Nethali duduk di dalam bus sambil mendengarkan
musik dari ponselnya. Dari balik jendela di sebelahnya ia dapat melihat dengan
jelas hiruk pikuk jalan raya pagi hari ini. ia merutuk dalam hatinya, mengutuk
kegiatan ekstrakurikuler yang padahal ia pilih sendiri atas keinginannya.
”Padahal harusnya gue santai-santai di rumah nih” rutuknya dalam hati
Brukk! Tiba-tiba terdengar suara tumpukkan kertas
terjatuh, asal suara itu ternyata dari orang yang baru saja hendak duduk di
sebelahnya. Nethali dengan segera membantu orang tersebut mengumpulkan lembaran
kertasnya yang berserakan di bawah. ”Nih kertasnya, hati-ha......” kalimatnya
menggantung, Nethali langsung mencibirkan bibirnya begitu melihat wajah si
pemilik kertas-kertas itu. Ia meletakkan kertas yang dipungutnya di kursi,
kemudian ia berbalik kembali menghadap jendela ”Kalo tau die mah ga bakal gue
tolongin dah” omelnya dalam hati. Meski baru satu kali pertemuan dan bahkan
pertemuan itu pun tidak memberikan kesan yang baik, Nethali hafal betul rupa
wajah orang tersebut. Ya, orang itu adalah lelaki menyebalkan yang tak sengaja
bertemu dengannya di bus satu tahun yang lalu
Orang tersebut kemudian duduk di sebelah Nethali
”Makasih ya Mbak” ujarnya
”Mbak? Kapan gue nikah sama Mas lo?” jawab Nethali
ketus tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya
”Siapa yang ngomong sama lo? Orang gue ngomong
sama mbak-mbak yang duduk di depan gue” ujarnya
Nethali menggigit bibir bawahnya geram ”Tuh kan
sebul mulu gue kalo ketemu ini cowok” desisnya
Lelaki itu tertawa kecil ”Kalau di pikir-pikir
dulu kayaknya pernah ada kejadian kayak gini juga deh ya, makanya jangan
terlalu kepedean non”
Nethali menoleh ke arah cowok itu ”Heh! Lo nya aja
yang kalo ngomong ga jelas” ujarnya
”Kayaknya tadi gue ngomongnya jelas banget deh
’Makasih ya mbak’ lah situ ngerasa mbak-mbak?”
Nethali mendengus kesal, ia akhirnya memilih
bungkam daripada harus adu argumen sama lelaki bermulut pedas ini. toh sebentar
lagi ia juga akan tiba di sekolahnya dan makhluk di sebelahnya ini pun akan
lenyap dari pandangannya
Namun sepertinya ia salah mengira, laki-laki itu
ternyata ikut turun di tempat yang sama dengannya. Bahkan ia pun juga mengikuti
Nethali sampai ke gerbang sekolah
”Ngapain sih ngikutin gue?” tanya Nethali
Sang lelaki yang ditanya justru malah celingukan
ke kanan dan ke kiri layaknya mencari sesuatu ”Mana yang ngikutin lo? Mana ga
ada tuh?”
Nethali berdecak ”Ya elo lah yang ngikutin gue,
siapa lagi!”
”Woii sob, petan masuk” seru seseorang dari
belakang Nethali yang langsung disambut dengan anggukan kepala dari lelaki yang
sedang berdiri di hadapan Nethali
Nethali menoleh ke belakang, kemudian menoleh lagi
ke arah lelaki yang tadi dituduhnya itu lalu ia menggigit bibir bawahnya ”Ahshit gue salah lagi, dia ternyata mau
ketemu temennya bukan ngikutin gue” desisnya dalam hati
Lelaki itu berjalan melalui Nethali, namun ia
sempat berhenti sejenak ”Maaf ya kalau merasa ’diikuti’” ujarnya setengah
tersenyum meledek kemudian berlalu pergi
Nethali mencibir sambil memukul-mukul kepalanya
sendiri ”Bodoh, bodoh” rutuknya. Ia pun kemudian berlalu menuju ruang kelas
ekstrakurikulernya
Sesampainya di kelas, Nethali langsung
menghempaskan tubuhnya di atas bangku ”Net, kenapa lu?” tanya Rizka –teman di
sebelahnya–
”Bete!” jawab Nethali singkat. ”Ini senior belum
pada dateng? Katanya mau ngomongin soal acara penggalangan dana?” tanya Nethali
”Udah dateng kok, itu lagi ngobrol sama tamu yang
mau ikut ngebantuin acara ini, mahasiswa loh Net, ganteng pulaa” seru Rizka
antusias
Tak lama yang dibicarakan pun datang ”Maaf yaa
nunggunya lama” sapa senior mereka. ”Okee gini kita langsung to the point aja
yaa, sekolah kita kan mau ngadain acara penggalangan dana untuk membantu
sekolah lainnya yang membutuhkan. Dan dari setiap organisasi atau kegiatan
ekstrakurikuler di sekolah kita ini diminta untuk turut serta dalam membantu
merealisasikan kegiatan itu. Nah, berhubung kita adalah sekelompok orang yang
mencintai seni yang tergabung dalam ekskul Lovartistic jadi gue berfikiran
untuk menggalang dana melalui karya” tutur sang senior ”Okee untuk lebih
jelasnya gue ngundang temen gue yang kebetulan anak design. Nah dia yang bakal
jelasin ke kalian konsepnya tuh seperti apa. Ndri, come in” seru senior itu ke
luar pintu memanggil temannya
Alangkah terkejutnya Nethali saat melihat seorang
teman yang dipanggil seniornya itu ternyata adalah orang yang sama yang sudah
membuat paginya menjadi menjengkelkan ini ”Dia
lagi?” seru Nethali dalam hati
Setelah menundukkan kepalanya sejenak seraya
memberi salam, laki-laki itu pun mengambil alih pembicaraan di depan ”Well,
hello guys” sapanya ”Nama gue Andri, kalian boleh panggil gue kak Andri atau
Andri aja juga boleh bebas terserah. Gue dari jurusan design di Universitas
Widura” ujarnya memperkenalkan diri. Dan yak, wajah Andri yang tampan pun
dengan seketika mampu menghipnotis kelas untuk fokus kepadanya, terutama para
gadis-gadis di ruangan itu (kecuali Nethali). Ia memilih melihat ke arah
lapangan dari balik jendela kelasnya, daripada melihat ke arah Andri
”Langsung aja nih yaa, kebetulan senior kalian
yaitu Fachri minta bantuan ke gue buat nyari ide untuk acara amal sekolah
kalian kan? Nah kalo menurut gue sih, ide yang terbaik itu ada pada diri kalian
semua” Andri kemudian menyuruh Fachri membagikan kertas yang tadi dibawanya
kepada seluruh siswa/i yang ada di ruangan itu ”Sekarang kalian tuangin
imajinasi kalian di kertas itu. Apa aja bebas. Mau gambar grafitti, mau gambar
gelang/kalung juga boleh tapi plus kalian jelasin materialnya apa aja, atau mau
lukis muka gue juga boleh” ujar Andri sambil mengerlingkan sebelah matanya yang
sukses membuat para gadis meleleh (kecuali Nethali (lagi)). ”Gue kasih waktu 30
menit, dimulai dari... sekarang!”
Saat aba-aba diberikan para siswa/i itu pun
langsung berkutat serius dengan kertas dan alat tulis mereka
masing-masing. Kali ini Nethali juga ikut serius berkutat dengan pencil dan
kertasnya. Terlepas dari siapa yang sedang berbicara di depan kelas sekarang,
ini adalah acara sekolahnya dan sebagai warga sekolah ini ia berhak untuk
memberikan suaranya
…
Hari kepergian Natasha......
Semuanya telah berkumpul di bandara. Andre, Rendi,
Nethali, dan Ibu Natasha serta Ibunda Andre sedang mengantar kepergian Natasha
ke Amerika
”Kamu jaga diri ya nak, belajar yang baik. Hati-hati
sama pergaulan disana, jangan lupa makan yang teratur. Kalo bisa cepet pulang
ya” kecupan hangat mendarat di dahi Natasha dari bibir ibu tercintanya
”Iyaa bu. Ibu juga jaga diri ya disini, kalo
Nethali manja atau nakal marahin aja bu” ujar Natasha sambil memeluk ibunya
beberapa saat, kini ganti Natasha mendekati Nethali ”Jaga ibu ya Net. Belajar
mandiri kamu udah dewasa” pesannya
”Kakak tenang aja pokoknya kakak belajar yang
pinter deh. Jangan lupa nanti bawa oleh-oleh hehe” goda Nethali disambut
jitakan kecil dari sang kaka yang kemudian berganti jadi peluk haru ”Aku pasti
kangen banget sama kakak” bulir air mata perlahan meluncur dari pipi Nethali
kemudian ia melepaskan pelukannya
Kemudian Natasha berjalan menghampiri Ibunda Andre
”Ma, aku pamit sebentar ya. Aku minta do’anya ya Ma” Natasha mencium tangan
Ibunda Andre yang disambut pelukan hangat
”Mama disini akan selalu do’ain kamu kok sayang.
Karena bagi Mama, kamu udah seperti anak Mama sendiri. Jaga diri kamu yaa Nat”
Natasha tersenyum singkat, kemudian mengalihkan
pandangannya. Kali ini matanya tertuju pada Andre. Natasha berjalan mendekati
Andre
”Aku pergi dulu ya Ndre” Natasha mengecup punggung
tangan Andre, Andre membalas mengusap lembut puncak kepala Natasha
”Jaga diri ya Nat. Jangan nakal. Kamu tau aku
selalu sayang kamu” dan satu kecupan manis mendarat di dahi Natasha
Natasha tak mampu berkata-kata lagi. Ia hanya mengangguk
dan tersenyum sambil memeluk erat tubuh tinggi tegap kekasihnya itu, ingin
sekali rasanya ia terus berada di dalam dekap hangat tubuh Andre, namun apa
daya ia pun juga ingin meraih masa depan yang gemilang. Perlahan ia melelpaskan
diri dari pelukannya kemudian berlalu meninggalkan mereka semua menuju
pesawatnya
…
Nethali dan Andri saling melempar tatapan sinis
satu sama lain. Siapa sangka ia akan bertemu lagi dengan lelaki bermulut pedas
ini, terlebih lagi ternyata lelaki ini adalah adik kandung dari kekasih
kakaknya. Ya. Setelah mengantar kepergian Natasha di bandara tadi, ibunya
mengajak Andre, Mamanya, dan Rendi untuk mampir ke rumah dan makan siang
bersama. Namun ternyata Andre dan Rendi memiliki urusan lain sehingga Andre
akhirnya menelepon adiknya untuk menggantikan dirinya menemani mamanya. Dan
siapa sangka adik Andre itu ternyata lelaki ini. ”Bisa yaa gitu kakak-adek
kepribadiannya beda jauh” cibir Nethali dalam hati
”Apa lo liat-liat?” tegur Andri
Nethali membelalakkan bola matanya kemudian
memutarnya dengan cepat ”Ke-PD-an ewwhh” desisnya
”Lo beneran adiknya Natasha nih? Ga ketuker lo
waktu di rumah sakit?” ledek Andri namun dengan tampang serius
”Heh!” bentak Nethali ”Gue masih sopan sama lo
karena mandang nyokap lo yaa disini. Lo sendiri yakin tuh adik kandungnya Kak
Andre? Kelakuannya aja beda jauh. Bagai langit sama bumi tau ga lo” hardik
Nethali dengan nada setengah berbisik karena takut terdengar oleh ibunya dan
juga Mamanya Andre di dalam
”Uuuuu tatuutt” ledek Andri lagi ”Udah deh anak
kucing mah mengeong imut aja, gausah sok mengaum kayak singa. Yang manis dong
nanti gue elus deh sini pusss siniiii” goda Andri lagi
Nethali yang emosinya sudah meletup-letup itu pun
akhirnya memilih pergi daripada harus bersitegang dengan lelaki ini. ah tidak,
bukan lelaki tapi lebih tepatnya ibu tiri! Ya benar ibu tiri, tegas Nethali
dalam hati. ”Bu aku ke supermarket bentar yaa, mau ngadem bu PANASSS!!!” pamit
Nethali kemudian berlalu pergi meninggalkan Andri yang sedang menahan tawanya
karena telah berhasil menggoda Nethali
Andri menggelengkan kepalanya sambil tertawa
kecil, kemudian ia menyusul kepergian Nethali ”Aku keluar jalan-jalan bentar
Ma” pamitnya. Kemudian ia mengikuti arah Nethali pergi dan membututinya dalam
jarak yang tidak diketahui Nethali sehingga Andri dapat mendengar makian serta melihat
dengan jelas tingkah konyol Nethali sepanjang jalan karena kesal padanya itu
Namun tiba-tiba langkah kaki Andri terhenti saat
langkah kaki Nethali juga terhenti karena ia dicegat oleh segerombolan cewek
”Ngapain lo pada ngalangin jalan?” tegur Nethali pada gerombolan cewek yang
mengepungnya itu
Salah satu cewek yang sepertinya pimpinan mereka
itu pun selangkah maju mendekat pada Nethali ”Heh cewek lenjeh, lo ga usah sok
cantik deh ya! Ga usah kegatelan sama Rico!” bentak cewek itu
Nethali tersentak sejenak. Andri memperhatikan
dari tempatnya berdiri yang tak jauh dari tempat Nethali berdiri ”Wah si singa
kicep nih kayaknya” batinnya. Namun sedetik kemudian ternyata dugaan Andri
salah. Nethali justru malah tertawa terbahak-bahak
”Apa-apa? Cewek lenjeh? Gue?” tanya Nethali sambil
menunjuk wajahnya sendiri, kemudian ia tersenyum sinis ”Setau gue sih yaa cewek
lenjeh itu cewek yang manja, kemana-mana minta ditemenin. Sampe mau ngomong
sama orang lain aja mesti ada yang nemenin juga, yaa kayaak.....” Nethali
menggantung kalimatnya kemudian berdehem sejenak lalu ia mendekatkan bibirnya
ke telinga si cewek itu ”Kayak lo gitu deh” bisiknya di telinga cewek itu yang
sontak langsung membuatnya geram
Andri yang tidak bisa mendengar apa yang
dibisikkan Nethali pada cewek itu pun hanya bisa menatap bingung namun ia yakin
dengan pasti bahwa kata yang dibisikkan itu pasti sangat jelek karena terlihat
sekali raut wajah si cewek itu yang semakin meradang setelah Nethali berbisik
padanya
Cewek itu sontak langsung mendorong tubuh Nethali
”Berani banget lo ya! Dasar cewek kegatelan! Gue sebagai mantannya Rico ga
terima yaa kalo lo deket-deket sama dia!” hardiknya. Ia kemudian hendak
melayangkan tamparan ke wajah Nethali namun tangannya tertahan di udara
”Eloo” desis Nethali tak percaya saat melihat
Andri yang tengah menahan tangan gadis yang akan menamparnya itu
”Siapa lo?! Gausah ikut campur yaa” maki gadis itu
sambil menarik tangannya dari cengkraman Andri
”Kalian kan cewek-cewek cantik nih yaa, kok
kelakuannya kayak preman pasar gitu sih? Sayang loh nanti cantiknya jadi ga
keliatan” ujar Andri
”Heh! Lo fikir lo siapa? Gue ga ada urusan ya ama
lo!”
Andri tersenyum, kemudian seketika tatapan matanya
berubah tajam dan raut wajahnya pun berubah menjadi menyeramkan bak seorang
monster yang siap menghancurkan apapun yang ada di hadapannya ”Emang kita ga
ada urusan, tapi bakal jadi ada kalo lo berani nyentuh cewe ini lagi” ujarnya
sambil merangkul Nethali. ”Kalo kalian gamau ngerasain neraka lebih cepat
mending lo semua pergi dari sini, sekarang!” bentak Andri yang seketika
langsung membuat para gadis itu lari kocar-kacir ketakutan
Setelah gerombolan gadis itu pergi Nethali
langsung menggidikkan bahunya untuk melepaskan rangkulan Andri ”Gue ga minta
bantuan lo tuh, jadi jangan harap gue bakal bilang terima kasih yaa” ujarnya
sinis sambil berlalu pergi meninggalkan Andri
Andri menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli
”Gila nih cewe pala batu banget” gumamnya dalam hati ”Woyy! Kalo gamau bilang
makasih seenggaknya traktir gue beli minuman kek gitu woyy!!” teriak Andri
sambil menyusul langkah Nethali yang sudah kian menjauh
…
Beberapa
bulan kemudian...
Andre memperhatikan dengan serius layar laptopnya,
tugas kuliah yang kian membludak akhir-akhir ini sungguh sangat menguras
energinya. Tiba-tiba ia merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya,
dengan segera Andre mengambil obat-obatan yang dia taruh di dalam laci meja
belajarnya kemudian meminumnya. ia kemudian menarik nafasnya bersamaan dengan
rasa sakitnya yang berangsur-angsur mereda. Andre memperhatikan sebotol pil
yang ada di genggamannya itu ”Sampai kapan?” tanyanya lirih pada benda mati
itu. Ia kemudian memasukkan kembali botol itu ke dalam laci
Dering ponsel berbunyi pertanda ada panggilan
masuk. Andre segera mengangkatnya ”Ya, kenapa Ren?” sapanya pada Rendi di ujung
telepon. Andre memejamkan matanya sambil sesekali berdehem ”Yaudah gue ke sana
sekarang” ujarnya setelah selesai mendengarkan pembicaraan Rendi. Ia segera
mematikan laptopnya kemudian meraih jaket dan kunci motornya lalu keluar dari
kamarnya menuju tempat Rendi menunggunya
Sesampainya disana Rendi langsung menyambut
kedatangan Andre. ”Sorry ya sob, padahal lo kan bagian tugas editing” ujar
Rendi. Ya, mereka memang sedang ada tugas membuat film pendek, Andre mendapat
bagian editing. Namun karena hari ini salah seorang yang bertugas sebagai
kameramen dan juga sang sutradara tak bisa hadir, Andre akhirnya diminta untuk
menggantikan tugas kameramen itu
”Santai aja lah, lagian ini juga kan proyek kita
bareng-bareng” jawab Andre sambil menepuk-nepuk bahu Rendi kemudian ia berlalu
menuju tempat shooting dan memulai pengambilan gambar
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sang
matahari kini sudah hendak beristirahat sejenak setelah sekian lama ia bersinar
hari ini. ”Yak, kita selesai hari ini. makasih untuk kerja kerasnya hari ini.
see you tomorrow” ujar Gita – asisten produser –
Setelah saling memberi salam dan ucapan terima
kasih, mereka semua pun mulai merapikan peralatan shooting dan satu persatu
berpamitan pulang. Rendi datang menghampiri Andre yang sedang duduk
beristirahat sambil membawakan sebotol minuman dan juga makanan ringan. Ia
hendak mengagetkan Andre yang sedang memejamkan matanya menikmati langit senja
namun ia mengurungkan niatnya saat dilihatnya ada yang berbeda dari wajah
Andre. Ya, Andre tak terlihat seperti biasanya. Wajahnya terlihat sangat pucat
”Ndre lo sakit?” tegur Rendi
Mendengar suara Rendi, Andre buru-buru bangun
”Engga kok, palingan juga cuma kecapekan” kilahnya ”Yaudah gue balik duluan
yaa” ujarnya sambil mengenakan jaketnya ”Ehiya, jangan laporan yang macem-macem
ke Natasha” lanjutnya sambil kemudian berlalu pergi
Atas kesepakatan yang telah mereka buat bersama
sebelum Natasha pergi, Natasha dan Andre kini sama sekali tak saling bertukar
kabar secara langsung. Namun Natasha sesekali mengirim e-mail pada Rendi untuk
menanyakan kabar Andre. Dan atas opersetujuan Andre pun akhirnya Rendi menjadi
perantara kabar diantara Andre dan Natasha.
Rendi tak percaya sepenuhnya pada ucapan Andre.
Jika memang hanya kelelahan, sepertinya tidak mungkin jika sampai sepucat itu.
Apalagi ia tahu betul kalau daridulu Andre sangat menjaga ketahanan tubuhnya.
Ia merasa ada yang sedang Andre sembunyikan darinya
…
to be continue ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar