Mala
membuka lembar demi lembaran buku diarynya. Entah sejak kapan tanpa ia sadari
setiap lembaran buku itu kini dipenuhi nama Adnan, entah sejak kapan Rio tak
lagi menjadi sosok yang ia perbincangkan dengan diarynya itu. Jemarinya
menyusuri setiap kata dalam tulisannya yang menggambarkan tentang Adnan. Mala
tersenyum kecil ”Sejak kapan ya mata gue mulai hanya melihat lo Nan?” tanyanya
pada dirinya sendiri
Mala
mengambil penanya dan mulai menulis lagi di lembaran baru diarynya
Setiap orang punya cara tersendiri dalam mencintai
Seperti itu pula halnya dengan diriku
Aku memilih mencintaimu dalam diam
Menjagamu dalam keheningan
Dan menyanyangimu dalam kebisuan
Karena hanya di dalam kesunyian lah cinta ini akan
terlihat semakin jelas
Entah pada akhirnya kamu akan menyadari rasa ini atau
tidak
Tapi aku akan selalu bersamamu
Menemanimu dalam kesendirian
Mala
menutup diarynya dan kembali menyimpannya ke dalam tasnya. Ia menarik nafasnya
dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan ”Luka sudah sewajarnya akan selalu
mengiringi setiap perjalanan cinta. Maka yang bisa kulakukan hanyalah tetap
tegar dalam menjalaninya” ujar Mala meyakinkan hatinya. Ia menoleh ke atas
tempat tidur, dilihatnya dua sahabatnya sudah memasuki alam mimpi lebih dahulu.
Ia kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah Nia
Nia
menyadari kehadiran Mala, kemudian perlahan membuka matanya ”Kok lo belum tidur
sih La?” tanyanya
”Ini
baru mau tidur” jawab Mala
”La,
lo gapapa kan?” tanya Nia hati-hati
Mala
mengernyitkan dahinya ”Gapapa gimana apanya maksudnya?” tanyanya
Nia
menghela nafas ”Setdah perasaan gue nanyanya simple kenapa lo nanya baliknya
ribet gitu” ujarnya ”Itu loh La, soal Adnan... Lo baik-baik aja kan?” tanya Nia
Mala
menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ”Everything’s okay kok Ya. Gue cuma ga
mau berakhir tanpa kejelasan seperti yang dulu. Yah meskipun ga ada jaminan
bakal berakhir indah seenggaknya ga berakhir tanpa kejelasan deh”
Nia
tersenyum ”Yaudah sekarang istirahat aja. Have a nice dream” ujarnya sambil
memeluk Mala
Mala
membalas pelukan Nia ”You too” ujarnya sambil memejamkan matanya
...
Dering
ponsel Nia berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Hal tersebut mau tak mau
memaksanya untuk bangun dari tidurnya. Nia bangun dari kasurnya kemudian
mengambil ponselnya dan mengangkat telepon itu di luar kamar agar tak
membangunkan kedua sahabatnya yang masih terlelap itu
”Halooo?”
sapa Nia yang masih setengah sadar
”Ya?”
ujar Andika di ujung telepon
”Hmmmm”
gumam Nia
”Ya
ke rumah sakit Pelita Harapan dong sekarang”
”Hmmmm”
gumamnya, namun sedetik kemudian Nia tersadar dan seketika panik ”Hah rumah
sakit? Lo kenapa Dik? Kok baru ngabarin sekarang masuk Rumah Sakit? Dirawat ga?
Kalo iya di kamar nomor berapa?” Nia memburu Andika dengan berbagai pertanyaan
”Bukan
gue yang sakit tapi Adnan, panjang ceritanya. Udah buru kesini sekarang. Adnan
di rawat di ruang Melati no 139. Dah yaa gue tunggu disini”
”Oke
gue kesana sekarang” Nia menutup teleponnya kemudian kembali masuk ke dalam
kamarnya untuk membangunkan Adis dan Mala. Nia mengguncang-guncangkan tubuh
kedua sahabatnya itu ”Dis, La ayoo bangun”
”Aduuh
Ya kenapa sih?” tanya Adis yang masih mengantuk
”Kita
ke rumah sakit sekarang” ujar Nia
Mendengar
kata rumah sakit sontak Adis dan Mala seketika bangun ”Lo sakit apaan?!” tanya mereka
”Bukan
gue tapi Adnan”
”Adnan?”
tanya Mala tak percaya
Nia
menganggukkan kepalanya ”Gue ga tau ceritanya gimana, barusan Dika telepon gue.
Pokoknya kita harus kesana sekarang. Kalian mandi cepet abis itu kita langsung
berangkat”
Mala
dan Adis mengangguk kemudian mereka segera bergegas bersiap-siap. Dalam hati
Mala terus memanjatkan doa agar Adnan senantiasa dalam perlindungan Tuhan Yang
Maha Esa
...
”Keadaan
Adnan gimana?” tanya Nia pada Andika dan Kevin setibanya mereka di rumah sakit
”Udah
baik-baik aja kok sekarang. Premannya juga udah ditahan di kantor polisi” ujar
Kevin
Nia
sontak shock mendengarnya ”Hah? Preman?”
Andika
merangkul Nia kemudian menyuruhnya duduk ”Lo tenang dulu yaa. Jadi gini,
kemarin Adnan pulang larut banget, kemudian di perjalanan dia dicegat dua orang
preman gitu. Itu preman pengen ngerampas motornya Adnan yaudah deh Adnan jadi
adu jotos sama tuh preman. Sebenernya preman itu udah kalah tapi sialnya salah
satu dari mereka bawa pisau dan dia nusuk perut si Adnan. Syukurlah ada warga
yang lewat dan langsung teriak ngebangunin warga lainnya. Sebagian dari mereka
bawa Adnan kesini dan sebagiannya lagi ngegerebek tuh preman” tutur Andika
Nia,
Adis dan Mala seketika lemas mendengarnya ”Di dalem Adnan sama siapa?” tanya
Nia
”Sama
nyokapnya. Bokapnya lagi ke kantor polisi” ujar Andika
Nia
kemudian menoleh ke arah Mala ”La, lo tengokin Adnan duluan gih. Nanti gue sama
Adis nyusul” ujarnya
Mala
pun mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar tempat Adnan dirawat
”Permisi”
ujarnya saat memasuki kamar itu
Siska
–ibunda Adnan– pun menyambut Mala dengan hangat ”Temannya Adnan? Mari sini
masuk” ujarnya
Mala
kemudian mendekat menghampiri Siska dan mengecup punggung tangannya ”Nama saya
Mala tante” ujar mala memperkenalkan dirinya
Siska
tersenyum, kemudian ia bangun dari kursinya dan mempersilahkan Mala untuk duduk
menggantikannya. ”Silahkan nak Mala. Kamu temani Adnan dulu yaa. Tante mau
keluar sebentar untuk menelepon papanya Adnan. Marii tante tinggal dulu ya”
ujar Siska sambil berlalu keluar meninggalkan Adnan dan Mala berdua
Mala
kini hanya bisa memandangi sosok Adnan yang sedang terbaring tak berdaya di
atas kasurnya ”Nan, cepet sembuh yaa” ujarnya. Perlahan air mata Mala menetes
hingga ia pun menangis terisak. Namun tiba-tiba ada tangan yang menghapus air
matanya. Sontak Mala terkejut, terlebih lagi tangan itu adalah tangan Adnan
Adnan
tersenyum kecil ”Lo tuh kenapa selalu aja nangis sih La?” tanyanya, namun Mala
tak menjawab dan hanya terus menangis
”Lo
tau ga semalem gue mimpi aneh” ujar Adnan ”Gue mimpi gue lagi jalan sama Arin,
akhirnya setelah sekian lama gue bisa menggenggam tangannya lagi. Arin ngajak
gue ke suatu tempat yang indah banget. Tapi tiba-tiba gue ngeliat lo lagi duduk
sambil nangis. Akhirnya gue ngajak Arin buat nemuin lo, tapi dia nolak, di
nyuruh gue aja yang ngehampirin lo. Arin bilang ’Kamu beruntung mempunyai
seorang gadis yang mencintai kamu dengan sungguh-sungguh, yang rela menangis
demi kamu. Pergilah, genggamlah tangannya dan jangan kau lepas. Kamu sudah
bukan milikku lagi, begitupun halnya dengan aku’ lalu kemudian Arin hilang
bersamaan dengan rasa sakit yang luar biasa hebat di perut gue ini” tuturnya
sambil mengusap lembut perutnya sixpacknya yang kini memiliki bekas jahitan
”Gue
ga tau kapan belenggu ini akan benar-benar lepas. Tapi.....” Adnan menggantung
kalimatnya ”Mungkin kalo lo bersedia menemani gue. Belenggu ini akan lebih
cepat terlepas” tutur Adnan. ”Jadi, bersediakah lo menghabiskan waktu lo lebih
banyak bersama gue?” tanya Adnan
Mala
tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian Adnan pun menarik Mala dalam
dekapannya.
...
Beberapa bulan kemudian...
Seluruh
warga SMA
Destrict sibuk hari ini. Mereka semua sedang mempersiapkan pesta perpisahan
untuk para siswa/i kelas XII yang telah dinyatakan 100% lulus dalam Ujian
Nasional. Begitu pula dengan Nia, Adis, Mala, Okta, Rani dan Ziah. Mereka sibuk
mempersiapkan diri latihan untuk penampilan mereka nanti malam.
Nia bersama dengan
Andika, Kevin dan Adnan yang tergabung dalam sebuah band bernama “The Crown”
yang mereka dirikan bersama diminta sekolah untuk menyumbangkan suaranya
menyanyi di acara nanti malam.
Sedangkan Mala, Adis,
dan Ziah yang tergabung dalam ekskul saman pun akan menampilkan tarian mereka
malam nanti, sementara itu Okta dan Rani yang ikut ekskul fotografi juga akan
bekerja di belakang layar dan memotret setiap kebahagiaan yang akan terpancar
dari para warga sekolah SMA Desrict malam nanti
”Duh
ga sabar nanti malem deh” seru Mala saat mereka semua kumpul bersama di
sela-sela jam istirahat yang panitia penyelenggara acara berikan
”Samaaaa.
Gue juga La” seru Nia tak kalah antusias
”Ga
sabar mau liat Rio?!” sindir Andika dan Adnan bersamaan
Nia
dan Mala saling pandang kemudian tertawa terbahak-bahak ”Iyaa nih gasabar
banget” goda Mala
”Bener
tuh La, pasti dia tambah ganteng deh. Duh sedih deh gabisa liat dia lagi di
sekolah” timpal Nia
”TERUS AJAA TERUS” sindir Adnan dan Andika
dengan raut wajah bete klimaks.
Nia
dan Mala tertawa puas melihat dua orang kesatria mereka sedang terbakar api
cemburu. Nia kemudian merangkul Andika dan Mala merangkul Adnan
”Dear
boys.....” ujar Nia
”We
can’t change the past, but....” ujar Mala sambil melirik ke arah Nia
”We
surely want to make a great future only with you” lanjut Nia dan Mala bersamaan
sambil mengecup pipi pasangan mereka masing-masing
...
Malam
yang dinantikan pun akhirnya tiba. Seluruh siswa/i SMA Destrict mengenakan
busana yang mempesona. Para lelaki mengenakan setelan jas hitam dan para wanita
mengenakan dress dengan beragam bentuk dan warna yang mana setiap warnanya
memancarkan aura mereka masing-masing.
Diawali
dengan penampilan saman dari Mala, Adis, dan Ziah bersama dengan rekan ekskul
saman mereka kemudian sambutan dari kepala sekolah serta pemberian penghargaan
untuk siswa berprestasi dan kini sampailah pada saatnya ”The Crown” akan
tampil. Nia dan yang lainnya masih bersiap-siap di tenda belakang panggung
”Ya,
15 menit lagi kalian naik panggung yaa” seru panitia penyelenggara mengingatkan
mereka
”Heyy
udah mau tampil yaa? Mangat!” ujar Mala dan Adis yang baru saja tiba di tenda
”The Crown”
Adnan
tertegun melihat Mala yang tadinya dalam balutan baju penari saman kini sudah
berganti memakai dress selutut berwarna baby pink dengan rambut tergerai dan
sedikit polesan riasan ”Cantik” pujinya pada Mala yang telah resmi menjadi
kekasihnya itu. Sementara itu Mala hanya tersipu mendengarnya
Kemudian
tirai terbuka dan seseorang masuk ke dalamnya. Nia mengira bahwa yang masuk itu
adalah salah satu panitia ”Iyaa kita udah si...” ujarnya namun kalimatnya tertahan
”Rio?” desisnya
Rio
tersenyum ”Boleh bicara sebentar sama lo? Sama Mala juga” pintanya
Nia
dan Mala saling pandang, kemudian mereka mengalihkan pandangan mereka pada
kekasih mereka masing-masing, Andika dan Adnan
”Gue
sama Adis tunggu di luar yaa” ujar Kevin sambil menggandeng Adis pergi
meninggalkan mereka berlima di dalamnya
Andika
mengenakan jasnya, begitu pula dengan Adnan ”Kita tunggu di luar” pamit Andika.
Namun
Nia mencegahnya ”Kalian tetap disini” ujar Nia sambil menggenggam tangan
Andika.
Mala
pun mengangguk menyetujui perkataan Nia. Sambil menggenggam tangan Adnan ia pun
kini memberanikan diri menatap Rio –masa lalunya–
”Ada
perlu apa Yo?” tanya Nia memulai pembicaraan
Rio
tersenyum ”Cuma mau pamitan dan juga mau ngucapin terima kasih. Kita kenal
dengan cara baik-baik dan gue mau kita berpisah juga dengan cara baik-baik.
Maafin gue kalo sempet membuat kalian berdua meneteskan air mata. Maaf juga
karena sudah memberikan kenangan pahit buat kalian” ujarnya ”Tapi gue gamau
dikenang sebagai orang yang buruk. Gue ga mau pergi dengan kenangan pahit. Gue
cuma mau bilang, maybe you are not the only one girl in my life, but i’m sure
both of you are the best girls i’ve ever meet. Gue pamit sekarang” Rio pun
mengulurkan tangannya
Nia
menyambut uluran tangan Rio, begitupun Mala. ”You will always be our first love
Yo. Success for your future” ujar Nia
Rio
mengangguk, kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya dan
memberikannya pada Nia ”Satu lagi, ini kartu nama kenalan gue, dia adalah anak
dari pemilik label musik yang cukup ternama. Hari ini dia hadir disini buat
ngeliat penampilan kalian secara live. Jadi tolong tunjukkin performance kalian
semaksimal mungkin”
Nia
tercengang mendengarnya ”Thanks Yo. Emm i mean Thanks Kak Rio” ujar Nia
Rio
tersenyum ”Sama-sama” ujarnya sambil berlalu pergi
”RIO!”
teriak Andika menghentikan langkah kaki Rio
”Kapan-kapan
kita main futsal bareng ya” ujar Andika sambil tersenyum
”Yoi
bang. Ajak team lo. Itung-itung mempererat tim futsal antar angkatan” timpal
Adnan
Rio
tersenyum ”Oke, tapi kita gamau ngalah sama adek kelas yaa” ujarnya sambil
kemudian berlalu pergi
”Dia
ternyata ga seburuk yang gue fikir” ujar Andika saat Rio sudah menghilang dari
pandangan mereka
”Dia
emang baik kok” ujar Nia
”Iyaa,
dia emang baik” sahut Mala
Adnan
dan Andika kemudian merangkul kekasih mereka masing-masing ”Gausah baper lagi
gitu deeeh” sindir mereka sambil mengacak-acak rambut kekasih mereka
”Woyy
waktunya kita tampil nih” tegur Kevin dari luar
”Siappp!!!!!!!!!”
sahut mereka kompak kemudian keluar meninggalkan tenda mereka. Namun tiba-tiba
Rani, Okta dan Ziah datang berlari menghampiri mereka
”Kalian
kenapa?” tanya Adis
Dengan nafas yang masih terengah-engah Okta
memberikan kameranya pada salah seorang panitia yang ada disitu ”Tolong fotoin
kita semua yaa” ujarnya. Kemudian ia pun menyuruh para sahabatnya untuk
mengambil posisi
”Satu....
Dua.... Tiga!” cekrek!
...
TAMAT
Thanks for reading
Follow me on twitter and ask.fm
@atyampela
Tidak ada komentar:
Posting Komentar