Sabtu, 14 Juni 2014

Love Between Us part 8

Dari kejauhan tampak seorang pria berpostur tubuh tinggi, kurus dengan rambut sedikit berantakan duduk di atas motor, matanya menerawang ke sekitar hingga akhirnya bibirnya melengkung manis saat matanya menatap sosok yang telah ditunggunya daritadi.
Nia tertegun saat mendapati lelaki itu benar-benar tengah melihatnya dan tersenyum padanya. Sejenak ia ragu untuk melanjutkan langkahnya, namun sepertinya sudah kepalang tanggung kalau harus putar arah. Mata orang itu telah terlanjur menangkap sosoknya, bahkan telah terlanjur mengunci cinta dalam hatinya. Perlahan Nia pun melanjutkan langkahnya mendekat pada pria itu.
“Gue kira lo gak bakal dateng” ujar Rio memulai pembicaraan
“Tadinya emang pingin begitu”, jawab Nia sekadarnya
“Tapi gak tega kan sama gue?” Rio menaikkan alisnya menggoda Nia
“Idihh pede banget sih lo?” jawab Nia ketus, namun dalam batinnya mengiyakan ucapan Rio
“Haha udah yuk naik” Rio menyalakan mesin motornya dan memberikan isyarat pada Nia untuk duduk dibelakangnya
“Mau ke mana?”
“Kepo. Ikut aja kenapa sih”
“Ck!” Nia berdecak namun akhirnya menuruti perintah Rio
Rio tersenyum geli “Gak enak kan kalo nanya serius dijawabnya kepo?”
“Gak enak kasih kucing!” jawab Nia ketus
“Iye dah kucing…..talo” gumam Rio pelan
Nia tersentak “Hah? Apaan?”
“Enggaa” jawab Rio
Nia mengerutkan dahinya “Gak jelas”
Setelah dilihatnya Nia sudah bertengger manis di belakang jok motornya, Rio pun mulai menjalankan motornya meliuk-liuk menelusuri jalan
“Btw di jalan itu rumahnya Mala loh. Masuk ke dalem dikit langsung rumahnya deh” ujar Nia sambil menunjuk ke arah suatu jalan
“Oooh. Deket dong dari rumah lo”
“Yaiyalah. Mau mampir gak lo? Tapi gue tunggu di sini aja. Atau engga ntar gue balik deh”
“Engga” jawab Rio singkat. Nia pun tak ingin bertanya lebih dalam lagi. Ia takut… takut melukai hatinya sendiri
“Btw Ya, kemaren gue kerumah mantan gue?” ujar Rio kemudian
“Terus dianya ga ada?”
“Kok lo tau? Perasaan gue belom cerita deh”
“Insting seorang wanita” jawab Nia seadanya
“Idiih gaya banget lo hahaha”
Tak beberapa lama mereka tiba di suatu tempat makan. Setelah memarkir motor, mereka pun masuk ke tempat makan itu
“Mau pesen apa Ya?” Rio melihat-lihat daftar menu yang dibawakan pelayan
“Jus alpukat aja. Gue udah makan”
“Serius Ya. Gue yang traktir. Kan gue yang ngajak. Next time baru kita ganti-gantian”
“Next Time?” Nia mengulang kalimat terakhir Rio
“Iya lah Ya next time. Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi”
“Next time? Hhfftt.. Yo, do you know mungkin ini yang pertama dan yang terakhir. Karena gue gak mau semakin jatuh ke dalam apa yang bahkan gue takut untuk menyebutnya cinta” batinnya “gue emang udah makan kok. Mau minum aja”
“Yaudah” Rio pun memanggil kembali sang pelayan lalu membacakan pesanannya “Jus alpukatnya 2 sama ayam bakarnya satu ya mbak”
Tak beberapa lama pesanan mereka pun datang.
“Mau gak Ya? Nih berdua sama gue makannya. Gede loh ini dadanya. Dada ayam loh Ya bukan dada yang lain” ujar Rio menawarkan ayam bakarnya
Nia tak kuasa menahan tawa “Kaco lo ah. Iyalah tau gue juga dada ayam masa dadanya yang bakar dada ayam”
“Ah kok jadi main dada sih. Udah ah gue mau makan” Rio pun menyantap makanannya dengan lahap. Nia hanya memandanginya dengan hikmat sambil sesekali tersenyum kecil saat Rio tersedak atau kepedesan
“Alhamdulillah kenyang Ya” ujar Rio setelah selesai menghabiskan makanannya “Gue mau cuci dada dulu ya eh tangan maksudnya” lanjutnya sambil bangkit menuju toilet
Nia hanya tertawa dan mengangguk kecil. Saat Rio pergi ke toilet, diam-diam Nia mengirim sebuah pesan kepada seseorang dan setelah Rio kembali dengan cepat dia memasukkan kembali handphonenya ke saku celananya
“Masih mau disini atau mau jalan ke tempat lain?” tanya Rio
“Di sini aja dulu. Emm… gue mau ngomong”
Rio mengernyitkan dahinya “Ngomong apa?”

Nia menarik nafas panjang “lo harus lakuin ini Ya. Karena ini semua emang udah semestinya berakhir” batinnya “To the point aja ya Yo. Gue cuma pingin lo tau yang sebenernya. Pertama kali kita smsan dan gue bilang kalo gue salah nomor itu gue bohong. Gue dapet nomor lo dari Mala dan gue sms lo pun karena Mala yang minta sama gue karena Mala kangen sama lo tapi dia tau gak mungkin baginya untuk memulai lebih dulu lagi”
“Maksud lo?” Rio berusaha mendapatkan penjelasan lebih
“Lo ngerti Yo maksud gue”
“Kenapa kalian ngelakuin hal ini ke gue? Niat banget ya lo berdua?” tanya Rio dengan sinis
“Karna waktu Mala piker rasanya gak mungkin kalo dia mulai ngehubungin lo duluan setelah kalian lostcontact”
Rio berdecak “Kenapa gak mungkin? Kenapa harus melibatkan lo kayak gini?” tanyanya
“Alasan klasik cewe Yo, bisa gengsi, malu, takut, semuanya jadi satu”
“Ribet banget jadi cewe” Rio mendengus kesal
“Lo lagi ngomong sama cewe loh Yo”
“Oke gak perlu diperpanjang, jadi selama ini lo smsan sama gue itu atas suruhan Mala? Smsan kita selama ini itu atas campur tangan Mala?”
“Gak semua atas perintah Mala. Mala cuma minta gue untuk ngetes nomor lo aja, kira-kira bener nomor lo bukan selebihnya kita smsan ya itu pure dari gue. Soal gue gak ngasih tau identitas ya itu emang tadinya kesepakatan gue sama Mala”
“Lo berdua itu apa-apaan sih? Lo fikir gue buronan yang harus diselidikin pake agen rahasia?! Hah?! Kalian fikir gue apaan? Gue ngerasa dimainin Ya kalo gini caranya” Rio mulai emosi. Diaturnya deru nafasnya agar sedikit lebih tenang menghadapi situasi ini. Setidaknya saat ini dia harus sadar kalau yang ada di hadapannya ini adalah seorang wanita yang notabene perasaannya lebih sensitive
Sementara itu Nia tertunduk, ia teringat ucapan Anggi waktu itu “seandainya Rio tau kalau lo itu disuruh Mala dan Rio jadi benci sama lo gimana?” ah kata-kata itu tiba-tiba terngiang di telinganya. Jauh di dalam lubuk hatinya ia tak ingin hal itu terjadi. Tapi kalaupun itu harus terjadi sepertinya itu memang sudah menjadi konsekuensi baginya
“Maaf Yo, gue ataupun Mala sama sekali gak bermaksud kayak gitu. Mala cuma kangen sama lo dan gue sebagai sahabatnya cuma pingin ngebantu dia aja”
“Tapi ini menyangkut perasaan gue Ya”
“Maaf Yo, maaf banget. Sekarang gini, terlepas dari persoalan ini sebenernya gimana perasaan lo ke Mala? Lo sayang kan sama dia? Gue pingin bantu kalian berdua. Lo boleh marah sama gue tapi please jangan sama Mala”
Kali ini ganti Rio yang menarik nafas panjang. Ia mengalihkan pandangannya dari Nia “Iya gue sayang sama Mala” ujarnya dengan nada pelan
“Yaudah kalo gitu nanti gue bakal bantu……”
“Gue belom selesai ngomong Ya” Rio memotong ucapan Nia. Ditatapnya tajam mata gadis yang ada di hadapannya itu “Gue sayang Mala, dan jujur gue ngerasa kehilangan waktu dulu gue sama dia sempet lostcontact tanpa alasan yang jelas. Tapi….” Rio menggantung kalimatnya “suatu ketika ada sms kosong yang masuk ke handphone gue dari nomor yang gak gue kenal. Yang gue fikir itu ‘Mala’ tapi orang itu mengaku namanya ‘Nia’. Well gue fikir itu cuma akal-akalan Mala aja jadi gue tetep lanjut sms dia terus-terusan”
Nia tersentak. “Lagi? Dugaan Anggi lagi-lagi benar? Dari awal Rio menyangka gue Mala?” batinnya berkecamuk, namun Nia tetap berusaha tenang di depan Rio meskipun bulir air mata sudah mulai membendung
“Gue ngerasa nemuin rasa nyaman saat gue smsan sama orang yang gue fikir itu Mala. Bahkan lebih nyaman dari awal-awal dulu gue smsan sama Mala. Gue berfikir Mala udah lebih dewasa ya sekarang. Rasanya gue makin nyaman sama dia dan otomatis hal itu juga bikin gue tambah sayang sama dia. Kadang gue suka merhatiin dia dari kejauhan dan terlintas lagi di fikiran gue ‘kok bisa ya dia akrab sama gue di sms tapi belaga gak kenal gini di sekolah?’ gue pun jadi penasaran dan akhirnya nyari tau dengan cara gue sendiri karena gue gak bisa tanya langsung ke yang bersangkutan. Dan lo tau Ya betapa kagetnya gue ketika gue tau kalo Mala yang dulu dan orang yang gue fikir itu Mala ternyata adalah dua orang yang berbeda”
“Lo kecewa ya kalo ternyata ‘Nia’ itu bukan Mala?” tanya Nia
Rio menatap lekat-lekat mata Nia “Lebih dari itu Ya. Gue bukan sekedar kecewa, bahkan gue bingung siapa yang sesungguhnya gue sayang………. Mala, atau Lo”
Nia tersentak dan kaget bukan main mendengar ucapan Rio. Seketika sekujur tubuhnya bergetar hebat namun mulutnya tetap terkunci rapat. Matanya semakin berkaca-kaca.
“Gue emang sayang sama Mala. Tapi gak bisa gue pungkiri juga kalo gue ngerasa bener-bener nyaman sama sosok elo Ya. Dan ketika gue tau kalian adalah dua sosok yang berbeda, perasaan gue berkecamuk Ya. Mungkin ini yang dimaksud ‘jatuh di dua hati’?”
Tenggorokan Nia semakin terasa tercekat. Pikirannya melayang-layang entah kemana. Bahkan ia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia menarik nafas dalam-dalam seakan-akan oksigen di sekitarnya akan segera habis “Yo… gue yakin rasa nyaman lo ke gue itu hanya karena lo nganggep gue itu Mala. Intinya lo sayang Mala kan? Itu kenyataannya. Itu faktanya. Gue cuma minta satu hal Yo, tolong jangan pernah biarin Mala lepas dari genggaman lo sama seperti halnya lo ngebiarin mantan lo dulu pergi dari kehidupan lo”
“Tapi, Ya….”
“Cukup Yo!” potong Nia. “Satu hal yang pasti gue mau semuanya selesai. Sebelumnya kita gak saling kenal kan? Jadi lebih baik sekarang kita kembali ke posisi semula. Satu hal yang pasti, gue gak pernah nyesel kenal sama lo. Gue yakin ini cara Tuhan but mendewasakan kita. Gue, lo dan Mala” Nia bangkit dari tempat duduknya “Gue pamit Yo” ujarnya
“Apa sedikit pun di hati lo gak ada rasa buat gue?”
Nia tersentak, ditahannya mati-matian air matanya agar tidak meluncur keluar. Agar hatinya tidak goyah “Gue sayang kok sama lo... tapi Mala jauh lebih dulu menyayangi lo” setelah itu Nia benar-benar pergi meninggalkan Rio. Dikeluarkannya ponselnya kemudian menelepon sesorang yang tadi dikiriminya sebuah pesan “Halo, Anggi jemput gue di depan sekarang! Tut…tut” tanpa perlu menunggu jawaban dari Anggi segera ditutupnya telepon itu kemudian dengan langkah cepat Nia semakin menjauh, dan akhirnya benar-benar hilang dari pandangan.

...


“Sekarang lu ceritain deh sama gue Ya sebenernya tuh apa yang udah terjadi sama lo dan Rio? Kenapa lo jadi nangis gini? Apa yang udah Rio bilang ke lo sampe bikin lo jadi kayak gini?” sambil memberikan sekotak tissue kepada Nia, Anggi memburunya dengan pertanyaan-pertanyaan
Dengan tangis yang masih terisak Nia menceritakan semuanya pada Anggi termasuk tentang keputusannya untuk mengakhiri hubungannya dengan Rio
“Ya, gue yakin Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik. Tuhan mempertemukan dan memisahkan lo dengan Rio pasti ada alasannya. Tuhan ingin menguji persahabatan kalian”
“Sakit Nggi, sakit banget. Apa cinta memang sepahit ini?”
“Gue gak tau karena gue emang belom ngerasain rasanya jatuh cinta seperti lo sekarang ini. Tapi yang gue tau pasti, di setiap kesedihan Allah pasti akan menyelipkan sedikit kebahagiaan dan pelajaran berharga di dalamnya. Ya, lo sahabat gue, gue tau lo orang baik dan gue yakin Allah pun udah nyiapin yang terbaik buat lo. Mendingan sekarang lo sholat deh buat nenangin hati lo”
“Makasih banyak ya Nggi. Yaudah gue ke musholla dulu ya”
Nia menuju musholla pribadi milik keluarga Anggi, kemudian ia mengambil air wudhu dan melakukan sholat istikharah meminta petunjuk kepada Allah SWT
“Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Sesungguhnya Engkaulah pemilik alam semesta ini dan segala rahasia yang ada di dalamnya. Ku serahkan seluruh hidupku hanya pada-Mu ya Rabb. Tuntunlah aku agar aku tidak tersesat dalam kenikmatan dunia yang fana ini. jagalah diri ini agar tidak menyakiti orang lain. Dan jagalah hati ini sampai akhirnya nanti Engkau memperteukanku dengan orang yang tepat, amiinn ya robbal alamiin”
...

“Kebo banget sih lo jam segini baru bangun” ujar Anggi sambil menyisir rambutnya
“Lo bangunnya pagi banget sih Nggi” Nia mengucek-ngucek matanya “Duhh mat ague berat banget nih”
“Ya jelas berat lah orang bengkak gitu. Untung hari ini libur jadi lo gaperlu repot nyembunyiin mata lo itu. Yaudah mandi sana”
Baru saja Nia hendak beranjak ke kamar mandi, handphonenya berbunyi
“Siapa ya? Nyokap?” tanya Anggi
“Rio” ujar Nia lemas
“Angkat aja, lo ga boleh lari dari kenyataan. Lagian ga baik juga kan mutusin tali silahturahmi?”
“Tapi Nggii…..”
“Tau ga? Move on yang sebenarnya itu bukan dengan maksain diri lo buat ngelupain semua yang udah pernah terjadi. Ingatan manusia itu hebat semakin ingin dilupain malah semakin keingetan. Move on yang sebenarnya adalah ketika lo masih punya rasa yang sama tapi ketika lo ngeliat dia, lo sama sekali ga ngerasain sakit dan bahkan lo bisa ikut bahagia ketika dia bahagia bersama yang lain”
”Butuh waktu berapa lama ya buat bisa seperti itu?”
“Tergantung dari keikhlasan hati lo, udah sekarang angkat dulu tuh telepon”
“Gue loadspeaker deh nih ya” Nia menekan tombol answer di handphonenya kemudian juga menekan tombol speaker “Hallo assalamualaikum. Kenapa Yo?”
“Waalaikumsalam. Gue fikir lo ga mau angkat telepon dari gue lagi Ya”
“Ya gak gitu banget juga sih. Kenapa ya, Yo?”
“Gak apa-apa sih cuma mau ngetes aja lo masih mau ngomong sama gue atau engga. Emmm… Ya, soal yang kemaren itu lo yakin sama keputusan lo?”
Nia menarik nafas panjang kemudian menatap ke arah Anggi sejenak lalu memejamkan matanya “Mungkin kemaren gue sedikit kebawa emosi. Gue mungkin ga bisa deket sama lo kayak dulu tapi kita masih bisa temenan kok Yo”
“Ya, apa sedikit pun di hati lo ga ada gue?”
“Yo, udah ya cukup gue gak mau bahas ini lagi. Gue gak mau terlampau jauh Yo. Kita jalanin masing-masing aja ya”
“Seandainya dari awal gue tau lo dan Mala itu berbeda. Seandainya gue lebih dulu kenal lo….”
“Pengandaian seperti apapun ga akan merubah kenyataan yang ada Yo. Kita cuma harus hadapi ini. Gue yakin di balik ini semua pasti ada hikmahnya. Emm…. Udah dulu ya gue mau pergi. Assalamualaikum” Nia memutus telepon “Maaf Nggi gue tau ga sopan mutus telepon gitu aja tapi gue masih belom cukup kuat Nggi. Gue ke kamar mandi dulu”
Anggi hanya mematung menatap kepergian Nia

...

