Hai
i.m back with new cerpen, kali ini temanya tentang cinta beda agama (request
dari sahabat gue @Tiadistiadji) . Karena temanya agak sensitif soal keagamaan
gue ga mau ada debat atau ribut yang gimana lah yaa gitu he he he. Maaf kalau
ada keterbatasan pengetahuan tentang agama lainnya. Kritik dan saran akan
sangat saya terima. Thanks and happy reading^^
…
DIFFER(END)
LOVE (CERPEN)
“Lo
udah ke gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa)?” tegur Lukman pada Alex yang
sedang melahap makan siangnya di kantin kampus
Alex
menggelengkan kepalanya “Emang mau ngapain? Gue kan ga ikut UKM (Unit Kegiatan
Mahasiwa) apa-apa”
Lukman
menepuk dahinya “Ampun dah Leeeex” geramnya “Lo ga lupa ingatan kan kalo lo
ditunjuk buat jadi ketua penyelenggara Festival Komunikasi angkatan kita?”
Alex
seketika tersedak mendengar ucapan Lukman “Demi apa lo?” tanyanya tak percaya
Lukman
mendesah pelan “Udah gue duga lo pasti lagi ngelindur makanya iya iya aja waktu
disuruh jadi ketua Festival”
“Terus
gimana dong nih Man?” tanya Alex panik
“Assalamualaikum”
sapa seorang gadis menghentikan pembicaraan mereka
“Wa’alaikumsalam”
sapa Lukman “Kok kamu kesini?” tanyanya pada gadis itu
Gadis
itu tersenyum “Iyaa, habis tadi aku tunggu di gedung PKM tapi ga ada satu orang
pun yang datang nemuin aku. Jadi aku pikir biar aku aja deh yang cari kakak”
tuturnya “Maaf, aku ganggu ya?” tanyanya kemudian dengan raut wajah bersalah
Lukman
dengan cepat menggelengkan kepalanya “Sama sekali enggak ganggu kok, aduh kakak
minta maaf yaa, kakak yang butuh kamu tapi malah kamu yang jadi repot nyari
kakak”
Lagi-lagi
gadis itu tersenyum “Gak apa-apa kok kak” ujarnya, kemudian ia memberikan
sebuah flashdisk pada Lukman “Di dalamnya udah ada video-video beberapa orang
yang aku wawancara. Nanti tinggal kakak edit lagi aja. Aku juga udah bikinin
desain brosur sama perkiraan rincian biaya buat acara Festival nanti kakak bisa
cek sendiri” tuturnya
“Waah
ya ampun makasih banyak loh dek” seru Lukman dengan mata berbinar-binar
Gadis
itu mengangguk “Yaudah kalo gitu aku harus pergi dulu soalnya masih ada kelas,
kalau butuh bantuan lagi jangan sungkan buat bilang sama aku yaa kak”
“Iyaa,
sekali lagi makasih banyak yaa” ujar Lukman
“Assalamualaikum”
pamitnya
“Wa’alaikumsalam”
jawab Lukman. Setelah gadis itu pergi, Lukman langsung menggebrak meja
dihadapannya dengan keras sehingga mengagetkan Alex “Bengong aja lo!” serunya
Alex
segera mengelus-elus dadanya “Astaga bisa cepet mati ye gue lama-lama main sama
lo” omel Alex
“Siapa
suruh bengong aja” Lukman kemudian menyerahkan flashdisk yang tadi diberikan
oleh gadis itu pada Alex “Tuh lo yang edit videonya, bikin jadi kayak film
dokumenter atau gimana kek serah lo dah, pelajarin juga rincian biayanya terus
lo bikin proposal. Ntar gue yang bantu ngomong ke dekan sama senior lainnya”
Alex
mengangguk “Okedeh, btw kok tuh cewek baik banget sih. Dia salah satu panitia
Festival Komunikasi juga? Tapi kok kayaknya gue gapernah liat ya?” tanya Alex
“Bukan
kok, dia malah bukan dari fakultas ilmu komunikasi” jawab Lukman
“Terus
dia siapa?” tanya Alex penasaran
“Sepupu
gue, seumuran kok, tapi karena silsilah keluarga jadinya dia manggil gue kakak
deh. Berterima kasihlah lo sama dia” ujar Lukman
“Ah
iyaa shit tadi gue ga sempet bilang makasih, abis tadi gue terpesona gitu liat
mukanya. Bening banget, beningnya beda gitu sama muka mbak-mbak yang pucet
karena make obat pemutih. Btw siapa namanya Man?”
“Giliran sama yang bening-bening aja
gercep lo” ledek Lukman “Namanya Kamila, Kamila Nuraini” jawab Lukman
“Nama
yang indah” puji Alex
Lukman
menganggukan kepalanya “Hm, Kamila Nuraini memiliki arti wanita sempurna dan
bercahaya matanya”
“Begitukah?”
tanya Alex yang dijawab dengan sebuah anggukan lagi dari Lukman
“Setiap
nama pasti mengandung sebuah arti. Gimana dengan nama lo sendiri? Alexander
Christian? Apa artinya?” tanya Lukman
Alex
memejamkan matanya mencoba mengingat sesuatu “Itu…. Kalau gak salah artinya
adalah penolong dan pelindung umat kristiani” ujarnya
Lukman
tertawa kecil “Sepertinya kelakuan lo ga sebagus nama lo ya Lex?” goda Lukman
Alex
memutar bola matanya “Bawel lo ah” desisnya sambil melanjutkan kembali melahap
makan siangnya yang sempat terhenti
…
Alex
memperhatikan dengan serius layar laptopnya sambil sesekali menyeruput ice
cappucinonya “Detail banget rincian biayanya, sampe ditulis juga perkiraan
biaya tak terduganya” gumamnya memuji Kamila
Namun
tiba-tiba fokus Alex teralihkan ke arah lain, ia segera bangkit dari kursinya
dan berlari menghampiri seseorang “Haiii” sapanya menghentikan langkah orang
itu
Melihat
seseorang yang tak dikenalnya tiba-tiba mencegatnya sontak ia kaget, seketika
raut wajahnya berubah menjadi was-was dan Alex sepertinya menyadari hal itu
“Sorry sorry ga maksud ngagetin kok. Emm saya temennya Lukman yang kemarin.
Inget ga?” tanya Alex hati-hati
Raut
ketegangan di wajah Kamila akhirnya perlahan meluruh dan kini berganti dengan
sebuah senyuman “Iyaa inget kok, ada perlu apa yaa kak?” tanyanya
Alex
sedikit salah tingkah namun ia berusaha menutupinya “Emm kalau boleh sih pingin
ngobrol-ngobrol” Alex memutar otaknya mencoba mencari alasan agar bisa
menghabiskan waktu bersama dengan Kamila “Ah iyaa ngobrolin soal video dan
lain-lain yang di flashdisk kemarin. Itu juga kalau kamu bisa sih hehe”
Kamila
menganggukkan kepalanya “Bisa kok, kebetulan hari ini udah ga ada kelas lagi.
Tapi aku mau sholat dulu”
Alex
tersenyum lebar “Yaudah, saya tunggu di situ yaa” ujarnya sambil menunjuk ke
arah kursi di dekat danau tempat ia duduk tadi
“Loh
kakak ga mau ikut berjama’ah?” tanya Kamila
Alex
tersenyum “Aku non muslim” ujarnya
“Eh?
Maaf yaa kak” ujar Kamila canggung
“It’s
okay gapapa. Yaudah aku tunggu disana yaa” ujar Alex, Kamila pun mengangguk dan
berlalu menuju masjid untuk menunaikan sholat dzuhur berjama’ah
Alex
memandangi punggung Kamila yang kian menjauh “Seperti apa yaa rasanya ibadah
bersama kamu” gumam Alex
…
Alex
melambaikan tangannya ke arah Kamila, melihat hal itu Kamila mempercepat
langkahnya untuk menghampiri Alex “Maaf yaa Kak lama” ujar Kamila
“Gapapa
santai ajaa. Ohiya gausah panggil ‘kakak’ yaa. Kamu sama Lukman seumuran kan?
