TUGAS FILSAFAT
Arthur Schopenhauer
![]() |
NAMA :
ASTY KURNIATI
NIM : 201471057
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
2015
Arthur Schopenhauer lahir di Danzig (sekarang Gdańsk). Dia adalah putra
dari Heinrich Floris Schopenhauer
dan Johanna Schopenhauer. Kedua orang tuannya
adalah keturunan orang kaya Jerman
dan keluarga bangsawan. Keluarga Schopenhauer pindah ke Humburg ketika Kerajaan Prussia dikuasai Polish-Lithuanian Commonwealth
kota Danzig tahun 1793.[4] Tahun 1805, ayah
Schopenhauer bunuh diri. Setelah itu, ibu Schopenhauer, Johanna pindah ke
Weimar, yang kemudian menjadi pusat literatur Jerman, Kepergiannya ke sana
untuk melanjutkan karirnya sebagai penulis. Setahun kemudian, Schopenhauer
meninggalkan bisnis keluarganya yang ada di Humburg. Dia pergi ke Weimar dan tinggal dengan ibunya.
Schopenhauer kuliah di Universitas
Göttingen pada tahun 1809. Pada masa perkuliahannya, dia belajar
tentang metafisika dan psikologi di bawah bimbingan Gottlob Ernst Schulze, penulis buku Aenesidemus, yang mengajurkannya agar
berkonsentrasi pada Plato dan Immanuel Kant. Pada tahun
1811 sampai tahun 1812, dia mengikuti kuliah dari Johann
Gottlieb Fichte, seorang filsuf post-Kant terkemuka dan dari seorang teolog Friedrich
Schleiermacher.
Dalam perkembangan filsafat, Schopenhauer
dipengaruhi dengan kuat oleh Imanuel
Kant dan juga pandangan Buddha.
Pemikiran Kant nampak di dalam pandangan Schopenhauer tentang dunia sebagai ide
dan kehendak. Kant menyatakan bahwa pengetahuan manusia terbatas pada bidang
penampakan atau fenomena, sehingga benda-pada-dirinya-sendiri (das Ding an
sich) tidak pernah bisa diketahui manusia. Misalnya, apa yang manusia
ketahui tentang pohon bukanlah pohon itu sendiri, melainkan gagasan orang itu
tentang pohonSchopenhauer mengembangkan pemikiran Kant tersebut dengan
menyatakan bahwa benda-pada-dirinya-sendiri itu bisa diketahui, yakni
"kehendak". Schopenhauer sendiri
berpendapat bahwa keinginan manusia adalah sia-sia, tidak logika, tanpa
pengarahan dan dengan keberadaan, juga dengan seluruh tindakan manusia di
dunia. Schopenhauer berpendapat bahwa keinginan adalah sebuah keberadaan
metafisikal yang mengontrol tindak hanya tindakan-tindakan individual, agent,
tetapi khususnya seluruh fenomena yang bisa diamati Keinginan yang dimaksud
oleh Schopenhauer ini sama dengan yang disebut dengan Kant dengan istilah
sesuatu yang ada di dalamnya sendiri
Schopenhauer menjelaskan seseorang yang
hendak mengambil keputusan.
Menurut dia, ketika kita mengambil keputusan, kita akan diperhadapkan dengan
berbagai macam akibat. Oleh sebab itu, keputusan yang diambil memiliki alasan
atau dasar. Keputusan-keputusan ini menjadi tidak bebas lagi bagi si
pemilihnya. Pemilih itu harus diperhadapkan kepada beberapa akibat dalam sebuah
keputusan. Segala tindakan yang dilakukan seseorang merupakan kebutuhan dan
tanggung jawabnya. Segala kebutuhan dan tanggung jawab itu pun sudah dibawa
sejak lahir dan bersifat kekal Schopenhauer juga menegaskan jika tidak ada keinginan bebas,
haruskah kejahatan dihukum?
Pemikiran
Filosofis Arthur Schopenhauer
- Kehendak Metafisis
Sebagaimana disebutkan di atas, Schopenhauer secara
langsung terpengaruh oleh filsafat pengetahuan Kant. Kant membedakan dua dunia.
Yang pertama adalah dunia yang dikenal oleh kita, dunia “fenomenal”, yaitu
dunia objek-objek inderawi yang “dikonstruksikan” oleh subjek yang mengerti
melalui peralatan kognitifnya : persepsi indrawi (dengan bentuk-bentuk apriori
ruang dan waktu) dan rasio (Verstand, dengan 12 kategorinya). Dunia
kedua, yaitu dunia di belakang fenomen-fenomen itu, adalah Das Ding an Sich (realitas
pada dirinya sendiri), bidang noumenal (dari nous, akal budi
dalam bahasa Yunani) yang hanya kita ketahui bahwa ia ada, tetapi tidak kita
ketahui bagaimana ciri-cirinya. Jadi, yang dapat kita ketahui hanyalah bidang
fenomenal, sedangkan bidang noumenal tertutup bagi kita
2. Pesimisme
:
Kehendak untuk ada, kehendak untuk hidup
merupakan sebab dari semua perjuangan, kesedihan dan kejahatan dalam dunia.
Perjuangan untuk hidup akan menimbulkan kejelekan dunia dan kematian harus
mengalahkannya. Kehidupan adalah jahat sebab hal itu mementingkan diri dan
hina. Simpati, belas kasiha merupakan dasar dan patokan moralitas. Untuk
menjadi baik, tindakan harus didorong oleh simpati
Paham pesimisme menampilkan gambaran hidup
yang suram. Menurutnya, kenyataan itu pada dasarnya dan secara keseluruhannya
jahat, atau paling sedikit dikuasai yang jahat. Keadaan dunia, karena pada
dasarnya jahat dan dikuasai oleh yang jahat, makin hari menjadi makin buruk.
Tak ada usaha dan tindakan yang dapat memperbaikinya. Segala usaha tak ada
guna. Kekuatan yang jahat terlalu perkasa. Manusia bukan hanya lemah tetapi
juga jahat. Manusia karena itu tak dapat mampu dan tak dapat memperbaiki diri.
3.
Tawaran Solusi
Karena dunia ini penuh penderitaan.
Schopenhauer menawarkan solusi bagi individu-individu untuk dapat mengatasi
dunia dan penderitaannya dengan dua jalan. Pertama adalah seni. Orang
yang jenius, mampu unuk kontemplasi estetik. Tanpa pamrih, ia memandang karya
seni. Melalui kemampuan imajinasi pemandangan estetik itu membukanya terhadap idea-idea
abadi yang terjelma dalam karya seni. Di sini Schopenhauer kembali kepada
cita-cita filsafat Yunani tentang theoria, pemandangan idea-idea
dan realitas abadi yang oleh Aristoteles dan Plato dianggap kegiatan paling
luhur yang dapat dicapai manusia. Schopenhauer memang secara eksplisit mengacu
kepada Plato. Dapat ditambahkan bahwa puncak pengalaman stetik bagi
Schopenhauer adalah musik.
Namun, kontemplasi estetik melalui musik
memang hanya mungkin untuk sementara waktu saja. Jalan nyata keluar dari
penderitaan harus menghadapi tantangan keresahan itu secara langsung.
Inilah jalan kedua, yaitu dengan meminimalisir kehendak, bahkan menolak
terhadap kehendak untuk hidup.
Arthur Schopenhauer adalah filsuf
yang aktif menghasilkan karya. Adapun tulisan-tulisan itu adalah,
- 1813, Über die vierfache Wurzel des Satzes vom zureichenden Grunde (On the Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason)
- 1816, Über das Sehn und die Farben (On Vision and Colors)
- 1819 [1818], Die Welt als Wille und Vorstellung (The World as Will and Representation) [first edition, one volume]
- 1836, Über den Willen in der Natur (On the Will in Nature)
- 1839, “Über die Freiheit des menschlichen Willens” (“On Freedom of the Human Will”)
- 1840, “Über die Grundlage der Moral” (“On the Basis of Morality”)
- 1841 [1840], Die beiden Grundprobleme der Ethik (The Two Fundamental Problems of Ethics) [joint publication of the 1839 and 1840 essays in book form]
- 1844, Die Welt als Wille und Vorstellung (The World as Will and Representation) [second edition, two volumes]
- 1847, Über die vierfache Wurzel des Satzes vom zureichenden Grunde (On the Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason) [second edition, revised]
- 1851, Parerga und Paralipomena
- 1859, Die Welt als Wille und Vorstellung (The World as Will and Representation) [third edition, two volumes]
DAFTAR PUSTAKA
http://tsuwaibah.blog.walisongo.ac.id/2013/12/07/kehendak-metafisis-arthur-schopenhauer-2/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar