Minggu, 28 Desember 2014

LOVE BETWEEN US PART 14


”Kenapa lo Ya? Manyun mulu dari tadi pagi” tegur Adnan pada Nia yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk jus alpukatnya
”Tau tuh Nan, gue aja daritadi di diemin ampe berlumut nih, coba dah lu pegang kulit gue nih udah pada lengket” ujar Andika sambil menarik-narik tangan Adnan
”Ah koclo, itu mah keringet elo bekas maen bola nyuk” gerutu Adnan ”Nih ego yang lumutan mah ketek gue, udah pernah nyium bau lumut belom Dik? Sini dah coba nih cium” sambung Adnan sambil mengangkat lengannya dan mendekatkannya pada hidung Andika
”Najis! Bau neraka ini mah. Sonoan kek lo Nan, gue guyur es jeruk nih” ancam Andika
Nia akhirnya tak kuasa menahan senyumnya melihat kelakuan Andika dan Adnan. Melihat Nia yang tersenyum, Andika dan Adnan pun ikut tersenyum juga. ”Nah gitu dong Ya, kan enak dilihatnya. Ada masalah apa lagi sih?” tanya Adnan
Nia menghela nafasnya ”Kevin tuh, ngebetein banget” ia kemudian menceritakan kejadian tadi pagi pada Andika dan Adnan
”Intinya sih, mereka butuh ngobrol berdua aja” ujar Andika
”Gimana mau ngobrol berdua, orang waktunya ga pernah match” keluh Nia
”Udahlah Ya santai aja, lo ga perlu terlalu ambil pusing. Kalo mereka emang jodoh, pasti bakal balik-balik juga kok” ujar Adnan sembari menepuk bahu Nia.
”Gimana gue ga pusing Nan, yang terluka itu Adis. Sahabat gue!” pekik Nia
”Dan lo juga ga boleh lupa Ya kalo Kevin pun pasti terluka, dan dia juga SAHABAT ELO” Adnan sengaja menekankan kata itu hingga berhasil membuat Nia bungkam. Bungkam mengakui kalau apa yang dikatakan Adnan benar. Keduanya adalah sahabatnya, setiap luka yang mereka rasakan juga ikut Nia rasakan
...

Mala menyusuri pandangannya ke setiap bangku kantin, berharap menemukan sosok Nia di sana. ”Duh kok ga ada sih, tadi kata Anggi si Nia ke kantin. Apa ke taman belakang ya?” Mala pun membalikkan badannya hendak ke taman belakang. Namun brukkk!! Tubuhnya jatuh terduduk. ”Aww” desisnya perlahan
”Eh ya ampun sorry ga sengaja” ujar seseorang yang menubruk Mala
Mala berjongkok membersihkan roknya, kemudian ia mengambil sebuah dompet yang terjatuh tak jauh darinya ”Iya gapapa ini punya...” Mala mendongakkan kepalanya hendak menyerahkan dompet itu kepada pemiliknya –yang ternyata pemiliknya adalah Adnan– ”Adnan?” tanyanya. Adnan pun tersenyum kemudian membantu Mala berdiri
”Thanks Nan. Nih dompet lo. Eh lo liat Nia ga?” tanya Mala
”Baru aja balik ke kelas sama Andika. Sorry yaa gue ga sengaja tadi abis lagi ngitungin duit di dompet jadi ga liat ada orang di depan deh hehe” ujar Adnan ”Yaudah, gue duluan ya La. Masih harus tanding futsal nih” ia pun kemudian berlalu meninggalkan Mala
”Semangat Nan!” ujar Mala dalam hatinya. ”Seandainya aja gue berani ngomong langsung” desisnya pelan. Ia kemudian menghela nafasnya sambil menundukkan kepalanya. Tanpa sengaja Mala melihat ada selembar foto yang tergeletak di ujung sepatunya ”Loh, jangan-jangan ini jatuh dari dompetnya Adnan”, ia hendak berteriak memanggil Adnan namun Adnan sudah terlanjur hilang dari pandangan. Ia pun mengambil foto itu. ”Love You. Arin” tulisan itu tertera di belakang foto tersebut, Mala kemudian membaliknya dan di selembar foto itu tampak Adnan sedang merangkul seorang gadis dalam balutan seragam SMP. Tangan Mala gemetar, seketika dadanya terasa sesak ”Adnan pasti bohong. Dia bukan lagi ngitung duit tapi dia lagi mandangin foto ini” ujar Mala dalam hati. Ia kemudian memasukkan foto itu ke dalam saku kemejanya dan pergi menuju kelasnya.

...

Adis tampak urak-urakan, kusut tak karuan. Disaat semua mata telah terpejam, Adis masih tetap terjaga. Rasanya ia tak sanggup untuk memejamkan matanya, karena pada saat matanya terpejam sekelebat bayangan akan kejadian waktu itu akan langsung menyerangnya, menciptakan perih yang nyata menggores hatinya.
Adis duduk mematung di atas kasurnya dengan sebuah bantal dalam dekapannya. Bantal yang sudah basah dengan air matanya yang tak kunjung berhenti menetes setiap malamnya sejak kejadian itu. Adis memeluk erat bantal itu seakan-akan hanya bantal itulah temannya yang mampu menemaninya dalam sepi ini, dalam keheningan yang membunuh ini.
Lagi! Air matanya lagi-lagi menetes. Mengingat sosok yang sangat dicintainya sekaligus sosok yang telah membuat kehancuran dalam hatinya. ”Salah gue dimana sih Vin sampe lo tega menghukum gue kayak gini?” ujarnya dalam isak tangisnya
Sementara itu, di tempat yang berbeda, ada hati yang juga sama remuknya dengan Adis. Ya, hati itu milik Kevin. Kini ia hanya bisa mengawasi Adis dari kejauhan. Karena kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka telah membuat Adis membangun sebuah benteng yang menjadi penghalang hubungan cinta mereka.

...

”Keadaan Adis gimana?” tanya Nia pada Okta saat mereka sedang berkumpul di kantin
”Kacau. Dibilang hidup tapi udah kayak orang mati, dibilang mati ya tapi kenyataannya masih hidup. Gue udah ga ngerti harus gimana lagi” jawab Okta sambil menghela nafas panjang
”Terus sekarang apa yang bisa kita lakuin dong?” tanya Ziah yang hanya dijawab dengan kedua bahu yang diangkat bersamaan oleh semua teman-temannya
Nia menghela nafasnya. Panjang dan berat. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke segala arah karena ia sudah benar-benar suntuk dengan keadaan ini namun tiba-tiba bola matanya menangkap suatu kejadian yang menarik. Dilihatnya Dina sedang tertawa riang bersama sekumpulan perempuan lainnya. Nia merasakan suatu keganjilan, karena terakhir kali seingatnya Dina justru merasa sangat bersalah bahkan Dina berkonsultasi padanya menanyakan bagaimana cara agar Adis memaafkannya.
Nia bangkit dari tempat duduknya. ”Ya lo mau kemana?” tanya Rani
”Kalian boleh ikut gue tapi please jangan mengeluarkan suara apapun” pesan Nia. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah Dina diikuti teman-temannya dari belakang –yang sebenarnya teman-temannya pun tak tau apa yang akan dilakukan Nia–. Nia dan teman-temannya bersembunyi di balik tembok yang ada di belakang Dina hingga akhirnya mereka bisa mendengar apa yang sedang diperbincangkan oleh Dina
”Kalo Adis sama Kevin sampe putus gimana?” tanya seorang perempuan yang duduk di sebelah Dina
”Peduli apa gue?” jawab Dina santai yang justru mendapat respon tak santai dari Nia dan teman-temannya. Ia segera berbisik pada Mala ”Nyalain recorder handphone lo sekarang” dan Mala pun langsung menuruti perintah Nia tanpa bertanya lagi
”Justru itu yang gue mau, biarin aja mereka putus supaya gue bisa jadian sama Kevin” lanjut Dina
”Kalo lo suka Kevin kenapa dulu sebelum Kevin jadian sama Adis lo ga pernah ngerespon Kevin?” kini ganti orang yang duduk di depan Dina yang bertanya
”Yaa itu karena gue dulu punya pacar jadi yaa gue ga butuh Kevin. Tapi sekarang pacar gue malah selingkuhin gue bahkan mutusin gue demi selingkuhannya. Ya jelas gue ga terima dong. Gue harus kasih unjuk ke cowo sialan itu kalo gue juga bisa dapet yang baru. Yaudah deh gue deketin Kevin. Lagian dulu kan Kevin naksirnya sama gue. Jadi apa salahnya kalo sekarang gue ambil lagi apa yang seharusnya jadi milik gue?” jawab Dina.
Rani menggeram kesal, ia hendak menghampiri Dina dan menjambak mulut Dina agar ia tak memiliki mulut untuk bicara seenaknya seperti itu begitu saja. Namun Okta dan Ziah mencegahnya dengan mencekal erat kedua tangan Rani hingga ia tak mampu kemana-mana
”Tapi bukannya akhir-akhir ini lo sering ngobrol sama Nia ya? Bukannya lo minta tolong sama Nia supaya Adis mau maafin lo?” satu pertanyaan lagi yang muncul dari temannya Dina
Dina tertawa kecil ”It’s just acting baby” jawabnya santai sambil mengibaskan rambutnya ”Nia kan sahabatnya Kevin. Jadi gue harus ngambil hatinya dia lah. Dia itu aset supaya hubungan gue sama Kevin bisa lebih deket. Yaa jadi gue harus terlihat alim dan baik lah di depan dia”
Pecah! Nia benar-benar sudah tak bisa menahan lagi emosinya ”Udah lo rekam kan La? Sekarang lo sama Ziah kasih rekaman itu ke Kevin. Dia ada di perpustakaan sama Adnan dan Dika. Kalo udah, suruh Kevin kesini. Cepet!” perintah Nia yang langsung dituruti oleh Mala dan Ziah
Nia mengepalkan tangannya, menggigit bawah bibirnya dengan geram. Rasanya ia ingin sekali mencabik-cabik Dina saat itu juga. Okta yang sepertinya bisa membaca pikiran Nia segera mengingatkannya ”Kontrol Ya” ujar Okta
Nia keluar dari tempat persembunyiannya dan berdiri tepat di belakang Dina. Melihat itu sontak teman-teman Dina menjadi shock dan memberi isyarat pada Dina untuk menoleh ke belakang. ”Kalian kenapa dah kayak ngeliat setan aja” ujar Dina. Kemudian ia pun menoleh ke belakang dan.... Deg! Ia justru lebih shock dari teman-temannya melihat Nia tengah berdiri di belakangnya sambil melipat kedua tangannya dan tersenyum –senyum yang sama sekali tak menunjukkan keramahan–.
”Jadi apa salahnya kalo sekarang gue ambil lagi apa yang seharusnya jadi milik gue?” ujar Nia mengulang kata-kata Dina. Kemudian ia menatap Dina dengan tajam ”Asal lo tau ya, Kevin bukan milik lo dan ga akan pernah jadi milik lo!” bentak Nia yang sontak membuat Dina seketika menjadi pucat
Nia satu langkah maju semakin mendekat ke arah Dina ”Gue fikir hati lo sebersih mutiara ternyata lo bahkan lebih kotor daripada tumpukan kotoran manusia yang dicampur sama kotoran hewan dan diblender jadi satu. Menjijikan tau ga lo? Menjijikan!” Nia menekankan kata itu yang semakin membuat Dina mati gaya
”Kalo lo sakit hati karena dicampakkin sama pacar lo, harusnya lo intropeksi diri, mikir! Jangan malah berusaha ngebuat orang lain ngerasain sakit hati yang sama! Lo udah ngebuat sahabat gue terluka maka lo harus bayar semua itu!” Nia hendak melayangkan tamparan di pipi Dina namun tangannya tertahan di udara
”Kevin?” ujarnya ”Ngapain lo cegah gue? Cewe busuk ini berhak dapet pelajaran”
Kevin tersenyum lembut ”Sayang kalo sampe tangan sahabat gue jadi ikut kotor karena nyentuh dia” Kevin kemudian menurunkan tangan Nia. Kini ganti ia menatap Dina ”Kalo lo fikir gue masih sayang sama lo itu lo salah besar Din. Karena rasa itu udah lama mati sejak cinta gue ke Adis tumbuh. Dan mulai sekarang, tolong jangan pernah ganggu gue dan semua orang yang ada di dekat gue” ujarnya dingin. Kemudian ia bersama Nia berlalu pergi meninggalkan Dina
...

Nia dan teman-temannya menjelaskan secara detail tentang rencana jahat Dina pada Adis ”Gitu Dis ceritanya. Jadi sekarang lo sama Kevin bisa baikan lagi” ujar Nia bersemangat.
Namun justru Adis terlihat tak excited mendengarnya ”Udahlah Ya, gue udah capek” ujarnya
Nia terperangah mendengar ucapan Adis ”Lo udah ga cinta lagi sama Kevin?” tanyanya
Adis menggelengkan kepalanya ”Bukan soal masih cinta atau engga Ya. Tapi gue gamau terluka lebih jauh”
”Dis, kan semuanya udah jelas kalau ini cuma salah paham. Kevin tuh sayang banget Dis sama lo dan gue yakin.....”
”Cukup Ya!” potong Adis ”Gue benci sakit hati kayak gini. Gue gamau lagi....”
Plak! Sebuah tamparan melayang tepat di pipi Adis dari tangan Rani yang sontak membuat semuanya menoleh ke arah Rani dengan tatapan tidak percaya ”Gue gemes banget liat masalah ini ga kelar-kelar” ujarnya. Ia kemudian menatap lurus ke arah Adis ”Kalo lo ga mau sakit hati ya dari awal jangan jatuh cinta. Kalo lo udah terlanjur jatuh cinta ya lo harus siap dengan rasa sakit hati yang bisa meledak kapanpun seperti layaknya bom waktu” tegas Rani
”Gue cuma belum bisa nerima ini semua Ran. Gue cinta sama Kevin, tapi sekarang gue ga bisa kembali kayak dulu” ujar Adis lirih
Rani berdecak ”Lo cinta tapi benci, gimana sih? Lo harus pilih salah satu, kalo lo cinta ya jangan sok-sok ngebenci. Tapi kalo emang lo benci yaudah apus semua rasa cinta dan sayang lo itu. Jangan ngegantungin orang tanpa kejelasan, menunggu kepastian ga sebercanda itu” Rani mengelus lembut pipi Adis ”Anggap tamparan gue tadi itu adalah cara gue ngebangunin lo dari mimpi buruk lo. Semua kejadian buruk itu udah lewat Dis, sekarang lo bangun dan sambut hari lo yang baru. Masalah ini sekarang sepenuhnya udah bukan urusan gue, Nia, Mala, ataupun yang lainnya lagi. Sekarang tinggal lo dan Kevin yang bisa menyelesaikan masalah ini” Rani kemudian bangkit dari tempat duduknya dan pergi berlalu meninggalkan Adis disusul dengan yang lainnya
”Pikirin baik-baik ucapan Rani tadi Dis, kita akan selalu ada buat lo apapun keputusan lo kok” ujar Nia sebelum akhirnya ia pun ikut berlalu meninggalkan Adis
...

Andika dan Adnan masih asik berbincang-bincang di salah satu meja di kantin sampai akhirnya obrolan mereka terhenti saat Nia dan Mala datang menghampiri meereka dan duduk di hadapan mereka
”Gimana soal Adis?” tanya Andika pada Nia dan Mala
Nia dan Mala kemudian saling pandang, mengangkat bahu mereka bersamaan dengan helaan nafas panjang
”Gantung nih ceritanya?” kini ganti Adnan yang bertanya
”Ga tau dah ah gue lapeeer” ujar Nia. ”Gue pengen mie yamin yang di luar sekolah deh. Gue beli keluar dulu yak” sambung Nia sambil beranjak dari kursinya
”Looh kan ga boleh keluar sekolah ya selama masih jam pelajaran” sergah Andika
”Kan sekarang jam istirahat bukan jam pelajaran” kilah Nia, kemudian ia tetap berlalu pergi
”Dik temenin Dik. Bukan apa-apa gue takut besok satpam sekolah kita ganti yang baru. Ntar kita ga bisa main catur lagi sama doi” ujar Adnan. Kemudian Andika pun segera berlalu menyusul kepergian Nia, meninggalkan Adnan dan Mala berdua.
Seketika suasana canggung menyelimuti hati Mala. Kini hanya tinggal ia dan Adnan. Pikirannya melayang pada foto yang dia temukan dari dompet Adnan.
”Mau bakso gak La? Gue traktir” ujar Adnan membuyarkan lamunan Mala. Mala hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan. Kemudian Adnan pun bangkit dari kursiya ”Bentar ya gue pesenin dulu” ujarnya sambil berlalu pergi
Tak beberapa lama kemudian Adnan kembali bersama dengan Pa’de Joko –pemilik kedai bakso– dengan membawa dua mangkuk bakso dan dua gelas es teh manis. ”Taruh di sini aja Pa’de” ujar Adnan
Pa’de Joko meletakkan bakso dan es teh manis yang dibawanya di tempat yang ditunjukkan Adnan ”Silahkan dimakan, saya permisi dulu” pamit Pa’de Joko
”Sikat La” seru Adnan sambil melahap baksonya
Mala mengangguk sambil terseyum kemudian ikut melahap bakso yang telah tersedia di hadapannya
”Jadi, si Adis ceritanya ga mau maafin Kevin tuh La?” tanya Adnan
”Bukan ga mau maafin, dia cuma butuh waktu buat sendiri dulu” ujar Mala
”Emang cewek hobinya gitu ya? Kalo ada masalah maunya dipendem sendiri mulu ga mau cari solusi sama-sama”
”Engga gitu Nan. Kadang ada kalanya hening jauh lebih nyaman dibanding keramaian. Karena suara hati kita yang sesungguhnya hanya akan keluar saat kita sedang sendiri, hanya saat kita sedang benar-benar memiliki diri kita sendiri” tutur Mala
Adnan tertegun mendengarnya ”Gue fikir dulu lo itu childish dan ga bisa ngertiin perasaan orang lain. Tapi sekarang gue yakin 100% kalau pemikiran gue itu salah” puji Adnan
Mala tersenyum mendengarnya ”Tuhan selalu menyelipkan pelajaran di setiap cobaan Nan” ujarnya
Adnan ikut tersenyum mendengarnya. Kemudian tiba-tiba ia teringat sesuatu ”Ya ampun gue belum bayar baksonya” ujarnya sambil menepuk keningnya. Ia kemudian melambaikan tangannya ke arah Pa’de Joko dan Pa’de Joko pun segera menghampirinya
”Ono opo Mas? Mau tambah sambal?” tanya Pa’de Joko
”Bukan Pa’de, saya mau bayar baksonya. Tadi lupa belum saya bayar” ujar Adnan
”Ora opo-opo toh Mas bayarnya belakangan juga. Kayak belum pernah makan di warung saya aja toh Mas iki”
”Gapapa Pa’de, takut saya lupa. Jadi berapa Pa’de semuanya. Sekalian sama es teh manisnya juga yaa”
”Semuanya jadi dua puluh dua ribu Mas”
Adnan mengeluarkan dompet dari saku celananya, kemudian mengambil sejumlah uang senilai yang disebutkan Pa’de Joko tadi ”Pas yaa Pa’de. Makasih” ujarnya
Pa’de mengambil uang tersebut ”Sama-sama Mas, marii saya permisi” pamitnya
Saat hendak menutup kembali dompetnya, Adnan menyadari ada sesuatu yang hilang dari dalam dompetnya ”Kok ga ada sih” ujarnya spontan
”Apanya yang gak ada Nan?” tanya Mala
Adnan segera menutup dompetnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku celananya ”Bukan apa-apa. Itu fotokopi KTP guee yang ilang. Gapapa lah gampang nanti fotokopi lagi” kilah Adnan
”Yakiin gapapa?” tanya Mala lagi
Adnan menganggukkan kepalanya dengan cepat ”Iyaa gapapa” ujarnya meyakinkan
”Beneran ga perlu dicari?” tanya Mala lagi
”Ga perlu kok, buat apaan juga” kilah Adnan. Namun Adnan tak pandai berbohong. Gelagat tubuhnya menunjukkan betul bahwa ia sedang berpikir keras dimana kira-kira ia menjatuhkan benda itu
”Beneran yang hilang itu fotokopi KTP?” lagi-lagi Mala bertanya. Atau mungkin lebih tepatnya menginterogasi
”Beneran La, ya ampun buat apa juga gue bohong?” ujar Adnan
Mala menghela nafasnya. Ia kemudian merogoh saku kemejanya, mengeluarkan selembar foto dari dalamnya dan meletakannya di hadapan Adnan. Adnan seketika terkejut melihat apa yang dikeluarkan Mala dari sakunya adalah apa yang hilang dari dompetnya. ”Gue juga ga tau yaa Nan buat apa lo bohong. Gue nemuin ini waktu kita ga sengaja tabrakan beberapa hari yang lalu” Mala kemudian bangkit dari kursinya ”Makasih traktirannya Nan” ujarnya sambil berlalu meninggalkan Adnan
Adnan dengan segera mencekal lengan Mala untuk mencegah kepergian Mala namun saat itu Adnan seketika tertegun saat dilihatnya mata Mala sudah sangat berkaca-kaca
”Lepas Nan” ujar Mala lirih
Tanpa sadar tangan Adnan pun bergetar hebat hingga akhirnya ia melepaskan genggamannya. Kini ia hanya mampu menyaksikan dari kejauhan punggung Mala yang kian menjauh dan sekarang hilang dari pandangannya
...
To be continue
Follow me on twitter and ask.fm @atyampela

Tidak ada komentar:

Posting Komentar