”Kenapa
lo Ya? Manyun mulu dari tadi pagi” tegur Adnan pada Nia yang sedari tadi hanya
mengaduk-aduk jus alpukatnya
”Tau
tuh Nan, gue aja daritadi di diemin ampe berlumut nih, coba dah lu pegang kulit
gue nih udah pada lengket” ujar Andika sambil menarik-narik tangan Adnan
”Ah
koclo, itu mah keringet elo bekas maen bola nyuk” gerutu Adnan ”Nih ego yang
lumutan mah ketek gue, udah pernah nyium bau lumut belom Dik? Sini dah coba nih
cium” sambung Adnan sambil mengangkat lengannya dan mendekatkannya pada hidung
Andika
”Najis!
Bau neraka ini mah. Sonoan kek lo Nan, gue guyur es jeruk nih” ancam Andika
Nia
akhirnya tak kuasa menahan senyumnya melihat kelakuan Andika dan Adnan. Melihat
Nia yang tersenyum, Andika dan Adnan pun ikut tersenyum juga. ”Nah gitu dong
Ya, kan enak dilihatnya. Ada masalah apa lagi sih?” tanya Adnan
Nia
menghela nafasnya ”Kevin tuh, ngebetein banget” ia kemudian menceritakan
kejadian tadi pagi pada Andika dan Adnan
”Intinya
sih, mereka butuh ngobrol berdua aja” ujar Andika
”Gimana
mau ngobrol berdua, orang waktunya ga pernah match” keluh Nia
”Udahlah
Ya santai aja, lo ga perlu terlalu ambil pusing. Kalo mereka emang jodoh, pasti
bakal balik-balik juga kok” ujar Adnan sembari menepuk bahu Nia.
”Gimana
gue ga pusing Nan, yang terluka itu Adis. Sahabat gue!” pekik Nia
”Dan
lo juga ga boleh lupa Ya kalo Kevin pun pasti terluka, dan dia juga SAHABAT
ELO” Adnan sengaja menekankan kata itu hingga berhasil membuat Nia bungkam.
Bungkam mengakui kalau apa yang dikatakan Adnan benar. Keduanya adalah
sahabatnya, setiap luka yang mereka rasakan juga ikut Nia rasakan
...
Mala
menyusuri pandangannya ke setiap bangku kantin, berharap menemukan sosok Nia di
sana. ”Duh kok ga ada sih, tadi kata Anggi si Nia ke kantin. Apa ke taman belakang
ya?” Mala pun membalikkan badannya hendak ke taman belakang. Namun brukkk!!
Tubuhnya jatuh terduduk. ”Aww” desisnya perlahan
”Eh
ya ampun sorry ga sengaja” ujar seseorang yang menubruk Mala
Mala
berjongkok membersihkan roknya, kemudian ia mengambil sebuah dompet yang
terjatuh tak jauh darinya ”Iya gapapa ini punya...” Mala mendongakkan kepalanya
hendak menyerahkan dompet itu kepada pemiliknya –yang ternyata pemiliknya
adalah Adnan– ”Adnan?” tanyanya. Adnan pun tersenyum kemudian membantu Mala
berdiri
”Thanks
Nan. Nih dompet lo. Eh lo liat Nia ga?” tanya Mala
”Baru
aja balik ke kelas sama Andika. Sorry yaa gue ga sengaja tadi abis lagi
ngitungin duit di dompet jadi ga liat ada orang di depan deh hehe” ujar Adnan
”Yaudah, gue duluan ya La. Masih harus tanding futsal nih” ia pun kemudian
berlalu meninggalkan Mala
”Semangat
Nan!” ujar Mala dalam hatinya. ”Seandainya aja gue berani ngomong langsung”
desisnya pelan. Ia kemudian menghela nafasnya sambil menundukkan kepalanya.
Tanpa sengaja Mala melihat ada selembar foto yang tergeletak di ujung sepatunya
”Loh, jangan-jangan ini jatuh dari dompetnya Adnan”, ia hendak berteriak
memanggil Adnan namun Adnan sudah terlanjur hilang dari pandangan. Ia pun
mengambil foto itu. ”Love You. Arin” tulisan itu tertera di belakang foto
tersebut, Mala kemudian membaliknya dan di selembar foto itu tampak Adnan
sedang merangkul seorang gadis dalam balutan seragam SMP. Tangan Mala gemetar,
seketika dadanya terasa sesak ”Adnan pasti bohong. Dia bukan lagi ngitung duit
tapi dia lagi mandangin foto ini” ujar Mala dalam hati. Ia kemudian memasukkan
foto itu ke dalam saku kemejanya dan pergi menuju kelasnya.
...
Adis
tampak urak-urakan, kusut tak karuan. Disaat semua mata telah terpejam, Adis
masih tetap terjaga. Rasanya ia tak sanggup untuk memejamkan matanya, karena
pada saat matanya terpejam sekelebat bayangan akan kejadian waktu itu akan
langsung menyerangnya, menciptakan perih yang nyata menggores hatinya.
Adis
duduk mematung di atas kasurnya dengan sebuah bantal dalam dekapannya. Bantal
yang sudah basah dengan air matanya yang tak kunjung berhenti menetes setiap
malamnya sejak kejadian itu. Adis memeluk erat bantal itu seakan-akan hanya
bantal itulah temannya yang mampu menemaninya dalam sepi ini, dalam keheningan
yang membunuh ini.
Lagi!
Air matanya lagi-lagi menetes. Mengingat sosok yang sangat dicintainya
sekaligus sosok yang telah membuat kehancuran dalam hatinya. ”Salah gue dimana
sih Vin sampe lo tega menghukum gue kayak gini?” ujarnya dalam isak tangisnya
Sementara
itu, di tempat yang berbeda, ada hati yang juga sama remuknya dengan Adis. Ya,
hati itu milik Kevin. Kini ia hanya bisa mengawasi Adis dari kejauhan. Karena
kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka telah membuat Adis membangun
sebuah benteng yang menjadi penghalang hubungan cinta mereka.
...
”Keadaan
Adis gimana?” tanya Nia pada Okta saat mereka sedang berkumpul di kantin
”Kacau.
Dibilang hidup tapi udah kayak orang mati, dibilang mati ya tapi kenyataannya
masih hidup. Gue udah ga ngerti harus gimana lagi” jawab Okta sambil menghela
nafas panjang
”Terus
sekarang apa yang bisa kita lakuin dong?” tanya Ziah yang hanya dijawab dengan
kedua bahu yang diangkat bersamaan oleh semua teman-temannya
Nia
menghela nafasnya. Panjang dan berat. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke
segala arah karena ia sudah benar-benar suntuk dengan keadaan ini namun
tiba-tiba bola matanya menangkap suatu kejadian yang menarik. Dilihatnya Dina
sedang tertawa riang bersama sekumpulan perempuan lainnya. Nia merasakan suatu
keganjilan, karena terakhir kali seingatnya Dina justru merasa sangat bersalah
bahkan Dina berkonsultasi padanya menanyakan bagaimana cara agar Adis
memaafkannya.
Nia
bangkit dari tempat duduknya. ”Ya lo mau kemana?” tanya Rani
”Kalian
boleh ikut gue tapi please jangan mengeluarkan suara apapun” pesan Nia. Ia
kemudian berjalan mendekat ke arah Dina diikuti teman-temannya dari belakang
–yang sebenarnya teman-temannya pun tak tau apa yang akan dilakukan Nia–. Nia
dan teman-temannya bersembunyi di balik tembok yang ada di belakang Dina hingga
akhirnya mereka bisa mendengar apa yang sedang diperbincangkan oleh Dina
”Kalo
Adis sama Kevin sampe putus gimana?” tanya seorang perempuan yang duduk di
sebelah Dina
”Peduli
apa gue?” jawab Dina santai yang justru mendapat respon tak santai dari Nia dan
teman-temannya. Ia segera berbisik pada Mala ”Nyalain recorder handphone lo
sekarang” dan Mala pun langsung menuruti perintah Nia tanpa bertanya lagi
”Justru
itu yang gue mau, biarin aja mereka putus supaya gue bisa jadian sama Kevin” lanjut
Dina
”Kalo
lo suka Kevin kenapa dulu sebelum Kevin jadian sama Adis lo ga pernah ngerespon
Kevin?” kini ganti orang yang duduk di depan Dina yang bertanya
”Yaa
itu karena gue dulu punya pacar jadi yaa gue ga butuh Kevin. Tapi sekarang
pacar gue malah selingkuhin gue bahkan mutusin gue demi selingkuhannya. Ya
jelas gue ga terima dong. Gue harus kasih unjuk ke cowo sialan itu kalo gue
juga bisa dapet yang baru. Yaudah deh gue deketin Kevin. Lagian dulu kan Kevin
naksirnya sama gue. Jadi apa salahnya kalo sekarang gue ambil lagi apa yang
seharusnya jadi milik gue?” jawab Dina.
Rani
menggeram kesal, ia hendak menghampiri Dina dan menjambak mulut Dina agar ia
tak memiliki mulut untuk bicara seenaknya seperti itu begitu saja. Namun Okta
dan Ziah mencegahnya dengan mencekal erat kedua tangan Rani hingga ia tak mampu
kemana-mana
”Tapi
bukannya akhir-akhir ini lo sering ngobrol sama Nia ya? Bukannya lo minta
tolong sama Nia supaya Adis mau maafin lo?” satu pertanyaan lagi yang muncul
dari temannya Dina
Dina
tertawa kecil ”It’s just acting baby” jawabnya santai sambil mengibaskan
rambutnya ”Nia kan sahabatnya Kevin. Jadi gue harus ngambil hatinya dia lah.
Dia itu aset supaya hubungan gue sama Kevin bisa lebih deket. Yaa jadi gue
harus terlihat alim dan baik lah di depan dia”
Pecah!
Nia benar-benar sudah tak bisa menahan lagi emosinya ”Udah lo rekam kan La?
Sekarang lo sama Ziah kasih rekaman itu ke Kevin. Dia ada di perpustakaan sama
Adnan dan Dika. Kalo udah, suruh Kevin kesini. Cepet!” perintah Nia yang
langsung dituruti oleh Mala dan Ziah
Nia
mengepalkan tangannya, menggigit bawah bibirnya dengan geram. Rasanya ia ingin
sekali mencabik-cabik Dina saat itu juga. Okta yang sepertinya bisa membaca
pikiran Nia segera mengingatkannya ”Kontrol Ya” ujar Okta
Nia
keluar dari tempat persembunyiannya dan berdiri tepat di belakang Dina. Melihat
itu sontak teman-teman Dina menjadi shock dan memberi isyarat pada Dina untuk
menoleh ke belakang. ”Kalian kenapa dah kayak ngeliat setan aja” ujar Dina.
Kemudian ia pun menoleh ke belakang dan.... Deg! Ia justru lebih shock dari
teman-temannya melihat Nia tengah berdiri di belakangnya sambil melipat kedua
tangannya dan tersenyum –senyum yang sama sekali tak menunjukkan keramahan–.
”Jadi
apa salahnya kalo sekarang gue ambil lagi apa yang seharusnya jadi milik gue?”
ujar Nia mengulang kata-kata Dina. Kemudian ia menatap Dina dengan tajam ”Asal
lo tau ya, Kevin bukan milik lo dan ga akan pernah jadi milik lo!” bentak Nia
yang sontak membuat Dina seketika menjadi pucat
Nia
satu langkah maju semakin mendekat ke arah Dina ”Gue fikir hati lo sebersih
mutiara ternyata lo bahkan lebih kotor daripada tumpukan kotoran manusia yang
dicampur sama kotoran hewan dan diblender jadi satu. Menjijikan tau ga lo?
Menjijikan!” Nia menekankan kata itu yang semakin membuat Dina mati gaya
”Kalo
lo sakit hati karena dicampakkin sama pacar lo, harusnya lo intropeksi diri,
mikir! Jangan malah berusaha ngebuat orang lain ngerasain sakit hati yang sama!
Lo udah ngebuat sahabat gue terluka maka lo harus bayar semua itu!” Nia hendak
melayangkan tamparan di pipi Dina namun tangannya tertahan di udara
”Kevin?”
ujarnya ”Ngapain lo cegah gue? Cewe busuk ini berhak dapet pelajaran”
Kevin
tersenyum lembut ”Sayang kalo sampe tangan sahabat gue jadi ikut kotor karena
nyentuh dia” Kevin kemudian menurunkan tangan Nia. Kini ganti ia menatap Dina
”Kalo lo fikir gue masih sayang sama lo itu lo salah besar Din. Karena rasa itu
udah lama mati sejak cinta gue ke Adis tumbuh. Dan mulai sekarang, tolong
jangan pernah ganggu gue dan semua orang yang ada di dekat gue” ujarnya dingin.
Kemudian ia bersama Nia berlalu pergi meninggalkan Dina
...
Nia
dan teman-temannya menjelaskan secara detail tentang rencana jahat Dina pada
Adis ”Gitu Dis ceritanya. Jadi sekarang lo sama Kevin bisa baikan lagi” ujar
Nia bersemangat.
Namun
justru Adis terlihat tak excited mendengarnya ”Udahlah Ya, gue udah capek”
ujarnya
Nia
terperangah mendengar ucapan Adis ”Lo udah ga cinta lagi sama Kevin?” tanyanya
Adis
menggelengkan kepalanya ”Bukan soal masih cinta atau engga Ya. Tapi gue gamau
terluka lebih jauh”
”Dis,
kan semuanya udah jelas kalau ini cuma salah paham. Kevin tuh sayang banget Dis
sama lo dan gue yakin.....”
”Cukup
Ya!” potong Adis ”Gue benci sakit hati kayak gini. Gue gamau lagi....”
Plak!
Sebuah tamparan melayang tepat di pipi Adis dari tangan Rani yang sontak
membuat semuanya menoleh ke arah Rani dengan tatapan tidak percaya ”Gue gemes
banget liat masalah ini ga kelar-kelar” ujarnya. Ia kemudian menatap lurus ke
arah Adis ”Kalo lo ga mau sakit hati ya dari awal jangan jatuh cinta. Kalo lo
udah terlanjur jatuh cinta ya lo harus siap dengan rasa sakit hati yang bisa
meledak kapanpun seperti layaknya bom waktu” tegas Rani
”Gue
cuma belum bisa nerima ini semua Ran. Gue cinta sama Kevin, tapi sekarang gue ga
bisa kembali kayak dulu” ujar Adis lirih
Rani
berdecak ”Lo cinta tapi benci, gimana sih? Lo harus pilih salah satu, kalo lo
cinta ya jangan sok-sok ngebenci. Tapi kalo emang lo benci yaudah apus semua
rasa cinta dan sayang lo itu. Jangan ngegantungin orang tanpa kejelasan,
menunggu kepastian ga sebercanda itu” Rani mengelus lembut pipi Adis ”Anggap
tamparan gue tadi itu adalah cara gue ngebangunin lo dari mimpi buruk lo. Semua
kejadian buruk itu udah lewat Dis, sekarang lo bangun dan sambut hari lo yang baru.
Masalah ini sekarang sepenuhnya udah bukan urusan gue, Nia, Mala, ataupun yang
lainnya lagi. Sekarang tinggal lo dan Kevin yang bisa menyelesaikan masalah
ini” Rani kemudian bangkit dari tempat duduknya dan pergi berlalu meninggalkan
Adis disusul dengan yang lainnya
”Pikirin
baik-baik ucapan Rani tadi Dis, kita akan selalu ada buat lo apapun keputusan
lo kok” ujar Nia sebelum akhirnya ia pun ikut berlalu meninggalkan Adis
...
Andika
dan Adnan masih asik berbincang-bincang di salah satu meja di kantin sampai
akhirnya obrolan mereka terhenti saat Nia dan Mala datang menghampiri meereka
dan duduk di hadapan mereka
”Gimana
soal Adis?” tanya Andika pada Nia dan Mala
Nia
dan Mala kemudian saling pandang, mengangkat bahu mereka bersamaan dengan
helaan nafas panjang
”Gantung
nih ceritanya?” kini ganti Adnan yang bertanya
”Ga
tau dah ah gue lapeeer” ujar Nia. ”Gue pengen mie yamin yang di luar sekolah
deh. Gue beli keluar dulu yak” sambung Nia sambil beranjak dari kursinya
”Looh
kan ga boleh keluar sekolah ya selama masih jam pelajaran” sergah Andika
”Kan
sekarang jam istirahat bukan jam pelajaran” kilah Nia, kemudian ia tetap
berlalu pergi
”Dik
temenin Dik. Bukan apa-apa gue takut besok satpam sekolah kita ganti yang baru.
Ntar kita ga bisa main catur lagi sama doi” ujar Adnan. Kemudian Andika pun
segera berlalu menyusul kepergian Nia, meninggalkan Adnan dan Mala berdua.
Seketika
suasana canggung menyelimuti hati Mala. Kini hanya tinggal ia dan Adnan.
Pikirannya melayang pada foto yang dia temukan dari dompet Adnan.
”Mau
bakso gak La? Gue traktir” ujar Adnan membuyarkan lamunan Mala. Mala hanya
menjawabnya dengan sebuah anggukan. Kemudian Adnan pun bangkit dari kursiya
”Bentar ya gue pesenin dulu” ujarnya sambil berlalu pergi
Tak
beberapa lama kemudian Adnan kembali bersama dengan Pa’de Joko –pemilik kedai
bakso– dengan membawa dua mangkuk bakso dan dua gelas es teh manis. ”Taruh di
sini aja Pa’de” ujar Adnan
Pa’de
Joko meletakkan bakso dan es teh manis yang dibawanya di tempat yang
ditunjukkan Adnan ”Silahkan dimakan, saya permisi dulu” pamit Pa’de Joko
”Sikat
La” seru Adnan sambil melahap baksonya
Mala
mengangguk sambil terseyum kemudian ikut melahap bakso yang telah tersedia di
hadapannya
”Jadi,
si Adis ceritanya ga mau maafin Kevin tuh La?” tanya Adnan
”Bukan
ga mau maafin, dia cuma butuh waktu buat sendiri dulu” ujar Mala
”Emang
cewek hobinya gitu ya? Kalo ada masalah maunya dipendem sendiri mulu ga mau
cari solusi sama-sama”
”Engga
gitu Nan. Kadang ada kalanya hening jauh lebih nyaman dibanding keramaian. Karena
suara hati kita yang sesungguhnya hanya akan keluar saat kita sedang sendiri,
hanya saat kita sedang benar-benar memiliki diri kita sendiri” tutur Mala
Adnan
tertegun mendengarnya ”Gue fikir dulu lo itu childish dan ga bisa ngertiin
perasaan orang lain. Tapi sekarang gue yakin 100% kalau pemikiran gue itu
salah” puji Adnan
Mala
tersenyum mendengarnya ”Tuhan selalu menyelipkan pelajaran di setiap cobaan
Nan” ujarnya
Adnan
ikut tersenyum mendengarnya. Kemudian tiba-tiba ia teringat sesuatu ”Ya ampun
gue belum bayar baksonya” ujarnya sambil menepuk keningnya. Ia kemudian
melambaikan tangannya ke arah Pa’de Joko dan Pa’de Joko pun segera
menghampirinya
”Ono
opo Mas? Mau tambah sambal?” tanya Pa’de Joko
”Bukan
Pa’de, saya mau bayar baksonya. Tadi lupa belum saya bayar” ujar Adnan
”Ora
opo-opo toh Mas bayarnya belakangan juga. Kayak belum pernah makan di warung
saya aja toh Mas iki”
”Gapapa
Pa’de, takut saya lupa. Jadi berapa Pa’de semuanya. Sekalian sama es teh
manisnya juga yaa”
”Semuanya
jadi dua puluh dua ribu Mas”
Adnan
mengeluarkan dompet dari saku celananya, kemudian mengambil sejumlah uang
senilai yang disebutkan Pa’de Joko tadi ”Pas yaa Pa’de. Makasih” ujarnya
Pa’de
mengambil uang tersebut ”Sama-sama Mas, marii saya permisi” pamitnya
Saat
hendak menutup kembali dompetnya, Adnan menyadari ada sesuatu yang hilang dari
dalam dompetnya ”Kok ga ada sih” ujarnya spontan
”Apanya
yang gak ada Nan?” tanya Mala
Adnan
segera menutup dompetnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku celananya
”Bukan apa-apa. Itu fotokopi KTP guee yang ilang. Gapapa lah gampang nanti
fotokopi lagi” kilah Adnan
”Yakiin
gapapa?” tanya Mala lagi
Adnan
menganggukkan kepalanya dengan cepat ”Iyaa gapapa” ujarnya meyakinkan
”Beneran
ga perlu dicari?” tanya Mala lagi
”Ga
perlu kok, buat apaan juga” kilah Adnan. Namun Adnan tak pandai berbohong.
Gelagat tubuhnya menunjukkan betul bahwa ia sedang berpikir keras dimana
kira-kira ia menjatuhkan benda itu
”Beneran
yang hilang itu fotokopi KTP?” lagi-lagi Mala bertanya. Atau mungkin lebih
tepatnya menginterogasi
”Beneran
La, ya ampun buat apa juga gue bohong?” ujar Adnan
Mala
menghela nafasnya. Ia kemudian merogoh saku kemejanya, mengeluarkan selembar
foto dari dalamnya dan meletakannya di hadapan Adnan. Adnan seketika terkejut
melihat apa yang dikeluarkan Mala dari sakunya adalah apa yang hilang dari
dompetnya. ”Gue juga ga tau yaa Nan buat apa lo bohong. Gue nemuin ini waktu
kita ga sengaja tabrakan beberapa hari yang lalu” Mala kemudian bangkit dari
kursinya ”Makasih traktirannya Nan” ujarnya sambil berlalu meninggalkan Adnan
Adnan
dengan segera mencekal lengan Mala untuk mencegah kepergian Mala namun saat itu
Adnan seketika tertegun saat dilihatnya mata Mala sudah sangat berkaca-kaca
”Lepas
Nan” ujar Mala lirih
Tanpa
sadar tangan Adnan pun bergetar hebat hingga akhirnya ia melepaskan
genggamannya. Kini ia hanya mampu menyaksikan dari kejauhan punggung Mala yang
kian menjauh dan sekarang hilang dari pandangannya
...
To
be continue
Follow
me on twitter and ask.fm @atyampela
Tidak ada komentar:
Posting Komentar