Selasa, 12 Mei 2015

Cinta Lama Bersemi di Dufan (cerpen) #DiskonDufan #LombaBlog #Blogger #Bloggerid #Love #Lomba #Ancol

Drrtt...drttt handphoneku yang tiba-tiba bergetar memecah konsentrasiku yang sedang mencatat rumus-rumus statistik di papan tulis.

Dengan gerakan perlahan ku lihat siapa yang mengirimiku pesan pagi-pagi begini

Besok libur kan? Temenin ke dufan yuk? Lagi ada promo bikers loh. Mau kan? Udah mau aja ya, lagian aku ga terima penolakan. Besok aku jemput jam 10. See you:)

Aku mengernyitkan dahiku. 'Apa-apaan anak ini? Ini ajakan atau ancaman? Kenapa aku tidak diberikan pilihan sama sekali?', desisku dalam hati. Dengan malas aku kembali berkutat dengan catatanku. Arghh rasanya karena sms dari pria menyebalkan tadi sekarang aku jadi kehilangan mood untuk menulis.

Ku tutup buku catatanku, kemudian ku arahkan kaki ku melangkah mendekati wanita paruh baya yang masih asik menorehkan tinta spidol membentuk sederetan rumus di papan tulis itu. "Bu Dian, saya izin ke toilet yaa" ujarku padanya. Setelah mendapat anggukan persetujuan darinya dengan cepat aku melesat menuju toilet untuk mencuci mukaku. Setidaknya aku butuh sesuatu yang segar untuk otakku yang tiba-tiba buntu karena baru saja mendapat pesan dari seseorang yang menyebalkan itu.

***
"Sudah siap?" tanyanya ketika melihatku turun dari tangga rumahku.

Aku terjengit mendapati suara lelaki itu di telingaku "Kamu supir taksi ya? Cepet amat datengnya" cibirku padanya.

Ia hanya tertawa kecil menanggapi ejekanku "Cinta Sarastika, kemarin ku bilang akan menjemputmu jam 10 kan? Lihat bahkan sekarang sudah jam 10 lewat 8 menit" ujarnya sambil melihat jam tangan digital yang melingkar di pergelangan tangannya.

Aku memutar bola mataku malas "Waelaah telat 8 menit doang" desisku pelan

"Biasakan menghargai waktu" ucapnya tegas. 'Ups dia mendengarnya ternyata', batinku

"Iyaa. Maaf ya mas Aryo Aprilio. Jadi pergi ga nih? Apa masih mau ngomel?" tanyaku padanya. Malas saja rasanya jika harus meributkan hal sepele seperti ini.

"Aku hanya mengingatkan bukan ngomel" koreksinya "Ayo kita pergi sekarang" lanjutnya kemudian berjalan mendahuluiku menuju teras rumah.

Aku pun mengikutinya dari belakang, setelah berpamitan dengan orangtuaku kami pun segera melaju menuju tempat tujuan kami. Dunia Fantasi Ancol.

Sepanjang perjalanan tidak ada komunikasi di antara kami. Kami berdua sibuk dengan pemikiran kami masing-masing.

Aku sebenarnya tidak membenci pria ini, hanya saja agak kurang nyaman berada di dekatnya mengingat statusnya kini adalah mantan kekasihku. Meski kami berpisah dengan baik-baik tetap saja sejujurnya aku merasa tak sebaik itu, karena jika memang baik-baik saja tentu tidak akan terjadi perpisahan kan?

Lelaki yang terpaut usia tiga tahun lebih tua dariku ini memiliki ambisi dan visi misi yang besar dalam hidupnya. Ia pun sangat disiplin dalam segala sesuatunya. Membuatku yang masih memiliki sifat kekanakkan ini terkadang sulit mengimbanginya. Meskipun tak bisa ku pungkiri sebenarnya itu adalah hal yang bagus namun tetap saja aku merasa tidak nyaman. Yaa kalian mengerti kan seperti apa wanita?

Puncaknya saat ia meminta izin dariku untuk melanjutkan S2nya di luar kota, padahal saat itu ia baru saja menyelesaikan S1nya. Ku fikir ia akan meliburkan diri terlebih dahulu dengan bersenang-senang denganku. Namun ternyata aku salah, ia sudah mendaftar terlebih dahulu sebelum meminta izin dariku. Membuatku mau tak mau harus menyetujuinya. Namun aku mengajukan satu persyaratan, aku mengizinkannya pergi namun dengan syarat hubungan kami berakhir sampai disini. Aku memintanya untuk kembali berteman saja dan mengakhiri masa pacaran ini.

Dengan alasan 'tak bisa setia jika berhubungan LDR' aku meminta putus darinya. Ku akui aku bohong saat itu, karena bahkan sampai saat ia kembali kesini pun aku masih tetap dengan status single ku. Alasan utamaku sebenarnya adalah karena aku merasa tidak diprioritaskan olehnya. Ia selalu menanyakan pendapatku setelah ia memutuskannya sendiri, bukan sebelumnya. Membuatku merasa sepertinya pendapatku tidak berpengaruh untuknya.
Dengan berat hati ia mengabulkan permintaan putus itu. Namun ia juga mengajukan satu syarat, yaitu jika saat ia kembali nanti dan aku masih belum ada yang punya maka ia memintaku untuk memberikannya kesempatan kedua dan memulai hubungan ini lagi dari awal. Saat itu aku hanya mengatakan 'lihat saja nanti' dan beginilah akhirnya, hubungan kami menjadi menggantung tanpa adanya status.

"Sudah sampai" ujarnya membuyarkan lamunanku.

Aku tersentak saat mendapati wajahnya berada tepat di depan wajahku, pandangan matanya menelusuk masuk seolah sedang mencari sesuatu di dalam mataku. Membuat rasa panas menjalar di kedua pipiku "mikirin apa kamu?" Tanyanya.

Aku memalingkan wajahku, mengatur degup jantungku yang berdetak tak karuan. Kalau seperti ini sih rasanya tanpa perlu naik wahana histeria sekalipun jantungku pasti sudah copot karena tatapan mata elangnya itu. "Kepo amat" jawabku asal.

Ia memundurkan wajahnya, membuatku akhirnya merasa lega. "Yaudah kalo gamau ngasih tau yaa gapapa" ujarnya. Kemudian ia mengulurkan tangannya di hadapanku.

Aku menatap uluran tangannya itu sambil menaikkan sebelah alisku "Apa?" tanyaku bingung

"Kok apa sih? Ya #gandengtangan lah" jawabnya santai tapi sukses memunculkan rasa yang tidak santai dalam hatiku. Meski bukan kali pertama jalan bersama saat ia kembali dengan gelar magisternya, namun ini pertama kalinya ia meminta bergandengan tangan setelah kami putus.

"Jalan sendiri-sendiri aja" jawabku kikuk

Ia mendesah pelan "Disini rame, nanti kalo kamu jalannya ketinggalan terus nyasar gimana? Aku sih ogah ah nyari-nyari kamu, mending tinggal pulang aja" ujarnya datar

Aku melongo sejenak mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya 'Ehh ucet kejam amat padahal yang ngajak kesini kan dia', gerutuku dalam hati. Mau tak mau akhirnya aku pun menyambut uluran tangan itu. Dan benar saja, saat kulit kami saling bersentuhan jantungku mendadak berdisko. 'Ahh bodoh sekali, memangnya aku anak SMA yang baru puber? Masa gandengan tangan begini saja membuatku gemetar? ', rutukku dalam hati.

Ia tersenyum puas, kemudian #sambilmenggandengerattanganku ia membawaku menyusuri tempat ini.

***
Kami memaiki wahana yang memacu adrenalin terlebih dahulu seperti halilintar, histeria, tornado, ontang-anting, kora-kora dan lain sebagainya. Permainan yang membuat jantungku serasa tertinggal beberapa kali. Terlebih lagi genggamantangan yang terus melekat ini. Membuatku serasa sedang olahraga jantung. Aku tak menyangka aku yang tadinya malas pergi menjadi sangat menikmatinya. Ini benar-benar #liburanserudidufan

Kulirik sekilas lelaki yang lebih tinggi dariku ini. Senyum manisnya pun juga tak hilang dari raut wajah tampannya. "Apa liat-liat? Iya aku tau aku tampan" ujarnya yang langsung mendapat cibiran dariku

"Huh narsis" jawabku

"Kita makan dulu yuk? Aku gamau cacing-cacing di perutmu itu mendemo" ajaknya.

