Ku
teringat dalam lamunan rasa sentuhan jemari tanganmu
Ku
teringat walau telah pudar suara tawamu sungguh ku rindu
Tanpamu
langit tak berbintang, tanpamu hampa yang ku rasa
Seandainya
jarak tiada berarti akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya
sang waktu dapat mengerti takkan ada rindu yang terus menggangu
Kau
akan kembali bersamaku
Ku
teringat walau telah pudar suara tawamu sungguh ku rindu
Tanpamu
langit tak berbintang, tanpamu hampa yang ku rasa
Seandainya
jarak tiada berarti akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya
sang waktu dapat mengerti takkan ada rindu yang terus menggangu
Kau
akan kembali bersamaku
Terbit
dan tenggelamnya mentari membawamu lebih dekat
Denganmu
langitku berbintang
Denganmu
sempurna ku rasa
Seandainya
jarak tiada berarti akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya
sang waktu dapat mengerti takkan ada rindu yang terus menggangu
Kau
akan kembali bersamaku (Raisa – LDR)
Chika
duduk bersantai di kursi kerjanya sambil memandangi layar handphonenya,
sesekali ia tersenyum dan juga merengut. Sementara itu telinganya ia manjakan
dengan mendengarkan lagu dari ipodnya
“Woi
kerja kaliiii!!” tegur Dimas mengagetkannya
Chika
segera melepas headsetnya dan mendengus kesal “Udah kelar boss!” jawabnya ketus
Dimas
menyeringai “Yaudah kalo gitu sekarang temenin gue makan siang diluar yuk”
ujarnya. Tanpa menunggu persetujuan dari Chika, Dimas segera menggandengnya
pergi
Chika
hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi kelakuan Dimas yang super bossy
dan terkadang egois. Mau bagaimana lagi, Dimas adalah bossnya yang juga
merupakan teman sejak kecilnya. Hal itulah yang membuat Chika sudah sangat
kebal dengan segala tingkah laku Dimas yang super menyebalkan, oleh sebab itu
pula Chika menjadi satu-satunya wanita yang paling dekat dan tahan menghadapi
Dimas (selain mamanya Dimas tentunya)
“Si
kampret itu belum ada kabarnya juga?” tanya Dimas di sela-sela perjalanan
mereka
Chika
sontak membelalakkan matanya “Heh! Edvan tuh lebih tua dari lo yaa. Yang sopan
manggilnya. Dan yang paling penting dia itu pacar gueeee” tegas Chika
“Yayaya
what ever deh yaa, gimana? Belum ada kabar?” tanya Dimas lagi
“Waktu
pagi skype-an kok” jawab Chika
“Pagi
kapan? Pagi bulan lalu?” ledek Dimas
Chika
melotot sejenak lalu kemudian berdecak kesal, “bawel ah” ujarnya
Dimas
mengacak-acak rambut Chika “Udahlah putusin aja, lagian hubungan kalian tuh
udah kayak celana Peppy tau ga?”
“Maksudnya?”
tanya Chika tak mengerti
“Ngegantung!”
jawab Dimas
Chika
mendengus kesal “Ah elo mah gitu sih, bukan sohib gue lo” cibir Chika.
Sementara itu Dimas malah tertawa terbahak-bahak
…
“Aku
pulang” ujar Chika setibanya di rumahnya. Ia segera menghampiri ibunya dan
mengecup punggung tangan dan juga pipi ibunya
“Kamu
lembur? Kok pulangnya malem?” tanya sang ibu
“Engga
kok bu, tapi tadi nemenin Dimas ketemu klien dulu” ujar Chika “Yaudah yaa bu
aku langsung ke kamar aja” pamitnya pada ibunya
Chika
langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dering ponselnya berbunyi
pertanda ada panggilan masuk. Tangannya dengan cepat merogoh tasnya mencari
ponselnya. Ia segera mengecek ponselnya saat berhasil menemukannya, namun raut
wajahnya seketika berubah menjadi muram saat melihat nama yang tertera di layar
adalah nama Dimas bukan Edvan. Dengan malas-malasan akhirnya ia pun mengangkat
telepon itu
“Kenapa
lagi sih Dim? Kasih gue waktu istirahat kek” omel Chika
“Ampun
yaa ini orang bukannya kasih salam dulu kek” sahut Dimas dari ujung telepon
“Gaperlu
salam segala kalo sama lo mah. Udah cepetan ngomong ada perlu apa gue ngantuk
bangeeet”
“Gapapa
kok, cuma mau mastiin lo selamat sampe di dalem istana lo aja”
Chika
menggeleng-gelengkan kepalanya “Ehh buset yaa Dim, gue sahabat lo apa anak
perempuan lo? Over protektif banget lo, jelas-jelas yang nganterin gue pulang
juga lo. Ampe depan pintu malah lo nganterinnya”
Dimas
tertawa kecil di ujung telepon sana “Yaaa kali aja gitu pas lo udah di dalem
rumah lo kepeleset atau kejedot kan gue ga tau” candanya
“Kurang
kerjaan lo. Makanya punya pacar”
“Yang
mau gue pacarin udah punya pacar, mau gimana lagi? Udahlah istirahat sana. Bye”
Dimas pun mengakhiri pembicaraan mereka di telepon. Lagi-lagi Chika hanya bisa
menghela nafas panjang menghadapi kelakuan Dimas yang super duper aneh.
…
Pagi
ini Chika nampak kurang bersemangat. Selain karena hari ini ia harus lembur
untuk menyusun jadwal harian Dimas, juga karena semalam ia kurang tidur. Chika
memelototi layar handphonenya semalam suntuk demi harapan agar sang kekasih,
Edvan, memberi kabar kepadanya. Sudah hampir tiga tahun ia tak bertemu dengan
kekasihnya itu sejak Edvan memilih melanjutkan pendidikan S2 nya di Inggris.
Biasanya Edvan memberi kabar lewat skype atau e-mail secara rutin setiap
minggunya. Namun sudah sebulan terakhir ini Edvan sama sekali tak memberinya
kabar, bahkan e-mail yang Chika kirim pun sampai saat ini tak kunjung mendapat
balasan.
Chika
akui ada banyak sekali pikiran negatif yang memenuhi otaknya. Ia sangat
mengkhawatirkan keadaan kekasihnya disana. Ia takut ada suatu hal yang buruk
terjadi sehingga Edvan tak dapat memberinya kabar, ataukah mungkin Edvan memang
benar-benar sedang sibuk sampai tak mampu memberinya kabar. Chika hanya bisa
menghela nafas, panjang dan berat “Padahal biasanya sesibuk apapun kamu, kamu
ga pernah lupa untuk ngucapin selamat ulang tahun ke aku” gumamnya dalam hati.
Ya,
hari ini adalah hari ulang tahunnya, namun tak ada sesuatu yang spesial yang
terjadi hari ini. Biasanya Edvan akan menghubunginya lewat skype dan mereka
merayakan ulang tahun Chika bersama meski terpisah jarak yang begitu jauh.
Namun sepertinya tidak untuk hari ini, jangankan untuk merayakan, ucapan saja
tak ia dapatkan dari kekasihnya itu. Chika hanya bisa berdo’a yang terbaik
untuk kekasihnya itu. Karena hanya do’a lah satu-satunya hal yang mampu
menembus jarak.
Ponsel
Chika tiba-tiba berdering membuyarkan lamunannya, dengan antusias ia langsung
mengambilnya, namun raut wajahnya berubah masam saat melihat nama yang tertera
di layar handphonenya lagi-lagi nama Dimas, bukan Edvan
“Ada
perlu apa boss?” sapanya
“Ke
ruangan gue sekarang” jawab Dimas singkat dan langsung menutup teleponnya
Chika
segera menuruti perintah Dimas, ia lalu bangkit dari meja kerjanya menuju
ruangan Dimas
“Ada
masalah apa?” tanya Chika setibanya di ruangan Dimas
Dimas
menyerahkan selembar amplop putih pada Chika “Kemasin barang-barang lo”
perintahnya
Chika
sontak membelalakkan matanya “Lo mecat gue? Emang kesalahan fatal apa yang udah
gue bikin? Gue telat nyerahin schedule harian lo? Lah kan baru hari mau
dibikinnya. Apa karena gu…..” belum kelar Chika bicara, Dimas segera membungkam
mulut Chika dengan telapak tangannya
“Lo
liat dulu itu isinya apa baru ngoceh” ujar Dimas, kemudian ia menurunkan
tangannya dari mulut Chika
Chika
kemudian membuka amplop itu dan ia justru malah lebih terkejut dari sebelumnya.
Amplop itu berisi sebuah tiket pesawat penerbangan ke Inggris. “Ini…”
“Ikut
gue ketemuan sama klien di sana. Lumayan kan sekalian refreshing” ujar Dimas
“Anggap aja hadiah ulang tahun” lanjutnya
Chika
tak kuasa menahan rasa harunya. Inilah yang membuat Chika tahan mengahadapi
sikap menyebalkan Dimas. Karena Chika tau Dimas adalah orang yang baik, Dimas
selalu punya cara untuk membuat Chika kembali ceria saat ia sedang bersedih.
Seolah seperti dapat membaca apa yang ada di pikiran Chika, Dimas selalu tahu
bagaimana cara untuk menghiburnya.
Chika
langsung memeluk Dimas “Thanks Dim. Lo emang bener-bener sahabat terbaik yang
gue punya” ujarnya. “Yaudah gue beresin berkas-berkas yang harus dibawa dulu
yaa” Chika pun kemudian meninggalkan ruang kerja Dimas dengan penuh
kegembiraan. Galau yang tadi menghantuinya kini sudah pergi, karena besok ia
akan terbang melintasi jarak yang selama ini menghadang untuk menemui orang
yang dicintainya.
Sementara
itu Dimas hanya bisa tersenyum getir, bukan karena ia tak suka melihat Chika
bahagia. Tapi karena ia tak bisa berdamai dengan hatinya sendiri. Ingin sekali
rasanya ia benar-benar bisa bersahabat dengan Chika, namun bagaimana bisa ia
melakukannya. Mendengar disebut sebagai ‘sahabat terbaik’ oleh Chika saja
hatinya langsung meradang. Ya, Dimas memang tak pernah bisa sepenuhnya melihat
Chika sebagai sahabatnya. Terkadang ia ingin sekali Chika hanya melihat ke
arahnya, namun Dimas tau itu akan sangat sulit baginya karena Chika sudah
memiliki orang yang dicintai
…
Chika
pulang lebih awal karena harus mengemasi barang-barangnya. “Ibuuuu…” panggil
Chika dengan penuh sukacita
Sang
Ibu pun menghampirinya “Loh kok kamu udah pulang nak?” tanyanya
Chika
langsung memeluk ibunya dan menunjukkan tiket yang diberikan Dimas kepada
ibunya “Besok aku bakal ke Inggris Bu. Yaa ada urusan kerjaan sih. Tapi pas nanti
aku free aku mau ke Adore University buat nemuin Edvan” ujarnya sumringah
“Waah
syukur deh kalo gitu. Akhirnya kamu bisa ketemu sama Edvan lagi. Itu tiketnya
dari kantor? Semua karyawannya juga bakal kesana?” tanya sang Ibu
“Engga
Bu, cuma aku sama Dimas yang pergi kesana. Ini tiketnya juga dari Dimas.
Sekalian hadiah ulang tahun katanya hehehe”
Ibunya
tertawa kecil “Kamu masih hapal rumus pitagoras ga?” tanyanya
Chika
melongo sejenak “Buat apa bu?” tanyanya heran
“Buat
mecahin persoalan cinta segitiga” jawab sang Ibu sambil berlalu meninggalkan
Chika yang masih melongo tak mengerti dengan maksud ucapannya
Chika
menggeleng-gelengkan kepalanya “Apasih si Ibu mah ga jelas banget” gumamnya
kemudian berlalu ke kamarnya
Chika
segera mengemasi barang-barang yang akan dibawanya dan memasukkannya ke dalam
koper. Kemudian ia mengambil handphonenya hendak mengirimkan e-mail kepada
Edvan untuk memberitahukan keberangkatannya ke Inggris besok, namun tiba-tiba
ia menaruh kembali handphonenya “Ga perlu aku kabarin deh, biar surprise gitu”
gumamnya
…
“Udah
Siap?” tanya Dimas saat Chika turun dari tangga
Chika
sontak terkejut mendapati Dimas tengah duduk di ruang taunya bersama dengan ibunya
“Kok lo udah ada disini aja sih?” tanya Chika
“Pertanyaan
itu butuhnya jawaban, bukan pertanyaan balik” ujar Dimas
Chika
mencibir “Iyaa udah siap pak bossss”
Dimas
tersenyum puas, kemudian mengalihkan pandangannya pada Ibunya Chika “Bu, Chika
aku pinjem dulu yaa. Tenang aja pasti aku jagain kok” ujarnya, kemudian ia
mengecup punggung tangan Ibunya Chika
“Ibu
titip Chika yaa nak Dimas, kalo dia macem-macem kamu omelin aja” jawab sang Ibu
sambil mengelus lembut kepala Dimas
Setelah
mendapat izin, Dimas kemudian mengambil koper yang dibawa Chika dan
membawakannya ke dalam taxi yang sudah dipesannya
“Bu,
aku pergi dulu yaa. Ibu jaga diri baik-baik yaa di rumah. Nanti aku bawain
oleh-oleh” pamit Chika pada ibunya sambil mengecup pipi sang Ibu
“Kamu
juga baik-baik yaa disana, harus nurut sama Dimas” ujar sang Ibu
“Ibuuuu
jangan gitu, nanti Dimas makin besar kepala” desis Chika. Sementara itu Dimas
sedang tersenyum-senyum di luar pintu mendengar percakapan Chika dan ibunya
Setelah
berpamitan Chika dan Dimas pun langsung melaju menuju bandara
“Denger
kan tadi apa kata Ibu?” goda Dimas di sela-sela perjalanan mereka
“Yang
mana yaa? Ga denger tuh” jawab Chika cuek
“Nurut
yaa sama gue. Ini perjalanan bisnis bukan tamasya apalagi acara tali kasih”
ledek Dimas lagi
“IYAA
BAWEEEL” jawab Chika jutek sementara itu Dimas tertawa terbahak-bahak
…
Dimas
rupanya tak main-main dengan ucapannya. Sejak pertama kali menjejakkan kaki di
Inggris hari-hari Chika benar-benar dipenuhi perjalanan bisnis. Setiap hari
pergi pagi pulang malam untuk bertemu dengan beberapa klien. “Apanya yang
refreshing” gerutunya dalam hati.
Ini
adalah hari terakhir mereka berada di Inggris, bahkan sampai hari ini pun Chika
masih harus menemani Dimas makan siang dengan beberapa klien di meeting room
hotel mereka
“Okay,
our time is up. Thanks for this great lunch” ujar Dimas mengakhiri meetingnya
hari ini
Chika
menarik nafas lega, akhirnya tugasnya selesai dan itu artinya hari ini ia bisa
pergi jalan-jalan menikmati suasana kota Inggris bersama dengan orang yang
sudah dinantikannya
“Udah
selesai kan? Udah gaada rapat lagi kan? Udah free kan?” Chika memborong Dimas
dengan pertanyaan sesaat setelah para klien meninggalkan ruang meeting
“Hmmm”
ujar Dimas “Seneng?” tanyanya sambil berlalu keluar tanpa menunggu jawaban dari
Chika
Chika
menyunggingkan senyumnya “Ya jelas seneng lah” ujarnya. Kemudian ia merapikan
berkas-berkas dokumen yang ada di atas meja dan segera menuju kamarnya
Chika
mempersiapkan dirinya dengan sangat sempurna. Ia mengenakan sebuah dress
selutut berwarna baby pink dengan blazer warna putih tak lupa pula sedikit
polesan riasan semakin mempercantik dirinya yang memang pada dasarnya sudah
cantik itu. Chika tersenyum puas melihat pantulan dirinya di cermin. Setidaknya
ia ingin membuat kekasihnya itu terpana melihat dirinya setelah tiga tahun
terpisah
Chika
kemudian mengambil tasnya dan meninggalkan kamarnya namun betapa terkejutnya ia
saat mendapati Dimas sudah berdiri di depan pintu kamarnya
“Ngapain
lagi? Katanya tadi udah meeting terakhir” ujar Chika
“Lo
mau keluar dengan pakaian seperti ini?” tanya Dimas
“Ya,
ada yang salah?”
Dimas
berdecak “Tunggu gue di bawah, jangan pergi duluan sebelum gue dateng”
lanjutnya “Jangan coba-coba pergi duluan. Ngerti?” ancamnya sambil berlalu dari
hadapan Chika dan masuk ke dalam kamarnya
Chika
mengernyitkan dahinya, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya “Ini orang makin
lama makin mengkhawatirkan kondisi psikologisnya” gumamnya
Chika
sudah dua puluh menit lebih menunggu Dimas di lobby namun Dimas belum juga
menampakkan batang hidungnya “Itu anak sengaja banget yaa” geramnya. Baru saja
ia hendak menyusul Dimas ke kamarnya namun Dimas sudah terlebih dahulu berdiri
di hadapannya
Chika
tertegun sesaat melihat penampilan Dimas. Ini pertama kalinya ia melihat Dimas
mengenakan baju santai –ia hanya mengenakan kaos, jaket dan celana jins– karena
sudah lama sekali sejak Dimas manjadi direktur utama di perusahaan Ayahnya,
Dimas tidak pernah lagi terlihat memakai baju santai. Setelan baju formilnya
tak pernah lepas darinya karena tuntutan pekerjaan yang harus membuatnya
menemui klien penting di waktu yang tak terduga
“Iyaa
gue tau gue emang ganteng tapi gue takut aja mata lo iritasi kalo kelamaan ga
kedip gitu” tegur Dimas membuyarkan lamunan Chika
Chika
berdesis pelan “GR!” gerutunya. Kemudian ia pergi melewati Dimas menuju pintu
keluar. Sementara itu Dimas tersenyum sambil mengikuti Chika dari belakang
…
“Jaga
bicara lo, jangan ngomong kalo ga ditanya, jangan pasang tampang songong
walaupun tampang lo emang udah songong dari sananya. Pokoknya jangan ngomong
yang engga-engga di depan Edvan nanti. Jangan yaa pokoknya jangaaaan” pesan
Chika pada Dimas setibanya mereka di depan gerbang Adore University. Sementara
itu Dimas justru tampak tak menghiraukan ocehan Chika “Dim, ngerti ga gue
bilang apa?” tanya Chika
Dimas
melirik Chika “Engga ngerti dan ga peduli” ujarnya singkat “Mending lo mulai
cari si Edvan gih sana. Ntar waktu bebas lo keburu abis loh”
Chika
menarik nafasnya dalam-dalam “Inget yaa jangan macem-macem!” tegasnya. Ia pun
kemudian pergi memasuki Adore University. Chika langsung mengarahkan langkah
kakinya menuju taman Adore University karena mengingat Edvan selalu bilang
kalau ia suka sekali mengerjakan tugas di taman itu. Chika mengedarkan
pandangannya pada oarang-orang yang ada di taman itu namun ia belum juga
menemukan sosok yang dicarinya
“Ga
ada disitu kali, cari tempat lain coba. Lagian bukannya bilang aja sih kalo lo
ada di Inggris terus ketemuan deh biar ga repot gitu nyarinya” tutur Dimas
Chika
membalikkan badannya ke hadapan Dimas “Tadi apa gue bilang? Jangan ngomong kalo
ga ditanya. Dasar bawel” omel Chika. Kemudian ia kembali mencari sosok Edvan
diantara orang-orang di taman itu “Lucky!” ujarnya saat berhasil menemukan
sosok Edvan, ia segera berlari menuju tempat Edvan berada namun langkahnya tiba-tiba
terhenti, hal itu membuat Dimas menjadi ikut berhenti juga
“Heh,
ngapain berenti dadakan sih ah” tegur Dimas. Namun Chika tak bergeming, matanya
lurus menatap sesuatu
Dimas
menoleh dan terkejut mendapati apa yang tengah dilihat Chika, kedua tangannya
mengepal dengan keras. Kemudian ia dengan cepat berlari ke arah Edvan yang
sedang bermesraan dengan perempuan lain dan meninjunya dengan keras
“DIMASSS!!!”
jerit Chika, kemudian ia segera berlari menghampiri Dimas
Edvan
yang tiba-tiba dipukul seperti itu jelas tidak terima “What are you doing?!
Hah?!” tanya Edvan emosi sambil hendak melayangkan satu tinjuan ke arah Dimas,
namun tangannya terhenti di udara sesaat setelah Chika berdiri tepat
dihadapannya, diantara ia dan Dimas
Edvan
sangat terkejut melihat orang ang berdiri di depannya itu adalah Chika “Chika?”
tanyanya tak percaya. Ia kemudian menurunkan tangannya “Kok kamu kesini ga
ngabarin aku, kan aku bisa jemput kamu di bandara” ujarnya gugup
“Edvan,
who is she? You know her?” tanya wanita yang tadi sedang bermesraan dengan
Edvan
Edvan
terlihat sangat gugup “Em.. yeah.. She is…..” Edvan menggantung kalimatnya “My Friend
from Indonesia” ujar Edvan akhirnya
Air
mata Chika menetes bersamaan dengan kata-kata Edvan itu. Sia-sia sudah
penantiannya, percuma saja perjuangannya selama ini.
Dimas
yang geram mendengar ucapan Edvan itu hendak melayangkan pukulan lagi tepat di wajah
Edvan namun dengan sigap Chika menahannya. Dengan air mata yang berlinang itu
Chika menggelengkan kepalanya, meminta Dimas untuk menurunkan tangannya. Dimas
pun menuruti keinginan Chika kemudian pergi meninggalkan Chika sendiri
Edvan
pun meminta wanita yang bersamanya itu untuk meninggalkan ia dan Chika berdua.
Kini hanya tinggal mereka berdua, “Aku bisa jelasin ini…”
“Masihkah
nyata hadirku di matamu sedang cintamu tak lagi untukku?” potong Chika “Apa
kamu tau seperti apa rasanya menunggu? Apa kamu tau seperti apa rasanya
merindu? Apa kamu tau seperti apa rasanya menjadi aku?” tanya Chika lirih
“Iniii….”
“Jika
jujur saja menyakitkan bagaimana bisa kebohongan menjadi begitu menyenangkan
buatmu?” tanya Chika lagi, air matanya menetes tak henti. Sakit, perih, pilu,
marah, lelah, kecewa, semuanya menjadi satu di hatinya “Kamu tau bagaimana
tersiksanya aku karena mengkhawatirkanmu? Di dalam otakku selalu penuh dengan
beragam pertanyaan. Apa kuliahmu lancar? Apa kamu sakit? Apa kamu sedang ada
masalah? Apa tugasmu begitu banyak sampai kamu tak bisa menghubungiku?” Chika
menarik nafasnya dalam-dalam “Kini setidaknya satu dari pertanyaanku terjawab.
Kamu bukannya tak bisa menghubungiku, tapi kamu memang tak ingin” ujarnya
dengan derai air mata
Edvan
hendak memeluk Chika namun dengan cepat Chika menepis lengannya. “Maafkan aku,
tapi aku tak ingin dipeluk oleh lengan yang telah memeluk wanita lain” tegasnya
“Chika,
aku benar-benar minta maaf. Kamu terlalu baik untukku” ujar Edvan
Chika
tersenyum getir “Lalu apa aku harus menjadi seorang wanita jahat agar tidak
diperlakukan seperti ini?” tanyanya. Edvan pun terdiam tak mampu harus
memberikan jawaban apa atas pertanyaan Chika “Menurutmu, aku ini terlalu baik
atau terlalu bodoh?” tanya Chika lagi dan Edvan tetap terdiam
Chika
menghapus air matanya “Sudahlah, setidaknya aku sudah tau kamu baik-baik saja
disini. Aku harus pergi, lagipula wanita itu juga pasti sedang menunggumu. Aku
harap kamu berbahagia. Aku harap dia benar-benar mencintaimu hingga kamu tak
perlu merasakan apa yang ku rasakan. Aku pamit…… dari hidupmu” kemudian Chika
pun benar-benar pergi meninggalkan Edvan tanpa menoleh sedikitpun kearahnya
Chika
menghampiri Dimas yang sedari tadi menunggunya di depan gerbang “Heyy” tegurnya
Dimas
pun langsung berbalik badan dan menarik Chika dalam dekapannya. Chika terkejut
Dimas melakukan hal itu, baru saja Chika hendak meminta Dimas melepaskannya
namun Dimas sudah terlebih dahulu berkata “Jangan meminta gue untuk ngelepasin
lo, karena gue ga akan ngelakuin hal itu. Dan jangan coba-coba untuk melepaskan
diri, karena itu hanya akan sia-sia”
Air
mata Chika pun kembali menetes “Apa selalu seperti ini? Apa hubungan yang
terpisah jarak akan selalu berakhir seperti ini?” ujar Chika dalam isak tangisnya.
Dimas tetap terdiam, ia membiarkan Chika menangis merang-raung dalam
dekapannya. Sudah terlalu lama Chika berjuang sendiri, setidaknya sekarang Chika
harus beristirahat.
Telah
lama aku bertahan demi cinta wujudkan sebuah harapan
Namun
ku rasa cukup ku menunggu semua rasa t’lah hilang
Sekarang
aku tersadar cinta yang kutunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu bila kamu tak
cinta lagi
Namun
ku rasa cukup ku menunggu semua rasa t’lah hilang
Sekarang
aku tersadar cinta yang kutunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu bila kamu tak
cinta lagi
Dahulu
kau lah segalanya
Dahulu
hanya dirimu yang ada di hatiku
Namun
sekarang aku mengerti
Tak
perlu ku menunggu sebuah cinta yang semu
Sekarang
aku tersadar cinta yang kutunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu bila kamu tak
cinta lagi (Raisa – Apalah Arti Menunggu)
…
Chika
akhirnya pulang kembali ke Indonesia, mimpi-mimpi indah yang telah
dipersiapkannya kini telah sirna. Jarak memang begitu hebat, dengan sadisnya ia
mampu mengubah dan menghapus jejak seseorang
“Kita
makan dulu yaa? Baru nanti lo gue anter pulang” Ujar Dimas sambil menggandeng
tangan Chika.
Namun
Chika menahannya “Gue bisa pulang sendiri” ujarnya “Makasih Dim. Makasih untuk
tidak membiarkan gue bertemu dia lebih awal. Gue pulang dulu” pamitnya. Chika
pun melepaskan genggaman tangan Dimas dan pergi berlalu meninggalkannya
Dimas
memandangi punggung Chika yang kian menjauh “Kenapa sih lo ga pernah mau
bergantung sama gue?” gumamnya dalam hati. Dimas kemudian menyusul Chika dan
menghentikan langkah Chika. “Kalo emang mau pulang gue anter. gue udah janji
sama ibu lo buat jagain lo” Dimas kemudian menggandeng tangan Chika
“Tapi
Dim…”
“Lo
yakin mau debat sama gue? Udah tau kan hasilnya pasti sia-sia?” tanya Dimas.