Berarti kita juga sama” ujar Alex
“Emang
gapapa kalo aku manggil nama aja?”
“Ya
jelas gapapa dong. Kamu kan manggil Lukman ‘kakak’ karena emang dari silsilah
keluarga, sedangkan aku kan bukan keluarga kamu, jadi gapapa kalo panggil nama.
Yaa kayak kamu manggil temen-temen kamu aja”
Kamila
menganggukkan kepalanya “Terus, nama kamu?” tanyanya
“Alexander
Christian. Kamu bisa panggil aku Alex”
“Alex”
Kamila mengulang menyebutkan nama Alex sambil tersenyum, dan lagi-lagi senyum
itu membuat getaran hebat dalam jantung Alex “Ahiya, namaku Kamila Nuraini.
Kamu bisa panggil aku Kamila” lanjut Kamila
“Okee
Kamila, salam kenal yaa” jawab Alex
Kamila
mengangguk sambil tersenyum “Jadi, kamu mau ngomongin soal apa nih Lex?” tanya
Kamila kemudian
“Ah
ini.. coba kamu tonton video bikinan aku. Jadi video dari kamu kemaren udah aku
edit” Alex kemudian memutar arah laptopnya ke hadapan Kamila dan memberikan headsetnya
pada Kamila
Kamila
memasang headset itu ke telinganya dari balik hijabnya, kemudian dengan fokus
ia menonton video yang diputar di laptop Alex. Sementara Kamila fokus pada
laptop, Alex pun fokus pada Kamila. Ia teringat pada kata-kata Lukman “Kamila Nuraini memiliki arti wanita
sempurna dan bercahaya matanya”. Alex tersenyum sesaat “Sepertinya orang
tuanya punya indera ke enam, karena nama yang mereka berikan sangat tepat”
gumam Alex dalam hati. Jika biasanya selama ini menurut Alex wanita cantik adalah
seorang wanita yang memiliki rambut panjang menjuntai dengan tubuh seksi dan
fashionable, kini pandangannya berubah. Entah mengapa Kamila yang justru tidak
memperlihatkan lekuk tubuhnya serta menutupi kepalanya dengan hijab malah kini
terlihat lebih cantik baginya.
“Bagus
Lex” puji Kamila
Alex
seketika tersentak “Hah? Apanya yang bagus?”
“Video
editan kamu ini” jawab Kamila
“Serius?”
Kamila
menganggukkan kepalanya dengan yakin dan mengangkat jari telunjuk dan jari
tengahnya bersamaan “Duarius kalau perlu” tegasnya
Alex
tertawa kecil “Makasih yaaa, ini juga kan karena bantuan kamu. Ohiya btw kamu
dari fakultas apa?”
“Fakultas
psikologi”
Mata
Alex berbinar-binar “Serius?” tanyanya “Coba dong baca karakter aku gimana”
Kamila
menggelengkan kepalanya sambil tertawa “Aku ini jurusan psikologi, bukan
peramal” ujarnya
“Ehehe
iyaa juga yaa. Tapi sedikit-sedikit bisa dong ngebaca karakter orang”
“Bayar
yaa tapi?” goda Kamila “Emm gini aja, aku kasih test aja mau ga? Kebetulan aku
pernah dikasih tau soal ini sama dosen”
Alex
dengan semangat menganggukkan kepalanya “Mau! Mau!” serunya
“Visualisasikan
dalam bayangan kamu, suatu hari ada seekor burung kecil berwarna biru yang
menyelinap masuk ke dalam kamarmu lewat jendela kamarmu. Entah mengapa kamu
merasa ada sesuatu hal yang menurutmu menarik pada burung itu sehingga kamu
memutuskan untuk memeliharanya. Keesokan harinya saat kamu bangun dari tidurmu
burung it berubah warna menjadi kuning, lalu pada hari ketiga burung tersebut
berubah warna lagi menjadi warna merah, dan kemudian pada hari keempat burung
tersebut pun berubah warna lagi menjadi hitam. Pertanyaannya, di hari kelima
saat kamu bangun akan berubah warna menjadi warna apakah burung itu? A. Tetap
hitam B. Biru C. Putih D. Emas. Nah yang mana jawaban kamu?” ujar Kamila
Alex
terlihat berfikir keras untuk menentukan jawabannya “Hmm… Biru deh” jawabnya
kemudian
“Biru
memiliki arti kamu adalah orang yang optimis. Saat kamu dihadapkan dalam
kondisi terburuk maka kamu akan tetap berfikir optimis dan yakin bahwa masalah
tersebut pasti setidaknya akan kembali ke keadaan normal semula” jelas Kamila
“Iyaasih
bener hehehe” Alex mengakui ucapan Kamila “Emm, kamu hari ini ada rencana ga?”
tanya Alex
Kamila
menggelengkan kepalanya “Enggak, kenapa?”
“Mau
ga hari ini nemenin aku belanja buat keperluan festival? Aku rasa aku butuh
pendapat kamu deh. Itupun kalau kamu mau sih” tutur Alex
Kamila
tampak sedang berfikir “Perginya berdua aja? Emm gimana yaa.. Aku gaenak,
takutnya nanti jadi fitnah”
“Kamu
jangan takut, ga usah pikirin apa kata orang. Aku janji aku adalah orang
pertama yang bakal ngelindungin kamu kalo emang ada orang yang ngomongin
macem-macem tentang kamu” Alex kemudian meletakkan tangan kanannya di dada
kirinya “Aku bersumpah demi Tuhan” ujarnya sungguh-sungguh
Kamila
tersentuh melihat kesungguhan Alex. Jika biasanya lelaki akan menyerah, Alex
justru malah berjanji akan menjaganya. Kamila pun akhirnya menyetujui
permintaan Alex “Okee kalau gitu, tapi ga bisa lama-lama yaa” ujar Kamila
Alex
langsung sumringah mendengar persetujuan dari Kamila “Kamu serius? Makasih
banget yaaa” serunya bahagia
…
Padahal
hari sudah siang tapi pasar tempat Alex membeli perlengkapan untuk keperluan
Festival masih saja ramai. Kamila berkali-kali sempat tertinggal dari Alex
karena padatnya para konsumen di pasar itu. Hingga hal tersebut harus
membuatnya untuk berpandai-pandai menyalip di antara keramaian orang-orang
“Kamila,
kamu pegang ini” Alex menggulung sapu tangannya dan mengulurkan ujung
gulungannya pada Kamila, sedangkan ia memegang ujung yang satunya lagi
“Buat
apa?” tanya Kamila bingung
“Aku
kan ga bisa pegang tangan kamu ataupun ngerangkul kamu karena kita bukan
muhrim, jadi ini satu-satunya cara supaya aku ga kehilangan kamu atau kamu
kehilangan aku. Soalnya disini rame banget”
Deg!
Seketika jantung Kamila berdegup lebih cepat dari biasanya. Dengan segera ia
beristighfar dan menyebut nama Allah dalam hatinya agar degup jantungnya
kembali normal. Perlahan ia kemudian mengambil uluran gulungan sapu tangan itu
dan menggenggamnya dengan erat. “Ayoo jalan” ujarnya.
Alex
tersenyum dan mengangguk kemudian kembali melanjutkan perjalanan mereka. Aneh
rasanya, padahal tak saling bersentuhan langsung tapi entah mengapa rasanya
Alex tak ingin melepaskan genggamannya.
Hal
yang sama juga dirasakan oleh Kamila, padahal mereka sama sekali tak saling
bersentuhan tapi entah mengapa rasanya ia dapat merasakan kehangatan dan
kelembutan tangan Alex bahkan sampai ke dalam hatinya.
“Makasih
yaa buat waktunya hari ini. Emm kalau boleh beberapa minggu ke depan aku bakal
lebih sering minta waktu kamu nih” ujar Alex saat mengantarkan Kamila pulang ke
rumahnya.
Kamila
mengangguk “Sama-sama. Iyaa gapapa, aku seneng kok kalau emang aku bisa bantu”
ujarnya sambil tersenyum.
“Yaudah
kalau gitu aku pulang dulu yaa. Cepat masuk, kamu belum sholat ashar kan” seru
Alex.
Kamila
melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu baru
menunjukkan pukul empat sore. “Iyaa baiklah, hati-hati di jalan ya”
Alex
mengangguk, kemudian ia menstarter mobilnya dan kembali melanjutkan perjalanan.
…
Alex
memarkirkan mobilnya di sebuah gereja, kemudian ia masuk ke dalam gereja itu. Pertama-tama
Alex menyalakan lilin-lilin kecil sebagai ritual ibadahnya, kemudian ia berlutut
di hadapan patung bunda maria, mengepalkan tangannya dan memejamkan kedua
matanya. Saat ia memejamkan kedua matanya, anehnya justru malah muncul wajah
Kamila
Alex
kemudian menggelengkan kepalanya untuk menepis bayangannya. “Ya Tuhan, bahkan
dihadapanMu pun aku malah membayangkannya” gumamnya sambil tersenyum kecil
“Tuhan,
aku tidak pernah seserius ini dalam memandang seorang wanita. Tapi entah
kenapa, dia mampu mengalihkan semua perhatianku padanya. Entah kenapa ia
berhasil membuat mataku hanya memandang ke arahnya. Aku tau mungkin ini terlalu
cepat, tapi bukankah cinta tidak mengenal waktu?”
Sementara
itu di tempat yang berbeda Kamila juga sedang menunaikan ibadahnya. Ia
mengangkat kedua tangannya “Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah pemilik kehidupan
dari setiap makhluk hidup di muka bumi ini. Engkau telah merencanakan setiap
kejadian apapun yang terjadi maupun yang akan terjadi di bumi ini” di sela-sela
doanya tiba-tiba sosok Alex muncul dalam benaknya. Kamila buru-buru menepisnya
dengan beristighfar “Ya Allah, maafkanlah hambaMu ini ya Allah. Hamba mohon
jagalah diri hamba ini amiin”
…
“Okee, hanya tinggal dua hari lagi menuju
Festival Komunikasi 2014, semua persiapan udah kelar. Sekarang kita tinggal
pastiin aja everything’s will be okay sampai hari H nanti. Makasih buat kerja
samanya selama satu bulan ini” tutur Alex mengakhiri rapat panitia hari itu. Ia
kemudian menghampiri Lukman yang sedang mengutak atik kamera SLR nya “Man,
kira-kira Kamila lagi dimana ya?” bisiknya kecil pada Lukman
Lukman
meletakkan kameranya “Lo sms aja tanya dia lagi dimana” jawab Lukman
“Ohiya
yaa” Lukman kemudian mengambil handphonenya dan mengirimkan satu pesan singkat
ke nomor Kamila. Dan dengan harap-harap cemas ia menunggu balasan dari Kamila
“Nungguin
balesan sms aja muka lo sampe kayak orang nahan boker tau ga?” Ledek Lukman
“Ah
sialan lo Man” desis Alex, kemudian raut wajahnya berubah menjadi sumringah
ketika akhirnya Kamila membalas pesan singkatnya. Buru-buru ia membaca pesan
dari Kamila
Aku di masjid mau sholat dzuhur,
kenapa? – Kamila
Alex
kemudian segera membalas pesan itu
Kalau udah selesai sholatnya aku tunggu
di kantin tempat biasa ya – Alex
Setelah
menekan tombol send Alex segera berpamitan pada Lukman “Gue ke kantin dulu ya
sob” pamitnya
“Tunggu
Lex” sergah Lukman
Alex
kembali berbalik badan “Kenapa?” tanyanya
“Gue
mau tanya satu hal sama lo. Lo suka ya sama Kamila?” tanya Lukman
Alex
tertawa mendengar pertanyaan Lukman “Siapa sih Man yang ga suka sama dia? Dia
baik, ramah, dan ga pilih-pilih temen. Gue rasa lo sebagai sepupunya juga pasti
suka kan sama dia” jawab Alex
“Bukan
suka seperti itu maksud gue. Apa lo punya perasaan lain sama Kamila? Semacam
perasaan cinta gitu?”
Alex
seketika bungkam seribu bahasa. Hari terus berganti, waktu berlalu begitu cepat
setiap harinya. Mengubah setiap hal yang telah dilewatinya. Termasuk juga
perasaan Alex, sesuatu yang awalnya hanya sebesar benih itu kini sepertinya
sudah mulai menampakkan wujud nyatanya
Lukman
seperti sudah mengetahui jawaban dari pertanyaannya melalui raut wajah Alex “Lex,
sorry not sorry yaa. Gue selalu mendukung apapun yang lo lakuin selama itu
baik. tapi kali ini gue mohon banget sama lo untuk berpikir lebih matang lagi”
Lukman menepuk bahu Alex kemudian ia pergi meninggalkan Alex
…
Alex
duduk termenung sambil mengaduk-aduk ice cappucinonya. Pikirannya menerawang
jauh memikirkan perkataan Lukman tadi sampai tanpa ia sadari ternyata Kamila
sudah berada di depannya
“Lex”
tegur Kamila
Alex
kemudian tersadar dari lamunannya “Eh? Oh kamu udah disini, mau aku pesenin
minum ga?” tanyanya
Kamila
menggelengkan kepalanya “Gausah, aku gak haus kok. Nanti tinggal pesen sendiri
aja kalo aku mau” jawab Kamila
Alex
tersenyum kemudian ia memandangi wajah Kamila “Ini hanya perasaanku ataukah
memang kamu bertambah cantik setiap habis sholat? Apakah setiap selesai sholat
kamu selalu memakai make up?” tanya Alex
Kamila
tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya “Tidak, lagipula untuk apa aku
berdandan berlebihan? Seorang wanita
harus menjaga dirinya dari tatapan-tatapan nakal”
“Lalu
bagaimana wajahmu bisa terlihat lebih cerah dari sebelumnya?” tanya Alex
penasaran.
“Saat
berwudhu, aku membasuh wajahku dengan air. Mungkin kotoran di wajahku pun juga
ikut menghilang” tutur Kamila
Alex
menganggukkan-anggukan kepalanya, kemudian ia kembali menatap Kamila “Lalu, apa
yang kamu minta pada Tuhan-mu dalam ibadahmu tadi?”
“Aku
meminta kesehatan dan kesejahteraan untuk semua orang yang aku sayang dan juga
yang menyayangiku” jawab Kamila
“Untuk
dirimu sendiri? Kamu tidak meminta sesuatu untuk dirimu?”
Kamila
menjawab pertanyaan Alex itu dengan gelengan kepala
Alex
mengernyitkan dahinya “Bagaimana bisa kamu tidak meminta apapun pada Tuhan-mu?
Aku selalu memberitahu pada Tuhan Jesus tentang apa yang aku inginkan agar Dia
dapat memberikannya padaku”
Kamila
tertawa kecil “Aku tidak meminta apapun pada Allah, karena aku yakin Dia lebih
mengetahui apa yang aku butuhkan” tuturnya “Bagaimana dengan dirimu? Apa yang
kamu minta pada Tuhan mu?” tanya Kamila
Alex
menundukkan kepalanya “Aku meminta sesuatu yang sepertinya mustahil” desis
Alex. Kemudian ia kembali menatap Kamila dengan lembut “Aku meminta dirimu”
Tenggorokan
Kamila seketika tercekat mendengar perkataan Alex. Dadanya terasa sesak namun
ia tetap berusaha menyembunyikannya “Ah, kamu ini suka sekali bercanda” ujarnya
mengalihkan pembicaraan
“Aku
belum pernah seserius ini dalam hidupku” tegas Alex “Aku belum pernah mencintai
seseorang sedalam ini. tak bisakah kamu dan aku menjadi kita?” tanya Alex lirih
Sekujur
tubuh Kamila bergetar hebat, bagaimana bisa keinginan yang mati-matian ia kubur
itu justru kini malah terlontar dari mulut Alex sendiri. Tak bisa Kamila
pungkiri bahwa cinta telah hadir diantara mereka. Tapi, selain cinta Tuhan pun
juga ikut hadir diantara mereka.
“Aku
telah menyukaimu sejak awal pertama aku melihatmu, entah kenapa aku selalu
merasa terhanyut dalam sorot matamu itu. Sejak saat itu rasanya ingin sekali
aku selalu berada di sisimu, ingin sekali rasanya aku untuk menjagamu. Namun
apakah mungkin?”
Kamila
masih tetap terdiam, hatinya berdesir, sebelum pertahanan hatinya juga ikut
runtuh ia memilih untuk bangkit dari tempat duduknya “Tahukah kamu? Terkadang
Tuhan menguji kita dengan cinta beda agama hanya untuk melihat apakah kita
lebih mencintai Sang Pencipta atau hanya sekadar ciptaan-Nya” ujar kamila lirih
sebelum ia benar-benar pergi dari pandangan Alex
…
Kamila
membaca setiap ayat demi ayat suci firman Allah sampai tanpa ia sadari air
matanya menetes dari pipinya dan membasahi Al-Qur’an yang sedang dipegangnya.
Kamila buru-buru menghapus air matanya namun entah mengapa air mata itu justru
malah semakin deras mengalir dari matanya
“Ya
Allah apa yang harus aku lakukan?” desisnya dalam isak tangisnya
“Mengapa
disaat aku telah mati-matian menghilangkan perasaan itu, Kau justru malah
membuatnya menjadi semakin jelas? Maafkan aku yang tidak bisa menjaga hatiku
ini untuk tidak jatuh kepada Alex. Apa yang harus ku lakukan jika menyebut
namanya saja kini sudah membuat hatiku bergetar? Ya Allah ku mohon bantulah aku
untuk menemukan jalan keluarnya”
Sementara
itu di tempat yang jauh berbeda, ada hati yang juga sama-sama hancur. Dengan
gontai Alex melangkahkan kakinya ke dalam gereja, kemudian ia bertekuk lutut di
hadapan patung bunda maria. Ia menatapnya dengan nanar “Permainan macam apa
ini?” tanyanya lirih
“Kau
tau aku takkan mungkin meninggalkanMu sehingga Kau membuatku harus pergi
meninggalkannya?! Jangan seperti ini kumohon jangan lakukan ini” Alex
mengepalkan tangannya dan menundukkan kepalanya, memohon agar Tuhan menjadikan
semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan hilang bersama dengan datangnya
matahari esok pagi
Di
dalam hati ini hanya satu nama
Yang
ada di tulus hatiku ingini kesetiaan yang indah takkan tertandingi
Hanyalah
dirimu satu peri cintaku
Benteng
begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu
Aku
untuk kamu, kamu untuk aku
Namun
semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan
memang satu, kita yang tak sama
Haruskah
aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
Benteng
begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu
Aku
untuk kamu, kamu untuk aku
Namun
semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan
memang satu, kita yang tak sama
Haruskah
aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
Bukankah
cinta anugerah
Berikan
aku kesempatan
Tuk
menjaganya sepenuh jiwa
Ooooohhh
Tuhan
memang satu, kita yang tak sama
Haruskah
aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
(Peri
Cintaku – Marcel Siahaan)
…
Hari
Festival yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Seluruh warga kampus pun ikut
meramaikan acara itu. Banyak juga beberapa mahasiswa/i yang membuka stand untuk
menggalang dana yang nantinya akan mereka sumbangkan kepada panti asuhan dan
juga beberapa anak jalanan
Alex
benar-benar disibukkan hari ini, sejujurnya ia bersyukur karena perhatiannya
benar-benar terfokuskan untuk acara ini sehingga ia tidak punya waktu untuk
memikirkan hal lainnya
Setelah
penampilan band yang mengisi acara hari itu pun kini tiba saatnya pemutaran
video yang berisi tentang wawancara dengan beberapa warga kampus. Alex
memberikan kode pada Lukman untuk memutarkan video tersebut
Para
mahasiswa/i yang dirinya diwawancara pada saat itu tak menyangka jika ternyata
video mereka akan ditampilkan untuk acara ini. sebagian dari mereka ada yang
tertawa atau bahkan menggoda teman mereka yang terekam dalam video tersebut.
acara ini sukses besar dan mendapat respon positif dari semua orang yang
menontonnya.
Alex
tersenyum puas karena kerja kerasnya ternyata mendapati respon yang baik. alex
kemudian memberikan kode kepada Lukman untuk mengambil alih tugasnya karena ia
ingin berjalan-jalan keliling sebentar
Alex
kemudian berjalan mengelilingi stand yang ada pada Festival hari itu sampai
kemudian langkahnya terhenti pada sebuah stand aksesoris, matanya bukan tertuju
pada aksesoris yang dijual tapi justru tertuju pada orang yang sedang berjaga
di stand itu. Alex kemudian berjalan menghampirinya
“Kenapa
ga nonton waktu video yang kamu bikin diputar tadi?” ujar Alex
Kamila
terkejut mendapati Alex berdiri di hadapannya “Maaf, aku gak tau” ujarnya
canggung
Alex
menyadari bahwa waktu kini telah kembali merubah keadaan diantara mereka “Apa
yang aku katakan waktu itu anggap saja tidak pernah ku katakan” ujar Alex,
kemudian ia hendak berlalu pergi meninggalkan Kamila
“Kamu tau ga? Meski ‘betul’ dan ‘benar’
sekilas terdengar memiliki makna yang sama. Namun keduanya akan menjadi sangat
berbeda ketika diberi imbuhan ke– dan –an” ucap Kamila menghentikan langkah
Alex
“Maksudmu?”
tanya Alex
Kamila
kemudian menarik nafasnya dalam-dalam “Kebetulan adalah hari dimana kita
bertemu dan kebenaran adalah tentang apa yang memisahkan kita. Kebenarannya
adalah aku tidak akan pernah bisa menghilangkan Allah dari hidupku, sama
seperti kamu yang tidak bisa meninggalkan Jesus dari hidupmu”
Alex
berdecak “Apakah menurutmu ini adil?”
“Lex,
aku gak tau apakah ini adil atau tidak. Tapi jika kamu bertanya ‘Apakah ini
baik?’ maka tentu ini adalah yang terbaik” Kamila kemudian mengambil sepasang
kalung yang bandulnya berbentuk hati yang dapat disatukan dan dipisahkan, ia
memberikan sepasang kalung itu pada Alex
“Kenapa
kamu tidak memberikanku satu kalung saja dan kamu dapat menyimpan sebelah
pasangannya lagi untukmu?”
Kamila
menggelengkan kepalanya “Aku tidak ingin kamu pergi dengan setengah hati” ujar
Kamila “Lagipula kita sama-sama tau jika masing-masing dari kita menyimpan
setengah hati ini maka sama saja kita menyimpan luka karena kita takkan bisa
membuatnya berpasangan lagi. Jadi aku berikan ini untukmu, agar suatu hari
nanti kamu dapat memberikan setengah hatimu kepada orang yang akan menjadi
pasanganmu”
Alex
mengambil kalung pemberian Kamila itu “Terima kasih. Berjanjilah padaku bahwa
kamu juga akan melakukan hal yang sama. Berjanjilah padaku untuk tidak
mengenang pertemuan kita ini sebagai sebuah luka” pinta Alex yang kemudian
dijawab dengan yakin oleh Kamila lewat sebuah anggukan. Alex pun kemudian
berlalu meninggalkan Kamila.
Inilah
akhir yang harus mereka berdua hadapi. Sejak pertama kali mengenal perasaan
cinta yang tumbuh di hati mereka masing-masing, mereka sebenarnya sudah tau
bahwa perpisahan lah yang akan menjadi akhir dari kisah cinta mereka itu
-The End-
…
Thanks for reading
Follow
me on twitter and ask.fm @atyampela
Oiya
kan tadi ada test psikologi yang soal burung biru tuh, kalau kalian mau tau
makna dari pilihan warna yang lainnya bisa langsung ask aku aja yaaa hihi
And
kalau mau request cerpen juga bisa, tinggal follow twitter aku terus mention
aku deh mau request tema cerpen tentang apa atau bisa juga melalui ask.fm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar