”Ngejemput aku? Emang jalanan masih ditutup ya kak?”
Andre tertawa kecil ”Emang kalo mau jemput kamu harus nunggu jalanan tutup dulu ya?” tanyanya
Kali ini ganti Natasha yang terkekeh ”Hehehe ngga gitu juga sih kak”
”Mmmmm... Aku boleh kan Nat antar-jemput kamu seterusnya?” kali ini raut wajah Andre berubah serius. Matanya menatap lurus mata Natasha membuat gadis itu jadi sedikit salah tingkah
Natasha menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil mengedarkan pandangan ke arah sekeliling ”Emm.. Gimana ya kak.. emangnya kakak ga repot apa?”
”Sama sekali engga kok” jawab Andre cepat
Natasha terperangah, sambil memandangi wajah Andre sejenak kemudian ia tersenyum ”Terserah kakak aja kalo emang gak ngerepotin”
”Serius???!!!” tanya Andre tak percaya
Natasha hanya membalasnya dengan senyuman
”Makasih banyak ya Nat. Yaudah mau berangkat sekarang? Oiya nanti pulangnya tunggu gue jemput ya? Oke?”
”Siap kak” ujar Natasha dengan nada bak seorang prajurit yang sedang diperintah komandannya. Mereka saling berpandangan sejenak kemudian keduanya sama-sama tertawa

”Nat, btw udah hampir dua bulan ini gue liat lo tiap hari dianter-jemput Kak Andre deh. Kalian pacaran?” tanya Virnie di sela-sela jam pelajaran bahasa indonesia
”Iya sih gue emang dianter-jemput sama kak Andre tapi kita gak pacaran”
”Bukan ’ngga’ tapi lebih tepatnya ’belum’ Nat. Gue sih dukung-dukung aja lo sama Kak Andre”
”Soal itu biar kita liat ke depannya aja gimana. Udah ah, ini kan lagi jam pelajaran jangan ajak gue ngobrol”
”Yaelah ga apa-apa Nat, Bu Dantri aja asik sendiri tuh nerangin majas-majas apalah itu tetep aja gue ga ngerti hahaha”
”Hush jangan terlalu jujur gitu ah Vir hahaha”
”Nah mending gue dengerin lo aja. Kalo dari lo sendiri, menurut lo Kak Andre itu gimana?”
”Kak Andre?” Natasha menghentikan aktivitas mencatatnya, ia mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja, fikirannya menerawang membayangkan sosok Andre ”Kak Andre baik, dia bisa jadi sosok kakak, temen, sahabat dan malah kadang terlihat seperti sosok seorang ayah yang bertanggung jawab. Intinya sih gue nyaman aja kalo sama dia”
”AKHIRNYA LO JATUH CINTA” ujar Virnie dengan nada lantang yang sontak membuat seisi kelas menoleh ke arah mereka termasuk Bu Dantri yang sedari tadi asik berceloteh sendiri
”Ups” dengan cepat Virnie menutup mulutnya
”Virnieeeeee” desis Natasha
”Virnie, Natasha kalian mungkin bisa memberikan contoh dari beberapa majas yang ibu jelaskan tadi?” tembak Bu Dantri langsung
”Tamat deh kita” gumam Virnie
Natasha melirik catatannya sejenak dan.....


”Mungkin aku aneh..
  Mungkin aku bodoh..
  Mungkin aku telah kehilangan akal sehatku..
  Namun saat bersamamu, jantung ini terasa berhenti berdetak..
  Lidah ini kelu tak mampu berucap..
  Mata ini tak mampu mengalihkan pandangannya dari bayangmu
  Tidak, tidak mungkin ini cinta..
  Namun bila ini bukan cinta, harus ku beri nama apa rasa ini?”

Tatapan mata Bu Dantri yang semula tajam akhirnya meluluh. Kini ganti dengan tatapan mata tercengang dari teman-teman sekelasnya, bahkan termasuk Virnie yang sampai ternganga melihat sahabatnya ini. Menyadari suasana kelas yang masih hening Natasha segera mengambil tindakan ”Itu tadi kira-kira contoh dari majas anafora, hiperbola sama tautologi Bu” jelasnya
Sedetik, dua detik suasana masih hening hingga terdengar suara tepuk tangan dari Bu Dantri yang kemudian diikuti oleh Virnie dan siswa-siswi sekelas
”Aduh neng Natasha, Aa’ mah lopelope karokoe dah” seru Dendi dengan logat sunda khasnya
”Bagus Natasha! Kamu hebat bisa langsung memberikan contoh majas dengan hasil karanganmu sendiri” puji Bu Dantri ”baiklah anak-anak jam pelajaran ibu sebentar lagi selesai. Kita bertemu lagi besok untuk membahas soal. Terima kasih” lanjut Bu Dantri sambil berlalu keluar disusul dengan hembusan nafas lega dari Natasha dan Virnie
”Nat, lo serius ya sama bang Andre?” tanya Dimas yang tiba-tiba sudah duduk di depan Natasha
”Hah? Maksud lo Dim? Lo kenal sama Kak Andre?” tanya Natasha sambil mengernyitkan keningnya
”Iya gue kenal. Doi temen sekelas abang gue. Kalo lo serius sama Bang Andre ya jelas gue support. Dia anaknya baik beneran kok Nat gak bohong. Dan dia juga ga brengsek kayak cowo-cowo lain umumnya, dia ga ngerokok, ga playboy, ga pernah mainin cewe juga. Entah tuh anak pake jampi-jampi apa dari segi manapun juga dia keliatan cool, keren, gaul padahal kan cowo biasanya keliatan gaul kalo dia lebih ’liar’ apalagi secara dia anak kuliahan yang jelas-jelas pergaulannya lebih luas” jelas Dimas panjang lebar
Natasha tersenyum mendengar celoteh Dimas ”Ga brengsek kayak cowo-cowo lainnya?” Natasha mengulang kata-kata Dimas ”Ohh jadi cowo selain kak Andre itu brengsek yaa? Lah lo kan cowo juga Dim? Berarti lo brengsek dong? Ah gue ga mau temenan ama lo ah” ledeknya
”Jaah anjir ga gitu juga Nat”
”Hahaha lagian lo tuh kayak tim suksesnya Kak Andre aja deh. Iya gue tau Kak Andre emang baik. Btw, kok lo bisa tau sih gue lagi deket sama Kak Andre?”
”Yaelah Nat, waktu belom kenal sama lo juga nih dia tuh nanyain tentang lo mulu ke gue. Dulu pertama kali liat lo itu pas kebetulan dia ngikut abang gue kesini buat nganterin surat izin waktu gue sakit, waktu itu katanya dia liat lo lagi main voli di lapangan. Nah dari situ katanya dia langsung jatuh cinta sama lo. Pas tau ternyata lo sekelas sama gue ya makin gencer aja tuh anak. Yah pokoknya yang gue tau dia itu gak main-main Nat sama lo”
”Waah Nat, jarang banget ada cowo kayak gitu. Pokoknya kalo Kak Andre nembak lo, lo harus terima” kali ini Virnie ikut buka suara
”Nah bener tuh Nat kata Virnie” timpal Dimas
”Aduuh lo berdua apaan sih. Udah ah gue mau pulang dulu ya. Byebye” Natasha kemudian pergi meninggalkan Dimas dan Virnie
”Duileh pengen cepet-cepet ketemu Kak Andre tuh. Siap-siap ditembak Nat hahaha” goda Virnie
Natasha hanya tersipu-sipu malu tanpa menoleh ke arah Virnie kemudian ia mempercepat langkahnya. Setibanya di luar gerbang sekolah ia langsung menemukan sosok Andre yang sudah stand by menunggunya
”Udah lama Kak?”
”Engga kok belom lama juga nyampenya. Langsung jalan sekarang aja yuk?”
”Iyaa kak”

”Kok kita kesini sih Kak?” Natasha bingung melihat Andre menghentikan motornya di sebuah taman
”Hmm.. gapapa kita duduk-duduk sebentar dulu aja ya itung-itung menghirup udara segar”
”Hoo gitu”
”Oiya kamu duduk duluan aja yaa, aku mau beli minum dulu”
”Hmm yaudah” Natasha kemudian berjalan menuju salah satu bangku yang berada di bawah pohon besar yang rindang
Setelah dilihatnya Natasha sudah duduk, Andre segera berlalu.
Natasha mulai menikmati suasana di taman itu sambil menunggu Andre kembali, ia memandang ke sekeliling menyaksikan cukupbanyak keluaga kecil yang sedang bermain bersama disana ”Dulu aku juga sering banget main ke taman sama papa, Mama, dan Nethali kalau Papa lagi libur kerja. Rasanya udah lama banget gangerasain kehangatan itu lagi. Pah, aku kangen” Natasha menadahkan wajahnya ke lahit, berharap ayahnya bisa melihat kalau saat ini Natasha sedang rindu padanya. Namun tiba-tiba ada yang menarik-narik roknya.
”Kak, ini ada yang nitipin buat kakak” ujar seorang anak kecil sambil menyerahkan setangkai bunga mawar putih pada Natasha
”Buat aku?” tanya Natasha tak yakin
”Iyaa”
Natasha pun akhirnya menerima bunga itu ”Dari siapa dek?”
Anak itu hanya mengangkat bahu kemudian pergi meninggalkan Natasha
”Ehh tunggu” Teriak Natasha, namun anak itu sudah menghilang dari pandangan
”Aneh banget deh” Natasha membolak-balikan bunga itu namun tiba-tiba ada anak kecil yang datang kembali memberikan sebuah kotak pada Natasha
”Buat aku?” tanya Natasha. Anak itu pun mengangguk. Natasha mengambil kotak itu kemudian membukanya ternyata kotak itu adalah kotak musik dengan peri kecil yang menari dengan indahnya saat kotak itu dibuka
”Dari si.....” baru saja Natasha ingin bertanya namun lagi-lagi anak itu juga menghilang seperti anak sebelumnya
”Ampun deh ini kerjaan siapa sih” Natasha benar-benar bingung
Di saat Natasha masih tenggelam dalam kebingungannya Andre pun datang
”Hey, maaf kelamaan yaa?” tanya Andre
”Hmm? Yaa lumayan sih”
”Itu, kamu beli? Emang disini ada yang jual ya?” mata Andre menunjuk pada bunga dan kotak yang sedang dipegang Natasha
”Ini.. aku juga gatau kak. Tadi aku dikasih sama anak kecil tapi pas aku tanya dari siapa, mereka cuma angkat bahu terus pergi gitu aja”
”Kamu jangan sembarangan nerima barang dari orang ga dikenal gitu dong Nat”
”Iya sih tapi kan...” Natasha tertunduk bingung
”Apalagi ini hari ulang tahun kamu”
”Hah?” Natasha sontak kaget tidak percaya saat sedetik kemudian Andre mengeluarkan kue dari balik tubuhnya
”Happy Sweet seventeen Natasha” seru Andre
Natasha tak mampu berkata-kata lagi. Ia benar-benar tak menyangka mendapat kejutan semanis ini
”Sekarang kamu tiup lilinnya, tapi jangan lupa make a wish dulu sebelumnya” ujar Andre sambil menyalakan api pada lilin-lilin kecil di atas kue itu
Natasha memejamkan matanya, dari dalam hatinya ia meminta kebahagiaan untuk keluarganya, juga meminta agar sosok lelaki yang ada di hadapannya itu bisa selalu diberikan kesehatan serta kebahagiaan agar bisa selalu menemaninya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Natasha memanjatkan doa untuk seorang pria selain ayahnya. Fyuuuhh.. lilin pun di tiup
Andre meletakkan kue tersebut di sebelahnya, kemudian ia duduk bersimpuh di hadapan Natasha, melihat itu sontak Natasha kaget ”Kakak ngapain?” tanyanya
Andre mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya dan membukanya di hadapan Natasha. Natasha terkejut melihat kotak tersebut yang ternyata berisi sebuah cincin. Andre kemudian menggenggam tangan Natasha dan menatap mata Natasha lekat-lekat ”Aku belum pernah merasakan hal seperti ini pada seorang gadis sebelumnya. Dan bisa aku pastikan aku juga ga akan pernah merasakan hal ini pada gadis lainnya. Kamu, dan memang hanya kamu yang mampu membuat logika dan perasaanku bersiteru hebat. Tapi kini mereka pun akhirnya menyatu memberi izin kepada cinta untuk tumbuh dan bersemi. Dalam hati dan pikiranku hanya ada kamu. Aku ga bisa berjanji untuk selalu membahagiakanmu, karena terkadang pertengkaran dan air mata kita butuhkan agar kita dapat menghargai kebersamaan. Tapi satu hal yang pasti, aku pasti akan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik untukmu. Hari ini, di tanggal dimana kamu dilahirkan di dunia ini, aku juga ingin menjadikan hari ini sebagai hari dimana cinta terlahir di antara kita” Andre menarik nafasnya dalam-dalam ”Natasha Chantika, maukah kamu bersama-sama denganku, berjalan berdampingan denganku untuk meraih masa depan?”
Natasha menitikkan air matanya, ia kemudian memeluk Andre ”Satu permintaan aku, jangan pernah kamu tarik ucapan kamu, karena kamu juga yang pertama dan ku harap juga menjadi yang terakhir dalam hidupku” bisiknya
Andre sontak tersenyum bahagia dan membalas pelukan Natasha ”Ga akan pernah ada yang lain selain kamu Nat” ujarnya ”I LOVE YOU NATASHAAA!!” serunya yang kemudian mendapat tepuk tangan riuh dari seluruh orang yang ada di sekitar taman itu
Andre kemudian memakaikan cincin pemberiannya di jari manis Natasha. Mereka sama-sama tersenyum, senyum penuh kebahagiaan. Dan sebagai pelengkap pemanis kejadian bersejarah dalam hidup mereka hari ini, Andre mengecup lembut dahi Natasha dan membisikkan kata ”You are my lovely one”

to be continue ...