Sabtu, 17 Januari 2015

LOVE BETWEEN US PART 16 (Last Part)

Mala membuka lembar demi lembaran buku diarynya. Entah sejak kapan tanpa ia sadari setiap lembaran buku itu kini dipenuhi nama Adnan, entah sejak kapan Rio tak lagi menjadi sosok yang ia perbincangkan dengan diarynya itu. Jemarinya menyusuri setiap kata dalam tulisannya yang menggambarkan tentang Adnan. Mala tersenyum kecil ”Sejak kapan ya mata gue mulai hanya melihat lo Nan?” tanyanya pada dirinya sendiri
Mala mengambil penanya dan mulai menulis lagi di lembaran baru diarynya

Setiap orang punya cara tersendiri dalam mencintai
Seperti itu pula halnya dengan diriku
Aku memilih mencintaimu dalam diam
Menjagamu dalam keheningan
Dan menyanyangimu dalam kebisuan
Karena hanya di dalam kesunyian lah cinta ini akan terlihat semakin jelas
Entah pada akhirnya kamu akan menyadari rasa ini atau tidak
Tapi aku akan selalu bersamamu
Menemanimu dalam kesendirian

Mala menutup diarynya dan kembali menyimpannya ke dalam tasnya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan ”Luka sudah sewajarnya akan selalu mengiringi setiap perjalanan cinta. Maka yang bisa kulakukan hanyalah tetap tegar dalam menjalaninya” ujar Mala meyakinkan hatinya. Ia menoleh ke atas tempat tidur, dilihatnya dua sahabatnya sudah memasuki alam mimpi lebih dahulu. Ia kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah Nia
Nia menyadari kehadiran Mala, kemudian perlahan membuka matanya ”Kok lo belum tidur sih La?” tanyanya
”Ini baru mau tidur” jawab Mala
”La, lo gapapa kan?” tanya Nia hati-hati
Mala mengernyitkan dahinya ”Gapapa gimana apanya maksudnya?” tanyanya
Nia menghela nafas ”Setdah perasaan gue nanyanya simple kenapa lo nanya baliknya ribet gitu” ujarnya ”Itu loh La, soal Adnan... Lo baik-baik aja kan?” tanya Nia
Mala menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ”Everything’s okay kok Ya. Gue cuma ga mau berakhir tanpa kejelasan seperti yang dulu. Yah meskipun ga ada jaminan bakal berakhir indah seenggaknya ga berakhir tanpa kejelasan deh”
Nia tersenyum ”Yaudah sekarang istirahat aja. Have a nice dream” ujarnya sambil memeluk Mala
Mala membalas pelukan Nia ”You too” ujarnya sambil memejamkan matanya
...

Dering ponsel Nia berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Hal tersebut mau tak mau memaksanya untuk bangun dari tidurnya. Nia bangun dari kasurnya kemudian mengambil ponselnya dan mengangkat telepon itu di luar kamar agar tak membangunkan kedua sahabatnya yang masih terlelap itu
”Halooo?” sapa Nia yang masih setengah sadar
”Ya?” ujar Andika di ujung telepon
”Hmmmm” gumam Nia
”Ya ke rumah sakit Pelita Harapan dong sekarang”
”Hmmmm” gumamnya, namun sedetik kemudian Nia tersadar dan seketika panik ”Hah rumah sakit? Lo kenapa Dik? Kok baru ngabarin sekarang masuk Rumah Sakit? Dirawat ga? Kalo iya di kamar nomor berapa?” Nia memburu Andika dengan berbagai pertanyaan
”Bukan gue yang sakit tapi Adnan, panjang ceritanya. Udah buru kesini sekarang. Adnan di rawat di ruang Melati no 139. Dah yaa gue tunggu disini”
”Oke gue kesana sekarang” Nia menutup teleponnya kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya untuk membangunkan Adis dan Mala. Nia mengguncang-guncangkan tubuh kedua sahabatnya itu ”Dis, La ayoo bangun”
”Aduuh Ya kenapa sih?” tanya Adis yang masih mengantuk
”Kita ke rumah sakit sekarang” ujar Nia
Mendengar kata rumah sakit sontak Adis dan Mala seketika bangun ”Lo sakit apaan?!” tanya mereka
”Bukan gue tapi Adnan”
”Adnan?” tanya Mala tak percaya
Nia menganggukkan kepalanya ”Gue ga tau ceritanya gimana, barusan Dika telepon gue. Pokoknya kita harus kesana sekarang. Kalian mandi cepet abis itu kita langsung berangkat”
Mala dan Adis mengangguk kemudian mereka segera bergegas bersiap-siap. Dalam hati Mala terus memanjatkan doa agar Adnan senantiasa dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa
...

”Keadaan Adnan gimana?” tanya Nia pada Andika dan Kevin setibanya mereka di rumah sakit
”Udah baik-baik aja kok sekarang. Premannya juga udah ditahan di kantor polisi” ujar Kevin
Nia sontak shock mendengarnya ”Hah? Preman?”
Andika merangkul Nia kemudian menyuruhnya duduk ”Lo tenang dulu yaa. Jadi gini, kemarin Adnan pulang larut banget, kemudian di perjalanan dia dicegat dua orang preman gitu. Itu preman pengen ngerampas motornya Adnan yaudah deh Adnan jadi adu jotos sama tuh preman. Sebenernya preman itu udah kalah tapi sialnya salah satu dari mereka bawa pisau dan dia nusuk perut si Adnan. Syukurlah ada warga yang lewat dan langsung teriak ngebangunin warga lainnya. Sebagian dari mereka bawa Adnan kesini dan sebagiannya lagi ngegerebek tuh preman” tutur Andika
Nia, Adis dan Mala seketika lemas mendengarnya ”Di dalem Adnan sama siapa?” tanya Nia
”Sama nyokapnya. Bokapnya lagi ke kantor polisi” ujar Andika
Nia kemudian menoleh ke arah Mala ”La, lo tengokin Adnan duluan gih. Nanti gue sama Adis nyusul” ujarnya
Mala pun mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar tempat Adnan dirawat
”Permisi” ujarnya saat memasuki kamar itu
Siska –ibunda Adnan– pun menyambut Mala dengan hangat ”Temannya Adnan? Mari sini masuk” ujarnya
Mala kemudian mendekat menghampiri Siska dan mengecup punggung tangannya ”Nama saya Mala tante” ujar mala memperkenalkan dirinya
Siska tersenyum, kemudian ia bangun dari kursinya dan mempersilahkan Mala untuk duduk menggantikannya. ”Silahkan nak Mala. Kamu temani Adnan dulu yaa. Tante mau keluar sebentar untuk menelepon papanya Adnan. Marii tante tinggal dulu ya” ujar Siska sambil berlalu keluar meninggalkan Adnan dan Mala berdua
Mala kini hanya bisa memandangi sosok Adnan yang sedang terbaring tak berdaya di atas kasurnya ”Nan, cepet sembuh yaa” ujarnya. Perlahan air mata Mala menetes hingga ia pun menangis terisak. Namun tiba-tiba ada tangan yang menghapus air matanya. Sontak Mala terkejut, terlebih lagi tangan itu adalah tangan Adnan
Adnan tersenyum kecil ”Lo tuh kenapa selalu aja nangis sih La?” tanyanya, namun Mala tak menjawab dan hanya terus menangis
”Lo tau ga semalem gue mimpi aneh” ujar Adnan ”Gue mimpi gue lagi jalan sama Arin, akhirnya setelah sekian lama gue bisa menggenggam tangannya lagi. Arin ngajak gue ke suatu tempat yang indah banget. Tapi tiba-tiba gue ngeliat lo lagi duduk sambil nangis. Akhirnya gue ngajak Arin buat nemuin lo, tapi dia nolak, di nyuruh gue aja yang ngehampirin lo. Arin bilang ’Kamu beruntung mempunyai seorang gadis yang mencintai kamu dengan sungguh-sungguh, yang rela menangis demi kamu. Pergilah, genggamlah tangannya dan jangan kau lepas. Kamu sudah bukan milikku lagi, begitupun halnya dengan aku’ lalu kemudian Arin hilang bersamaan dengan rasa sakit yang luar biasa hebat di perut gue ini” tuturnya sambil mengusap lembut perutnya sixpacknya yang kini memiliki bekas jahitan
”Gue ga tau kapan belenggu ini akan benar-benar lepas. Tapi.....” Adnan menggantung kalimatnya ”Mungkin kalo lo bersedia menemani gue. Belenggu ini akan lebih cepat terlepas” tutur Adnan. ”Jadi, bersediakah lo menghabiskan waktu lo lebih banyak bersama gue?” tanya Adnan
Mala tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian Adnan pun menarik Mala dalam dekapannya.
...

Beberapa bulan kemudian...
Seluruh warga SMA Destrict sibuk hari ini. Mereka semua sedang mempersiapkan pesta perpisahan untuk para siswa/i kelas XII yang telah dinyatakan 100% lulus dalam Ujian Nasional. Begitu pula dengan Nia, Adis, Mala, Okta, Rani dan Ziah. Mereka sibuk mempersiapkan diri latihan untuk penampilan mereka nanti malam.
Nia bersama dengan Andika, Kevin dan Adnan yang tergabung dalam sebuah band bernama “The Crown” yang mereka dirikan bersama diminta sekolah untuk menyumbangkan suaranya menyanyi di acara nanti malam.
Sedangkan Mala, Adis, dan Ziah yang tergabung dalam ekskul saman pun akan menampilkan tarian mereka malam nanti, sementara itu Okta dan Rani yang ikut ekskul fotografi juga akan bekerja di belakang layar dan memotret setiap kebahagiaan yang akan terpancar dari para warga sekolah SMA Desrict malam nanti
”Duh ga sabar nanti malem deh” seru Mala saat mereka semua kumpul bersama di sela-sela jam istirahat yang panitia penyelenggara acara berikan
”Samaaaa. Gue juga La” seru Nia tak kalah antusias
”Ga sabar mau liat Rio?!” sindir Andika dan Adnan bersamaan
Nia dan Mala saling pandang kemudian tertawa terbahak-bahak ”Iyaa nih gasabar banget” goda Mala
”Bener tuh La, pasti dia tambah ganteng deh. Duh sedih deh gabisa liat dia lagi di sekolah” timpal Nia
 ”TERUS AJAA TERUS” sindir Adnan dan Andika dengan raut wajah bete klimaks.
Nia dan Mala tertawa puas melihat dua orang kesatria mereka sedang terbakar api cemburu. Nia kemudian merangkul Andika dan Mala merangkul Adnan
”Dear boys.....” ujar Nia
”We can’t change the past, but....” ujar Mala sambil melirik ke arah Nia
”We surely want to make a great future only with you” lanjut Nia dan Mala bersamaan sambil mengecup pipi pasangan mereka masing-masing
...

