Minggu, 29 Juni 2014

(SIAPA) PENDAMPING LANGIT

(SIAPA) PENDAMPING LANGIT

“Bu, aku berangkat sekolah dulu yaa” pamit Langit pada ibunya
“Ya nak, hati-hati yaa” ujar sang ibu dari dalam dapur
Langit bergegas mengambil tasnya dan meninggalkan rumah. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, menghirup aroma embun yang khas dan menenangkan. ‘Semangat’ batinnya. Hari ini adalah hari pertama ia masuk SMU. Nasib baik SMU yang dipilihnya tidak mengadakan MOS. Karena Langit sendiri tidak suka dengan MOS dan semacamnya, baginya hal itu malah membuat mental anak Indonesia menjadi mental ‘sok memerintah’ dan ‘sok berkuasa’ serta menanamkan sifat ‘senioritas’ yang terus berkembang turun menurun.
Langit segera menghampiri supirnya yang sedang menikmati secangkir kopi hitam di pos satpam “Mang Ujang ayo berangkat” ujarnya
“Siap non” Mang ujang kemudian segera menuju mobil dan membukakan pintu mobil untuk Langit. Kemudian mereka pun melaju pergi menuju SMU Cahaya
Sepanjang perjalanan Langit terus tersenyum dan memandang ke arah luar. “Non kelihatannya hari ini semangat sekali” ujar Mang Ujang
Langit tertawa kecil “Iya dong Mang kita harus semangat setiap hari. Mang ujang juga semangat!”
Tak beberapa lama akhirnya mereka sudah sampai di SMU Cahaya. “Makasih yaa mang, aku masuk dulu yaa. Nanti aku telepon jam berapa mamang jemput aku” ujar Langit yang diiringi dengan anggukan dari Mang Ujang. Langit pun segera berlari menuju lapangan.
“X IPA 3, X IPA 3 mana yaa?” ujar Langit dalam hati. Matanya terus menerawang satu persatu tulisan yang ada di papan yang dipegang para seniornya. BRUG! Tanpa sadar Langit menabrak seseorang. Tubuh mungilnya jatuh terduduk
“Sorry sorry, lo ga apa-apa kan?” tanya orang yang menabrak Langit sambil membantu langit berdiri
Langit merapikan seragamnya “Iya ga apa-apa kok” ujarnya. Langit kemudian menatap orang itu ‘Wah cowok manis’ gumamnya dalam hati
“Kenalin, nama gue Awan. Gue murid baru disini” ujarnya sambil mengulurkan tangannya
Langit menyambut uluran tangan itu “Nama gue Langit. Gue juga murid baru disini”
Awan membelalakkan matanya “Serius nama lo Langit?” tanyanya. Langit mengangguk. “Wah jangan-jangan kita jodoh. Awan kan adanya cuma di langit hahaha”. Langit pun seketika menjadi tersipu malu. Baru kali ini ada cowok yang berkata langsung seperti itu padanya.
“Ehiya, lo kelas berapa?” tanya Awan
“Kelas X IPA 3” jawab Langit
Lagi-lagi Awan membelalakkan matanya “Serius? Gue juga di kelas itu. Ah gilee kita emang jodoh nih kayaknya. Yuk barengan sama gue” Awan pun menggandeng tangan Langit dan membawanya pada barisan kelas X IPA 3
“Nah, lo baris disini dan gue baris disamping lo” ujar Awan
Langit mengangguk. Kemudian ia melirik ke bawah. “Kenapa?” tanya Awan, ia pun ikut melirik ke bawah dan….. “Ups sorry” ujarnya. Awan segera melepaskan genggaman tangannya setelah disadarinya tangannya masih menggenggam erat tangan Langit.
Langit mulai gelisah, rupanya pengarahan hari ini jauh lebih lama dari perkiraannya. Air keringat sudah bercucuran dari wajah dan tubuhnya. Matahari tepat sekali menyorot dirinya dari sisi kanannya. Langit menggigit bibirnya dan terus menunduk. Namun tiba-tiba ia merasakan sejuk. Seperti ada yang menghalau sinar matahari agar tak langsung mengenainya. Langit mengangkat kepalanya perlahan. Menengok pada sosok yang sedang menghalau sinar matahari itu untuknya. “Awan!” jeritnya dalam hati. Awan menyunggingkan senyum manisnya. “Tenang aja, mataharinya udah ketutupan sama ‘awan’ kok” ujarnya. Langit masih terus menatap Awan. Sosok awan yang diterpa cahaya matahari itu membuatnya menjadi semakin berkilau di mata Langit. Tubuh tinggi Awan yang melindungi tubuh Langit yang mungil. Detik itu juga Langit memutuskan untuk terus bersama Awan apapun keadaannya
“Astaga jadi udah hampir tiga tahun dong elo mendem perasaan sama Awan?” tanya Vania setelah mendengarkan dengan seksama cerita Langit saat pertama kali bertemu awan
Langit mengangguk dan menghela nafas “Ga kerasa ya?”
“Kenapa lo gamau coba buat nyatain perasaan lo itu?” tanya Vania
Langit menggelengkan kepalanya “Awan udah ada yang punya Van, dan bagi gue asalkan bisa terus bersamanya dan terus melihat senyumnya itu udah cukup kok”
“Sekalipun lo harus berurai air mata?” tanya Vania “Kalian itu cocok loh. Jujur aja dulu tuh gue kira kalian pacaran tau. Nama kalian aja udah saring melengkapi gitu, Langit dan Awan. Hobi kalian sama, makanan kesukaan sama, hal yang lo suka juga Awan suka dan hal yang Awan ga suka lo pun ga suka. Pokoknya banyak kesamaan dan kecocokkan kalian deh” ujar Vania
Langit menghela nafasnya “Banyak kesamaan dan kecocokkan ga menjamin kalau kita bisa bersatu. Cinta bukan hanya sekedar ‘kita punya banyak kesamaan lalu kita bisa bersama’ ga semudah itu. Karena pada akhirnya tetap hati juga lah yang memainkan perannya. Ada pasangan yang selalu bertengkar dan bertolak belakang jauh namun ternyata mereka bisa saling mengisi dalam cinta. Mungkin karena gue dan Awan terlalu banyak kesamaan hingga akhirnya kita cuma bisa jalan beriringan bukan berdampingan”
Vania menatap Langit “Jadi mau sampai kapan cinta yang bertepuk sebelah tangan ini lo pertahanin?”
Langit tersenyum “Sampai nanti saatnya ada orang lain yang mampu menyambut cinta ini. Yang membuat gue ga bertepuk sebelah tangan tapi dengan yakin membuat gue menggenggam erat tangannya”
Vania menggelengkan kepalanya. “Ada ya orang yang tulus banget kayak lo gini? Entah tulus entah bego deh”
“Langit ayo pulang” ujar Awan sambil merapikan tasnya
“Udah kelar futsalnya?” tanya Langit
“Udah, yuk balik” Awan menggandeng tangan Langit “Duluan ya Van” pamitnya pada Vania. Vania mengangguk dan melambaikan tangannya “Hati-hati” ujarnya
Ujian semester ganjil akhirnya selesai. Para murid SMU Cahaya saat ini sedang menikmati waktu kosong mereka di kelas sebelum nantinya akan bertempur melewati Ujian Nasional. Langit mencari Awan kemana-mana, kantin, perpustakaan, lab biologi, lab kimia namun ia masih belum melihat batang hidung Awan sekalipun. Sejak pagi ia belum melihat Awan namun berdasarkan papan absensi, Awan hadir pada hari ini. Langit mencari ke taman belakang sekolah and finally ia menemukan Awan sedang duduk termenung di salah satu bangku disana. Ia segera menghampirinya
“Lo kenapa sendirian aja disini? Gabung aja yuk di kelas” ujar Langit
Awan menatap langit sejenak, kemudian ia memeluknya. Deg! Seketika itu pula seluruh syaraf dalam tubuh Langit seakan berhenti. Ia menahan nafasnya. Mengatur degup jantungnya agar Awan tidak menyadari betapa tak beraturannya detak jantungnya saat ini
“Cherein mutusin gue” ujar Awan
Langit melemaskan tubuhnya. Perasaan tegang tadi kini berganti dengan perasaan yang seperti biasa ia rasakan tiap kali ia mendengar nama itu. Perasaan sakit yang menusuk, namun ia sudah biasa merasakan itu. Hingga akhirnya ia menjadi kebal dan mati rasa. Cherein, ya dia adalah kekasih Awan. Langit melepaskan pelukan Awan secara perlahan “Emang kalian ada masalah apa?” tanya Langit
Awan menggelengkan kepalanya. “Gue juga ga ngerti masalahnya apa. Tiba-tiba dia bilang kita udah ga sejalan lagi dan dia minta putus”
Langit mengusap lembut punggung Awan “Coba lo omongin baik-baik dulu sama Cherein. Mungkin dia lagi ada masalah jadi emosinya ga stabil” ujar langit
“Kalo emang dia ada masalah kan dia bisa cerita sama gue. Gue kan pacarnya. Kita juga kan pacaran udah lama. Masih aja ga percaya sama gue” ujar Awan setengah emosi
Langit menarik nafasnya dalam-dalam. ‘Gue tau lo pacaran udah lama dan selama itu juga hati gue teriris’ gumamnya dalam hati. Tapi memang dasar sifat wanita, Langit hanya bisa memendamnya dalam-dalam. Membiarkan rasa itu terus menyakiti dirinya. “Awan, mungkin hubungan kalian ini lagi diuji. Lo jangan kebawa emosi. Lo omongin baik-baik dulu sama Cherein. Kalo emang nanti hasilnya kalian harus tetep pisah ya seenggaknya kan kalian bisa pisah baik-baik”
Awan menatap Langit “Lo tau ga? Kadang gue berharap Cherein itu punya sifat kayak lo. Dewasa, pengertian dan selalu berterus terang tiap kali ada masalah. Kadang gue berfikir ‘kenapa gue ga pacaran sama lo aja ya?’ tapi seketika itu juga cinta gue ke Cherein menjawabnya. Bagaimanapun Cherein menyakiti gue, gue akan selalu jatuh cinta lagi sama dia”
Langit tertegun. Dari berbagai macam sayatan yang ia terima setiap kali Awan bercerita tentang Cherein. Inilah sayatan yang paling dalam dan paling perih. Tangan Langit bergetar hebat. Mati-matian ia menahan tangisnya “Setiap orang punya sifat beda-beda. Gue duluan ya. Lo jangan lama-lama disini. Cepet balik ke kelas yaa” tanpa menoleh lagi Langit segera beranjak meninggalkan Awan.
Langit mengurung dirinya di dalam toilet. “Kalo emang gue lebih baik dari dia kenapa lo masih tetap bertahan dengannya?” jeritnya dalam hati. Tangisnya semakin pecah “Ternyata kita sama. Rela menyakiti diri sendiri demi orang yang kita cinta”. Langit mengambil ponselnya. Mengamati sosoknya dan Awan yang sedang tersenyum dalam layar itu. Perlahan ia menekan tombol delete dan yap foto itu pun dihapus oleh Langit. “Satu hal yang pasti, persahabatan kita akan terus berjalan. Lo gapernah menyakiti gue, gue sendiri yang membuat diri gue tersakiti. Nyatanya cinta ini memang tak ditakdirkan untuk bersambut olehmu. Nyatanya aku memang hanya cinta sendiri, hanya bertepuk sebelah tangan” Langit menghapus air matanya. Kemudian ia keluar dari dalam toilet. Langkah kakinya menuju ke lapangan. Ia mendongakkan kepalanya menatap ‘langit’ diatas. Saat itu ‘langit’ tampak cerah tanpa ada ‘awan’ yang menghalangi. ‘Langit’ memancarkan warna biru terangnya. Perlahan Langit menyunggingkan senyumnya. “Sekarang ga ada alasan tertutup bayang ‘awan’ lagi karena ‘langit’ diatas pun udah cerah”
Sejak saat itu Langit menyibukkan dirinya dengan membedah soal Ujian Nasonal. Ia terus belajar dan berjuang demi kelulusannya. Hingga akhirnya kini hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari pengumuman kelulusan. Langit terkejut saat namanya dipanggil dari atas panggung untuk menerima penghargaan sebagai ‘Siswi Peraih Nilai Tertinggi dalam Ujian Nasional’. Nilai yang diperoleh Langit nyaris sempurna. Kerja kerasnya selama ini terbayar sudah. Dari atas panggung ia bisa melihat Awan tersenyum ke arahnya. Tanpa ragu Langit pun membalas senyuman itu. Saat ini akhirnya ia tak lagi merasakan sesak saat melihat Awan
“Selamat ya. Lo emang hebat” ujar Awan setelah Langit selesai menerima penghargaan.
“Thanks. Lo juga hebat kok” jawab Langit
“Lo mau lanjut kuliah dimana?” tanya Awan
“Gue dapat beasiswa 100% di salah satu Universitas di Bandung. Gue rasa gue akan ambil peluang itu deh” ujar Langit
Awan menghela nafasnya kemudian merangkul Langit “Jadi lo mau ninggalin gue nih?”
Langit tersenyum. Kemudian ia menunjuk ke atas “Gue ga akan pernah ninggalin lo kok. Kalo lo kangen sama gue, lo cukup lihat ke atas. Maka saat itu juga gue sedang melihat lo”. Awan kemudian mendengakkan kepalanya menatap ‘langit’ biru di atasnya, sementara itu langit menatap awan ‘Sampai jumpa lagi….jika Tuhan mengizinkan’ ujar Langit dalam hati
“Lo yang semangat ya disana. Nanti gue bakal main deh kesana buat nyemangatin lo kalau lo lagi galau” ujar Awan. Langit mengangguk dan tersenyum kecil “Lo sendiri lanjut kuliah dimana?” tanya Langit
“Gue kuliah di Jakarta aja kok. Kayaknya sih mau satu kampus sama Cherein” jawab Awan
“Cherein?” tanya Langit. Anehnya saat ini ia sudah tidak merasakan sakit lagi ketika mendengar nama itu “Jadi kalian udah baikan?”
Awan mengangguk “Udah cukup lama. Gue mau cerita sama lo tapi lo nya sibuk terus” Awan mencubit pipi Langit
Langit meringis “Duh maaf deh yaa. Langgeng ya kalian” ujarnya
Handphone Awan berdering tanda panggilan masuk “Dari Cherein, gue angkat bentar ya” ujarnya. Langit mengangguk. Awan pun kemudian meninggalkan Langit
Sesaat setelah Awan pergi, Vania menghampiri Langit. “Jadi udah move on nih?” godanya
“Aduhh lo itu ya Van, belom kok. Gue masih cinta sama Awan” jawab Langit
“Kok sekarang senyam-senyum sih liat Awan pergi sambil nelepon? Itu pasti telepon dari pacarnya kan?”
“Hmm.. iya itu telepon dari pacarnya. Yaahh… pada akhirnya ‘awan’ akan tetap berjalan mengikuti arah ‘angin’ kan? ‘Awan’ akan tetap mengikuti kemana pun ‘angin’ berhembus. Sebagai ‘langit’ gue emang cuma bisa memperhatikan mereka aja. ‘Awan’ yang tadinya menutupi ‘langit’ kini udah beranjak bersama hembusan ‘angin’. Ya, gue cuma bisa memperhatikan mereka dari kejauhan aja. Cinta yang cuma sepihak ini memang sudah saatnya tutup cerita” tutur Langit
Vania merangkul Langit “Lo tenang aja ya, di ‘langit’ ga cuma ada ‘awan’ kok. Ada matahari, pelangi. Dan apalagi saat ‘langit’ gelap, kita bisa melihat bintang yang bercahaya kerlap-kerlip atau bulan yang senantiasa menemani ‘langit’ saat gelap. Lo pasti akan menemukan salah satu diantara itu. Yang bisa menjadi pendamping setia lo”
Langit tersenyum lega, kemudian ia menatap langit biru yang ada di atasnya “Iya Van lo bener. Akan ada saatnya langit punya pendamping”


selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar