Drrtt...drttt
handphoneku yang tiba-tiba bergetar memecah konsentrasiku yang sedang mencatat
rumus-rumus statistik di papan tulis.
Dengan
gerakan perlahan ku lihat siapa yang mengirimiku pesan pagi-pagi begini
Besok
libur kan? Temenin ke dufan yuk? Lagi ada promo bikers loh. Mau kan? Udah mau aja
ya, lagian aku ga terima penolakan. Besok aku jemput jam 10. See you:)
Aku
mengernyitkan dahiku. 'Apa-apaan anak ini? Ini ajakan atau ancaman? Kenapa aku
tidak diberikan pilihan sama sekali?', desisku dalam hati. Dengan malas aku
kembali berkutat dengan catatanku. Arghh rasanya karena sms dari pria
menyebalkan tadi sekarang aku jadi kehilangan mood untuk menulis.
Ku tutup
buku catatanku, kemudian ku arahkan kaki ku melangkah mendekati wanita paruh
baya yang masih asik menorehkan tinta spidol membentuk sederetan rumus di papan
tulis itu. "Bu Dian, saya izin ke toilet yaa" ujarku padanya. Setelah
mendapat anggukan persetujuan darinya dengan cepat aku melesat menuju toilet
untuk mencuci mukaku. Setidaknya aku butuh sesuatu yang segar untuk otakku yang
tiba-tiba buntu karena baru saja mendapat pesan dari seseorang yang menyebalkan
itu.
***
"Sudah
siap?" tanyanya ketika melihatku turun dari tangga rumahku.
Aku
terjengit mendapati suara lelaki itu di telingaku "Kamu supir taksi ya?
Cepet amat datengnya" cibirku padanya.
Ia hanya
tertawa kecil menanggapi ejekanku "Cinta Sarastika, kemarin ku bilang akan
menjemputmu jam 10 kan? Lihat bahkan sekarang sudah jam 10 lewat 8 menit"
ujarnya sambil melihat jam tangan digital yang melingkar di pergelangan
tangannya.
Aku
memutar bola mataku malas "Waelaah telat 8 menit doang" desisku pelan
"Biasakan
menghargai waktu" ucapnya tegas. 'Ups dia mendengarnya ternyata', batinku
"Iyaa.
Maaf ya mas Aryo Aprilio. Jadi pergi ga nih? Apa masih mau ngomel?"
tanyaku padanya. Malas saja rasanya jika harus meributkan hal sepele seperti
ini.
"Aku
hanya mengingatkan bukan ngomel" koreksinya "Ayo kita pergi
sekarang" lanjutnya kemudian berjalan mendahuluiku menuju teras rumah.
Aku pun
mengikutinya dari belakang, setelah berpamitan dengan orangtuaku kami pun
segera melaju menuju tempat tujuan kami. Dunia Fantasi Ancol.
Sepanjang
perjalanan tidak ada komunikasi di antara kami. Kami berdua sibuk dengan
pemikiran kami masing-masing.
Aku
sebenarnya tidak membenci pria ini, hanya saja agak kurang nyaman berada di
dekatnya mengingat statusnya kini adalah mantan kekasihku. Meski kami berpisah
dengan baik-baik tetap saja sejujurnya aku merasa tak sebaik itu, karena jika
memang baik-baik saja tentu tidak akan terjadi perpisahan kan?
Lelaki
yang terpaut usia tiga tahun lebih tua dariku ini memiliki ambisi dan visi misi
yang besar dalam hidupnya. Ia pun sangat disiplin dalam segala sesuatunya.
Membuatku yang masih memiliki sifat kekanakkan ini terkadang sulit
mengimbanginya. Meskipun tak bisa ku pungkiri sebenarnya itu adalah hal yang
bagus namun tetap saja aku merasa tidak nyaman. Yaa kalian mengerti kan seperti
apa wanita?
Puncaknya
saat ia meminta izin dariku untuk melanjutkan S2nya di luar kota, padahal saat
itu ia baru saja menyelesaikan S1nya. Ku fikir ia akan meliburkan diri terlebih
dahulu dengan bersenang-senang denganku. Namun ternyata aku salah, ia sudah
mendaftar terlebih dahulu sebelum meminta izin dariku. Membuatku mau tak mau
harus menyetujuinya. Namun aku mengajukan satu persyaratan, aku mengizinkannya
pergi namun dengan syarat hubungan kami berakhir sampai disini. Aku memintanya
untuk kembali berteman saja dan mengakhiri masa pacaran ini.
Dengan
alasan 'tak bisa setia jika berhubungan LDR' aku meminta putus darinya. Ku akui
aku bohong saat itu, karena bahkan sampai saat ia kembali kesini pun aku masih
tetap dengan status single ku. Alasan utamaku sebenarnya adalah karena aku
merasa tidak diprioritaskan olehnya. Ia selalu menanyakan pendapatku setelah ia
memutuskannya sendiri, bukan sebelumnya. Membuatku merasa sepertinya pendapatku
tidak berpengaruh untuknya.
Dengan
berat hati ia mengabulkan permintaan putus itu. Namun ia juga mengajukan satu
syarat, yaitu jika saat ia kembali nanti dan aku masih belum ada yang punya
maka ia memintaku untuk memberikannya kesempatan kedua dan memulai hubungan ini
lagi dari awal. Saat itu aku hanya mengatakan 'lihat saja nanti' dan beginilah
akhirnya, hubungan kami menjadi menggantung tanpa adanya status.
"Sudah
sampai" ujarnya membuyarkan lamunanku.
Aku
tersentak saat mendapati wajahnya berada tepat di depan wajahku, pandangan
matanya menelusuk masuk seolah sedang mencari sesuatu di dalam mataku. Membuat
rasa panas menjalar di kedua pipiku "mikirin apa kamu?" Tanyanya.
Aku
memalingkan wajahku, mengatur degup jantungku yang berdetak tak karuan. Kalau
seperti ini sih rasanya tanpa perlu naik wahana histeria sekalipun jantungku
pasti sudah copot karena tatapan mata elangnya itu. "Kepo amat"
jawabku asal.
Ia
memundurkan wajahnya, membuatku akhirnya merasa lega. "Yaudah kalo gamau
ngasih tau yaa gapapa" ujarnya. Kemudian ia mengulurkan tangannya di
hadapanku.
Aku
menatap uluran tangannya itu sambil menaikkan sebelah alisku "Apa?"
tanyaku bingung
"Kok
apa sih? Ya #gandengtangan lah" jawabnya santai tapi sukses memunculkan
rasa yang tidak santai dalam hatiku. Meski bukan kali pertama jalan bersama
saat ia kembali dengan gelar magisternya, namun ini pertama kalinya ia meminta
bergandengan tangan setelah kami putus.
"Jalan
sendiri-sendiri aja" jawabku kikuk
Ia
mendesah pelan "Disini rame, nanti kalo kamu jalannya ketinggalan terus
nyasar gimana? Aku sih ogah ah nyari-nyari kamu, mending tinggal pulang
aja" ujarnya datar
Aku
melongo sejenak mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya 'Ehh ucet kejam
amat padahal yang ngajak kesini kan dia', gerutuku dalam hati. Mau tak mau
akhirnya aku pun menyambut uluran tangan itu. Dan benar saja, saat kulit kami
saling bersentuhan jantungku mendadak berdisko. 'Ahh bodoh sekali, memangnya aku
anak SMA yang baru puber? Masa gandengan tangan begini saja membuatku gemetar?
', rutukku dalam hati.
Ia
tersenyum puas, kemudian #sambilmenggandengerattanganku ia membawaku menyusuri
tempat ini.
***
Kami
memaiki wahana yang memacu adrenalin terlebih dahulu seperti halilintar,
histeria, tornado, ontang-anting, kora-kora dan lain sebagainya. Permainan yang
membuat jantungku serasa tertinggal beberapa kali. Terlebih lagi
genggamantangan yang terus melekat ini. Membuatku serasa sedang olahraga
jantung. Aku tak menyangka aku yang tadinya malas pergi menjadi sangat
menikmatinya. Ini benar-benar #liburanserudidufan
Kulirik
sekilas lelaki yang lebih tinggi dariku ini. Senyum manisnya pun juga tak
hilang dari raut wajah tampannya. "Apa liat-liat? Iya aku tau aku
tampan" ujarnya yang langsung mendapat cibiran dariku
"Huh
narsis" jawabku
"Kita
makan dulu yuk? Aku gamau cacing-cacing di perutmu itu mendemo" ajaknya.
Aku
mengangguk menyetujui ajakannya. Kuakui perutku ini lapar lagi meskipun tadi
pagi aku sudah menghabiskan dua piring nasi goreng. Mungkin energiku habis
karena mengantri dan berteriak-teriak histeris tadi.
"Mau
makan apa?" Tanyanya sambil melihat-lihat daftar menu.
"Apa
aja terserah kamu" jawabku
Ia
melirikku sekilas "Kok terserah aku? Yang makan kan kamu kenapa ngikutin
aku? Nanti kalo ga sesuai selera gimana?" Tanyanya
"Aku
omnivora kok, apa aja aku makan" jawabku. "Lagian gimana sih masa
calon imam gamau diikutin" lanjutku kemudian
Kulihat
tubuhnya menegang sesaat kemudian seringai nakal tercetak di bibirnya. 'Ah
yaampun aku pasti telah salah ucap', gerutuku dalam hati.
"Oohh
jadi calon makmumnya udah sadar diri nih? Jadi kapan kata 'calon'nya mau
dihilangin supaya lebih sah gitu?" ujarnya menggodaku sambil
menaikturunkan alisnya seraya menggodaku.
"Apaansih
ngarep banget" cibirku
"Ya
emang" jawabnya tegas yang langsung membuatku tersentak. "Kalo aku ga
ngarep mana mungkin aku masih mengejarmu sampai sekarang ini?" Tuturnya
sambil menatapku tepat di manik mata.
Aku
memalingkan wajahku untuk menghindari tatapan tajamnya itu "Jadi kita
makan apa nih? Duh kayaknya ketua perhimpunan cacing di perutku udah mulai
orasi deh" ujarku mengalihkan topik pembicaraan.
Ia
tersenyum simpul sambil mengelus puncak kepalaku. Seolah mengerti bahwa aku
sedang tak ingin membicarakan hal itu. Selang beberapa waktu kemudian kami
sudah asik menyantap makanan kami sambil berbincang-bincang ringan
Selepas
mengisi perut, kami melanjutkan lagi perjalanan kami untuk menaiki wahana
lainnya yang belum kami coba. Kali ini kami memilih wahana yang lebih santai.
Bukan apa-apa, rasanya sayang sekali jika makanan yang baru masuk perut ini
harus keluar lagi jika menaiki wahana yang menjungkir balikkan tubuh itu.
Wajah
Aryo terlihat masam saat aku mengajaknya ke wahana rumah boneka dan wahana
feminim lainnya. Yaa aku mengerti bagaimana rasanya masuk ke wahana seperti itu
dengan tampang maskulinnya pasti sangat tidak mengenakkan. Namun yang membuatku
terharu adalah ia tetap mengikuti kemauanku, bahkan disaat aku ingin
membatalkan antrian karena tidak enak padanya ia justru mencegahku. "Aku
ngajak kamu kesini karena mau buat kamu seneng. Asal kamu seneng aku ga masalah
kok. Biasakan untuk mengatakan apa saja yang ada dalam pikiranmu padaku tanpa
ragu" ujarnya. Ingin sekali ku cubit pipinya saat mengatakan itu. Gemas!
Kini
kami sedang menaiki wahana bianglala raksasa. Aku bisa melihatnya sedang
tersenyum padaku melalui sudut mataku. Sejak tadi aku memang menghindari
tatapan matanya itu, bukan apa-apa karena bila bertatapan terlalu lama
dengannya akan berdampak tidak baik untuk jantungku yang berdisko tak karuan.
"Ternyata
memang tepat yaa mengajakmu kesini. Cocok dengan sikapmu yang kekanakkan"
godanya
Aku
mendengus "Aku bukan kekanakkan, kamu saja ysng terlalu tua" balasku
mengejeknya
Ia
tertawa sambil mengacak rambutku "Kamu senang?" Tanyanya kemudian
Aku mengangguk
"it's #neverendingfun for me today. Thankyou" jawabku jujur
Aryo
mengangguk sambil tersenyum "Anything for you" jawabnya. Kemudian tak
ada obrolan lagi di antara kami. Hanya terdengar suara degup jantung kami yang
saling bertautan
Setelah
kami turun dari wahana itu, Aryo meminta izin padaku untuk pergi ke toilet
sebentar, aku pun memilih menunggunya di salah satu bangku yang tersedia. Ku
lirik jam tanganku dengan cemas, sudah lewat setengah jam tapi Aryo belum
kembali
Aku
mulai gelisah, 'Apa terjadi sesuatu padanya?', batinku.
Namun
dari kejauhan ku lihat seorang pria yang sebagian tubuhnya tertutup boneka
mendekat ke arahku. Ia kemudian berlutut di hadapanku. Aku terbelalak saat
melihat lelaki di balik boneka itu ternyata Aryo. Seingatku, Ia bukanlah
tipikal orang yang mau repot-repot seperti ini.
"Cinta
Sarastika" panggilnya lembut sambil menggenggam tanganku. Ulahnya itu
membuat pengunjung lainnya memandang ke arah kami, menonton aksi sok
romantisnya ini. Aku mendesah pelan dalam hati. Menahan rasa grogi sekaligus
rasa senang. Perilakunya seolah-olah hanya ada kami berdua disini, seolah
#inidufankami dan orang-orang lain hanya sekadar lewat.
"Will
you marry me? Will you spend your time together with me untill the end of my
life?"
Aku
menjerit senang dalam hati. Orang-orang yang melihat kami pun ikut histeris.
"Terima... terima... terima!" Seru mereka
Aku
menatap matanya sejenak. Ku lihat sorot keseriusan di matanya itu. Aku pun
akhirnya mengangguk setuju menerima lamarannya. Begitu melihatku mengangguk,
Aryo langsung menarikku dalam dekapannya, tepuk tangan riuh dari para
pengunjung pun seketika terdengar saat Aryo memelukku. Aku mempererat
pelukanku, membenamkan wajahku dalam dada bidangnya. Aku tak menyangka jika cinta
lamaku akan bersemi lagi di Dufan ini.
***
Dan
akhirnya kami menghabiskan malam liburan kami ini di atas wahana komidi putar.
Bisa ku lihat ia memandangiku sambil tersenyum manis
"Apasih
senyum-senyum mulu awas tuh gigi kering" gerutuku padanya.
Ia
tertawa kecil sambil mencubit pipiku "Sensian banget sih bocil"
ledeknya.
Aku
mendengus "Bocil sih dilamar" ujarku.
"Abis
cinta sih" jawabnya. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. 'Aryo sejak
kapan sih jadi terang-terangan gini', geramku dalam hati.
Ia
menarik daguku lembut hingga pandangan kami bertemu "Mungkin suatu hari
nanti di hubungan kita akan terjadi sesuatu yang menaikturunkan emosi kita
berdua seperti wahana-wahana histeria, halilintar dan lain-lain. Saat itu ku
harap kita berdua bisa saling memahami emosi masing-masing. Jangan ragu untuk
mengatakan apa yang ada di dalam hatimu padaku" tuturnya.
"Aku
ingin kita lebih sering duduk santai berdua mengakui perasaan yang terpendam
dalam diri seperti saat di bianglala tadi. Dan terakhir, kita saling mengoreksi
diri seperti saat ini. Perbedaan karakter diantara kita jangan lagi kamu
permasalahkan. Aku akan mencoba untuk bersabar menghadapi sikap kekanakanmu,
dan ku harap kamu juga bisa bersabar bila terkadang aku menjadi terlalu
ambisius. Love me like you do and i'll love you just the way you are"
diakhirinya ucapannya itu dengan kecupan di keningku.
Bulir
air bening meluncur dari kedua bola mataku. Sekarang aku merasa bersalah karena
dulu meninggalkan lelaki yang padahal begitu mencintaiku ini hanya demi egoku.
Kini aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu berada disisinya apapun
keadaannya.
Terima
kasih untuk liburan yang sangat berarti ini. Dufan akan menjadi saksi
kembalinya cinta kami hari ini.
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar