TUGAS FILSAFAT
Arthur
Schopenhauer
![]() |
NAMA : ANISATUL AZIZAH
NIM :
201471026
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
2015
Arthur
Schopenhauer lahir pada 22 Februari 1788 di Danzig Polandia. Keluarga
Schopenhauer sangat kental dengan tradisi Belanda. Ayahnya, Heinrich Floris
Schopenhauer (1747 – 1805) adalah seorang pengusaha sukses yang mengontrol keluarganya
dengan gaya bisnis. Nama Arthur Schopenhauer mencerminkan luasnya jaringan sang
ayah dalam perdagangan internasional, sehingga ia memilihkan nama untuk anak
pertamanya itu dengan kolaborasi kosa kata Jerman, Perancis, dan Inggris. Pada
bulan Maret 1793, ketika Schpenhauer masih berusia 5 tahun, keluarga pindah ke
Hamburg, setelah Danzig diduduki oleh Prussia.
Pada tahun 1809, Schopenhauer memulai studi di University of Gottingen di bidang Kedokteran, kemudian mengambil Filsafat. Di Gottingen, dia terpikat dengan pandangan seorang “skeptical philosopher”, Gottlob Ernst Schulze (1761 – 1833).
Pada tahun 1809, Schopenhauer memulai studi di University of Gottingen di bidang Kedokteran, kemudian mengambil Filsafat. Di Gottingen, dia terpikat dengan pandangan seorang “skeptical philosopher”, Gottlob Ernst Schulze (1761 – 1833).
Lewat
Schulze-lah Schopenhauer mengenal pemikiran Plato dan Immanuel Kant. Setelah
melewati masa studi 2 tahun di Gottingen, Schopenhauer kemudian mendaftarkan
diri di Universitu of Berlin. Di sana ia diajar oleh Johann Gottlieb Fichte
(1762 – 1814), dan Friedrich Schleiermacher (1768-1834). Di dua universitas
ini, Schopenhauer mempelajari banyak bidang keilmuan, antara lain: fisika,
psikologi, astronomi, zoology, arkeologi, fisiologi, sejarah, sastra dan syair.
Pada umur 25 tahun ia berhasil menyelesaikan disertasi dengan judul “The
Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason”. Pada tahun 1813, ia
memutuskan pindah ke Rudolstadt, dan pada tahun yang sama ia menyampaikan
disertasinya di University of Jena, kemudian dianugerahi gelar doktor filsafat
in absentia.
Pemikiran Filosofis Arthur Schopenhauer
- Kehendak Metafisis
Sebagaimana
disebutkan di atas, Schopenhauer secara langsung terpengaruh oleh filsafat
pengetahuan Kant. Kant membedakan dua dunia. Yang pertama adalah dunia yang
dikenal oleh kita, dunia “fenomenal”, yaitu dunia objek-objek inderawi yang
“dikonstruksikan” oleh subjek yang mengerti melalui peralatan kognitifnya :
persepsi indrawi (dengan bentuk-bentuk apriori ruang dan waktu) dan rasio (Verstand,
dengan 12 kategorinya). Dunia kedua, yaitu dunia di belakang fenomen-fenomen
itu, adalah Das Ding an Sich (realitas pada dirinya sendiri), bidang noumenal
(dari nous, akal budi dalam bahasa Yunani) yang hanya kita ketahui
bahwa ia ada, tetapi tidak kita ketahui bagaimana ciri-cirinya. Jadi, yang
dapat kita ketahui hanyalah bidang fenomenal, sedangkan bidang noumenal
tertutup bagi kita.
2.
Pesimisme
:
Kehendak
untuk ada, kehendak untuk hidup merupakan sebab dari semua perjuangan,
kesedihan dan kejahatan dalam dunia. Perjuangan untuk hidup akan menimbulkan
kejelekan dunia dan kematian harus mengalahkannya. Kehidupan adalah jahat sebab
hal itu mementingkan diri dan hina. Simpati, belas kasiha merupakan dasar dan
patokan moralitas. Untuk menjadi baik, tindakan harus didorong oleh simpati.
Paham pesimisme
menampilkan gambaran hidup yang suram. Menurutnya, kenyataan itu pada dasarnya
dan secara keseluruhannya jahat, atau paling sedikit dikuasai yang jahat.
Keadaan dunia, karena pada dasarnya jahat dan dikuasai oleh yang jahat, makin
hari menjadi makin buruk. Tak ada usaha dan tindakan yang dapat memperbaikinya.
Segala usaha tak ada guna. Kekuatan yang jahat terlalu perkasa. Manusia bukan
hanya lemah tetapi juga jahat. Manusia karena itu tak dapat mampu dan tak dapat
memperbaiki diri.
3.
Tawaran
Solusi
Karena
dunia ini penuh penderitaan, Schopenhauer menawarkan solusi bagi
individu-individu untuk dapat mengatasi dunia dan penderitaannya dengan dua
jalan. Pertama adalah seni. Orang yang jenius, mampu unuk kontemplasi
estetik. Tanpa pamrih, ia memandang karya seni. Melalui kemampuan imajinasi
pemandangan estetik itu membukanya terhadap idea-idea abadi yang
terjelma dalam karya seni. Di sini Schopenhauer kembali kepada cita-cita
filsafat Yunani tentang theoria, pemandangan idea-idea dan
realitas abadi yang oleh Aristoteles dan Plato dianggap kegiatan paling luhur
yang dapat dicapai manusia. Schopenhauer memang secara eksplisit mengacu kepada
Plato. Dapat ditambahkan bahwa puncak pengalaman stetik bagi Schopenhauer
adalah musik.
Namun,
kontemplasi estetik melalui musik memang hanya mungkin untuk sementara waktu
saja. Jalan nyata keluar dari penderitaan harus menghadapi tantangan keresahan
itu secara langsung. Inilah jalan kedua, yaitu dengan meminimalisir
kehendak, bahkan menolak terhadap kehendak untuk hidup.
Arthur
Schopenhauer adalah filsuf yang aktif menghasilkan karya. Adapun
tulisan-tulisan itu diantarnya:
1. 1813, Über die vierfache Wurzel des Satzes vom zureichenden Grunde (On the Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason)
2. 1816, Über das Sehn und die Farben (On Vision and Colors)
3. 1819 [1818], Die Welt als Wille und Vorstellung (The World as Will and Representation
4. 1836, Über den Willen in der Natur (On the Will in Nature)
5. 1839, “Über die Freiheit des menschlichen Willens” (“On Freedom of the Human Will”)
1. 1813, Über die vierfache Wurzel des Satzes vom zureichenden Grunde (On the Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason)
2. 1816, Über das Sehn und die Farben (On Vision and Colors)
3. 1819 [1818], Die Welt als Wille und Vorstellung (The World as Will and Representation
4. 1836, Über den Willen in der Natur (On the Will in Nature)
5. 1839, “Über die Freiheit des menschlichen Willens” (“On Freedom of the Human Will”)
Bagi
Schopenhauer, manusia mendapatkan ide tentang pembedaan (diferensiasi) jika
dilingkupi oleh penerimaan akan konsep ruang dan waktu. Sementara Kant
menunjukkan bahwa ruang dan waktu merupakan bentuk-bentuk sensibilitas manusia.
Jadi, konsep ruang dan waktu tidak akan bisa ada dalam sebuah realitas tanpa
subjek karena dalam realitas itu, semua yang-eksis, eksis dalam-dirinya-sendiri
(Das Ding an sich) yang bersifat independen dari pengalaman. Oleh karena itu,
diferensiasi hanya bisa dilakukan dalam dunia pengalaman dan tidak bisa
dilakukan dalam dunia realitas noumena. Karena itu pula, tak mungkin ada
benda-benda (jamak) dalam-dirinya- sendiri yang berbeda-beda dan eksis secara
indenpenden dari subjek yang mengalaminya.
Schopenhauer memandang bahwa dalam realitas total terdapat realitas yang bersifat immaterial, tak terdiferensiasi, tak berwaktu, dan tak beruang, yang terhadapnya manusia tidak akan pernah bisa memiliki pengetahuan yang bersifat langsung, dan realitas itu memanifestasikan dirinya pada manusia dalam bentuk dunia fenomenal dari objek-objek materiil (termasuk manusia sendiri) yang terdiferensiasi dalam ruang dan waktu. Kesimpulan ini sama persis dengan arus utama agama Hindu dan Budha.
Schopenhauer memandang bahwa dalam realitas total terdapat realitas yang bersifat immaterial, tak terdiferensiasi, tak berwaktu, dan tak beruang, yang terhadapnya manusia tidak akan pernah bisa memiliki pengetahuan yang bersifat langsung, dan realitas itu memanifestasikan dirinya pada manusia dalam bentuk dunia fenomenal dari objek-objek materiil (termasuk manusia sendiri) yang terdiferensiasi dalam ruang dan waktu. Kesimpulan ini sama persis dengan arus utama agama Hindu dan Budha.
Atas
pemikirannya ini, Schopenhauer diduga terpengaruh dengan tradisi Budha. Namun,
jika melihat latar belakangnya sebagai seseorang yang bukan religius, tidak
mempercayai kehidupan setelah mati, bahkan tidak mempercayai Tuhan atau ruh,
maka pendapat yang benar adalah, Schopenhauer menemukan kesimpulan tersebut
melalui argumentasi rasional dalam kerangka tradisi utama filsafat Barat. Baru
setelah ia mengetahui bahwa para pemikir Hindu dan Budha telah mencapai
kesimpulan yang sama dengan Kant dan dirinya sendiri, ia kemudian mempelajari
karya-karya pemikir Hindu dan Budha dengan antusias dan ketertarikkan yang luar
biasa.
DAFTAR PUSTAKA
http://tsuwaibah.blog.walisongo.ac.id/2013/12/07/kehendak-metafisis-arthur-schopenhauer-2/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar