Kelas
sudah sepi sejak bel tanda pulang sekolah dibunyikan setengah jam yang lalu.
Mala, Okta, Rani dan Ziah pun juga sudah berpamitan pulang. Kini hanya tinggal
Adis seorang bersama dengan kegundahan hatinya. Ia masih duduk termenung di
kursinya. Tangan kanannya mencoret-coret bukunya ke segala arah tak menentu. ”Kalo lo ga mau sakit hati ya dari awal
jangan jatuh cinta. Kalo lo udah terlanjur jatuh cinta ya lo harus siap dengan
rasa sakit hati yang bisa meledak kapanpun seperti layaknya bom waktu”
kata-kata Rani kembali terngiang di dalam otaknya.
Adis
kemudian menghentikan aktivitasnya, ia lalu merapikan buku-bukunya yang
berserakan di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian ia bangkit
dari kursinya dan pergi meninggalkan ruang kelasnya
Saat
hendak menutup pintu kelasnya, Adis menemukan selembar kertas yang menempel di
balik pintu kelasnya. Selembar kertas yang bertuliskan ”I LOVE YOU”
Kemudian
tiba-tiba Kevin muncul dari balik dinding sambil membawa gitar ”Tak perduli
seperti apa awalnya dan tak tahu bagaimana akhirnya. Yang perlu kau tau saat
ini aku hanya melihat ke arahmu, berjalan berdampingan denganmu, dan selalu
berada di sisimu. Untuk itu ku mohon tetaplah menjadi teman hidupku” ujarnya.
Kemudian Kevin mulai memainkan gitar yang tadi digenggamnya dan menyanyikan
sebuah lagu untuk Adis
Dia indah meretas gundah
Dia yang selama ini ku nanti
Membawa sejuk, memanja rasa
Dia yang selalu ada untukku
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Ooooo uwooo ooo
Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, ku milikmu, kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, ku milikmu, kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Bila di depan nanti banyak cobaan untuk kisah cinta kita
Jangan cepat menyerah
Kau punya aku, ku punya kamu, selamanya akan begitu
Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, ku milikmu, kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau jiwa yang selalu aku puja (Teman Hidup – Tulus)
Adis
tak kuasa menahan rasa harunya kemudian ia pun berlari dan memeluk Kevin dengan
segenap jiwa dan raganya, dengan seluruh cinta dan kasihnya ”Maaf” ujarnya
dalam isak tagisnya
Kevin
membalas pelukan Adis dan kemudian mengecup puncak kepala Adis ”It’s okay, i’m
yours and only yours” ujarnya
Andika
beserta Nia dan kawan-kawannya pun keluar dari balik persembunyian mereka.
Mereka bertepuk tangan atas kembali membaiknya hubungan Adis dan Kevin
”Auw
so sweeeeeeeeeeettttttt” ujar Nia yang kemudian langsung dibungkam dengan
sebuah kecupan manis dari Andika yang mendarat tepat di pipinya
”Sweetan
mana?” goda Andika sambil menaikkan sebelah alisnya
Wajah
Nia seketika berubah menjadi merah merona. Nia meninju lengan Andika ”Lo mah
ngeselin, jangan di depan orang-orang kek” ujarnya malu-malu yang kemudian
memunculkan gelak tawa dari para sahabatnya
...
Hari
sudah cerah namun Nia masih enggan bangun dari tempat tidurnya. Ia masih asik
bersembunyi dalam selimutnya
”Ya,
bangun dong. Udah siang juga dih najong dah anak perawan kebo kayak lo” seru
Kak Rossa membangunkannya
”Bawel
dah ah ah ah orang hari libur juga” seru Nia dari dalam selimutnya
”Dihh
bangun ga lo” ujar Kak Rossa sambil menarik-narik selimut Nia
Nia
tetap mempertahankan selimutnya namun akhirnya ia menyerah juga karena tenaga
kakanya jauh lebih kuat daripada tenaganya yang baru bangun tidur itu. Dengan
mata yang masih terpejam Nia mengubah posisinya dari terbaring menjadi duduk,
ia kemudian menggaruk-garuk kepalanya dan mengulet ”Ribet banget sih lo” ujar
Nia sambil perlahan membuka matanya. Namun seketika ia terbelalak saat
mendapati yang berdiri di depannya adalah Andika yang sedang tersenyum
sedangkan kak Rossa sedang bersolek di depan meja riasnya
”Idiiih
malu gue mah jadi lo dipergokin pacar masih muka bantal gitu” ledek Kak Rossa
Nia
kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan menarik Andika keluar dari kamarnya
”Tunggu di ruang tamu, gue mandi dulu” ujarnya pada Andika sambil menutup pintu
kamarnya
Nia
kemudian berjalan menuju kamar mandi ”Iseng lo kampret bukannya bilang ada
Andika” ujarnya pada kak Rossa
Sementara
itu kak Rossa hanya tertawa mendengarnya ”Lagian kebo banget sih lo” seru kak
Rossa sambil berjalan meninggalkan kamar
Setelah
selesai bersiap-siap Nia segera turun ke ruang tamu menemui Andika yang sedang
menunggunya. Ia kemudian duduk di sebelah Andika. ”Ada apaan sih pagi-pagi
kesini?” tanyanya
Andika
menyentil kecil jidat Nia
”Auww”
Nia meringis kesakitan
”Jam
11 lo bilang pagi?” tanya Andika
Nia
terkekeh ”Heh, lo tuh berdosa tau ga menyia-nyiakan hari libur dengan bangun
pagi” kilah Nia
”Halaaah
ngeles ajaa” ujar Andika ”Jalan yuk?” ajaknya pada Nia
Nia
menyandarkan kepalanya di bahu Andika, kemudian tangannya memeluk tubuh Andika
”Mager ganti baju lagi udah terlanjur make baju rumahan. Main di rumah aja yaa.
Lagian gue laper berat nih ga ada tenaga” ujar Nia manja
Andika
tersenyum menghadapi Nia yang sedang manja. Ia justru sangat-sangat menikmati
saat Nia sedang manja padanya. Karena biasanya Nia selalu terlihat mandiri dan
serba bisa jadi setidaknya saat Nia sedang manja seperti ini Andika merasa Nia
sangat bergantung padanya. Andika kemudian mengecup puncak kepala Nia ”Yaudah
bangun, gue bikinin nasi goreng mau ga?”
”Mau!”
ujar Nia bersemangat. Ia kemudian membawa Andika menuju dapur rumahnya
Nia
senyum-senyum sendiri melihat Andika yang sedang memasak untuknya. Karena
Andika tidak mengizinkannya untuk membantunya, Nia pun hanya bisa duduk di meja
makan sambil memandangi Andika yang sibuk sendiri di dapur. Nia kemudian
memotret Andika yang sedang memasak dan mengunggahnya di akun twitternya, tak
lupa ia menambahkan caption ’Enaknya kalo koki spesial ini ada di rumah tiap
hari’. Dalam hitungan menit saja sudah banyak orang yang meretweet dan ada juga
yang memberikan komentar memuji kemesraan mereka. Namun diantara semua itu
komentar Adnan dan Kevin lah yang membuatnya ternganga
@Kevin
- @Nia pas banget gue juga belom makan nih. Otw rumah lo yaa
@Adnan
- @Nia mubazir tuh kalo berdua doang ntar ga abis. Gue otw
”Anjir
ini anak berdua busung lapar banget ga boleh liat makanan” seru Nia menanggapi
komentar Kevin dan Adnan
”Kenapa
Ya?” tanya Andika
”Bikin
nasi gorengnya yang banyak yaa Dik. Kevin sama Adnan mau kesini, terus gue juga
mau nyuruh temen-temen gue nginep disini” ujar Nia
”Lah
emang mamah sama papah kemana?”
”Mereka
lagi nginep di rumah nenek”
”Terus
kalo kak Rossa?”
”Dia
paling baliknya sore. Lagian ntar gue tidur di kamar tamu aja bareng-bareng
sama yang lain”
”Yaudah,
jangan tidur malem-malem yaa nanti”
Nia
pun langsung memeluk Andika dari belakang ”Siap boss” ujarnya ”Gue mau nelpon
temen-temen gue dulu yaa. Ohiya di kulkas ada Kentang sama nugget, lo goreng
ajaa” ujar Nia sambil berlalu meninggalkan Andika
...
”Nah
kan untung kita dateng kalo ga ntar tetangga pada curiga kalian berduaan doang
di rumah” ujar Adnan sambil melahap nasi gorengnya
”Yee
gue sama Andika mah ga bakal ngapa-ngapain keleus. Justru yang bahaya itu kalo
gue berdua ama lo Nan” sahut Nia sambil meletakkan segelas jus jeruk di meja
Andika
”Bahaya
gimana maksudnya?” tanya Andika
”Lah,
gue bisa dimacem-macemin sama dia lah Dik. Gue pasti bakal di.....” Nia
menggantung kalimatnya ”....diajarin maen kartu sama dia. Kan lo tau Adnan raja
judi atau ga diajarin taruhan bola. Kan sesat tuh” sambung Nia yang disertai
gelak tawa dari Kevin dan Andika sementara itu Adnan hanya mencibir
Tak
beberapa lama kemudian Adis dan Mala pun datang. Nia segera mempersilahkan
mereka berdua duduk di meja makan bersama
”Ambil
sendiri yaa nasi gorengnya. Gausah malu-malu okeey” ujar Nia
Mala
dan Adis pun mengangguk dan mengambil nasi goreng yang sudah disediakan di meja
makan
”Okta
ga bisa kesini soalnya dia ada les bahasa inggris, Ziah juga ga bisa soalnya
lagi jalan sama Adi, Rani juga ga bisa soalnya bokap nyokapnya juga lagi pergi
jadi doi disuruh jaga rumah” tutur Mala
Nia
mengangguk-angguk mendengar penjelasan Mala ”Tapi kalo kalian bisa nginep kan?
Gue bete kalo berdua doang sama kakak gue. Kak Rossa pasti tidur duluan”
”Ya
kalo ga bisa ngapain kita disini oneng” ujar Adis
”Oiyaa
yaa hehe” Nia terkekeh ”Yaudah pada makan deh yang kenyang ntar abis makan cuci
piring yaa. Terus ntar Adnan ama Kevin gunting rumput. Nah Andika pijitin gue”
goda Nia
”Fakkkkk!!!”
seru yang lain kompak sambil melemparkan tissue ke arah Nia
...
”Ya,
ga ada dvd action ya? Apaan nih drama korea semua” ujar Kevin sambil
melihat-lihat lemari penyimpanan dvd di ruang keluarga rumah Nia
”Ada,
tapi punya pacarnya kak Rossa terus udah dibalikin deh ke orangnya” sahut Nia
”Jeeh
jangan diomong”
”Kita
main games aja sini sini ngumpul bentuk lingkaran” seru Nia. Nia kemudian
meletakkan sebuah botol bekas sirup yang sudah ia cuci bersih di tengah-tengah
mereka ”We play truth or dare okay?
Jadi moncong botol ini akan menunjukkan si korban ToD dan bagian bawah botol
ini menunjukkan yang akan memberi pertanyaan atau tantangan. Setuju?” tanya Nia
pada teman-temannya dan mereka semua pun mengangguk setuju
”Well,
gue yang muter pertama yaa” Nia pun memutar botol itu dan menunggunya berhenti.
Semuanya deg-degan menunggu pada siapa botol itu akan menunjukkan arahnya. Dan
yap botol pun berhenti dengan ujung moncong menghadap Kevin dan bagian
belakangnya menghadap Andika
”Apes
anjir apeeessss!!” seru Kevin sementara itu Andika tertawa terkekeh-kekeh
”Nah
pilih truth or dare lo?” tanya Andika
”Truth
deh parah Dare ama lo mah cari mati” ujar Kevin
”Ahh
cemen lo. Yaudah oke jawab jujur yaa...” ujar Andika ”Apa cartoon kesukaan
lo?!” tanya Andika dengan nada seolah menggentak
Kevin
yang terkejut sontak menjawab ”Hello Panda!” yang kemudian memunculkan gelak
tawa dari yang lainnya
”Itu
mah makanan Viiiin” ujar Adis
”Ehiya
salah maksudnya Kungfu Panda” ujar Kevin ”Udah ah next yaa gue puter nih” Kevin
pun kemudian memutarkan kembali botol itu namun sepertinya botol itu masih
enggan jauh-jauh darinya dan Andika ”Ah curang nih pasti masa gue lagi yang
kena” ujar Kevin
”Ehh
terima takdir kali. Harus dare lo berarti ga terima truth lagi gue” ledek
Andika sambil tersenyum licik ”Nah, sekarang lo buka twitter lo terus kirim DM
ke 10 temen cowo kelas kita bilang gini ’Gue sebenernya suka sama lo udah lama,
tapi cinta ini sungguh berlumur dosa. Lalu apa yang harus gue lakukan?’”
”DIK
SUE BANGET LO!” hardik Kevin namun ia tetap melakukan yang diperintahkan oleh
Andika dan atas perlakuannya itu ia banyak mendapatkan balasan yang cukup
mengocok perut. Ada yang sudah tau bahwa Kevin sedang dikerjai tapi juga ada
yang menasehatinya bahkan salah seorang temannya yang merupakan ketua rohis
memberikan sebuah dalil qur’an dan menyuruh Kevin bertaubat
”Anjis
keterlaluan parah ini anak yakalee gue udah punya pacar gini dikata maho
beneran” ujar Kevin sambil menggelengkan kepalanya
Botol
pun terus berputar dan berhenti di sisi manapun yang ia inginkan. Tak terasa
hari sudah menjelang sore dan kali ini botol tersebut menjatuhkan pilihannya
pada Mala sebagai korban dan Adnan sebagai pemberi pertanyaan atau tantangan
”Yosh!
Ini udah yang terakhir yaa. Lagian udah sore juga” ujar Nia ”Okee silakan Adnan
dan Mala”
”Pilih
Truth or Dare La?” tanya Adnan
Mala
terdiam sejenak ”Truth” jawabnya kemudian
Adnan
menatap mata Mala dalam-dalam ”Apa ada yang mau lo ketahui tentang foto itu?”
tanya Adnan
Mala
tersentak, begitu pula dengan yang lainnya
”Maksud
lo apaan Nan?” tanya Nia namun Adnan tetap diam tak bergeming menunggu jawaban
dari Mala
”Siapa
dia” jawab Mala
”Selain
itu?” tanya Adnan lagi
”Apa
hubungannya dia sama lo” ujar Mala
Adnan
menarik nafasnya dalam-dalam ”Dia adalah Arin” ujarnya ”Dia adalah kekasih gue,
dan sampai kapanpun akan selalu begitu. Dia adalah satu-satunya orang yang
mampu membuat hati gue bergetar saat namanya disebut. Dia adalah orang yang
membawa pergi seluruh cinta dari hati gue, oleh sebab itu gue ga akan bisa
mencintai orang lain selain dia” lanjutnya kemudian ”Sekarang gimana perasaan
lo setelah pertanyaan lo terjawab?” tanya Adnan
Ingin
sekali rasanya saat itu juga Mala mengutuk dirinya sendiri yang telah lancang
menaruh harapan lebih pada kebaikan Adnan padanya selama ini, namun Mala
tetaplah seorang wanita seperti umumnya yang selalu menyembunyikan rasa
sakitnya dengan sebuah senyuman ”Perasaan gue?” tanya Mala mengulang pertanyaan
Adnan ”Rasanya biasa aja kok, emangnya gue harus kenapa? Gue cuma penasaran,
tapi sekarang udah engga” ujar Mala berbohong
Adnan
tersenyum dingin ”Baguslah kalo gitu. Lo tau gue bukan lelaki baik-baik. Gue
bisa berkelahi sama siapa aja, gue bisa bikin emosi guru-guru di sekolah, gue
bisa berurusan sama anak berandal. Tapi ada satu yang gue ga bisa...” Adnan
menggantung kalimatnya ”Gue gak bisa melihat seorang wanita baik-baik
meneteskan air matanya” ujarnya lirih
”Gue
bersyukur punya kalian. Sahabat yang mau selalu bersama gue sekalipun udah tau
seperti apa brengseknya gue. Untuk itu gue ga mau kehilangan kalian. Gue ga mau
ada kesalahan sekecil apapun yang bisa membuat gue jauh dari kalian” Adnan
kemudian bangkit ”Gue balik duluan, lagian juga udah sore” ujarnya berlalu
meninggalkan teman-temannya yang kini menyimpan tanda tanya besar dalam hati
mereka masing-masing
”Itu
anak sakit apa gimana?” tanya Kevin memecah kebisuan di antara mereka
”La......”
tegur Nia lembut sambil mengusap punggung Mala
”Gue
gak apa-apa kok” ujar Mala lirih namun sedetik kemudian air matanya justru
malah mengalir membasahi pipinya. Adis dan Nia langsung memeluk Mala ”Gue suka
sama Adnan, gue ingin selalu berada di sisinya” ujar Mala dalam isak tangisnya
”Tapi sepertinya Adnan ga meginginkan itu. Gue ga mau kehilangan Adnan. Gue ga
mau berakhir tanpa kejelasan seperti ini. Gue ga mau kehilangan tanpa sempat
gue berkata apa-apa seperti dulu Ya”
Nia
melepaskan pelukannya dan kemudian menggenggam tangan Mala ”La, sebenernya
.....”
...
Adnan
membersihkan rumput-rumput liar yang mulai merambati makam Arin. Ia kemudian
meletakkan sebuket bunga mawar putih disisi nisan Arin. ”Selamat ulang tahun
Rin” ujarnya pada batu nisan yang bertuliskan nama Arin itu ”Aku ga tau mau
ngasih kamu apa karena kamu bisa minta sendiri apapun yang kamu mau sama Yang
Di Atas”
Jemari
Adnan menyusuri lembut satu persatu huruf yang membentuk nama Arin ”Waktu
berlalu begitu cepat, tapi kenangan tentangmu akan selalu melekat. Rin, aku
masih bisa mengingat dengan jelas, bahkan aku masih dapat merasakannya saat
kamu memintaku untuk melepasmu. Ada luka besar yang seketika meradang di dalam
hati ini Rin. Luka itu semakin meradang saat kamu meninggalkanku untuk
selamanya. Ku fikir setidaknya meski bukan aku yang ada disisimu lagi, aku
masih dapat melihat senyum mu. Meski senyum itu bukan untukku lagi, setidaknya
aku masih bisa melihat kebahagiaanmu dari jauh. Namun nyatanya aku tak bisa”
Adnan
menghapus bulir air matanya yang baru saja menetes ”Meski waktu bisa
menyembuhkan luka, tapi ia takkan pernah bisa menghilangkan bekasnya. Sejak
saat itu kuputuskan untuk tidak mencintai siapapun lagi. Karena cinta hanya
akan membawaku pada luka”
Adnan
menundukkan kepalanya, kini ia membiarkan air matanya mengalir membasahi
hatinya yang telah lama gersang ”Sorot matanya jelas menunjukkan bahwa ia
sangat patah hati. Tapi ia berusaha dengan keras untuk menyembunyikannya.
Lantas aku bisa apa Rin? Aku tak ingin membuatnya menangis lebih dari ini. Aku tak
ingin air matanya menetes untuk seorang pria brengsek yang tak tau bagaimana
caranya mencintai ini Rin”
Adnan
menarik nafasnya dalam-dalam ”Entah cinta atau bukan, tapi sakit rasanya jika
harus melihatnya terluka, apalagi membuatnya terluka” Adnan menghapus air
matanya ”Entah akhir cerita seperti apa yang diinginkan oleh-Nya tapi bisakah
kamu minta pada-Nya untuk tidak membuat Mala mencintaiku? Aku hanya tidak ingin
kehilangan siapapun lagi”
”Lo
ga akan kehilangan siapapun lagi kok Nan” tegur seorang wanita dari belakang
Adnan.
Adnan
menoleh ”Mala?” desisnya tak percaya
Mala
kemudian menghampiri Adnan dan berjongkok di sebelahnya. Ia juga membawakan
sebuket mawar merah dan meletakkannya di sisi nisan Arin, di sebelah bunga
pemberian Adnan ”Halo Rin, gue Mala” sapa Mala pada makam Arin ”Maaf ya kalo
gue ga sopan gini. Maaf kalo gue lancang menyukai Adnan. Dari awal gue tau
cinta ini cuma sepihak, tapi entah kenapa hati ini tak mampu menolak” ujar Mala
kemudian.
Adnan
tercengang mendengarnya namun Mala tak menghiraukannya, ia tetap fokus
berbicara pada makam Arin ”Rin, Adnan bilang dia bukanlah lelaki yang baik
padahal gue yakin lo juga tau pasti bahwa dia adalah lelaki yang sangat baik.
Dia selalu menyembunyikan lukanya dengan senyuman” ujarnya, kemudian Mala
tersenyum ”Gue sebenernya cemburu Rin sama lo, lo bisa mendapatkan cinta yang
tulus dari Adnan bahkan meskipun lo ga ada lagi di duni ini. Tapi Rin....”
Seketika
air mata Mala menetes ”Bisakah lo membiarkan Adnan melepaskan belenggunya?
Belenggu yang membuat dia kehilangan senyumnya. Bisakah lo minta pada-Nya untuk
memberikan Adnan pengganti lo?”
”La!”
tegur Adnan
Mala
kemudian menoleh ke arah Adnan, dan menatapnya tepat di manik mata ”Apa lo
pernah terpikir bahwa Arin juga pasti sedih melihat lo kayak gini? Arin melepas
lo karena ingin melihat lo bahagia bukan melihat lo terbelenggu kayak gini.
Arin pasti sedih mengetahui lo jadi kayak gini karena dia”
Adnan
memalingkan wajahnya ”Lo ga tau apa-apa, jadi gausah asal bicara”
”Gue
mungkin emang gatau apa-apa tentang lo dan Arin dulu. Tapi yang gue tau
sekarang adalah lo berhak mendapatkan kebahagiaan lo. Meski bukan dengan Arin
lagi, cinta pasti masih bisa tumbuh di hati lo. Tanpa perlu menyingkirkan Arin,
cinta lo yang baru pasti bisa tumbuh berdampingan dengan kenangan lo dan Arin”
Adnan
tetap diam tak bergeming, ia masih terlalu takut untuk memulai kisah baru
bahkan sekalipun ia menginginkannya ia lebih memilih untuk menguburnya
dalam-dalam
Mala
kemudian bangkit ”Meskipun bukan sama gue, gue akan tetap berdoa semoga lo
segera menemukan kebahagiaan lo. Tapi doa gue hanya akan sia-sia kalo lo
sendiri ga melepaskan belenggu yang menghalangi jalan kebahagiaan lo itu. Gue
pergi dulu, tapi tenang gue ga akan menjauh dari lo kok. Karena kata orang,
cara terbaik agar kita selalu berada di sisi orang yang kita cintai adalah
dengan menjadi temannya. Maka gue pun akan tetap menjadi teman lo” Mala
kemudian pergi meninggalkan Adnan sendiri, dalam hati Mala berdoa agar Adnan
segera menemukan dirinya kembali. Dirinya yang terjebak dalam belenggu masa
lalu.
...
To
be continue
Follow
me on twitter and ask.fm @atyampela
Tidak ada komentar:
Posting Komentar