“La, tumben hari libur gini lo ga main sama Ni, dll?” tanya Rasyid yang notabene adalah saudara Mala sekaligus teman sekelas Nia
“Penting banget ga sih buat lo?” jawab Mala ketus
“Wailah segitunya banget. Ada apaan sih? Lagi ada masalah ya pasti?”
“Bukan urusan lo! Udah ah gue bĂȘte lagian lo bukannya pulang gih sono ke rumah lo” Mala pun berlalu meninggalkan Rasyid memasuki kamarnya
“Yeee bolehnya ngusir lo. Tante Sri aja ga ngusir gue tuh yeee. Ngerem aja sono lo di kamar ampe pecah tuh telor di pipi lo dasar chubby” gerutu Rasyid panjang lebar “Gue yakin banget deh nih anak pasti lagi ada masalah. Biasanya kan tiap hari libur tuh mereka ga pernah absent buat kumpul-kumpul” Rasyid melihat handphone Mala yang tergeletak di atas sofa “Gue kepoin aja ah hahahha”
Rasyid mencoba membuka chat Mala dengan Nia namun hasilnya nihil “Lah kok mereka ga smsan kayak biasanya ya? Apaan nih ini mah sms udah dua minggu yang lalu. Basi banget” Rasyid pun melanjutkan penyelidikannya pada chat Mala dengan Ziah dan ia pun tercengang. Ia membaca dengan jelas tiap kalimat dari chat itu. “Dugaan gue bener kan ternyata” ia pun segera menuju kamar Mala
“La, gue masuk ya” Rasyid mengetuk pelan pintu kamar Mala
“Mau ngapain sih? Mau pulang? Iya udah sana pulang ga usah pamit” sahut Mala dari balik pintu
Rasyid berdecak “Lo ga bisa kali lari dari kenyataan kayak gini. Childish tau ga namanya”
Mala segera membuka pintu “Apa kata lo? Tau apa sih lo? Gue remes ya tuh mulut lo!”
“Hoaammmm” Rasyid berjalan melalui Mala dan merebahkan tubuhnya di atas kasur Mala “Lo kan sahabatan ama Nia udah lama banget La. Gue yakin Nia juga pasti bakal pertahanin lo kok”
Mala duduk disamping Rasyid, ia menatap ke langit-langit “Kalo emang gitu, kenapa dia bisa jatuh cinta sama Rio? Dia kan tau gue sayang sama Rio. Dan gue minta tolong sama dia itu buat nyari tau kabar Rio bukan untuk jatuh cinta sama Rio. Dia kan paham banget perasaan gue tapi kenapa….”
“Kita bisa menahan amarah, kecewa, sakit hati, tapi kita ga akan bisa menahan untuk jatuh cinta. Emang ada cinta yang bisa dicegah?” potong Rasyid “La, lo ga bisa menghakimi Nia karena dia jatuh cinta sama Rio dan menganggap Nia ga menghargai lo. Toh Nia udah ngikutin kemauan lo kan? Sekarang kalau rasa cinta tumbuh di hati Nia itu bukan sepenuhnya salah dia kan? Lo pernah denger ga istilah ‘cinta bisa tumbuh karena terbiasa’ ya mungkin itu yang dirasain Nia sekarang. Karena terbiasa smsan sama Rio, berbagi cerita sama Rio tanpa sadar akhirnya Nia jadi jatuh cinta sama Rio”
Bulir air mata Mala perlahan mulai menetes. Rasyid mengusap kepala Mala perlahan “La, ini semua cuma cara Tuhan untuk mendewasakan kalian. Untuk menguji persahabatan kalian” Rasyid mencoba menghibur Mala
“Gue ga tau lagi Id, ga tau kenapa gue ga bisa ikhlas kalo liat Nia sama Rio. Jangankan ngeliat, ngebayanginnya aja bahkan gue ga berani. Kenapa harus Nia? Kenapa?!” tangis Mala pecah
“Bukan ga bisa La, tapi belum bisa. Belum bukan berarti Tidak. Lo cuma harus belajar untuk mencoba menerima ini semua La”

...

“Kok lo ga berangkat bareng Nia, La?” Adis celingukan mencari Nia “Nia telat?” tanyanya lagi
Mala hanya menarik nafas dan mengangkat bahunya kemudian berlalu memasuki kelas meninggalkan Adis
Adis mengerutkan dahinya “PMS kali ya?”
Tak lama kemudian Nia datang, dari kejauhan Adis melambaikan tangannya. Melihat itu, Nia pun mempercepat langkahnya
“Tumben Ya ga bareng sama Mala?” tanya Adis saat Nia sudah berada di hadapannya
“Oh.. itu.. tadi gue kesiangan jadi gue sms Mala suruh jalan duluan aja” Nia terpaksa berbohong padahal tadi ia sempat ke rumah Mala namun Mala ternyata sudah berangkat lebih dulu
”Ohh gitu, kirain lagi berantem. Ahh udah ah gue kan pengen cerita. Soal Kevin nih Ya ....” Adis pun berceloteh sambil menggandeng Nia menuju kelasnya
”Ahh kayaknya bentar lagi mau bel masuk deh Ya. Nanti istirahat gue sambung lagi deh. Gue balik ke kelas dulu ya byee” Adis pun meninggalkan Nia di depan kelasnya dan berjalan kembali ke kelasnya
Nia hanya tersenyum melihat tingkah Adis ”kalo aja cinta ini ga harus melukai siapapun seperti halnya cinta Adis terhadap Kevin” batinnya. Nia menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengembalikan semangatnya yang seperti dulu kemudian ia pun memasuki kelasnya bertepatan dengan bunyi bel masuk.

...

”Dika, gue mau ngomong” Nia akhirnya memberanikan diri menyapa Andika terlebih dahulu. Namun bukannya mendapat respon positif, ia malah mendapat pengabaian dari Andika
”Dik, please maafin gue” Nia mencoba menggenggam tangan Andika namun Andika menepisnya
”Gue ga marah kok sama lo. Tapi gue kecewa!” ujarnya kemudian pergi meninggalkan Nia
”Dika please maafin gue!” ujar Nia setengah berteriak. Namun Andika tetap tak menoleh sedikitpun ke arahnya bahkan berhenti pun tidak. Andika tetap pergi meninggalkan Nia
Nia tak sanggup lagi menahan air matanya, ia menangis tersedu-sedu. Kevin yang memperhatikan mereka sedari tadi dari kursinya pun akhirnya menghampiri nia dan memeluknya ”Kita ke taman belakang yuk?” Kevin pun membawa Nia pergi
”Duduk sini dulu ya, gue beliin minum dulu” ujar kevin setibanya mereka di taman belakang sekolah
Nia hanya menganggukan kepalanya singkat
”Udah jangan sedih lagi” Kevin mengusap kepala Nia kemudian meninggalkannya sebentar untuk membeli minuman
Nia menatap ke arah sekitar, taman ini adalah tempat favorit dia dan Andika untuk menghabiskan waktu bersama, bercanda riang, bahkan Dika sering menyanyikan lagu-lagu ciptaannya sendiri untuk Nia ”Dik, apa lo lagi ada di sini juga sekarang? Apa lo lagi mengingat hal yang pernah kita lakuin dulu bareng-bareng? Seenggaknya lo pernah menjadi matahari gue sebelum sekarang lo menjadi badai buat gue”
Tak lama Kevin datang dengan membawa dua gelas minuman, ia memberikannya segelas pada Nia ”Diminum dulu nih. Ya, Dika ga beneran bermaksud nyakitin lo kok. Dia cuma lagi emosi aja. Percaya deh sama gue” ujarnya mencoba menenangkan Nia
”Gue kangen banget sama Dika, baang. Kangen banget. Kenapa orang yang biasanya memberikan kita kebahagiaan sekarang malah menjadi orang yang menggoreskan luka di hati kita paling dalam?” tanyanya lirih
”Kenapa sih kalian saling menyakiti diri kalian sendiri kayak gini. Kalo sama-sama cinta kenapa harus saling melukai?”
”Cinta?”
”Iya, cinta. Ya, lo fikir apa seorang sahabat biasa akan sebegitu marahnya saat tahu sahabatnya sedang dekat dengan orang lain? Gue ga perduli ya siapa itu Rio dan gimana bisa dia dateng ke kehidupan lo. Tapi yang jelas itu udah melukai Dika Ya. Menusuk hatinya sampai ke bagian yang terdalam. Waktu lo suka sama Firman mungkin Dika masih bisa santai karena Firman jauh. Tapi kali ini Rio, kakak kelas kita sendiri. Bahkan kalian pernah jalan kan?”
”Darimana lo tau soal Rio bang?” Nia bertanya dengan penuh keheranan
”Dari Dika. Dika nyelidikin lo diem-diem. Dan sebenernya Dika ga bener-bener ninggalin lo, dia cuma bersembunyi. Dia ngejaga lo dalam diam. Tiap malem dia sengaja naik motor gitu ke rumah lo, tapi dia ga mampir, dia cuma ngeliatin jendela kamar lo dari depan pagar. Tapi suatu malam dia liat lo keluar malem-malem, karena takut lo kenapa-kenapa di jalan makanya dia ngikutin lo, tapi bukannya lo yang kenapa-kenapa malah hatinya Dika yang kenapa-kenapa pas ngeliat lo keluar malem cuma buat nemuin Rio”
Nia terkejut mendengar penuturan Kevin, ia benar-benar tak menyangka ternyata begitu besar cinta Andika untuknya.
”Ya, pernah ga Andika atau gue ngajak lo keluar malem? Ga pernah kan? Tau ga kenapa? Karena kita paham cewe itu ga baik keluar malem apalagi sama cowo. Makanya Dika marah banget liat lo berani keluar malem cuma buat ketemu Rio”
Nia semakin tak sanggup mendengar semua pernyataan Kevin. Ia benar-benar marah pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia menyakiti seseorang yang justru selalu menjaganya selama ini? Tangis Nia pecah. Ia benar-benar ingin meminta maaf pada Andika saat ini ”Kenapa sih Vin cinta itu membutakan segalanya?” ujarnya dalam isak tangisnya
”Cinta ga buta kok Ya. Hanya saja cinta mampu membuat kita menutup mata dari orang yang mencintai kita demi orang yang kita cinta. Meski terkadang orang yang kita cinta tak lebih baik dari yang mencintai kita”

...

”Nia sama Mala lagi kenapa sih? Kok akhir-akhir ini gue ngerasa ada jarak ya diantara mereka? Tuh liat aja sekarang mereka ga kumpul sama kita” ucap Rani di sela-sela makan siang mereka
”Gue juga ngerasa mereka aneh banget Ran. Bahkan akhir-akhir ini mereka ga pulang bareng. Nia selalu pulang setelah Mala pulang. Dan Nia juga kayaknya lagi berantem sama Andika deh” ujar Okta
Adis menghela nafas panjang ”Semua ini gara-gara Rio” ujarnya
”Apa? Rio? Kok bisa?” tanya Ziah tak percaya. Adis pun menceritakan semua yang dia tahu kepada para sahabatnya ini. Persegi cinta antara Mala-Rio-Nia-dan Andika yang telah membuat mereka berempat menjadi tersudut
”Itu yang gue tau dari Kevin. Makanya sekarang tugas kita nih buat bikin Mala sama Nia baikkan. Kalo tugas kevin buat mempersatukan Nia dan Andika” ucap Adis
”Berasa flashback ya Dis? Satu tipe tapi beda cerita” ucap Okta
Adis sempat kaget mendengar ucapan Okta namun perlahan bibirnya menyunggingkan senyum ”Iya ya Ta. Ganyangka yang ngalamin ini bukan kita aja”
”Nah ini kalian kenapa lagi?” tanya Rani heran
Adis dan Okta saling berpandangan ”Udah saatnya mungkin Dis. Buat ngasih pelajaran sama Nia dan Mala juga. Kalo persahabatan kita ini jauh lebih berharga” ujar Okta
Adis mengangguk mantap ”Kalo gitu Rani dan Nia biar gue yang kasih tau dan Mala sama Ziah jadi urusan lo”
”Oke” sahut Okta. ”Zi, malam ini nginep dirumah gue ya. Nanti kita ajak Mala juga. Nah kalo lo Ran nginep di rumah Adis, sama Nia juga”
Rani dan Ziah hanya bisa mengangguk menuruti Okta walaupun sebenarnya mereka tak mengerti apa yang terjadi

...

”Dis ada apa sih sebenernya? Kenapa gue sama Rani doang yang nginep dirumah lo? Yang lain kok ga ikut?” Nia memburu Adis dengan berbagai pertanyaan
”Tau nih apalagi gue, gue gangerti sama sekali” ujar Rani
”Apa yang kalian denger dari mulut gue saat ini adalah apa yang bakal Mala dan Ziah denger juga dari mulut Okta” ujar Adis yang justru semakin membuat Nia dan Rani bingung ”Okedeh langsung aja ya... inget kan waktu Okta putus dari Noval karena ada wanita lain yang disukai Noval?” tanya Adis, Rani dan Nia menjawabnya dengan anggukan bersamaan ”Kalian tau ga wanita itu siapa?” tanyanya lagi. Kali ini Nia dan Rani menjawabnya dengan gelengan kepala. ”Wanita itu adalah........ gue”
”HAH?” ujar Nia dan Rani bersamaan juga ”Gimana bisa?” tanya Rani
Adis menarik nafas panjang dulu sebelum memulai menceritakan semuanya ”Okta minta break sama Noval dan sebenernya Noval ga setuju. Dia mau Okta jujr sama apa yang terjadi tapi Okta tetep ngotot minta break sampe akhirnya Noval hanya bisa setuju sama permintaan Okta. Terus pada suatu sore, Noval sms gue minta ketemuan akhirnya kita pun ketemuan di suatu cafe. Dia nanya sama gue apa yang sebenernya terjadi sama Okta. Gue bilang sama dia gue ga tau apa-apa dan emang Okta juga ga cerita apa-apa kan sama kita? Akhirnya disitu Noval cerita sama gue tentang keputusan Okta untuk break. Gue yang kasihan liat Noval waktu itu Cuma bisa nyemangatin dia dengan bilang ”sabar ya Val. Lo boleh kok cerita sama gue buat ngurangin beban pikiran lo. Dan sejak saat itu Noval jadi terus curhat sama gue sampe akhirnya gue jadi terbiasa dengerin curhatan Noval dan jadi simpati sama dia” Adis menatap Nia ”Sama seperti halnya lo dan Rio saat ini, Ya” ujarnya
”Tapi gimana bisa kalian act like nothing happened?” tanya Rani
”Kenapa ya? Entahlah itu terjadi begitu saja karena gue dan Okta gamau ngebuat kalian cemas” ujarnya ”Ya, posisi gue dulu sama dengan posisi lo saat ini. Kita salah mengartikan rasa simpati dengan rasa cinta yang akhirnya justru malah menyakiti semua orang yang terlibat. Begitu juga dengan halnya Rio dan Noval. Posisi mereka juga sama. Hanya karena mereka merasa nyaman dengan sesuatu yang baru lantas mereka menjadi bimbang dan ingin melepas yang lama untuk yang baru. Tapi pada akhirnya mereka akan sadar bahwa yang lama lebih baik ketika semuanya sudah terlambat. Ya, apa Rio pernah nyeritain mantannya ke lo?”
Nia mengangguk pelan ”Sering” jawabnya
”Dan dia juga ngelakuin itu sama Mala sebelumnya kan? Pada dasarnya dia cuma nyaman sama kalian berdua karena kalian menjadi pendengar yang baik buat dia tapi sebenernya dia samasekali ga bisa move on dari mantannya. Dia menjadi salah mengartikan rasa nyaman itu. Dan ngebuat lo juga menjadi salah mengartikan perasaan lo” tutur Adis
”Kenapa gue ga menyadari hal itu ya Dis?” ujar Nia lirih
”Penyesalan selalu di akhir Ya. Sekarang yang bisa kita lakuin cuma bangkit dan memperbaiki semuanya. Jika sudah tidak bisa diperbaiki maka kita buat yang baru” ucap Adis sambil menepuk bahu Nia ”Dan elo Ran. Lo sama Ziah juga ngerasain hal yang sama kan? Posisi lo mirip sama Okta”
”Hemm iya” Rani mengenang apa yang terjadi padanya ”Tapi bedanya cowo itu emang beneran kekurangan kasih sayang hahaha”
”Lo strong loh Ran karena ga menganggap ini masalah serius. Coba kalo cewe laen di luar sana pasti kesel gebetannya malah naksir sahabatnya” ucap Adis
”Bagi gue ga penting berebutan cowo. Jodoh pasti bertemu kok. Kalo ga sekarang ya nanti. Behh keren kan? Gue gitu loh” ujar rani sambil mengibaskan rambutnya
”Apa bisa ya Mala ngertiin ini semua dan maafin gue?” tanya Nia
”Sebesar apapun kesalahan kita, sesering apapun kita ngecewain dia, seorang sahabat selalu punya alasan untuk maafin kita. Dan gue yakin Mala pun begitu”

...

Hal yang sama pun terjadi di rumah Okta. Mala dan Ziah tak percaya dengan apa yang diceritakan Okta ”Sekarang gue sama Adis ngelakuin ini untuk ngebuat lo dan Nia kembali bersama La. Untuk ngebuat kita kembali utuh. Kalo gue sama Adis aja bisa kenapa kalian engga?” tutur Okta
”Tapi rasanya sakit banget Ta” ujar Mala
”Gue tau kok La, sakit banget emang. Sekarang ibaratnya tuh gini, lo ceritanya lagi ngobrol sama Rio terus lo ngundang Nia untuk join bareng kalian. Saat Nia dateng lo ngebukain pintu kan buat dia dan ngebiarin dia masuk. Terus lo tinggalin mereka buat bikinin minum. Dan apa lo pikir mereka bakal diem-dieman? Mereka pasti bakal ngobrol kan? Sama seperti halnya kondisi lo sekarang”
Mala merenungkan apa yang Okta katakan. Benar juga, ia lah yang mengundang Nia untuk masuk menggantikan dirinya
”La, bukannya mau belain Nia atau gimana ya samasekali engga. Tapi apa yang Okta bilang tuh bener. Mungkin gue juga bisa aja termakan rayuannya Putra kalo saat itu gue gapunya Adi atau kalo aja gue gatau betapa playboynya Putra” ujar Ziah
”Yang penting sekarang gimana caranya kita membangun lagi persahabatan kita setelah beberapa kali mengalami goncangan tentunya kita harus perbaiki beberapa bagian yang rusak dulu” ucap Okta
...
To be continue

Follow me on twitter @atyampela







Tidak ada komentar:

Posting Komentar