Minggu, 28 Desember 2014

LDR (Lepas Dan Relakan) (cerpen)






Ku teringat dalam lamunan rasa sentuhan jemari tanganmu
Ku teringat walau telah pudar suara tawamu sungguh ku rindu
Tanpamu langit tak berbintang, tanpamu hampa yang ku rasa
Seandainya jarak tiada berarti akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya sang waktu dapat mengerti takkan ada rindu yang terus menggangu
Kau akan kembali bersamaku
Ku teringat walau telah pudar suara tawamu sungguh ku rindu
Tanpamu langit tak berbintang, tanpamu hampa yang ku rasa
Seandainya jarak tiada berarti akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya sang waktu dapat mengerti takkan ada rindu yang terus menggangu
Kau akan kembali bersamaku
Terbit dan tenggelamnya mentari membawamu lebih dekat
Denganmu langitku berbintang
Denganmu sempurna ku rasa
Seandainya jarak tiada berarti akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya sang waktu dapat mengerti takkan ada rindu yang terus menggangu
Kau akan kembali bersamaku (Raisa – LDR)

Chika duduk bersantai di kursi kerjanya sambil memandangi layar handphonenya, sesekali ia tersenyum dan juga merengut. Sementara itu telinganya ia manjakan dengan mendengarkan lagu dari ipodnya
“Woi kerja kaliiii!!” tegur Dimas mengagetkannya
Chika segera melepas headsetnya dan mendengus kesal “Udah kelar boss!” jawabnya ketus
Dimas menyeringai “Yaudah kalo gitu sekarang temenin gue makan siang diluar yuk” ujarnya. Tanpa menunggu persetujuan dari Chika, Dimas segera menggandengnya pergi
Chika hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi kelakuan Dimas yang super bossy dan terkadang egois. Mau bagaimana lagi, Dimas adalah bossnya yang juga merupakan teman sejak kecilnya. Hal itulah yang membuat Chika sudah sangat kebal dengan segala tingkah laku Dimas yang super menyebalkan, oleh sebab itu pula Chika menjadi satu-satunya wanita yang paling dekat dan tahan menghadapi Dimas (selain mamanya Dimas tentunya)
“Si kampret itu belum ada kabarnya juga?” tanya Dimas di sela-sela perjalanan mereka
Chika sontak membelalakkan matanya “Heh! Edvan tuh lebih tua dari lo yaa. Yang sopan manggilnya. Dan yang paling penting dia itu pacar gueeee” tegas Chika
“Yayaya what ever deh yaa, gimana? Belum ada kabar?” tanya Dimas lagi
“Waktu pagi skype-an kok” jawab Chika
“Pagi kapan? Pagi bulan lalu?” ledek Dimas
Chika melotot sejenak lalu kemudian berdecak kesal, “bawel ah” ujarnya
Dimas mengacak-acak rambut Chika “Udahlah putusin aja, lagian hubungan kalian tuh udah kayak celana Peppy tau ga?”
“Maksudnya?” tanya Chika tak mengerti
“Ngegantung!” jawab Dimas
Chika mendengus kesal “Ah elo mah gitu sih, bukan sohib gue lo” cibir Chika. Sementara itu Dimas malah tertawa terbahak-bahak
“Aku pulang” ujar Chika setibanya di rumahnya. Ia segera menghampiri ibunya dan mengecup punggung tangan dan juga pipi ibunya
“Kamu lembur? Kok pulangnya malem?” tanya sang ibu
“Engga kok bu, tapi tadi nemenin Dimas ketemu klien dulu” ujar Chika “Yaudah yaa bu aku langsung ke kamar aja” pamitnya pada ibunya
Chika langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dering ponselnya berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Tangannya dengan cepat merogoh tasnya mencari ponselnya. Ia segera mengecek ponselnya saat berhasil menemukannya, namun raut wajahnya seketika berubah menjadi muram saat melihat nama yang tertera di layar adalah nama Dimas bukan Edvan. Dengan malas-malasan akhirnya ia pun mengangkat telepon itu
“Kenapa lagi sih Dim? Kasih gue waktu istirahat kek” omel Chika
“Ampun yaa ini orang bukannya kasih salam dulu kek” sahut Dimas dari ujung telepon
“Gaperlu salam segala kalo sama lo mah. Udah cepetan ngomong ada perlu apa gue ngantuk bangeeet”
“Gapapa kok, cuma mau mastiin lo selamat sampe di dalem istana lo aja”
Chika menggeleng-gelengkan kepalanya “Ehh buset yaa Dim, gue sahabat lo apa anak perempuan lo? Over protektif banget lo, jelas-jelas yang nganterin gue pulang juga lo. Ampe depan pintu malah lo nganterinnya”
Dimas tertawa kecil di ujung telepon sana “Yaaa kali aja gitu pas lo udah di dalem rumah lo kepeleset atau kejedot kan gue ga tau” candanya
“Kurang kerjaan lo. Makanya punya pacar”
“Yang mau gue pacarin udah punya pacar, mau gimana lagi? Udahlah istirahat sana. Bye” Dimas pun mengakhiri pembicaraan mereka di telepon. Lagi-lagi Chika hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi kelakuan Dimas yang super duper aneh.
Pagi ini Chika nampak kurang bersemangat. Selain karena hari ini ia harus lembur untuk menyusun jadwal harian Dimas, juga karena semalam ia kurang tidur. Chika memelototi layar handphonenya semalam suntuk demi harapan agar sang kekasih, Edvan, memberi kabar kepadanya. Sudah hampir tiga tahun ia tak bertemu dengan kekasihnya itu sejak Edvan memilih melanjutkan pendidikan S2 nya di Inggris. Biasanya Edvan memberi kabar lewat skype atau e-mail secara rutin setiap minggunya. Namun sudah sebulan terakhir ini Edvan sama sekali tak memberinya kabar, bahkan e-mail yang Chika kirim pun sampai saat ini tak kunjung mendapat balasan.
Chika akui ada banyak sekali pikiran negatif yang memenuhi otaknya. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan kekasihnya disana. Ia takut ada suatu hal yang buruk terjadi sehingga Edvan tak dapat memberinya kabar, ataukah mungkin Edvan memang benar-benar sedang sibuk sampai tak mampu memberinya kabar. Chika hanya bisa menghela nafas, panjang dan berat “Padahal biasanya sesibuk apapun kamu, kamu ga pernah lupa untuk ngucapin selamat ulang tahun ke aku” gumamnya dalam hati.
Ya, hari ini adalah hari ulang tahunnya, namun tak ada sesuatu yang spesial yang terjadi hari ini. Biasanya Edvan akan menghubunginya lewat skype dan mereka merayakan ulang tahun Chika bersama meski terpisah jarak yang begitu jauh. Namun sepertinya tidak untuk hari ini, jangankan untuk merayakan, ucapan saja tak ia dapatkan dari kekasihnya itu. Chika hanya bisa berdo’a yang terbaik untuk kekasihnya itu. Karena hanya do’a lah satu-satunya hal yang mampu menembus jarak.
Ponsel Chika tiba-tiba berdering membuyarkan lamunannya, dengan antusias ia langsung mengambilnya, namun raut wajahnya berubah masam saat melihat nama yang tertera di layar handphonenya lagi-lagi nama Dimas, bukan Edvan
“Ada perlu apa boss?” sapanya
“Ke ruangan gue sekarang” jawab Dimas singkat dan langsung menutup teleponnya
Chika segera menuruti perintah Dimas, ia lalu bangkit dari meja kerjanya menuju ruangan Dimas
“Ada masalah apa?” tanya Chika setibanya di ruangan Dimas
Dimas menyerahkan selembar amplop putih pada Chika “Kemasin barang-barang lo” perintahnya
Chika sontak membelalakkan matanya “Lo mecat gue? Emang kesalahan fatal apa yang udah gue bikin? Gue telat nyerahin schedule harian lo? Lah kan baru hari mau dibikinnya. Apa karena gu…..” belum kelar Chika bicara, Dimas segera membungkam mulut Chika dengan telapak tangannya
“Lo liat dulu itu isinya apa baru ngoceh” ujar Dimas, kemudian ia menurunkan tangannya dari mulut Chika
Chika kemudian membuka amplop itu dan ia justru malah lebih terkejut dari sebelumnya. Amplop itu berisi sebuah tiket pesawat penerbangan ke Inggris. “Ini…”
“Ikut gue ketemuan sama klien di sana. Lumayan kan sekalian refreshing” ujar Dimas “Anggap aja hadiah ulang tahun” lanjutnya
Chika tak kuasa menahan rasa harunya. Inilah yang membuat Chika tahan mengahadapi sikap menyebalkan Dimas. Karena Chika tau Dimas adalah orang yang baik, Dimas selalu punya cara untuk membuat Chika kembali ceria saat ia sedang bersedih. Seolah seperti dapat membaca apa yang ada di pikiran Chika, Dimas selalu tahu bagaimana cara untuk menghiburnya.
Chika langsung memeluk Dimas “Thanks Dim. Lo emang bener-bener sahabat terbaik yang gue punya” ujarnya. “Yaudah gue beresin berkas-berkas yang harus dibawa dulu yaa” Chika pun kemudian meninggalkan ruang kerja Dimas dengan penuh kegembiraan. Galau yang tadi menghantuinya kini sudah pergi, karena besok ia akan terbang melintasi jarak yang selama ini menghadang untuk menemui orang yang dicintainya.
Sementara itu Dimas hanya bisa tersenyum getir, bukan karena ia tak suka melihat Chika bahagia. Tapi karena ia tak bisa berdamai dengan hatinya sendiri. Ingin sekali rasanya ia benar-benar bisa bersahabat dengan Chika, namun bagaimana bisa ia melakukannya. Mendengar disebut sebagai ‘sahabat terbaik’ oleh Chika saja hatinya langsung meradang. Ya, Dimas memang tak pernah bisa sepenuhnya melihat Chika sebagai sahabatnya. Terkadang ia ingin sekali Chika hanya melihat ke arahnya, namun Dimas tau itu akan sangat sulit baginya karena Chika sudah memiliki orang yang dicintai
Chika pulang lebih awal karena harus mengemasi barang-barangnya. “Ibuuuu…” panggil Chika dengan penuh sukacita
Sang Ibu pun menghampirinya “Loh kok kamu udah pulang nak?” tanyanya
Chika langsung memeluk ibunya dan menunjukkan tiket yang diberikan Dimas kepada ibunya “Besok aku bakal ke Inggris Bu. Yaa ada urusan kerjaan sih. Tapi pas nanti aku free aku mau ke Adore University buat nemuin Edvan” ujarnya sumringah
“Waah syukur deh kalo gitu. Akhirnya kamu bisa ketemu sama Edvan lagi. Itu tiketnya dari kantor? Semua karyawannya juga bakal kesana?” tanya sang Ibu
“Engga Bu, cuma aku sama Dimas yang pergi kesana. Ini tiketnya juga dari Dimas. Sekalian hadiah ulang tahun katanya hehehe”
Ibunya tertawa kecil “Kamu masih hapal rumus pitagoras ga?” tanyanya
Chika melongo sejenak “Buat apa bu?” tanyanya heran
“Buat mecahin persoalan cinta segitiga” jawab sang Ibu sambil berlalu meninggalkan Chika yang masih melongo tak mengerti dengan maksud ucapannya
Chika menggeleng-gelengkan kepalanya “Apasih si Ibu mah ga jelas banget” gumamnya kemudian berlalu ke kamarnya
Chika segera mengemasi barang-barang yang akan dibawanya dan memasukkannya ke dalam koper. Kemudian ia mengambil handphonenya hendak mengirimkan e-mail kepada Edvan untuk memberitahukan keberangkatannya ke Inggris besok, namun tiba-tiba ia menaruh kembali handphonenya “Ga perlu aku kabarin deh, biar surprise gitu” gumamnya
“Udah Siap?” tanya Dimas saat Chika turun dari tangga
Chika sontak terkejut mendapati Dimas tengah duduk di ruang taunya bersama dengan ibunya “Kok lo udah ada disini aja sih?” tanya Chika
“Pertanyaan itu butuhnya jawaban, bukan pertanyaan balik” ujar Dimas
Chika mencibir “Iyaa udah siap pak bossss”
Dimas tersenyum puas, kemudian mengalihkan pandangannya pada Ibunya Chika “Bu, Chika aku pinjem dulu yaa. Tenang aja pasti aku jagain kok” ujarnya, kemudian ia mengecup punggung tangan Ibunya Chika
“Ibu titip Chika yaa nak Dimas, kalo dia macem-macem kamu omelin aja” jawab sang Ibu sambil mengelus lembut kepala Dimas
Setelah mendapat izin, Dimas kemudian mengambil koper yang dibawa Chika dan membawakannya ke dalam taxi yang sudah dipesannya
“Bu, aku pergi dulu yaa. Ibu jaga diri baik-baik yaa di rumah. Nanti aku bawain oleh-oleh” pamit Chika pada ibunya sambil mengecup pipi sang Ibu
“Kamu juga baik-baik yaa disana, harus nurut sama Dimas” ujar sang Ibu
“Ibuuuu jangan gitu, nanti Dimas makin besar kepala” desis Chika. Sementara itu Dimas sedang tersenyum-senyum di luar pintu mendengar percakapan Chika dan ibunya
Setelah berpamitan Chika dan Dimas pun langsung melaju menuju bandara
“Denger kan tadi apa kata Ibu?” goda Dimas di sela-sela perjalanan mereka
“Yang mana yaa? Ga denger tuh” jawab Chika cuek
“Nurut yaa sama gue. Ini perjalanan bisnis bukan tamasya apalagi acara tali kasih” ledek Dimas lagi
“IYAA BAWEEEL” jawab Chika jutek sementara itu Dimas tertawa terbahak-bahak

Dimas rupanya tak main-main dengan ucapannya. Sejak pertama kali menjejakkan kaki di Inggris hari-hari Chika benar-benar dipenuhi perjalanan bisnis. Setiap hari pergi pagi pulang malam untuk bertemu dengan beberapa klien. “Apanya yang refreshing” gerutunya dalam hati.
Ini adalah hari terakhir mereka berada di Inggris, bahkan sampai hari ini pun Chika masih harus menemani Dimas makan siang dengan beberapa klien di meeting room hotel mereka
“Okay, our time is up. Thanks for this great lunch” ujar Dimas mengakhiri meetingnya hari ini
Chika menarik nafas lega, akhirnya tugasnya selesai dan itu artinya hari ini ia bisa pergi jalan-jalan menikmati suasana kota Inggris bersama dengan orang yang sudah dinantikannya
“Udah selesai kan? Udah gaada rapat lagi kan? Udah free kan?” Chika memborong Dimas dengan pertanyaan sesaat setelah para klien meninggalkan ruang meeting
“Hmmm” ujar Dimas “Seneng?” tanyanya sambil berlalu keluar tanpa menunggu jawaban dari Chika
Chika menyunggingkan senyumnya “Ya jelas seneng lah” ujarnya. Kemudian ia merapikan berkas-berkas dokumen yang ada di atas meja dan segera menuju kamarnya
Chika mempersiapkan dirinya dengan sangat sempurna. Ia mengenakan sebuah dress selutut berwarna baby pink dengan blazer warna putih tak lupa pula sedikit polesan riasan semakin mempercantik dirinya yang memang pada dasarnya sudah cantik itu. Chika tersenyum puas melihat pantulan dirinya di cermin. Setidaknya ia ingin membuat kekasihnya itu terpana melihat dirinya setelah tiga tahun terpisah
Chika kemudian mengambil tasnya dan meninggalkan kamarnya namun betapa terkejutnya ia saat mendapati Dimas sudah berdiri di depan pintu kamarnya
“Ngapain lagi? Katanya tadi udah meeting terakhir” ujar Chika
“Lo mau keluar dengan pakaian seperti ini?” tanya Dimas
“Ya, ada yang salah?”
Dimas berdecak “Tunggu gue di bawah, jangan pergi duluan sebelum gue dateng” lanjutnya “Jangan coba-coba pergi duluan. Ngerti?” ancamnya sambil berlalu dari hadapan Chika dan masuk ke dalam kamarnya
Chika mengernyitkan dahinya, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya “Ini orang makin lama makin mengkhawatirkan kondisi psikologisnya” gumamnya
Chika sudah dua puluh menit lebih menunggu Dimas di lobby namun Dimas belum juga menampakkan batang hidungnya “Itu anak sengaja banget yaa” geramnya. Baru saja ia hendak menyusul Dimas ke kamarnya namun Dimas sudah terlebih dahulu berdiri di hadapannya
Chika tertegun sesaat melihat penampilan Dimas. Ini pertama kalinya ia melihat Dimas mengenakan baju santai –ia hanya mengenakan kaos, jaket dan celana jins– karena sudah lama sekali sejak Dimas manjadi direktur utama di perusahaan Ayahnya, Dimas tidak pernah lagi terlihat memakai baju santai. Setelan baju formilnya tak pernah lepas darinya karena tuntutan pekerjaan yang harus membuatnya menemui klien penting di waktu yang tak terduga
“Iyaa gue tau gue emang ganteng tapi gue takut aja mata lo iritasi kalo kelamaan ga kedip gitu” tegur Dimas membuyarkan lamunan Chika
Chika berdesis pelan “GR!” gerutunya. Kemudian ia pergi melewati Dimas menuju pintu keluar. Sementara itu Dimas tersenyum sambil mengikuti Chika dari belakang
“Jaga bicara lo, jangan ngomong kalo ga ditanya, jangan pasang tampang songong walaupun tampang lo emang udah songong dari sananya. Pokoknya jangan ngomong yang engga-engga di depan Edvan nanti. Jangan yaa pokoknya jangaaaan” pesan Chika pada Dimas setibanya mereka di depan gerbang Adore University. Sementara itu Dimas justru tampak tak menghiraukan ocehan Chika “Dim, ngerti ga gue bilang apa?” tanya Chika
Dimas melirik Chika “Engga ngerti dan ga peduli” ujarnya singkat “Mending lo mulai cari si Edvan gih sana. Ntar waktu bebas lo keburu abis loh”
Chika menarik nafasnya dalam-dalam “Inget yaa jangan macem-macem!” tegasnya. Ia pun kemudian pergi memasuki Adore University. Chika langsung mengarahkan langkah kakinya menuju taman Adore University karena mengingat Edvan selalu bilang kalau ia suka sekali mengerjakan tugas di taman itu. Chika mengedarkan pandangannya pada oarang-orang yang ada di taman itu namun ia belum juga menemukan sosok yang dicarinya
“Ga ada disitu kali, cari tempat lain coba. Lagian bukannya bilang aja sih kalo lo ada di Inggris terus ketemuan deh biar ga repot gitu nyarinya” tutur Dimas
Chika membalikkan badannya ke hadapan Dimas “Tadi apa gue bilang? Jangan ngomong kalo ga ditanya. Dasar bawel” omel Chika. Kemudian ia kembali mencari sosok Edvan diantara orang-orang di taman itu “Lucky!” ujarnya saat berhasil menemukan sosok Edvan, ia segera berlari menuju tempat Edvan berada namun langkahnya tiba-tiba terhenti, hal itu membuat Dimas menjadi ikut berhenti juga
“Heh, ngapain berenti dadakan sih ah” tegur Dimas. Namun Chika tak bergeming, matanya lurus menatap sesuatu
Dimas menoleh dan terkejut mendapati apa yang tengah dilihat Chika, kedua tangannya mengepal dengan keras. Kemudian ia dengan cepat berlari ke arah Edvan yang sedang bermesraan dengan perempuan lain dan meninjunya dengan keras
“DIMASSS!!!” jerit Chika, kemudian ia segera berlari menghampiri Dimas
Edvan yang tiba-tiba dipukul seperti itu jelas tidak terima “What are you doing?! Hah?!” tanya Edvan emosi sambil hendak melayangkan satu tinjuan ke arah Dimas, namun tangannya terhenti di udara sesaat setelah Chika berdiri tepat dihadapannya, diantara ia dan Dimas
Edvan sangat terkejut melihat orang ang berdiri di depannya itu adalah Chika “Chika?” tanyanya tak percaya. Ia kemudian menurunkan tangannya “Kok kamu kesini ga ngabarin aku, kan aku bisa jemput kamu di bandara” ujarnya gugup
“Edvan, who is she? You know her?” tanya wanita yang tadi sedang bermesraan dengan Edvan
Edvan terlihat sangat gugup “Em.. yeah.. She is…..” Edvan menggantung kalimatnya “My Friend from Indonesia” ujar Edvan akhirnya
Air mata Chika menetes bersamaan dengan kata-kata Edvan itu. Sia-sia sudah penantiannya, percuma saja perjuangannya selama ini.
Dimas yang geram mendengar ucapan Edvan itu hendak melayangkan pukulan lagi tepat di wajah Edvan namun dengan sigap Chika menahannya. Dengan air mata yang berlinang itu Chika menggelengkan kepalanya, meminta Dimas untuk menurunkan tangannya. Dimas pun menuruti keinginan Chika kemudian pergi meninggalkan Chika sendiri
Edvan pun meminta wanita yang bersamanya itu untuk meninggalkan ia dan Chika berdua. Kini hanya tinggal mereka berdua, “Aku bisa jelasin ini…”
“Masihkah nyata hadirku di matamu sedang cintamu tak lagi untukku?” potong Chika “Apa kamu tau seperti apa rasanya menunggu? Apa kamu tau seperti apa rasanya merindu? Apa kamu tau seperti apa rasanya menjadi aku?” tanya Chika lirih
“Iniii….”
“Jika jujur saja menyakitkan bagaimana bisa kebohongan menjadi begitu menyenangkan buatmu?” tanya Chika lagi, air matanya menetes tak henti. Sakit, perih, pilu, marah, lelah, kecewa, semuanya menjadi satu di hatinya “Kamu tau bagaimana tersiksanya aku karena mengkhawatirkanmu? Di dalam otakku selalu penuh dengan beragam pertanyaan. Apa kuliahmu lancar? Apa kamu sakit? Apa kamu sedang ada masalah? Apa tugasmu begitu banyak sampai kamu tak bisa menghubungiku?” Chika menarik nafasnya dalam-dalam “Kini setidaknya satu dari pertanyaanku terjawab. Kamu bukannya tak bisa menghubungiku, tapi kamu memang tak ingin” ujarnya dengan derai air mata
Edvan hendak memeluk Chika namun dengan cepat Chika menepis lengannya. “Maafkan aku, tapi aku tak ingin dipeluk oleh lengan yang telah memeluk wanita lain” tegasnya
“Chika, aku benar-benar minta maaf. Kamu terlalu baik untukku” ujar Edvan
Chika tersenyum getir “Lalu apa aku harus menjadi seorang wanita jahat agar tidak diperlakukan seperti ini?” tanyanya. Edvan pun terdiam tak mampu harus memberikan jawaban apa atas pertanyaan Chika “Menurutmu, aku ini terlalu baik atau terlalu bodoh?” tanya Chika lagi dan Edvan tetap terdiam
Chika menghapus air matanya “Sudahlah, setidaknya aku sudah tau kamu baik-baik saja disini. Aku harus pergi, lagipula wanita itu juga pasti sedang menunggumu. Aku harap kamu berbahagia. Aku harap dia benar-benar mencintaimu hingga kamu tak perlu merasakan apa yang ku rasakan. Aku pamit…… dari hidupmu” kemudian Chika pun benar-benar pergi meninggalkan Edvan tanpa menoleh sedikitpun kearahnya
Chika menghampiri Dimas yang sedari tadi menunggunya di depan gerbang “Heyy” tegurnya
Dimas pun langsung berbalik badan dan menarik Chika dalam dekapannya. Chika terkejut Dimas melakukan hal itu, baru saja Chika hendak meminta Dimas melepaskannya namun Dimas sudah terlebih dahulu berkata “Jangan meminta gue untuk ngelepasin lo, karena gue ga akan ngelakuin hal itu. Dan jangan coba-coba untuk melepaskan diri, karena itu hanya akan sia-sia”
Air mata Chika pun kembali menetes “Apa selalu seperti ini? Apa hubungan yang terpisah jarak akan selalu berakhir seperti ini?” ujar Chika dalam isak tangisnya. Dimas tetap terdiam, ia membiarkan Chika menangis merang-raung dalam dekapannya. Sudah terlalu lama Chika berjuang sendiri, setidaknya sekarang Chika harus beristirahat.
Telah lama aku bertahan demi cinta wujudkan sebuah harapan
Namun ku rasa cukup ku menunggu semua rasa t’lah hilang
Sekarang aku tersadar cinta yang kutunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu bila kamu tak cinta lagi                    
Namun ku rasa cukup ku menunggu semua rasa t’lah hilang
Sekarang aku tersadar cinta yang kutunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu bila kamu tak cinta lagi                    
Dahulu kau lah segalanya
Dahulu hanya dirimu yang ada di hatiku
Namun sekarang aku mengerti
Tak perlu ku menunggu sebuah cinta yang semu
Sekarang aku tersadar cinta yang kutunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu bila kamu tak cinta lagi (Raisa – Apalah Arti Menunggu)

Chika akhirnya pulang kembali ke Indonesia, mimpi-mimpi indah yang telah dipersiapkannya kini telah sirna. Jarak memang begitu hebat, dengan sadisnya ia mampu mengubah dan menghapus jejak seseorang
“Kita makan dulu yaa? Baru nanti lo gue anter pulang” Ujar Dimas sambil menggandeng tangan Chika.
Namun Chika menahannya “Gue bisa pulang sendiri” ujarnya “Makasih Dim. Makasih untuk tidak membiarkan gue bertemu dia lebih awal. Gue pulang dulu” pamitnya. Chika pun melepaskan genggaman tangan Dimas dan pergi berlalu meninggalkannya
Dimas memandangi punggung Chika yang kian menjauh “Kenapa sih lo ga pernah mau bergantung sama gue?” gumamnya dalam hati. Dimas kemudian menyusul Chika dan menghentikan langkah Chika. “Kalo emang mau pulang gue anter. gue udah janji sama ibu lo buat jagain lo” Dimas kemudian menggandeng tangan Chika
“Tapi Dim…”
“Lo yakin mau debat sama gue? Udah tau kan hasilnya pasti sia-sia?” tanya Dimas. Kemudian ia memasang senyum super manisnya “Ayoo putri kecilku, kamu harus menuruti ayahmu ini yaa” godanya. Kemudian ia pun membawa Chika pergi meninggalkan bandara.
Di sepanjang perjalanan pulang hening menyelimuti mereka. Chika hanya duduk termenung memandang keluar jendela, sedangkan Dimas ingin sekali mengajak Chika bicara namun sepertinya saat ini Chika lebih ingin berteman dengan sepi
Chika mengunci pintu kamarnya kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Air matanya perlahan menetes lagi saat mengingat kejadian di Inggris saat itu. Dadanya terasa sesak dan sakit saat mengingatnya, namun Chika juga tak bisa melupakan kenangan pahit itu. Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. “Nak, boleh ibu masuk?” tanya ibu Chika dari luar
Chika mengatur deru nafasnya agar tak terdengar seperti orang yang sedang menangis “Chika lagi capek banget bu, Chika mau istirahat” ujarnya dari dalam kamar
Sang ibu pun mengalah dan memilih membiarkan Chika menyendiri dahulu untuk sementara waktu ini.
Setelah dirasakannya sang ibu sudah tak ada lagi di depan kamarnya, Chika kemudian bangun dari tempat tidurnya dan mengambil sebuah album foto dari laci meja di dekat tempat tidurnya. Ia juga mengambil sebuah kotak dari dalam lemari pakaiannya. Chika kemudian berjalan menuju halaman belakang rumahnya. Ia mengeluarkan satu persatu foto dari album itu, foto yang menjadi bukti nyata bahwa pernah ada banyak kenangan indah yang terjadi diantara ia dan Edvan. Setelah semua foto itu ia keluarkan sampai tak tersisa satupun, Chika kemudian membuangnya ke tempat sampah, lalu ia mengambil korek api dan membakarnya.
Chika juga melemparkan kotak yang dibawanya tadi ke dalam kobaran api itu, kotak yang berisi segala macam benda pemberian Edvan kepadanya. Chika ingin memusnahkan semua hal yang dapat memunculkan kembali kenangan tentang keberadaan Edvan dalam hatinya.
Namun, mau seperti apapun caranya, mau sekeras apapun usahanya, kenangan yang pernah ada takkan pernah bisa hilang. Tempat tinggal terbaik kenangan adalah pada hati manusia sendiri, dan kita tak bisa hidup tanpa hati, itu sebabnya kenangan akan selalu menemani kita seumur hidup.
“Orang bodoh macam apa yang bolos kerja dan malah duduk melamun meratapi nasib cintanya disini” tegur Dimas tanpa basa-basi pada Chika yang sedang duduk melamun di salah satu sudut bangku taman
Chika terkejut mendapati kehadiran Dimas di hadapannya “Kok bisa tau gue ada disini?” tanyanya, namun sedetik kemudian ia mendesis pelan “Aishh pasti kerjaan ibu” gumamnya
Dimas duduk di samping Chika “Lo udah bolos kerja seminggu loh Chii” ujar Dimas “Haruskah lo menangisi seseorang yang bahkan ga menghargai air mata lo itu?” tanyanya
Chika menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit “Lo ga tau rasanya Dim. Lo gatau gimana rasanya mencintai seseorang sampai-sampai lo kehilangan diri lo sendiri. Lo ga tau gimana rasanya menunggu seseorang yang lo cinta dalam ketidakpastian. Lo ga…..”
“Dan lo juga ga tau gimana rasanya cinta sendiri!” potong Dimas. Ia menatap tepat di bola mata Chika “Lo ga tau gimana rasanya mencintai seseorang yang mencintai orang lain. Lo ga tau gimana sulitnya bertahan untuk ga melewati batas kesabaran. Bisa-bisanya lo bilang gue ga tau gimana rasanya menunggu seseorang? Sedangkan selama ini lo selalu mengabaikan perasaan gue” ujar Dimas.
Chika tertegun mendengar perkataan Dimas “Lo ke…na…pa?” tanyanya terbata-bata
Dimas menarik nafasnya dalam-dalam “Gue manusia loh, bukan setan. Apa semua yang gue lakuin untuk lo selama ini sama sekali tak terlihat dimata lo?” tanya Dimas. Namun Chika tak memberikan jawaban dari pertanyaannya, Chika masih tetap terdiam. “Gue sayang banget Chii sama lo. Bukan sayang sebagai seorang sahabat tapi ‘sayang yang sesungguhnya’. Mungkin benar apa kata orang bahwa tak ada pria dan wanita yang bisa benar-benar murni hanya bersahabat, pasti salah satu diantaranya menyimpan rasa” ujar Dimas
Chika benar-benar dibuat terkejut dengan pernyataan Dimas. Ia sama sekali tak menyangka kalau Dimas memandangnya dengan sudut pandang lain. Chika menghabiskan hampir setengah dari hidupnya bersama-sama dengan Dimas, bagaimana mungkin ia bisa tak menyadari perasaan Dimas “Lo laki-laki yang baik. Suatu hari nanti lo pasti bakal menemukan gadis yang baik juga” ujarnya lirih
Dimas berdecak “Gimana kalo gue ga mau sama gadis yang baik? Gimana kalo gue cuma mau sama gadis yang gue sayang?” tanya Dimas
Chika tersentak. Ia menggigit bibir bawahnya tak tau lagi harus memberikan jawaban apa. Ia sungguh tak ingin melukai Dimas karena ia tau betul bagaimana rasanya dilukai. Namun sepertinya ia lupa satu hal bahwa cinta dan luka akan selalu berjalan beriringan, jika kau sudah bertemu dengan cinta, maka kau juga pasti akan bertemu dengan luka. Namun tak ada yang tau mana yang akan bertahan lebih lama. Akankah cinta, ataukah luka.
Chika bangkit dari tempat duduknya “Gue pulang duluan, lo juga sebaiknya pulang. Sampai ketemu besok di kantor” ujarnya dengan cepat kemudian ia membalikkan badannya hendak berlalu dari hadapan Dimas
 “Bukan salah cinta, bukan juga salah waktu, apalagi salah Tuhan. Bukan karena kesalahan siapapun semuanya terjadi,. Kita bisa merubah nasib tapi tak bisa mengubah takdir. Sampai suatu saat nanti lo bertemu orang yang ditakdirkan buat lo, gue mohon jangan sia-siain air mata lo untuk orang yang salah. Simpan air mata lo sampai saat nanti lo bakal menangis bahagia karena telah dipertemukan dengan orang yang tepat” ujar Dimas lirih “Gue pergi dulu” lanjutnya, air matanya menetes namun dengan cepat ia menghapusnya. Kemudian ia bangkit dan meninggalkan tempat itu
Chika menoleh dan memandangi punggung Dimas yang kian menjauh dari hadapannya, perlahan air matanya menetes dan terus menetes sampai membuatnya menangis hingga terisak. Chika mencengkram dadanya. Sakit sekali rasanya, bahkan jauh lebih sakit daripada saat ia melihat Edvan sedang bersama wanita lain
“Pagi Chika, oiya kamu udah ditunggu di ruang direktur” sapa Rina –rekan kerjanya– saat Chika baru saja tiba di meja kerjanya
Chika meletakkan tasnya “Pak Dimas udah dateng pagi-pagi gini?” tanyanya
“Bukan Pak Dimas, Chi. Tapi Pak Derry” jawab Rani
Chika sontak terkejut mendengarnya, kemudian dengan cepat ia pergi ke ruang Direktur. Chika mengetuk pintu ruang tersebut kemudian masuk ke dalamnya “Om cari saya?” tanyanya pada Derry –ayah Dimas–
Derry tersenyum “Masuklah Nak” perintahnya
Chika pun masuk dan kemudian duduk di hadapan Derry “Ada perlu apa yaa Om?” tanyanya pada Derry
“Gini, Om mau tanya apa akhir-akhir ini di kantor sedang ada masalah? Atau ada suatu peristiwa buruk yang tak bisa dikendalikan?” tanya Derry
Chika menggelengkan kepalanya dengan cepat “Everything’s okay kok Om. Memang kenapa Om? Ahiya kenapa Dimas tak datang bersama Om?” tanyanya saat menyadari Dimas tak ada di ruangan itu
“Itu dia masalahnya” ujar Derry “Dimas minta dipindahkan untuk mengawasi kantor cabang di Amerika. Biasanya biarpun Om yang menawarkannya ia sama sekali tak berminat. Tapi sekarang justru dia yang memintanya. Maka dari itu Om berfikir ada masalah apa yang terjadi di kantor sampai membuatnya ingin pergi jauh begitu” tutur Derry
Chika seketika seperti terhantam hatinya saat mendengar hal itu. Air matanya seperti ingin meluncur keluar namun ia menahannya “Kapan Dimas berangkat Om?” tanya Chika dengan mata yang berkaca-kaca
“Hari ini, sekitar pukul 09:00 pagi” jawab Derry
“Saya permisi keluar kantor sebentar Om” pinta Chika, kemudian tanpa menunggu jawaban dari Derry ia segera pergi meninggalkan ruang Direktur dan hendak menyusul Dimas ke bandara.
“Sudah kuduga pasti ada masalah hati yang terjadi diantara mereka” gumam Derry sambil tersenyum kecil
Chika segera menghentikan taksi yang lewat di depan kantornya “Ke Bandara Pak” ujarnya pada sang supir. Chika melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 08:30. Ia kemudian mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Dimas namun sia-sia karena Dimas menonaktifkan handphonenya
Chika meremas jemari tangannya yang gemetar karena gelisah. Dalam hatinya ia terus memanjatkan do’a “Ya Tuhan, jangan membuatku merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya” gumamnya dalam hati. “Tolong lebih cepet yaa Pak” seru Chika pada sang supir.
Setelah setengah jam lebih Chika menempuh perjalanan akhirnya Chika tiba juga di bandara, setelah membayar ongkos taksinya dengan cepat ia berlari meliuk-liuk menyalip beberapa orang. Chika kembali melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 09:10 dan saat ia melihat papan jadwal penerbangan, pesawat yang menuju ke Amerika baru saja berangkat ukul 09:05
Chika terduduk lemas, air matanya mengalir tak tertahankan. Rasa sesak memenuhi seluruh ruang hatinya. Ia kemudian teringat dengan ucapan Dimas saat terakhir bertemu “Gue pergi dulu” pamit Dimas pada waktu itu. Namun Chika tak menyangka bahwa itu berarti Dimas akan pergi jauh meninggalkannya. Bagaimanapun juga semua ini terasa seperti mimpi buruk bagi Chika. Bagaimana bisa orang yang dulu selalu bersama-sama kini mulai berjalan di jalannya masing-masing? Bagaimana bisa kebersamaan yang awalnya menyatukan kini berubah menjadi gerbang pengantar perpisahan?

Tak ku mengerti mengapa begini
Waktu dulu ku tak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dariku, pergi tinggalkanku
Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari kata hatiku saja
Tapi mengapa cinta datang terlambat
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dariku, pergi tinggalkanku
Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari kata hatiku saja
Tapi mengapa kini cinta datang terlambat (Maudy Ayunda – Cinta Datang Terlambat)

Dua tahun kemudian…
Chika sedang menikmati jam istirahat makan siangnya dengan memanjakan lidahnya dengan bekal yang dibawakan ibunya sambil mendengarkan lagu dari ponselnya. Sesekali ia menghentikan aktifitas makannya untuk mencatat beberapa koreksi dari dokumen yang harus dikerjakannya
“Makan aja dulu, nanti kerja lagi” tegur seseorang padanya
“”Iya baik……” kalimat Chika tertahan. Detak jantungnya seketika berdegup lebih kencang “Suara ini…” gumamnya dalam hati. Ia kemudian menoleh ke asal suara itu dan Chika pun tercengang mendapati sosok Dimas sedang berdiri di samping meja kerjanya sambil tersenyum lebar
“Jadi dua tahun gue tinggal terus ekspresi muka lo menyambut kepulangan gue cuma mangap-mangap kayak ikan doang gitu?” goda Dimas
Chika memalingkan wajahnya, kemudian tersenyum bahagia namun ia tak ingin Dimas melihat senyumnya itu karena pasti Dimas akan jadi sangat besar kepala. “Bagus deh kalo udah pulang, disini banyak kerjaan” jawab Chika cuek
Dimas mencibir “Sok-sok jutek padahal ngejar sampe ke bandara. Pake nangis-nangis segala lagi” ledek Dimas
Chika membelalakkan matanya “Lo tau gue ngejar lo, tapi lo tetep pergi?!” tanya Chika tak percaya
Dimas mengangguk “Gue pergi karena gue emang harus pergi. Tapi sekarang…” Dimas menggantung kalimatnya. Kemudian ia berlutut di hadapan Chika dan menggenggam kedua tangan Chika “Tapi sekarang gue pulang karena gue tau ada seseorang yang menunggu. Dan gue ga mau membuat orang yang menangis karena gue ini menunggu lebih lama lagi” Dimas kemudian mengecup punggung tangan Chika “I Love You” ujarnya
Pipi Chika seketika merona. Ia kemudian memeluk Dimas “Jangan pergi lagi” ujarnya. Dimas pun kemudian mengangguk menyetujui permintaan Chika
“Lo tau ga betapa bahagia nya gue melihat lo menangisi kepergian gue?” tanya Dimas
“Lo kok malah suka liat gue nangis sih?” hardik Chika
Dimas tersenyum dan mempererat pelukannya “Gimana gue ga suka? Itu berarti gue mempunyai tempat penting di hati lo. Tapi tenang aja, lo ga akan menangis lagi, kalaupun menangis, gue akan pastiin itu adalah air mata kebahagiaan. Mulai detik ini, satu-satunya yang dapat membuat gue pergi meninggalkan lo hanyalah kematian” ujar Dimas sambil mengecup lembut puncak kepala Chika
Pernah kulihat lukisan cantik
Tujuh bidadari dari langit
Namun saat kulihat dirimu
Cantikmu mengalahkan semua
Pernah kubaca puisi raja
Syairnya indah getarkan rasa
Namun saat namamu disebut
Ku tergetar jiwa penuh rasa
Tuhan yang berikan rasa cinta, rasa kasih sayang
Buat apalah susah cari kesana kesini
Sudah di depan mata, kamulah takdirku
Tuhan ciptakan aku, Tuhan ciptakan kamu
Kita berdua diizinkan bersama dan bersatu selamanya
Seperti embun mengerti pagi
Seperti ombak paham samudra
Kita yang beda t’lah disatukan
Dengan kekuatan cinta kasih
Jadilah kisah ini abadi, kamulah takdirku
Buat apalah susah cari kesana kesini
Sudah di depan mata, kamulah takdirku
Tuhan ciptakan aku, Tuhan ciptakan kamu
Kita berdua diizinkan bersama dan bersatu selamanya
(Raffi Ahmad ft Nagita Slavina – Kamulah Takdirku)

Thanks for reading^^

Follow me on twitter and ask.fm @atyampela

Tidak ada komentar:

Posting Komentar