Kemudian ia memasang senyum super manisnya “Ayoo putri kecilku, kamu harus
menuruti ayahmu ini yaa” godanya. Kemudian ia pun membawa Chika pergi
meninggalkan bandara.
Di
sepanjang perjalanan pulang hening menyelimuti mereka. Chika hanya duduk termenung
memandang keluar jendela, sedangkan Dimas ingin sekali mengajak Chika bicara
namun sepertinya saat ini Chika lebih ingin berteman dengan sepi
…
Chika
mengunci pintu kamarnya kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Air
matanya perlahan menetes lagi saat mengingat kejadian di Inggris saat itu.
Dadanya terasa sesak dan sakit saat mengingatnya, namun Chika juga tak bisa
melupakan kenangan pahit itu. Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar.
“Nak, boleh ibu masuk?” tanya ibu Chika dari luar
Chika
mengatur deru nafasnya agar tak terdengar seperti orang yang sedang menangis
“Chika lagi capek banget bu, Chika mau istirahat” ujarnya dari dalam kamar
Sang
ibu pun mengalah dan memilih membiarkan Chika menyendiri dahulu untuk sementara
waktu ini.
Setelah
dirasakannya sang ibu sudah tak ada lagi di depan kamarnya, Chika kemudian
bangun dari tempat tidurnya dan mengambil sebuah album foto dari laci meja di
dekat tempat tidurnya. Ia juga mengambil sebuah kotak dari dalam lemari
pakaiannya. Chika kemudian berjalan menuju halaman belakang rumahnya. Ia
mengeluarkan satu persatu foto dari album itu, foto yang menjadi bukti nyata
bahwa pernah ada banyak kenangan indah yang terjadi diantara ia dan Edvan.
Setelah semua foto itu ia keluarkan sampai tak tersisa satupun, Chika kemudian
membuangnya ke tempat sampah, lalu ia mengambil korek api dan membakarnya.
Chika
juga melemparkan kotak yang dibawanya tadi ke dalam kobaran api itu, kotak yang
berisi segala macam benda pemberian Edvan kepadanya. Chika ingin memusnahkan semua
hal yang dapat memunculkan kembali kenangan tentang keberadaan Edvan dalam
hatinya.
Namun,
mau seperti apapun caranya, mau sekeras apapun usahanya, kenangan yang pernah
ada takkan pernah bisa hilang. Tempat tinggal terbaik kenangan adalah pada hati
manusia sendiri, dan kita tak bisa hidup tanpa hati, itu sebabnya kenangan akan
selalu menemani kita seumur hidup.
…
“Orang
bodoh macam apa yang bolos kerja dan malah duduk melamun meratapi nasib
cintanya disini” tegur Dimas tanpa basa-basi pada Chika yang sedang duduk
melamun di salah satu sudut bangku taman
Chika
terkejut mendapati kehadiran Dimas di hadapannya “Kok bisa tau gue ada disini?”
tanyanya, namun sedetik kemudian ia mendesis pelan “Aishh pasti kerjaan ibu”
gumamnya
Dimas
duduk di samping Chika “Lo udah bolos kerja seminggu loh Chii” ujar Dimas “Haruskah
lo menangisi seseorang yang bahkan ga menghargai air mata lo itu?” tanyanya
Chika
menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit “Lo ga tau rasanya Dim. Lo gatau
gimana rasanya mencintai seseorang sampai-sampai lo kehilangan diri lo sendiri.
Lo ga tau gimana rasanya menunggu seseorang yang lo cinta dalam ketidakpastian.
Lo ga…..”
“Dan
lo juga ga tau gimana rasanya cinta sendiri!” potong Dimas. Ia menatap tepat di
bola mata Chika “Lo ga tau gimana rasanya mencintai seseorang yang mencintai
orang lain. Lo ga tau gimana sulitnya bertahan untuk ga melewati batas
kesabaran. Bisa-bisanya lo bilang gue ga tau gimana rasanya menunggu seseorang?
Sedangkan selama ini lo selalu mengabaikan perasaan gue” ujar Dimas.
Chika
tertegun mendengar perkataan Dimas “Lo ke…na…pa?” tanyanya terbata-bata
Dimas
menarik nafasnya dalam-dalam “Gue manusia loh, bukan setan. Apa semua yang gue
lakuin untuk lo selama ini sama sekali tak terlihat dimata lo?” tanya Dimas.
Namun Chika tak memberikan jawaban dari pertanyaannya, Chika masih tetap
terdiam. “Gue sayang banget Chii sama lo. Bukan sayang sebagai seorang sahabat
tapi ‘sayang yang sesungguhnya’. Mungkin benar apa kata orang bahwa tak ada
pria dan wanita yang bisa benar-benar murni hanya bersahabat, pasti salah satu
diantaranya menyimpan rasa” ujar Dimas
Chika
benar-benar dibuat terkejut dengan pernyataan Dimas. Ia sama sekali tak
menyangka kalau Dimas memandangnya dengan sudut pandang lain. Chika
menghabiskan hampir setengah dari hidupnya bersama-sama dengan Dimas, bagaimana
mungkin ia bisa tak menyadari perasaan Dimas “Lo laki-laki yang baik. Suatu
hari nanti lo pasti bakal menemukan gadis yang baik juga” ujarnya lirih
Dimas
berdecak “Gimana kalo gue ga mau sama gadis yang baik? Gimana kalo gue cuma mau
sama gadis yang gue sayang?” tanya Dimas
Chika
tersentak. Ia menggigit bibir bawahnya tak tau lagi harus memberikan jawaban apa.
Ia sungguh tak ingin melukai Dimas karena ia tau betul bagaimana rasanya
dilukai. Namun sepertinya ia lupa satu hal bahwa cinta dan luka akan selalu
berjalan beriringan, jika kau sudah bertemu dengan cinta, maka kau juga pasti
akan bertemu dengan luka. Namun tak ada yang tau mana yang akan bertahan lebih
lama. Akankah cinta, ataukah luka.
Chika
bangkit dari tempat duduknya “Gue pulang duluan, lo juga sebaiknya pulang.
Sampai ketemu besok di kantor” ujarnya dengan cepat kemudian ia membalikkan
badannya hendak berlalu dari hadapan Dimas
“Bukan salah cinta, bukan juga salah waktu,
apalagi salah Tuhan. Bukan karena kesalahan siapapun semuanya terjadi,. Kita
bisa merubah nasib tapi tak bisa mengubah takdir. Sampai suatu saat nanti lo
bertemu orang yang ditakdirkan buat lo, gue mohon jangan sia-siain air mata lo
untuk orang yang salah. Simpan air mata lo sampai saat nanti lo bakal menangis
bahagia karena telah dipertemukan dengan orang yang tepat” ujar Dimas lirih
“Gue pergi dulu” lanjutnya, air matanya menetes namun dengan cepat ia
menghapusnya. Kemudian ia bangkit dan meninggalkan tempat itu
Chika
menoleh dan memandangi punggung Dimas yang kian menjauh dari hadapannya,
perlahan air matanya menetes dan terus menetes sampai membuatnya menangis
hingga terisak. Chika mencengkram dadanya. Sakit sekali rasanya, bahkan jauh
lebih sakit daripada saat ia melihat Edvan sedang bersama wanita lain
…
“Pagi
Chika, oiya kamu udah ditunggu di ruang direktur” sapa Rina –rekan kerjanya–
saat Chika baru saja tiba di meja kerjanya
Chika
meletakkan tasnya “Pak Dimas udah dateng pagi-pagi gini?” tanyanya
“Bukan
Pak Dimas, Chi. Tapi Pak Derry” jawab Rani
Chika
sontak terkejut mendengarnya, kemudian dengan cepat ia pergi ke ruang Direktur.
Chika mengetuk pintu ruang tersebut kemudian masuk ke dalamnya “Om cari saya?”
tanyanya pada Derry –ayah Dimas–
Derry
tersenyum “Masuklah Nak” perintahnya
Chika
pun masuk dan kemudian duduk di hadapan Derry “Ada perlu apa yaa Om?” tanyanya
pada Derry
“Gini,
Om mau tanya apa akhir-akhir ini di kantor sedang ada masalah? Atau ada suatu
peristiwa buruk yang tak bisa dikendalikan?” tanya Derry
Chika
menggelengkan kepalanya dengan cepat “Everything’s okay kok Om. Memang kenapa
Om? Ahiya kenapa Dimas tak datang bersama Om?” tanyanya saat menyadari Dimas
tak ada di ruangan itu
“Itu
dia masalahnya” ujar Derry “Dimas minta dipindahkan untuk mengawasi kantor
cabang di Amerika. Biasanya biarpun Om yang menawarkannya ia sama sekali tak
berminat. Tapi sekarang justru dia yang memintanya. Maka dari itu Om berfikir
ada masalah apa yang terjadi di kantor sampai membuatnya ingin pergi jauh
begitu” tutur Derry
Chika
seketika seperti terhantam hatinya saat mendengar hal itu. Air matanya seperti
ingin meluncur keluar namun ia menahannya “Kapan Dimas berangkat Om?” tanya
Chika dengan mata yang berkaca-kaca
“Hari
ini, sekitar pukul 09:00 pagi” jawab Derry
“Saya
permisi keluar kantor sebentar Om” pinta Chika, kemudian tanpa menunggu jawaban
dari Derry ia segera pergi meninggalkan ruang Direktur dan hendak menyusul
Dimas ke bandara.
“Sudah
kuduga pasti ada masalah hati yang terjadi diantara mereka” gumam Derry sambil
tersenyum kecil
…
Chika
segera menghentikan taksi yang lewat di depan kantornya “Ke Bandara Pak”
ujarnya pada sang supir. Chika melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan
pukul 08:30. Ia kemudian mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Dimas namun
sia-sia karena Dimas menonaktifkan handphonenya
Chika
meremas jemari tangannya yang gemetar karena gelisah. Dalam hatinya ia terus
memanjatkan do’a “Ya Tuhan, jangan membuatku merasakan kehilangan untuk yang
kedua kalinya” gumamnya dalam hati. “Tolong lebih cepet yaa Pak” seru Chika
pada sang supir.
Setelah
setengah jam lebih Chika menempuh perjalanan akhirnya Chika tiba juga di
bandara, setelah membayar ongkos taksinya dengan cepat ia berlari meliuk-liuk
menyalip beberapa orang. Chika kembali melihat jam tangannya. Waktu sudah
menunjukkan pukul 09:10 dan saat ia melihat papan jadwal penerbangan, pesawat
yang menuju ke Amerika baru saja berangkat ukul 09:05
Chika
terduduk lemas, air matanya mengalir tak tertahankan. Rasa sesak memenuhi
seluruh ruang hatinya. Ia kemudian teringat dengan ucapan Dimas saat terakhir
bertemu “Gue pergi dulu” pamit Dimas pada waktu itu. Namun Chika tak menyangka
bahwa itu berarti Dimas akan pergi jauh meninggalkannya. Bagaimanapun juga
semua ini terasa seperti mimpi buruk bagi Chika. Bagaimana bisa orang yang dulu
selalu bersama-sama kini mulai berjalan di jalannya masing-masing? Bagaimana
bisa kebersamaan yang awalnya menyatukan kini berubah menjadi gerbang pengantar
perpisahan?
Tak
ku mengerti mengapa begini
Waktu
dulu ku tak pernah merindu
Tapi
saat semuanya berubah
Kau
jauh dariku, pergi tinggalkanku
Mungkin
memang ku cinta
Mungkin
memang ku sesali
Pernah
tak hiraukan rasamu dulu
Aku
hanya ingkari kata hatiku saja
Tapi
mengapa cinta datang terlambat
Tapi
saat semuanya berubah
Kau
jauh dariku, pergi tinggalkanku
Mungkin
memang ku cinta
Mungkin
memang ku sesali
Pernah
tak hiraukan rasamu dulu
Aku
hanya ingkari kata hatiku saja
Tapi
mengapa kini cinta datang terlambat (Maudy Ayunda – Cinta Datang Terlambat)
…
Dua
tahun kemudian…
Chika
sedang menikmati jam istirahat makan siangnya dengan memanjakan lidahnya dengan
bekal yang dibawakan ibunya sambil mendengarkan lagu dari ponselnya. Sesekali
ia menghentikan aktifitas makannya untuk mencatat beberapa koreksi dari dokumen
yang harus dikerjakannya
“Makan
aja dulu, nanti kerja lagi” tegur seseorang padanya
“”Iya
baik……” kalimat Chika tertahan. Detak jantungnya seketika berdegup lebih
kencang “Suara ini…” gumamnya dalam hati. Ia kemudian menoleh ke asal suara itu
dan Chika pun tercengang mendapati sosok Dimas sedang berdiri di samping meja
kerjanya sambil tersenyum lebar
“Jadi
dua tahun gue tinggal terus ekspresi muka lo menyambut kepulangan gue cuma
mangap-mangap kayak ikan doang gitu?” goda Dimas
Chika
memalingkan wajahnya, kemudian tersenyum bahagia namun ia tak ingin Dimas
melihat senyumnya itu karena pasti Dimas akan jadi sangat besar kepala. “Bagus
deh kalo udah pulang, disini banyak kerjaan” jawab Chika cuek
Dimas
mencibir “Sok-sok jutek padahal ngejar sampe ke bandara. Pake nangis-nangis
segala lagi” ledek Dimas
Chika
membelalakkan matanya “Lo tau gue ngejar lo, tapi lo tetep pergi?!” tanya Chika
tak percaya
Dimas
mengangguk “Gue pergi karena gue emang harus pergi. Tapi sekarang…” Dimas
menggantung kalimatnya. Kemudian ia berlutut di hadapan Chika dan menggenggam
kedua tangan Chika “Tapi sekarang gue pulang karena gue tau ada seseorang yang
menunggu. Dan gue ga mau membuat orang yang menangis karena gue ini menunggu
lebih lama lagi” Dimas kemudian mengecup punggung tangan Chika “I Love You”
ujarnya
Pipi
Chika seketika merona. Ia kemudian memeluk Dimas “Jangan pergi lagi” ujarnya.
Dimas pun kemudian mengangguk menyetujui permintaan Chika
“Lo
tau ga betapa bahagia nya gue melihat lo menangisi kepergian gue?” tanya Dimas
“Lo
kok malah suka liat gue nangis sih?” hardik Chika
Dimas
tersenyum dan mempererat pelukannya “Gimana gue ga suka? Itu berarti gue
mempunyai tempat penting di hati lo. Tapi tenang aja, lo ga akan menangis lagi,
kalaupun menangis, gue akan pastiin itu adalah air mata kebahagiaan. Mulai
detik ini, satu-satunya yang dapat membuat gue pergi meninggalkan lo hanyalah
kematian” ujar Dimas sambil mengecup lembut puncak kepala Chika
Pernah
kulihat lukisan cantik
Tujuh
bidadari dari langit
Namun
saat kulihat dirimu
Cantikmu
mengalahkan semua
Pernah
kubaca puisi raja
Syairnya
indah getarkan rasa
Namun
saat namamu disebut
Ku
tergetar jiwa penuh rasa
Tuhan
yang berikan rasa cinta, rasa kasih sayang
Buat
apalah susah cari kesana kesini
Sudah
di depan mata, kamulah takdirku
Tuhan
ciptakan aku, Tuhan ciptakan kamu
Kita
berdua diizinkan bersama dan bersatu selamanya
Seperti
embun mengerti pagi
Seperti
ombak paham samudra
Kita
yang beda t’lah disatukan
Dengan
kekuatan cinta kasih
Jadilah
kisah ini abadi, kamulah takdirku
Buat
apalah susah cari kesana kesini
Sudah
di depan mata, kamulah takdirku
Tuhan
ciptakan aku, Tuhan ciptakan kamu
Kita
berdua diizinkan bersama dan bersatu selamanya
(Raffi
Ahmad ft Nagita Slavina – Kamulah Takdirku)
…
Thanks
for reading^^
Follow
me on twitter and ask.fm @atyampela
Tidak ada komentar:
Posting Komentar