”Niaaaa... pinjem handphone ya?”, ujar
Mala saat istirahat sekolah
Nia sedikit kaget. Tapi dia sudah tau apa
tujuan Mala meminjam handphonenya. Nia pun menyerahkan handphonenya pada Mala.
”Gue ke kelas gue dulu ya. Ntar hapenya
gue balikin”
Nia menangguk kemudian disusul dengan
kepergian Mala
”Ya, masih smsan ama Rio?” tanya Anggi
setelah Mala sudah benar-benar tak terlihat
”Masih
Nggi, semalem malah abis otp-an. Tapi smsan gue ama Rio
gue apus. cuma gue sisain beberapa sms curhatan dia tentang mantannya aja Nggi.
Abis kalo Mala baca, gue takut Mala
mikir macem-macem”
”Yaa elo lagian smsan udah kaya orang
pacaran aja. Gue aja kalo gatau pasti mikirnya lo ama Rio pacaran Ya. Lagian
Rio nya aja sih kocak padahal kan die tau lo cuma sekedar nama aja ya, gatau
fisik, ga pernah ketemuan. Kalo orang yang waras mah pasti bakal mikir lo itu
orang iseng dan ga bakal diladenin. Lah ini? malahan curhat lah, tebar perhatian lah, ngajak jalan pula. Rio nya aja yang emang ga normal”
”Iya sih bener lo Nggi. Gue juga kadang
suka heran sama dia. Kan dia sering tuh kepoin gue tapi ga pernah gue jawab.
Orang mah harusnya kesel terus udahan ya kan? Eh ini mah kagak. Tetep aja
lanjut”
”Terus tadi pagi lo murung gara-gara Rio?”
Nia sontak kaget ”Hah? Kagak. Kenapa pula
gue mesti murung gara-gara die”
”Jujur ya, Ya. Emang Rio orangnya gimana?”
”Emm.. gimana yaa.. dia itu asik, humoris,
enak buat diajak curhat, ngertiin perasaan cewe. Oiya gue jadi inget satu hal
waktu gue PMS kan gue gampang badmood tuh Nggi, eh ga sengaja gue marah-marah
ama dia. Pokoknya gue tuh ngeselin banget. Gue pikir dia bakal marah eh
ternyata dia malah bilang gini ’lagi PMS ya? Nanti gue sms lagi deh kalo lo
udah ga marah-marah gini. Sekarang istirahat aja dulu Ya’ hahaha gue tuh udah
ngeri bakal emosi aja ama gue terus juga nih ya Nggi.....”
”Lo suka sama Rio?” Anggi memotong kalimat
Nia
Nia tersentak ”Hah?”
”Lo suka Ya sama Rio?” Anggi mengulang
kalimatnya
Mulut Nia mendadak terkunci. ”Suka sama
Rio?” tanyanya pada dirinya sendiri. Nia mendadak bingung ”mungkinkah?” sedetik
kemudian muncul penyangkalan dalam dirinya ”ga mungkin! Sekalipun mungkin, itu
gaboleh terjadi”
”Gue rasa lo suka sama Rio tapi diri lo sendiri pun ga
menyadari hal itu” ujar Anggi. Melihat sikap Nia yang selama ini tak pernah
begitu sesemangat ini jika menceritakan soal cowok tapi kali ini berubah
drastis. ”Ya, pernah ga terlintas di pikiran lo, jangan-jangan Rio nanggepin lo selama ini karena dia
pikir lu itu Mala? Yaa secara kan kata lo dulu merka itu smsan dan cukup deket
gitu”
Kata-kata Anggi tepat menusuk jantungnya.
Ia tersenyum lirih ”pernah....”
”Kalo seandainya kenyataanya emang kayak
gitu, dan Rio akhirnya jatuh cinta sama Mala karena sosok lo yang selama ini dia pikir itu Mala. Gimana?”
Nia terdiam, tenggorokannya terasa
tercekat. Perasaan sesak itu muncul lagi. Untuk waktu yang sekian lama ia
tenggelam dalam kebisuannya, dengan senyum hampa dia menjawab ”Bukannya itu bagus kan?”
”Sekarang gue tanya sama lo Ya. Apa lo bener-bener ga ada perasaan sama Rio?”
”Udahlah, gausah ngelantur”
”Well, ini cuma perumpamaan. Seandainya
tiba-tiba dia tau elo dan dia jatuh cinta sama lo terus dia ngungkapin perasaannya ke lo gimana?”
”Mungkin bakal gue tolak. Ga mungkin
banget deh kayaknya kalo gue harus nyakitin Mala. Sahabat gue sendiri”
”Sekalipun hal itu bakal nyakitin diri lo sendiri?”
”Kenapa harus sakit sih Nggi?”
”Oke, gini ya dan kalo seandainya lagi Rio
tahu soal ini semua, Rio tahu kalo lo cuma disuruh sama Mala
untuk nyari tahu kabarnya Rio doang yaa seenggaknya itu rencana awalnya kan
sebelum perasaan lo berubah? And then Rio malah jadi benci
sama lo karna ngebohongin dia terus dia gak mau kenal lo lagi. Gimana perasaan lo?”
Nia tertunduk. Anehnya ada perasaan yang
beda dalam hatinya ”seandainya Rio pergi dan membenci gue juga ga mau kenal gue
lagi?” ”seandainya gue ga bisa deket sama Rio lagi apa gue bisa membiasakan
dirinya tanpanya seperti dulu?” tanyanya pada hati kecilnya. Tapi lagi-lagi
penyangkalan itu pun muncul ”Terus kenapa kalo Rio pergi? Toh sebelumnya memang
kan kita ga saling kenal jadi apa salahnya kalo nanti gue harus seperti dulu
lagi sesaat sebelum gue kenal dia” pikirnya
”Yaa mungkin gue bakal sedikit nyesek aja
sih kalo dibenci but it’s okay mungkin itu konsekuensi buat gue” Nia berusaha
meyakinkan Anggi, meyakinkan dirinya sendiri juga. Berusaha menghilangkan
sekecil apapun harapan yang timbul di dalam hatinya
”Really? Yaudah lah mungkin emang lo belum sadar”
Nia terdiam ”Dika ga pernah nanyain gue ke
lo Nggi?” tanyanya
”Engga, Ya. Kalian kenapa jadi diam-diaman
gini sih?”
”Saat bibir ga mampu lagi buat bicara, gue
rasa diam adalah satu-satunya cara”
”Tapi diam ga nyelesain masalah Ya”
”Tapi seenggaknya diam ga akan nambah
masalah kan?”
Anggi tak lagi menjawab Nia, rasanya ia juga
lebih baik diam agar tak menambah masalah
...
“Lo kenapa La? Sumringah bener?” Tanya
Okta saat mereka hendak menuju musholla sekolah
“Engga apa-apa kok Ta, lagi happy aja”
“Cerita dong La. Ada kejadian
apaan sih?”
”Aduuh gak ada apa-apa kok cuma lagi
goodmood aja nih, okey ga usah kepo gitu ah” Mala tersenyum singkat mencoba
meyakinkan Okta ”Yaudah lo sholat gih, gue lagi halangan jadi gue tunggu di
sini aja ya”
”Yaudah tungguin ya jangan kemana-mana”
Mala mengangguk pelan diiringi dengan Okta
yang melangkah masuk ke dalam Musholla. Kemudian Mala duduk di kursi samping
Musholla. Tangannya merogoh saku bajunya, mengambil handphone Nia dan seperti
biasa membaca sms dari Rio. Smsnya masih sama seperti kemaren hanya berisi
curhatan Rio belaka. Saat hendak memasukkan kembali handphone itu ke sakunya
tanpa sengaja Mala membuka pesan dari nomor lain di handphone Nia. Mala
tersentak, mulutnya mendadak bungkam seribu bahasa, hatinya berkecamuk
”Woi La, ngapain? Yuk balik ke kelas”.
Kehadiran Okta memecah lamunannya. Mala mencoba mengontrol perasaannya kemudian
mengikuti Okta berlalu meninggalkan musholla
”Ya
Tuhan apa yang aku lakukan ini salah atau benar? Aku masih sangat menyayangi Rio tapi kenapa dengan mudahnya sekarang kami seperti
orang yang tidak pernah kenal sama sekali? Jujur, sebenarnya aku sangat takut
bila suatu saat nanti Nia lebih dari sekedar orang asing bagi Rio. Dan bila itu
benar-benar terjadi, mampukah hamba untuk ikhlas?” gemetar tangannya
menggenggam handphone Nia. Ada sesuatu yang telah diketahui oleh Mala yang
tidak diketahui oleh Nia.
...
Adis
berjalan sendirian di basement tempat parkir kendaraan bermotor SMA Destrict.
Kevin mengajaknya pulang bersama hari ini. Namun ada yang aneh disini. Suasana
di basement sangat gelap bahkan ia beberapa kali tersandung
“Ini
beneran basement? Kok gaada tanda-tanda kehidupan gini sih?” ia menoleh ke
sekeliling “Motor atau mobil anak-anak yang lain juga ga ada. Bukannya disini
tempat parkirannya ya? Masa iya gue nyasar?” perasaan Adis semakin tak enak “Ah
gue balik lagi ajadeh” baru saja Adis hendak memutar badan tiba-tiba ia melihat
setitik cahaya berwarna merah dari kejuhan, samar-samar cahaya itu membentuk
sesuatu. Adis penasaran dan mendekati sumber cahaya itu perlahan-lahan
Semakin
dekat simbol yang ditunjukkan cahaya itu semakin jelas. Cahaya merah itu
membentuk sebuah hati. Adis semakin tak mengerti dengan ini semua. Perlahan
Adis melihat ada seseorang yang keluar dari dalam cahaya itu. “Kevin?” tanyanya
Kevin
keluar dari cahaya itu dengan membawa seikat bunga mawar putih di tangannya.
Kemudian ia menunjuk ke suatu arah, meminta Adis untuk melihat ke arah itu.
Adis
menuruti keinginan Kevin, ia pun menoleh dan betapa kagetnya ia saat melihat
sebuah tayangan film yang berisi gambaran wajahnya. Ya, semuanya adalah foto
dirinya. Ekspresi wajah dirinya saat sedang tersenyum, tertawa bahagia,
ketakutan, bingung, terkejut. Semuanya terekam di situ
“Itu…
foto waktu kita jalan-jalan?” tanya Adis
Kevin
mengangguk. Dan di akhir film itu ada tulisan
Bersamaku,
kamu akan bisa tertawa lepas, lebih dari yang ada di foto ini
Bersamaku,
kamu takkan merasa ketakutan karena aku akan melindungimu
Bersamaku,
kamu takkan kebingungan karena aku akan selalu menuntunmu
Bersamaku,
kamu akan selalu terkejut dengan surprise-surprise kecil dariku
Jadi….
Maukah kamu bersamaku?
Adis
menutup mulutnya. Ia tak mampu berkata apa-apa lagi. Ini semua sungguh
membuatnya terharu. Kemudian Kevin menghampirinya, bertekuk lutut di hadapan
Adis
“Will
you be a part of my life?” tanyanya
Pecah!
Adis semakin tak bisa berkata apa-apa. Tangannya gemetar bukan main, jantungnya
berdetak cepat tak beraturan. Ia benar-benar tak percaya bahwa orang yang
sedang bertekuk lutut di hadapannya saat ini adalah Kevin
“Dis,
will you?” Kevin kembali bertanya
Adis
benar-benar tak mampu bicara, suaranya tak bisa keluar. Ia pun akhirnya hanya
bisa menjawabnya dengan anggukan kepala yang kemudian disambut dengan pelukan
hangat dari Kevin.
Seketika
lampu basement dinyalakan setelah itu terdengar teriakan riuh dari para siswa/i
kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 yang bersembunyi dibalik tembok-tembok. Nia
menghampiri Adis dan Kevin dan memeluk mereka “Congrats for you guyss” kemudian
Adis memanggil yang lainnya dan berpelukkan bersama.
Di
tengah suasana bahagia ini, secara tak sengaja pandangan mata Nia dan Andika
bertemu. Baru saja Nia ingin tersenyum, Andika sudah terlanjur memalingkan
wajahnya. Nia pun hanya bisa menarik nafas dan seolah tak terjadi apa-apa
…
“Ya,
teleponnya diangkat dong. Berisik! Malem-malem gini malah nelpon!”
“Iya
kak iyaa” Nia mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar
handphonenya “Rio?”
“Hallo
assalamualaikum” sapa Rio di ujung sana
“Wa’alaikumsalam.
Kenapa?”
“Emm..
besok libur kan? Jalan yuk?”
“Lo
ga ada kata-kata lain apa? Gue cape ya Yo harus ngedenger kalimat ini terus.
Jawaban gue masih sama. Tetep engga!”
“Emang
kenapa sih Ya? Yaudah minimal gue tau deh lo sekolah dimana”
“Pertanyaan
ini lagi. Yo, mau lo tanya
berapa ribu kali pun jawaban gue tetep sama kayak kemaren. Udahlah gausah
hubungin gue lagi”
“Oke
kalo itu mau lo La. Kenapa
harus ngeles mulu sih?”
“Apa
kata lo?” Nia tersentak. Sekujur tubuhnya melemas, tenggorokannya tercekat,
lidahnya terasa keluh ‘La? Mala?’ jadi dugaan dia dan Anggi benar?’, batinnya
“Gue
Nia bukan ‘La’!! Jangan pernah hubungin gue lagi, anggap kita ga pernah kenal”
Nia memutus telepon. Tangisnya pecah. Ini batas dari pertahanan dirinya. Ini
akhir dari segala penyangkalan dalam dirinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya
ia merasakan cinta dan patah hati secara bersamaan.
“Tuhaaan,
aku gak pernah nyangka akhirnya akan sesakit ini. Aku terlalu naif berfikir
bahwa semuanya berada di bawah kendaliku, bahwa tidak akan ada yang berubah,
termasuk perasaan ini. Aku terlalu……. bodoh! Benar benar bodoh” Nia masih
terisak. Diraihnya pigura kecil di dekat tempat tidurnya. Dipandanginya cetak
foto dua gadis sebaya sedang tersenyum dengan riangnya di sana. Senyum yang
polos mengembang dengan indahnya “Maafin gue La.. maaf karena gue gak bisa
bener-bener ngebantu lo. Maaf karena perasaan yang tak terduga ini merusak
segalanya. Gue gak bisa lagi berhubungan sama Rio, La. Gue gak mau nyakitin
lo….. dan mungkin nyakitin diri ini juga”
…
“Ga
kok gapapa”
“Ada
yang mau gue omongin La. Soal Rio”
Mala
tersentak “Rio? Kenapa?”
‘Semoga
ini keputusan yang tepat! Lo harus lakuin ini Ya’, batinnya. Nia menarik nafas
dalam-dalam “Gue kayaknya ga bisa lanjut smsan ama Rio lagi deh”
“Oh
yaudah”
Nia
mengernyitkan dahinya. Sesingkat itu jawaban Mala?
“Udah
kan gak ada yang mau diomongin lagi? Gue duluan. Dah”
“Tunggu
La” Nia menarik tangan Mala “Apa gue udah ngelakuin suatu kesalahan? Gue
ngerasa ada yang beda dari lo.
Kasih tau gue La gue salah apa?”
Mala
tersenyum sinis “Ini salah gue kok. Gue yang udah ngebuat lo terlibat terlalu jauh” Mala melepaskan
genggaman Nia dan berlalu pergi meninggalkan Nia
Saat
Nia hendak mengejar Mala tiba-tiba handphonenya berbunyi mengisyaratkan pesan
masuk. Ia menghentikan langkahnya dan melihat ponselnya. Betapa kagetnya Nia
saat ia membaca pesan tersebut
Rio
(08*********) - Gue udah tau siapa lo. Nama panjang lo, rumah lo, dan bahkan
wujud lo haha jadi gak ada
alasan lagi buat nolak jalan bareng gue kan Ya?
DEG!!!
Jantung Nia berdegup kencang, tak beraturan. Tangannya gemetar, keringat dingin
mengucur diseluruh tubuhnya laksana orang yang baru saja mendapat sebuah teror
pembunuhan. Sesaat Nia mencoba membuat penyangkalan lagi “pasti Rio cuma
bercanda, it’s so impossible. Gimana bisa dia tau gue?” selang beberapa menit
kemudian, sebuah sms masuk lagi
Rio
(08*********) - nanti malem gue tunggu lo
di depan toko yang ada di deket rumah lo. Gak ada lagi alasan buat gak dateng
Ya. Gue bakal tetep nunggu sampe lo dateng. Gue gak bawa handphone, jadi gue
harap lo bener-bener dateng.
DEG!!!
Kali ini jantungnya berdetak benar-benar tak karuan. “Dateng nemuin Rio? Ya
Tuhan mimpi apa gue semalem? Masalah Mala yang tiba-tiba berubah sikapnya sama
gue aja belom selesai udah mau ditambahin lagi” batinnya. Pikirannya kacau,
hatinya berantakan seperti sebuah rumah yang baru saja dilalui oleh angin
puting beliung yang meluluhlantahkan semua ruangan yang ada di dalamnya.
Termasuk semuanya yang ada di dalam ruangan itu. Membuat semuanya berantakan
tanpa sisa.
...
Mala
memasuki kamarnya, dengan lunglai ia menghempaskan tubuhnya ke kasur berharap
seluruh masalahnya juga akan ikut terhempas bersamanya. Ia memejamkan matanya.
Merasakan getaran hebat dalam tubuhnya, perlahan bulirab air mata meluncur dari sela matanya. Andai saja ini semua hanya
mimpi buruk yang ketika ia membuka matanya semua itu akan menghilang tanpa
jejak
“Hal
yang gue takutin bener-bener terjadi? Kenapa Nia bisa setega ini sama gue? Lo
tau perasaan gue ke Rio gimana kan Ya? Kenapa ya kenapa? Gue sahabat lo kan?
Kenapa lo lakuin hal ini?” pikirnya, tapi di sisi lain batinnya juga mengatakan
“Gue yang membiarkan Nia terlalu jauh berhubungan sama Rio, gue yang membiarkan
Nia mengenal Rio lebih dalam, gue yang membiarkan mereka menjadi terbiasa
bersama. Gue yang salah!” Mala mulai terisak, rasanya tak sanggup berada di
posisi ini.
Ketika
‘cinta’ menyentuh ‘persahabatan’ harusakah salah satu diantaranya gugur? Ketika
dua hal yang harusnya dapat berpadu padan dengan indahnya justru malah menjadi
cambuk yang menyakitkan, haruskah kita melepaskan salah satu diantaranya?
“Aku sakit dalam diam
Terhempas hingga titik alam
Melawan kelamnya kegelapan dibalik indahnya
malam
Imbalan yang ku raih
Bagi ku amat sangat pedih
Pedih ketika rasa harus memilih
Sakit untuk menyimpan kasih
Atau pergi dengan hati perih” - unknow
...
“Pergi,
enggak, pergi, enggak, pergi… duh masa pergi sih” ini sudah kelopak bunga ke
sekian kalinya, tapi Nia masih belum bisa menetapkan pilihan. Sang Mama yang
sedari tadi memperhatikan tingkah anak gadisnya dari teras pun tak kuasa
menahan senyum, perlahan ia menghampiri gadis bungsunya itu
“Kamu
lagi kenapa? Liat tuh banyak bunga berserakan gini”, tegur Mamanya
“Eh
iya maaf Ma, nanti aku bersihin kok”
“Ada
masalah apa sih? Coba cerita sama Mama” ia mengecup puncak kepala anaknya itu
dengan penuh kasih sayang
Nia
menatap mata Mamanya kemudian menarik nafas dengan yakin lalu menceritakan
semua permasalahannya. Dari awal niatnya untuk menolong Mala hingga kini saat
hatinya mulai memliki perasaan ‘spesial’ untuk Rio.
Setelah
Nia selesai menceritakan kegundahan hatinya, sang Mama tersenyum singkat lalu
membelai rambut Nia “Mama ga nyangka deh sekarang anak mama udah remaja. Udah
mulai mengenal ‘cinta’. Mungkin gak lama lagi bakal ada cowo yang dikenalin ke
Mama nih” ujarnya “Sayang, Mama seneng kamu mau terbuka sama mama termasuk soal
hati ini. Sekarang Mama Tanya sama kamu, kamu lebih sayang Mala atau Rio?”
Nia
bingung untuk menjawabnya “Aku sayang Mala Ma, tapi rasa untuk Rio itu bukan
rasa sayang yang sama seperti halnya rasa sayang untuk Mala. Ada sesuatu yang
beda disini saat aku mengingat Rio Ma” Nia menunjuk dadanya “bahkan ketika
mendengar suaranya atau ketika ada orang yang menyebut namanya pun seperti ada
suatu reaksi yang aneh di sini Ma. Rasanya jantung ku berdetak lebih cepat”
“Sayang,
berarti kamu benar-benar telah jatuh cinta sama Rio. Tapi apa kamu siap untuk
memlih Rio? Saat kamu memutuskan untuk memilihnya, saat itu juga kamu harus
siap kehilangan Mala, sahabat kamu”
“Apa
aku gak bisa mendapatkan keduanya tanpa harus mengorbankan salah satu diantaranya
Ma?”
“Hidup
itu adalah pilihan. Kadang kita harus tetap memlih meskipun kita tidak ‘ingin’
memilih atau bahkan kita tidak ‘bisa’ memilih diantara pilihan tersebut. Mama
gak mau ikut campur dalam pilihan kamu. Apapun itu Mama akan mendukung kamu. Kamu
gak perlu takut ‘salah memilih’ karena kesalahan terkadang memang kita butuhkan
agar kita belajar untuk lebih baik lagi. Sebelum memperoleh hasil yang benar
terkadang kita harus memperbaiki beberapa kesalahan terlebih dahulu”
Nia
tertunduk, pikirannya kacau berterbangan kesana-kemari. Sang Mama kemudian
membelai lembut lagi rambut Nia “Coba tutup dulu pikiran kamu, biar hati kamu
yang menjawabnya” ujar sang Mama sambil berlalu meninggalkan gadisnya.
Nia
melihat jam yang melingkar di tangannya. Ia sudah terlambat sekitar dua puluh
menit dari waktu yang Rio minta. ‘Mungkin gak sih kalau dia masih nunggu?’
batinnya.
“Ma,
aku nginep di rumah Anggi ya?”
“Ini
udah malem, kamu mau ke sana sama siapa? Papa kan lagi di luar kota”
“Aku
minta jemput Anggi. Boleh ya Ma? Kan besok libur”
“Yaudah,
kamu kabarin Anggi aja”
“Oke
siap” ucapnya sambil mengecup pipi Mamanya, setelah itu Nia pun mengambil
tasnya dan berlalu pergi. Sebelumnya Nia berniat ingin mengecek apakah Rio
masih menunggunya terlebih dahulu.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar