Hari
sudah semakin larut, semilir angin di malam hari perlahan merayu tubuh untuk
beristirahat. Namun tubuh Miranda masih memilih untuk bertahan
“Ibu
pulang duluan yaa Mir, jangan lupa kunci pintunya setelah kamu selesai, kamu
juga jangan pulang larut malam. Nggak baik anak gadis jalan sendirian
malam-malam” ujar Bu Hana sambil mengenakan jaketnya –pemilik café tempat
Miranda bekerja–
“Iyaa
bu, ibu juga hati-hati di jalan” sahut Miranda
“Kalau
ada apa-apa jangan sungkan buat telepon ibu yaa”
Miranda
menganggukkan kepalanya dengan mantap “Siap Bos!” ujarnya sambil tersenyum
mengiringi kepergian Bu Hana. Setelah Bu Hana hilang dari pandangannya Miranda
segera kembali mengerjakan pekerjaannya menghitung setiap lembaran uang di meja
kasir dan memasukkannya ke dalam pembukuan. Sesekali Miranda memijat keningnya
yang mulai sakit dan memejamkan matanya. Ia kemudian menghela nafasnya “Aku
harus segera menyelesaikan ini, ibu pasti menungguku dirumah” ujarnya dalam
hati. Miranda pun segera mempercepat menyelesaikan tugasnya
“Ahh
akhirnyaa selesai juga” seru Miranda. Tanpa membuang banyak waktu lagi ia
segera merapikan pekerjaannya dan mengunci pintu café Latte tak lupa juga ia
berpamitan pada Mang Udin –satpam café–. “Saya pulang dulu yaa Mang” pamitnya
sambil melambaikan tangan ke arah Mang Udin
Miranda
melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan
pukul sepuluh malam. Miranda pun mempercepat langkahnya agar segera sampai ke
rumahnya yang hanya berjarak beberapa kilometer dari tempatnya bekerja. Namun
langkah kakinya terhenti saat ia melihat seorang pria sedang duduk tak berdaya
menatap langit malam diatasnya. Miranda perlahan mendekati pria itu,
samar-samar ia memperhatikan wajah si pria itu “Dirga?” desisnya tak percaya
saat ia berhasil mengenali sosok pria itu
Pria
itu menoleh dan langsung berdiri menatap Miranda, ia pun tak kalah terkejutnya
dari Miranda.
Miranda
mendekati Dirga dan menatapnya dengan seksama. Wajahnya babak belur, pakaiannya
pun lusuh dan kotor “Apa yang terjadi padamu?” tanya Miranda
Dirga
tampak salah tingkah “Tidak apa-apa, bukan urusanmu” jawabnya kemudian ia
hendak berlalu dari hadapan Miranda namun Miranda menahannya
“Mungkin
hubungan kita tidak lagi sama seperti dulu, tapi itu bukan berarti kita tidak
bisa berteman kan?” ujar Miranda namun Dirga hanya diam tak menjawab apa-apa
“Ikutlah ke rumahku, setidaknya kamu harus mengganti pakaianmu” Miranda pun
menggandeng Dirga dan membawanya ke rumahnya
Keheningan
menyelimuti perjalanan mereka, Dirga menatap tangannya yang berada dalam
genggaman tangan Miranda. Jantungnya berdegup tak beraturan. Tangan yang sama
seperti tiga tahun yang lalu saat mereka masih bersama. Dirga bahkan sampai
saat ini belum bisa memaafkan dirinya sendiri karena tiga tahun yang lalu dia
tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan genggaman tangan ini. Saat cinta
mereka yang harusnya ia perjuangkan justru malah ia biarkan pergi
Miranda
juga merasakan hal yang sama, degup jantungnya pun juga berdetak lebih cepat
dari biasanya. Ia bahkan masih sangat mencintai pria ini hingga tak pernah
terlintas di pikiran Miranda untuk mencari sosok penggantinya bahkan setelah tiga
tahun berlalu.
…
Tiga Tahun yang lalu…
Miranda
dengan gelisah berkali-kali melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah satu
jam lebih berlalu dari waktu mereka janjian untuk bertemu namun yang ditunggu
belum juga menampakkan batang hidungnya. Rasa takut mulai menyelimuti hatinya.
“Jangan-jangan terjadi sesuatu di jalan” pikirnya. Namun ia buru-buru
menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran negatif itu
Di
tengah kegelisahan hatinya tiba-tiba seorang tukang balon menghampirinya “Mau
beli balonnya neng?” sapa tukang balon itu. Miranda menoleh sejenak kemudian ia
mencari recehan di tasnya untuk membeli balon itu, Miranda sebenarnya tidak
membutuhkan balon itu tapi ia tidak tega melihat si penjual balon. Miranda
menghargai usahanya yang lebih memilih untuk berdagang daripada hanya sekedar
mengemis
“Saya
beli dua deh mas” ujar Miranda, ia kemudian melihat-lihat balon itu namun ia
merasakan suatu keganjilan dari balon-balon itu, setiap balon tersebut memiliki
sebuah huruf yang sepertinya membentuk sebuah kalimat. I-Y-U-M-I-R-A-N-D-A begitulah susunan
huruf itu terbentuk. Miranda terperangah membacanya, terlebih lagi saat si
penjual balon itu mendekatinya dan membuka topi yang menutupi wajahnya, betapa
terkejutnya Miranda ternyata si penjual balon itu adalah kekasihnya, Dirga.
“I
Love You Mir” ujar Dirga sambil berlutut di hadapan Miranda
Miranda
tersenyum haru kemudian memeluk lelaki di hadapannya itu “I Love You more”
ujarnya
Dirga
kemudian mengambil balon-balon yang masih terikat di sepeda itu dan kemudian
melepaskannya
“Loh
kok diterbangin?” tanya Miranda heran
Dirga
kemudian duduk di sebelah Miranda dan merangkulnya “Biar semua orang tahu kalau
aku cinta banget sama kamu” ujarnya sambil mengecup puncak kepala Miranda.
Mereka berdua kemudian memandangi balon-balon yang terbang menghiasi langit
sore itu
Namun
kebahagiaan mereka tak bertahan lama. Tiba-tiba datang segerombolan pria
bertubuh tinggi kekar datang menghampiri mereka dan membawa Dirga pergi secara
paksa hingga Dirga akhirnya terlibat perkelahian dengan mereka. Namun
perkelahian mereka tak seimbang, Dirga hanya seorang diri sedangkan mereka
bergerombolan terlebih lagi perbedaan postur tubuh diantara mereka semakin
memperbesar peluang kekalahan Dirga. Dirga akhirnya kalah dan mereka pun
kemudian memasukkan Dirga yang sudah tak berdaya ke dalam mobil dan membawanya
pergi
Miranda
segera berlari mengejar mobil yang membawa pergi kekasihnya itu namun apa daya
langkah kakinya tak mampu mengejar kecepatan mobil itu hingga ia berkali-kali
terjatuh “DIRGAAAA!!!” jeritnya namun mobil itu tetap berlalu pergi membawa
Dirga dan membiarkan Miranda sendiri di tengah jalan
Dirga
sudah bisa menebak kemana ia akan dibawa pergi, dengan masih menggeram
kesakitan karena memar-memar di tubuh dan wajahnya Dirga kemudian mengambil
ponselnya, ada sebuah pesan yang masuk dari Miranda
Apa yang terjadi? kamu baik-baik aja
kan? – Miranda
Baru
saja Dirga hendak membalas pesan Miranda namun ternyata ia sudah sampai di
rumahnya. Dirga pun akhirnya memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celananya
dan segera masuk ke dalam rumahnya, ia langsung masuk ke dalam ruangan kerja
ayahnya “Apa-apaan ini! Bisa-bisanya ayah tega membuat anaknya babak belur
seperti ini?! Untuk apa menyuruh mereka semua membawaku secara paksa seperti
ini! Ayah fikir aku tidak tahu jalan pulang?!”
Pak
Pramana meletakkan koran yang sedang dibacanya kemudian melepaskan juga
kacamatanya “Aku hanya mencoba mengingatkanmu dimana ‘rumahmu’ ” ujarnya dingin
“Lagipula, melihatmu babak belur jauh lebih baik dibanding melihatmu bersama
gadis miskin itu” tegasnya
Dirga
terperangah mendengar ucapan yang keluar dari mulut ayahnya itu “Apa kau benar
orang tua kandungku?” tanyanya dengan nada sinis
“Sadarlah
dan tinggalkan gadis itu, ia tidak bisa disandingkan denganmu, dengan keluarga
kita!”
“Mana
yang kau sebut keluarga?! Bahkan rumah ini hanya terasa seperti penjara
bagiku!!” bentak Dirga “Aku mencintai Miranda. Akan kulakukan apapun untuk
melindunginya darimu. Jangan pernah berani untuk menyentuhnya!” ancam Dirga,
kemudian ia hendak pergi meninggalkan ayahnya
“Aku
telah membuat ibunya kehilangan pekerjaan” ujar Pak Pramana menghentikan
langkah kaki Dirga
Dirga
tersentak mendengarnya, ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, menahan
diri agar ia tak sampai berbuat sesuatu yang mengerikan karena hilang kendali
“Gadis
itu sudah lama kehilangan sosok seorang ayah bukan? Dan sekarang hanya ibunya
lah yang menjadi tempatnya bergantung. Apa kau ingin mempersulit hidup mereka
berdua? Keadaan akan semakin memburuk jika kau terus bersama gadis itu.
Satu-satunya caramu untuk melindunginya adalah dengan pergi meninggalkannya.
Jika tidak, maka aku sendiri yang akan menghancurkan hidup gadis itu!” ancam
Pak Pramana, ia kemudian kembali membaca koran tanpa memperdulikan Dirga yang
keluar dari ruangan kerjanya dengan emosi yang meluap-luap
Dirga
kemudian berlari menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya, ia melemparkan
semua benda yang ada di hadapannya secara brutal den menghempaskan tubuhnya ke atas
kasur. Ia mengambil ponselnya, air matanya menetes tak tertahankan saat melihat
gambar diri Miranda yang sedang tersenyum di layar ponselnya. Ia tak sanggup
jika harus membayangkan senyum itu akan hilang dari wajah wanita yang sangat
dicintainya karena perlakuan ayahnya
Dirga
kemudian keluar dengan diam-diam dari rumahnya dan menuju rumah Miranda.
Sesampainya disana, ia disambut dengan pemandangan memilukan. Dari depan pintu
rumah Miranda yang terbuka, Dirga dapat melihat Miranda dan ibunya tengah
menangis sambil berpelukan di ruang tamu. Samar-samar Dirga dapat mendengar
perbincangan mereka
“Nak,
maafin ibu yaa, ibu akan cari pekerjaan secepatnya supaya kamu tidak putus
sekolah. Kamu nggak perlu mikirin ibu, yang penting kamu harus giat belajar”
ujar Bu Manda –ibunda Miranda–. Deg! Jantung Dirga benar-benar terasa seperti
tertusuk pedang yang sangat tajam. Betapa teririsnya hati Dirga melihat gadis
yang dicintainya itu menderita. Ayahnya ternyata tak main-main
Bu
Manda melihat Dirga yang sedang berdiri mematung di depan pintu. Ia segera
menghapus air matanya dan melepaskan pelukan puterinya “Loh nak Dirga?” seru Bu
Manda. Mendengar nama Dirga disebut, Miranda buru-buru menghapus air matanya
juga “Kenapa berdiri di luar saja? Mari masuk. Ibu ke dapur dulu yaa” ujarnya,
kemudian ia menyuruh Miranda untuk menghampiri Dirga sementara dirinya ke dapur
untuk membuatkan minuman
Miranda
menghampiri Dirga “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Miranda, ia melihat luka
memar disekitar wajahi Dirga “Bentar yaa aku ambilin obat, kamu duduk dulu aja”
Miranda hendak mengambilkan obat untuk Dirga namun Dirga mencegahnya
“Lukaku
bisa disembuhkan tapi aku tak yakin dengan lukamu” ujar Dirga
Miranda
mengernyitkan dahinya “Apa maksudmu?” tanyanya
“Kita
bicara di luar” Dirga kemudian menggandeng Miranda menuju teras rumahnya. Dirga
menggenggam erat tangan Miranda, ia menatap lekat-lekat wajah gadis yang
dicintainya itu. Kemudian tanpa sadar air matanya mengalir
“Dirga
kamu kenapa sih?” tanya Miranda bingung
“Kamu
boleh membenciku. Maafkan aku karena membuatmu menderita begini. Ibumu
kehilangan pekerjaannya karena ulah ayahku” ujar Dirga. Miranda terperangah
mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Dirga. “Aku takkan pernah
bisa memaafkan diriku jika kamu harus terluka lebih jauh lagi” Dirga memejamkan
matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam “Kita putus saja” ujarnya akhirnya.
Dirga mengecup punggung tangan Miranda untuk yang terakhir kalinya, kemudian
dengan perlahan ia melepaskan tangan itu dan pergi meninggalkan Miranda yang
masih mematung tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Miranda masih
tidak percaya bahwa kebersamaan yang telah mereka jalin selama ini kini
berakhir begitu saja
Sejak
saat itu Dirga tidak pernah terlihat lagi di sekolah. Mereka berdua benar-benar
dipisahkan dan dipaksa untuk menjalani kehidupan mereka masing-masing. Dirga melanjutkan
sekolahnya di luar negeri sementara Miranda setelah lulus SMA ia bekerja untuk
membantu ibunya membiayai biaya pendidikannya di bangku kuliah, beruntung
Miranda mendapatkan beasiswa sehingga setidaknya ia dapat mengurangi beban
biaya hidupnya.
…
Siapa
sangka tiga tahun berlalu ternyata tetap tidak bisa memutus ikatan yang
terjalin diantara mereka. Jika takdir yang membuat mereka berpisah maka kini
takdir juga yang mempertemukan mereka kembali
“Aku
pulang Bu” sapa Miranda saat sampai di rumahnya
Bu
Manda langsung menyambutnya keluar, dan betapa terkejutnya ia mendapati Miranda
pulang bersama Dirga “Nak Dirga?” desisnya tak percaya. Bu Manda pun langsung
memeluk Dirga “Ya Ampun sudah lama sekali ibu nggak ketemu kamu. Ayo ayo mari
masuk” Bu Manda pun membawa Dirga dan Miranda masuk ke dalam
“Bu,
ibu masih menyimpan pakaian ayah kan?” tanya Miranda saat mereka bertiga sudah
duduk di ruang tamu
“Ya,
tentu saja. Memangnya kenapa?” tanya Bu Manda. Miranda tidak menjawabnya, ia
hanya melirik ke arah Dirga. Melihat hal itu Bu Manda sepertinya langsung
mengerti maksud putrinya “Ah baiklah akan ibu carikan. Sebentar yaa” kemudian
ia pun meninggalkan Miranda dan Dirga berdua
“Aku
akan membuatkan minum dan mengambilkan obat untukmu. Tunggu sebentar yaa” ujar
Miranda sambil berlalu pergi ke dapur
Jantung
Dirga terasa semakin sesak. Cintanya untuk Miranda ternyata memang tak pernah
bisa hilang. Bahkan setelah tiga tahun terpisah pun rasa itu masih tetap sama,
tak berkurang sedikitpun
Tak
beberapa lama kemudian Miranda datang dengan membawakan obat dan juga makanan
serta minuman untuk Dirga. Miranda duduk di sebelah Dirga lalu ia membersihkan
luka di wajah Dirga dengan air hangat, kemudian ia menuangkan obat merah di
atas kapas dan menempelkannya ke dahi Dirga “Apa yang terjadi?” tanyanya. Namun
Dirga masih tetap bungkam. Miranda seakan mengerti permasalahan yang dialami
Dirga sepertinya cukup pelik, apalagi ini adalah pertemuan pertama mereka kembali
setelah tiga tahun berlalu. Pasti ada banyak hal yang terjadi tanpa
sepengetahuan mereka masing-masing. Miranda pun memilih untuk tidak bertanya
lagi “Baiklah, kamu tidak perlu menjawabnya” ujarnya, ia kemudian mendekatkan
piring makanan pada Dirga “Makanlah, aku akan membantu ibu mencarikan pakaian
untukmu” ia kemudian hendak berlalu menuju kamar ibunya namun tiba-tiba Dirga
menahannya
“Apa
yang harus kulakukan? Aku dituduh melakukan penggelapan uang perusahaan. Ada
banyak dana keluar tercatat atas namaku padahal aku sama sekali tidak
menggunakannya. Tidak ada satupun bukti yang mengatakan bahwa aku tidak
bersalah, tidak ada seorang pun yang percaya padaku. Aku benar-benar tidak
punya apa-apa sekarang. Jika aku tidak mampu membuktikan bahwa aku tidak
bersalah maka perusahaan ayahku akan ditutup. Apa yang bisa ku lakukan?
Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkannya pada ayahku?” tutur Dirga
menceritakan musibah yang menimpanya, ia tak kuasa menahan air matanya untuk
tidak mengalir
Miranda
kembali duduk di sebelah Dirga. Ia meraih tangan Dirga yang gemetar kemudian
menggenggamnya. Menatap Dirga dengan tatapan hangat “Aku percaya padamu dan
akan selalu percaya. Aku yakin kamu pasti bisa membuktikan bahwa kamu tidak
bersalah. Jangan takut. Jika kamu tidak bersalah maka jangan takut. Kamu pasti
bisa melewatinya” ujar Miranda mencoba memberi semangat pada Dirga
“Ehem…ehemm”
tegur Bu Manda yang baru saja datang membawakan pakaian untuk Dirga. Miranda
dan Dirga langsung menarik tangan mereka masing-masing. “Aahh sepertinya ibu
datang disaat yang tidak tepat ya?” goda Bu Manda. Ia kemudian meletakkan
pakaian yang dibawanya di atas meja “Silahkan lanjutkan, pengganggu permisi
dulu. Ah ya, pastikan tidak ada kamera yang menyala oke? Bisa gawat kalau
sampai tersebar di youtube” ujar Bu Manda sambil tertawa jahil meninggalkan
mereka berdua lagi
Miranda
mendengus “Apa-apaan orang tua itu. Dia pikir aku ini wanita macam apa” omel
Miranda
Melihat
Miranda yang emosi Dirga justru malah tersenyum “Heeey kenapa malah tersenyum?
Lihat kan wanita tua itu, disaat orang tua lain menjaga putrinya dengan ketat
ia malah mengajarkan yang tidak baik” cibir Miranda yang justru semakin membuat
Dirga tak bisa menahan tawanya. Melihat lengkungan senyum di bibir Dirga
menjadikan Miranda juga ikut tersenyum “Suara tawa itu, ternyata masih sama
seperti tiga tahun lalu” ujarnya. Mendengar itu tawa Dirga tiba-tiba terhenti.
“Makanlah,
setelah itu mandi dan ganti pakaianmu. Kamu bisa tidur di kamarku, aku akan
tidur dengan ibuku” ujar Miranda kemudian ia berdiri dan hendak menuju kamar
ibunya namun ia berhenti sejenak “Aku senang mengetahui kamu begitu memikirkan
ayahmu, kejadian tiga tahun lalu sempat membuatku khawatir bahwa kamu akan
membenci ayahmu. Tapi sekarang aku senang mengetahui kamu tidak menjadi seperti
itu” ujar Miranda kemudian ia masuk ke dalam kamar ibunya sedangkan Dirga masih
saja diam terpaku.
…
Sinar
mentari pagi menembus masuk ke dalam kamar Miranda lewat celah-celah jendela
kamarnya sehingga membuat Dirga yang sedang tertidur pun terbangun. Samar-samar
ia mendengar suara pintu diketuk “Nak Dirga kamu sudah bangun?” tanya Bu Manda
dari luar kamar
“Iyaaa”
jawab Dirga
“Keluarlah
nak, ayo kita sarapan” seru Bu Manda.
Dirga
pun segera keluar dari kamar dan menghampiri Bu Manda yang telah menunggunya di
meja makan. Kemudian ia duduk di hadapan Bu Manda, namun Dirga tampak
celingukkan kesana kemari seperti mencari sesuatu
“Mira
sudah berangkat kuliah pagi tadi. Ia bilang ada perubahan jadwal mendadak
sehingga ia harus berangkat pagi sekali” ujar Bu Manda seperti dapat membaca
pikiran Dirga yang sedang mencari Miranda. “Makanlah, ibu membuat nasi goreng
seafood. Karena ibu sekarang bekerja di restoran, jadi ibu dapat membawa
beberapa sisa bahan makanan dan memasaknya di rumah” ujar Bu Manda sumringah sambil
menyendokkan nasi goreng ke atas piring makan
Mendengar
kata ‘bekerja’ tiba-tiba Dirga teringat kejadian tiga tahun yang lalu saat
ayahnya membuat Bu Manda dipecat dari pekerjaannya. Pedih rasanya saat
mengingat bahwa ayahnya telah melukai wanita di depannya ini namun wanita ini
masih saja tetap baik kepadanya “Maafkan aku” ujar Dirga “Tiga tahun lalu
ayahku lah yang telah membuat ibu dipecat. Ibu bisa menghukumku sekarang untuk
membalas perbuatan ayahku waktu itu”
Bu
Manda meletakkan piring yang sudah dia isi nasi goreng itu di hadapan Dirga,
kemudian ia menyunggingkan senyumnya “Itu sama sekali bukan kesalahanmu nak”
ujar Bu Manda. “Lagipula tempat ibu bekerja waktu itu tidak asyik. Bagaimana
bisa ibu bekerja sudah lama tetapi tidak ada kenaikan gaji. Ibu malah bersyukur
bisa keluar dari situ” gerutunya. Kemudian ia dan Dirga saling pandang dan
tertawa bersama “Makanlah nak” ujarnya. Dirga pun memakan makanan yang telah
disediakan Bu Manda
“Sejujurnya,
daripada soal pemecatan itu, ibu lebih sedih ketika mengetahui kamu menyerah
pada keadaan” ujar Bu Manda lirih. Dirga seketika tertegun mendengarnya “Ibu
tidak menyalahkanmu karena itu benar-benar pilihan yang sulit. Namun tidakkah
kamu berpikir bahwa akan lebih baik jika memperjuangkannya bersama daripada
harus menanggungnya sendirian?”
Dirga
tertunduk “Aku tidak ingin membuat keadaan menjadi semakin buruk bu, aku tidak
ingin membuat Mira semakin terluka”
Bu
Manda tersenyum “Itu sebabnya ibu bilang ibu tidak menyalahkanmu. Apalagi
kalian berdua hanyalah siswa SMA biasa yang masih terlalu naif. Namun nyatanya
sejak kamu meninggalkannya pun Mira tetap saja terluka setiap harinya. Akan
berbeda rasanya jika saat itu kalian tetap berjuang bersama. Meski mungkin
kalian akan tetap terluka tapi kalian tidak perlu menyimpan luka itu sendiri,
kalian dapat membaginya bersama dan segalanya akan menjadi lebih ringan”
Dirga
terenyuh mendengarnya. Kenapa hal itu tidak terpikirkan olehnya tiga tahun yang
lalu. Kenapa ia justru malah lemah dan pasrah terhadap keadaan?
…
Miranda
mempercepat langkahnya agar secepatnya bisa tiba di rumahnya “Aku pulang” seru
Miranda setibanya di rumah
“Loh
kamu ga langsung ke café?” seru Bu Manda yang sedang mengiris sayuran sambil
menonton tv di ruang tamu
“Aku
mau naruh tas doang kok bu abis itu langsung berangkat lagi. Ibu sendiri kok
masih dirumah?” tanya Miranda “Ohiya bu Dirga mana?” tanyanya kemudian saat
menyadari Dirga tak ada dirumah
“Ibu
hari ini shift sore. Dirga lagi keluar sebentar katanya ada urusan. Makanya ibu
masak sekarang buat nanti malam dia makan”
Miranda
mengangguk-anggukkan kepalanya “Yaudah bu kalau gitu aku pergi ke café dulu
yaa” pamitnya sambil mengecup pipi ibunya
“Yaa
nak hati-hati” sahut Bu Manda
Baru
beberapa langkah Miranda keluar dari rumahnya, ia berpapasan dengan Dirga yang
baru saja akan kembali ke rumahnya. Miranda berjalan mendekati Dirga, mereka
saling bertatapan “Kamu dari mana?” tanya Miranda
“Menemui
seseorang” jawab Dirga “Kamu sendiri mau kemana?” tanya Dirga
“Seperti
biasa, aku harus ke café. Kamu masuklah ke dalam dan istirahat” ujar Miranda
kemudian ia berlalu pergi
“Tunggu
Mir” sergah Dirga “Biar aku ikut, mungkin aku bisa membantumu. Kau bilang bosmu
sangat baik kan? Siapa tau dia akan memberiku pekerjaan?”
Miranda
mengernyitkan dahinya “Kenapa tiba-tiba kamu ingin bekerja?” tanyanya
“Mir,
aku ga bisa terus numpang hidup sama kamu dan ibumu. Sudah hampir seminggu ini
aku hanya bergantung pada kalian, setidaknya aku tidak ingin berpangku tangan
dan diam saja menunggu keadaan berubah tanpa melakukan apapun. Kamu juga tidak
ingin aku lemah seperti ini kan?”
Miranda
tersenyum mendengarnya. “Baiklah, aku akan mencoba bertanya pada Bu Hana apakah
dia bisa memberimu pekerjaan atau tidak” ujarnya
Dirga
tersenyum lega mendengarnya, mereka berdua berjalan bersama menuju Café Latte
“Dirga,
boleh aku bertanya?” tegur Miranda di tengah perjalanan mereka
Dirga
menganggukkan kepalanya “Tentu saja” jawabnya
Miranda
terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya namun ia akan menjadi tak tenang bila
tidak menanyakannya “Siapa orang yang kamu temui? Apa orang itu ada hubungannya
dengan masalahmu?” tanya Miranda akhirnya
Dirga
menundukkan wajahnya. Ia kemudian mengangguk “Aku menemui sekretarisku. Dia
bilang ada orang dalam perusahaan yang sedang memfitnahku, dialah yang membuat
catatan pengeluaran dana atas namaku. Tapi masalahnya sekretarisku belum bisa
menemukannya. Dia bilang setidaknya langkah pertama yang harus kulakukan adalah
mengembalikan uang yang dituduh sebagai hasil korupsi itu, setelah itu maka orang
yang memfitnahku tersebut akan kebingungan dan berusaha untuk menyelidikinya.
Dengan demikian baru kita akan dapat menangkapnya” tutur Dirga, ia kemudian
menghela nafas panjang “Tapi darimana aku mendapatkan uang itu, sedangkan semua
uangku sudah ditarik” Dirga menatap langit senja diatasnya “Apa mungkin aku
merampok rumahku sendiri saja ya?” gumamnya
Mendengar
itu sontak Miranda langsung mencengkram lengan Dirga, Dirga terkejut saat
Miranda mencengkram lengannya. Miranda menatap Dirga dengan tatapan sedih
seakan berkata “Jangan lakukan itu”. Dirga seperti dapat membaca apa yang
dipikirkan Miranda pun kemudian tertawa kecil dan menepuk jidat Miranda “Auw!”
desis Miranda sambil memegang dahinya
“Bodoh,
kamu fikir aku akan benar-benar melakukan hal itu? Lagipula jika pada akhirnya
aku akan menggunakan uang ayahku untuk apa aku sampai sejauh ini” ujar Dirga
Miranda
meringis kemudian ia mengangkat jari kelingkingnya “Berjanjilah padaku untuk
tidak melakukan hal bodoh bahkan disaat kamu sedang putus asa sekalipun”
Dirga
memalingkan wajahnya “Aku tidak mau berjanji seperti bocah begitu” ledeknya
Miranda
memonyongkan bibirnya “Cih, dari dulu kamu memang selalu menyebalkan” desisnya
pelan
Dirga
tertawa mendengarnya, namun kemudian tawanya memudar. Ia menatap Miranda
lekat-lekat “Mir, kenapa kamu tidak membenciku?” tanyanya
Miranda
balik menatap Dirga “Entahlah, hanya saja aku merasa tidak punya alasan untuk
membencimu” ia kemudian mengalihkan pandangannya “Ahh kita harus jalan lebih
cepat” ujarnya dengan setengah berlari meninggalkan Dirga di belakangnya
Dirga
memandangi punggung Miranda “Terima kasih, Mir” gumamnya, kemudian ia pun juga
berlari menyusul Miranda
Sesampainya
di Café Latte, Miranda segera menuju ruangan Bu Hana “Kamu tunggu disana” pesannya
pada Dirga sambil menunjuk salah satu meja yang tak jauh dari ruangan Bu Hana
kemudian ia pun masuk ke dalamnya
Dirga
mematuhi apa yang Miranda katakan, ia pun duduk di tempat yang Miranda tunjuk
dan menunggu Miranda disana. Tak beberapa lama kemudian Miranda keluar bersama
dengan Bu Hana dan menghampiri Dirga
“Apakah
kamu yang bernama Dirga?” tanya Bu Hana
Dirga
membungkukkan badannya seraya memberi hormat kepada Bu Hana “Iyaa bu, saya
Dirga” ujarnya
Bu
Hana tersenyum “Kebetulan sekali salah seorang satpam disini sedang pulang
kampung, sehingga tidak ada yang berjaga di pagi hari. Waktu kerjamu dari jam
delapan pagi sampai jam delapan malam, soal gaji kita akan bicarakan nanti
berdua. Bagaimana?”
Dirga
langsung menganggukkan kepalanya “Baiklah bu, kapan saya bisa mulai bekerja?”
“Jika
kamu mau, kamu bisa mulai bekerja sekarang juga. Mira akan mengantarmu
berkeliling café dulu agar kamu bisa memahami setiap sudut café ini” ujar Bu
Hana
“Maaf
bu bila diizinkan, saya ada satu permintaan” ujar Dirga
Bu
Hana mengernyitkan dahinya “Apa itu?” tanyanya
Dirga
tampak ragu-ragu untuk mengatakan keinginannya, tapi ia harus mengatakannya
“Kalau boleh, saya ingin menginap disini saat malam hari. Tidur di mana pun
tidak masalah karena saat ini saya tidak punya tempat tinggal” ujar Dirga
akhirnya
Miranda
membelalakkan matanya “Apa-apaan sih?! Kamu kan bisa tetap tinggal di rumahku”
tegur Miranda
Dirga
menoleh ke arah Miranda “Mir, aku gamau menyusahkan kamu dan ibumu terus.
Percayalah aku hanya tidak ingin membebanimu” ujar Dirga dengan nada memohon
sementara Miranda masih terlihat tak rela untuk menyetujui permintaan Dirga
“Begini
saja” Bu Hana mencoba mencairkan suasana “Biarkan Dirga menginap disini” ujar
Bu Hana pada Miranda, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Dirga “Kamu
bisa tidur di pos satpam, kebetulan disana memang disediakan kasur lipat untuk
beristirahat. Kamu juga bisa menemani mang Udin yang berjaga di malam hari”
ujar Bu Hana
Dirga
tersenyum puas “Terima kasih banyak bu. Saya tidak akan pernah melupakan
kebaikan ibu” ujarnya sambil menjabat tangan Bu Hana. Ia kemudian kembali
memandang Miranda yang masih menekuk wajahnya “Boleh yaa Mir, please” ujar
Dirga sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya seraya memohon
kepada Miranda. Miranda pun akhirnya menganggukkan kepalanya menyetujui
permintaan Dirga walau dengan berat hati karena ia sungguh sangat
mengkhawatirkan keadaan Dirga saat ini
…
“Apa
tidak berat bagimu untuk kuliah sambil bekerja?” tanya Dirga saat ia membantu
Miranda berberes untuk menutup Café, sementara itu Miranda sedang sibuk
menghitung jumlah pendapatan hari ini.
Miranda
menghentikan aktivitasnya sejenak kemudian menghela nafasnya “Tentu saja hal
ini sangat membebaniku. Bahkan terkadang aku merasa aku tidak mampu lagi
menjalani semuanya” ujar Miranda
“Tapi……
disaat semua rasa itu datang, aku teringat terhadap suatu hal, suatu alasan
mengapa aku harus kuat menjalani semua ini. Ibu adalah hartaku yang paling
berharga. Ia adalah satu-satunya alasan kenapa aku tidak pernah mengeluh bahkan
sekalipun aku memikul beban di pundakku” Miranda tersenyum sambil membayangkan
sosok ibunya dalam benaknya, kemudian ia menatap Dirga “Kamu pun begitu, kamu
harus menemukan alasan untuk menjalani hidup ini” ujarnya sambil kembali
melanjutkan pekerjaannya
“Alasan?”
tanya Dirga mengulang perkataan Miranda
Miranda
mengangguk “Ah ya, bisa tolong bantu aku memasukkan uang ini ke dalam brankas
yang ada di balik lukisan dekat kulkas? Brankasnya tidak terkunci kok, nanti setelah
selesai biar aku yang menguncinya” ujar Miranda sambil memberikan sejumlah uang
pada Dirga
Dirga
mengambil uang itu kemudian berjalan menuju sisi kulkas dan memindahkan lukisan
di sebelahnya agar ia bisa memasukkan uang itu ke dalam brankas yang ada di
balik lukisan itu “Kenapa Bu Hana tidak memindahkan uang ini ke bank? Tidak
baik menyimpan uang sebanyak ini apalagi di tempat umum seperti ini” ujar Dirga
saat melihat brankas yang sudah berisi tumpukkan uang itu
“Aku
sudah mengingatkan Bu Hana tapi dia selalu saja menunda-nunda waktu untuk pergi
ke bank. Aku akan mengingatkan dia lagi nanti” sahut Miranda. Ia kemudian
merapikan pekerjaannya dan berjalan menuju brankas tersebut kemudian
menguncinya dan menutupinya kembali dengan lukisan “Aku sudah selesai. Apa hari
ini kamu mau ikut pulang bersamaku? Sejak bekerja disini kamu tidak pernah ke
rumahku lagi. Ibu terus saja menanyakan kabarmu” ujarnya pada Dirga
Dirga
tersenyum tipis kemudian mengusap lembut kepala Miranda “Hari ini aku janji
menemani Mang Udin bermain catur. Tolong sampaikan maafku pada ibumu dan bilang
padanya aku disini baik-baik saja” ujarnya
Miranda
mencibir “Sepertinya sekarang aku mulai sulit membedakan antara Mang Udin
dengan dirimu. Hanya dalam hitungan beberapa minggu saja kamu sudah meniru
sebagian besar tingkah lakunya” ledeknya
Dirga
tertawa “Mang Udin itu hebat sekali mengatur siasat dalam bermain catur,
kapan-kapan kamu harus bermain juga dengannya”
“Baiklah
sekarang aku pulang dulu” pamit Miranda, namun tiba-tiba dia teringat sesuatu.
Miranda pun kembali berbalik “Bu Hana bilang padaku kalau sudah tiga hari
belakangan ini kamu suka terlihat melamun. Apa terjadi sesuatu?” tanya Miranda
Dirga
tersentak, “Tidak, aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya sedikit merasa
kelelahan” ujarnya
“Kalau
begitu sebaiknya malam ini kamu istirahat saja, jangan bermain catur dulu untuk
malam ini. kurasa Mang Udin juga pasti akan mengerti kalau kamu tidak bisa
menepati janji untuk bermain catur dengannya malam ini” pesan Miranda “Aku
pamit dulu” lanjutnya sambil bergegas meninggalkan café.
“Miranda!”
seru Dirga menghentikan langkah Miranda, Miranda pun kembali menoleh ke arahnya
“Kamu pernah bilang akan selalu mempercayaiku, bisakah ku anggap itu sebagai
janji?” tanyanya. Kemudian Dirga berjalan mendekati Miranda dan menangkat jari
kelingkingnya “Maukah kamu berjanji untuk selalu mempercayaiku?” tanyanya
sekali lagi
Namun
bukannya menyambut kelingking itu Miranda justru malah membuang wajahnya “Aku
tidak mau berjanji seperti bocah begitu” ujarnya mengulang kalimat yang pernah
Dirga ucapkan sambil tersenyum jahil dan berlari meninggalkan Dirga
“Aish
anak ini” gerutu Dirga, kemudian ia pun juga berlari mengejar Miranda
…
Miranda
datang ke café lebih awal, dengan maksud untuk membantu Bu Hana bersiap-siap
membuka Café dan juga membawakan sarapan buatannya untuk Dirga karena kebetulan
hari ini ia sedang senggang. Namun sesampainya di Café ia tidak menemukan sosok
Dirga di pos satpam tempat ia berjaga biasanya “Apa Dirga sedang keluar untuk membeli sesuatu?” tanyanya dalam
hati. Namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara teriakan yang terdengar dari
dalam café. Kotak makanan yang dibawanya untuk Dirga seketika terjatuh, Miranda
segera berlari masuk ke dalam Café untuk melihat apa yang terjadi.
“Ada
apa Bu??” tanya Miranda dengan panik
Bu
Hana kehabisan kata-kata, ia hanya menyerahkan sepucuk surat yang ada di
tangannya kepada Miranda. Miranda mengambil selembar kertas itu dan membacanya
dengan seksama, dan apa yang tertulis dalam kertas tersebut benar-benar
membuatnya luar biasa terkejut. Miranda segera memeriksa brankas yang ada di
samping kulkas dan ia semakin terkejut saat mendapati brankas itu telah kosong.
Miranda terduduk lemas, air matanya perlahan mengalir “Bagaimana bisa?”
desisnya dalam isak tangisnya
|
Kepada Bu Hana dan Miranda
Aku benar-benar minta maaf karena
terpaksa harus melakukan ini
Aku tidak bisa memberi tahu kalian
mengapa aku melakukan semua ini
Tapi satu hal yang pasti, aku pasti
akan mengembalikannya
Aku janji akan hal itu, tapi kalian
harus bersabar
Aku bersumpah tidak akan lari dari
janjiku
Aku akan membalas semua kebaikan
kalian
Sekali lagi aku benar-benar mita maaf
Tapi ku mohon percayalah padaku
Dari: Dirga
|
Semua
emosi benar-benar berkecamuk dalam hati Miranda saat ini. ia teringat saat ia
dengan mudahnya mempercayai Dirga, kini ia merasa kepercayaannya itu
benar-benar telah menghancurkannya.
Bu
Hana mengusap lembut bahu Miranda “Ibu akan melapor ke polisi agar ia bisa
segera ditangkap. Kamu tenanglah, ibu akan pastikan kamu tidak akan terlibat
dalam kasus ini” ujar Bu Hana sambil beranjak pergi
“Tidak
Bu” sergah Miranda sambil menggenggam tangan Bu Hana, mencegahnya agar tidak
pergi ke kantor polisi
Bu
Hana membalikkan badannya “Ini namanya tindakan kriminal Miranda. Kenapa kamu
melarang ibu melaporkannya?” tanyanya
“Aku….
Aku…” ujar Miranda terbata-bata “Aku yang akan mengganti uang yang Dirga ambil.
Ibu tidak perlu menggajiku sampai aku bisa mengganti uang yang Dirga bawa” ujar
Miranda akhirnya
“Kamu
yakin?” tanya Bu Hana. Miranda tampak ragu tapi sesaat kemudian ia akhirnya
menganggukkan kepalanya. “Ayoo ikut ke ruangan ibu” ujar Bu Hana sambil
membantu Miranda berdiri dan kemudian membawanya ke ruangannya.
Saat
tiba di ruangannya, Bu Hana mempersilahkan Miranda untuk duduk, kemudian ia pun
duduk di hadapan Miranda. Tangannya meraih kalkulator yang ada di samping
komputernya dan mulai menekan beberapa angka di kalkulator itu “Uang yang
dibawa Dirga semuanya bertotal sebesar Rp.40.000.000 sedangkan gajimu perbulan
adalah Rp.2.000.000. Itu berarti kamu akan bekerja disini tanpa gaji selama 20
bulan. Apa kamu yakin mau melakukan itu?” tanya Bu Hana
Miranda
menganggukkan kepalanya “Iya bu, aku akan melakukannya” jawab Miranda
Bu
Hana menghela nafasnya “Kenapa kamu harusnya menghukum dirimu atas kesalahan
yang tidak kamu perbuat. Dengarkan ibu, ibu sangat mempercayaimu. Kasus ini
tidak akan membuat ibu kehilangan kepercayaan terhadapmu. Jadi biarkan Ibu
melaporkannya ke polisi dan kamu pun tidak perlu melakukan ini”
“Tidak
Bu, ini kesalahanku. Aku lah yang telah membawanya masuk ke sini. Jadi biarkan
aku yang bertanggung jawab atas semua ini”
Bu
Hana menggelengkan kepalanya “Ibu tidak mengerti kenapa kamu sangat ingin
melindunginya. Apa kamu sangat mencintai pria itu?” tanyanya
Miranda
menundukkan kepalanya “Ya” jawabnya dengan derai air mata “Itu sebabnya aku
perlu alasan yang sangat kuat agar aku mampu mengubah cinta ini menjadi benci.
Jika Ibu melaporkannya ke polisi maka polisi akan segera menangkapnya lalu kemudian
ia dipenjara dan uang Ibu pun akan kembali, jika hal itu terjadi maka aku akan
kehilangan alasan untuk membencinya. Tapi jika ia tetap berkeliaran di luar
sedangkan aku harus terkurung disini menanggung perbuatannya maka aku akan mempunyai
alasan untuk membencinya. Maka kumohon biarkan seperti ini, biarkan aku
memiliki alasan yang kuat untuk membencinya” tutur Miranda. Air matanya
perlahan menetes lagi mengalir membasahi pipinya
“Miranda,
kamu bekerja karena kamu memerlukan uang untuk biaya pendidikanmu tapi kini
sekarang kamu akan bekerja selama hampir dua tahun tanpa gaji, lalu bagaimana
dengan pendidikanmu. Ini sangat tidak adil untukmu” ujar Bu Hana
Miranda
menghapus air matanya “Ibu tidak perlu khawatir soal itu. Kuliahku sebentar
lagi akan selesai. Lagipula, semakin tidak adil hidup yang kujalani karena
perbuatannya maka alasanku untuk membencinya akan semakin kuat”
“Begini
saja, kamu tidak perlu mengganti uang itu” ujar Bu Hana. Namun bukannya senang,
Miranda justru langsung menolaknya
“Tidak
Bu, jika ibu lakukan itu aku benar-benar tidak akan bisa membencinya. Kumohon
bu biarkan aku melakukan ini”
“Bagaimana
kalau ibu potong setengah saja dari uang gajimu, dengan begitu kamu akan tetap
mendapatkan tambahan uang” ujar Bu hana namun lagi-lagi Miranda menolaknya
“Jika
ibu melakukan itu, waktuku untuk melunasinya akan bertambah lama. Kumohon Bu,
biarkan saja seperti ini” pinta Miranda
Bu
Hana akhirnya menyerah “Baiklah kalau itu memang maumu”
“Terima
kasih Bu, saya permisi dulu” pamit Miranda, dengan langkah gontai ia pun pergi
meninggalkan ruangan Bu Hana dan kembali ke pekerjaannya. Ia mengambil sepucuk
surat dari Dirga yang ia tinggalkan di meja tadi, tiba-tiba ia teringat ucapan
Dirga “Kamu pernah bilang akan selalu
mempercayaiku, bisakah ku anggap itu sebagai janji?”. Miranda tersenyum
getir, kemudian merobek-robek kertas itu dan meremasnya. “Tidakkah kamu tahu
kepercayaan itu ibarat sebuah kertas? Sekali kertas ini rusak maka ia takkan bisa
kembali ke bentuk semula. Begitu juga dengan kepercayaanku yang telah kamu
hancurkan sendiri” Miranda kemudian membuang serpihan kertas yang ada di
tangannya ke tempat sampah
Hari
itu juga perpisahan kembali menyapa pertemuan mereka. Waktu dan keadaan benar-benar
telah mempermainkan mereka berdua. Tanpa sempat mengatakan selamat datang dan
selamat tinggal lagi-lagi mereka sudah harus menjalani kehidupan mereka
masing-masing lagi
Miranda
pulang ke rumahnya dengan langkah gontai, langkah kakinya terhenti di sebuah
jalan yang mempertemukan ia dan Dirga kembali saat itu. “Ku fikir pertemuan itu
akan membuat sebuah awal baru untuk kita” ujar Miranda. Air matanya lagi-lagi
menetes mengingat apa yang terjadi hari ini. Ia buru-buru menghapus air matanya
dan mempercepat langkahnya, meninggalkan jalan itu dan juga meninggalkan
kenangan tentang Dirga
…
Satu Tahun kemudian…
Miranda
telah berhasil menyelesaikan masa kuliahnya dan mengantongi gelar sarjana sejak
tiga bulan yang lalu. Ia bahkan juga berhasil mendapatkan IPK yang tinggi,
sehingga membuat banyak perusahaan besar yang meliriknya. Ditambah lagi
pembawaan dirinya yang tegas, cekatan namun tetap friendly semakin memperbesar
daya tariknya. Dan saat ini ia bekerja di salah satu perusahaan advertising
yang memberinya gaji yang terbilang sangat cukup untuk keperluan ia dan ibunya
Saat
jam kantornya telah selesai, Miranda menyempatkan diri berkunjung ke Café Latte
tempatnya dulu bekerja. Namun kini ia datang sebagai tamu bukan sebagai pegawai.
Miranda sudah berhenti bekerja disana sejak ia sudah mulai bekerja di tempatnya
yang sekarang ini, namun setiap bulannya Miranda tetap mengirimkan uang ke
rekening Bu Hana sebagai tanggung jawab yang diembannya atas kejadian di masa
lalu
“Bu
Hana!” serunya saat melihat Bu Hana yang sedang melayani pelanggan
“Miranda!”
sahut Bu Hana, ia pun memanggil salah seorang bawahannya untuk menggantikannya
melayani pelanggan sementara itu dia menghampiri Miranda “Ya Ampuun kamu
semakin cantik saja sekarang. Ayoo duduk” ujar Bu Hana sambil mempersilahkan
Miranda duduk di salah satu kursi di dekat mereka “Kamu apa kabar nak? Sejak
kelulusanmu kamu sudah hampir tidak pernah berkunjung kesini lagi. Apa kamu
sudah melupakan ibu?”
Miranda
tertawa kecil “Mana mungkin aku melupakan ibu? Ibu kan sudah kuanggap seperti
ibuku sendiri. Ahiya, untuk apa ibu melayani pelanggan tadi? Ibu harusnya duduk
santai saja di ruangan ibu. Lihat saja aku akan memarahi para pegawai disini”
Bu
Hana menggelengkan kepalanya “Ahh bukan begitu, ibu hanya sedang bosan saja di
ruangan ibu. Jadi ibu fikir sekali-kali tidak apa-apa kalau ibu yang terjun
langsung melayani pelanggan” ujarnya. “Sebentar yaa nak” Bu Hana kemudian
memanggil salah seorang pelayan dan memintanya membawakan ice cappucino dan
chocolate cake untuk mereka berdua
“Ah
ibu tidak perlu repot-repot” sergah Miranda
“Apanya
yang repot? Memangnya tidak boleh kalau ibu menyajikan makanan untuk anaknya?”
tanya Bu Hana “Ayoo silakan kamu cicipi” lanjutnya saat sang pelayan telah
membawakan pesanannya
Miranda
tersenyum kemudian meminum ice cappucino yang sudah dihidangkan untuknya “Padahal
baru beberapa bulan aku tidak kesini tapi sepertinya tempat ini sudah banyak
berubah yaa bu” ujar Miranda sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling café
Bu
Hana tersenyum “Segala sesuatu yang telah kita ditinggalkan pasti takkan sama
lagi ketika kita kembali. Bukankah memang sudah sewajarnya begitu?”
Miranda
mengangguk “Ah iya Bu, sebenarnya aku kesini untuk membayar sisa hutangku”
Miranda hendak mengambil uang dari tasnya namun Bu Hana menghentikannya
“Tidak
perlu nak” ujar Bu Hana “Sekitar dua minggu yang lalu Dirga kesini, ia berlutut
di hadapan ibu sambil meminta maaf. Kemudian ia membayarkan tunai uang yang dia
ambil waktu itu bahkan ia juga memberikan ibu sebuah tempat untuk membuka
cabang café ini” tutur Bu Hana
Miranda
terkejut mendengar nama itu kembali disebut. Lidahnya terasa kelu sampai tak
mampu lagi berkata apa-apa. Sekujur tubuhnya mendadak bergetar hebat
Bu
Hana meraih tangan Miranda kemudian menggenggamnya “Ibu juga sudah mentransfer
kembali ke rekeningmu uang yang menjadi hakmu itu. Jadi sekarang kamu tidak
perlu melunasi apapun lagi”
Mata
Miranda mulai berkaca-kaca, seluruh rasa dalam hatinya berkecamuk. Ia tidak
tahu apakah ia harus senang atau justru kesal saat mendengar kembali tentang
Dirga. Perasaannya benar-benar kacau. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi
dari café “Bu, aku rasa aku harus pulang sekarang. Aku pergi dulu bu, nanti aku
akan berkunjung lagi kesini” pamitnya
“Ibu
sudah memaafkan Dirga, ibu harap kamu pun begitu” seru Bu Hana
Miranda
berhenti sejenak “Seperti halnya yang ibu bilang tadi, segala sesuatu yang
telah kita ditinggalkan pasti takkan sama lagi ketika kita kembali” ujarnya
kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya
“Tapi
kamu tidak menyadari bahwa ada satu hal yang tidak bisa berubah. Cintamu pada
Dirga, selamanya akan tetap seperti itu” gumam Bu Hana
…
Sejak
saat itu Miranda memutuskan untuk lebih mempersibuk dirinya, ia tidak
memberikan kesempatan pada dirinya untuk memikirkan hal lain selain pekerjaan.
Bahkan Miranda sampai pulang lebih larut dari sebelumnya
Tok…tok…tok
terdengar suara pintu ruangannya diketuk dari luar “Masuk” perintah Miranda
Pak
Surya kemudian masuk ke dalam ruangan Miranda “Lagi sibuk Mir?” tanyanya
Melihat
atasannya yang datang Miranda langsung berdiri dan membungkukkan badannya
seraya memberi hormat “Silahkan duduk Pak” ujarnya
“It’s
okay santai aja, saya cuma mau minta tolong sama kamu. Kamu ada waktu senggang
ga siang ini?”
Miranda
mengambil buku catatan jadwal hariannya. “Saya bisa meluangkan waktu sekarang
juga pak, tapi kurang lebih hanya satu jam karena setelah itu saya ada rapat.
Bapak mau minta tolong apa ya? Pasti akan saya usahakan pak” ujarnya
“Begini,
hari ini saya ada janji bertemu dengan klien di Taman Viktoria tapi sepertinya
saya tidak bisa datang karena ada urusan mendadak, bisa saya minta tolong kamu
menggantikan saya untuk menemui beliau?”
Miranda
mengangguk menyanggupi permintaan Pak Surya “Baik pak, saya akan menuju kesana
sekarang juga” ujarnya
“Baiklah,
saya akan segera menghubungi beliau untuk memintanya menunggu kamu disana.
Ohiya, katanya beliau memakai kemeja biru lengan panjang dan celana hitam. Terima
kasih yaa Mir saya permisi dulu” ujar pak Surya sekaligus berpamitan
Selepas
Pak Surya keluar Miranda langsung merapikan mejanya dan bergegas menuju Taman
Viktoria, sebelumnya ia berpesan pada sekretarisnya agar menyiapkan dokumen
yang akan dibahas pada saat rapat begitu ia kembali nanti
Setibanya
di Taman Viktoria, Miranda segera mengedarkan pandangannya ke segala arah
mencari sosok orang yang memakai baju kemeja biru lengan panjang dan celana
hitam. Ia juga menyempatkan diri untuk berkeliling taman mencari orang itu
namun sepertinya yang dicari tidak ada “Belum sampai kali ya?” gumamnya dalam
hati. Miranda pun akhirnya memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang
berposisi strategis sehingga dapat membuatnya terlihat dari berbagai arah agar
begitu sang klien tiba ia dapat dengan mudah langsung menemukan Miranda.
Miranda
mendongakkan kepalanya menatap langit cerah diatasnya. ‘Ah seandainya suasana hatiku juga secerah langit ini’ gumamnya
dalam hati. Perlahan ia memejamkan kedua matanya. “Kenapa disaat aku ingin
melupakannya, alam sepertinya justru malah memperjelas tanda-tanda
kehadirannya?” ujarnya dengan helaan
nafas panjang. Taman ini sebenarnya adalah taman yang sering ia dan Dirga
kunjungi dulu semasa sekolah, semasa cinta masih menunjukkan hal yang
manis-manis saja. Dan taman ini juga menjadi tempat kencan terakhir mereka
sebelum Dirga dibawa paksa dulu, Miranda memutar kembali kenangan manis dan
pahit itu dalam pikirannya
“Maaf
yaa kalo nunggunya kelamaan” sapa seorang pria pada Miranda
Mengira
itu adalah orang yang sedang ditunggunya Miranda langsung membuka matanya “Ah
iyaa ga……” namun raut wajahnya seketika menegang melihat sosok Dirga yang
berdiri di hadapannya “Dir…ga?” desisnya tak percaya, dan ia pun semakin
terkejut mendapati Dirga mengenakan kemeja biru lengan panjang dan celana hitam
‘Jadi orang yang dimaksud Pak Surya itu
Dirga? Gak mungkin, ini pasti ada kesalahan’ gumamnya dalam hati
Dirga
sepertinya bisa membaca apa yang dipikirkan Miranda “Iyaa Mir, klien Pak Surya
itu aku. Sebenernya aku yang minta tolong sama Pak Surya supaya kamu mau
menemui aku”
“Apa?”
desis Miranda. Ia kemudian menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya “Ada
perlu apa?” tanyanya dingin
Dirga
menarik nafas sejenak kemudian ia duduk di samping Miranda “Aku mau minta maaf
Mir. Aku ga bermaksud menyakiti kamu. Tapi waktu itu aku bener-bener gatau lagi
harus berbuat apa”
Miranda
tetap diam tak bergeming sedikitpun. Dirga mencoba menggenggam tangan Miranda
namun dengan segera Miranda menepisnya. Melihat itu Dirga hanya bisa menghela
nafas, ia merasa ia pantas mendapatkan perlakuan seperti itu atas apa yang
telah ia perbuat “Mir, kamu boleh caci maki aku, kamu boleh pukul aku, kamu
boleh lakuin apapun asalkan setelah itu kamu maafin aku Mir” ujar Dirga lirih
Miranda
akhirnya membalikkan wajahnya menatap Dirga “Kalau begitu bisa kuminta satu
hal?” tanya Miranda
Dirga
menganggukkan kepalanya dengan cepat “Apapun Mir, kamu bisa minta apapun”
Miranda
menatap Dirga dengan tatapan dingin “Pergilah dan jangan kembali lagi” ujarnya
datar tanpa ekspresi
Dirga
sontak terperangah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Miranda “Ta… tapi…
Mir” ujarnya terbata-bata
“Apa
kamu fikir dengan mengembalikan uang itu maka semuanya akan selesai dan kembali
seperti semula? Apa kamu fikir berjuta kalipun kamu pergi meninggalkanku maka
aku akan tetap mencintaimu? Apa kamu kira aku akan tetap menunggumu kembali?”
tanya Miranda dengan air mata yang tertahan “Maka sekarang kuperjelas,
keadaannya sudah berubah dan aku bukanlah Miranda yang dahulu kamu kenal! Kamu
sudah pernah meninggalkanku, dan bahkan bukan hanya sekali tetapi dua kali!
Lalu untuk apa kamu datang lagi?! Untuk meninggalkanku lagi?! Untuk menciptakan
luka yang baru lagi?! Apa masih kurang bagimu membuatku menderita sampai
seperti ini?!” maki Miranda, ia menggigit bibir bawahnya, mati-matian menahan
agar air matanya tak sampai menetes. Ia kemudian bangkit “Waktu kita telah
habis” ujarnya sambil beranjak pergi
“Kamu
pernah bilang bahwa aku harus menemukan alasan untuk menjalani hidup ini” ujar
Dirga menghentikan langkah kaki Miranda “Dan alasanku melakukan semua ini
adalah karena dirimu. Aku sangat mencintaimu”
Mendengar
itu hati Miranda terasa bergetar “Tapi aku membencimu” ujarnya disertai dengan
airmata yang sedari tadi ditahannya namun akhirnya menetes juga. Kemudian
Miranda melanjutkan langkahnya meninggalkan Dirga tanpa sedikitpun menoleh
kearahnya. Hati Miranda hancur. Setiap makian yang keluar dari mulutnya justru
malah menyakiti hatinya sendiri
…
Miranda
terlihat sangat lesu, dengan langkah gontai ia memasuki rumahnya “Aku pulang”
ujarnya
Bu
Manda segera keluar dari kamarnya dan menyambut anaknya itu “Loh kok lesu
banget? Kamu kenapa nak?” tanya Bu Manda begitu melihat Miranda
Miranda
langsung memasrahkan dirinya dalam pelukan ibunya “Dirga, Bu” ujarnya dengan
derai air mata
Bu
Manda membawa Miranda ke sofa, dan membiarkan anaknya itu menangis
meraung-raung dalam pelukannya “Ada apa sama Dirga?” tanyanya lembut. Dengan
terisak-isak Miranda pun menceritakan pertemuannya dengan Dirga hari ini.
Setelah selesai Miranda mengadukan keluh kesahnya, Bu Manda tersenyum “Kalau
kamu cinta kenapa malah bilang benci? Tidakkah kalian berdua sadari bahwa
sebenarnya kalian saling menjaga dan memperjuangkan?” ujarnya
Miranda
melepaskan pelukannya “Maksud ibu?” tanyanya
“Kamu
fikir karena ibu diam saja berarti ibu gak tau apa-apa? Ibu tahu dulu Dirga
memutuskan hubungan denganmu karena ingin melindungimu dari ayahnya, ibu juga
tahu bahwa setahun belakangan ini kamu bekerja di Café Latte tanpa gaji agar
Dirga tidak dilaporkan ke polisi. Tidakkah itu bukti bahwa sebenarnya kalian
saling menjaga?” ujar Bu Manda. Ia kemudian meraih tangan puterinya itu dan
menggenggamnya “Dirga tadi kesini dan dia memberi tahu ibu alasan kenapa dia
melakukan itu semua. Dia melakukannya untukmu sayang” ujarnya sambil mengusap
lembut pipi Miranda.
“Apa
dia gila bu? Apanya yang untukku? Dia justru malah membuatku menderita bu”
pekik Miranda
Bu
manda mengelus kepala puterinya itu “Ibu tahu pasti sulit bagimu untuk memahami
ini semua, tapi sekarang dengarkan ibu. Ia melakukan itu untukmu, mungkin
caranya memang salah. Dirga terpaksa ‘meminjam tanpa izin’ uang Bu Hana untuk
membersihkan namanya, dan setelah itu berhasil Dirga hendak mengembalikan uang
itu dan menemuimu namun sepertinya ayahnya mengetahui hal itu dan kembali
menahannya seperti dulu. Tapi kali ini Dirga tak ingin seperti dulu yang menyerah
pada keadaan. Hingga akhirnya ia dan ayahnya membuat kesepakatan. Jika Dirga
mampu memimpin perusahaan dengan baik dan menjalin kerja sama dengan para klien
yang dapat menguntungkan perusahaannya dalam jangka waktu satu tahun maka
hubungan kalian akan diakui namun jika gagal, maka Dirga akan dikirim ke luar
negeri. Dirga langsung menyetujui hal itu. Satu tahun ini ia berusaha keras
hingga akhirnya ia yang memenangkan kesepakatan itu. Kini disaat ia ingin
menjemputmu, kamu justru malah membuangnya. Padahal Dirga fikir kamu adalah
satu-satunya wanita yang akan selalu mempercayainya” tutur Bu Manda
Air
mata Miranda mengalir lagi, hatinya kembali tersayat, bahkan rasanya lebih
sakit dari sebelumnya “Kenapa dia bodoh sekali? Kenapa dia tidak berterus terang
padaku? Apa yang harus kulakukan bu? Aku sudah menyuruhnya untuk pergi”
“Kamu
sendiri kan yang bilang kamu sudah tidak mencintainya lagi? Lalu kenapa
sekarang kamu menangisi kepergiannya?”
Miranda
menggelengkan kepalanya “Tidak bu, aku sangat mencintainya. Bahkan selama ini
aku tersiksa karena harus berusaha membencinya”
“Kalau
begitu pergi dan kejarlah dia”
Tanpa
pikir panjang lagi Miranda langsung berlari keluar dari rumahnya untuk mengejar
Dirga
“Kamu
mau kemana?” seru seseorang menghentikan langkah kaki Miranda.
Miranda
sontak terkejut, ia kemudian membalikkan tubuhnya dan segera berlari memeluk
pria yang sedang berdiri di belakangnya itu “Jangan pergi” seru Miranda dengan
terisak
Dirga
membalas pelukan Miranda “Jadi, aku boleh tetap disisimu?” tanyanya
Miranda
tak menjawabnya, namun dengan yakin ia menganggukkan kepalanya
Tak
peduli seperti apa kebencian mencoba memisahkan, cinta akan selalu menemukan
jalannya untuk kembali bersatu
Tamat…
…
Thanks
for reading^^
Follow
me on twitter and ask.fm @atyampela
Wanna
request cerpen? Go ask me;)