Malam yang dinantikan pun akhirnya tiba. Seluruh siswa/i SMA Destrict mengenakan busana yang mempesona. Para lelaki mengenakan setelan jas hitam dan para wanita mengenakan dress dengan beragam bentuk dan warna yang mana setiap warnanya memancarkan aura mereka masing-masing.
Diawali dengan penampilan saman dari Mala, Adis, dan Ziah bersama dengan rekan ekskul saman mereka kemudian sambutan dari kepala sekolah serta pemberian penghargaan untuk siswa berprestasi dan kini sampailah pada saatnya ”The Crown” akan tampil. Nia dan yang lainnya masih bersiap-siap di tenda belakang panggung
”Ya, 15 menit lagi kalian naik panggung yaa” seru panitia penyelenggara mengingatkan mereka
”Heyy udah mau tampil yaa? Mangat!” ujar Mala dan Adis yang baru saja tiba di tenda ”The Crown”
Adnan tertegun melihat Mala yang tadinya dalam balutan baju penari saman kini sudah berganti memakai dress selutut berwarna baby pink dengan rambut tergerai dan sedikit polesan riasan ”Cantik” pujinya pada Mala yang telah resmi menjadi kekasihnya itu. Sementara itu Mala hanya tersipu mendengarnya
Kemudian tirai terbuka dan seseorang masuk ke dalamnya. Nia mengira bahwa yang masuk itu adalah salah satu panitia ”Iyaa kita udah si...” ujarnya namun kalimatnya tertahan ”Rio?” desisnya
Rio tersenyum ”Boleh bicara sebentar sama lo? Sama Mala juga” pintanya
Nia dan Mala saling pandang, kemudian mereka mengalihkan pandangan mereka pada kekasih mereka masing-masing, Andika dan Adnan
”Gue sama Adis tunggu di luar yaa” ujar Kevin sambil menggandeng Adis pergi meninggalkan mereka berlima di dalamnya
Andika mengenakan jasnya, begitu pula dengan Adnan ”Kita tunggu di luar” pamit Andika.
Namun Nia mencegahnya ”Kalian tetap disini” ujar Nia sambil menggenggam tangan Andika.
Mala pun mengangguk menyetujui perkataan Nia. Sambil menggenggam tangan Adnan ia pun kini memberanikan diri menatap Rio –masa lalunya–
”Ada perlu apa Yo?” tanya Nia memulai pembicaraan
Rio tersenyum ”Cuma mau pamitan dan juga mau ngucapin terima kasih. Kita kenal dengan cara baik-baik dan gue mau kita berpisah juga dengan cara baik-baik. Maafin gue kalo sempet membuat kalian berdua meneteskan air mata. Maaf juga karena sudah memberikan kenangan pahit buat kalian” ujarnya ”Tapi gue gamau dikenang sebagai orang yang buruk. Gue ga mau pergi dengan kenangan pahit. Gue cuma mau bilang, maybe you are not the only one girl in my life, but i’m sure both of you are the best girls i’ve ever meet. Gue pamit sekarang” Rio pun mengulurkan tangannya
Nia menyambut uluran tangan Rio, begitupun Mala. ”You will always be our first love Yo. Success for your future” ujar Nia
Rio mengangguk, kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya dan memberikannya pada Nia ”Satu lagi, ini kartu nama kenalan gue, dia adalah anak dari pemilik label musik yang cukup ternama. Hari ini dia hadir disini buat ngeliat penampilan kalian secara live. Jadi tolong tunjukkin performance kalian semaksimal mungkin”
Nia tercengang mendengarnya ”Thanks Yo. Emm i mean Thanks Kak Rio” ujar Nia
Rio tersenyum ”Sama-sama” ujarnya sambil berlalu pergi
”RIO!” teriak Andika menghentikan langkah kaki Rio
”Kapan-kapan kita main futsal bareng ya” ujar Andika sambil tersenyum
”Yoi bang. Ajak team lo. Itung-itung mempererat tim futsal antar angkatan” timpal Adnan
Rio tersenyum ”Oke, tapi kita gamau ngalah sama adek kelas yaa” ujarnya sambil kemudian berlalu pergi
”Dia ternyata ga seburuk yang gue fikir” ujar Andika saat Rio sudah menghilang dari pandangan mereka
”Dia emang baik kok” ujar Nia
”Iyaa, dia emang baik” sahut Mala
Adnan dan Andika kemudian merangkul kekasih mereka masing-masing ”Gausah baper lagi gitu deeeh” sindir mereka sambil mengacak-acak rambut kekasih mereka
”Woyy waktunya kita tampil nih” tegur Kevin dari luar
”Siappp!!!!!!!!!” sahut mereka kompak kemudian keluar meninggalkan tenda mereka. Namun tiba-tiba Rani, Okta dan Ziah datang berlari menghampiri mereka
”Kalian kenapa?” tanya Adis
 Dengan nafas yang masih terengah-engah Okta memberikan kameranya pada salah seorang panitia yang ada disitu ”Tolong fotoin kita semua yaa” ujarnya. Kemudian ia pun menyuruh para sahabatnya untuk mengambil posisi
”Satu.... Dua.... Tiga!” cekrek!

...
TAMAT
Thanks for reading

Follow me on twitter and ask.fm @atyampela

Tidak ada komentar:

Posting Komentar