Minggu, 03 Mei 2015

To Standing Without You (cerbung) part 5

Nethali duduk di dalam bus sambil mendengarkan musik dari ponselnya. Dari balik jendela di sebelahnya ia dapat melihat dengan jelas hiruk pikuk jalan raya pagi hari ini. ia merutuk dalam hatinya, mengutuk kegiatan ekstrakurikuler yang padahal ia pilih sendiri atas keinginannya. ”Padahal harusnya gue santai-santai di rumah nih” rutuknya dalam hati
Brukk! Tiba-tiba terdengar suara tumpukkan kertas terjatuh, asal suara itu ternyata dari orang yang baru saja hendak duduk di sebelahnya. Nethali dengan segera membantu orang tersebut mengumpulkan lembaran kertasnya yang berserakan di bawah. ”Nih kertasnya, hati-ha......” kalimatnya menggantung, Nethali langsung mencibirkan bibirnya begitu melihat wajah si pemilik kertas-kertas itu. Ia meletakkan kertas yang dipungutnya di kursi, kemudian ia berbalik kembali menghadap jendela ”Kalo tau die mah ga bakal gue tolongin dah” omelnya dalam hati. Meski baru satu kali pertemuan dan bahkan pertemuan itu pun tidak memberikan kesan yang baik, Nethali hafal betul rupa wajah orang tersebut. Ya, orang itu adalah lelaki menyebalkan yang tak sengaja bertemu dengannya di bus satu tahun yang lalu
Orang tersebut kemudian duduk di sebelah Nethali ”Makasih ya Mbak” ujarnya
”Mbak? Kapan gue nikah sama Mas lo?” jawab Nethali ketus tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya
”Siapa yang ngomong sama lo? Orang gue ngomong sama mbak-mbak yang duduk di depan gue” ujarnya
Nethali menggigit bibir bawahnya geram ”Tuh kan sebul mulu gue kalo ketemu ini cowok” desisnya
Lelaki itu tertawa kecil ”Kalau di pikir-pikir dulu kayaknya pernah ada kejadian kayak gini juga deh ya, makanya jangan terlalu kepedean non”
Nethali menoleh ke arah cowok itu ”Heh! Lo nya aja yang kalo ngomong ga jelas” ujarnya
”Kayaknya tadi gue ngomongnya jelas banget deh ’Makasih ya mbak’ lah situ ngerasa mbak-mbak?”
Nethali mendengus kesal, ia akhirnya memilih bungkam daripada harus adu argumen sama lelaki bermulut pedas ini. toh sebentar lagi ia juga akan tiba di sekolahnya dan makhluk di sebelahnya ini pun akan lenyap dari pandangannya
Namun sepertinya ia salah mengira, laki-laki itu ternyata ikut turun di tempat yang sama dengannya. Bahkan ia pun juga mengikuti Nethali sampai ke gerbang sekolah
”Ngapain sih ngikutin gue?” tanya Nethali
Sang lelaki yang ditanya justru malah celingukan ke kanan dan ke kiri layaknya mencari sesuatu ”Mana yang ngikutin lo? Mana ga ada tuh?”
Nethali berdecak ”Ya elo lah yang ngikutin gue, siapa lagi!”
”Woii sob, petan masuk” seru seseorang dari belakang Nethali yang langsung disambut dengan anggukan kepala dari lelaki yang sedang berdiri di hadapan Nethali
Nethali menoleh ke belakang, kemudian menoleh lagi ke arah lelaki yang tadi dituduhnya itu lalu ia menggigit bibir bawahnya ”Ahshit gue salah lagi, dia ternyata mau ketemu temennya bukan ngikutin gue” desisnya dalam hati
Lelaki itu berjalan melalui Nethali, namun ia sempat berhenti sejenak ”Maaf ya kalau merasa ’diikuti’” ujarnya setengah tersenyum meledek kemudian berlalu pergi
Nethali mencibir sambil memukul-mukul kepalanya sendiri ”Bodoh, bodoh” rutuknya. Ia pun kemudian berlalu menuju ruang kelas ekstrakurikulernya
Sesampainya di kelas, Nethali langsung menghempaskan tubuhnya di atas bangku ”Net, kenapa lu?” tanya Rizka –teman di sebelahnya–
”Bete!” jawab Nethali singkat. ”Ini senior belum pada dateng? Katanya mau ngomongin soal acara penggalangan dana?” tanya Nethali
”Udah dateng kok, itu lagi ngobrol sama tamu yang mau ikut ngebantuin acara ini, mahasiswa loh Net, ganteng pulaa” seru Rizka antusias
Tak lama yang dibicarakan pun datang ”Maaf yaa nunggunya lama” sapa senior mereka. ”Okee gini kita langsung to the point aja yaa, sekolah kita kan mau ngadain acara penggalangan dana untuk membantu sekolah lainnya yang membutuhkan. Dan dari setiap organisasi atau kegiatan ekstrakurikuler di sekolah kita ini diminta untuk turut serta dalam membantu merealisasikan kegiatan itu. Nah, berhubung kita adalah sekelompok orang yang mencintai seni yang tergabung dalam ekskul Lovartistic jadi gue berfikiran untuk menggalang dana melalui karya” tutur sang senior ”Okee untuk lebih jelasnya gue ngundang temen gue yang kebetulan anak design. Nah dia yang bakal jelasin ke kalian konsepnya tuh seperti apa. Ndri, come in” seru senior itu ke luar pintu memanggil temannya
Alangkah terkejutnya Nethali saat melihat seorang teman yang dipanggil seniornya itu ternyata adalah orang yang sama yang sudah membuat paginya menjadi menjengkelkan ini ”Dia lagi?” seru Nethali dalam hati
Setelah menundukkan kepalanya sejenak seraya memberi salam, laki-laki itu pun mengambil alih pembicaraan di depan ”Well, hello guys” sapanya ”Nama gue Andri, kalian boleh panggil gue kak Andri atau Andri aja juga boleh bebas terserah. Gue dari jurusan design di Universitas Widura” ujarnya memperkenalkan diri. Dan yak, wajah Andri yang tampan pun dengan seketika mampu menghipnotis kelas untuk fokus kepadanya, terutama para gadis-gadis di ruangan itu (kecuali Nethali). Ia memilih melihat ke arah lapangan dari balik jendela kelasnya, daripada melihat ke arah Andri
”Langsung aja nih yaa, kebetulan senior kalian yaitu Fachri minta bantuan ke gue buat nyari ide untuk acara amal sekolah kalian kan? Nah kalo menurut gue sih, ide yang terbaik itu ada pada diri kalian semua” Andri kemudian menyuruh Fachri membagikan kertas yang tadi dibawanya kepada seluruh siswa/i yang ada di ruangan itu ”Sekarang kalian tuangin imajinasi kalian di kertas itu. Apa aja bebas. Mau gambar grafitti, mau gambar gelang/kalung juga boleh tapi plus kalian jelasin materialnya apa aja, atau mau lukis muka gue juga boleh” ujar Andri sambil mengerlingkan sebelah matanya yang sukses membuat para gadis meleleh (kecuali Nethali (lagi)). ”Gue kasih waktu 30 menit, dimulai dari... sekarang!”
Saat aba-aba diberikan para siswa/i itu pun langsung berkutat serius dengan kertas dan alat tulis mereka masing-masing. Kali ini Nethali juga ikut serius berkutat dengan pencil dan kertasnya. Terlepas dari siapa yang sedang berbicara di depan kelas sekarang, ini adalah acara sekolahnya dan sebagai warga sekolah ini ia berhak untuk memberikan suaranya



Hari kepergian Natasha......
Semuanya telah berkumpul di bandara. Andre, Rendi, Nethali, dan Ibu Natasha serta Ibunda Andre sedang mengantar kepergian Natasha ke Amerika
”Kamu jaga diri ya nak, belajar yang baik. Hati-hati sama pergaulan disana, jangan lupa makan yang teratur. Kalo bisa cepet pulang ya” kecupan hangat mendarat di dahi Natasha dari bibir ibu tercintanya
”Iyaa bu. Ibu juga jaga diri ya disini, kalo Nethali manja atau nakal marahin aja bu” ujar Natasha sambil memeluk ibunya beberapa saat, kini ganti Natasha mendekati Nethali ”Jaga ibu ya Net. Belajar mandiri kamu udah dewasa” pesannya
”Kakak tenang aja pokoknya kakak belajar yang pinter deh. Jangan lupa nanti bawa oleh-oleh hehe” goda Nethali disambut jitakan kecil dari sang kaka yang kemudian berganti jadi peluk haru ”Aku pasti kangen banget sama kakak” bulir air mata perlahan meluncur dari pipi Nethali kemudian ia melepaskan pelukannya
Kemudian Natasha berjalan menghampiri Ibunda Andre ”Ma, aku pamit sebentar ya. Aku minta do’anya ya Ma” Natasha mencium tangan Ibunda Andre yang disambut pelukan hangat
”Mama disini akan selalu do’ain kamu kok sayang. Karena bagi Mama, kamu udah seperti anak Mama sendiri. Jaga diri kamu yaa Nat”
Natasha tersenyum singkat, kemudian mengalihkan pandangannya. Kali ini matanya tertuju pada Andre. Natasha berjalan mendekati Andre
”Aku pergi dulu ya Ndre” Natasha mengecup punggung tangan Andre, Andre membalas mengusap lembut puncak kepala Natasha
”Jaga diri ya Nat. Jangan nakal. Kamu tau aku selalu sayang kamu” dan satu kecupan manis mendarat di dahi Natasha
Natasha tak mampu berkata-kata lagi. Ia hanya mengangguk dan tersenyum sambil memeluk erat tubuh tinggi tegap kekasihnya itu, ingin sekali rasanya ia terus berada di dalam dekap hangat tubuh Andre, namun apa daya ia pun juga ingin meraih masa depan yang gemilang. Perlahan ia melelpaskan diri dari pelukannya kemudian berlalu meninggalkan mereka semua menuju pesawatnya


Nethali dan Andri saling melempar tatapan sinis satu sama lain. Siapa sangka ia akan bertemu lagi dengan lelaki bermulut pedas ini, terlebih lagi ternyata lelaki ini adalah adik kandung dari kekasih kakaknya. Ya. Setelah mengantar kepergian Natasha di bandara tadi, ibunya mengajak Andre, Mamanya, dan Rendi untuk mampir ke rumah dan makan siang bersama. Namun ternyata Andre dan Rendi memiliki urusan lain sehingga Andre akhirnya menelepon adiknya untuk menggantikan dirinya menemani mamanya. Dan siapa sangka adik Andre itu ternyata lelaki ini. ”Bisa yaa gitu kakak-adek kepribadiannya beda jauh” cibir Nethali dalam hati
”Apa lo liat-liat?” tegur Andri
Nethali membelalakkan bola matanya kemudian memutarnya dengan cepat ”Ke-PD-an ewwhh” desisnya
”Lo beneran adiknya Natasha nih? Ga ketuker lo waktu di rumah sakit?” ledek Andri namun dengan tampang serius
”Heh!” bentak Nethali ”Gue masih sopan sama lo karena mandang nyokap lo yaa disini. Lo sendiri yakin tuh adik kandungnya Kak Andre? Kelakuannya aja beda jauh. Bagai langit sama bumi tau ga lo” hardik Nethali dengan nada setengah berbisik karena takut terdengar oleh ibunya dan juga Mamanya Andre di dalam
”Uuuuu tatuutt” ledek Andri lagi ”Udah deh anak kucing mah mengeong imut aja, gausah sok mengaum kayak singa. Yang manis dong nanti gue elus deh sini pusss siniiii” goda Andri lagi
Nethali yang emosinya sudah meletup-letup itu pun akhirnya memilih pergi daripada harus bersitegang dengan lelaki ini. ah tidak, bukan lelaki tapi lebih tepatnya ibu tiri! Ya benar ibu tiri, tegas Nethali dalam hati. ”Bu aku ke supermarket bentar yaa, mau ngadem bu PANASSS!!!” pamit Nethali kemudian berlalu pergi meninggalkan Andri yang sedang menahan tawanya karena telah berhasil menggoda Nethali
Andri menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil, kemudian ia menyusul kepergian Nethali ”Aku keluar jalan-jalan bentar Ma” pamitnya. Kemudian ia mengikuti arah Nethali pergi dan membututinya dalam jarak yang tidak diketahui Nethali sehingga Andri dapat mendengar makian serta melihat dengan jelas tingkah konyol Nethali sepanjang jalan karena kesal padanya itu
Namun tiba-tiba langkah kaki Andri terhenti saat langkah kaki Nethali juga terhenti karena ia dicegat oleh segerombolan cewek ”Ngapain lo pada ngalangin jalan?” tegur Nethali pada gerombolan cewek yang mengepungnya itu
Salah satu cewek yang sepertinya pimpinan mereka itu pun selangkah maju mendekat pada Nethali ”Heh cewek lenjeh, lo ga usah sok cantik deh ya! Ga usah kegatelan sama Rico!” bentak cewek itu
Nethali tersentak sejenak. Andri memperhatikan dari tempatnya berdiri yang tak jauh dari tempat Nethali berdiri ”Wah si singa kicep nih kayaknya” batinnya. Namun sedetik kemudian ternyata dugaan Andri salah. Nethali justru malah tertawa terbahak-bahak
”Apa-apa? Cewek lenjeh? Gue?” tanya Nethali sambil menunjuk wajahnya sendiri, kemudian ia tersenyum sinis ”Setau gue sih yaa cewek lenjeh itu cewek yang manja, kemana-mana minta ditemenin. Sampe mau ngomong sama orang lain aja mesti ada yang nemenin juga, yaa kayaak.....” Nethali menggantung kalimatnya kemudian berdehem sejenak lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga si cewek itu ”Kayak lo gitu deh” bisiknya di telinga cewek itu yang sontak langsung membuatnya geram
Andri yang tidak bisa mendengar apa yang dibisikkan Nethali pada cewek itu pun hanya bisa menatap bingung namun ia yakin dengan pasti bahwa kata yang dibisikkan itu pasti sangat jelek karena terlihat sekali raut wajah si cewek itu yang semakin meradang setelah Nethali berbisik padanya
Cewek itu sontak langsung mendorong tubuh Nethali ”Berani banget lo ya! Dasar cewek kegatelan! Gue sebagai mantannya Rico ga terima yaa kalo lo deket-deket sama dia!” hardiknya. Ia kemudian hendak melayangkan tamparan ke wajah Nethali namun tangannya tertahan di udara
”Eloo” desis Nethali tak percaya saat melihat Andri yang tengah menahan tangan gadis yang akan menamparnya itu
”Siapa lo?! Gausah ikut campur yaa” maki gadis itu sambil menarik tangannya dari cengkraman Andri
”Kalian kan cewek-cewek cantik nih yaa, kok kelakuannya kayak preman pasar gitu sih? Sayang loh nanti cantiknya jadi ga keliatan” ujar Andri
”Heh! Lo fikir lo siapa? Gue ga ada urusan ya ama lo!”
Andri tersenyum, kemudian seketika tatapan matanya berubah tajam dan raut wajahnya pun berubah menjadi menyeramkan bak seorang monster yang siap menghancurkan apapun yang ada di hadapannya ”Emang kita ga ada urusan, tapi bakal jadi ada kalo lo berani nyentuh cewe ini lagi” ujarnya sambil merangkul Nethali. ”Kalo kalian gamau ngerasain neraka lebih cepat mending lo semua pergi dari sini, sekarang!” bentak Andri yang seketika langsung membuat para gadis itu lari kocar-kacir ketakutan
Setelah gerombolan gadis itu pergi Nethali langsung menggidikkan bahunya untuk melepaskan rangkulan Andri ”Gue ga minta bantuan lo tuh, jadi jangan harap gue bakal bilang terima kasih yaa” ujarnya sinis sambil berlalu pergi meninggalkan Andri
Andri menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli ”Gila nih cewe pala batu banget” gumamnya dalam hati ”Woyy! Kalo gamau bilang makasih seenggaknya traktir gue beli minuman kek gitu woyy!!” teriak Andri sambil menyusul langkah Nethali yang sudah kian menjauh

Beberapa bulan kemudian...
Andre memperhatikan dengan serius layar laptopnya, tugas kuliah yang kian membludak akhir-akhir ini sungguh sangat menguras energinya. Tiba-tiba ia merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya, dengan segera Andre mengambil obat-obatan yang dia taruh di dalam laci meja belajarnya kemudian meminumnya. ia kemudian menarik nafasnya bersamaan dengan rasa sakitnya yang berangsur-angsur mereda. Andre memperhatikan sebotol pil yang ada di genggamannya itu ”Sampai kapan?” tanyanya lirih pada benda mati itu. Ia kemudian memasukkan kembali botol itu ke dalam laci
Dering ponsel berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Andre segera mengangkatnya ”Ya, kenapa Ren?” sapanya pada Rendi di ujung telepon. Andre memejamkan matanya sambil sesekali berdehem ”Yaudah gue ke sana sekarang” ujarnya setelah selesai mendengarkan pembicaraan Rendi. Ia segera mematikan laptopnya kemudian meraih jaket dan kunci motornya lalu keluar dari kamarnya menuju tempat Rendi menunggunya
Sesampainya disana Rendi langsung menyambut kedatangan Andre. ”Sorry ya sob, padahal lo kan bagian tugas editing” ujar Rendi. Ya, mereka memang sedang ada tugas membuat film pendek, Andre mendapat bagian editing. Namun karena hari ini salah seorang yang bertugas sebagai kameramen dan juga sang sutradara tak bisa hadir, Andre akhirnya diminta untuk menggantikan tugas kameramen itu
”Santai aja lah, lagian ini juga kan proyek kita bareng-bareng” jawab Andre sambil menepuk-nepuk bahu Rendi kemudian ia berlalu menuju tempat shooting dan memulai pengambilan gambar
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sang matahari kini sudah hendak beristirahat sejenak setelah sekian lama ia bersinar hari ini. ”Yak, kita selesai hari ini. makasih untuk kerja kerasnya hari ini. see you tomorrow” ujar Gita – asisten produser –
Setelah saling memberi salam dan ucapan terima kasih, mereka semua pun mulai merapikan peralatan shooting dan satu persatu berpamitan pulang. Rendi datang menghampiri Andre yang sedang duduk beristirahat sambil membawakan sebotol minuman dan juga makanan ringan. Ia hendak mengagetkan Andre yang sedang memejamkan matanya menikmati langit senja namun ia mengurungkan niatnya saat dilihatnya ada yang berbeda dari wajah Andre. Ya, Andre tak terlihat seperti biasanya. Wajahnya terlihat sangat pucat
”Ndre lo sakit?” tegur Rendi
Mendengar suara Rendi, Andre buru-buru bangun ”Engga kok, palingan juga cuma kecapekan” kilahnya ”Yaudah gue balik duluan yaa” ujarnya sambil mengenakan jaketnya ”Ehiya, jangan laporan yang macem-macem ke Natasha” lanjutnya sambil kemudian berlalu pergi
Atas kesepakatan yang telah mereka buat bersama sebelum Natasha pergi, Natasha dan Andre kini sama sekali tak saling bertukar kabar secara langsung. Namun Natasha sesekali mengirim e-mail pada Rendi untuk menanyakan kabar Andre. Dan atas opersetujuan Andre pun akhirnya Rendi menjadi perantara kabar diantara Andre dan Natasha.
Rendi tak percaya sepenuhnya pada ucapan Andre. Jika memang hanya kelelahan, sepertinya tidak mungkin jika sampai sepucat itu. Apalagi ia tahu betul kalau daridulu Andre sangat menjaga ketahanan tubuhnya. Ia merasa ada yang sedang Andre sembunyikan darinya


to be continue ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar