Minggu, 28 Desember 2014

LOVE BETWEEN US PART 15


Kelas sudah sepi sejak bel tanda pulang sekolah dibunyikan setengah jam yang lalu. Mala, Okta, Rani dan Ziah pun juga sudah berpamitan pulang. Kini hanya tinggal Adis seorang bersama dengan kegundahan hatinya. Ia masih duduk termenung di kursinya. Tangan kanannya mencoret-coret bukunya ke segala arah tak menentu. ”Kalo lo ga mau sakit hati ya dari awal jangan jatuh cinta. Kalo lo udah terlanjur jatuh cinta ya lo harus siap dengan rasa sakit hati yang bisa meledak kapanpun seperti layaknya bom waktu” kata-kata Rani kembali terngiang di dalam otaknya.
Adis kemudian menghentikan aktivitasnya, ia lalu merapikan buku-bukunya yang berserakan di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian ia bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan ruang kelasnya
Saat hendak menutup pintu kelasnya, Adis menemukan selembar kertas yang menempel di balik pintu kelasnya. Selembar kertas yang bertuliskan ”I LOVE YOU”
Kemudian tiba-tiba Kevin muncul dari balik dinding sambil membawa gitar ”Tak perduli seperti apa awalnya dan tak tahu bagaimana akhirnya. Yang perlu kau tau saat ini aku hanya melihat ke arahmu, berjalan berdampingan denganmu, dan selalu berada di sisimu. Untuk itu ku mohon tetaplah menjadi teman hidupku” ujarnya. Kemudian Kevin mulai memainkan gitar yang tadi digenggamnya dan menyanyikan sebuah lagu untuk Adis

Dia indah meretas gundah
Dia yang selama ini ku nanti
Membawa sejuk, memanja rasa
Dia yang selalu ada untukku
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Ooooo uwooo ooo
Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, ku milikmu, kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu

Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu

Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, ku milikmu, kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Bila di depan nanti banyak cobaan untuk kisah cinta kita
Jangan cepat menyerah
Kau punya aku, ku punya kamu, selamanya akan begitu
Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, ku milikmu, kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau jiwa yang selalu aku puja (Teman Hidup – Tulus)

Adis tak kuasa menahan rasa harunya kemudian ia pun berlari dan memeluk Kevin dengan segenap jiwa dan raganya, dengan seluruh cinta dan kasihnya ”Maaf” ujarnya dalam isak tagisnya
Kevin membalas pelukan Adis dan kemudian mengecup puncak kepala Adis ”It’s okay, i’m yours and only yours” ujarnya
Andika beserta Nia dan kawan-kawannya pun keluar dari balik persembunyian mereka. Mereka bertepuk tangan atas kembali membaiknya hubungan Adis dan Kevin
”Auw so sweeeeeeeeeeettttttt” ujar Nia yang kemudian langsung dibungkam dengan sebuah kecupan manis dari Andika yang mendarat tepat di pipinya
”Sweetan mana?” goda Andika sambil menaikkan sebelah alisnya
Wajah Nia seketika berubah menjadi merah merona. Nia meninju lengan Andika ”Lo mah ngeselin, jangan di depan orang-orang kek” ujarnya malu-malu yang kemudian memunculkan gelak tawa dari para sahabatnya
...

Hari sudah cerah namun Nia masih enggan bangun dari tempat tidurnya. Ia masih asik bersembunyi dalam selimutnya
”Ya, bangun dong. Udah siang juga dih najong dah anak perawan kebo kayak lo” seru Kak Rossa membangunkannya
”Bawel dah ah ah ah orang hari libur juga” seru Nia dari dalam selimutnya
”Dihh bangun ga lo” ujar Kak Rossa sambil menarik-narik selimut Nia
Nia tetap mempertahankan selimutnya namun akhirnya ia menyerah juga karena tenaga kakanya jauh lebih kuat daripada tenaganya yang baru bangun tidur itu. Dengan mata yang masih terpejam Nia mengubah posisinya dari terbaring menjadi duduk, ia kemudian menggaruk-garuk kepalanya dan mengulet ”Ribet banget sih lo” ujar Nia sambil perlahan membuka matanya. Namun seketika ia terbelalak saat mendapati yang berdiri di depannya adalah Andika yang sedang tersenyum sedangkan kak Rossa sedang bersolek di depan meja riasnya
”Idiiih malu gue mah jadi lo dipergokin pacar masih muka bantal gitu” ledek Kak Rossa
Nia kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan menarik Andika keluar dari kamarnya ”Tunggu di ruang tamu, gue mandi dulu” ujarnya pada Andika sambil menutup pintu kamarnya
Nia kemudian berjalan menuju kamar mandi ”Iseng lo kampret bukannya bilang ada Andika” ujarnya pada kak Rossa
Sementara itu kak Rossa hanya tertawa mendengarnya ”Lagian kebo banget sih lo” seru kak Rossa sambil berjalan meninggalkan kamar
Setelah selesai bersiap-siap Nia segera turun ke ruang tamu menemui Andika yang sedang menunggunya. Ia kemudian duduk di sebelah Andika. ”Ada apaan sih pagi-pagi kesini?” tanyanya
Andika menyentil kecil jidat Nia
”Auww” Nia meringis kesakitan
”Jam 11 lo bilang pagi?” tanya Andika
Nia terkekeh ”Heh, lo tuh berdosa tau ga menyia-nyiakan hari libur dengan bangun pagi” kilah Nia
”Halaaah ngeles ajaa” ujar Andika ”Jalan yuk?” ajaknya pada Nia
Nia menyandarkan kepalanya di bahu Andika, kemudian tangannya memeluk tubuh Andika ”Mager ganti baju lagi udah terlanjur make baju rumahan. Main di rumah aja yaa. Lagian gue laper berat nih ga ada tenaga” ujar Nia manja
Andika tersenyum menghadapi Nia yang sedang manja. Ia justru sangat-sangat menikmati saat Nia sedang manja padanya. Karena biasanya Nia selalu terlihat mandiri dan serba bisa jadi setidaknya saat Nia sedang manja seperti ini Andika merasa Nia sangat bergantung padanya. Andika kemudian mengecup puncak kepala Nia ”Yaudah bangun, gue bikinin nasi goreng mau ga?”
”Mau!” ujar Nia bersemangat. Ia kemudian membawa Andika menuju dapur rumahnya
Nia senyum-senyum sendiri melihat Andika yang sedang memasak untuknya. Karena Andika tidak mengizinkannya untuk membantunya, Nia pun hanya bisa duduk di meja makan sambil memandangi Andika yang sibuk sendiri di dapur. Nia kemudian memotret Andika yang sedang memasak dan mengunggahnya di akun twitternya, tak lupa ia menambahkan caption ’Enaknya kalo koki spesial ini ada di rumah tiap hari’. Dalam hitungan menit saja sudah banyak orang yang meretweet dan ada juga yang memberikan komentar memuji kemesraan mereka. Namun diantara semua itu komentar Adnan dan Kevin lah yang membuatnya ternganga

@Kevin - @Nia pas banget gue juga belom makan nih. Otw rumah lo yaa
@Adnan - @Nia mubazir tuh kalo berdua doang ntar ga abis. Gue otw

”Anjir ini anak berdua busung lapar banget ga boleh liat makanan” seru Nia menanggapi komentar Kevin dan Adnan
”Kenapa Ya?” tanya Andika
”Bikin nasi gorengnya yang banyak yaa Dik. Kevin sama Adnan mau kesini, terus gue juga mau nyuruh temen-temen gue nginep disini” ujar Nia
”Lah emang mamah sama papah kemana?”
”Mereka lagi nginep di rumah nenek”
”Terus kalo kak Rossa?”
”Dia paling baliknya sore. Lagian ntar gue tidur di kamar tamu aja bareng-bareng sama yang lain”
”Yaudah, jangan tidur malem-malem yaa nanti”
Nia pun langsung memeluk Andika dari belakang ”Siap boss” ujarnya ”Gue mau nelpon temen-temen gue dulu yaa. Ohiya di kulkas ada Kentang sama nugget, lo goreng ajaa” ujar Nia sambil berlalu meninggalkan Andika

...

”Nah kan untung kita dateng kalo ga ntar tetangga pada curiga kalian berduaan doang di rumah” ujar Adnan sambil melahap nasi gorengnya
”Yee gue sama Andika mah ga bakal ngapa-ngapain keleus. Justru yang bahaya itu kalo gue berdua ama lo Nan” sahut Nia sambil meletakkan segelas jus jeruk di meja Andika
”Bahaya gimana maksudnya?” tanya Andika
”Lah, gue bisa dimacem-macemin sama dia lah Dik. Gue pasti bakal di.....” Nia menggantung kalimatnya ”....diajarin maen kartu sama dia. Kan lo tau Adnan raja judi atau ga diajarin taruhan bola. Kan sesat tuh” sambung Nia yang disertai gelak tawa dari Kevin dan Andika sementara itu Adnan hanya mencibir
Tak beberapa lama kemudian Adis dan Mala pun datang. Nia segera mempersilahkan mereka berdua duduk di meja makan bersama
”Ambil sendiri yaa nasi gorengnya. Gausah malu-malu okeey” ujar Nia
Mala dan Adis pun mengangguk dan mengambil nasi goreng yang sudah disediakan di meja makan
”Okta ga bisa kesini soalnya dia ada les bahasa inggris, Ziah juga ga bisa soalnya lagi jalan sama Adi, Rani juga ga bisa soalnya bokap nyokapnya juga lagi pergi jadi doi disuruh jaga rumah” tutur Mala
Nia mengangguk-angguk mendengar penjelasan Mala ”Tapi kalo kalian bisa nginep kan? Gue bete kalo berdua doang sama kakak gue. Kak Rossa pasti tidur duluan”
”Ya kalo ga bisa ngapain kita disini oneng” ujar Adis
”Oiyaa yaa hehe” Nia terkekeh ”Yaudah pada makan deh yang kenyang ntar abis makan cuci piring yaa. Terus ntar Adnan ama Kevin gunting rumput. Nah Andika pijitin gue” goda Nia
”Fakkkkk!!!” seru yang lain kompak sambil melemparkan tissue ke arah Nia
...

”Ya, ga ada dvd action ya? Apaan nih drama korea semua” ujar Kevin sambil melihat-lihat lemari penyimpanan dvd di ruang keluarga rumah Nia
”Ada, tapi punya pacarnya kak Rossa terus udah dibalikin deh ke orangnya” sahut Nia
”Jeeh jangan diomong”
”Kita main games aja sini sini ngumpul bentuk lingkaran” seru Nia. Nia kemudian meletakkan sebuah botol bekas sirup yang sudah ia cuci bersih di tengah-tengah mereka ”We play truth or dare okay? Jadi moncong botol ini akan menunjukkan si korban ToD dan bagian bawah botol ini menunjukkan yang akan memberi pertanyaan atau tantangan. Setuju?” tanya Nia pada teman-temannya dan mereka semua pun mengangguk setuju
”Well, gue yang muter pertama yaa” Nia pun memutar botol itu dan menunggunya berhenti. Semuanya deg-degan menunggu pada siapa botol itu akan menunjukkan arahnya. Dan yap botol pun berhenti dengan ujung moncong menghadap Kevin dan bagian belakangnya menghadap Andika
”Apes anjir apeeessss!!” seru Kevin sementara itu Andika tertawa terkekeh-kekeh
”Nah pilih truth or dare lo?” tanya Andika
”Truth deh parah Dare ama lo mah cari mati” ujar Kevin
”Ahh cemen lo. Yaudah oke jawab jujur yaa...” ujar Andika ”Apa cartoon kesukaan lo?!” tanya Andika dengan nada seolah menggentak
Kevin yang terkejut sontak menjawab ”Hello Panda!” yang kemudian memunculkan gelak tawa dari yang lainnya
”Itu mah makanan Viiiin” ujar Adis
”Ehiya salah maksudnya Kungfu Panda” ujar Kevin ”Udah ah next yaa gue puter nih” Kevin pun kemudian memutarkan kembali botol itu namun sepertinya botol itu masih enggan jauh-jauh darinya dan Andika ”Ah curang nih pasti masa gue lagi yang kena” ujar Kevin
”Ehh terima takdir kali. Harus dare lo berarti ga terima truth lagi gue” ledek Andika sambil tersenyum licik ”Nah, sekarang lo buka twitter lo terus kirim DM ke 10 temen cowo kelas kita bilang gini ’Gue sebenernya suka sama lo udah lama, tapi cinta ini sungguh berlumur dosa. Lalu apa yang harus gue lakukan?’”
”DIK SUE BANGET LO!” hardik Kevin namun ia tetap melakukan yang diperintahkan oleh Andika dan atas perlakuannya itu ia banyak mendapatkan balasan yang cukup mengocok perut. Ada yang sudah tau bahwa Kevin sedang dikerjai tapi juga ada yang menasehatinya bahkan salah seorang temannya yang merupakan ketua rohis memberikan sebuah dalil qur’an dan menyuruh Kevin bertaubat
”Anjis keterlaluan parah ini anak yakalee gue udah punya pacar gini dikata maho beneran” ujar Kevin sambil menggelengkan kepalanya
Botol pun terus berputar dan berhenti di sisi manapun yang ia inginkan. Tak terasa hari sudah menjelang sore dan kali ini botol tersebut menjatuhkan pilihannya pada Mala sebagai korban dan Adnan sebagai pemberi pertanyaan atau tantangan
”Yosh! Ini udah yang terakhir yaa. Lagian udah sore juga” ujar Nia ”Okee silakan Adnan dan Mala”
”Pilih Truth or Dare La?” tanya Adnan
Mala terdiam sejenak ”Truth” jawabnya kemudian
Adnan menatap mata Mala dalam-dalam ”Apa ada yang mau lo ketahui tentang foto itu?” tanya Adnan
Mala tersentak, begitu pula dengan yang lainnya
”Maksud lo apaan Nan?” tanya Nia namun Adnan tetap diam tak bergeming menunggu jawaban dari Mala
”Siapa dia” jawab Mala
”Selain itu?” tanya Adnan lagi
”Apa hubungannya dia sama lo” ujar Mala
Adnan menarik nafasnya dalam-dalam ”Dia adalah Arin” ujarnya ”Dia adalah kekasih gue, dan sampai kapanpun akan selalu begitu. Dia adalah satu-satunya orang yang mampu membuat hati gue bergetar saat namanya disebut. Dia adalah orang yang membawa pergi seluruh cinta dari hati gue, oleh sebab itu gue ga akan bisa mencintai orang lain selain dia” lanjutnya kemudian ”Sekarang gimana perasaan lo setelah pertanyaan lo terjawab?” tanya Adnan
Ingin sekali rasanya saat itu juga Mala mengutuk dirinya sendiri yang telah lancang menaruh harapan lebih pada kebaikan Adnan padanya selama ini, namun Mala tetaplah seorang wanita seperti umumnya yang selalu menyembunyikan rasa sakitnya dengan sebuah senyuman ”Perasaan gue?” tanya Mala mengulang pertanyaan Adnan ”Rasanya biasa aja kok, emangnya gue harus kenapa? Gue cuma penasaran, tapi sekarang udah engga” ujar Mala berbohong
Adnan tersenyum dingin ”Baguslah kalo gitu. Lo tau gue bukan lelaki baik-baik. Gue bisa berkelahi sama siapa aja, gue bisa bikin emosi guru-guru di sekolah, gue bisa berurusan sama anak berandal. Tapi ada satu yang gue ga bisa...” Adnan menggantung kalimatnya ”Gue gak bisa melihat seorang wanita baik-baik meneteskan air matanya” ujarnya lirih
”Gue bersyukur punya kalian. Sahabat yang mau selalu bersama gue sekalipun udah tau seperti apa brengseknya gue. Untuk itu gue ga mau kehilangan kalian. Gue ga mau ada kesalahan sekecil apapun yang bisa membuat gue jauh dari kalian” Adnan kemudian bangkit ”Gue balik duluan, lagian juga udah sore” ujarnya berlalu meninggalkan teman-temannya yang kini menyimpan tanda tanya besar dalam hati mereka masing-masing
”Itu anak sakit apa gimana?” tanya Kevin memecah kebisuan di antara mereka
”La......” tegur Nia lembut sambil mengusap punggung Mala
”Gue gak apa-apa kok” ujar Mala lirih namun sedetik kemudian air matanya justru malah mengalir membasahi pipinya. Adis dan Nia langsung memeluk Mala ”Gue suka sama Adnan, gue ingin selalu berada di sisinya” ujar Mala dalam isak tangisnya ”Tapi sepertinya Adnan ga meginginkan itu. Gue ga mau kehilangan Adnan. Gue ga mau berakhir tanpa kejelasan seperti ini. Gue ga mau kehilangan tanpa sempat gue berkata apa-apa seperti dulu Ya”
Nia melepaskan pelukannya dan kemudian menggenggam tangan Mala ”La, sebenernya .....”
...

Adnan membersihkan rumput-rumput liar yang mulai merambati makam Arin. Ia kemudian meletakkan sebuket bunga mawar putih disisi nisan Arin. ”Selamat ulang tahun Rin” ujarnya pada batu nisan yang bertuliskan nama Arin itu ”Aku ga tau mau ngasih kamu apa karena kamu bisa minta sendiri apapun yang kamu mau sama Yang Di Atas”
Jemari Adnan menyusuri lembut satu persatu huruf yang membentuk nama Arin ”Waktu berlalu begitu cepat, tapi kenangan tentangmu akan selalu melekat. Rin, aku masih bisa mengingat dengan jelas, bahkan aku masih dapat merasakannya saat kamu memintaku untuk melepasmu. Ada luka besar yang seketika meradang di dalam hati ini Rin. Luka itu semakin meradang saat kamu meninggalkanku untuk selamanya. Ku fikir setidaknya meski bukan aku yang ada disisimu lagi, aku masih dapat melihat senyum mu. Meski senyum itu bukan untukku lagi, setidaknya aku masih bisa melihat kebahagiaanmu dari jauh. Namun nyatanya aku tak bisa”
Adnan menghapus bulir air matanya yang baru saja menetes ”Meski waktu bisa menyembuhkan luka, tapi ia takkan pernah bisa menghilangkan bekasnya. Sejak saat itu kuputuskan untuk tidak mencintai siapapun lagi. Karena cinta hanya akan membawaku pada luka”
Adnan menundukkan kepalanya, kini ia membiarkan air matanya mengalir membasahi hatinya yang telah lama gersang ”Sorot matanya jelas menunjukkan bahwa ia sangat patah hati. Tapi ia berusaha dengan keras untuk menyembunyikannya. Lantas aku bisa apa Rin? Aku tak ingin membuatnya menangis lebih dari ini. Aku tak ingin air matanya menetes untuk seorang pria brengsek yang tak tau bagaimana caranya mencintai ini Rin”
Adnan menarik nafasnya dalam-dalam ”Entah cinta atau bukan, tapi sakit rasanya jika harus melihatnya terluka, apalagi membuatnya terluka” Adnan menghapus air matanya ”Entah akhir cerita seperti apa yang diinginkan oleh-Nya tapi bisakah kamu minta pada-Nya untuk tidak membuat Mala mencintaiku? Aku hanya tidak ingin kehilangan siapapun lagi”
”Lo ga akan kehilangan siapapun lagi kok Nan” tegur seorang wanita dari belakang Adnan.
Adnan menoleh ”Mala?” desisnya tak percaya
Mala kemudian menghampiri Adnan dan berjongkok di sebelahnya. Ia juga membawakan sebuket mawar merah dan meletakkannya di sisi nisan Arin, di sebelah bunga pemberian Adnan ”Halo Rin, gue Mala” sapa Mala pada makam Arin ”Maaf ya kalo gue ga sopan gini. Maaf kalo gue lancang menyukai Adnan. Dari awal gue tau cinta ini cuma sepihak, tapi entah kenapa hati ini tak mampu menolak” ujar Mala kemudian.
Adnan tercengang mendengarnya namun Mala tak menghiraukannya, ia tetap fokus berbicara pada makam Arin ”Rin, Adnan bilang dia bukanlah lelaki yang baik padahal gue yakin lo juga tau pasti bahwa dia adalah lelaki yang sangat baik. Dia selalu menyembunyikan lukanya dengan senyuman” ujarnya, kemudian Mala tersenyum ”Gue sebenernya cemburu Rin sama lo, lo bisa mendapatkan cinta yang tulus dari Adnan bahkan meskipun lo ga ada lagi di duni ini. Tapi Rin....”
Seketika air mata Mala menetes ”Bisakah lo membiarkan Adnan melepaskan belenggunya? Belenggu yang membuat dia kehilangan senyumnya. Bisakah lo minta pada-Nya untuk memberikan Adnan pengganti lo?”
”La!” tegur Adnan
Mala kemudian menoleh ke arah Adnan, dan menatapnya tepat di manik mata ”Apa lo pernah terpikir bahwa Arin juga pasti sedih melihat lo kayak gini? Arin melepas lo karena ingin melihat lo bahagia bukan melihat lo terbelenggu kayak gini. Arin pasti sedih mengetahui lo jadi kayak gini karena dia”
Adnan memalingkan wajahnya ”Lo ga tau apa-apa, jadi gausah asal bicara”
”Gue mungkin emang gatau apa-apa tentang lo dan Arin dulu. Tapi yang gue tau sekarang adalah lo berhak mendapatkan kebahagiaan lo. Meski bukan dengan Arin lagi, cinta pasti masih bisa tumbuh di hati lo. Tanpa perlu menyingkirkan Arin, cinta lo yang baru pasti bisa tumbuh berdampingan dengan kenangan lo dan Arin”
Adnan tetap diam tak bergeming, ia masih terlalu takut untuk memulai kisah baru bahkan sekalipun ia menginginkannya ia lebih memilih untuk menguburnya dalam-dalam
Mala kemudian bangkit ”Meskipun bukan sama gue, gue akan tetap berdoa semoga lo segera menemukan kebahagiaan lo. Tapi doa gue hanya akan sia-sia kalo lo sendiri ga melepaskan belenggu yang menghalangi jalan kebahagiaan lo itu. Gue pergi dulu, tapi tenang gue ga akan menjauh dari lo kok. Karena kata orang, cara terbaik agar kita selalu berada di sisi orang yang kita cintai adalah dengan menjadi temannya. Maka gue pun akan tetap menjadi teman lo” Mala kemudian pergi meninggalkan Adnan sendiri, dalam hati Mala berdoa agar Adnan segera menemukan dirinya kembali. Dirinya yang terjebak dalam belenggu masa lalu.
...
To be continue

Follow me on twitter and ask.fm @atyampela

Tidak ada komentar:

Posting Komentar