Sabtu, 17 Januari 2015

Differ(end) Love (cerpen)

Hai i.m back with new cerpen, kali ini temanya tentang cinta beda agama (request dari sahabat gue @Tiadistiadji) . Karena temanya agak sensitif soal keagamaan gue ga mau ada debat atau ribut yang gimana lah yaa gitu he he he. Maaf kalau ada keterbatasan pengetahuan tentang agama lainnya. Kritik dan saran akan sangat saya terima. Thanks and happy reading^^
DIFFER(END) LOVE (CERPEN)
“Lo udah ke gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa)?” tegur Lukman pada Alex yang sedang melahap makan siangnya di kantin kampus
Alex menggelengkan kepalanya “Emang mau ngapain? Gue kan ga ikut UKM (Unit Kegiatan Mahasiwa) apa-apa”
Lukman menepuk dahinya “Ampun dah Leeeex” geramnya “Lo ga lupa ingatan kan kalo lo ditunjuk buat jadi ketua penyelenggara Festival Komunikasi angkatan kita?”
Alex seketika tersedak mendengar ucapan Lukman “Demi apa lo?” tanyanya tak percaya
Lukman mendesah pelan “Udah gue duga lo pasti lagi ngelindur makanya iya iya aja waktu disuruh jadi ketua Festival”
“Terus gimana dong nih Man?” tanya Alex panik
“Assalamualaikum” sapa seorang gadis menghentikan pembicaraan mereka
“Wa’alaikumsalam” sapa Lukman “Kok kamu kesini?” tanyanya pada gadis itu
Gadis itu tersenyum “Iyaa, habis tadi aku tunggu di gedung PKM tapi ga ada satu orang pun yang datang nemuin aku. Jadi aku pikir biar aku aja deh yang cari kakak” tuturnya “Maaf, aku ganggu ya?” tanyanya kemudian dengan raut wajah bersalah
Lukman dengan cepat menggelengkan kepalanya “Sama sekali enggak ganggu kok, aduh kakak minta maaf yaa, kakak yang butuh kamu tapi malah kamu yang jadi repot nyari kakak”
Lagi-lagi gadis itu tersenyum “Gak apa-apa kok kak” ujarnya, kemudian ia memberikan sebuah flashdisk pada Lukman “Di dalamnya udah ada video-video beberapa orang yang aku wawancara. Nanti tinggal kakak edit lagi aja. Aku juga udah bikinin desain brosur sama perkiraan rincian biaya buat acara Festival nanti kakak bisa cek sendiri” tuturnya
“Waah ya ampun makasih banyak loh dek” seru Lukman dengan mata berbinar-binar
Gadis itu mengangguk “Yaudah kalo gitu aku harus pergi dulu soalnya masih ada kelas, kalau butuh bantuan lagi jangan sungkan buat bilang sama aku yaa kak”
“Iyaa, sekali lagi makasih banyak yaa” ujar Lukman
“Assalamualaikum” pamitnya
“Wa’alaikumsalam” jawab Lukman. Setelah gadis itu pergi, Lukman langsung menggebrak meja dihadapannya dengan keras sehingga mengagetkan Alex “Bengong aja lo!” serunya
Alex segera mengelus-elus dadanya “Astaga bisa cepet mati ye gue lama-lama main sama lo” omel Alex
“Siapa suruh bengong aja” Lukman kemudian menyerahkan flashdisk yang tadi diberikan oleh gadis itu pada Alex “Tuh lo yang edit videonya, bikin jadi kayak film dokumenter atau gimana kek serah lo dah, pelajarin juga rincian biayanya terus lo bikin proposal. Ntar gue yang bantu ngomong ke dekan sama senior lainnya”
Alex mengangguk “Okedeh, btw kok tuh cewek baik banget sih. Dia salah satu panitia Festival Komunikasi juga? Tapi kok kayaknya gue gapernah liat ya?” tanya Alex
“Bukan kok, dia malah bukan dari fakultas ilmu komunikasi” jawab Lukman
“Terus dia siapa?” tanya Alex penasaran
“Sepupu gue, seumuran kok, tapi karena silsilah keluarga jadinya dia manggil gue kakak deh. Berterima kasihlah lo sama dia” ujar Lukman
“Ah iyaa shit tadi gue ga sempet bilang makasih, abis tadi gue terpesona gitu liat mukanya. Bening banget, beningnya beda gitu sama muka mbak-mbak yang pucet karena make obat pemutih. Btw siapa namanya Man?”
            “Giliran sama yang bening-bening aja gercep lo” ledek Lukman “Namanya Kamila, Kamila Nuraini” jawab Lukman
“Nama yang indah” puji Alex
Lukman menganggukan kepalanya “Hm, Kamila Nuraini memiliki arti wanita sempurna dan bercahaya matanya”
“Begitukah?” tanya Alex yang dijawab dengan sebuah anggukan lagi dari Lukman
“Setiap nama pasti mengandung sebuah arti. Gimana dengan nama lo sendiri? Alexander Christian? Apa artinya?” tanya Lukman
Alex memejamkan matanya mencoba mengingat sesuatu “Itu…. Kalau gak salah artinya adalah penolong dan pelindung umat kristiani” ujarnya
Lukman tertawa kecil “Sepertinya kelakuan lo ga sebagus nama lo ya Lex?” goda Lukman
Alex memutar bola matanya “Bawel lo ah” desisnya sambil melanjutkan kembali melahap makan siangnya yang sempat terhenti
Alex memperhatikan dengan serius layar laptopnya sambil sesekali menyeruput ice cappucinonya “Detail banget rincian biayanya, sampe ditulis juga perkiraan biaya tak terduganya” gumamnya memuji Kamila
Namun tiba-tiba fokus Alex teralihkan ke arah lain, ia segera bangkit dari kursinya dan berlari menghampiri seseorang “Haiii” sapanya menghentikan langkah orang itu
Melihat seseorang yang tak dikenalnya tiba-tiba mencegatnya sontak ia kaget, seketika raut wajahnya berubah menjadi was-was dan Alex sepertinya menyadari hal itu “Sorry sorry ga maksud ngagetin kok. Emm saya temennya Lukman yang kemarin. Inget ga?” tanya Alex hati-hati
Raut ketegangan di wajah Kamila akhirnya perlahan meluruh dan kini berganti dengan sebuah senyuman “Iyaa inget kok, ada perlu apa yaa kak?” tanyanya
Alex sedikit salah tingkah namun ia berusaha menutupinya “Emm kalau boleh sih pingin ngobrol-ngobrol” Alex memutar otaknya mencoba mencari alasan agar bisa menghabiskan waktu bersama dengan Kamila “Ah iyaa ngobrolin soal video dan lain-lain yang di flashdisk kemarin. Itu juga kalau kamu bisa sih hehe”
Kamila menganggukkan kepalanya “Bisa kok, kebetulan hari ini udah ga ada kelas lagi. Tapi aku mau sholat dulu”
Alex tersenyum lebar “Yaudah, saya tunggu di situ yaa” ujarnya sambil menunjuk ke arah kursi di dekat danau tempat ia duduk tadi
“Loh kakak ga mau ikut berjama’ah?” tanya Kamila
Alex tersenyum “Aku non muslim” ujarnya
“Eh? Maaf yaa kak” ujar Kamila canggung
“It’s okay gapapa. Yaudah aku tunggu disana yaa” ujar Alex, Kamila pun mengangguk dan berlalu menuju masjid untuk menunaikan sholat dzuhur berjama’ah
Alex memandangi punggung Kamila yang kian menjauh “Seperti apa yaa rasanya ibadah bersama kamu” gumam Alex
Alex melambaikan tangannya ke arah Kamila, melihat hal itu Kamila mempercepat langkahnya untuk menghampiri Alex “Maaf yaa Kak lama” ujar Kamila
“Gapapa santai ajaa. Ohiya gausah panggil ‘kakak’ yaa. Kamu sama Lukman seumuran kan? Berarti kita juga sama” ujar Alex
“Emang gapapa kalo aku manggil nama aja?”
“Ya jelas gapapa dong. Kamu kan manggil Lukman ‘kakak’ karena emang dari silsilah keluarga, sedangkan aku kan bukan keluarga kamu, jadi gapapa kalo panggil nama. Yaa kayak kamu manggil temen-temen kamu aja”
Kamila menganggukkan kepalanya “Terus, nama kamu?” tanyanya
“Alexander Christian. Kamu bisa panggil aku Alex”
“Alex” Kamila mengulang menyebutkan nama Alex sambil tersenyum, dan lagi-lagi senyum itu membuat getaran hebat dalam jantung Alex “Ahiya, namaku Kamila Nuraini. Kamu bisa panggil aku Kamila” lanjut Kamila
“Okee Kamila, salam kenal yaa” jawab Alex
Kamila mengangguk sambil tersenyum “Jadi, kamu mau ngomongin soal apa nih Lex?” tanya Kamila kemudian
“Ah ini.. coba kamu tonton video bikinan aku. Jadi video dari kamu kemaren udah aku edit” Alex kemudian memutar arah laptopnya ke hadapan Kamila dan memberikan headsetnya pada Kamila
Kamila memasang headset itu ke telinganya dari balik hijabnya, kemudian dengan fokus ia menonton video yang diputar di laptop Alex. Sementara Kamila fokus pada laptop, Alex pun fokus pada Kamila. Ia teringat pada kata-kata Lukman “Kamila Nuraini memiliki arti wanita sempurna dan bercahaya matanya”. Alex tersenyum sesaat “Sepertinya orang tuanya punya indera ke enam, karena nama yang mereka berikan sangat tepat” gumam Alex dalam hati. Jika biasanya selama ini menurut Alex wanita cantik adalah seorang wanita yang memiliki rambut panjang menjuntai dengan tubuh seksi dan fashionable, kini pandangannya berubah. Entah mengapa Kamila yang justru tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya serta menutupi kepalanya dengan hijab malah kini terlihat lebih cantik baginya.
“Bagus Lex” puji Kamila
Alex seketika tersentak “Hah? Apanya yang bagus?”
“Video editan kamu ini” jawab Kamila
“Serius?”
Kamila menganggukkan kepalanya dengan yakin dan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan “Duarius kalau perlu” tegasnya
Alex tertawa kecil “Makasih yaaa, ini juga kan karena bantuan kamu. Ohiya btw kamu dari fakultas apa?”
“Fakultas psikologi”
Mata Alex berbinar-binar “Serius?” tanyanya “Coba dong baca karakter aku gimana”
Kamila menggelengkan kepalanya sambil tertawa “Aku ini jurusan psikologi, bukan peramal” ujarnya
“Ehehe iyaa juga yaa. Tapi sedikit-sedikit bisa dong ngebaca karakter orang”
“Bayar yaa tapi?” goda Kamila “Emm gini aja, aku kasih test aja mau ga? Kebetulan aku pernah dikasih tau soal ini sama dosen”
Alex dengan semangat menganggukkan kepalanya “Mau! Mau!” serunya
“Visualisasikan dalam bayangan kamu, suatu hari ada seekor burung kecil berwarna biru yang menyelinap masuk ke dalam kamarmu lewat jendela kamarmu. Entah mengapa kamu merasa ada sesuatu hal yang menurutmu menarik pada burung itu sehingga kamu memutuskan untuk memeliharanya. Keesokan harinya saat kamu bangun dari tidurmu burung it berubah warna menjadi kuning, lalu pada hari ketiga burung tersebut berubah warna lagi menjadi warna merah, dan kemudian pada hari keempat burung tersebut pun berubah warna lagi menjadi hitam. Pertanyaannya, di hari kelima saat kamu bangun akan berubah warna menjadi warna apakah burung itu? A. Tetap hitam B. Biru C. Putih D. Emas. Nah yang mana jawaban kamu?” ujar Kamila
Alex terlihat berfikir keras untuk menentukan jawabannya “Hmm… Biru deh” jawabnya kemudian
“Biru memiliki arti kamu adalah orang yang optimis. Saat kamu dihadapkan dalam kondisi terburuk maka kamu akan tetap berfikir optimis dan yakin bahwa masalah tersebut pasti setidaknya akan kembali ke keadaan normal semula” jelas Kamila
“Iyaasih bener hehehe” Alex mengakui ucapan Kamila “Emm, kamu hari ini ada rencana ga?” tanya Alex
Kamila menggelengkan kepalanya “Enggak, kenapa?”
“Mau ga hari ini nemenin aku belanja buat keperluan festival? Aku rasa aku butuh pendapat kamu deh. Itupun kalau kamu mau sih” tutur Alex
Kamila tampak sedang berfikir “Perginya berdua aja? Emm gimana yaa.. Aku gaenak, takutnya nanti jadi fitnah”
“Kamu jangan takut, ga usah pikirin apa kata orang. Aku janji aku adalah orang pertama yang bakal ngelindungin kamu kalo emang ada orang yang ngomongin macem-macem tentang kamu” Alex kemudian meletakkan tangan kanannya di dada kirinya “Aku bersumpah demi Tuhan” ujarnya sungguh-sungguh
Kamila tersentuh melihat kesungguhan Alex. Jika biasanya lelaki akan menyerah, Alex justru malah berjanji akan menjaganya. Kamila pun akhirnya menyetujui permintaan Alex “Okee kalau gitu, tapi ga bisa lama-lama yaa” ujar Kamila
Alex langsung sumringah mendengar persetujuan dari Kamila “Kamu serius? Makasih banget yaaa” serunya bahagia
Padahal hari sudah siang tapi pasar tempat Alex membeli perlengkapan untuk keperluan Festival masih saja ramai. Kamila berkali-kali sempat tertinggal dari Alex karena padatnya para konsumen di pasar itu. Hingga hal tersebut harus membuatnya untuk berpandai-pandai menyalip di antara keramaian orang-orang
“Kamila, kamu pegang ini” Alex menggulung sapu tangannya dan mengulurkan ujung gulungannya pada Kamila, sedangkan ia memegang ujung yang satunya lagi
“Buat apa?” tanya Kamila bingung
“Aku kan ga bisa pegang tangan kamu ataupun ngerangkul kamu karena kita bukan muhrim, jadi ini satu-satunya cara supaya aku ga kehilangan kamu atau kamu kehilangan aku. Soalnya disini rame banget”
Deg! Seketika jantung Kamila berdegup lebih cepat dari biasanya. Dengan segera ia beristighfar dan menyebut nama Allah dalam hatinya agar degup jantungnya kembali normal. Perlahan ia kemudian mengambil uluran gulungan sapu tangan itu dan menggenggamnya dengan erat. “Ayoo jalan” ujarnya.
Alex tersenyum dan mengangguk kemudian kembali melanjutkan perjalanan mereka. Aneh rasanya, padahal tak saling bersentuhan langsung tapi entah mengapa rasanya Alex tak ingin melepaskan genggamannya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Kamila, padahal mereka sama sekali tak saling bersentuhan tapi entah mengapa rasanya ia dapat merasakan kehangatan dan kelembutan tangan Alex bahkan sampai ke dalam hatinya.
“Makasih yaa buat waktunya hari ini. Emm kalau boleh beberapa minggu ke depan aku bakal lebih sering minta waktu kamu nih” ujar Alex saat mengantarkan Kamila pulang ke rumahnya.
Kamila mengangguk “Sama-sama. Iyaa gapapa, aku seneng kok kalau emang aku bisa bantu” ujarnya sambil tersenyum.
“Yaudah kalau gitu aku pulang dulu yaa. Cepat masuk, kamu belum sholat ashar kan” seru Alex.
Kamila melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu baru menunjukkan pukul empat sore. “Iyaa baiklah, hati-hati di jalan ya”
Alex mengangguk, kemudian ia menstarter mobilnya dan kembali melanjutkan perjalanan.
Alex memarkirkan mobilnya di sebuah gereja, kemudian ia masuk ke dalam gereja itu. Pertama-tama Alex menyalakan lilin-lilin kecil sebagai ritual ibadahnya, kemudian ia berlutut di hadapan patung bunda maria, mengepalkan tangannya dan memejamkan kedua matanya. Saat ia memejamkan kedua matanya, anehnya justru malah muncul wajah Kamila
Alex kemudian menggelengkan kepalanya untuk menepis bayangannya. “Ya Tuhan, bahkan dihadapanMu pun aku malah membayangkannya” gumamnya sambil tersenyum kecil
“Tuhan, aku tidak pernah seserius ini dalam memandang seorang wanita. Tapi entah kenapa, dia mampu mengalihkan semua perhatianku padanya. Entah kenapa ia berhasil membuat mataku hanya memandang ke arahnya. Aku tau mungkin ini terlalu cepat, tapi bukankah cinta tidak mengenal waktu?”
Sementara itu di tempat yang berbeda Kamila juga sedang menunaikan ibadahnya. Ia mengangkat kedua tangannya “Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah pemilik kehidupan dari setiap makhluk hidup di muka bumi ini. Engkau telah merencanakan setiap kejadian apapun yang terjadi maupun yang akan terjadi di bumi ini” di sela-sela doanya tiba-tiba sosok Alex muncul dalam benaknya. Kamila buru-buru menepisnya dengan beristighfar “Ya Allah, maafkanlah hambaMu ini ya Allah. Hamba mohon jagalah diri hamba ini amiin”
 “Okee, hanya tinggal dua hari lagi menuju Festival Komunikasi 2014, semua persiapan udah kelar. Sekarang kita tinggal pastiin aja everything’s will be okay sampai hari H nanti. Makasih buat kerja samanya selama satu bulan ini” tutur Alex mengakhiri rapat panitia hari itu. Ia kemudian menghampiri Lukman yang sedang mengutak atik kamera SLR nya “Man, kira-kira Kamila lagi dimana ya?” bisiknya kecil pada Lukman
Lukman meletakkan kameranya “Lo sms aja tanya dia lagi dimana” jawab Lukman
“Ohiya yaa” Lukman kemudian mengambil handphonenya dan mengirimkan satu pesan singkat ke nomor Kamila. Dan dengan harap-harap cemas ia menunggu balasan dari Kamila
“Nungguin balesan sms aja muka lo sampe kayak orang nahan boker tau ga?” Ledek Lukman
“Ah sialan lo Man” desis Alex, kemudian raut wajahnya berubah menjadi sumringah ketika akhirnya Kamila membalas pesan singkatnya. Buru-buru ia membaca pesan dari Kamila
Aku di masjid mau sholat dzuhur, kenapa? – Kamila
Alex kemudian segera membalas pesan itu
Kalau udah selesai sholatnya aku tunggu di kantin tempat biasa ya – Alex
Setelah menekan tombol send Alex segera berpamitan pada Lukman “Gue ke kantin dulu ya sob” pamitnya
“Tunggu Lex” sergah Lukman
Alex kembali berbalik badan “Kenapa?” tanyanya
“Gue mau tanya satu hal sama lo. Lo suka ya sama Kamila?” tanya Lukman
Alex tertawa mendengar pertanyaan Lukman “Siapa sih Man yang ga suka sama dia? Dia baik, ramah, dan ga pilih-pilih temen. Gue rasa lo sebagai sepupunya juga pasti suka kan sama dia” jawab Alex
“Bukan suka seperti itu maksud gue. Apa lo punya perasaan lain sama Kamila? Semacam perasaan cinta gitu?”
Alex seketika bungkam seribu bahasa. Hari terus berganti, waktu berlalu begitu cepat setiap harinya. Mengubah setiap hal yang telah dilewatinya. Termasuk juga perasaan Alex, sesuatu yang awalnya hanya sebesar benih itu kini sepertinya sudah mulai menampakkan wujud nyatanya
Lukman seperti sudah mengetahui jawaban dari pertanyaannya melalui raut wajah Alex “Lex, sorry not sorry yaa. Gue selalu mendukung apapun yang lo lakuin selama itu baik. tapi kali ini gue mohon banget sama lo untuk berpikir lebih matang lagi” Lukman menepuk bahu Alex kemudian ia pergi meninggalkan Alex
Alex duduk termenung sambil mengaduk-aduk ice cappucinonya. Pikirannya menerawang jauh memikirkan perkataan Lukman tadi sampai tanpa ia sadari ternyata Kamila sudah berada di depannya
“Lex” tegur Kamila
Alex kemudian tersadar dari lamunannya “Eh? Oh kamu udah disini, mau aku pesenin minum ga?” tanyanya
Kamila menggelengkan kepalanya “Gausah, aku gak haus kok. Nanti tinggal pesen sendiri aja kalo aku mau” jawab Kamila
Alex tersenyum kemudian ia memandangi wajah Kamila “Ini hanya perasaanku ataukah memang kamu bertambah cantik setiap habis sholat? Apakah setiap selesai sholat kamu selalu memakai make up?” tanya Alex
Kamila tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya “Tidak, lagipula untuk apa aku berdandan berlebihan? Seorang wanita  harus menjaga dirinya dari tatapan-tatapan nakal”
“Lalu bagaimana wajahmu bisa terlihat lebih cerah dari sebelumnya?” tanya Alex penasaran.
“Saat berwudhu, aku membasuh wajahku dengan air. Mungkin kotoran di wajahku pun juga ikut menghilang” tutur Kamila
Alex menganggukkan-anggukan kepalanya, kemudian ia kembali menatap Kamila “Lalu, apa yang kamu minta pada Tuhan-mu dalam ibadahmu tadi?”
“Aku meminta kesehatan dan kesejahteraan untuk semua orang yang aku sayang dan juga yang menyayangiku” jawab Kamila
“Untuk dirimu sendiri? Kamu tidak meminta sesuatu untuk dirimu?”
Kamila menjawab pertanyaan Alex itu dengan gelengan kepala
Alex mengernyitkan dahinya “Bagaimana bisa kamu tidak meminta apapun pada Tuhan-mu? Aku selalu memberitahu pada Tuhan Jesus tentang apa yang aku inginkan agar Dia dapat memberikannya padaku”
Kamila tertawa kecil “Aku tidak meminta apapun pada Allah, karena aku yakin Dia lebih mengetahui apa yang aku butuhkan” tuturnya “Bagaimana dengan dirimu? Apa yang kamu minta pada Tuhan mu?” tanya Kamila
Alex menundukkan kepalanya “Aku meminta sesuatu yang sepertinya mustahil” desis Alex. Kemudian ia kembali menatap Kamila dengan lembut “Aku meminta dirimu”
Tenggorokan Kamila seketika tercekat mendengar perkataan Alex. Dadanya terasa sesak namun ia tetap berusaha menyembunyikannya “Ah, kamu ini suka sekali bercanda” ujarnya mengalihkan pembicaraan
“Aku belum pernah seserius ini dalam hidupku” tegas Alex “Aku belum pernah mencintai seseorang sedalam ini. tak bisakah kamu dan aku menjadi kita?” tanya Alex lirih
Sekujur tubuh Kamila bergetar hebat, bagaimana bisa keinginan yang mati-matian ia kubur itu justru kini malah terlontar dari mulut Alex sendiri. Tak bisa Kamila pungkiri bahwa cinta telah hadir diantara mereka. Tapi, selain cinta Tuhan pun juga ikut hadir diantara mereka.
“Aku telah menyukaimu sejak awal pertama aku melihatmu, entah kenapa aku selalu merasa terhanyut dalam sorot matamu itu. Sejak saat itu rasanya ingin sekali aku selalu berada di sisimu, ingin sekali rasanya aku untuk menjagamu. Namun apakah mungkin?”
Kamila masih tetap terdiam, hatinya berdesir, sebelum pertahanan hatinya juga ikut runtuh ia memilih untuk bangkit dari tempat duduknya “Tahukah kamu? Terkadang Tuhan menguji kita dengan cinta beda agama hanya untuk melihat apakah kita lebih mencintai Sang Pencipta atau hanya sekadar ciptaan-Nya” ujar kamila lirih sebelum ia benar-benar pergi dari pandangan Alex
Kamila membaca setiap ayat demi ayat suci firman Allah sampai tanpa ia sadari air matanya menetes dari pipinya dan membasahi Al-Qur’an yang sedang dipegangnya. Kamila buru-buru menghapus air matanya namun entah mengapa air mata itu justru malah semakin deras mengalir dari matanya
“Ya Allah apa yang harus aku lakukan?” desisnya dalam isak tangisnya
“Mengapa disaat aku telah mati-matian menghilangkan perasaan itu, Kau justru malah membuatnya menjadi semakin jelas? Maafkan aku yang tidak bisa menjaga hatiku ini untuk tidak jatuh kepada Alex. Apa yang harus ku lakukan jika menyebut namanya saja kini sudah membuat hatiku bergetar? Ya Allah ku mohon bantulah aku untuk menemukan jalan keluarnya”
Sementara itu di tempat yang jauh berbeda, ada hati yang juga sama-sama hancur. Dengan gontai Alex melangkahkan kakinya ke dalam gereja, kemudian ia bertekuk lutut di hadapan patung bunda maria. Ia menatapnya dengan nanar “Permainan macam apa ini?” tanyanya lirih
“Kau tau aku takkan mungkin meninggalkanMu sehingga Kau membuatku harus pergi meninggalkannya?! Jangan seperti ini kumohon jangan lakukan ini” Alex mengepalkan tangannya dan menundukkan kepalanya, memohon agar Tuhan menjadikan semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan hilang bersama dengan datangnya matahari esok pagi
Di dalam hati ini hanya satu nama
Yang ada di tulus hatiku ingini kesetiaan yang indah takkan tertandingi
Hanyalah dirimu satu peri cintaku
Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu
Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu
Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
Bukankah cinta anugerah
Berikan aku kesempatan
Tuk menjaganya sepenuh jiwa
Ooooohhh
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
(Peri Cintaku – Marcel Siahaan)
           
Hari Festival yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Seluruh warga kampus pun ikut meramaikan acara itu. Banyak juga beberapa mahasiswa/i yang membuka stand untuk menggalang dana yang nantinya akan mereka sumbangkan kepada panti asuhan dan juga beberapa anak jalanan
Alex benar-benar disibukkan hari ini, sejujurnya ia bersyukur karena perhatiannya benar-benar terfokuskan untuk acara ini sehingga ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal lainnya
Setelah penampilan band yang mengisi acara hari itu pun kini tiba saatnya pemutaran video yang berisi tentang wawancara dengan beberapa warga kampus. Alex memberikan kode pada Lukman untuk memutarkan video tersebut
Para mahasiswa/i yang dirinya diwawancara pada saat itu tak menyangka jika ternyata video mereka akan ditampilkan untuk acara ini. sebagian dari mereka ada yang tertawa atau bahkan menggoda teman mereka yang terekam dalam video tersebut. acara ini sukses besar dan mendapat respon positif dari semua orang yang menontonnya.
Alex tersenyum puas karena kerja kerasnya ternyata mendapati respon yang baik. alex kemudian memberikan kode kepada Lukman untuk mengambil alih tugasnya karena ia ingin berjalan-jalan keliling sebentar
Alex kemudian berjalan mengelilingi stand yang ada pada Festival hari itu sampai kemudian langkahnya terhenti pada sebuah stand aksesoris, matanya bukan tertuju pada aksesoris yang dijual tapi justru tertuju pada orang yang sedang berjaga di stand itu. Alex kemudian berjalan menghampirinya
“Kenapa ga nonton waktu video yang kamu bikin diputar tadi?” ujar Alex
Kamila terkejut mendapati Alex berdiri di hadapannya “Maaf, aku gak tau” ujarnya canggung
Alex menyadari bahwa waktu kini telah kembali merubah keadaan diantara mereka “Apa yang aku katakan waktu itu anggap saja tidak pernah ku katakan” ujar Alex, kemudian ia hendak berlalu pergi meninggalkan Kamila
 “Kamu tau ga? Meski ‘betul’ dan ‘benar’ sekilas terdengar memiliki makna yang sama. Namun keduanya akan menjadi sangat berbeda ketika diberi imbuhan ke– dan –an” ucap Kamila menghentikan langkah Alex
“Maksudmu?” tanya Alex
Kamila kemudian menarik nafasnya dalam-dalam “Kebetulan adalah hari dimana kita bertemu dan kebenaran adalah tentang apa yang memisahkan kita. Kebenarannya adalah aku tidak akan pernah bisa menghilangkan Allah dari hidupku, sama seperti kamu yang tidak bisa meninggalkan Jesus dari hidupmu”
Alex berdecak “Apakah menurutmu ini adil?”
“Lex, aku gak tau apakah ini adil atau tidak. Tapi jika kamu bertanya ‘Apakah ini baik?’ maka tentu ini adalah yang terbaik” Kamila kemudian mengambil sepasang kalung yang bandulnya berbentuk hati yang dapat disatukan dan dipisahkan, ia memberikan sepasang kalung itu pada Alex
“Kenapa kamu tidak memberikanku satu kalung saja dan kamu dapat menyimpan sebelah pasangannya lagi untukmu?”
Kamila menggelengkan kepalanya “Aku tidak ingin kamu pergi dengan setengah hati” ujar Kamila “Lagipula kita sama-sama tau jika masing-masing dari kita menyimpan setengah hati ini maka sama saja kita menyimpan luka karena kita takkan bisa membuatnya berpasangan lagi. Jadi aku berikan ini untukmu, agar suatu hari nanti kamu dapat memberikan setengah hatimu kepada orang yang akan menjadi pasanganmu”
Alex mengambil kalung pemberian Kamila itu “Terima kasih. Berjanjilah padaku bahwa kamu juga akan melakukan hal yang sama. Berjanjilah padaku untuk tidak mengenang pertemuan kita ini sebagai sebuah luka” pinta Alex yang kemudian dijawab dengan yakin oleh Kamila lewat sebuah anggukan. Alex pun kemudian berlalu meninggalkan Kamila.
Inilah akhir yang harus mereka berdua hadapi. Sejak pertama kali mengenal perasaan cinta yang tumbuh di hati mereka masing-masing, mereka sebenarnya sudah tau bahwa perpisahan lah yang akan menjadi akhir dari kisah cinta mereka itu
            -The End-
            Thanks for reading
Follow me on twitter and ask.fm @atyampela
Oiya kan tadi ada test psikologi yang soal burung biru tuh, kalau kalian mau tau makna dari pilihan warna yang lainnya bisa langsung ask aku aja yaaa hihi
And kalau mau request cerpen juga bisa, tinggal follow twitter aku terus mention aku deh mau request tema cerpen tentang apa atau bisa juga melalui ask.fm




LOVE BETWEEN US PART 16 (Last Part)

Mala membuka lembar demi lembaran buku diarynya. Entah sejak kapan tanpa ia sadari setiap lembaran buku itu kini dipenuhi nama Adnan, entah sejak kapan Rio tak lagi menjadi sosok yang ia perbincangkan dengan diarynya itu. Jemarinya menyusuri setiap kata dalam tulisannya yang menggambarkan tentang Adnan. Mala tersenyum kecil ”Sejak kapan ya mata gue mulai hanya melihat lo Nan?” tanyanya pada dirinya sendiri
Mala mengambil penanya dan mulai menulis lagi di lembaran baru diarynya

Setiap orang punya cara tersendiri dalam mencintai
Seperti itu pula halnya dengan diriku
Aku memilih mencintaimu dalam diam
Menjagamu dalam keheningan
Dan menyanyangimu dalam kebisuan
Karena hanya di dalam kesunyian lah cinta ini akan terlihat semakin jelas
Entah pada akhirnya kamu akan menyadari rasa ini atau tidak
Tapi aku akan selalu bersamamu
Menemanimu dalam kesendirian

Mala menutup diarynya dan kembali menyimpannya ke dalam tasnya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan ”Luka sudah sewajarnya akan selalu mengiringi setiap perjalanan cinta. Maka yang bisa kulakukan hanyalah tetap tegar dalam menjalaninya” ujar Mala meyakinkan hatinya. Ia menoleh ke atas tempat tidur, dilihatnya dua sahabatnya sudah memasuki alam mimpi lebih dahulu. Ia kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah Nia
Nia menyadari kehadiran Mala, kemudian perlahan membuka matanya ”Kok lo belum tidur sih La?” tanyanya
”Ini baru mau tidur” jawab Mala
”La, lo gapapa kan?” tanya Nia hati-hati
Mala mengernyitkan dahinya ”Gapapa gimana apanya maksudnya?” tanyanya
Nia menghela nafas ”Setdah perasaan gue nanyanya simple kenapa lo nanya baliknya ribet gitu” ujarnya ”Itu loh La, soal Adnan... Lo baik-baik aja kan?” tanya Nia
Mala menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ”Everything’s okay kok Ya. Gue cuma ga mau berakhir tanpa kejelasan seperti yang dulu. Yah meskipun ga ada jaminan bakal berakhir indah seenggaknya ga berakhir tanpa kejelasan deh”
Nia tersenyum ”Yaudah sekarang istirahat aja. Have a nice dream” ujarnya sambil memeluk Mala
Mala membalas pelukan Nia ”You too” ujarnya sambil memejamkan matanya
...

Dering ponsel Nia berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Hal tersebut mau tak mau memaksanya untuk bangun dari tidurnya. Nia bangun dari kasurnya kemudian mengambil ponselnya dan mengangkat telepon itu di luar kamar agar tak membangunkan kedua sahabatnya yang masih terlelap itu
”Halooo?” sapa Nia yang masih setengah sadar
”Ya?” ujar Andika di ujung telepon
”Hmmmm” gumam Nia
”Ya ke rumah sakit Pelita Harapan dong sekarang”
”Hmmmm” gumamnya, namun sedetik kemudian Nia tersadar dan seketika panik ”Hah rumah sakit? Lo kenapa Dik? Kok baru ngabarin sekarang masuk Rumah Sakit? Dirawat ga? Kalo iya di kamar nomor berapa?” Nia memburu Andika dengan berbagai pertanyaan
”Bukan gue yang sakit tapi Adnan, panjang ceritanya. Udah buru kesini sekarang. Adnan di rawat di ruang Melati no 139. Dah yaa gue tunggu disini”
”Oke gue kesana sekarang” Nia menutup teleponnya kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya untuk membangunkan Adis dan Mala. Nia mengguncang-guncangkan tubuh kedua sahabatnya itu ”Dis, La ayoo bangun”
”Aduuh Ya kenapa sih?” tanya Adis yang masih mengantuk
”Kita ke rumah sakit sekarang” ujar Nia
Mendengar kata rumah sakit sontak Adis dan Mala seketika bangun ”Lo sakit apaan?!” tanya mereka
”Bukan gue tapi Adnan”
”Adnan?” tanya Mala tak percaya
Nia menganggukkan kepalanya ”Gue ga tau ceritanya gimana, barusan Dika telepon gue. Pokoknya kita harus kesana sekarang. Kalian mandi cepet abis itu kita langsung berangkat”
Mala dan Adis mengangguk kemudian mereka segera bergegas bersiap-siap. Dalam hati Mala terus memanjatkan doa agar Adnan senantiasa dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa
...

”Keadaan Adnan gimana?” tanya Nia pada Andika dan Kevin setibanya mereka di rumah sakit
”Udah baik-baik aja kok sekarang. Premannya juga udah ditahan di kantor polisi” ujar Kevin
Nia sontak shock mendengarnya ”Hah? Preman?”
Andika merangkul Nia kemudian menyuruhnya duduk ”Lo tenang dulu yaa. Jadi gini, kemarin Adnan pulang larut banget, kemudian di perjalanan dia dicegat dua orang preman gitu. Itu preman pengen ngerampas motornya Adnan yaudah deh Adnan jadi adu jotos sama tuh preman. Sebenernya preman itu udah kalah tapi sialnya salah satu dari mereka bawa pisau dan dia nusuk perut si Adnan. Syukurlah ada warga yang lewat dan langsung teriak ngebangunin warga lainnya. Sebagian dari mereka bawa Adnan kesini dan sebagiannya lagi ngegerebek tuh preman” tutur Andika
Nia, Adis dan Mala seketika lemas mendengarnya ”Di dalem Adnan sama siapa?” tanya Nia
”Sama nyokapnya. Bokapnya lagi ke kantor polisi” ujar Andika
Nia kemudian menoleh ke arah Mala ”La, lo tengokin Adnan duluan gih. Nanti gue sama Adis nyusul” ujarnya
Mala pun mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar tempat Adnan dirawat
”Permisi” ujarnya saat memasuki kamar itu
Siska –ibunda Adnan– pun menyambut Mala dengan hangat ”Temannya Adnan? Mari sini masuk” ujarnya
Mala kemudian mendekat menghampiri Siska dan mengecup punggung tangannya ”Nama saya Mala tante” ujar mala memperkenalkan dirinya
Siska tersenyum, kemudian ia bangun dari kursinya dan mempersilahkan Mala untuk duduk menggantikannya. ”Silahkan nak Mala. Kamu temani Adnan dulu yaa. Tante mau keluar sebentar untuk menelepon papanya Adnan. Marii tante tinggal dulu ya” ujar Siska sambil berlalu keluar meninggalkan Adnan dan Mala berdua
Mala kini hanya bisa memandangi sosok Adnan yang sedang terbaring tak berdaya di atas kasurnya ”Nan, cepet sembuh yaa” ujarnya. Perlahan air mata Mala menetes hingga ia pun menangis terisak. Namun tiba-tiba ada tangan yang menghapus air matanya. Sontak Mala terkejut, terlebih lagi tangan itu adalah tangan Adnan
Adnan tersenyum kecil ”Lo tuh kenapa selalu aja nangis sih La?” tanyanya, namun Mala tak menjawab dan hanya terus menangis
”Lo tau ga semalem gue mimpi aneh” ujar Adnan ”Gue mimpi gue lagi jalan sama Arin, akhirnya setelah sekian lama gue bisa menggenggam tangannya lagi. Arin ngajak gue ke suatu tempat yang indah banget. Tapi tiba-tiba gue ngeliat lo lagi duduk sambil nangis. Akhirnya gue ngajak Arin buat nemuin lo, tapi dia nolak, di nyuruh gue aja yang ngehampirin lo. Arin bilang ’Kamu beruntung mempunyai seorang gadis yang mencintai kamu dengan sungguh-sungguh, yang rela menangis demi kamu. Pergilah, genggamlah tangannya dan jangan kau lepas. Kamu sudah bukan milikku lagi, begitupun halnya dengan aku’ lalu kemudian Arin hilang bersamaan dengan rasa sakit yang luar biasa hebat di perut gue ini” tuturnya sambil mengusap lembut perutnya sixpacknya yang kini memiliki bekas jahitan
”Gue ga tau kapan belenggu ini akan benar-benar lepas. Tapi.....” Adnan menggantung kalimatnya ”Mungkin kalo lo bersedia menemani gue. Belenggu ini akan lebih cepat terlepas” tutur Adnan. ”Jadi, bersediakah lo menghabiskan waktu lo lebih banyak bersama gue?” tanya Adnan
Mala tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian Adnan pun menarik Mala dalam dekapannya.
...

Beberapa bulan kemudian...
Seluruh warga SMA Destrict sibuk hari ini. Mereka semua sedang mempersiapkan pesta perpisahan untuk para siswa/i kelas XII yang telah dinyatakan 100% lulus dalam Ujian Nasional. Begitu pula dengan Nia, Adis, Mala, Okta, Rani dan Ziah. Mereka sibuk mempersiapkan diri latihan untuk penampilan mereka nanti malam.
Nia bersama dengan Andika, Kevin dan Adnan yang tergabung dalam sebuah band bernama “The Crown” yang mereka dirikan bersama diminta sekolah untuk menyumbangkan suaranya menyanyi di acara nanti malam.
Sedangkan Mala, Adis, dan Ziah yang tergabung dalam ekskul saman pun akan menampilkan tarian mereka malam nanti, sementara itu Okta dan Rani yang ikut ekskul fotografi juga akan bekerja di belakang layar dan memotret setiap kebahagiaan yang akan terpancar dari para warga sekolah SMA Desrict malam nanti
”Duh ga sabar nanti malem deh” seru Mala saat mereka semua kumpul bersama di sela-sela jam istirahat yang panitia penyelenggara acara berikan
”Samaaaa. Gue juga La” seru Nia tak kalah antusias
”Ga sabar mau liat Rio?!” sindir Andika dan Adnan bersamaan
Nia dan Mala saling pandang kemudian tertawa terbahak-bahak ”Iyaa nih gasabar banget” goda Mala
”Bener tuh La, pasti dia tambah ganteng deh. Duh sedih deh gabisa liat dia lagi di sekolah” timpal Nia
 ”TERUS AJAA TERUS” sindir Adnan dan Andika dengan raut wajah bete klimaks.
Nia dan Mala tertawa puas melihat dua orang kesatria mereka sedang terbakar api cemburu. Nia kemudian merangkul Andika dan Mala merangkul Adnan
”Dear boys.....” ujar Nia
”We can’t change the past, but....” ujar Mala sambil melirik ke arah Nia
”We surely want to make a great future only with you” lanjut Nia dan Mala bersamaan sambil mengecup pipi pasangan mereka masing-masing
...

Malam yang dinantikan pun akhirnya tiba. Seluruh siswa/i SMA Destrict mengenakan busana yang mempesona. Para lelaki mengenakan setelan jas hitam dan para wanita mengenakan dress dengan beragam bentuk dan warna yang mana setiap warnanya memancarkan aura mereka masing-masing.
Diawali dengan penampilan saman dari Mala, Adis, dan Ziah bersama dengan rekan ekskul saman mereka kemudian sambutan dari kepala sekolah serta pemberian penghargaan untuk siswa berprestasi dan kini sampailah pada saatnya ”The Crown” akan tampil. Nia dan yang lainnya masih bersiap-siap di tenda belakang panggung
”Ya, 15 menit lagi kalian naik panggung yaa” seru panitia penyelenggara mengingatkan mereka
”Heyy udah mau tampil yaa? Mangat!” ujar Mala dan Adis yang baru saja tiba di tenda ”The Crown”
Adnan tertegun melihat Mala yang tadinya dalam balutan baju penari saman kini sudah berganti memakai dress selutut berwarna baby pink dengan rambut tergerai dan sedikit polesan riasan ”Cantik” pujinya pada Mala yang telah resmi menjadi kekasihnya itu. Sementara itu Mala hanya tersipu mendengarnya
Kemudian tirai terbuka dan seseorang masuk ke dalamnya. Nia mengira bahwa yang masuk itu adalah salah satu panitia ”Iyaa kita udah si...” ujarnya namun kalimatnya tertahan ”Rio?” desisnya
Rio tersenyum ”Boleh bicara sebentar sama lo? Sama Mala juga” pintanya
Nia dan Mala saling pandang, kemudian mereka mengalihkan pandangan mereka pada kekasih mereka masing-masing, Andika dan Adnan
”Gue sama Adis tunggu di luar yaa” ujar Kevin sambil menggandeng Adis pergi meninggalkan mereka berlima di dalamnya
Andika mengenakan jasnya, begitu pula dengan Adnan ”Kita tunggu di luar” pamit Andika.
Namun Nia mencegahnya ”Kalian tetap disini” ujar Nia sambil menggenggam tangan Andika.
Mala pun mengangguk menyetujui perkataan Nia. Sambil menggenggam tangan Adnan ia pun kini memberanikan diri menatap Rio –masa lalunya–
”Ada perlu apa Yo?” tanya Nia memulai pembicaraan
Rio tersenyum ”Cuma mau pamitan dan juga mau ngucapin terima kasih. Kita kenal dengan cara baik-baik dan gue mau kita berpisah juga dengan cara baik-baik. Maafin gue kalo sempet membuat kalian berdua meneteskan air mata. Maaf juga karena sudah memberikan kenangan pahit buat kalian” ujarnya ”Tapi gue gamau dikenang sebagai orang yang buruk. Gue ga mau pergi dengan kenangan pahit. Gue cuma mau bilang, maybe you are not the only one girl in my life, but i’m sure both of you are the best girls i’ve ever meet. Gue pamit sekarang” Rio pun mengulurkan tangannya
Nia menyambut uluran tangan Rio, begitupun Mala. ”You will always be our first love Yo. Success for your future” ujar Nia
Rio mengangguk, kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya dan memberikannya pada Nia ”Satu lagi, ini kartu nama kenalan gue, dia adalah anak dari pemilik label musik yang cukup ternama. Hari ini dia hadir disini buat ngeliat penampilan kalian secara live. Jadi tolong tunjukkin performance kalian semaksimal mungkin”
Nia tercengang mendengarnya ”Thanks Yo. Emm i mean Thanks Kak Rio” ujar Nia
Rio tersenyum ”Sama-sama” ujarnya sambil berlalu pergi
”RIO!” teriak Andika menghentikan langkah kaki Rio
”Kapan-kapan kita main futsal bareng ya” ujar Andika sambil tersenyum
”Yoi bang. Ajak team lo. Itung-itung mempererat tim futsal antar angkatan” timpal Adnan
Rio tersenyum ”Oke, tapi kita gamau ngalah sama adek kelas yaa” ujarnya sambil kemudian berlalu pergi
”Dia ternyata ga seburuk yang gue fikir” ujar Andika saat Rio sudah menghilang dari pandangan mereka
”Dia emang baik kok” ujar Nia
”Iyaa, dia emang baik” sahut Mala
Adnan dan Andika kemudian merangkul kekasih mereka masing-masing ”Gausah baper lagi gitu deeeh” sindir mereka sambil mengacak-acak rambut kekasih mereka
”Woyy waktunya kita tampil nih” tegur Kevin dari luar
”Siappp!!!!!!!!!” sahut mereka kompak kemudian keluar meninggalkan tenda mereka. Namun tiba-tiba Rani, Okta dan Ziah datang berlari menghampiri mereka
”Kalian kenapa?” tanya Adis
 Dengan nafas yang masih terengah-engah Okta memberikan kameranya pada salah seorang panitia yang ada disitu ”Tolong fotoin kita semua yaa” ujarnya. Kemudian ia pun menyuruh para sahabatnya untuk mengambil posisi
”Satu.... Dua.... Tiga!” cekrek!

...
TAMAT
Thanks for reading

Follow me on twitter and ask.fm @atyampela