Senin, 16 Februari 2015

A Reason (cerpen)



Hari sudah semakin larut, semilir angin di malam hari perlahan merayu tubuh untuk beristirahat. Namun tubuh Miranda masih memilih untuk bertahan
“Ibu pulang duluan yaa Mir, jangan lupa kunci pintunya setelah kamu selesai, kamu juga jangan pulang larut malam. Nggak baik anak gadis jalan sendirian malam-malam” ujar Bu Hana sambil mengenakan jaketnya –pemilik café tempat Miranda bekerja–
“Iyaa bu, ibu juga hati-hati di jalan” sahut Miranda
“Kalau ada apa-apa jangan sungkan buat telepon ibu yaa”
Miranda menganggukkan kepalanya dengan mantap “Siap Bos!” ujarnya sambil tersenyum mengiringi kepergian Bu Hana. Setelah Bu Hana hilang dari pandangannya Miranda segera kembali mengerjakan pekerjaannya menghitung setiap lembaran uang di meja kasir dan memasukkannya ke dalam pembukuan. Sesekali Miranda memijat keningnya yang mulai sakit dan memejamkan matanya. Ia kemudian menghela nafasnya “Aku harus segera menyelesaikan ini, ibu pasti menungguku dirumah” ujarnya dalam hati. Miranda pun segera mempercepat menyelesaikan tugasnya
“Ahh akhirnyaa selesai juga” seru Miranda. Tanpa membuang banyak waktu lagi ia segera merapikan pekerjaannya dan mengunci pintu café Latte tak lupa juga ia berpamitan pada Mang Udin –satpam café–. “Saya pulang dulu yaa Mang” pamitnya sambil melambaikan tangan ke arah Mang Udin
Miranda melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Miranda pun mempercepat langkahnya agar segera sampai ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa kilometer dari tempatnya bekerja. Namun langkah kakinya terhenti saat ia melihat seorang pria sedang duduk tak berdaya menatap langit malam diatasnya. Miranda perlahan mendekati pria itu, samar-samar ia memperhatikan wajah si pria itu “Dirga?” desisnya tak percaya saat ia berhasil mengenali sosok pria itu
Pria itu menoleh dan langsung berdiri menatap Miranda, ia pun tak kalah terkejutnya dari Miranda.
Miranda mendekati Dirga dan menatapnya dengan seksama. Wajahnya babak belur, pakaiannya pun lusuh dan kotor “Apa yang terjadi padamu?” tanya Miranda
Dirga tampak salah tingkah “Tidak apa-apa, bukan urusanmu” jawabnya kemudian ia hendak berlalu dari hadapan Miranda namun Miranda menahannya
“Mungkin hubungan kita tidak lagi sama seperti dulu, tapi itu bukan berarti kita tidak bisa berteman kan?” ujar Miranda namun Dirga hanya diam tak menjawab apa-apa “Ikutlah ke rumahku, setidaknya kamu harus mengganti pakaianmu” Miranda pun menggandeng Dirga dan membawanya ke rumahnya
Keheningan menyelimuti perjalanan mereka, Dirga menatap tangannya yang berada dalam genggaman tangan Miranda. Jantungnya berdegup tak beraturan. Tangan yang sama seperti tiga tahun yang lalu saat mereka masih bersama. Dirga bahkan sampai saat ini belum bisa memaafkan dirinya sendiri karena tiga tahun yang lalu dia tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan genggaman tangan ini. Saat cinta mereka yang harusnya ia perjuangkan justru malah ia biarkan pergi
Miranda juga merasakan hal yang sama, degup jantungnya pun juga berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia bahkan masih sangat mencintai pria ini hingga tak pernah terlintas di pikiran Miranda untuk mencari sosok penggantinya bahkan setelah tiga tahun berlalu.
Tiga Tahun yang lalu…
Miranda dengan gelisah berkali-kali melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah satu jam lebih berlalu dari waktu mereka janjian untuk bertemu namun yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya. Rasa takut mulai menyelimuti hatinya. “Jangan-jangan terjadi sesuatu di jalan” pikirnya. Namun ia buru-buru menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran negatif itu
Di tengah kegelisahan hatinya tiba-tiba seorang tukang balon menghampirinya “Mau beli balonnya neng?” sapa tukang balon itu. Miranda menoleh sejenak kemudian ia mencari recehan di tasnya untuk membeli balon itu, Miranda sebenarnya tidak membutuhkan balon itu tapi ia tidak tega melihat si penjual balon. Miranda menghargai usahanya yang lebih memilih untuk berdagang daripada hanya sekedar mengemis
“Saya beli dua deh mas” ujar Miranda, ia kemudian melihat-lihat balon itu namun ia merasakan suatu keganjilan dari balon-balon itu, setiap balon tersebut memiliki sebuah huruf yang sepertinya membentuk sebuah kalimat. I-Y-U-M-I-R-A-N-D-A begitulah susunan huruf itu terbentuk. Miranda terperangah membacanya, terlebih lagi saat si penjual balon itu mendekatinya dan membuka topi yang menutupi wajahnya, betapa terkejutnya Miranda ternyata si penjual balon itu adalah kekasihnya, Dirga.
“I Love You Mir” ujar Dirga sambil berlutut di hadapan Miranda
Miranda tersenyum haru kemudian memeluk lelaki di hadapannya itu “I Love You more” ujarnya
Dirga kemudian mengambil balon-balon yang masih terikat di sepeda itu dan kemudian melepaskannya
“Loh kok diterbangin?” tanya Miranda heran
Dirga kemudian duduk di sebelah Miranda dan merangkulnya “Biar semua orang tahu kalau aku cinta banget sama kamu” ujarnya sambil mengecup puncak kepala Miranda. Mereka berdua kemudian memandangi balon-balon yang terbang menghiasi langit sore itu
Namun kebahagiaan mereka tak bertahan lama. Tiba-tiba datang segerombolan pria bertubuh tinggi kekar datang menghampiri mereka dan membawa Dirga pergi secara paksa hingga Dirga akhirnya terlibat perkelahian dengan mereka. Namun perkelahian mereka tak seimbang, Dirga hanya seorang diri sedangkan mereka bergerombolan terlebih lagi perbedaan postur tubuh diantara mereka semakin memperbesar peluang kekalahan Dirga. Dirga akhirnya kalah dan mereka pun kemudian memasukkan Dirga yang sudah tak berdaya ke dalam mobil dan membawanya pergi
Miranda segera berlari mengejar mobil yang membawa pergi kekasihnya itu namun apa daya langkah kakinya tak mampu mengejar kecepatan mobil itu hingga ia berkali-kali terjatuh “DIRGAAAA!!!” jeritnya namun mobil itu tetap berlalu pergi membawa Dirga dan membiarkan Miranda sendiri di tengah jalan
Dirga sudah bisa menebak kemana ia akan dibawa pergi, dengan masih menggeram kesakitan karena memar-memar di tubuh dan wajahnya Dirga kemudian mengambil ponselnya, ada sebuah pesan yang masuk dari Miranda
Apa yang terjadi? kamu baik-baik aja kan? – Miranda
Baru saja Dirga hendak membalas pesan Miranda namun ternyata ia sudah sampai di rumahnya. Dirga pun akhirnya memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celananya dan segera masuk ke dalam rumahnya, ia langsung masuk ke dalam ruangan kerja ayahnya “Apa-apaan ini! Bisa-bisanya ayah tega membuat anaknya babak belur seperti ini?! Untuk apa menyuruh mereka semua membawaku secara paksa seperti ini! Ayah fikir aku tidak tahu jalan pulang?!”
Pak Pramana meletakkan koran yang sedang dibacanya kemudian melepaskan juga kacamatanya “Aku hanya mencoba mengingatkanmu dimana ‘rumahmu’ ” ujarnya dingin “Lagipula, melihatmu babak belur jauh lebih baik dibanding melihatmu bersama gadis miskin itu” tegasnya
Dirga terperangah mendengar ucapan yang keluar dari mulut ayahnya itu “Apa kau benar orang tua kandungku?” tanyanya dengan nada sinis
“Sadarlah dan tinggalkan gadis itu, ia tidak bisa disandingkan denganmu, dengan keluarga kita!”
“Mana yang kau sebut keluarga?! Bahkan rumah ini hanya terasa seperti penjara bagiku!!” bentak Dirga “Aku mencintai Miranda. Akan kulakukan apapun untuk melindunginya darimu. Jangan pernah berani untuk menyentuhnya!” ancam Dirga, kemudian ia hendak pergi meninggalkan ayahnya
“Aku telah membuat ibunya kehilangan pekerjaan” ujar Pak Pramana menghentikan langkah kaki Dirga
Dirga tersentak mendengarnya, ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, menahan diri agar ia tak sampai berbuat sesuatu yang mengerikan karena hilang kendali
“Gadis itu sudah lama kehilangan sosok seorang ayah bukan? Dan sekarang hanya ibunya lah yang menjadi tempatnya bergantung. Apa kau ingin mempersulit hidup mereka berdua? Keadaan akan semakin memburuk jika kau terus bersama gadis itu. Satu-satunya caramu untuk melindunginya adalah dengan pergi meninggalkannya. Jika tidak, maka aku sendiri yang akan menghancurkan hidup gadis itu!” ancam Pak Pramana, ia kemudian kembali membaca koran tanpa memperdulikan Dirga yang keluar dari ruangan kerjanya dengan emosi yang meluap-luap
Dirga kemudian berlari menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya, ia melemparkan semua benda yang ada di hadapannya secara brutal den menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ia mengambil ponselnya, air matanya menetes tak tertahankan saat melihat gambar diri Miranda yang sedang tersenyum di layar ponselnya. Ia tak sanggup jika harus membayangkan senyum itu akan hilang dari wajah wanita yang sangat dicintainya karena perlakuan ayahnya
Dirga kemudian keluar dengan diam-diam dari rumahnya dan menuju rumah Miranda. Sesampainya disana, ia disambut dengan pemandangan memilukan. Dari depan pintu rumah Miranda yang terbuka, Dirga dapat melihat Miranda dan ibunya tengah menangis sambil berpelukan di ruang tamu. Samar-samar Dirga dapat mendengar perbincangan mereka
“Nak, maafin ibu yaa, ibu akan cari pekerjaan secepatnya supaya kamu tidak putus sekolah. Kamu nggak perlu mikirin ibu, yang penting kamu harus giat belajar” ujar Bu Manda –ibunda Miranda–. Deg! Jantung Dirga benar-benar terasa seperti tertusuk pedang yang sangat tajam. Betapa teririsnya hati Dirga melihat gadis yang dicintainya itu menderita. Ayahnya ternyata tak main-main
Bu Manda melihat Dirga yang sedang berdiri mematung di depan pintu. Ia segera menghapus air matanya dan melepaskan pelukan puterinya “Loh nak Dirga?” seru Bu Manda. Mendengar nama Dirga disebut, Miranda buru-buru menghapus air matanya juga “Kenapa berdiri di luar saja? Mari masuk. Ibu ke dapur dulu yaa” ujarnya, kemudian ia menyuruh Miranda untuk menghampiri Dirga sementara dirinya ke dapur untuk membuatkan minuman
Miranda menghampiri Dirga “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Miranda, ia melihat luka memar disekitar wajahi Dirga “Bentar yaa aku ambilin obat, kamu duduk dulu aja” Miranda hendak mengambilkan obat untuk Dirga namun Dirga mencegahnya
“Lukaku bisa disembuhkan tapi aku tak yakin dengan lukamu” ujar Dirga
Miranda mengernyitkan dahinya “Apa maksudmu?” tanyanya
“Kita bicara di luar” Dirga kemudian menggandeng Miranda menuju teras rumahnya. Dirga menggenggam erat tangan Miranda, ia menatap lekat-lekat wajah gadis yang dicintainya itu. Kemudian tanpa sadar air matanya mengalir
“Dirga kamu kenapa sih?” tanya Miranda bingung
“Kamu boleh membenciku. Maafkan aku karena membuatmu menderita begini. Ibumu kehilangan pekerjaannya karena ulah ayahku” ujar Dirga. Miranda terperangah mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Dirga. “Aku takkan pernah bisa memaafkan diriku jika kamu harus terluka lebih jauh lagi” Dirga memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam “Kita putus saja” ujarnya akhirnya. Dirga mengecup punggung tangan Miranda untuk yang terakhir kalinya, kemudian dengan perlahan ia melepaskan tangan itu dan pergi meninggalkan Miranda yang masih mematung tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Miranda masih tidak percaya bahwa kebersamaan yang telah mereka jalin selama ini kini berakhir begitu saja
Sejak saat itu Dirga tidak pernah terlihat lagi di sekolah. Mereka berdua benar-benar dipisahkan dan dipaksa untuk menjalani kehidupan mereka masing-masing. Dirga melanjutkan sekolahnya di luar negeri sementara Miranda setelah lulus SMA ia bekerja untuk membantu ibunya membiayai biaya pendidikannya di bangku kuliah, beruntung Miranda mendapatkan beasiswa sehingga setidaknya ia dapat mengurangi beban biaya hidupnya.
Siapa sangka tiga tahun berlalu ternyata tetap tidak bisa memutus ikatan yang terjalin diantara mereka. Jika takdir yang membuat mereka berpisah maka kini takdir juga yang mempertemukan mereka kembali
“Aku pulang Bu” sapa Miranda saat sampai di rumahnya
Bu Manda langsung menyambutnya keluar, dan betapa terkejutnya ia mendapati Miranda pulang bersama Dirga “Nak Dirga?” desisnya tak percaya. Bu Manda pun langsung memeluk Dirga “Ya Ampun sudah lama sekali ibu nggak ketemu kamu. Ayo ayo mari masuk” Bu Manda pun membawa Dirga dan Miranda masuk ke dalam
“Bu, ibu masih menyimpan pakaian ayah kan?” tanya Miranda saat mereka bertiga sudah duduk di ruang tamu
“Ya, tentu saja. Memangnya kenapa?” tanya Bu Manda. Miranda tidak menjawabnya, ia hanya melirik ke arah Dirga. Melihat hal itu Bu Manda sepertinya langsung mengerti maksud putrinya “Ah baiklah akan ibu carikan. Sebentar yaa” kemudian ia pun meninggalkan Miranda dan Dirga berdua
“Aku akan membuatkan minum dan mengambilkan obat untukmu. Tunggu sebentar yaa” ujar Miranda sambil berlalu pergi ke dapur
Jantung Dirga terasa semakin sesak. Cintanya untuk Miranda ternyata memang tak pernah bisa hilang. Bahkan setelah tiga tahun terpisah pun rasa itu masih tetap sama, tak berkurang sedikitpun
Tak beberapa lama kemudian Miranda datang dengan membawakan obat dan juga makanan serta minuman untuk Dirga. Miranda duduk di sebelah Dirga lalu ia membersihkan luka di wajah Dirga dengan air hangat, kemudian ia menuangkan obat merah di atas kapas dan menempelkannya ke dahi Dirga “Apa yang terjadi?” tanyanya. Namun Dirga masih tetap bungkam. Miranda seakan mengerti permasalahan yang dialami Dirga sepertinya cukup pelik, apalagi ini adalah pertemuan pertama mereka kembali setelah tiga tahun berlalu. Pasti ada banyak hal yang terjadi tanpa sepengetahuan mereka masing-masing. Miranda pun memilih untuk tidak bertanya lagi “Baiklah, kamu tidak perlu menjawabnya” ujarnya, ia kemudian mendekatkan piring makanan pada Dirga “Makanlah, aku akan membantu ibu mencarikan pakaian untukmu” ia kemudian hendak berlalu menuju kamar ibunya namun tiba-tiba Dirga menahannya
“Apa yang harus kulakukan? Aku dituduh melakukan penggelapan uang perusahaan. Ada banyak dana keluar tercatat atas namaku padahal aku sama sekali tidak menggunakannya. Tidak ada satupun bukti yang mengatakan bahwa aku tidak bersalah, tidak ada seorang pun yang percaya padaku. Aku benar-benar tidak punya apa-apa sekarang. Jika aku tidak mampu membuktikan bahwa aku tidak bersalah maka perusahaan ayahku akan ditutup. Apa yang bisa ku lakukan? Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkannya pada ayahku?” tutur Dirga menceritakan musibah yang menimpanya, ia tak kuasa menahan air matanya untuk tidak mengalir
Miranda kembali duduk di sebelah Dirga. Ia meraih tangan Dirga yang gemetar kemudian menggenggamnya. Menatap Dirga dengan tatapan hangat “Aku percaya padamu dan akan selalu percaya. Aku yakin kamu pasti bisa membuktikan bahwa kamu tidak bersalah. Jangan takut. Jika kamu tidak bersalah maka jangan takut. Kamu pasti bisa melewatinya” ujar Miranda mencoba memberi semangat pada Dirga
“Ehem…ehemm” tegur Bu Manda yang baru saja datang membawakan pakaian untuk Dirga. Miranda dan Dirga langsung menarik tangan mereka masing-masing. “Aahh sepertinya ibu datang disaat yang tidak tepat ya?” goda Bu Manda. Ia kemudian meletakkan pakaian yang dibawanya di atas meja “Silahkan lanjutkan, pengganggu permisi dulu. Ah ya, pastikan tidak ada kamera yang menyala oke? Bisa gawat kalau sampai tersebar di youtube” ujar Bu Manda sambil tertawa jahil meninggalkan mereka berdua lagi
Miranda mendengus “Apa-apaan orang tua itu. Dia pikir aku ini wanita macam apa” omel Miranda
Melihat Miranda yang emosi Dirga justru malah tersenyum “Heeey kenapa malah tersenyum? Lihat kan wanita tua itu, disaat orang tua lain menjaga putrinya dengan ketat ia malah mengajarkan yang tidak baik” cibir Miranda yang justru semakin membuat Dirga tak bisa menahan tawanya. Melihat lengkungan senyum di bibir Dirga menjadikan Miranda juga ikut tersenyum “Suara tawa itu, ternyata masih sama seperti tiga tahun lalu” ujarnya. Mendengar itu tawa Dirga tiba-tiba terhenti.
“Makanlah, setelah itu mandi dan ganti pakaianmu. Kamu bisa tidur di kamarku, aku akan tidur dengan ibuku” ujar Miranda kemudian ia berdiri dan hendak menuju kamar ibunya namun ia berhenti sejenak “Aku senang mengetahui kamu begitu memikirkan ayahmu, kejadian tiga tahun lalu sempat membuatku khawatir bahwa kamu akan membenci ayahmu. Tapi sekarang aku senang mengetahui kamu tidak menjadi seperti itu” ujar Miranda kemudian ia masuk ke dalam kamar ibunya sedangkan Dirga masih saja diam terpaku.
Sinar mentari pagi menembus masuk ke dalam kamar Miranda lewat celah-celah jendela kamarnya sehingga membuat Dirga yang sedang tertidur pun terbangun. Samar-samar ia mendengar suara pintu diketuk “Nak Dirga kamu sudah bangun?” tanya Bu Manda dari luar kamar
“Iyaaa” jawab Dirga
“Keluarlah nak, ayo kita sarapan” seru Bu Manda.
Dirga pun segera keluar dari kamar dan menghampiri Bu Manda yang telah menunggunya di meja makan. Kemudian ia duduk di hadapan Bu Manda, namun Dirga tampak celingukkan kesana kemari seperti mencari sesuatu
“Mira sudah berangkat kuliah pagi tadi. Ia bilang ada perubahan jadwal mendadak sehingga ia harus berangkat pagi sekali” ujar Bu Manda seperti dapat membaca pikiran Dirga yang sedang mencari Miranda. “Makanlah, ibu membuat nasi goreng seafood. Karena ibu sekarang bekerja di restoran, jadi ibu dapat membawa beberapa sisa bahan makanan dan memasaknya di rumah” ujar Bu Manda sumringah sambil menyendokkan nasi goreng ke atas piring makan
Mendengar kata ‘bekerja’ tiba-tiba Dirga teringat kejadian tiga tahun yang lalu saat ayahnya membuat Bu Manda dipecat dari pekerjaannya. Pedih rasanya saat mengingat bahwa ayahnya telah melukai wanita di depannya ini namun wanita ini masih saja tetap baik kepadanya “Maafkan aku” ujar Dirga “Tiga tahun lalu ayahku lah yang telah membuat ibu dipecat. Ibu bisa menghukumku sekarang untuk membalas perbuatan ayahku waktu itu”
Bu Manda meletakkan piring yang sudah dia isi nasi goreng itu di hadapan Dirga, kemudian ia menyunggingkan senyumnya “Itu sama sekali bukan kesalahanmu nak” ujar Bu Manda. “Lagipula tempat ibu bekerja waktu itu tidak asyik. Bagaimana bisa ibu bekerja sudah lama tetapi tidak ada kenaikan gaji. Ibu malah bersyukur bisa keluar dari situ” gerutunya. Kemudian ia dan Dirga saling pandang dan tertawa bersama “Makanlah nak” ujarnya. Dirga pun memakan makanan yang telah disediakan Bu Manda
“Sejujurnya, daripada soal pemecatan itu, ibu lebih sedih ketika mengetahui kamu menyerah pada keadaan” ujar Bu Manda lirih. Dirga seketika tertegun mendengarnya “Ibu tidak menyalahkanmu karena itu benar-benar pilihan yang sulit. Namun tidakkah kamu berpikir bahwa akan lebih baik jika memperjuangkannya bersama daripada harus menanggungnya sendirian?”
Dirga tertunduk “Aku tidak ingin membuat keadaan menjadi semakin buruk bu, aku tidak ingin membuat Mira semakin terluka”
Bu Manda tersenyum “Itu sebabnya ibu bilang ibu tidak menyalahkanmu. Apalagi kalian berdua hanyalah siswa SMA biasa yang masih terlalu naif. Namun nyatanya sejak kamu meninggalkannya pun Mira tetap saja terluka setiap harinya. Akan berbeda rasanya jika saat itu kalian tetap berjuang bersama. Meski mungkin kalian akan tetap terluka tapi kalian tidak perlu menyimpan luka itu sendiri, kalian dapat membaginya bersama dan segalanya akan menjadi lebih ringan”
Dirga terenyuh mendengarnya. Kenapa hal itu tidak terpikirkan olehnya tiga tahun yang lalu. Kenapa ia justru malah lemah dan pasrah terhadap keadaan?
Miranda mempercepat langkahnya agar secepatnya bisa tiba di rumahnya “Aku pulang” seru Miranda setibanya di rumah
“Loh kamu ga langsung ke café?” seru Bu Manda yang sedang mengiris sayuran sambil menonton tv di ruang tamu
“Aku mau naruh tas doang kok bu abis itu langsung berangkat lagi. Ibu sendiri kok masih dirumah?” tanya Miranda “Ohiya bu Dirga mana?” tanyanya kemudian saat menyadari Dirga tak ada dirumah
“Ibu hari ini shift sore. Dirga lagi keluar sebentar katanya ada urusan. Makanya ibu masak sekarang buat nanti malam dia makan”
Miranda mengangguk-anggukkan kepalanya “Yaudah bu kalau gitu aku pergi ke café dulu yaa” pamitnya sambil mengecup pipi ibunya
“Yaa nak hati-hati” sahut Bu Manda
Baru beberapa langkah Miranda keluar dari rumahnya, ia berpapasan dengan Dirga yang baru saja akan kembali ke rumahnya. Miranda berjalan mendekati Dirga, mereka saling bertatapan “Kamu dari mana?” tanya Miranda
“Menemui seseorang” jawab Dirga “Kamu sendiri mau kemana?” tanya Dirga
“Seperti biasa, aku harus ke café. Kamu masuklah ke dalam dan istirahat” ujar Miranda kemudian ia berlalu pergi
“Tunggu Mir” sergah Dirga “Biar aku ikut, mungkin aku bisa membantumu. Kau bilang bosmu sangat baik kan? Siapa tau dia akan memberiku pekerjaan?”
Miranda mengernyitkan dahinya “Kenapa tiba-tiba kamu ingin bekerja?” tanyanya
“Mir, aku ga bisa terus numpang hidup sama kamu dan ibumu. Sudah hampir seminggu ini aku hanya bergantung pada kalian, setidaknya aku tidak ingin berpangku tangan dan diam saja menunggu keadaan berubah tanpa melakukan apapun. Kamu juga tidak ingin aku lemah seperti ini kan?”
Miranda tersenyum mendengarnya. “Baiklah, aku akan mencoba bertanya pada Bu Hana apakah dia bisa memberimu pekerjaan atau tidak” ujarnya
Dirga tersenyum lega mendengarnya, mereka berdua berjalan bersama menuju Café Latte
“Dirga, boleh aku bertanya?” tegur Miranda di tengah perjalanan mereka
Dirga menganggukkan kepalanya “Tentu saja” jawabnya
Miranda terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya namun ia akan menjadi tak tenang bila tidak menanyakannya “Siapa orang yang kamu temui? Apa orang itu ada hubungannya dengan masalahmu?” tanya Miranda akhirnya
Dirga menundukkan wajahnya. Ia kemudian mengangguk “Aku menemui sekretarisku. Dia bilang ada orang dalam perusahaan yang sedang memfitnahku, dialah yang membuat catatan pengeluaran dana atas namaku. Tapi masalahnya sekretarisku belum bisa menemukannya. Dia bilang setidaknya langkah pertama yang harus kulakukan adalah mengembalikan uang yang dituduh sebagai hasil korupsi itu, setelah itu maka orang yang memfitnahku tersebut akan kebingungan dan berusaha untuk menyelidikinya. Dengan demikian baru kita akan dapat menangkapnya” tutur Dirga, ia kemudian menghela nafas panjang “Tapi darimana aku mendapatkan uang itu, sedangkan semua uangku sudah ditarik” Dirga menatap langit senja diatasnya “Apa mungkin aku merampok rumahku sendiri saja ya?” gumamnya
Mendengar itu sontak Miranda langsung mencengkram lengan Dirga, Dirga terkejut saat Miranda mencengkram lengannya. Miranda menatap Dirga dengan tatapan sedih seakan berkata “Jangan lakukan itu”. Dirga seperti dapat membaca apa yang dipikirkan Miranda pun kemudian tertawa kecil dan menepuk jidat Miranda “Auw!” desis Miranda sambil memegang dahinya
“Bodoh, kamu fikir aku akan benar-benar melakukan hal itu? Lagipula jika pada akhirnya aku akan menggunakan uang ayahku untuk apa aku sampai sejauh ini” ujar Dirga
Miranda meringis kemudian ia mengangkat jari kelingkingnya “Berjanjilah padaku untuk tidak melakukan hal bodoh bahkan disaat kamu sedang putus asa sekalipun”
Dirga memalingkan wajahnya “Aku tidak mau berjanji seperti bocah begitu” ledeknya
Miranda memonyongkan bibirnya “Cih, dari dulu kamu memang selalu menyebalkan” desisnya pelan
Dirga tertawa mendengarnya, namun kemudian tawanya memudar. Ia menatap Miranda lekat-lekat “Mir, kenapa kamu tidak membenciku?” tanyanya
Miranda balik menatap Dirga “Entahlah, hanya saja aku merasa tidak punya alasan untuk membencimu” ia kemudian mengalihkan pandangannya “Ahh kita harus jalan lebih cepat” ujarnya dengan setengah berlari meninggalkan Dirga di belakangnya
Dirga memandangi punggung Miranda “Terima kasih, Mir” gumamnya, kemudian ia pun juga berlari menyusul Miranda
Sesampainya di Café Latte, Miranda segera menuju ruangan Bu Hana “Kamu tunggu disana” pesannya pada Dirga sambil menunjuk salah satu meja yang tak jauh dari ruangan Bu Hana kemudian ia pun masuk ke dalamnya
Dirga mematuhi apa yang Miranda katakan, ia pun duduk di tempat yang Miranda tunjuk dan menunggu Miranda disana. Tak beberapa lama kemudian Miranda keluar bersama dengan Bu Hana dan menghampiri Dirga
“Apakah kamu yang bernama Dirga?” tanya Bu Hana
Dirga membungkukkan badannya seraya memberi hormat kepada Bu Hana “Iyaa bu, saya Dirga” ujarnya
Bu Hana tersenyum “Kebetulan sekali salah seorang satpam disini sedang pulang kampung, sehingga tidak ada yang berjaga di pagi hari. Waktu kerjamu dari jam delapan pagi sampai jam delapan malam, soal gaji kita akan bicarakan nanti berdua. Bagaimana?”
Dirga langsung menganggukkan kepalanya “Baiklah bu, kapan saya bisa mulai bekerja?”
“Jika kamu mau, kamu bisa mulai bekerja sekarang juga. Mira akan mengantarmu berkeliling café dulu agar kamu bisa memahami setiap sudut café ini” ujar Bu Hana
“Maaf bu bila diizinkan, saya ada satu permintaan” ujar Dirga
Bu Hana mengernyitkan dahinya “Apa itu?” tanyanya
Dirga tampak ragu-ragu untuk mengatakan keinginannya, tapi ia harus mengatakannya “Kalau boleh, saya ingin menginap disini saat malam hari. Tidur di mana pun tidak masalah karena saat ini saya tidak punya tempat tinggal” ujar Dirga akhirnya
Miranda membelalakkan matanya “Apa-apaan sih?! Kamu kan bisa tetap tinggal di rumahku” tegur Miranda
Dirga menoleh ke arah Miranda “Mir, aku gamau menyusahkan kamu dan ibumu terus. Percayalah aku hanya tidak ingin membebanimu” ujar Dirga dengan nada memohon sementara Miranda masih terlihat tak rela untuk menyetujui permintaan Dirga
“Begini saja” Bu Hana mencoba mencairkan suasana “Biarkan Dirga menginap disini” ujar Bu Hana pada Miranda, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Dirga “Kamu bisa tidur di pos satpam, kebetulan disana memang disediakan kasur lipat untuk beristirahat. Kamu juga bisa menemani mang Udin yang berjaga di malam hari” ujar Bu Hana
Dirga tersenyum puas “Terima kasih banyak bu. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan ibu” ujarnya sambil menjabat tangan Bu Hana. Ia kemudian kembali memandang Miranda yang masih menekuk wajahnya “Boleh yaa Mir, please” ujar Dirga sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya seraya memohon kepada Miranda. Miranda pun akhirnya menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Dirga walau dengan berat hati karena ia sungguh sangat mengkhawatirkan keadaan Dirga saat ini
“Apa tidak berat bagimu untuk kuliah sambil bekerja?” tanya Dirga saat ia membantu Miranda berberes untuk menutup Café, sementara itu Miranda sedang sibuk menghitung jumlah pendapatan hari ini.
Miranda menghentikan aktivitasnya sejenak kemudian menghela nafasnya “Tentu saja hal ini sangat membebaniku. Bahkan terkadang aku merasa aku tidak mampu lagi menjalani semuanya” ujar Miranda
“Tapi…… disaat semua rasa itu datang, aku teringat terhadap suatu hal, suatu alasan mengapa aku harus kuat menjalani semua ini. Ibu adalah hartaku yang paling berharga. Ia adalah satu-satunya alasan kenapa aku tidak pernah mengeluh bahkan sekalipun aku memikul beban di pundakku” Miranda tersenyum sambil membayangkan sosok ibunya dalam benaknya, kemudian ia menatap Dirga “Kamu pun begitu, kamu harus menemukan alasan untuk menjalani hidup ini” ujarnya sambil kembali melanjutkan pekerjaannya
“Alasan?” tanya Dirga mengulang perkataan Miranda
Miranda mengangguk “Ah ya, bisa tolong bantu aku memasukkan uang ini ke dalam brankas yang ada di balik lukisan dekat kulkas? Brankasnya tidak terkunci kok, nanti setelah selesai biar aku yang menguncinya” ujar Miranda sambil memberikan sejumlah uang pada Dirga
Dirga mengambil uang itu kemudian berjalan menuju sisi kulkas dan memindahkan lukisan di sebelahnya agar ia bisa memasukkan uang itu ke dalam brankas yang ada di balik lukisan itu “Kenapa Bu Hana tidak memindahkan uang ini ke bank? Tidak baik menyimpan uang sebanyak ini apalagi di tempat umum seperti ini” ujar Dirga saat melihat brankas yang sudah berisi tumpukkan uang itu
“Aku sudah mengingatkan Bu Hana tapi dia selalu saja menunda-nunda waktu untuk pergi ke bank. Aku akan mengingatkan dia lagi nanti” sahut Miranda. Ia kemudian merapikan pekerjaannya dan berjalan menuju brankas tersebut kemudian menguncinya dan menutupinya kembali dengan lukisan “Aku sudah selesai. Apa hari ini kamu mau ikut pulang bersamaku? Sejak bekerja disini kamu tidak pernah ke rumahku lagi. Ibu terus saja menanyakan kabarmu” ujarnya pada Dirga
Dirga tersenyum tipis kemudian mengusap lembut kepala Miranda “Hari ini aku janji menemani Mang Udin bermain catur. Tolong sampaikan maafku pada ibumu dan bilang padanya aku disini baik-baik saja” ujarnya
Miranda mencibir “Sepertinya sekarang aku mulai sulit membedakan antara Mang Udin dengan dirimu. Hanya dalam hitungan beberapa minggu saja kamu sudah meniru sebagian besar tingkah lakunya” ledeknya
Dirga tertawa “Mang Udin itu hebat sekali mengatur siasat dalam bermain catur, kapan-kapan kamu harus bermain juga dengannya”
“Baiklah sekarang aku pulang dulu” pamit Miranda, namun tiba-tiba dia teringat sesuatu. Miranda pun kembali berbalik “Bu Hana bilang padaku kalau sudah tiga hari belakangan ini kamu suka terlihat melamun. Apa terjadi sesuatu?” tanya Miranda
Dirga tersentak, “Tidak, aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya sedikit merasa kelelahan” ujarnya
“Kalau begitu sebaiknya malam ini kamu istirahat saja, jangan bermain catur dulu untuk malam ini. kurasa Mang Udin juga pasti akan mengerti kalau kamu tidak bisa menepati janji untuk bermain catur dengannya malam ini” pesan Miranda “Aku pamit dulu” lanjutnya sambil bergegas meninggalkan café.
“Miranda!” seru Dirga menghentikan langkah Miranda, Miranda pun kembali menoleh ke arahnya “Kamu pernah bilang akan selalu mempercayaiku, bisakah ku anggap itu sebagai janji?” tanyanya. Kemudian Dirga berjalan mendekati Miranda dan menangkat jari kelingkingnya “Maukah kamu berjanji untuk selalu mempercayaiku?” tanyanya sekali lagi
Namun bukannya menyambut kelingking itu Miranda justru malah membuang wajahnya “Aku tidak mau berjanji seperti bocah begitu” ujarnya mengulang kalimat yang pernah Dirga ucapkan sambil tersenyum jahil dan berlari meninggalkan Dirga
“Aish anak ini” gerutu Dirga, kemudian ia pun juga berlari mengejar Miranda
Miranda datang ke café lebih awal, dengan maksud untuk membantu Bu Hana bersiap-siap membuka Café dan juga membawakan sarapan buatannya untuk Dirga karena kebetulan hari ini ia sedang senggang. Namun sesampainya di Café ia tidak menemukan sosok Dirga di pos satpam tempat ia berjaga biasanya “Apa Dirga sedang keluar untuk membeli sesuatu?” tanyanya dalam hati. Namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara teriakan yang terdengar dari dalam café. Kotak makanan yang dibawanya untuk Dirga seketika terjatuh, Miranda segera berlari masuk ke dalam Café untuk melihat apa yang terjadi.
“Ada apa Bu??” tanya Miranda dengan panik
Bu Hana kehabisan kata-kata, ia hanya menyerahkan sepucuk surat yang ada di tangannya kepada Miranda. Miranda mengambil selembar kertas itu dan membacanya dengan seksama, dan apa yang tertulis dalam kertas tersebut benar-benar membuatnya luar biasa terkejut. Miranda segera memeriksa brankas yang ada di samping kulkas dan ia semakin terkejut saat mendapati brankas itu telah kosong. Miranda terduduk lemas, air matanya perlahan mengalir “Bagaimana bisa?” desisnya dalam isak tangisnya
Kepada Bu Hana dan Miranda
Aku benar-benar minta maaf karena terpaksa harus melakukan ini
Aku tidak bisa memberi tahu kalian mengapa aku melakukan semua ini
Tapi satu hal yang pasti, aku pasti akan mengembalikannya
Aku janji akan hal itu, tapi kalian harus bersabar
Aku bersumpah tidak akan lari dari janjiku
Aku akan membalas semua kebaikan kalian
Sekali lagi aku benar-benar mita maaf
Tapi ku mohon percayalah padaku
Dari: Dirga

Semua emosi benar-benar berkecamuk dalam hati Miranda saat ini. ia teringat saat ia dengan mudahnya mempercayai Dirga, kini ia merasa kepercayaannya itu benar-benar telah menghancurkannya.
Bu Hana mengusap lembut bahu Miranda “Ibu akan melapor ke polisi agar ia bisa segera ditangkap. Kamu tenanglah, ibu akan pastikan kamu tidak akan terlibat dalam kasus ini” ujar Bu Hana sambil beranjak pergi
“Tidak Bu” sergah Miranda sambil menggenggam tangan Bu Hana, mencegahnya agar tidak pergi ke kantor polisi
Bu Hana membalikkan badannya “Ini namanya tindakan kriminal Miranda. Kenapa kamu melarang ibu melaporkannya?” tanyanya
“Aku…. Aku…” ujar Miranda terbata-bata “Aku yang akan mengganti uang yang Dirga ambil. Ibu tidak perlu menggajiku sampai aku bisa mengganti uang yang Dirga bawa” ujar Miranda akhirnya
“Kamu yakin?” tanya Bu Hana. Miranda tampak ragu tapi sesaat kemudian ia akhirnya menganggukkan kepalanya. “Ayoo ikut ke ruangan ibu” ujar Bu Hana sambil membantu Miranda berdiri dan kemudian membawanya ke ruangannya.
Saat tiba di ruangannya, Bu Hana mempersilahkan Miranda untuk duduk, kemudian ia pun duduk di hadapan Miranda. Tangannya meraih kalkulator yang ada di samping komputernya dan mulai menekan beberapa angka di kalkulator itu “Uang yang dibawa Dirga semuanya bertotal sebesar Rp.40.000.000 sedangkan gajimu perbulan adalah Rp.2.000.000. Itu berarti kamu akan bekerja disini tanpa gaji selama 20 bulan. Apa kamu yakin mau melakukan itu?” tanya Bu Hana
Miranda menganggukkan kepalanya “Iya bu, aku akan melakukannya” jawab Miranda
Bu Hana menghela nafasnya “Kenapa kamu harusnya menghukum dirimu atas kesalahan yang tidak kamu perbuat. Dengarkan ibu, ibu sangat mempercayaimu. Kasus ini tidak akan membuat ibu kehilangan kepercayaan terhadapmu. Jadi biarkan Ibu melaporkannya ke polisi dan kamu pun tidak perlu melakukan ini”
“Tidak Bu, ini kesalahanku. Aku lah yang telah membawanya masuk ke sini. Jadi biarkan aku yang bertanggung jawab atas semua ini”
Bu Hana menggelengkan kepalanya “Ibu tidak mengerti kenapa kamu sangat ingin melindunginya. Apa kamu sangat mencintai pria itu?” tanyanya
Miranda menundukkan kepalanya “Ya” jawabnya dengan derai air mata “Itu sebabnya aku perlu alasan yang sangat kuat agar aku mampu mengubah cinta ini menjadi benci. Jika Ibu melaporkannya ke polisi maka polisi akan segera menangkapnya lalu kemudian ia dipenjara dan uang Ibu pun akan kembali, jika hal itu terjadi maka aku akan kehilangan alasan untuk membencinya. Tapi jika ia tetap berkeliaran di luar sedangkan aku harus terkurung disini menanggung perbuatannya maka aku akan mempunyai alasan untuk membencinya. Maka kumohon biarkan seperti ini, biarkan aku memiliki alasan yang kuat untuk membencinya” tutur Miranda. Air matanya perlahan menetes lagi mengalir membasahi pipinya
“Miranda, kamu bekerja karena kamu memerlukan uang untuk biaya pendidikanmu tapi kini sekarang kamu akan bekerja selama hampir dua tahun tanpa gaji, lalu bagaimana dengan pendidikanmu. Ini sangat tidak adil untukmu” ujar Bu Hana
Miranda menghapus air matanya “Ibu tidak perlu khawatir soal itu. Kuliahku sebentar lagi akan selesai. Lagipula, semakin tidak adil hidup yang kujalani karena perbuatannya maka alasanku untuk membencinya akan semakin kuat”
“Begini saja, kamu tidak perlu mengganti uang itu” ujar Bu Hana. Namun bukannya senang, Miranda justru langsung menolaknya
“Tidak Bu, jika ibu lakukan itu aku benar-benar tidak akan bisa membencinya. Kumohon bu biarkan aku melakukan ini”
“Bagaimana kalau ibu potong setengah saja dari uang gajimu, dengan begitu kamu akan tetap mendapatkan tambahan uang” ujar Bu hana namun lagi-lagi Miranda menolaknya
“Jika ibu melakukan itu, waktuku untuk melunasinya akan bertambah lama. Kumohon Bu, biarkan saja seperti ini” pinta Miranda
Bu Hana akhirnya menyerah “Baiklah kalau itu memang maumu”
“Terima kasih Bu, saya permisi dulu” pamit Miranda, dengan langkah gontai ia pun pergi meninggalkan ruangan Bu Hana dan kembali ke pekerjaannya. Ia mengambil sepucuk surat dari Dirga yang ia tinggalkan di meja tadi, tiba-tiba ia teringat ucapan Dirga “Kamu pernah bilang akan selalu mempercayaiku, bisakah ku anggap itu sebagai janji?”. Miranda tersenyum getir, kemudian merobek-robek kertas itu dan meremasnya. “Tidakkah kamu tahu kepercayaan itu ibarat sebuah kertas? Sekali kertas ini rusak maka ia takkan bisa kembali ke bentuk semula. Begitu juga dengan kepercayaanku yang telah kamu hancurkan sendiri” Miranda kemudian membuang serpihan kertas yang ada di tangannya ke tempat sampah
Hari itu juga perpisahan kembali menyapa pertemuan mereka. Waktu dan keadaan benar-benar telah mempermainkan mereka berdua. Tanpa sempat mengatakan selamat datang dan selamat tinggal lagi-lagi mereka sudah harus menjalani kehidupan mereka masing-masing lagi
Miranda pulang ke rumahnya dengan langkah gontai, langkah kakinya terhenti di sebuah jalan yang mempertemukan ia dan Dirga kembali saat itu. “Ku fikir pertemuan itu akan membuat sebuah awal baru untuk kita” ujar Miranda. Air matanya lagi-lagi menetes mengingat apa yang terjadi hari ini. Ia buru-buru menghapus air matanya dan mempercepat langkahnya, meninggalkan jalan itu dan juga meninggalkan kenangan tentang Dirga
Satu Tahun kemudian…
Miranda telah berhasil menyelesaikan masa kuliahnya dan mengantongi gelar sarjana sejak tiga bulan yang lalu. Ia bahkan juga berhasil mendapatkan IPK yang tinggi, sehingga membuat banyak perusahaan besar yang meliriknya. Ditambah lagi pembawaan dirinya yang tegas, cekatan namun tetap friendly semakin memperbesar daya tariknya. Dan saat ini ia bekerja di salah satu perusahaan advertising yang memberinya gaji yang terbilang sangat cukup untuk keperluan ia dan ibunya
Saat jam kantornya telah selesai, Miranda menyempatkan diri berkunjung ke Café Latte tempatnya dulu bekerja. Namun kini ia datang sebagai tamu bukan sebagai pegawai. Miranda sudah berhenti bekerja disana sejak ia sudah mulai bekerja di tempatnya yang sekarang ini, namun setiap bulannya Miranda tetap mengirimkan uang ke rekening Bu Hana sebagai tanggung jawab yang diembannya atas kejadian di masa lalu
“Bu Hana!” serunya saat melihat Bu Hana yang sedang melayani pelanggan
“Miranda!” sahut Bu Hana, ia pun memanggil salah seorang bawahannya untuk menggantikannya melayani pelanggan sementara itu dia menghampiri Miranda “Ya Ampuun kamu semakin cantik saja sekarang. Ayoo duduk” ujar Bu Hana sambil mempersilahkan Miranda duduk di salah satu kursi di dekat mereka “Kamu apa kabar nak? Sejak kelulusanmu kamu sudah hampir tidak pernah berkunjung kesini lagi. Apa kamu sudah melupakan ibu?”
Miranda tertawa kecil “Mana mungkin aku melupakan ibu? Ibu kan sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Ahiya, untuk apa ibu melayani pelanggan tadi? Ibu harusnya duduk santai saja di ruangan ibu. Lihat saja aku akan memarahi para pegawai disini”
Bu Hana menggelengkan kepalanya “Ahh bukan begitu, ibu hanya sedang bosan saja di ruangan ibu. Jadi ibu fikir sekali-kali tidak apa-apa kalau ibu yang terjun langsung melayani pelanggan” ujarnya. “Sebentar yaa nak” Bu Hana kemudian memanggil salah seorang pelayan dan memintanya membawakan ice cappucino dan chocolate cake untuk mereka berdua
“Ah ibu tidak perlu repot-repot” sergah Miranda
“Apanya yang repot? Memangnya tidak boleh kalau ibu menyajikan makanan untuk anaknya?” tanya Bu Hana “Ayoo silakan kamu cicipi” lanjutnya saat sang pelayan telah membawakan pesanannya
Miranda tersenyum kemudian meminum ice cappucino yang sudah dihidangkan untuknya “Padahal baru beberapa bulan aku tidak kesini tapi sepertinya tempat ini sudah banyak berubah yaa bu” ujar Miranda sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling café
Bu Hana tersenyum “Segala sesuatu yang telah kita ditinggalkan pasti takkan sama lagi ketika kita kembali. Bukankah memang sudah sewajarnya begitu?”
Miranda mengangguk “Ah iya Bu, sebenarnya aku kesini untuk membayar sisa hutangku” Miranda hendak mengambil uang dari tasnya namun Bu Hana menghentikannya
“Tidak perlu nak” ujar Bu Hana “Sekitar dua minggu yang lalu Dirga kesini, ia berlutut di hadapan ibu sambil meminta maaf. Kemudian ia membayarkan tunai uang yang dia ambil waktu itu bahkan ia juga memberikan ibu sebuah tempat untuk membuka cabang café ini” tutur Bu Hana
Miranda terkejut mendengar nama itu kembali disebut. Lidahnya terasa kelu sampai tak mampu lagi berkata apa-apa. Sekujur tubuhnya mendadak bergetar hebat
Bu Hana meraih tangan Miranda kemudian menggenggamnya “Ibu juga sudah mentransfer kembali ke rekeningmu uang yang menjadi hakmu itu. Jadi sekarang kamu tidak perlu melunasi apapun lagi”
Mata Miranda mulai berkaca-kaca, seluruh rasa dalam hatinya berkecamuk. Ia tidak tahu apakah ia harus senang atau justru kesal saat mendengar kembali tentang Dirga. Perasaannya benar-benar kacau. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari café “Bu, aku rasa aku harus pulang sekarang. Aku pergi dulu bu, nanti aku akan berkunjung lagi kesini” pamitnya
“Ibu sudah memaafkan Dirga, ibu harap kamu pun begitu” seru Bu Hana
Miranda berhenti sejenak “Seperti halnya yang ibu bilang tadi, segala sesuatu yang telah kita ditinggalkan pasti takkan sama lagi ketika kita kembali” ujarnya kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya
“Tapi kamu tidak menyadari bahwa ada satu hal yang tidak bisa berubah. Cintamu pada Dirga, selamanya akan tetap seperti itu” gumam Bu Hana
Sejak saat itu Miranda memutuskan untuk lebih mempersibuk dirinya, ia tidak memberikan kesempatan pada dirinya untuk memikirkan hal lain selain pekerjaan. Bahkan Miranda sampai pulang lebih larut dari sebelumnya
Tok…tok…tok terdengar suara pintu ruangannya diketuk dari luar “Masuk” perintah Miranda
Pak Surya kemudian masuk ke dalam ruangan Miranda “Lagi sibuk Mir?” tanyanya
Melihat atasannya yang datang Miranda langsung berdiri dan membungkukkan badannya seraya memberi hormat “Silahkan duduk Pak” ujarnya
“It’s okay santai aja, saya cuma mau minta tolong sama kamu. Kamu ada waktu senggang ga siang ini?”
Miranda mengambil buku catatan jadwal hariannya. “Saya bisa meluangkan waktu sekarang juga pak, tapi kurang lebih hanya satu jam karena setelah itu saya ada rapat. Bapak mau minta tolong apa ya? Pasti akan saya usahakan pak” ujarnya
“Begini, hari ini saya ada janji bertemu dengan klien di Taman Viktoria tapi sepertinya saya tidak bisa datang karena ada urusan mendadak, bisa saya minta tolong kamu menggantikan saya untuk menemui beliau?”
Miranda mengangguk menyanggupi permintaan Pak Surya “Baik pak, saya akan menuju kesana sekarang juga” ujarnya
“Baiklah, saya akan segera menghubungi beliau untuk memintanya menunggu kamu disana. Ohiya, katanya beliau memakai kemeja biru lengan panjang dan celana hitam. Terima kasih yaa Mir saya permisi dulu” ujar pak Surya sekaligus berpamitan
Selepas Pak Surya keluar Miranda langsung merapikan mejanya dan bergegas menuju Taman Viktoria, sebelumnya ia berpesan pada sekretarisnya agar menyiapkan dokumen yang akan dibahas pada saat rapat begitu ia kembali nanti
Setibanya di Taman Viktoria, Miranda segera mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari sosok orang yang memakai baju kemeja biru lengan panjang dan celana hitam. Ia juga menyempatkan diri untuk berkeliling taman mencari orang itu namun sepertinya yang dicari tidak ada “Belum sampai kali ya?” gumamnya dalam hati. Miranda pun akhirnya memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang berposisi strategis sehingga dapat membuatnya terlihat dari berbagai arah agar begitu sang klien tiba ia dapat dengan mudah langsung menemukan Miranda.
Miranda mendongakkan kepalanya menatap langit cerah diatasnya. ‘Ah seandainya suasana hatiku juga secerah langit ini’ gumamnya dalam hati. Perlahan ia memejamkan kedua matanya. “Kenapa disaat aku ingin melupakannya, alam sepertinya justru malah memperjelas tanda-tanda kehadirannya? ujarnya dengan helaan nafas panjang. Taman ini sebenarnya adalah taman yang sering ia dan Dirga kunjungi dulu semasa sekolah, semasa cinta masih menunjukkan hal yang manis-manis saja. Dan taman ini juga menjadi tempat kencan terakhir mereka sebelum Dirga dibawa paksa dulu, Miranda memutar kembali kenangan manis dan pahit itu dalam pikirannya
“Maaf yaa kalo nunggunya kelamaan” sapa seorang pria pada Miranda
Mengira itu adalah orang yang sedang ditunggunya Miranda langsung membuka matanya “Ah iyaa ga……” namun raut wajahnya seketika menegang melihat sosok Dirga yang berdiri di hadapannya “Dir…ga?” desisnya tak percaya, dan ia pun semakin terkejut mendapati Dirga mengenakan kemeja biru lengan panjang dan celana hitam ‘Jadi orang yang dimaksud Pak Surya itu Dirga? Gak mungkin, ini pasti ada kesalahan’ gumamnya dalam hati
Dirga sepertinya bisa membaca apa yang dipikirkan Miranda “Iyaa Mir, klien Pak Surya itu aku. Sebenernya aku yang minta tolong sama Pak Surya supaya kamu mau menemui aku”
“Apa?” desis Miranda. Ia kemudian menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya “Ada perlu apa?” tanyanya dingin
Dirga menarik nafas sejenak kemudian ia duduk di samping Miranda “Aku mau minta maaf Mir. Aku ga bermaksud menyakiti kamu. Tapi waktu itu aku bener-bener gatau lagi harus berbuat apa”
Miranda tetap diam tak bergeming sedikitpun. Dirga mencoba menggenggam tangan Miranda namun dengan segera Miranda menepisnya. Melihat itu Dirga hanya bisa menghela nafas, ia merasa ia pantas mendapatkan perlakuan seperti itu atas apa yang telah ia perbuat “Mir, kamu boleh caci maki aku, kamu boleh pukul aku, kamu boleh lakuin apapun asalkan setelah itu kamu maafin aku Mir” ujar Dirga lirih
Miranda akhirnya membalikkan wajahnya menatap Dirga “Kalau begitu bisa kuminta satu hal?” tanya Miranda
Dirga menganggukkan kepalanya dengan cepat “Apapun Mir, kamu bisa minta apapun”
Miranda menatap Dirga dengan tatapan dingin “Pergilah dan jangan kembali lagi” ujarnya datar tanpa ekspresi
Dirga sontak terperangah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Miranda “Ta… tapi… Mir” ujarnya terbata-bata
“Apa kamu fikir dengan mengembalikan uang itu maka semuanya akan selesai dan kembali seperti semula? Apa kamu fikir berjuta kalipun kamu pergi meninggalkanku maka aku akan tetap mencintaimu? Apa kamu kira aku akan tetap menunggumu kembali?” tanya Miranda dengan air mata yang tertahan “Maka sekarang kuperjelas, keadaannya sudah berubah dan aku bukanlah Miranda yang dahulu kamu kenal! Kamu sudah pernah meninggalkanku, dan bahkan bukan hanya sekali tetapi dua kali! Lalu untuk apa kamu datang lagi?! Untuk meninggalkanku lagi?! Untuk menciptakan luka yang baru lagi?! Apa masih kurang bagimu membuatku menderita sampai seperti ini?!” maki Miranda, ia menggigit bibir bawahnya, mati-matian menahan agar air matanya tak sampai menetes. Ia kemudian bangkit “Waktu kita telah habis” ujarnya sambil beranjak pergi
“Kamu pernah bilang bahwa aku harus menemukan alasan untuk menjalani hidup ini” ujar Dirga menghentikan langkah kaki Miranda “Dan alasanku melakukan semua ini adalah karena dirimu. Aku sangat mencintaimu”
Mendengar itu hati Miranda terasa bergetar “Tapi aku membencimu” ujarnya disertai dengan airmata yang sedari tadi ditahannya namun akhirnya menetes juga. Kemudian Miranda melanjutkan langkahnya meninggalkan Dirga tanpa sedikitpun menoleh kearahnya. Hati Miranda hancur. Setiap makian yang keluar dari mulutnya justru malah menyakiti hatinya sendiri
Miranda terlihat sangat lesu, dengan langkah gontai ia memasuki rumahnya “Aku pulang” ujarnya
Bu Manda segera keluar dari kamarnya dan menyambut anaknya itu “Loh kok lesu banget? Kamu kenapa nak?” tanya Bu Manda begitu melihat Miranda
Miranda langsung memasrahkan dirinya dalam pelukan ibunya “Dirga, Bu” ujarnya dengan derai air mata
Bu Manda membawa Miranda ke sofa, dan membiarkan anaknya itu menangis meraung-raung dalam pelukannya “Ada apa sama Dirga?” tanyanya lembut. Dengan terisak-isak Miranda pun menceritakan pertemuannya dengan Dirga hari ini. Setelah selesai Miranda mengadukan keluh kesahnya, Bu Manda tersenyum “Kalau kamu cinta kenapa malah bilang benci? Tidakkah kalian berdua sadari bahwa sebenarnya kalian saling menjaga dan memperjuangkan?” ujarnya
Miranda melepaskan pelukannya “Maksud ibu?” tanyanya
“Kamu fikir karena ibu diam saja berarti ibu gak tau apa-apa? Ibu tahu dulu Dirga memutuskan hubungan denganmu karena ingin melindungimu dari ayahnya, ibu juga tahu bahwa setahun belakangan ini kamu bekerja di Café Latte tanpa gaji agar Dirga tidak dilaporkan ke polisi. Tidakkah itu bukti bahwa sebenarnya kalian saling menjaga?” ujar Bu Manda. Ia kemudian meraih tangan puterinya itu dan menggenggamnya “Dirga tadi kesini dan dia memberi tahu ibu alasan kenapa dia melakukan itu semua. Dia melakukannya untukmu sayang” ujarnya sambil mengusap lembut pipi Miranda.
“Apa dia gila bu? Apanya yang untukku? Dia justru malah membuatku menderita bu” pekik Miranda
Bu manda mengelus kepala puterinya itu “Ibu tahu pasti sulit bagimu untuk memahami ini semua, tapi sekarang dengarkan ibu. Ia melakukan itu untukmu, mungkin caranya memang salah. Dirga terpaksa ‘meminjam tanpa izin’ uang Bu Hana untuk membersihkan namanya, dan setelah itu berhasil Dirga hendak mengembalikan uang itu dan menemuimu namun sepertinya ayahnya mengetahui hal itu dan kembali menahannya seperti dulu. Tapi kali ini Dirga tak ingin seperti dulu yang menyerah pada keadaan. Hingga akhirnya ia dan ayahnya membuat kesepakatan. Jika Dirga mampu memimpin perusahaan dengan baik dan menjalin kerja sama dengan para klien yang dapat menguntungkan perusahaannya dalam jangka waktu satu tahun maka hubungan kalian akan diakui namun jika gagal, maka Dirga akan dikirim ke luar negeri. Dirga langsung menyetujui hal itu. Satu tahun ini ia berusaha keras hingga akhirnya ia yang memenangkan kesepakatan itu. Kini disaat ia ingin menjemputmu, kamu justru malah membuangnya. Padahal Dirga fikir kamu adalah satu-satunya wanita yang akan selalu mempercayainya” tutur Bu Manda
Air mata Miranda mengalir lagi, hatinya kembali tersayat, bahkan rasanya lebih sakit dari sebelumnya “Kenapa dia bodoh sekali? Kenapa dia tidak berterus terang padaku? Apa yang harus kulakukan bu? Aku sudah menyuruhnya untuk pergi”
“Kamu sendiri kan yang bilang kamu sudah tidak mencintainya lagi? Lalu kenapa sekarang kamu menangisi kepergiannya?”
Miranda menggelengkan kepalanya “Tidak bu, aku sangat mencintainya. Bahkan selama ini aku tersiksa karena harus berusaha membencinya”
“Kalau begitu pergi dan kejarlah dia”
Tanpa pikir panjang lagi Miranda langsung berlari keluar dari rumahnya untuk mengejar Dirga
“Kamu mau kemana?” seru seseorang menghentikan langkah kaki Miranda.
Miranda sontak terkejut, ia kemudian membalikkan tubuhnya dan segera berlari memeluk pria yang sedang berdiri di belakangnya itu “Jangan pergi” seru Miranda dengan terisak
Dirga membalas pelukan Miranda “Jadi, aku boleh tetap disisimu?” tanyanya
Miranda tak menjawabnya, namun dengan yakin ia menganggukkan kepalanya
Tak peduli seperti apa kebencian mencoba memisahkan, cinta akan selalu menemukan jalannya untuk kembali bersatu

Tamat…
Thanks for reading^^
Follow me on twitter and ask.fm @atyampela
Wanna request cerpen? Go ask me;)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar