Minggu, 28 Desember 2014

Time Zone (cerpen)

 



“Kei, baper banget sih lo ah” omel Virsha saat melihat Kezia menangis ketika menonton dvd drama cinta di rumahnya.
“Bukan baper Vir, tapi ini tuh emang so sweet parah. Mana ada sih cowo zaman sekarang yang cintanya setulus itu? Yang selalu punya cara ngebuat cewenya jatuh cinta berkali-kali sama dia, yang kadar cintanya selalu 100% dari awal sampai akhir” ujar Kezia sambil menghapus air matanya.
“Ah alibi aja lo, lo mah nonton doraemon juga nangis” cibir Virsha “Btw, lo tau kak Marcel kan Kei?” tanya Virsha.
“Emm…” gumam Kezia sambil menyeruput es jeruknya “Yang anak basket itu ya?” tanyanya yang kemudian dijawab dengan anggukkan dari Virsha. “Oh yang itu mah tau lah gue orang dia tenar banget kan di sekolah. Emangnya kenapa Vir?” tanya Kezia.
“Waktu itu dia minta nomor hape lo terus….”
“Jangan dikasih!” potong Kezia.
“Yeee makanya denger dulu. Woles aja ga gue kasih kok. Gue suruh aja dia minta sendiri ke elo heheheh”
“Ahh kamfreto dah lo Vir”
“Emang kenapa sih? Kan lumayan kalo lo jadian sama Kak Marcel, gapapa biar lo nya ga cinta juga hahaha. Yang penting gue bisa ikutan tenar sebagai sahabatnya pacar orang paling tenar di sekolah beuhh ajib ga tuh?”
Kezia mendengus kesal “Enakkan di elo nyong. Mana enak sih terikat hubungan sama orang yang ga kita cinta?”
“Tapi kalo sama orang yang dicinta mah biar dikata status hubungannya ga jelas juga tetep aja dijalanin ya?” sindir Virsha sementara itu Kezia hanya tersipu malu.
“Ya kalo itu beda cerita lah Vir”
“Ampe kapan lo mau digantungin gitu sama Kak Andrew? Jemuran aja kalo digantung lama-lama bisa ilang, gimana perasaan?”
“Gue ga ngerasa gue digantungin kok. Dari awal deket juga Kak Andrew emang ga nunjukin tanda-tanda mau pacaran sama gue, dia kayak cuma nganggap gue sebagai adik. Gue nya aja yang terlanjur jatuh cinta sama dia”
“Gue heran deh sama lo. Bisa-bisanya gitu ya mata lo cuma ngeliat si kulkas itu? Lo tuh emang tahan dingin apa gimana gangerti deh gue” ujar Virsha sambil menggelengkan kepala.
“Gue sendiri juga ga ngerti. Entahlah seperti apa arti kehadiran gue di mata dia, tapi yang pasti kehadirannya selalu punya makna di hati gue” Kezia menghela nafasnya “Tapi kadang gue ngerasa kak Andrew emang sengaja menutup jalan menuju hatinya, mengunci rapat pintu hatinya. Dia selalu bilang kalo gue dan dia itu berbeda. Gue gangerti Vir, bukankah Tuhan menciptakan perbedaan untuk saling melengkapi?”
Hari ini SMA Dothes mengadakan graduation party untuk para murid kelas XII yang telah dinyatakan lulus Ujian Nasional 100%. Para siswa/i kelas X dan XI pun ikut serta memeriahkan acara ini.
“Hallo Kezia” sapa Marcel pada Kezia “Hallo juga Virsha” sapanya juga pada Virsha.
“Hai kak” jawab Kezia dan Virsha berbarengan.
“Congrats for your graduation ya kak” ujar Virsha.
“Thanks yaa” jawab Marcel, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Kezia “Emm… Kezia, ini buat kamu. Selamat ulang tahun yaa. Maaf telat ngasihnya, harusnya aku kasih ini kemarin” ujarnya sambil menyerahkan sekotak coklat dan sebuket bunga pada Kezia.
Kezia terkejut melihatnya “Duh ga usah repot-repot kali kak” ujar Kezia.
“Sama sekali ga repot kok kalo buat kamu. Diterima ya Kei”
Kezia sebenarnya enggan untuk menerimanya tapi ia merasa tak enak kalau harus menolak niat baik seseorang apalagi Marcel memberikannya di hadapan banyak orang. Akhirnya ia pun menerima pemberian Marcel “Makasih ya kak”
Sementara itu dari seberang sana, sedari tadi Andrew memperhatikan Kezia dan Marcel. Ia hanya mematung menyaksikan kejadian itu.
“Hei Ndrew ngeliatin apa sih?” sapa Ghea membuyarkan lamunannya.
“Eh Ghe, engga kok ga ngeliatin apa-apa” kilah Andrew.
“Hooh gitu. By the way setelah ini lo mau lanjut kemana Ndrew?”
“Gue mau nyoba join kerja sama sepupu gue mungkin. Karena kalo untuk langsung kuliah gue belum punya cukup biaya” tutur Andrew.
“Kalo lo mau sih gue bisa-bisa aja rekomend lo buat masuk di universitas yang sama kayak gue. Tenang aja lo gaperlu mikirin biayanya” ujar Ghea.
“Gaperlu Ghe, makasih buat niat baik lo itu. Tapi gue mau kerja keras sendiri. Gue mau menghasilkan uang atas keringat gue sendiri supaya gue bisa banggain ortu gue dan juga bisa bahagiain orang yang gue sayang suatu hari nanti”
“Seandainya aja orang itu masih gue ya Ndrew” ujar Ghea lirih.
Andrew tertawa kecil “Udahlah Ghe gaperlu bahas masa lalu. Gue tetep sayang lo kok, sebagai teman” ujarnya sambil mengusap puncak kepala Ghea lembut.
Kali ini ganti Kezia yang memandangi Andrew yang tengah mengobrol bersama Ghea dari kejauhan. “Kei, itu kak Ghea mantannya kak Andrew kan ya?” tanya Virsha.
Kezia mengangguk perlahan. Ia kemudian mengambil ponselnya dan mengirim satu pesan singkat pada Andrew. “Vir, gue pergi bentar yaa” pamitnya. Kemudian ia pergi meninggalkan Virsha.
Di seberang sana, ponsel Andrew berdering pertanda pesan masuk. Ia pun membaca isi pesan itu.
‘Aku tunggu di kantin belakang gedung C sekarang - Kezia’
Setelah membaca itu, Andrew langsung pamit pada Ghea dan menuju tempat Kezia menunggunya.
“Ada perlu apa Kei?” tanya Andrew pada Kezia yang sedang duduk di salah satu meja kantin.
Kezia menyerahkan sebuah bingkisan pada Andrew “Buat kamu” ujarnya datar.
“Apa ini?” tanyanya. Kemudian Andrew membuka bingkisan itu, ternyata Kezia memberikannya jas berwarna hitam beserta kemeja putih dan celana panjang hitam. “Ini untuk apa Kei?” tanya Andrew heran.
“Ya untuk dipake lah. Besok ada acara pengalungan medali gitu kan?” ujar Kezia.
Andrew menggeleng-gelengkan kepalanya “Gak Kei, kamu ga perlu ngasih aku ini” ia kemudian mengembalikan bingkisan itu pada Kezia.
“Emang kenapa sih kalo aku ngasih kamu ini? Kenapa sih kamu ga pernah mau nerima pemberian aku?” ujar Kezia parau.
“Karena aku ga akan bisa membalas pemberian kamu itu Kei. Sadarlah Kei, kita ini berbeda. Kamu lebih cocok sama Marcel, kamu pasti akan …”
“Stop!” potong Kezia. Ia menggigit bibir bawahnya yang gemetar “Kapan sih aku pernah minta balasan?” tanya Kezia “Bahkan mencintaimu pun ku lakukan dengan tulus tanpa menuntut balasan” ujarnya sambil meneteskan air mata. Kezia memejamkan matanya, menahan perih yang menggores hatinya “Bisa ga sih sekali ajaa kamu coba lihat ke belakang. Lihat aku yang selalu mengikuti setiap langkahmu. Bisa ga sih sekali aja kamu lupain tentang ‘perbedaan’ yang selalu kamu permasalahin itu? Aku ga ngerti ‘perbedaan’ apa yang kamu maksud. Yang aku tau cuma aku sayang kamu” tutur Kezia. “Tapi kayaknya kamu gapernah sadar ya kalo aku tulus sayang sama kamu, atau mungkin kamu emang sengaja pura-pura ga sadar?”
Andrew mengusap lembut pipi Kezia yang telah basah oleh air mata ”Jangan merendahkan dirimu seperti ini Kei. Kamu pantas untuk bahagia”
Kezia menepis tangan Andrew, kemudian ia menatap Andre dengan tajam “Apa aku sama sekali tak berarti buat kamu?” tanyanya lirih.
Deg! Lidah Andrew seketika menjadi kelu, bibirnya terkunci rapat. Sementara itu Kezia terus menunggu. Berharap akan ada sepatah dua patah kata yang akan keluar dari mulut Andrew. Semenit, dua menit berlalu bersama keheningan yang menyelimuti mereka.
“Oke cukup!” ujar Kezia mengakhiri keheningan di antara mereka. Ia menghapus air matanya yang baru saja meluncur lagi dari matanya “Semuanya cukup sampai disini. Mungkin kamu benar. Kita memang berbeda. Perasaan kita yang berbeda. Aku selalu cinta tapi kamu tidak” ujarnya. Kemudian ia pun pergi meninggalkan Andrew tanpa menoleh sedikitpun kepadanya.
Andrew memandangi punggung Kezia yang kian menjauh dari pandangannya “Kamu berarti Kei. Saking berartinya kehadiran kamu dalam hidupku, aku sampai tak sanggup mengatakannya” ujar Andrew dalam hatinya. Namun ia hanya bisa memandangi kepergian Kezia tanpa mampu menahannya.

5 tahun kemudian…
Andrew memperhatikan dengan teliti setiap lembar-demi lembar berkas dokumen yang menumpuk di atas mejanya. Sesekali tangannya memijit tengkuk lehernya yang mulai menegang.
“Bro, dilanjut besok aja lah. Muka lo udah kaga enak diliat gitu juga” tegur salah seorang rekan kerjanya.
“Tanggung Har, tinggal ngecek ini aja kok” ujar Andrew tanpa menoleh sedikitpun ke arah Harry –rekan kerjanya–. “Yak finish!” Andrew meletakkan kembali dokumen yang sedang dibacanya tadi di atas meja.
Harry kemudian menghampiri Andrew dan duduk di bangku yang tersedia di depan meja kerja Andrew “Kerja mulu lo, pantesan jomblo” ledek Harry.
“Iyadah yang punya pacar mah emang bedaa” cibir Harry sambil merapikan berkas-berkas dokumen yang berserakan di mejanya.
“Apaan nih Ndrew?” tanya Harry saat melihat sebuah brosur yang terselip di antara tumpukan berkas.
“Ohh itu brosur undangan reuni SMA gue” jawab Andrew.
“Lo alumni SMA Dothes juga? Sama dong kayak cewe gue. Tapi dia angkatan di bawah lo sih kayaknya” tutur Harry.
“Ohiya? Nanti kenalin ke gue yaa? Gue mau lihat muka cewe bernasib malang yang menjadi pacar lo itu” ledek Andrew.
“Ah sialan lo Ndrew” ujar Harry sambil meninju kecil bahu Andrew “By the way about high school, lo punya kisah cinta gitu ga pas zaman SMA?” tanya Harry.
Andrew terdiam sejenak saat mendengar pertanyaan Harry. Pikirannya menerawang jauh pada lima tahun lalu saat ada seorang wanita yang datang mengetuk pintu hatinya dan mengubah hidupnya. Andrew tersenyum “Ada, tapi sayangnya ga berakhir indah”
“Kok gitu Ndrew? Lo ditolak ya?”
Andrew tertawa kecil “Engga kok. Sebenarnya kita punya perasaan yang sama. Tapi gue yang dulu terlalu naif. Gue membabat habis semua perasaan cinta yang tumbuh itu hanya karena sebuah perbedaan”
“Beda agama?” selidik Harry
Andrew menggelengkan kepalanya “Bukan. Perbedaan status sosial. Bodoh kan gue?”
Mendengar itu Harry hanya bisa ternganga.
“Gue yang dulu emang benar-benar bodoh. Gue minder karena gadis yang gue suka adalah anak orang kaya. Terlebih lagi dia juga primadona sekolah. Orang-orang yang suka sama dia adalah orang-orang tajir semua. Sedangkan gue? Gue ga ada apa-apanya. Gue ga bisa ngasih dia apa-apa. Tapi dia selalu baik sama gue, dia ga peduli apa kata orang. Bahkan dia ga peduli pada sikap dingin gue. Sampai akhirnya mungkin dia lelah. Dia mencapai puncak akhir batas pertahanannya” ujar Andrew lirih.
“Terus sekarang cewek itu gimana kabarnya?” tanya Harry
Andrew mengangkat kedua bahunya bersamaan “Entahlah. Tapi gue selalu berharap semoga suatu hari nanti gue bisa bertemu lagi sama dia. Meski hanya sekedar untuk mengungkapkan perasaan gue ke dia. Ah udahlah, ga bakat gue mellow gini. Lo ga jemput cewe lo? Biasanya jam segini udah ngalor ngidul lo”
Harry menepuk keningnya “Ohiya, gara-gara dengerin curhat lo nih jadi lupa deh gue” Harry kemudian beranjak pergi namun tiba-tiba ia duduk kembali.
“Kenapa lagiiiii?” tanya Andrew.
Harry tersenyum lebar “Ehehe, jadi gini lo kan sohib gue banget nih yaa. Mau doong bantuin gue?” ujar Harry sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Andrew mengernyitkan dahinya “Bantu apa?” tanyanya. Harry kemudian membisikkan sesuatu di telinga Andrew. Andrew mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Harry sambil sesekali mengangguk-anggukan kepalanya “Okelah gampang” ujar Andrew
“Thanks sob” ujar Harry sambil menepuk-nepuk bahu Andrew “Okedeh gue balik dulu yaa” Harry kemudian berlalu meninggalkan ruang kerjanya
Kezia masih sibuk memperhatikan layar laptopnya, jari jemarinya dengan lihai menekan satu persatu button keyword laptopnya sambil sesekali menyeruput es jeruk yang ada di sampingnya.
“Huaaa Kei, mulai sekarang ga ada yang nemenin gue nongkrong di kantin lagi deh. Lulusnya nanti aja sih Kei” rengek Virsha.
Kezia tertawa kecil mendengar ucapan Virsha “Duuh lo gimana sih Vir, masa temen mau sukses lo halang-halangin”
“Bukan gituuuuuu. Cuma yaa gue ngerasa bakal kehilangan lo ajaa”
Kezia menghentikan aktivitas mengetiknya, kemudian ia merangkul Virsha, sahabatnya yang selalu setia menemaninya sejak SMP ini sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri “Lo ga akan pernah kehilangan gue kok. Lo juga cepet kelarin tuh kuliah lo. Jangan main muluuu” ujar Kezia sambil mencubit kecil pipi Virsha. Mereka berdua pun berpelukan.
“Duuhh mau juga dong di peluk” Ledek Harry yang tiba-tiba berada di belakang mereka.
Kezia dan Virsha melepaskan pelukan mereka “Gengges ajaa deehh” cibir Kezia.
Harry mengambil tempat duduk di sebelah Kezia, kemudian ia mencubit lembut pipi Kezia “Duuuh galak banget sih kesayangannya aku, jadi gemez deh” godanya.
Kezia menepis tangan Harry dari pipinya “Apasih alay dasar” ujarnya ketus, sementara itu Harry malah tertawa.
“Kalian tuh yaa, pacaran udah hampir tiga tahun tapi kelakuannya masih begitu aja” ujar Virsha.
“Justru itu Vir yang ngebuat hubungan kita jadi awet. Apalagi mulut pedesnya Kezia. Makin cinta deh gue kalo dimaki-maki sama dia mah hahaha” ujar Harry sambil mengedipkan sebelah matanya seraya menggoda Kezia. Sedangkan Kezia hanya meresponnya dengan mencibir.
 “Ehiya Vir, minggu depan sekolah kita kan ngadain reuni akbar. Lo dateng ga?” tanya Kezia.
“Dateng kok. Lo juga dateng kan?”
Kezia menganggukkan kepalanya, kemudian ia menatap Harry “Kamu jadi nemenin aku ke acara reuni itu kan?” tanyanya.
Harry mengusap-usap lembut puncak kepala Kezia kemudian mengecupnya “All my time is yours honey” ujarnya lembut.
Kezia tersenyum mendengarnya. Jauh di balik sikapnya yang terkadang terlihat cuek pada Harry, di dalam hatinya ia selalu bersyukur karena memiliki Harry di hidupnya. Harry yang selalu setia menemaninya, yang selalu sabar menghadapi sikap labilnya, yang selalu mencintainya tanpa pamrih, yang terpenting adalah Harry selalu bisa memaknai setiap hadirnya. Membuat Kezia merasa berarti. Tapii………
“Kenapa mandangin aku? Aku tambah ganteng ya?” ujar Harry sambil menaikkan kerah kemejanya. Dan lagi-lagi Kezia hanya bisa mencibir.
…Tapi, Harry tetaplah Harry dengan segala kenarsisannya, gumam Kezia dalam hati.
Sebuah sedan hitam yang baru saja meluncur memasuki gerbang pintu SMA Dothes –yang sudah ramai oleh hiruk pikuk orang-orang di sekitarnya itu– mampu menarik perhatian dari orang-orang yang tengah berkumpul di lapangan. Seorang lelaki berpostur tinggi tegap dan berparas tampan kemudian turun dari sedan tersebut bersama seorang wanita berparas jelita, bertubuh layaknya seorang model dengan senyum manis andalannya yang mampu menghipnotis seluruh orang yang melihatnya.
“Astaga, Kezia dari dulu sampe sekarang masih cantik aja yaa. Mana pacarnya juga ganteng banget lagi. Pasangan sempurna banget itu maah” ujar salah seorang yang hadir disana.
Dorr! Seketika terdengar bunyi tembakan yang cukup keras dan bersamaan dengan itu lampu di SMA Dothes pun padam. Seluruh tamu undangan yang hadir sontak panik dan berlarian kesana kemari tak tentu arah dalam kegelapan.
“Kei, kamu temuin Virsha gih sana. Aku mau ngecek ada apa ini” ujar Harry sambil beranjak pergi.
Namun Kezia segera menahannya “Apa-apaan sih? Kamu mau kemana? Kamu kan bukan alumni sini, kamu mana tau seluk-beluknya sekolah ini. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?” Kezia memburu Harry dengan berbagai pertanyaan.
“Aku ga akan kenapa-kenapa kok. Percaya sama aku” Harry kemudian mengecup dahi Kezia lembut namun Kezia tetap menggenggam erat lengan Harry. “Kei, percaya sama aku” bujuk Harry. Dengan terpaksa akhirnya Kezia melepaskan tangannya dan membiarkan Harry pergi. Sementara itu dengan bantuan cahaya handphone Kezia kemudian berjalan perlahan menuju ke depan aula untuk menemui Virsha.
Dari kejauhan Virsha yang melihat Kezia berjalan mendekat ke arahnya segera melambaikan tangannya memberi isyarat akan keberadaannya kepada Kezia yang langsung ditangkap oleh Kezia dengan mempercepat langkahnya menuju tempat Virsha berdiri.
“Ini ada apa sih Vir? Masa iyaa ada teroris?” tanya Kezia dengan nafas terengah-engah.
“Aduuh gue juga ga ngerti Kei. Udahlah kita cari aman aja diem disini jangan kemana-mana” ujar Virsha “Lah kak Harry mana Kei? Lo kesini sendiri?” tanya Virsha saat menyadari ketidakberadaan Harry.
“Harry ada kok. Tadi dia pergi buat nyari tau apa yang terjadi. Duuh Vir, tapi gue ga tenang nih. Gue takut Harry kenapa-kenapa” desis Kezia sambil meremas-remas tangannya dengan gelisah.
Dorr! Dorr! Dorr! Terdengar bunyi tembakan itu lagi bersama dengan jeritan keras dari salah seorang wanita. Kemudian orang-orang berbondong-bondong berlari menuju arah suara itu.
“Ada apa sih?” tanya Virsha pada seorang lelaki yang sedang lewat.
“Gak tau tuh, ada kerusuhan gitu dari belakang sekolah, terus katanya ada yang cowok yang ketembak” ujar lelaki itu kemudian ia berlalu pergi.
Kezia seketika lemas mendengarnya “Ya Tuhan Ry, cepet balik kesini doong”
Tak beberapa lama kemudian akhirnya lampu kembali menyala. Dari sudut lapangan terdengar orang yang berteriak “Woy! Ada yang kenal orang ini ga? Dia kena tembak nih”
Kezia segera menarik lengan Virsha “Vir kita liat kesana yuk” ujarnya. Virsha pun mengangguk menyetujui ajakan Kezia.
Namun, sesampainya di sana mereka tak dapat melihat dengan jelas sang korban tembakan karena orang tersebut dikerubungi banyak orang.
“Ya ampun ini siapa sih? Bukan anak sini deh kayaknya. Mukanya asing” ujar salah seorang di antara kerumunan itu.
Deg! Seketika jantung Kezia seperti mendapat hantaman keras saat mendengar itu. Tangannya gemetar, pikirannya berkecamuk, dalam hatinya ia memanjatkan do’a agar orang yang dimaksud tersebut bukanlah orang yang dicintainya.
“Loh, dia bukannya yang tadi dateng kesini sama Kezia yaa? Coba cari Kezia deh” ujar salah seorang wanita.
Kezia seketika ambruk mendengarnya. Lututnya lemas sampai tak mampu lagi menopang tubuhnya. Satu per satu orang yang berada di sekeliling korban tembakan itu mundur secara perlahan. Kini Kezia dapat melihatnya dengan jelas. Sosok yang terbaring lemas dengan baju penuh darah itu adalah orang yang namanya selalu ia panjatkan dalam setiap do’anya. Dia adalah Harry. Kekasihnya.
Perlahan Kezia merangkak mendekat menuju tempat Harry berbaring. Dengan gemetar ia menggenggam tangan Harry yang mulai mendingin. Diusapkannya punggung tangan Harry dengan harapan agar tangan Harry yang selalu memberinya kehangatan itu dapat kembali menghangat.
“Ry….bangun…ini ga lucu…aku mohon….jangan pergi” ujar Kezia sambil menangis tersedu-sedu. Ia kemudian mengguncangkan bahu Harry berharap Harry bangun dan kemudian memeluknya, namun usahanya sia-sia. Harry tak memberikan respon sedikitpun.
Kezia benar-benar ambruk. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimilikinya ia memeluk Harry dengan segenap jiwanya. Ingin rasanya ia menjerit, memaki keadaan yang telah membuatnya berada di situasi ini. Namun ia tak mampu, ia hanya bisa mengeluarkan emosinya lewat bulir-bulir air mata.
Namun tiba-tiba Kezia menyadari ada pergerakan kecil dari tangan Harry yang berada dalam genggamannya. “Ry….?” panggil Kezia. Perlahan Harry membuka matanya dan tersenyum kecil pada Kezia “Kamu kenapa nangis?” ujarnya sambil menghapus air mata di pipi Kezia.
Kezia menghela nafas panjang, bersyukur Harry masih bisa membuka matanya “Kamu fikir siapa lagi yang bisa bikin aku nangis selain kamu?” ujarnya.
Namun tiba-tiba Harry menggeram kesakitan, sontak Kezia kembali panik “Kamu kenapa Ry? Siapa saja tolong telepon ambulance” ujar Kezia panik.
Harry menggenggam erat tangan Kezia “Gaperlu Kei, aku cuma mau tau satu hal. Apa kamu benar-benar mencintaiku? Aku ragu karena kamu gak pernah sekalipun mengatakan kamu mencintaiku. Aku ga mau kalau hubungan kita selama ini hanya sekedar status palsu”
Air mata Kezia mengalir lagi “Bodoh!” makinya “Apa cinta harus selalu diucapkan dengan lisan? Apa kata sayang harus selalu terdengar oleh semua orang? Aku mencintaimu seperti sebuah hembusan angin. Memang tak terlihat, tapi kamu pasti bisa merasakannya kan?” Kezia mengelus lembut pipi Harry “Ry… Aku ga mungkin bertahan selama ini kalau aku ga cinta sama kamu” ujarnya.
Harry tersenyum puas mendengar jawaban Kezia. Ia kemudian menjetikkan jarinya, bersamaan dengan itu Virsha datang mendekat ke arah mereka sambil membawakan sebuah kue dan menyanyikan lagu ‘Happy birthday to you’ bersama-sama dengan semua orang yang ada disana.
Kezia tertegun melihatnya, ia kemudian memalingkan pandangannya kembali pada Harry. Harry tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya “Mana mau aku ninggalin kamu secepat ini. Aku masih mau terus sama-sama kamu di setiap ulang tahun kamu lah, enak ajaa ntar kamu selingkuh sama yang lain” godanya.
Sedetik kemudian Kezia akhirnya tersadar bahwa Harry dan Virsha bahkan semua orang disana sedang mengerjainya. Kezia segera menghapus air matanya dan kemudian bangkit “Mati aja deh lo!” makinya pada Harry. Namun Harry malah tertawa puas mendengarnya.
Harry kemudian bangkit dan melepas jasnya yang berlumuran darah palsu itu. Lalu ia menarik Kezia dalam dekapannya “Lepasin ga? Ngeselin tau ga lo? Benci gue benciiiii banget sama lo” omel Kezia sambil memukuli dada bidang Harry.
“Udah marah-marahnya?” tanya Harry yang semakin membuat Kezia emosi. Kezia hendak mengeluarkan makian lagi namun Harry dengan cepat langsung membungkamnya dengan sebuah kecupan lembut yang mendarat tepat di bibir Kezia. Emosi Kezia semuanya seketika meluluh berganti dengan perasaan hangat dan tenang. “Aku bahagia akhirnya aku tau kalau kamu mencintaiku” bisik Harry.
“Ehem-ehem, maaf tolong jangan lupa disini ada banyak manusia, bukan cuma kalian berdua doang dan tangan gue juga udah mulai pegel nih” tegur Virsha sambil melirik kue yang dibawanya.
Pipi Kezia seketika merona, menyadari bahwa mereka ditonton banyak orang disini. Sementara itu Harry masih dengan santai merangkul Kezia “Terima kasih buat semuanya yang udah berpartisipasi mendukung rencana saya untuk memberikan surprise pada kekasih saya ini” ujar Harry sambil menatap Kezia dan Kezia pun balik menatapnya sambil tersenyum “Dan terima kasih sebesar-besarnya pada sahabat saya yang sudah memberikan ide hebat ini dan juga membantu mewujudkannya. Terima kasih kepada Andrew. Come here Ndrew, join with us”
Senyum Kezia seketika menghilang saat mendengar nama itu disebut. Terlebih saat orang itu kini benar-benar berdiri di hadapannya. Wajahnya masih sama seperti lima tahun lalu, hanya postur tubuhnya saja yang bertambah tinggi.
“Kei, kenalin ini Andrew. Rekan kerjaku sekaligus sahabatku. Aku kaget loh waktu tau dia ternyata alumni sekolah kamu juga, kakak kelas kamu lebih tepatnya” ujar Harry.
Tanpa semua orang sadari, ada perang besar yang kini sedang terjadi dalam hati Kezia. Pintu masa lalu yang telah tertutup rapat kini tiba-tiba terbuka dan seluruh kenangan yang telah lama terkunci itu pun kini menyerangnya.
Andrew mengulurkan tangannya “Selamat ulang tahun Kezia” ujarnya.
Kezia masih tetap mematung sampai saat Harry menyenggol lengannya dan memberi isyarat untuk menyambut uluran tangan Andrew. Kezia pun akhirnya menyambut uluran tangan itu “Makasih” ujarnya singkat kemudian dengan cepat menarik kembali tangannya.
Virsha, satu-satunya orang yang mengetahui serangkaian cerita masa lalu Kezia pun segera mengambil tindakan untuk mengalihkan situasi ini saat dilihatnya Kezia sudah benar-benar salah tingkah. Virsha kemudian menyalip Andrew dan kini ia berdiri tepat di hadapan Kezia “Okee kalau gitu Kezia tiup lilin dulu yaa. Jangan lupa berdo’a. semoga selalu diberi kesehatan dan kekuatan. Terus juga semoga LANGGENG terus sama kak Harry sampai cuma maut yang bisa memisahkan” Virsha sengaja menekankan kata-kata ‘langgeng’. Berharap Kezia mengerti dan sadar bahwa kini di sampingnya sudah ada orang yang akan membawanya menghadapi masa depan dan berharap agar Kezia tidak kembali larut dalam masa lalunya.
Kezia paham betul kode yang diberikan Virsha. Ia memejamkan matanya, memanjatkan syukur atas apa yang telah diterimanya selama ini dan tak lupa juga berdo’a kepada Yang Maha Esa agar selalu menetapkan hatinya hanya kepada Harry. Kemudian ia membuka kembali matanya dan meniup lilin itu satu persatu hingga semuanya padam.
“Happy birthday to you. I will always be yours, and you will always be mine” ujar Harry sambil mengecup punggung tangan Kezia.
“Ndrew makasih banyak loh yaa udah ngebantuin acara surprise buat pacar gue” ujar Harry.
“Iyaa, sama-sama” jawab Andrew.
“Terus gimana dengan gadis lo itu? Lo udah ketemu dia terus ungkapin perasaan lo?” tanya Harry.
Tenggorokan Andrew seketika tercekat mendengar pertanyaan Harry. Ia bahkan sampai memuntahkan kembali minuman yang sedang diteguknya. Bagaimana mungkin ia tega memberitahu Harry bahwa gadis yang dicintainya adalah kekasih sahabatnya sendiri. Bagaimana ia bisa memberitahu Harry bahwa mereka mencintai orang yang sama. Andrew menarik nafasnya dalam-dalam “Ketemu sih udah, tapi gue rasa gue ga perlu ngungkapin perasaan gue. Toh dia juga udah bahagia sekarang” ujar Andrew lirih.
Harry mengernyitkan dahinya “Maksud lo gimana?”
“Udah ada orang lain yang jauh lebih mencintai dia daripada gue. Yang jauh lebih bisa membahagiakan dia dibanding gue” Andrew kemudian meletakkan gelas minumnya di atas meja “Gue cari udara seger dulu yaa” ujarnya sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya
“Eh bentar Ndrew” sergah Harry saat melihat ada sebuah kotak yang terjatuh dengan keadaan terbuka dari saku celana Andrew saat ia mengambil rokok. Harry kemudian mengambilnya dan memungut kalung yang juga terjatuh dari dalam kotak itu “Kean” gumamnya saat membaca tulisan yang tertera dalam badul kalung itu
Dengan cepat Andrew segera mengambil kalung dan kotak itu dari tangan Harry, kemudian ia berlalu pergi tanpa sepatah kata pun
“Kean” Harry mengulang kembali kata yang tertulis di bandul kalung itu. Detik itu juga ia menyadari ada sesuatu yang tidak diketahuinya, ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
“Kamu udahan ngobrolnya?” tanya Kezia saat Harry menghampirinya.
“Emm… Kei gue ke tempat teman-teman yang lain dulu yaa” pamit Virsha meninggalkan Harry dan Kezia berdua.
Harry menganggukan kepalanya, kemudian menatap Kezia lekat-lekat “Apa ada suatu hubungan antara kamu sama Andrew?”
Kezia menahan nafasnya saat kalimat itu terlontar dari mulut Harry, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada sebuah kursi kosong di sudut aula “Mungkin lebih baik kita ngobrolnya sambil duduk aja kali ya?” ia kemudian berjalan ke arah kursi itu diikuti Harry dibelakangnya.
“Okey, sekarang coba kamu jelasin dulu sama aku” ujar Kezia saat mereka sudah duduk di bangku itu.
 “Bukan aku yang harus ngejelasin, tapi kamu Kei” ujar Harry “Surprise buat kamu tadi itu Andrew yang rencanain. Awalnya surprise itu udah dia rencanain buat wanita yang udah lama dia sayang. Tapi mirisnya wanita itu udah punya kekasih. Jadi rencana surprise itu dia kasih ke aku untuk ngerayain ulang tahun kamu” tutur Harry. Kemudian ia menatap mata Kezia “Terus tadi ga sengaja Andrew ngejatuhin sebuah kotak dari saku celananya dan pas aku ambil ternyata kotak itu berisi sebuah kalung berbandul hati dan ada kata ‘Kean’ terukir di situ. Kata yang sama juga tertulis di sebuah kotak yang ada di atas meja belajar kamu. Apa itu adalah sesuatu special bagi kalian? Apa sebenarnya hubungan kalian berdua?”
Sesaat jantung Kezia berhenti berdetak. ‘Kean’ sebuah kata yang dalam sekejap mampu membawanya pada kenangan manis masa lalu, tempat dimana hatinya tertinggal. ‘Kean’ sebuah singkatan dari nama (Ke)zia dan (An)drew.
“Kei, apa hubungan kamu sama Andrew bener-bener cuma sebatas kakak kelas dan adik kelas?” tanya Harry lagi. ‘ayoo Kei bilang kalo kamu sama Andrew emang cuma sebatas itu’ gumam Harry dalam hati.
Kezia menatap mata Harry, terlihat jelas dalam sorot matanya bahwa Harry sebenarnya sudah tahu ada hubungan special antara Kezia dan Andrew. Namun Harry tetap menginginkan Kezia menyangkalnya sekalipun penyangkalan itu adalah kebohongan. Kezia menarik nafasnya dalam-dalam “Dari segi status, aku sama Andrew memang cuma sebatas itu kok” ujar Kezia.
“Hanya dari segi status?” tanya Harry.
“Memangnya kamu mau tahu dari segi apa lagi?” Kezia justru malah balik bertanya pertanyaan yang sukses membuat Harry bungkam seribu bahasa. “Kamu percaya kan sama aku?” tanya Kezia. Harry terdiam sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. “Kalau gitu, boleh aku ngobrol sama Andrew sebentar?” tanya Kezia hati-hati. Harry menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya bersamaan dengan sebuah anggukan.
Mata Kezia menyusuri satu per satu orang yang hadir di acara reuni akbar itu, sampai akhirnya matanya dapat menangkap sosok yang sedang dicarinya. Dengan perlahan Kezia menghampirinya dan berdiri di hadapannya “Boleh bicara sebentar?” tanya Kezia. Yang kemudian dijawab dengan sebuah anggukan, kemudian mereka berjalan beriringan menuju suatu tempat yang mana tempat tersebut menjadi saksi bisu perpisahan mereka 5 tahun lalu.
“Apa kabar Kei?” tanya Andrew memulai pembicaraan.
Kezia tersenyum tipis “Baik. Lebih baik dari lima tahun lalu” ujar Kezia.
Dada Andrew seketika terasa tertusuk saat mendengar ucapan Kezia. Namun ia tak ingin Kezia melihat kepedihan hatinya “Selamat yaa, aku ga nyangka kamu ternyata pacar sahabatku” ujar Andrew
“Apa kamu bahagia?” tanya Kezia
Andrew terdiam. Hening kini menyelimuti mereka, sama seperti lima tahun lalu, Andrew masih saja tak mampu menjawab pertanyaan Kezia
Kezia menarik nafasnya dalam-dalam, menahan agar air matanya tak keluar. “Lima tahun berlalu tapi kamu masih tetap tak berubah? Pertanyaanku sangat sederhana tapi kamu masih saja tak bisa menjawabnya. Sesekali coba biarkan hatimu bersuara” ujar Kezia sambil berlalu pergi meninggalkan Andrew yang masih saja mematung
Menyadari kepergian Kezia, Andrew segera menahannya. Ia tak ingin semuanya berlalu begitu saja tanpa kejelasan seperti lima tahun lalu. Andrew meraih kedua tangan Kezia dan menggenggamnya, kemudian ia berlutut di hadapan Kezia. “Aku sayang kamu Kei. Dulu, sekarang dan sampai kapanpun juga” ujarnya
Air mata Kezia seketika berlinang saat mendengarnya. Seandainya saja jalan yang ia tinggalkan lima tahun lalu masih sama, mungkin ia dapat kembali ke jalan itu. Tapi kenyataannya berbeda, semuanya mengalami perubahan. Ia tak bisa kembali ke sana, yang ia bisa lakukan hanyalah melangkah maju ke depan.
Kezia menghapus air matanya, kemudian ia membantu Andrew untuk berdiri. “Jangan merendahkan dirimu seperti ini. Kamu juga pantas bahagia” Kezia mengulang kata-kata yang Andrew katakan kepadanya lima tahun lalu “Seperti aku yang kini sudah menemukan kebahagiaanku, kamu juga akan menemukan kebahagiaanmu. Tuhan menghadirkan cinta diantara kita bukan karena kebetulan semata, semua pasti ada alasannya. Satu hal yang perlu kamu ingat, ketika suatu hari nanti kamu jatuh cinta lagi maka katakanlah cintamu itu, tunjukkan jangan kau pendam. Kami sebagai kaum wanita hanya bisa menanti kepastian. Tugasmulah sebagai pria yang memberikan penjelasan” Kezia mengusap lembut bahu Andrew “Sampai bertemu lagi di lain hari saat kita sudah sama-sama menggenggam kebahagiaan kita”
Keputusan Kezia sudah final, ia tak ingin menyakiti siapapun disini. Setidaknya ia sudah cukup senang mengetahui perasaan Andrew yang sebenarnya. Ia pun kemudian pergi berlalu meninggalkan masa lalunya dan menyongsong masa depannya.
Andrew akhirnya kini bisa menyaksikan kepergian Kezia dengan sebuah senyuman, hatinya kini lega karena perasaan yang selama ini dipendamnya sudah bisa ia ungkapkan. Seperti halnya Kezia yang sudah menemukan kebahagiaannya, ia pun pasti juga akan menemukan kebahagiaannya. Ia mengambil sebuah kotak –yang berisi kalung untuk Kezia– dari sakunya dan melemparkannya jauh-jauh “Goodbye my past. And welcome my future”
Thanks for reading^^
Follow me on twitter and ask.fm @atyampela


Tidak ada komentar:

Posting Komentar