Dari
kejauhan tampak seorang pria berpostur tubuh tinggi, kurus dengan rambut
sedikit berantakan duduk di atas motor, matanya menerawang ke sekitar hingga
akhirnya bibirnya melengkung manis saat matanya menatap sosok yang telah
ditunggunya daritadi.
Nia
tertegun saat mendapati lelaki itu benar-benar tengah melihatnya dan tersenyum
padanya. Sejenak ia ragu untuk melanjutkan langkahnya, namun sepertinya sudah
kepalang tanggung kalau harus putar arah. Mata orang itu telah terlanjur
menangkap sosoknya, bahkan telah terlanjur mengunci cinta dalam hatinya.
Perlahan Nia pun melanjutkan langkahnya mendekat pada pria itu.
“Gue
kira lo gak bakal dateng” ujar Rio memulai pembicaraan
“Tadinya
emang pingin begitu”, jawab Nia sekadarnya
“Tapi
gak tega kan sama gue?” Rio menaikkan alisnya menggoda Nia
“Idihh
pede banget sih lo?” jawab Nia ketus, namun dalam batinnya mengiyakan ucapan
Rio
“Haha
udah yuk naik” Rio menyalakan mesin motornya dan memberikan isyarat pada Nia
untuk duduk dibelakangnya
“Mau
ke mana?”
“Kepo.
Ikut aja kenapa sih”
“Ck!”
Nia berdecak namun akhirnya menuruti perintah Rio
Rio
tersenyum geli “Gak enak kan kalo nanya serius dijawabnya kepo?”
“Gak
enak kasih kucing!” jawab Nia ketus
“Iye
dah kucing…..talo” gumam Rio pelan
Nia
tersentak “Hah? Apaan?”
“Enggaa”
jawab Rio
Nia
mengerutkan dahinya “Gak jelas”
Setelah
dilihatnya Nia sudah bertengger manis di belakang jok motornya, Rio pun mulai
menjalankan motornya meliuk-liuk menelusuri jalan
“Btw
di jalan itu rumahnya Mala loh. Masuk ke dalem dikit langsung rumahnya deh”
ujar Nia sambil menunjuk ke arah suatu jalan
“Oooh.
Deket dong dari rumah lo”
“Yaiyalah.
Mau mampir gak lo? Tapi gue tunggu di sini aja. Atau engga ntar gue balik deh”
“Engga”
jawab Rio singkat. Nia pun tak ingin bertanya lebih dalam lagi. Ia takut… takut
melukai hatinya sendiri
“Btw
Ya, kemaren gue kerumah mantan gue?” ujar Rio kemudian
“Terus
dianya ga ada?”
“Kok
lo tau? Perasaan gue belom cerita deh”
“Insting
seorang wanita” jawab Nia seadanya
“Idiih
gaya banget lo hahaha”
Tak
beberapa lama mereka tiba di suatu tempat makan. Setelah memarkir motor, mereka
pun masuk ke tempat makan itu
“Mau
pesen apa Ya?” Rio melihat-lihat daftar menu yang dibawakan pelayan
“Jus
alpukat aja. Gue udah makan”
“Serius
Ya. Gue yang traktir. Kan gue yang ngajak. Next time baru kita ganti-gantian”
“Next
Time?” Nia mengulang kalimat terakhir Rio
“Iya
lah Ya next time. Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi”
“Next time? Hhfftt.. Yo, do you know mungkin
ini yang pertama dan yang terakhir. Karena gue gak mau semakin jatuh ke dalam
apa yang bahkan gue takut untuk menyebutnya cinta” batinnya “gue emang udah
makan kok. Mau minum aja”
“Yaudah”
Rio pun memanggil kembali sang pelayan lalu membacakan pesanannya “Jus
alpukatnya 2 sama ayam bakarnya satu ya mbak”
Tak
beberapa lama pesanan mereka pun datang.
“Mau
gak Ya? Nih berdua sama gue makannya. Gede loh ini dadanya. Dada ayam loh Ya
bukan dada yang lain” ujar Rio menawarkan ayam bakarnya
Nia
tak kuasa menahan tawa “Kaco lo ah. Iyalah tau gue juga dada ayam masa dadanya
yang bakar dada ayam”
“Ah
kok jadi main dada sih. Udah ah gue mau makan” Rio pun menyantap makanannya
dengan lahap. Nia hanya memandanginya dengan hikmat sambil sesekali tersenyum
kecil saat Rio tersedak atau kepedesan
“Alhamdulillah
kenyang Ya” ujar Rio setelah selesai menghabiskan makanannya “Gue mau cuci dada
dulu ya eh tangan maksudnya” lanjutnya sambil bangkit menuju toilet
Nia
hanya tertawa dan mengangguk kecil. Saat Rio pergi ke toilet, diam-diam Nia
mengirim sebuah pesan kepada seseorang dan setelah Rio kembali dengan cepat dia
memasukkan kembali handphonenya ke saku celananya
“Masih
mau disini atau mau jalan ke tempat lain?” tanya Rio
“Di
sini aja dulu. Emm… gue mau ngomong”
Rio
mengernyitkan dahinya “Ngomong apa?”
Nia
menarik nafas panjang “lo harus lakuin
ini Ya. Karena ini semua emang udah semestinya berakhir” batinnya “To the
point aja ya Yo. Gue cuma pingin lo tau yang sebenernya. Pertama kali kita
smsan dan gue bilang kalo gue salah nomor itu gue bohong. Gue dapet nomor lo
dari Mala dan gue sms lo pun karena Mala yang minta sama gue karena Mala kangen
sama lo tapi dia tau gak mungkin baginya untuk memulai lebih dulu lagi”
“Maksud
lo?” Rio berusaha mendapatkan penjelasan lebih
“Lo
ngerti Yo maksud gue”
“Kenapa
kalian ngelakuin hal ini ke gue? Niat banget ya lo berdua?” tanya Rio dengan
sinis
“Karna
waktu Mala piker rasanya gak mungkin kalo dia mulai ngehubungin lo duluan
setelah kalian lostcontact”
Rio
berdecak “Kenapa gak mungkin? Kenapa harus melibatkan lo kayak gini?” tanyanya
“Alasan
klasik cewe Yo, bisa gengsi, malu, takut, semuanya jadi satu”
“Ribet
banget jadi cewe” Rio mendengus kesal
“Lo
lagi ngomong sama cewe loh Yo”
“Oke
gak perlu diperpanjang, jadi selama ini lo smsan sama gue itu atas suruhan
Mala? Smsan kita selama ini itu atas campur tangan Mala?”
“Gak
semua atas perintah Mala. Mala cuma minta gue untuk ngetes nomor lo aja,
kira-kira bener nomor lo bukan selebihnya kita smsan ya itu pure dari gue. Soal
gue gak ngasih tau identitas ya itu emang tadinya kesepakatan gue sama Mala”
“Lo
berdua itu apa-apaan sih? Lo fikir gue buronan yang harus diselidikin pake agen
rahasia?! Hah?! Kalian fikir gue apaan? Gue ngerasa dimainin Ya kalo gini
caranya” Rio mulai emosi. Diaturnya deru nafasnya agar sedikit lebih tenang
menghadapi situasi ini. Setidaknya saat ini dia harus sadar kalau yang ada di
hadapannya ini adalah seorang wanita yang notabene perasaannya lebih sensitive
Sementara
itu Nia tertunduk, ia teringat ucapan Anggi waktu itu “seandainya Rio tau kalau lo itu disuruh Mala dan Rio jadi benci sama
lo gimana?” ah kata-kata itu tiba-tiba terngiang di telinganya. Jauh di
dalam lubuk hatinya ia tak ingin hal itu terjadi. Tapi kalaupun itu harus
terjadi sepertinya itu memang sudah menjadi konsekuensi baginya
“Maaf
Yo, gue ataupun Mala sama sekali gak bermaksud kayak gitu. Mala cuma kangen
sama lo dan gue sebagai sahabatnya cuma pingin ngebantu dia aja”
“Tapi
ini menyangkut perasaan gue Ya”
“Maaf
Yo, maaf banget. Sekarang gini, terlepas dari persoalan ini sebenernya gimana
perasaan lo ke Mala? Lo sayang kan sama dia? Gue pingin bantu kalian berdua. Lo
boleh marah sama gue tapi please jangan sama Mala”
Kali
ini ganti Rio yang menarik nafas panjang. Ia mengalihkan pandangannya dari Nia
“Iya gue sayang sama Mala” ujarnya dengan nada pelan
“Yaudah
kalo gitu nanti gue bakal bantu……”
“Gue
belom selesai ngomong Ya” Rio memotong ucapan Nia. Ditatapnya tajam mata gadis
yang ada di hadapannya itu “Gue sayang Mala, dan jujur gue ngerasa kehilangan
waktu dulu gue sama dia sempet lostcontact tanpa alasan yang jelas. Tapi….” Rio
menggantung kalimatnya “suatu ketika ada sms kosong yang masuk ke handphone gue
dari nomor yang gak gue kenal. Yang gue fikir itu ‘Mala’ tapi orang itu mengaku
namanya ‘Nia’. Well gue fikir itu cuma akal-akalan Mala aja jadi gue tetep
lanjut sms dia terus-terusan”
Nia
tersentak. “Lagi? Dugaan Anggi lagi-lagi
benar? Dari awal Rio menyangka gue Mala?” batinnya berkecamuk, namun Nia
tetap berusaha tenang di depan Rio meskipun bulir air mata sudah mulai
membendung
“Gue
ngerasa nemuin rasa nyaman saat gue smsan sama orang yang gue fikir itu Mala. Bahkan
lebih nyaman dari awal-awal dulu gue smsan sama Mala. Gue berfikir Mala udah
lebih dewasa ya sekarang. Rasanya gue makin nyaman sama dia dan otomatis hal
itu juga bikin gue tambah sayang sama dia. Kadang gue suka merhatiin dia dari
kejauhan dan terlintas lagi di fikiran gue ‘kok bisa ya dia akrab sama gue di
sms tapi belaga gak kenal gini di sekolah?’ gue pun jadi penasaran dan akhirnya
nyari tau dengan cara gue sendiri karena gue gak bisa tanya langsung ke yang
bersangkutan. Dan lo tau Ya betapa kagetnya gue ketika gue tau kalo Mala yang
dulu dan orang yang gue fikir itu Mala ternyata adalah dua orang yang berbeda”
“Lo
kecewa ya kalo ternyata ‘Nia’ itu bukan Mala?” tanya Nia
Rio
menatap lekat-lekat mata Nia “Lebih dari itu Ya. Gue bukan sekedar kecewa,
bahkan gue bingung siapa yang sesungguhnya gue sayang………. Mala, atau Lo”
Nia
tersentak dan kaget bukan main mendengar ucapan Rio. Seketika sekujur tubuhnya
bergetar hebat namun mulutnya tetap terkunci rapat. Matanya semakin
berkaca-kaca.
“Gue
emang sayang sama Mala. Tapi gak bisa gue pungkiri juga kalo gue ngerasa bener-bener
nyaman sama sosok elo Ya. Dan ketika gue tau kalian adalah dua sosok yang
berbeda, perasaan gue berkecamuk Ya. Mungkin ini yang dimaksud ‘jatuh di dua
hati’?”
Tenggorokan
Nia semakin terasa tercekat. Pikirannya melayang-layang entah kemana. Bahkan ia
bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia menarik nafas dalam-dalam
seakan-akan oksigen di sekitarnya akan segera habis “Yo… gue yakin rasa nyaman
lo ke gue itu hanya karena lo nganggep gue itu Mala. Intinya lo sayang Mala
kan? Itu kenyataannya. Itu faktanya. Gue cuma minta satu hal Yo, tolong jangan
pernah biarin Mala lepas dari genggaman lo sama seperti halnya lo ngebiarin
mantan lo dulu pergi dari kehidupan lo”
“Tapi,
Ya….”
“Cukup
Yo!” potong Nia. “Satu hal yang pasti gue mau semuanya selesai. Sebelumnya kita
gak saling kenal kan? Jadi lebih baik sekarang kita kembali ke posisi semula.
Satu hal yang pasti, gue gak pernah nyesel kenal sama lo. Gue yakin ini cara
Tuhan but mendewasakan kita. Gue, lo dan Mala” Nia bangkit dari tempat duduknya
“Gue pamit Yo” ujarnya
“Apa
sedikit pun di hati lo gak ada rasa buat gue?”
Nia
tersentak, ditahannya mati-matian air matanya agar tidak meluncur keluar. Agar hatinya
tidak goyah “Gue sayang kok sama lo... tapi Mala jauh lebih dulu menyayangi lo”
setelah itu Nia benar-benar pergi meninggalkan Rio. Dikeluarkannya ponselnya
kemudian menelepon sesorang yang tadi dikiriminya sebuah pesan “Halo, Anggi
jemput gue di depan sekarang! Tut…tut”
tanpa perlu menunggu jawaban dari Anggi segera ditutupnya telepon itu kemudian
dengan langkah cepat Nia semakin menjauh, dan akhirnya benar-benar hilang dari
pandangan.
...
“Sekarang
lu ceritain deh sama gue Ya sebenernya tuh apa yang udah terjadi sama lo dan
Rio? Kenapa lo jadi nangis gini? Apa yang udah Rio bilang ke lo sampe bikin lo
jadi kayak gini?” sambil memberikan sekotak tissue kepada Nia, Anggi memburunya
dengan pertanyaan-pertanyaan
Dengan
tangis yang masih terisak Nia menceritakan semuanya pada Anggi termasuk tentang
keputusannya untuk mengakhiri hubungannya dengan Rio
“Ya,
gue yakin Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik. Tuhan mempertemukan dan
memisahkan lo dengan Rio pasti ada alasannya. Tuhan ingin menguji persahabatan
kalian”
“Sakit
Nggi, sakit banget. Apa cinta memang sepahit ini?”
“Gue
gak tau karena gue emang belom ngerasain rasanya jatuh cinta seperti lo
sekarang ini. Tapi yang gue tau pasti, di setiap kesedihan Allah pasti akan
menyelipkan sedikit kebahagiaan dan pelajaran berharga di dalamnya. Ya, lo
sahabat gue, gue tau lo orang baik dan gue yakin Allah pun udah nyiapin yang
terbaik buat lo. Mendingan sekarang lo sholat deh buat nenangin hati lo”
“Makasih
banyak ya Nggi. Yaudah gue ke musholla dulu ya”
Nia
menuju musholla pribadi milik keluarga Anggi, kemudian ia mengambil air wudhu
dan melakukan sholat istikharah meminta petunjuk kepada Allah SWT
“Ya
Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Sesungguhnya Engkaulah pemilik
alam semesta ini dan segala rahasia yang ada di dalamnya. Ku serahkan seluruh
hidupku hanya pada-Mu ya Rabb. Tuntunlah aku agar aku tidak tersesat dalam
kenikmatan dunia yang fana ini. jagalah diri ini agar tidak menyakiti orang
lain. Dan jagalah hati ini sampai akhirnya nanti Engkau memperteukanku dengan
orang yang tepat, amiinn ya robbal alamiin”
...
“Kebo
banget sih lo jam segini baru bangun” ujar Anggi sambil menyisir rambutnya
“Lo
bangunnya pagi banget sih Nggi” Nia mengucek-ngucek matanya “Duhh mat ague
berat banget nih”
“Ya
jelas berat lah orang bengkak gitu. Untung hari ini libur jadi lo gaperlu repot
nyembunyiin mata lo itu. Yaudah mandi sana”
Baru
saja Nia hendak beranjak ke kamar mandi, handphonenya berbunyi
“Siapa
ya? Nyokap?” tanya Anggi
“Rio”
ujar Nia lemas
“Angkat
aja, lo ga boleh lari dari kenyataan. Lagian ga baik juga kan mutusin tali
silahturahmi?”
“Tapi
Nggii…..”
“Tau
ga? Move on yang sebenarnya itu bukan dengan maksain diri lo buat ngelupain
semua yang udah pernah terjadi. Ingatan manusia itu hebat semakin ingin dilupain
malah semakin keingetan. Move on yang sebenarnya adalah ketika lo masih punya
rasa yang sama tapi ketika lo ngeliat dia, lo sama sekali ga ngerasain sakit
dan bahkan lo bisa ikut bahagia ketika dia bahagia bersama yang lain”
”Butuh
waktu berapa lama ya buat bisa seperti itu?”
“Tergantung
dari keikhlasan hati lo, udah sekarang angkat dulu tuh telepon”
“Gue
loadspeaker deh nih ya” Nia menekan tombol answer di handphonenya kemudian juga
menekan tombol speaker “Hallo assalamualaikum. Kenapa Yo?”
“Waalaikumsalam.
Gue fikir lo ga mau angkat telepon dari gue lagi Ya”
“Ya
gak gitu banget juga sih. Kenapa ya, Yo?”
“Gak
apa-apa sih cuma mau ngetes aja lo masih mau ngomong sama gue atau engga. Emmm…
Ya, soal yang kemaren itu lo yakin sama keputusan lo?”
Nia
menarik nafas panjang kemudian menatap ke arah Anggi sejenak lalu memejamkan
matanya “Mungkin kemaren gue sedikit kebawa emosi. Gue mungkin ga bisa deket
sama lo kayak dulu tapi kita masih bisa temenan kok Yo”
“Ya,
apa sedikit pun di hati lo ga ada gue?”
“Yo,
udah ya cukup gue gak mau bahas ini lagi. Gue gak mau terlampau jauh Yo. Kita
jalanin masing-masing aja ya”
“Seandainya
dari awal gue tau lo dan Mala itu berbeda. Seandainya gue lebih dulu kenal lo….”
“Pengandaian
seperti apapun ga akan merubah kenyataan yang ada Yo. Kita cuma harus hadapi
ini. Gue yakin di balik ini semua pasti ada hikmahnya. Emm…. Udah dulu ya gue
mau pergi. Assalamualaikum” Nia memutus telepon “Maaf Nggi gue tau ga sopan
mutus telepon gitu aja tapi gue masih belom cukup kuat Nggi. Gue ke kamar mandi
dulu”
Anggi
hanya mematung menatap kepergian Nia
...
“La,
tumben hari libur gini lo ga main sama Ni, dll?” tanya Rasyid yang notabene
adalah saudara Mala sekaligus teman sekelas Nia
“Penting
banget ga sih buat lo?” jawab Mala ketus
“Wailah
segitunya banget. Ada apaan sih? Lagi ada masalah ya pasti?”
“Bukan
urusan lo! Udah ah gue bĂȘte lagian lo bukannya pulang gih sono ke rumah lo”
Mala pun berlalu meninggalkan Rasyid memasuki kamarnya
“Yeee
bolehnya ngusir lo. Tante Sri aja ga ngusir gue tuh yeee. Ngerem aja sono lo di
kamar ampe pecah tuh telor di pipi lo dasar chubby” gerutu Rasyid panjang lebar
“Gue yakin banget deh nih anak pasti lagi ada masalah. Biasanya kan tiap hari
libur tuh mereka ga pernah absent buat kumpul-kumpul” Rasyid melihat handphone
Mala yang tergeletak di atas sofa “Gue kepoin aja ah hahahha”
Rasyid
mencoba membuka chat Mala dengan Nia namun hasilnya nihil “Lah kok mereka ga
smsan kayak biasanya ya? Apaan nih ini mah sms udah dua minggu yang lalu. Basi
banget” Rasyid pun melanjutkan penyelidikannya pada chat Mala dengan Ziah dan
ia pun tercengang. Ia membaca dengan jelas tiap kalimat dari chat itu. “Dugaan
gue bener kan ternyata” ia pun segera menuju kamar Mala
“La,
gue masuk ya” Rasyid mengetuk pelan pintu kamar Mala
“Mau
ngapain sih? Mau pulang? Iya udah sana pulang ga usah pamit” sahut Mala dari
balik pintu
Rasyid
berdecak “Lo ga bisa kali lari dari kenyataan kayak gini. Childish tau ga
namanya”
Mala
segera membuka pintu “Apa kata lo? Tau apa sih lo? Gue remes ya tuh mulut lo!”
“Hoaammmm”
Rasyid berjalan melalui Mala dan merebahkan tubuhnya di atas kasur Mala “Lo kan
sahabatan ama Nia udah lama banget La. Gue yakin Nia juga pasti bakal
pertahanin lo kok”
Mala
duduk disamping Rasyid, ia menatap ke langit-langit “Kalo emang gitu, kenapa
dia bisa jatuh cinta sama Rio? Dia kan tau gue sayang sama Rio. Dan gue minta
tolong sama dia itu buat nyari tau kabar Rio bukan untuk jatuh cinta sama Rio.
Dia kan paham banget perasaan gue tapi kenapa….”
“Kita
bisa menahan amarah, kecewa, sakit hati, tapi kita ga akan bisa menahan untuk
jatuh cinta. Emang ada cinta yang bisa dicegah?” potong Rasyid “La, lo ga bisa
menghakimi Nia karena dia jatuh cinta sama Rio dan menganggap Nia ga menghargai
lo. Toh Nia udah ngikutin kemauan lo kan? Sekarang kalau rasa cinta tumbuh di
hati Nia itu bukan sepenuhnya salah dia kan? Lo pernah denger ga istilah ‘cinta
bisa tumbuh karena terbiasa’ ya mungkin itu yang dirasain Nia sekarang. Karena
terbiasa smsan sama Rio, berbagi cerita sama Rio tanpa sadar akhirnya Nia jadi
jatuh cinta sama Rio”
Bulir
air mata Mala perlahan mulai menetes. Rasyid mengusap kepala Mala perlahan “La,
ini semua cuma cara Tuhan untuk mendewasakan kalian. Untuk menguji persahabatan
kalian” Rasyid mencoba menghibur Mala
“Gue
ga tau lagi Id, ga tau kenapa gue ga bisa ikhlas kalo liat Nia sama Rio. Jangankan
ngeliat, ngebayanginnya aja bahkan gue ga berani. Kenapa harus Nia? Kenapa?!”
tangis Mala pecah
“Bukan
ga bisa La, tapi belum bisa. Belum bukan berarti Tidak. Lo cuma harus belajar
untuk mencoba menerima ini semua La”
...
“Kok
lo ga berangkat bareng Nia, La?” Adis celingukan mencari Nia “Nia telat?”
tanyanya lagi
Mala
hanya menarik nafas dan mengangkat bahunya kemudian berlalu memasuki kelas
meninggalkan Adis
Adis
mengerutkan dahinya “PMS kali ya?”
Tak
lama kemudian Nia datang, dari kejauhan Adis melambaikan tangannya. Melihat
itu, Nia pun mempercepat langkahnya
“Tumben
Ya ga bareng sama Mala?” tanya Adis saat Nia sudah berada di hadapannya
“Oh..
itu.. tadi gue kesiangan jadi gue sms Mala suruh jalan duluan aja” Nia terpaksa
berbohong padahal tadi ia sempat ke rumah Mala namun Mala ternyata sudah
berangkat lebih dulu
”Ohh gitu, kirain lagi berantem. Ahh udah
ah gue kan pengen cerita. Soal Kevin nih Ya ....” Adis pun berceloteh sambil
menggandeng Nia menuju kelasnya
”Ahh kayaknya bentar lagi mau bel masuk
deh Ya. Nanti istirahat gue sambung lagi deh. Gue balik ke kelas dulu ya byee”
Adis pun meninggalkan Nia di depan kelasnya dan berjalan kembali ke kelasnya
Nia hanya tersenyum melihat tingkah Adis
”kalo aja cinta ini ga harus melukai siapapun seperti halnya cinta Adis
terhadap Kevin” batinnya. Nia menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba
mengembalikan semangatnya yang seperti dulu kemudian ia pun memasuki kelasnya
bertepatan dengan bunyi bel masuk.
...
”Dika, gue mau ngomong” Nia akhirnya
memberanikan diri menyapa Andika terlebih dahulu. Namun bukannya mendapat
respon positif, ia malah mendapat pengabaian dari Andika
”Dik, please maafin gue” Nia mencoba
menggenggam tangan Andika namun Andika menepisnya
”Gue ga marah kok sama lo. Tapi gue
kecewa!” ujarnya kemudian pergi meninggalkan Nia
”Dika please maafin gue!” ujar Nia
setengah berteriak. Namun Andika tetap tak menoleh sedikitpun ke arahnya bahkan
berhenti pun tidak. Andika tetap pergi meninggalkan Nia
Nia tak sanggup lagi menahan air matanya,
ia menangis tersedu-sedu. Kevin yang memperhatikan mereka sedari tadi dari
kursinya pun akhirnya menghampiri nia dan memeluknya ”Kita ke taman belakang
yuk?” Kevin pun membawa Nia pergi
”Duduk sini dulu ya, gue beliin minum
dulu” ujar kevin setibanya mereka di taman belakang sekolah
Nia hanya menganggukan kepalanya singkat
”Udah jangan sedih lagi” Kevin mengusap
kepala Nia kemudian meninggalkannya sebentar untuk membeli minuman
Nia menatap ke arah sekitar, taman ini
adalah tempat favorit dia dan Andika untuk menghabiskan waktu bersama, bercanda
riang, bahkan Dika sering menyanyikan lagu-lagu ciptaannya sendiri untuk Nia
”Dik, apa lo lagi ada di sini juga sekarang? Apa lo lagi mengingat hal yang
pernah kita lakuin dulu bareng-bareng? Seenggaknya lo pernah menjadi matahari
gue sebelum sekarang lo menjadi badai buat gue”
Tak lama Kevin datang dengan membawa dua
gelas minuman, ia memberikannya segelas pada Nia ”Diminum dulu nih. Ya, Dika ga
beneran bermaksud nyakitin lo kok. Dia cuma lagi emosi aja. Percaya deh sama
gue” ujarnya mencoba menenangkan Nia
”Gue kangen banget sama Dika, baang.
Kangen banget. Kenapa orang yang biasanya memberikan kita kebahagiaan sekarang
malah menjadi orang yang menggoreskan luka di hati kita paling dalam?” tanyanya
lirih
”Kenapa sih kalian saling menyakiti diri
kalian sendiri kayak gini. Kalo sama-sama cinta kenapa harus saling melukai?”
”Cinta?”
”Iya, cinta. Ya, lo fikir apa seorang
sahabat biasa akan sebegitu marahnya saat tahu sahabatnya sedang dekat dengan
orang lain? Gue ga perduli ya siapa itu Rio dan gimana bisa dia dateng ke
kehidupan lo. Tapi yang jelas itu udah melukai Dika Ya. Menusuk hatinya sampai
ke bagian yang terdalam. Waktu lo suka sama Firman mungkin Dika masih bisa santai
karena Firman jauh. Tapi kali ini Rio, kakak kelas kita sendiri. Bahkan kalian
pernah jalan kan?”
”Darimana lo tau soal Rio bang?” Nia
bertanya dengan penuh keheranan
”Dari Dika. Dika nyelidikin lo diem-diem.
Dan sebenernya Dika ga bener-bener ninggalin lo, dia cuma bersembunyi. Dia
ngejaga lo dalam diam. Tiap malem dia sengaja naik motor gitu ke rumah lo, tapi
dia ga mampir, dia cuma ngeliatin jendela kamar lo dari depan pagar. Tapi suatu
malam dia liat lo keluar malem-malem, karena takut lo kenapa-kenapa di jalan
makanya dia ngikutin lo, tapi bukannya lo yang kenapa-kenapa malah hatinya Dika
yang kenapa-kenapa pas ngeliat lo keluar malem cuma buat nemuin Rio”
Nia terkejut mendengar penuturan Kevin, ia
benar-benar tak menyangka ternyata begitu besar cinta Andika untuknya.
”Ya, pernah ga Andika atau gue ngajak lo
keluar malem? Ga pernah kan? Tau ga kenapa? Karena kita paham cewe itu ga baik
keluar malem apalagi sama cowo. Makanya Dika marah banget liat lo berani keluar
malem cuma buat ketemu Rio”
Nia semakin tak sanggup mendengar semua
pernyataan Kevin. Ia benar-benar marah pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia
menyakiti seseorang yang justru selalu menjaganya selama ini? Tangis Nia pecah.
Ia benar-benar ingin meminta maaf pada Andika saat ini ”Kenapa sih Vin cinta
itu membutakan segalanya?” ujarnya dalam isak tangisnya
”Cinta ga buta kok Ya. Hanya saja cinta
mampu membuat kita menutup mata dari orang yang mencintai kita demi orang yang
kita cinta. Meski terkadang orang yang kita cinta tak lebih baik dari yang
mencintai kita”
...
”Nia sama Mala lagi kenapa sih? Kok
akhir-akhir ini gue ngerasa ada jarak ya diantara mereka? Tuh liat aja sekarang
mereka ga kumpul sama kita” ucap Rani di sela-sela makan siang mereka
”Gue juga ngerasa mereka aneh banget Ran.
Bahkan akhir-akhir ini mereka ga pulang bareng. Nia selalu pulang setelah Mala
pulang. Dan Nia juga kayaknya lagi berantem sama Andika deh” ujar Okta
Adis menghela nafas panjang ”Semua ini
gara-gara Rio” ujarnya
”Apa? Rio? Kok bisa?” tanya Ziah tak
percaya. Adis pun menceritakan semua yang dia tahu kepada para sahabatnya ini.
Persegi cinta antara Mala-Rio-Nia-dan Andika yang telah membuat mereka berempat
menjadi tersudut
”Itu yang gue tau dari Kevin. Makanya
sekarang tugas kita nih buat bikin Mala sama Nia baikkan. Kalo tugas kevin buat
mempersatukan Nia dan Andika” ucap Adis
”Berasa flashback ya Dis? Satu tipe tapi
beda cerita” ucap Okta
Adis sempat kaget mendengar ucapan Okta
namun perlahan bibirnya menyunggingkan senyum ”Iya ya Ta. Ganyangka yang
ngalamin ini bukan kita aja”
”Nah ini kalian kenapa lagi?” tanya Rani
heran
Adis dan Okta saling berpandangan ”Udah
saatnya mungkin Dis. Buat ngasih pelajaran sama Nia dan Mala juga. Kalo
persahabatan kita ini jauh lebih berharga” ujar Okta
Adis mengangguk mantap ”Kalo gitu Rani dan
Nia biar gue yang kasih tau dan Mala sama Ziah jadi urusan lo”
”Oke” sahut Okta. ”Zi, malam ini nginep
dirumah gue ya. Nanti kita ajak Mala juga. Nah kalo lo Ran nginep di rumah Adis,
sama Nia juga”
Rani dan Ziah hanya bisa mengangguk menuruti
Okta walaupun sebenarnya mereka tak mengerti apa yang terjadi
...
”Dis ada apa sih sebenernya? Kenapa gue
sama Rani doang yang nginep dirumah lo? Yang lain kok ga ikut?” Nia memburu
Adis dengan berbagai pertanyaan
”Tau nih apalagi gue, gue gangerti sama
sekali” ujar Rani
”Apa yang kalian denger dari mulut gue
saat ini adalah apa yang bakal Mala dan Ziah denger juga dari mulut Okta” ujar
Adis yang justru semakin membuat Nia dan Rani bingung ”Okedeh langsung aja
ya... inget kan waktu Okta putus dari Noval karena ada wanita lain yang disukai
Noval?” tanya Adis, Rani dan Nia menjawabnya dengan anggukan bersamaan ”Kalian
tau ga wanita itu siapa?” tanyanya lagi. Kali ini Nia dan Rani menjawabnya
dengan gelengan kepala. ”Wanita itu adalah........ gue”
”HAH?” ujar Nia dan Rani bersamaan juga
”Gimana bisa?” tanya Rani
Adis menarik nafas panjang dulu sebelum
memulai menceritakan semuanya ”Okta minta break sama Noval dan sebenernya Noval
ga setuju. Dia mau Okta jujr sama apa yang terjadi tapi Okta tetep ngotot minta
break sampe akhirnya Noval hanya bisa setuju sama permintaan Okta. Terus pada
suatu sore, Noval sms gue minta ketemuan akhirnya kita pun ketemuan di suatu
cafe. Dia nanya sama gue apa yang sebenernya terjadi sama Okta. Gue bilang sama
dia gue ga tau apa-apa dan emang Okta juga ga cerita apa-apa kan sama kita?
Akhirnya disitu Noval cerita sama gue tentang keputusan Okta untuk break. Gue
yang kasihan liat Noval waktu itu Cuma bisa nyemangatin dia dengan bilang
”sabar ya Val. Lo boleh kok cerita sama gue buat ngurangin beban pikiran lo.
Dan sejak saat itu Noval jadi terus curhat sama gue sampe akhirnya gue jadi
terbiasa dengerin curhatan Noval dan jadi simpati sama dia” Adis menatap Nia
”Sama seperti halnya lo dan Rio saat ini, Ya” ujarnya
”Tapi gimana bisa kalian act like nothing
happened?” tanya Rani
”Kenapa ya? Entahlah itu terjadi begitu
saja karena gue dan Okta gamau ngebuat kalian cemas” ujarnya ”Ya, posisi gue
dulu sama dengan posisi lo saat ini. Kita salah mengartikan rasa simpati dengan
rasa cinta yang akhirnya justru malah menyakiti semua orang yang terlibat.
Begitu juga dengan halnya Rio dan Noval. Posisi mereka juga sama. Hanya karena
mereka merasa nyaman dengan sesuatu yang baru lantas mereka menjadi bimbang dan
ingin melepas yang lama untuk yang baru. Tapi pada akhirnya mereka akan sadar
bahwa yang lama lebih baik ketika semuanya sudah terlambat. Ya, apa Rio pernah
nyeritain mantannya ke lo?”
Nia mengangguk pelan ”Sering” jawabnya
”Dan dia juga ngelakuin itu sama Mala
sebelumnya kan? Pada dasarnya dia cuma nyaman sama kalian berdua karena kalian
menjadi pendengar yang baik buat dia tapi sebenernya dia samasekali ga bisa
move on dari mantannya. Dia menjadi salah mengartikan rasa nyaman itu. Dan
ngebuat lo juga menjadi salah mengartikan perasaan lo” tutur Adis
”Kenapa gue ga menyadari hal itu ya Dis?”
ujar Nia lirih
”Penyesalan selalu di akhir Ya. Sekarang
yang bisa kita lakuin cuma bangkit dan memperbaiki semuanya. Jika sudah tidak
bisa diperbaiki maka kita buat yang baru” ucap Adis sambil menepuk bahu Nia
”Dan elo Ran. Lo sama Ziah juga ngerasain hal yang sama kan? Posisi lo mirip
sama Okta”
”Hemm iya” Rani mengenang apa yang terjadi
padanya ”Tapi bedanya cowo itu emang beneran kekurangan kasih sayang hahaha”
”Lo strong loh Ran karena ga menganggap
ini masalah serius. Coba kalo cewe laen di luar sana pasti kesel gebetannya
malah naksir sahabatnya” ucap Adis
”Bagi gue ga penting berebutan cowo. Jodoh
pasti bertemu kok. Kalo ga sekarang ya nanti. Behh keren kan? Gue gitu loh”
ujar rani sambil mengibaskan rambutnya
”Apa bisa ya Mala ngertiin ini semua dan
maafin gue?” tanya Nia
”Sebesar apapun kesalahan kita, sesering
apapun kita ngecewain dia, seorang sahabat selalu punya alasan untuk maafin
kita. Dan gue yakin Mala pun begitu”
...
Hal yang sama pun terjadi di rumah Okta.
Mala dan Ziah tak percaya dengan apa yang diceritakan Okta ”Sekarang gue sama
Adis ngelakuin ini untuk ngebuat lo dan Nia kembali bersama La. Untuk ngebuat
kita kembali utuh. Kalo gue sama Adis aja bisa kenapa kalian engga?” tutur Okta
”Tapi rasanya sakit banget Ta” ujar Mala
”Gue tau kok La, sakit banget emang.
Sekarang ibaratnya tuh gini, lo ceritanya lagi ngobrol sama Rio terus lo
ngundang Nia untuk join bareng kalian. Saat Nia dateng lo ngebukain pintu kan
buat dia dan ngebiarin dia masuk. Terus lo tinggalin mereka buat bikinin minum.
Dan apa lo pikir mereka bakal diem-dieman? Mereka pasti bakal ngobrol kan? Sama
seperti halnya kondisi lo sekarang”
Mala merenungkan apa yang Okta katakan.
Benar juga, ia lah yang mengundang Nia untuk masuk menggantikan dirinya
”La, bukannya mau belain Nia atau gimana
ya samasekali engga. Tapi apa yang Okta bilang tuh bener. Mungkin gue juga bisa
aja termakan rayuannya Putra kalo saat itu gue gapunya Adi atau kalo aja gue
gatau betapa playboynya Putra” ujar Ziah
”Yang penting sekarang gimana caranya kita
membangun lagi persahabatan kita setelah beberapa kali mengalami goncangan
tentunya kita harus perbaiki beberapa bagian yang rusak dulu” ucap Okta
...
To be continue
Follow me on twitter @atyampela
Tidak ada komentar:
Posting Komentar