Aku mengangguk menyetujui ajakannya. Kuakui perutku ini lapar lagi meskipun tadi pagi aku sudah menghabiskan dua piring nasi goreng. Mungkin energiku habis karena mengantri dan berteriak-teriak histeris tadi.

"Mau makan apa?" Tanyanya sambil melihat-lihat daftar menu.

"Apa aja terserah kamu" jawabku

Ia melirikku sekilas "Kok terserah aku? Yang makan kan kamu kenapa ngikutin aku? Nanti kalo ga sesuai selera gimana?" Tanyanya

"Aku omnivora kok, apa aja aku makan" jawabku. "Lagian gimana sih masa calon imam gamau diikutin" lanjutku kemudian

Kulihat tubuhnya menegang sesaat kemudian seringai nakal tercetak di bibirnya. 'Ah yaampun aku pasti telah salah ucap', gerutuku dalam hati.

"Oohh jadi calon makmumnya udah sadar diri nih? Jadi kapan kata 'calon'nya mau dihilangin supaya lebih sah gitu?" ujarnya menggodaku sambil menaikturunkan alisnya seraya menggodaku.

"Apaansih ngarep banget" cibirku

"Ya emang" jawabnya tegas yang langsung membuatku tersentak. "Kalo aku ga ngarep mana mungkin aku masih mengejarmu sampai sekarang ini?" Tuturnya sambil menatapku tepat di manik mata.

Aku memalingkan wajahku untuk menghindari tatapan tajamnya itu "Jadi kita makan apa nih? Duh kayaknya ketua perhimpunan cacing di perutku udah mulai orasi deh" ujarku mengalihkan topik pembicaraan.

Ia tersenyum simpul sambil mengelus puncak kepalaku. Seolah mengerti bahwa aku sedang tak ingin membicarakan hal itu. Selang beberapa waktu kemudian kami sudah asik menyantap makanan kami sambil berbincang-bincang ringan

Selepas mengisi perut, kami melanjutkan lagi perjalanan kami untuk menaiki wahana lainnya yang belum kami coba. Kali ini kami memilih wahana yang lebih santai. Bukan apa-apa, rasanya sayang sekali jika makanan yang baru masuk perut ini harus keluar lagi jika menaiki wahana yang menjungkir balikkan tubuh itu.

Wajah Aryo terlihat masam saat aku mengajaknya ke wahana rumah boneka dan wahana feminim lainnya. Yaa aku mengerti bagaimana rasanya masuk ke wahana seperti itu dengan tampang maskulinnya pasti sangat tidak mengenakkan. Namun yang membuatku terharu adalah ia tetap mengikuti kemauanku, bahkan disaat aku ingin membatalkan antrian karena tidak enak padanya ia justru mencegahku. "Aku ngajak kamu kesini karena mau buat kamu seneng. Asal kamu seneng aku ga masalah kok. Biasakan untuk mengatakan apa saja yang ada dalam pikiranmu padaku tanpa ragu" ujarnya. Ingin sekali ku cubit pipinya saat mengatakan itu. Gemas!

Kini kami sedang menaiki wahana bianglala raksasa. Aku bisa melihatnya sedang tersenyum padaku melalui sudut mataku. Sejak tadi aku memang menghindari tatapan matanya itu, bukan apa-apa karena bila bertatapan terlalu lama dengannya akan berdampak tidak baik untuk jantungku yang berdisko tak karuan.

"Ternyata memang tepat yaa mengajakmu kesini. Cocok dengan sikapmu yang kekanakkan" godanya

Aku mendengus "Aku bukan kekanakkan, kamu saja ysng terlalu tua" balasku mengejeknya

Ia tertawa sambil mengacak rambutku "Kamu senang?" Tanyanya kemudian

Aku mengangguk "it's #neverendingfun for me today. Thankyou" jawabku jujur

Aryo mengangguk sambil tersenyum "Anything for you" jawabnya. Kemudian tak ada obrolan lagi di antara kami. Hanya terdengar suara degup jantung kami yang saling bertautan
Setelah kami turun dari wahana itu, Aryo meminta izin padaku untuk pergi ke toilet sebentar, aku pun memilih menunggunya di salah satu bangku yang tersedia. Ku lirik jam tanganku dengan cemas, sudah lewat setengah jam tapi Aryo belum kembali

Aku mulai gelisah, 'Apa terjadi sesuatu padanya?', batinku.

Namun dari kejauhan ku lihat seorang pria yang sebagian tubuhnya tertutup boneka mendekat ke arahku. Ia kemudian berlutut di hadapanku. Aku terbelalak saat melihat lelaki di balik boneka itu ternyata Aryo. Seingatku, Ia bukanlah tipikal orang yang mau repot-repot seperti ini.

"Cinta Sarastika" panggilnya lembut sambil menggenggam tanganku. Ulahnya itu membuat pengunjung lainnya memandang ke arah kami, menonton aksi sok romantisnya ini. Aku mendesah pelan dalam hati. Menahan rasa grogi sekaligus rasa senang. Perilakunya seolah-olah hanya ada kami berdua disini, seolah #inidufankami dan orang-orang lain hanya sekadar lewat.

"Will you marry me? Will you spend your time together with me untill the end of my life?"

Aku menjerit senang dalam hati. Orang-orang yang melihat kami pun ikut histeris. "Terima... terima... terima!" Seru mereka

Aku menatap matanya sejenak. Ku lihat sorot keseriusan di matanya itu. Aku pun akhirnya mengangguk setuju menerima lamarannya. Begitu melihatku mengangguk, Aryo langsung menarikku dalam dekapannya, tepuk tangan riuh dari para pengunjung pun seketika terdengar saat Aryo memelukku. Aku mempererat pelukanku, membenamkan wajahku dalam dada bidangnya. Aku tak menyangka jika cinta lamaku akan bersemi lagi di Dufan ini.

***

Dan akhirnya kami menghabiskan malam liburan kami ini di atas wahana komidi putar. Bisa ku lihat ia memandangiku sambil tersenyum manis

"Apasih senyum-senyum mulu awas tuh gigi kering" gerutuku padanya.

Ia tertawa kecil sambil mencubit pipiku "Sensian banget sih bocil" ledeknya.

Aku mendengus "Bocil sih dilamar" ujarku.

"Abis cinta sih" jawabnya. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. 'Aryo sejak kapan sih jadi terang-terangan gini', geramku dalam hati.

Ia menarik daguku lembut hingga pandangan kami bertemu "Mungkin suatu hari nanti di hubungan kita akan terjadi sesuatu yang menaikturunkan emosi kita berdua seperti wahana-wahana histeria, halilintar dan lain-lain. Saat itu ku harap kita berdua bisa saling memahami emosi masing-masing. Jangan ragu untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatimu padaku" tuturnya.

"Aku ingin kita lebih sering duduk santai berdua mengakui perasaan yang terpendam dalam diri seperti saat di bianglala tadi. Dan terakhir, kita saling mengoreksi diri seperti saat ini. Perbedaan karakter diantara kita jangan lagi kamu permasalahkan. Aku akan mencoba untuk bersabar menghadapi sikap kekanakanmu, dan ku harap kamu juga bisa bersabar bila terkadang aku menjadi terlalu ambisius. Love me like you do and i'll love you just the way you are" diakhirinya ucapannya itu dengan kecupan di keningku.

Bulir air bening meluncur dari kedua bola mataku. Sekarang aku merasa bersalah karena dulu meninggalkan lelaki yang padahal begitu mencintaiku ini hanya demi egoku. Kini aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu berada disisinya apapun keadaannya.

Terima kasih untuk liburan yang sangat berarti ini. Dufan akan menjadi saksi kembalinya cinta kami hari ini.


The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar