Senin, 13 April 2015

Tugas Filsafat Anisa (Arthur Schopenhauer)


TUGAS FILSAFAT
Arthur Schopenhauer



Logo_Univ_Esa_Unggul1-298x300.jpg
 









NAMA            : ANISATUL AZIZAH
NIM                : 201471026


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ESA UNGGUL



2015



Arthur Schopenhauer lahir pada 22 Februari 1788 di Danzig Polandia. Keluarga Schopenhauer sangat kental dengan tradisi Belanda. Ayahnya, Heinrich Floris Schopenhauer (1747 – 1805) adalah seorang pengusaha sukses yang mengontrol keluarganya dengan gaya bisnis. Nama Arthur Schopenhauer mencerminkan luasnya jaringan sang ayah dalam perdagangan internasional, sehingga ia memilihkan nama untuk anak pertamanya itu dengan kolaborasi kosa kata Jerman, Perancis, dan Inggris. Pada bulan Maret 1793, ketika Schpenhauer masih berusia 5 tahun, keluarga pindah ke Hamburg, setelah Danzig diduduki oleh Prussia.
Pada tahun 1809, Schopenhauer memulai studi di University of Gottingen di bidang Kedokteran, kemudian mengambil Filsafat. Di Gottingen, dia terpikat dengan pandangan seorang “skeptical philosopher”, Gottlob Ernst Schulze (1761 – 1833).
Lewat Schulze-lah Schopenhauer mengenal pemikiran Plato dan Immanuel Kant. Setelah melewati masa studi 2 tahun di Gottingen, Schopenhauer kemudian mendaftarkan diri di Universitu of Berlin. Di sana ia diajar oleh Johann Gottlieb Fichte (1762 – 1814), dan Friedrich Schleiermacher (1768-1834). Di dua universitas ini, Schopenhauer mempelajari banyak bidang keilmuan, antara lain: fisika, psikologi, astronomi, zoology, arkeologi, fisiologi, sejarah, sastra dan syair. Pada umur 25 tahun ia berhasil menyelesaikan disertasi dengan judul “The Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason”. Pada tahun 1813, ia memutuskan pindah ke Rudolstadt, dan pada tahun yang sama ia menyampaikan disertasinya di University of Jena, kemudian dianugerahi gelar doktor filsafat in absentia.
Pemikiran  Filosofis Arthur Schopenhauer
  1. Kehendak Metafisis
Sebagaimana disebutkan di atas, Schopenhauer secara langsung terpengaruh oleh filsafat pengetahuan Kant. Kant membedakan dua dunia. Yang pertama adalah dunia yang dikenal oleh kita, dunia “fenomenal”, yaitu dunia objek-objek inderawi yang “dikonstruksikan” oleh subjek yang mengerti melalui peralatan kognitifnya : persepsi indrawi (dengan bentuk-bentuk apriori ruang dan waktu) dan rasio (Verstand, dengan 12 kategorinya). Dunia kedua, yaitu dunia di belakang fenomen-fenomen itu, adalah Das Ding an Sich (realitas pada dirinya sendiri), bidang noumenal (dari nous, akal budi dalam bahasa Yunani) yang hanya kita ketahui bahwa ia ada, tetapi tidak kita ketahui bagaimana ciri-cirinya. Jadi, yang dapat kita ketahui hanyalah bidang fenomenal, sedangkan bidang noumenal tertutup bagi kita.
2.      Pesimisme :
Kehendak untuk ada, kehendak untuk hidup merupakan sebab dari semua perjuangan, kesedihan dan kejahatan dalam dunia. Perjuangan untuk hidup akan menimbulkan kejelekan dunia dan kematian harus mengalahkannya. Kehidupan adalah jahat sebab hal itu mementingkan diri dan hina. Simpati, belas kasiha merupakan dasar dan patokan moralitas. Untuk menjadi baik, tindakan harus didorong oleh simpati.
Paham pesimisme menampilkan gambaran hidup yang suram. Menurutnya, kenyataan itu pada dasarnya dan secara keseluruhannya jahat, atau paling sedikit dikuasai yang jahat. Keadaan dunia, karena pada dasarnya jahat dan dikuasai oleh yang jahat, makin hari menjadi makin buruk. Tak ada usaha dan tindakan yang dapat memperbaikinya. Segala usaha tak ada guna. Kekuatan yang jahat terlalu perkasa. Manusia bukan hanya lemah tetapi juga jahat. Manusia karena itu tak dapat mampu dan tak dapat memperbaiki diri.
3.      Tawaran Solusi
Karena dunia ini penuh penderitaan, Schopenhauer menawarkan solusi bagi individu-individu untuk dapat mengatasi dunia dan penderitaannya dengan dua jalan. Pertama adalah seni. Orang yang jenius, mampu unuk kontemplasi estetik. Tanpa pamrih, ia memandang karya seni. Melalui kemampuan imajinasi pemandangan estetik itu membukanya terhadap idea-idea abadi yang terjelma dalam karya seni. Di sini Schopenhauer kembali kepada cita-cita filsafat Yunani tentang theoria, pemandangan idea-idea dan realitas abadi yang oleh Aristoteles dan Plato dianggap kegiatan paling luhur yang dapat dicapai manusia. Schopenhauer memang secara eksplisit mengacu kepada Plato. Dapat ditambahkan bahwa puncak pengalaman stetik bagi Schopenhauer adalah musik.
Namun, kontemplasi estetik melalui musik memang hanya mungkin untuk sementara waktu saja. Jalan nyata keluar dari penderitaan harus menghadapi tantangan keresahan itu  secara langsung. Inilah jalan kedua, yaitu dengan meminimalisir kehendak, bahkan menolak terhadap kehendak untuk hidup.
Arthur Schopenhauer adalah filsuf yang aktif menghasilkan karya. Adapun tulisan-tulisan itu diantarnya:
1. 1813, Über die vierfache Wurzel des Satzes vom zureichenden Grunde (On the Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason)
2. 1816, Über das Sehn und die Farben (On Vision and Colors)
3. 1819 [1818], Die Welt als Wille und Vorstellung (The World as Will and Representation
4. 1836, Über den Willen in der Natur (On the Will in Nature)
5. 1839, “Über die Freiheit des menschlichen Willens” (“On Freedom of the Human Will”)

Bagi Schopenhauer, manusia mendapatkan ide tentang pembedaan (diferensiasi) jika dilingkupi oleh penerimaan akan konsep ruang dan waktu. Sementara Kant menunjukkan bahwa ruang dan waktu merupakan bentuk-bentuk sensibilitas manusia. Jadi, konsep ruang dan waktu tidak akan bisa ada dalam sebuah realitas tanpa subjek karena dalam realitas itu, semua yang-eksis, eksis dalam-dirinya-sendiri (Das Ding an sich) yang bersifat independen dari pengalaman. Oleh karena itu, diferensiasi hanya bisa dilakukan dalam dunia pengalaman dan tidak bisa dilakukan dalam dunia realitas noumena. Karena itu pula, tak mungkin ada benda-benda (jamak) dalam-dirinya- sendiri yang berbeda-beda dan eksis secara indenpenden dari subjek yang mengalaminya.
Schopenhauer memandang bahwa dalam realitas total terdapat realitas yang bersifat immaterial, tak terdiferensiasi, tak berwaktu, dan tak beruang, yang terhadapnya manusia tidak akan pernah bisa memiliki pengetahuan yang bersifat langsung, dan realitas itu memanifestasikan dirinya pada manusia dalam bentuk dunia fenomenal dari objek-objek materiil (termasuk manusia sendiri) yang terdiferensiasi dalam ruang dan waktu. Kesimpulan ini sama persis dengan arus utama agama Hindu dan Budha.

Atas pemikirannya ini, Schopenhauer diduga terpengaruh dengan tradisi Budha. Namun, jika melihat latar belakangnya sebagai seseorang yang bukan religius, tidak mempercayai kehidupan setelah mati, bahkan tidak mempercayai Tuhan atau ruh, maka pendapat yang benar adalah, Schopenhauer menemukan kesimpulan tersebut melalui argumentasi rasional dalam kerangka tradisi utama filsafat Barat. Baru setelah ia mengetahui bahwa para pemikir Hindu dan Budha telah mencapai kesimpulan yang sama dengan Kant dan dirinya sendiri, ia kemudian mempelajari karya-karya pemikir Hindu dan Budha dengan antusias dan ketertarikkan yang luar biasa.

DAFTAR PUSTAKA
http://tsuwaibah.blog.walisongo.ac.id/2013/12/07/kehendak-metafisis-arthur-schopenhauer-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar